- Beranda
- Stories from the Heart
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
...
TS
dianmaya2002
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Erick dan Darren kembali dihadapkan dengan seorang psikopat gila pecinta Disney Princess yang menyebut dirinya sebagai PRINCE CHARMING. Korban - korbannya selalu ditemukan dalam berbagai tema Disney Princess, seperti Stella Magnolia yang ditemukan ditepi dermaga dalam balutan kostum mermaid seperti Princess Ariel.
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Hai Agan dan Aganwati...
Ane balik lagi nih buat posting sequel nya Biro Detektif Supranatural PSYCH
Yang masih penasaran sama Mbak Samantha Reindhaard bakal ane buat tambah penasaran lagi...
ini akun wattpad ane Anthazagoraphobia
karya ane:
Biro Detektif Supranatural PSYCH : Pieces #1
The Haunted Hotel La Chandelier
bagi cendol dan rate nya ya
DAFTAR ISI
Spoiler for Index:
Diubah oleh dianmaya2002 07-03-2017 20:20
zeref13 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
17.1K
Kutip
80
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dianmaya2002
#16
Jangan makan sambil baca ntar keselek
Saat ini mobil Darren berhenti disebuah rumah tua megah yang sudah tak terurus. Rumah itu dulunya milik Aurellia Reindhaard, anak ke empat dari pasangan Jacob dan Natalie Reindhaard. Adik kandung dari ayah Samantha.
"Ayo turun. Kita sudah sampai." Ujar Darren sambil melepas seat belt yang melingkar ditubuhnya.
Mereka berdua pun turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang besi setinggi dua meter yang telah berkarat karena dimakan usia. Semenjak kematian Aurellia Reindhaard, rumah itu dibiarkan kosong. Pemerintah daerah pun tidak dapat menyentuhnya sedikit pun karena rumah itu dibawah kekuasaan Mikail Reindhaard, satu – satunya orang yang tersisa setelah tragedi pembantaian keluarga Reindhaard. Tentu saja pria itu tidak mengijinkan siapa pun mendekati propertinya. Hampir seluruh rumah keluarga Reindhaard telah diubah oleh Mikail menjadi bangunan dengan berbagai fungsi kecuali rumah Aurellia, entah apa alasannya.
"Baik Sam. Bagaimana kita masuk? Gerbang ini digembok."
"Lewat pintu belakang."
Samantha berjalan mendahului Darren menuju semak – semak yang cukup rimbun dengan rumput alang – alang setinggi pinggul orang dewasa yang tumbuh tepat disebelah rumah tua itu. Tangan Samantha dengan cepat menyibak rumpun alang – alang itu tanpa takut pada binatang – binatang liar seperti ulat bulu atau ular yang mungkin bersembunyi disana. Selama lima menit mereka berkutat didalam rumpun alang – alang itu hingga akhirnya langkah Samantha berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat. Sayangnya pintu itu digembok .
"So?!"
Gadis itu berjongkok dan meraba – raba tanah yang ada dibawahnya. Tangannya bergerak menyapu sebuah penutup saluran pembuangan air yang terbuat dari besi.
"Kata siapa kita akan masuk lewat pintu?"
Mata Darren terbelalak saat mendengar ide gila gadis yang ada dihadapannya. Saluran pembuangan air identik dengan bau, kotor, lembab, becek, kuman, dan segala jenis binatang menjijikan yang dapat menempel ditubuh bersihnya. Pengalamannya menginjak TPS di Distrik G saat penemuan mayat mutilasi pada kasus Soeroso masih terekam dibenaknya bagai film horror mengerikan. Yahh walaupun saat itu ia hanya pergi ke kantor pengelola TPS itu tapi tetap saja tempat itu masih berada di kawasan tempat pembuangan akhir dimana seluruh sampah masyarakat Metropolis berkumpul disitu. Sepulangnya dari sana, Darren langsung berendam didalam bath up penuh busa selama satu jam.
"Takut?" ejek Samantha.
Belum sempat Darren membalas ejekan darinya, gadis itu telah melompat turun ke dalam lubang saluran air itu.
"Shit! Tunggu aku."
Mau tak mau ia turun ke bawah sana menyusul Samantha.
Terowongan itu panjang, gelap, dan tanpa celah sedikit pun hingga cahaya matahari tidak dapat masuk kedalam sana. Bau air got berampur bangkai binatang menguar dari segala penjuru arah. Suara cicitan tikus bergema diseluruh penjuru terowongan itu.
"Sam." Teriak Darren panik saat tak menemukan Samantha.
"Jangan berteriak Darren!" jawab Samantha yang berdiri tidak jauh darinya sambil menyalakan aplikasi torch / senter dari smartphone yang ada ditangannya. "Ikuti aku."
Mereka berdua pun berjalan menyusuri terowongan itu.
"Terowongan ini menuju kemana Sam?"
