- Beranda
- Stories from the Heart
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
...
TS
dianmaya2002
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Erick dan Darren kembali dihadapkan dengan seorang psikopat gila pecinta Disney Princess yang menyebut dirinya sebagai PRINCE CHARMING. Korban - korbannya selalu ditemukan dalam berbagai tema Disney Princess, seperti Stella Magnolia yang ditemukan ditepi dermaga dalam balutan kostum mermaid seperti Princess Ariel.
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Hai Agan dan Aganwati...
Ane balik lagi nih buat posting sequel nya Biro Detektif Supranatural PSYCH
Yang masih penasaran sama Mbak Samantha Reindhaard bakal ane buat tambah penasaran lagi...
ini akun wattpad ane Anthazagoraphobia
karya ane:
Biro Detektif Supranatural PSYCH : Pieces #1
The Haunted Hotel La Chandelier
bagi cendol dan rate nya ya
DAFTAR ISI
Spoiler for Index:
Diubah oleh dianmaya2002 07-03-2017 20:20
zeref13 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
17.2K
Kutip
80
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dianmaya2002
#15
TS Mau update buat nemenin makan siang kalian
Darren berada disebuah ruangan berinterior serba putih. Yah kalian bisa menebaknya sebagai ruang rawat rumah sakit. Erick tidak mati, mana mungkin jatuh dari lantai dua dapat menyebabkan kematian, apalagi dibawah balkon kamarnya adalah taman bunga yang ditumbuhi oleh rumput – rumput jepang yang gemuk dan subur, bukannya lantai semen yang keras. Tangan kanannya patah karena menahan beban tubuhnya saat jatuh. Kepalanya bocor karena terantuk pot bunga besar yang ditanami oleh bunga kamboja berwarna merah. Beberapa bagian tubuhnya lecet.
Dokter Tirta baru saja memeriksanya dan mengatakan bahwa benturan kepalanya tidak begitu parah jadi tidak menyebabkan amnesia maupun gangguan lainnya. Ia juga berkata bahwa Erick mengalami halusinasi akut karena saking lamanya tidak tidur. Bertambahlah beban Darren, karena saat ini partnernya tidak dapat diandalkan sama sekali. Ia mulai memijat pelipisnya yang nyeri dan mulai berdenyut – denyut tak karuan.
Jika kalian menanyakan Samantha, gadis itu tepat duduk disamping Darren dengan wajah tenang tanpa beban. Tangannya sibuk membolak – balik majalah misteri yang baru saja ia beli di minimarket yang terletak diseberang rumah sakit. Sesekali ia mendengus geli ketika membaca sebuah kolom bacaan yang berisikan iklan paranormal yang menawarkan jasanya untuk menggandakan uang. Dan tentu saja hal itu mengganggu Darren.
"Apa kau tidak bisa sedikit bersimpati? Paling tidak kau bisa pura – pura memasang wajah sedih karena insiden ini."
"Dia belum mati Darren!" tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang sedang ia baca. "Berhentilah untuk khawatir. Kau seperti nenek – nenek tua keriput yang hobi menggerutu saja."
"WHAT!? Kau menyamakanku yang tampan ini dengan nenek tua keriput penggerutu. Sepertinya ada yang salah dengan kedua matamu."
Samantha memutar kedua bola matanya sebal saat mendengar kenarsisan pria yang duduk disebelahnya.
"Oh ya Sam! Sebenarnya apa yang terjadi padamu waktu itu?"
Gadis itu terdiam, lalu menutup kasar majalah yang ada ditangannya.
"Aku tidak akan menceritakan semuanya padamu. Tapi satu hal yang perlu kau ketahui, gadis itu korban Demons. Mereka telah memulai ritual kedua kebangkitan Azazel."
"Demons? Apa kau yakin?"
"Aku telah berhasil mengenkripsi ritual kedua untuk membangkitkan Azazel. Aku akan memberitahukannya padamu tapi jangan menyela perkataanku sedikit pun."
