- Beranda
- Stories from the Heart
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
...
TS
taucolama
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
Quote:
Quote:
Quote:
Spoiler for Prolog:
Quote:
Quote:
Yang suka mohon Rate,Komen, Share.Diubah oleh taucolama 28-02-2017 07:49
afrizal7209787 dan 47 lainnya memberi reputasi
42
1M
1.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
taucolama
#1653
Tabir Masa Lalu part 3
Aku merasa sulit tuk bangkit. Bruug tendangan mengenai ku membuatku terkapar ditanah. Aku hanya bisa mengucap istigfar. Kesadaranku mulai berkunang.
"Habisi saja sekarang": kata seseorang dari mereka.
Aku sudah pasrah tak mampu bangkit untuk melawan.
"Nak Aka bangun": terdengar suara pak Dayat.
Aku coba berdiri tapi tak bisa sakit dibadanku memaksa untukku tetap terbaring ditanah.
Astaga apa ini. Kenapa kurasakan hawa amarah begitu kuat. Aku menggeram tanpa bisa kusadari. Kenapa, kenapa badanku tak bisa ku gerakkan tak bisa kukendalikan. Pandanganku menjadi merah. Heran aku bangkit sendiri tanpa kugerakkan aku sadar masih dalam tubuhku tapi. Semuanya bergerak sendiri kulihat, tidak... Kenapa kuku tanganku memanjang jadi hitam.
Seseorang dari mereka menyabetkan goloknya, anehnya tanganku bergerak sendiri menangkap tangan orang tersebut. Orang itu menjerit kuku tanganku menancap dalam mencengkram tangan orang itu, sehingga golok yang dipegangnya lepas. Dan sekali tarik orang itu terbawa mendekatiku dan bretttttttt satu cakaran tanganku merobek baju dan kulit orang itu. Jeritan kesakitan terdengar dan orang itu roboh.
Aneh tubuhku meloncat sendiri jauh kedepan. Mendekati salah satu dari mereka. Orang itu menyabetkan goloknya tapi tanganku menangkis golok itu dengan kuku dari jari tanganku. Anehnya golok seperti beradu dengan benda keras. Dan orang itu belum sempat bergerak tanganku yang satu lagi menancapkan kuku ke bahu orang itu. Astaga kuku itu dengan mudah menembus kulit orang itu. Orang itu menjerit kesakitan dan roboh bahunya mengeluarkan darah ketika kucabut kuku dari bahunya.
Seorang lagi yang tadi ikut menendang kulihat ketakutan orang itu gemetaran. Tubuhku mendekat dengan sendirinya. Orang itu mundur menjauhiku. Tiba tiba hawa panas mendekatiku dari belakang. Aneh reflek badanku bergerak sendiri menghindar dan berbalik.
Astaga pantas saja aku dari pertama tak bisa kulihat orang itu punya aji panglimunan, tubuhnya dihalangi makhluk tinggi besar sehingga tak bisa dilihat oleh kasat mata. Tapi anehnya kini aku bisa melihat. Tubuhku bergerak sendiri maju menyerang makhluk itu. Sekali loncat aku sudah didepan makhluk itu dan menyerang makhluk itu dengan cakaran cakaranku. Makhluk itu sibuk mengelak tapi tak semua seranganku bisa dielakkan. Makhluk itu menjerit ketika terkena seranganku. Makhluk itu kabur dan menghilang jadi asap.
Dan kini aku bisa melihat sosok tadi yang membokongku. Setelah makhluk yang menutupinya hilang, kini jelas aku bisa melihat jelas sosok itu. Aku mendekatinya, orang itu menodongkan kerisnya. Ternyata keris itu yang melukaiku. Bahkan sekarang aku bisa melihat aura dari keris itu seperti cahaya yang berpendar didekat keris itu.
Aura itu memancarkan hawa panas. Tiba tiba aku menggeram keras. Aneh tubuhku mengeluarkan hawa panas menyaingi keris itu. Aku menyerang orang itu dengan cakaran cakaranku. Orang itu melawan dengan menyabetkan kerisnya. Hawa panas tubuhku dan keris beradu dan terdengar ledakan kecil. Orang itu terdorong kebelakang.