Gadis itu tidak membalas pertanyaan Darren, tapi terus berjalan lurus sampai ia berhenti disebuah pintu besi berukiran ular yang meliuk – liuk. Samantha memeriksa pintu itu, ternyata tidak digembok. Sepertinya Mikail tidak menyadari jalan rahasia ini. Salah satu tangannya yang bebas membuka pintu besi tua itu hingga terdengar suara berderit khas pintu besi berkarat. Dibalik pintu itu ada sebuah tangga batu sempit yang hanya dapat dilalui oleh satu orang. Samantha menaiki tangga itu, sedangkan Darren mengikutinya dibelakang.
"Sepertinya kau mengenal tempat ini dengan sangat baik."
Samantha tidak membalas perkataan Darren, ia terus menaiki undakan – undakan tangga itu sampai pada akhirnya mereka berdua sampai disuatu ruangan kosong. Ruangan itu kosong tanpa ada benda apa pun didalamnya. Tanpa jendela maupun celah kecil yang memungkinkan cahaya masuk. Udara didalam ruangan itu pengap, bau jamur yang bercampur dengan debu menyeruak ke segala penjuru ruangan. Kini gadis itu sibuk menyoroti ruangan itu dengan nyala ponselnya, mencari sesuatu yang penting. Sorot lampu ponselnya berhenti pada sebuah tuas yang tertanam didinding. Tuas itu dipenuhi sarang laba – laba.
"Pegang ini." ujarnya pada pria yang berdiri tepat berada dibelakangnya.
Darren pun meraih ponsel yang berada ditangan gadis itu dan menyorotkan sinar lampu itu kearah tuas tersebut. Kedua tangan Samantha telah menggenggam tuas itu dan dengan kekuatan penuh ia menarik tuas itu ke bawah. Tuas itu telah berkarat dan telah mengeras, hingga tidak bergeming sedikit pun. Darren mendengus geli tanpa menawarkan bantuan sedikit pun. Sebenarnya ia hanya menunggu gadis itu menyerah dan meminta bantuan pada dirinya. Walaupun ia tahu jika seorang Samantha Reindhaard mau menurunkan gengsinya yang setinggi langit. Berkali – kali Samantha mencoba menarik tuas itu tapi gagal. Hal itu membuat Darren kesal.
"Minggir Sam! Biar aku buka." Sambil menarik lengan kurus gadis itu.
Dalam sekali sentakan, tuas itu berhasil ditarik oleh Darren. Seketika itu juga dinding yang berada disebelah tuas tersebut bergeser dengan mengeluarkan bunyi terseret perlahan. Setelah pintu itu benar – benar terbuka, mereka berdua melangkah masuk kesana dan ternyata pintu rahasia itu terhubung dengan sebuah ruang perpustakaan tua. Beberapa jendela telah dipalang menggunakan kayu bersilang karena kacanya telah pecah. Dibeberapa sudut ruangan terdapat sarang laba – laba. Buku – buku dalam perpustakaan itu masih tersusun rapi diraknya walaupun diselimuti lautan debu yang tebal.
Masih terekam sangat jelas dalam ingatannya bahwa dulu ia sering menghabiskan waktunya untuk membaca berjam – jam diruangan ini hingga bibinya yaitu Aurellia Reindhaard menegurnya karena lebih memilih berkutat dengan buku ketimbang menemaninya minum teh disore hari.
"Apa kita akan terus berdiri disini?"
Suara Darren berhasil menariknya kembali ke dunia nyata. Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, Samantha berjalan menuju pintu dan membukanya. Mereka berdua pun menyusur koridor panjang dengan jendela berpalang. Koridor itu tidak terlalu gelap karena cahaya matahari masih dapat masuk dan meneranginya. Samar – samar ia masih mengingat bagaimana dulu koridor ini dilalui para pelayan kepercayaan bibinya yang sibuk mengerjakan ini dan itu. Betapa ia rindu dengan masa lalunya disana bersama Aurellia, sosok wanita yang ia sayangi lebih dari ibu kandungnya sendiri.
Akhirnya mereka sampai didepan sebuah pintu kayu besar dengan ukiran – ukiran rumit indah yang telah berdebu. Tangannya pun menggenggam gagang pintu itu dan mendorongnya. Dibalik pintu itu terdapat sebuah kamar megah yang mewah dengan ranjang besar bertirai. Meja rias putih dengan cermin yang lagi – lagi ditutupi debu tebal. Lampu kristal kusam yang menggantung dilangit – langit.
"Sebenarnya apa tujuanmu kemari Sam?"
Samantha menghela nafas panjang.
"Kau ini bawel sekali."
"Setidaknya kau bisa menjelaskannya padaku dan aku akan berhenti bertanya – tanya."
Samantha berjalan menuju sebuah rak buku yang masih tertata rapi hanya saja telah ditutupi sarang laba – laba. Jari jemarinya menyusuri rak buku itu, lalu berhenti disalah satu buku tebal dan menariknya. Kini rak buku itu bergeser seperti dinding yang berada diruang perpustakaan.