"Okay."
"Seperti yang kita tahu jika Tuhan membutuhkan tujuh hari untuk menciptakan dunia dan dihari ketujuh Tuhan beristirahat. Di Israel kuno, mereka beristirahat pada hari Sabat sebagai hari ketujuh sebagaimana yang diperintahkan dalam hukum taurat. Inti dari angka tujuh dalam bahasa Ibrani berarti "menjadi penuh" atau "menjadi lengkap". Jadi, jika seseorang memiliki ketujuh dosa ini, mereka berarti dalam keadaan lengkap dalam dosa dan semakin jauh kepada Tuhan."
"..."
"Dalam kitab Demons, ritual pertama adalah pengorbanan anak laki – laki yang masih suci. Seperti yang kita tahu bahwa Soeroso melakukan hal itu dengan baik. Ritual kedua adalah pengorbanan tujuh wanita yang mencerminkan seven deadly sins atau tujuh dosa mematikan manusia. Pertama envy atau kecemburuan. Kedua greed atau keserakahan. Ketiga glutony atau kerakusan. Keempat lust atau nafsu birahi. Kelima wrath atau amarah. Keenam sloth atau kemalasan. Ketujuh pride atau kesombongan."
Darren menghela nafas panjang.
"Silahkan kalau kau mau bertanya." Ujar Samantha.
"Aku kira aku belum boleh bertanya. Baiklah! Lalu apa kaitan ketujuh dosa itu dengan mayat mermaid kemarin? Maksudku kenapa harus Stella Magnolia? Seperti yang kita tahu bahwa setiap manusia pasti mempunyai kriteria seven deadly sins tersebut termasuk kau, aku bahkan semua orang didunia ini."
"Anggap saja pembunuh itu mempunyai kriteria tersendiri dalam menjaring korbannya. Apa kau sudah memeriksa latar belakang Stella dengan benar? Pasti ada keunikan tersendiri yang dimiliki Stella hingga si pembunuh memilihnya."
"Wow! Kata – katamu terdengar seperti seorang detektif profesional."
"Ini karena ulah Jackson yang selalu meracuniku untuk membaca novel – novel Agatha Christy miliknya."
Darren tertawa.
"Satu pertanyaan lagi? Kenapa mesti kostum mermaid?"
Samantha terdiam sejenak. Ia tahu persis siapa pembunuhnya termasuk hobi anehnya. Ia mengenalnya lebih dari siapa pun. Sangat amat mengenalnya! Hanya saja gadis itu bungkam, menutup rapat fakta yang ia tahu hanya untuk dirinya sendiri. Ia akan memberi waktu pada sahabat lamanya untuk menikmati permainan yang ia ciptakan, sebelum Samantha membunuhnya.
"Aku tidak tahu."
"Berhubung kau tahu mengenai ritual kedua ini, maka kau harus ikut investigasi selanjutnya bersamaku."
"Lalu siapa yang menjaga si bodoh itu?" sambil menunjuk Erick yang masih tak sadarkan diri. Samantha memicingkan matanya saat melihat keanehan pada Erick. Lalu ia berjalan mendekatinya. "Kemana kalung jimat yang biasa dipakai Erick?"
Darren beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan kesebelah Samantha.
"Sepertinya terlepas saat ia jatuh."
"Atau sengaja ia lepaskan hingga iblis jalang itu nyaris membunuhnya."
"Aku akan menelepon Jackson."
Tidak beberapa lama, Jackson datang bersama beberapa pengawal berseragam hitam. Pria tua itu tersenyum saat menatap Darren dan Samantha tapi matanya berubah menjadi sendu dan senyumannya memudar saat melihat keadaan Erick.