Aku menyerang membabi buta, orang itu berusaha melarikan diri tapi tak bisa karena gerakan lebih cepat dari dia. Satu sabetan keris kutahan dengan kuku jariku. Terdengar dentuman dan keris itu terlempar menancap dibatang pohon.
Aku menendang dan orang itu terkena hingga jatuh terpelanting dan tak bangkit. Kudengar orang orang berdatangan dan beberapa orang dari mereka yang bertopeng kabur. Ketika aku hendak mengejar terdengar suar Viona memanggilku. Pandangan mataku berangsur angsur normal. Aku bisa menggerakan kembali badanku, tapi aneh badanku terasa lemas sekali.
Beberapa orang dan satpam mengejar mereka yang kabur. Aku lemas dan terduduk, kepalaku terasa pening. Beberapa orang menghampiriku dan memegangiku karena aku seperti mau jatuh.
"Aka, cepet kedokter": kata Viona.
"Aku gak apa apa kok, ga usah kedokter": kataku.
"Gak apa apa gimana, itu baju kamu darah semua": kata Viona.
"Ya nak Aka, biar bapak antar nak aka ke dokter": kata pak Beni.
Aku dipapah oleh beberapa orang ke dalam mobil. Pak Dayat dan pak Rt ikut naik mereka juga terluka. Pak Beni mengantar kami ke klinik 24 jam. Aku mesti mendapat jahitan karena punggu gku terluka terkena keris.
Pak Dayat mesti dijahit tangannya karena terkena golok. Dan pak RT dijahit dikepala karena terkena batu.
Ketika datang kerumah ada beberapa polisi menangkap orang yang menyerang kami. Pak polisi meminta kami besok kekantor memberi kesaksian.
Aku duduk dikursi ruang tamu. Sekarang baru aku merasakan sakit dibeberapa bagian. Pak Rt dan pak Dayat telah pulang kerumah masing masing. Tania dan Viona membersihkan pecahan kaca dan batu batu yang berserakan.
Aku masih merasakan saki dibadanku, tiba tiba angin berdesir disisiku dan tiba tiba sosok wanita cantik bermahkota duduk disampingku. Dia berbisik "ini belum usai berhati hatilah".
Apalagi yang akan terjadi, saat ini kondisiku terluka tapi gangguan belum usai.
Aku merasa sulit tuk bangkit. Bruug tendangan mengenai ku membuatku terkapar ditanah. Aku hanya bisa mengucap istigfar. Kesadaranku mulai berkunang.
"Habisi saja sekarang": kata seseorang dari mereka.
Aku sudah pasrah tak mampu bangkit untuk melawan.
"Nak Aka bangun": terdengar suara pak Dayat.
Aku coba berdiri tapi tak bisa sakit dibadanku memaksa untukku tetap terbaring ditanah.
Astaga apa ini. Kenapa kurasakan hawa amarah begitu kuat. Aku menggeram tanpa bisa kusadari. Kenapa, kenapa badanku tak bisa ku gerakkan tak bisa kukendalikan. Pandanganku menjadi merah. Heran aku bangkit sendiri tanpa kugerakkan aku sadar masih dalam tubuhku tapi. Semuanya bergerak sendiri kulihat, tidak... Kenapa kuku tanganku memanjang jadi hitam.
Seseorang dari mereka menyabetkan goloknya, anehnya tanganku bergerak sendiri menangkap tangan orang tersebut. Orang itu menjerit kuku tanganku menancap dalam mencengkram tangan orang itu, sehingga golok yang dipegangnya lepas. Dan sekali tarik orang itu terbawa mendekatiku dan bretttttttt satu cakaran tanganku merobek baju dan kulit orang itu. Jeritan kesakitan terdengar dan orang itu roboh.
Aneh tubuhku meloncat sendiri jauh kedepan. Mendekati salah satu dari mereka. Orang itu menyabetkan goloknya tapi tanganku menangkis golok itu dengan kuku dari jari tanganku. Anehnya golok seperti beradu dengan benda keras. Dan orang itu belum sempat bergerak tanganku yang satu lagi menancapkan kuku ke bahu orang itu. Astaga kuku itu dengan mudah menembus kulit orang itu. Orang itu menjerit kesakitan dan roboh bahunya mengeluarkan darah ketika kucabut kuku dari bahunya.