"Sepertinya ada banyak sekali ruang rahasia dirumah ini dan sayangnya polisi tidak menemukan satu pun dari ruang rahasia itu saat peristiwa Aurellia Reindhaard terbunuh."
Samantha terdiam saat mendengar nama bibinya disebut oleh Darren.
"Aurellia Reindhaard tidak dibunuh."
"Apa maksudmu? Bukankah kau yang mendorongnya hingga ia jatuh dari tangga?"
"Tidak. Dia bunuh diri tepat dihadapanku dengan menjatuhkan diri dari anak tangga paling atas tapi aku tidak menampik bahwa aku yang membunuh keluarga Reindhaard yang lain."
"Sepertinya kau sangat menyayanginya Sam."
"Sebaiknya kita bergegas, kita tidak boleh berada disini terlalu lama Darren."
Untuk kedua kalinya, mereka memasuki pintu rahasia yang didalamnya juga terdapat sebuah ruangan. Kali ini ruangan itu tidak kosong. Disana terdapat rak – rak berisi toples – toples bening yang berisi hewan – hewan yang diawetkan.
"Tunggu disini Darren."
Samantha meninggalkan Darren sendiri diruangan itu. Tak beberapa lama ia datang dengan membawa tas ransel besar berwarna hitam. Ia meletakkan tas ransel itu dilantai lalu membukanya. Jarinya sibuk mengeluarkan beberapa plastik bening yang memiliki ketebalan 1 mm, karet gelang, sendok sup berukuran besar, enam buah tupperware bening berukuran sedang, satu pack tisu dapur dan penjepit kue. Darren hanya melihatnya dalam diam, sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang berseliweran dalam kepalanya hanya saja urung dia tanyakan.
"Dimana kau mendapatkan semua benda itu?"
"Dapur."
"Hey bisakah kau mengambilkan botol – botol kecil dilaci itu?" sambil menunjuk sebuah meja berlaci yang terletak disudut ruangan pada Darren. "Sekalian pipet dan pinsetnya."
Darren melangkah menuju laci itu lalu mencari benda – benda yang tadi disebutkan oleh Samantha. Setelah mendapatkannya ia langsung memberikan benda itu pada Samantha.
"Dua belas botol berukuran kecil, enam buah pipet, dan satu pinset. Lalu apa?"
"Tugasmu mudah. Pertama kau harus mengisi dua botol kecil ini dengan ekstrak darah unicorn. Aku telah memberi label nama pada semua botol – botol itu jadi kau tinggal mencarinya disalah satu rak itu."
"Darah unicorn?! Aku jadi penasaran sebenarnya apa yang kau lakukan saat kau masih hidup sebagai 'Samantha Reindhaard'?"
Samantha hanya diam, tak menggubris pertanyaan Darren. Beberapa saat kemudian, Darren menemukan sebuah botol bening dengan label unicorn blood. Darah unicorn tidak berwarna merah seperti darah kebanyakan, tetapi berwarna seperti pelangi. Mirip seperti es krim paddle pop rainbow yang dijual diberbagai minimarket. Perlahan ia membuka tutup botol bening itu, lalu memasukkan pipet steril kedalamnya. Setelah itu, darah unicorn tersebut ia pindahkan kedalam botol ukuran kecil.
"Oh shit!" erang Darren.
Darah unicorn itu terciprat ke kulit tangannya, hal itu membuat Samantha tertawa.
"Apa yang kau tertawakan Sam?"
"Unicorn adalah mahluk mitos yang mempunyai kekuatan mistik yang sangat kuat. Jika manusia biasa sepertimu terkena sedikit saja darah dari mahluk itu maka..."
"Maka apa?"
"Maka dalam 1x24 jam kau akan..."
"Akan apa Sam??"
"Aku tidak akan memberitahumu. Hanya saja aku dengan senang hati akan melihat reaksinya pada orang sepertimu. Tenang saja! kau tidak akan mati."
Darren hanya menatap Samantha dengan tatapan kebencian. Tidak sepenuhnya benci sih hanya sebal tingkat akut. Setelah dua botol kecil itu penuh dengan darah unicorn, ia menyodorkannya pada Samantha lengkap.
"Setelah itu?"
"Isi tiga botol ini dengan darah succubus."
Kali ini Darren mengambil dua buah plastik bening untuk melapisi kedua tangannya sebelum memasukan darah succubus itu kedalam botol kecil yang ada digenggamannya. Sementara Samantha masih sibuk memasukkan jantung katak kedalam plastik bening menggunakan penjepit kue yang ia temukan di dapur.
Dalam waktu dua jam, mereka telah mengisi tiga botol kecil berisi darah succubus, dua botol kecil berisi darah unicorn, empat botol kecil kencing troll, dan tiga botol kecil berisi racun hydra. Samantha juga telah mengisi plastik – plastik bening itu dengan jantung katak, empedu ular, jantung ikan mas, tanduk unicorn.
