Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
TS
dianmaya2002
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Erick dan Darren kembali dihadapkan dengan seorang psikopat gila pecinta Disney Princess yang menyebut dirinya sebagai PRINCE CHARMING. Korban - korbannya selalu ditemukan dalam berbagai tema Disney Princess, seperti Stella Magnolia yang ditemukan ditepi dermaga dalam balutan kostum mermaid seperti Princess Ariel.
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Hai Agan dan Aganwati...
Ane balik lagi nih buat posting sequel nya Biro Detektif Supranatural PSYCH
Yang masih penasaran sama Mbak Samantha Reindhaard bakal ane buat tambah penasaran lagi...
Sementara itu Mikail bersama anak buahnya mulai mencari keberadaan penyusup yang masuk kedalam rumah Aurellia Reindhaard, tapi sayangnya mereka tidak menemukan seorang pun disana. Mikail pun tidak menemukan ruang rahasia maupun pintu rahasia yang digunakan oleh Samantha dan Darren.
"Maaf Bos. Kami tidak menemukan siapa – siapa disini."
"APA KALIAN TELAH MENCARINYA DENGAN BENAR?"
"Kami telah mengelilingi seluruh penjuru rumah ini bos tapi kami tidak menemukan keberadaan penyusup itu."
Mereka semua terdiam hingga salah satu anak buah Mikail bersuara.
"Bos apa anda ingat ketika anda tengah merenovasi rumah Paul Reindhaard?"
Mikail menatap anak buahnya.
"Katakan apa yang kau tahu."
"Insinyur yang melakukan renovasi pada rumah itu menemukan beberapa ruang rahasia dan jalan rahasia. Mungkin saja mereka, para penyusup itu, menemukan salah satu jalan rahasia itu."
Mikail terdiam. Tak lama kemudian bunyi deringan ponsel memecahkan keheningan.
"Halo."
"..."
"Oke."
Lalu pria itu menutup sambungan teleponnya.
"Bos, anak buah kita menemukan saluran pembuangan air yang terbuka sepertinya penyusup itu masuk dari sana."
"Kalian selidiki saluran pembuangan air itu lalu pasang semua peralatan keamanan di tempat ini. Jadikan tempat ini sebagai salah satu markas kita. Renovasi yang penting – penting saja. Gani kau tahu apa yang harus kau lakukan."
"Baik Bos."
"Cepat atau lambat mereka akan kembali lagi kemari."
"Lalu bagaimana dengan mobil yang ada didepan?"
"Hancurkan! Kirim foto – fotonya kepada detektif kesayangan kita."
"Baik Bos."
***
Setelah satu jam mereka berjalan menyusuri terowongan gelap itu, akhirnya mereka sampai diujung terowongan. Mereka berada di daerah antah berantah yang sepi tanpa ada kendaraan yang melintas. Tidak ada rumah penduduk atau pun orang yang berlalu lalang di wilayah itu.
"Shit! Dimana kita?"
"Sssttsss... kau dengar suara itu?"
Dari kejauhan, mereka berdua mendengar suara tembakan yang berasal dari sepucuk pistol. Darren dan Samantha berjalan mengendap – endap, mencari tahu apa yang sedang terjadi. Mereka bersembunyi dalam diam dibalik rimbunnya semak alang – alang yang tingginya hampir menyamai paha orang dewasa. Alang – alang itu cukup menutupi menyembunyikan mereka dari orang – orang itu. Dari jarak yang cukup aman, mereka berdua dapat mendengarkan percakapan orang – orang itu.
"Temanmu sudah mati! Kini giliranmu."
Pria itu menangis dan merengek meminta ampun karena kesalahannya. Tapi sepertinya orang itu bukanlah orang yang penuh pengampunan. Tak lama kemudian, suara tembakan kembali terdengar. Orang itu telah mati dengan lubang peluru yang bersarang dikepalanya.
"Kubur dua bedebah itu. Pastikan tidak ada jejak."
"Baik bos."
Darren sepertinya familiar dengan suara pria itu. Namun berhubung ia kurang yakin dengan hal itu, ia lebih memilih diam. Lagi pula, ia harus melindungi gadis yang ada disebelahnya. Jangan sampai mereka berdua mati konyol di antah berantah seperti ini.
Dari tempat mereka bersembunyi, mereka berdua masih melihat para mafia itu tengah menggali tanah, sepertinya akan digunakan untuk mengubur dua jasad pria yang baru saja mereka bunuh. Tak lama kemudian, Darren merasakan ada sesuatu yang merayap dikakinya. Dengan berbekal ponsel pintar yang ada digenggamannya, ia pun menyorotkan nyala ponselnya. Darren begitu kaget saat mendapati seekor lipan dengan panjang mencapai 10 cm merayap dibetisnya. Samantha meletakkan jari telunjuknya dimulut, memberi tanda agar Darren tetap diam dan tak mengeluarkan suara sedikit pun. Tapi lipan itu semakin lama semakin merambat naik dan membuat dirinya panik setengah mati. Hingga akhirnya ia tak tahan lagi lalu berdiri dan berteriak dengan kencang.
"HOLY SHIT!!!" dengan sebelah tangan mengibaskan lipan itu hingga terjatuh ke tanah lalu menginjaknya. "Mati kau sialan!"
Sayangnya, para mafia yang sedang sibuk dengan urusannya pun terhenti karena suara umpatan Darren yang begitu keras.
"Kemari atau kalian berdua kami tembak." Ujar salah seorang dari mereka.
Samantha dan Darren pun berjalan mendekati kumpulan mafia itu.
"Darren?! Apa itu kau?"
"Donny senang melihatmu." Ujar Darren yang berlari menghampirinya lalu dengan spontan mencium dahi pria itu.
Samantha tidak berkedip sedikit pun ketika melihat adegan itu. Sedangkan Donny hanya menatap Darren dengan keheranan, bukan hanya pertemuan mereka di tempat seperti ini, tetapi juga kecupan dahi singkat yang baru saja ia dapatkan. Sialnya kecupan itu berasal dari seorang pria.
"Kalian berdua ikut aku."
Mereka berdua pun menaiki mobil yang sama dengan Donny. Didalam mobil itu Darren terus meracau dan sesekali ia tertawa sekaligus tersenyum sambil menebarkan percikan – percikan kebahagiaan.
"Apa kepalanya terbentur sesuatu? Dia bukan Darren Pradipta yang kukenal."
"Sepertinya darah unicorn itu sudah mulai bereaksi."
Donny mengernyit keheranan ketika mendengar jawaban Samantha. By the way, cipratan darah unicorn menimbulkan euforia kebahagian yang berlebihan pada manusia biasa. Dan hal itulah yang sedang terjadi pada Darren.