Seorang lagi yang tadi ikut menendang kulihat ketakutan orang itu gemetaran. Tubuhku mendekat dengan sendirinya. Orang itu mundur menjauhiku. Tiba tiba hawa panas mendekatiku dari belakang. Aneh reflek badanku bergerak sendiri menghindar dan berbalik.
Astaga pantas saja aku dari pertama tak bisa kulihat orang itu punya aji panglimunan, tubuhnya dihalangi makhluk tinggi besar sehingga tak bisa dilihat oleh kasat mata. Tapi anehnya kini aku bisa melihat. Tubuhku bergerak sendiri maju menyerang makhluk itu. Sekali loncat aku sudah didepan makhluk itu dan menyerang makhluk itu dengan cakaran cakaranku. Makhluk itu sibuk mengelak tapi tak semua seranganku bisa dielakkan. Makhluk itu menjerit ketika terkena seranganku. Makhluk itu kabur dan menghilang jadi asap.
Dan kini aku bisa melihat sosok tadi yang membokongku. Setelah makhluk yang menutupinya hilang, kini jelas aku bisa melihat jelas sosok itu. Aku mendekatinya, orang itu menodongkan kerisnya. Ternyata keris itu yang melukaiku. Bahkan sekarang aku bisa melihat aura dari keris itu seperti cahaya yang berpendar didekat keris itu.
Aura itu memancarkan hawa panas. Tiba tiba aku menggeram keras. Aneh tubuhku mengeluarkan hawa panas menyaingi keris itu. Aku menyerang orang itu dengan cakaran cakaranku. Orang itu melawan dengan menyabetkan kerisnya. Hawa panas tubuhku dan keris beradu dan terdengar ledakan kecil. Orang itu terdorong kebelakang.
Aku menyerang membabi buta, orang itu berusaha melarikan diri tapi tak bisa karena gerakan lebih cepat dari dia. Satu sabetan keris kutahan dengan kuku jariku. Terdengar dentuman dan keris itu terlempar menancap dibatang pohon.
Aku menendang dan orang itu terkena hingga jatuh terpelanting dan tak bangkit. Kudengar orang orang berdatangan dan beberapa orang dari mereka yang bertopeng kabur. Ketika aku hendak mengejar terdengar suar Viona memanggilku. Pandangan mataku berangsur angsur normal. Aku bisa menggerakan kembali badanku, tapi aneh badanku terasa lemas sekali.
Beberapa orang dan satpam mengejar mereka yang kabur. Aku lemas dan terduduk, kepalaku terasa pening. Beberapa orang menghampiriku dan memegangiku karena aku seperti mau jatuh.
"Aka, cepet kedokter": kata Viona.
"Aku gak apa apa kok, ga usah kedokter": kataku.
"Gak apa apa gimana, itu baju kamu darah semua": kata Viona.
"Ya nak Aka, biar bapak antar nak aka ke dokter": kata pak Beni.
Aku dipapah oleh beberapa orang ke dalam mobil. Pak Dayat dan pak Rt ikut naik mereka juga terluka. Pak Beni mengantar kami ke klinik 24 jam. Aku mesti mendapat jahitan karena punggu gku terluka terkena keris.
Pak Dayat mesti dijahit tangannya karena terkena golok. Dan pak RT dijahit dikepala karena terkena batu.
Ketika datang kerumah ada beberapa polisi menangkap orang yang menyerang kami. Pak polisi meminta kami besok kekantor memberi kesaksian.
Aku duduk dikursi ruang tamu. Sekarang baru aku merasakan sakit dibeberapa bagian. Pak Rt dan pak Dayat telah pulang kerumah masing masing. Tania dan Viona membersihkan pecahan kaca dan batu batu yang berserakan.
Aku masih merasakan saki dibadanku, tiba tiba angin berdesir disisiku dan tiba tiba sosok wanita cantik bermahkota duduk disampingku. Dia berbisik "ini belum usai berhati hatilah".
Apalagi yang akan terjadi, saat ini kondisiku terluka tapi gangguan belum usai.
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/12/02/9119792_201612020532230372.jpg)
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://dl.kaskus.id/i1109.photobucket.com/albums/h440/awtian/ob9bzx9x-1.gif)
A :
INDEX