"Semua sudah terisi. Lalu apa lagi Sam?"
"Aku butuh sebuah vessel untuk mengikat iblis itu."
"Vessel?"
"Sebuah tubuh."
"Tunggu dulu!" lalu menatap gadis itu dengan tatapan serius. "Kau akan melakukan apa yang kau lakukan pada Maya? Aku tidak akan membiarkanmu memasukkan iblis kedalam tubuh manusia Sam. Setidaknya hanya kau saja yang boleh seperti ini."
"Sepertinya kau salah sangka Darren. Memang benar aku akan memasukkan iblis itu kedalam suatu tubuh, tapi aku tidak akan memasukkannya kedalam tubuh manusia baik itu tubuh manusia hidup maupun yang telah mati. Karena jika ia dimasukkan kedalam tubuh manusia, maka kita tidak akan bisa mengendalikannya 100%."
"Ok baiklah. Aku dapat menerima alasan itu. Lalu vessel yang kau maksud?"
"Aku akan memasukkannya kedalam tubuh binatang yang telah mati."
"Oke."
"Baiklah. Sepertinya kita harus pergi."
Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu. Darren menawarkan dirinya untuk membawa ransel hitam itu, sedangkan Samantha bertugas menutup kembali pintu ruang rahasia itu.
***
Dilain tempat, seorang pria berpakaian serba hitam tengah berada disebuah ruang dengan berbagai monitor dan peralatan serba canggih yang digunakan untuk mengawasi semua property berupa bangunan milik Mikail Reindhaard. Ruangan itu biasa disebut sebagai ruang pengintai atau ruang pengawasan utama. Semua bangunan atau property milik Mikail Reindhaard dipasangi sensor gerak yang sensitif hingga dapat mendeteksi gerakan seekor binatang kecil maupun manusia. Dan juga kamera cctv yang dapat dikontrol dari jarak jauh.
"Whats this?" sambil menatap layar monitor yang menampilkan titik merah yang berkedip. Titik merah yang berkedip itu adalah tanda bahwa sensor gerak disalah satu property milik Mikail tengah disusupi oleh penyusup. Dan jika penyusup itu manusia, maka di layar monitor akan muncul titik merah yang berkedip.
Pria disebelahnya ikut menengok kearah monitor itu.
"Dimana itu?"
"Rumah Aurellia Reindhaard."
"Palingan tukang rongsok atau tuna wisma yang menerobos masuk kesana."
"Atau seorang penyusup." Ujar pria itu saat memutar rekaman salah satu kamera cctv yang sengaja dipasang dibeberapa titik rumah itu. Dalam rekaman itu mereka melihat seorang gadis berambut hitam panjang tengah mengobrak – abrik dapur seperti sedang mencari sesuatu.
"Shit! Itu rekaman dua jam yang lalu. Kita benar – benar kecolongan. Beritahu bos soal ini."
Mikail yang mendengar berita ini langsung pergi menuju rumah tua milik bibinya yaitu Aurellia Reindhaard, apalagi ia mengetahui dengan jelas siapa penyusup itu.
Setelah sampai didepan rumah Aurelia Reindhaard, ia langsung menyuruh anak buahnya untuk menghancurkan mobil Darren.
"Hancurkan."
***
Hari sudah mulai gelap, mereka berdua bergegas kembali ke perpustakaan dimana mereka masuk melalui pintu rahasia yang terhubung ke dalam terowongan. Tapi suara decitan mobil menghentikan langkah mereka.
"Sam ada yang datang." Ujar Darren sambil mengintip melalui celah – celah jendela yang ditutupi oleh palang kayu.
Samantha pun ikut mengintip disebelah Darren. Mereka berdua melihat segerombolan orang keluar dari dua buah mobil berwarna hitam. Salah satu dari mereka adalah Mikail Reindhaard. Entah apa yang ia perintahkan pada anak buahnya, tapi kini mereka menghancurkan mobil Darren dengan tongkat bisbol hingga penyok.
"Holy Shit!" umpat Darren. "Bagaimana mereka tahu jika kita berada disini?"
"Kita harus segera keluar dari sini."
"Apa rencanamu Sam?"
"Berjalan menyusuri terowongan. Si bodoh itu tidak akan menemukan kita Darren."
"Lalu meninggalkan mobil kesayanganku disana?"
"Kau masih memikirkan mobilmu?" ujar Samantha dengan tatapan tak percaya. "Silahkan jika kau sudah tidak menyayangi nyawamu sendiri."
Samantha pergi berjalan meninggalkan Darren yang masih menatap mobilnya yang kini sudah hancur. Salah seorang dari anak buah Mikail kini sibuk membuka rantai pintu gerbang itu, hingga menimbulkan suara yang berisik. Dengan berat hati, Darren beranjak dari tempat itu dan menyusul Samantha menuju perpustakaan. Dari jauh ia mendengar langkah kaki para anak buah Mikail yang mulai memasuki rumah itu. Darren berlari memasuki perpustakaan itu.
"Cepat Darren!" teriak Samantha dari balik pintu rahasia.
Setelah itu mereka kembali menutup pintu ruang rahasia itu dan bergegas menuruni tangga sempit menuju terowongan.
"Mobil kesayanganku hancur dan sekarang aku harus berjalan dengan seorang supermodel sexy yang dirasuki oleh arwah seorang pembunuh berantai yang membunuh hampir seluruh keluarganya didalam terowongan bau yang gelap. What a beautiful date."
***
***

Spoiler for 6 bagian 1:
Saat ini mobil Darren berhenti disebuah rumah tua megah yang sudah tak terurus. Rumah itu dulunya milik Aurellia Reindhaard, anak ke empat dari pasangan Jacob dan Natalie Reindhaard. Adik kandung dari ayah Samantha.
"Ayo turun. Kita sudah sampai." Ujar Darren sambil melepas seat belt yang melingkar ditubuhnya.
Mereka berdua pun turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang besi setinggi dua meter yang telah berkarat karena dimakan usia. Semenjak kematian Aurellia Reindhaard, rumah itu dibiarkan kosong. Pemerintah daerah pun tidak dapat menyentuhnya sedikit pun karena rumah itu dibawah kekuasaan Mikail Reindhaard, satu – satunya orang yang tersisa setelah tragedi pembantaian keluarga Reindhaard. Tentu saja pria itu tidak mengijinkan siapa pun mendekati propertinya. Hampir seluruh rumah keluarga Reindhaard telah diubah oleh Mikail menjadi bangunan dengan berbagai fungsi kecuali rumah Aurellia, entah apa alasannya.
"Baik Sam. Bagaimana kita masuk? Gerbang ini digembok."
"Lewat pintu belakang."
Samantha berjalan mendahului Darren menuju semak – semak yang cukup rimbun dengan rumput alang – alang setinggi pinggul orang dewasa yang tumbuh tepat disebelah rumah tua itu. Tangan Samantha dengan cepat menyibak rumpun alang – alang itu tanpa takut pada binatang – binatang liar seperti ulat bulu atau ular yang mungkin bersembunyi disana. Selama lima menit mereka berkutat didalam rumpun alang – alang itu hingga akhirnya langkah Samantha berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat. Sayangnya pintu itu digembok .
"So?!"
Gadis itu berjongkok dan meraba – raba tanah yang ada dibawahnya. Tangannya bergerak menyapu sebuah penutup saluran pembuangan air yang terbuat dari besi.
"Kata siapa kita akan masuk lewat pintu?"
Mata Darren terbelalak saat mendengar ide gila gadis yang ada dihadapannya. Saluran pembuangan air identik dengan bau, kotor, lembab, becek, kuman, dan segala jenis binatang menjijikan yang dapat menempel ditubuh bersihnya. Pengalamannya menginjak TPS di Distrik G saat penemuan mayat mutilasi pada kasus Soeroso masih terekam dibenaknya bagai film horror mengerikan. Yahh walaupun saat itu ia hanya pergi ke kantor pengelola TPS itu tapi tetap saja tempat itu masih berada di kawasan tempat pembuangan akhir dimana seluruh sampah masyarakat Metropolis berkumpul disitu. Sepulangnya dari sana, Darren langsung berendam didalam bath up penuh busa selama satu jam.
"Takut?" ejek Samantha.
Belum sempat Darren membalas ejekan darinya, gadis itu telah melompat turun ke dalam lubang saluran air itu.
"Shit! Tunggu aku."
Mau tak mau ia turun ke bawah sana menyusul Samantha.
Terowongan itu panjang, gelap, dan tanpa celah sedikit pun hingga cahaya matahari tidak dapat masuk kedalam sana. Bau air got berampur bangkai binatang menguar dari segala penjuru arah. Suara cicitan tikus bergema diseluruh penjuru terowongan itu.
"Sam." Teriak Darren panik saat tak menemukan Samantha.
"Jangan berteriak Darren!" jawab Samantha yang berdiri tidak jauh darinya sambil menyalakan aplikasi torch / senter dari smartphone yang ada ditangannya. "Ikuti aku."
Mereka berdua pun berjalan menyusuri terowongan itu.
"Terowongan ini menuju kemana Sam?"
Gadis itu tidak membalas pertanyaan Darren, tapi terus berjalan lurus sampai ia berhenti disebuah pintu besi berukiran ular yang meliuk – liuk. Samantha memeriksa pintu itu, ternyata tidak digembok. Sepertinya Mikail tidak menyadari jalan rahasia ini. Salah satu tangannya yang bebas membuka pintu besi tua itu hingga terdengar suara berderit khas pintu besi berkarat. Dibalik pintu itu ada sebuah tangga batu sempit yang hanya dapat dilalui oleh satu orang. Samantha menaiki tangga itu, sedangkan Darren mengikutinya dibelakang.
"Sepertinya kau mengenal tempat ini dengan sangat baik."
Samantha tidak membalas perkataan Darren, ia terus menaiki undakan – undakan tangga itu sampai pada akhirnya mereka berdua sampai disuatu ruangan kosong. Ruangan itu kosong tanpa ada benda apa pun didalamnya. Tanpa jendela maupun celah kecil yang memungkinkan cahaya masuk. Udara didalam ruangan itu pengap, bau jamur yang bercampur dengan debu menyeruak ke segala penjuru ruangan. Kini gadis itu sibuk menyoroti ruangan itu dengan nyala ponselnya, mencari sesuatu yang penting. Sorot lampu ponselnya berhenti pada sebuah tuas yang tertanam didinding. Tuas itu dipenuhi sarang laba – laba.
"Pegang ini." ujarnya pada pria yang berdiri tepat berada dibelakangnya.
Darren pun meraih ponsel yang berada ditangan gadis itu dan menyorotkan sinar lampu itu kearah tuas tersebut. Kedua tangan Samantha telah menggenggam tuas itu dan dengan kekuatan penuh ia menarik tuas itu ke bawah. Tuas itu telah berkarat dan telah mengeras, hingga tidak bergeming sedikit pun. Darren mendengus geli tanpa menawarkan bantuan sedikit pun. Sebenarnya ia hanya menunggu gadis itu menyerah dan meminta bantuan pada dirinya. Walaupun ia tahu jika seorang Samantha Reindhaard mau menurunkan gengsinya yang setinggi langit. Berkali – kali Samantha mencoba menarik tuas itu tapi gagal. Hal itu membuat Darren kesal.
"Minggir Sam! Biar aku buka." Sambil menarik lengan kurus gadis itu.
Dalam sekali sentakan, tuas itu berhasil ditarik oleh Darren. Seketika itu juga dinding yang berada disebelah tuas tersebut bergeser dengan mengeluarkan bunyi terseret perlahan. Setelah pintu itu benar – benar terbuka, mereka berdua melangkah masuk kesana dan ternyata pintu rahasia itu terhubung dengan sebuah ruang perpustakaan tua. Beberapa jendela telah dipalang menggunakan kayu bersilang karena kacanya telah pecah. Dibeberapa sudut ruangan terdapat sarang laba – laba. Buku – buku dalam perpustakaan itu masih tersusun rapi diraknya walaupun diselimuti lautan debu yang tebal.
Masih terekam sangat jelas dalam ingatannya bahwa dulu ia sering menghabiskan waktunya untuk membaca berjam – jam diruangan ini hingga bibinya yaitu Aurellia Reindhaard menegurnya karena lebih memilih berkutat dengan buku ketimbang menemaninya minum teh disore hari.
"Apa kita akan terus berdiri disini?"
Suara Darren berhasil menariknya kembali ke dunia nyata. Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, Samantha berjalan menuju pintu dan membukanya. Mereka berdua pun menyusur koridor panjang dengan jendela berpalang. Koridor itu tidak terlalu gelap karena cahaya matahari masih dapat masuk dan meneranginya. Samar – samar ia masih mengingat bagaimana dulu koridor ini dilalui para pelayan kepercayaan bibinya yang sibuk mengerjakan ini dan itu. Betapa ia rindu dengan masa lalunya disana bersama Aurellia, sosok wanita yang ia sayangi lebih dari ibu kandungnya sendiri.
Akhirnya mereka sampai didepan sebuah pintu kayu besar dengan ukiran – ukiran rumit indah yang telah berdebu. Tangannya pun menggenggam gagang pintu itu dan mendorongnya. Dibalik pintu itu terdapat sebuah kamar megah yang mewah dengan ranjang besar bertirai. Meja rias putih dengan cermin yang lagi – lagi ditutupi debu tebal. Lampu kristal kusam yang menggantung dilangit – langit.
"Sebenarnya apa tujuanmu kemari Sam?"
Samantha menghela nafas panjang.
"Kau ini bawel sekali."
"Setidaknya kau bisa menjelaskannya padaku dan aku akan berhenti bertanya – tanya."
Samantha berjalan menuju sebuah rak buku yang masih tertata rapi hanya saja telah ditutupi sarang laba – laba. Jari jemarinya menyusuri rak buku itu, lalu berhenti disalah satu buku tebal dan menariknya. Kini rak buku itu bergeser seperti dinding yang berada diruang perpustakaan.
"Sepertinya ada banyak sekali ruang rahasia dirumah ini dan sayangnya polisi tidak menemukan satu pun dari ruang rahasia itu saat peristiwa Aurellia Reindhaard terbunuh."
Samantha terdiam saat mendengar nama bibinya disebut oleh Darren.
"Aurellia Reindhaard tidak dibunuh."
"Apa maksudmu? Bukankah kau yang mendorongnya hingga ia jatuh dari tangga?"
"Tidak. Dia bunuh diri tepat dihadapanku dengan menjatuhkan diri dari anak tangga paling atas tapi aku tidak menampik bahwa aku yang membunuh keluarga Reindhaard yang lain."
"Sepertinya kau sangat menyayanginya Sam."
"Sebaiknya kita bergegas, kita tidak boleh berada disini terlalu lama Darren."
Untuk kedua kalinya, mereka memasuki pintu rahasia yang didalamnya juga terdapat sebuah ruangan. Kali ini ruangan itu tidak kosong. Disana terdapat rak – rak berisi toples – toples bening yang berisi hewan – hewan yang diawetkan.
"Tunggu disini Darren."
Samantha meninggalkan Darren sendiri diruangan itu. Tak beberapa lama ia datang dengan membawa tas ransel besar berwarna hitam. Ia meletakkan tas ransel itu dilantai lalu membukanya. Jarinya sibuk mengeluarkan beberapa plastik bening yang memiliki ketebalan 1 mm, karet gelang, sendok sup berukuran besar, enam buah tupperware bening berukuran sedang, satu pack tisu dapur dan penjepit kue. Darren hanya melihatnya dalam diam, sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang berseliweran dalam kepalanya hanya saja urung dia tanyakan.
"Dimana kau mendapatkan semua benda itu?"
"Dapur."
"Hey bisakah kau mengambilkan botol – botol kecil dilaci itu?" sambil menunjuk sebuah meja berlaci yang terletak disudut ruangan pada Darren. "Sekalian pipet dan pinsetnya."
Darren melangkah menuju laci itu lalu mencari benda – benda yang tadi disebutkan oleh Samantha. Setelah mendapatkannya ia langsung memberikan benda itu pada Samantha.
"Dua belas botol berukuran kecil, enam buah pipet, dan satu pinset. Lalu apa?"
"Tugasmu mudah. Pertama kau harus mengisi dua botol kecil ini dengan ekstrak darah unicorn. Aku telah memberi label nama pada semua botol – botol itu jadi kau tinggal mencarinya disalah satu rak itu."
"Darah unicorn?! Aku jadi penasaran sebenarnya apa yang kau lakukan saat kau masih hidup sebagai 'Samantha Reindhaard'?"
Samantha hanya diam, tak menggubris pertanyaan Darren. Beberapa saat kemudian, Darren menemukan sebuah botol bening dengan label unicorn blood. Darah unicorn tidak berwarna merah seperti darah kebanyakan, tetapi berwarna seperti pelangi. Mirip seperti es krim paddle pop rainbow yang dijual diberbagai minimarket. Perlahan ia membuka tutup botol bening itu, lalu memasukkan pipet steril kedalamnya. Setelah itu, darah unicorn tersebut ia pindahkan kedalam botol ukuran kecil.
"Oh shit!" erang Darren.
Darah unicorn itu terciprat ke kulit tangannya, hal itu membuat Samantha tertawa.
"Apa yang kau tertawakan Sam?"
"Unicorn adalah mahluk mitos yang mempunyai kekuatan mistik yang sangat kuat. Jika manusia biasa sepertimu terkena sedikit saja darah dari mahluk itu maka..."
"Maka apa?"
"Maka dalam 1x24 jam kau akan..."
"Akan apa Sam??"
"Aku tidak akan memberitahumu. Hanya saja aku dengan senang hati akan melihat reaksinya pada orang sepertimu. Tenang saja! kau tidak akan mati."
Darren hanya menatap Samantha dengan tatapan kebencian. Tidak sepenuhnya benci sih hanya sebal tingkat akut. Setelah dua botol kecil itu penuh dengan darah unicorn, ia menyodorkannya pada Samantha lengkap.
"Setelah itu?"
"Isi tiga botol ini dengan darah succubus."
Kali ini Darren mengambil dua buah plastik bening untuk melapisi kedua tangannya sebelum memasukan darah succubus itu kedalam botol kecil yang ada digenggamannya. Sementara Samantha masih sibuk memasukkan jantung katak kedalam plastik bening menggunakan penjepit kue yang ia temukan di dapur.
Dalam waktu dua jam, mereka telah mengisi tiga botol kecil berisi darah succubus, dua botol kecil berisi darah unicorn, empat botol kecil kencing troll, dan tiga botol kecil berisi racun hydra. Samantha juga telah mengisi plastik – plastik bening itu dengan jantung katak, empedu ular, jantung ikan mas, tanduk unicorn.
"Semua sudah terisi. Lalu apa lagi Sam?"
"Aku butuh sebuah vessel untuk mengikat iblis itu."
"Vessel?"
"Sebuah tubuh."
"Tunggu dulu!" lalu menatap gadis itu dengan tatapan serius. "Kau akan melakukan apa yang kau lakukan pada Maya? Aku tidak akan membiarkanmu memasukkan iblis kedalam tubuh manusia Sam. Setidaknya hanya kau saja yang boleh seperti ini."
"Sepertinya kau salah sangka Darren. Memang benar aku akan memasukkan iblis itu kedalam suatu tubuh, tapi aku tidak akan memasukkannya kedalam tubuh manusia baik itu tubuh manusia hidup maupun yang telah mati. Karena jika ia dimasukkan kedalam tubuh manusia, maka kita tidak akan bisa mengendalikannya 100%."
"Ok baiklah. Aku dapat menerima alasan itu. Lalu vessel yang kau maksud?"
"Aku akan memasukkannya kedalam tubuh binatang yang telah mati."
"Oke."
"Baiklah. Sepertinya kita harus pergi."
Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu. Darren menawarkan dirinya untuk membawa ransel hitam itu, sedangkan Samantha bertugas menutup kembali pintu ruang rahasia itu.
***
Dilain tempat, seorang pria berpakaian serba hitam tengah berada disebuah ruang dengan berbagai monitor dan peralatan serba canggih yang digunakan untuk mengawasi semua property berupa bangunan milik Mikail Reindhaard. Ruangan itu biasa disebut sebagai ruang pengintai atau ruang pengawasan utama. Semua bangunan atau property milik Mikail Reindhaard dipasangi sensor gerak yang sensitif hingga dapat mendeteksi gerakan seekor binatang kecil maupun manusia. Dan juga kamera cctv yang dapat dikontrol dari jarak jauh.
"Whats this?" sambil menatap layar monitor yang menampilkan titik merah yang berkedip. Titik merah yang berkedip itu adalah tanda bahwa sensor gerak disalah satu property milik Mikail tengah disusupi oleh penyusup. Dan jika penyusup itu manusia, maka di layar monitor akan muncul titik merah yang berkedip.
Pria disebelahnya ikut menengok kearah monitor itu.
"Dimana itu?"
"Rumah Aurellia Reindhaard."
"Palingan tukang rongsok atau tuna wisma yang menerobos masuk kesana."
"Atau seorang penyusup." Ujar pria itu saat memutar rekaman salah satu kamera cctv yang sengaja dipasang dibeberapa titik rumah itu. Dalam rekaman itu mereka melihat seorang gadis berambut hitam panjang tengah mengobrak – abrik dapur seperti sedang mencari sesuatu.
"Shit! Itu rekaman dua jam yang lalu. Kita benar – benar kecolongan. Beritahu bos soal ini."
Mikail yang mendengar berita ini langsung pergi menuju rumah tua milik bibinya yaitu Aurellia Reindhaard, apalagi ia mengetahui dengan jelas siapa penyusup itu.
Setelah sampai didepan rumah Aurelia Reindhaard, ia langsung menyuruh anak buahnya untuk menghancurkan mobil Darren.
"Hancurkan."
***
Hari sudah mulai gelap, mereka berdua bergegas kembali ke perpustakaan dimana mereka masuk melalui pintu rahasia yang terhubung ke dalam terowongan. Tapi suara decitan mobil menghentikan langkah mereka.
"Sam ada yang datang." Ujar Darren sambil mengintip melalui celah – celah jendela yang ditutupi oleh palang kayu.
Samantha pun ikut mengintip disebelah Darren. Mereka berdua melihat segerombolan orang keluar dari dua buah mobil berwarna hitam. Salah satu dari mereka adalah Mikail Reindhaard. Entah apa yang ia perintahkan pada anak buahnya, tapi kini mereka menghancurkan mobil Darren dengan tongkat bisbol hingga penyok.
"Holy Shit!" umpat Darren. "Bagaimana mereka tahu jika kita berada disini?"
"Kita harus segera keluar dari sini."
"Apa rencanamu Sam?"
"Berjalan menyusuri terowongan. Si bodoh itu tidak akan menemukan kita Darren."
"Lalu meninggalkan mobil kesayanganku disana?"
"Kau masih memikirkan mobilmu?" ujar Samantha dengan tatapan tak percaya. "Silahkan jika kau sudah tidak menyayangi nyawamu sendiri."
Samantha pergi berjalan meninggalkan Darren yang masih menatap mobilnya yang kini sudah hancur. Salah seorang dari anak buah Mikail kini sibuk membuka rantai pintu gerbang itu, hingga menimbulkan suara yang berisik. Dengan berat hati, Darren beranjak dari tempat itu dan menyusul Samantha menuju perpustakaan. Dari jauh ia mendengar langkah kaki para anak buah Mikail yang mulai memasuki rumah itu. Darren berlari memasuki perpustakaan itu.
"Cepat Darren!" teriak Samantha dari balik pintu rahasia.
Setelah itu mereka kembali menutup pintu ruang rahasia itu dan bergegas menuruni tangga sempit menuju terowongan.
"Mobil kesayanganku hancur dan sekarang aku harus berjalan dengan seorang supermodel sexy yang dirasuki oleh arwah seorang pembunuh berantai yang membunuh hampir seluruh keluarganya didalam terowongan bau yang gelap. What a beautiful date."
***
***

0
Kutip
Balas