"Apa kau menemukannya?" tanya Darren
Jackson mengangguk dan mengeluarkan sebuah kalung berbandul bulan sabit dan matahari dari kantung jasnya. Tangan keriputnya maju dan memasangkan kalung itu dileher Erick.
"I know this is not okay!" ujarnya terisak.
"Erick baik – baik saja Jackson." Ujar Darren sambil menenangkan pria tua disebelahnya.
"Don't you dare to lie Darren Pradipta."
Darren tahu jika Jackson sudah menyebut namanya lengkap, maka amarah pria tua itu telah mencapai ubun – ubun. Hampir saja meledak bagaikan gunung berapi aktif yang tengah erupsi.
"Maaf Jackson tapi saat ini aku tidak akan memberi tahu apa pun padamu." Ujar Darren. "Maya ayo kita pergi! Ada tempat yang harus kita datangi."
Mereka berdua pergi meninggalkan Jackson. Pria tua itu menghela nafas panjang, menetralkan emosinya yang sempat memuncak. Berusaha sabar dalam menghadapi masalah yang tengah menimpa Erick, majikan yang ia anggap sebagai seorang anak. Ia melangkah menuju sofa putih yang terletak disudut ruangan. Mengeluarkan novel Percy Jackson yang baru saja ia beli.
"Apa salahnya membaca novel bergenre fantasi."
Darren menatap nyalang jalanan yang ada dihadapannya dari belakang kemudi. Samantha sendiri duduk tepat disebelahnya. Suasana dalam mobil itu sangat hening. Tak ada satu pun dari mereka yang berusaha untuk memecah keheningan. Sampai salah satu dari mereka jengah dan muak dengan suasana canggung seperti itu.
"Sebenarnya kemana tujuan kita?" tanya Samantha.
"Kau mau kemana Sam? Kali ini aku berbaik hati akan mengantarmu."
Seringai menghiasi wajah cantiknya.
"Kediaman Aurelia Reindhaard."
Jawaban gadis itu membuat Darren menghentikan mobilnya tiba – tiba hingga menimbulkan suara roda berdecit.
"Apa rencanamu?" ujarnya dengan tatapan mata tajam yang menusuk.
"Turuti kemauanku maka aku akan menyelamatkan Erick."
***
Seorang pria ber- hoody hitam tengah berdiri didalam sebuah ruangan dengan cahaya kekuningan yang dihasilkan dari lampu murahan ber-watt kecil. Ditengah ruangan itu seorang wanita berambut panjang terikat disebuah kursi tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Matanya ditutup dengan dasi berwarna merah maroon. Mulutnya pun dibekap dengan sehelai sapu tangan berwarna putih.
Aroma pengap menyeruak kedalam indera penciumannya. Seluruh jendela diruangan itu ditutup oleh potongan papan menyilang hingga menghambat sirkulasi udara diruangan itu. Air mata meluncur dengan deras membasahi wajahnya. Ketakutan menghampirinya. Bayangan ibunya saat menangis ketika dirinya tak sengaja menyakiti hatinya yang rapuh terus berputar dibenaknya. Seandainya tahu jika ini hari terakhirnya untuk hidup, maka ia akan meminta maaf pada sang ibu. Tapi semua telah terlambat. Perasaan bingung menyelimuti dirinya, kenapa ia harus diposisi seperti ini? Sejujurnya ia tidak mengetahui kesalahan apa yang ia lakukan.
Suara sepatu yang bergesekan dengan lantai ruangan terdengar. Semakin lama semakin dekat. Tidak, bukan itu. Pria itu tidak mendekat tapi berjalan mengelilinginya. Ketakutan semakin menjalarinya. Keringat dingin pun meluncur dengan deras dikulit halusnya. Jantungnya berdebar seakan memaksa keluar dari rongga dadanya. Gadis itu hanya terisak pedih. Tidak ada yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Sementara pria asing itu terus berjalan memutarinya. Menatapnya bagai hewan predator yang siap memangsanya kapan saja.
Tiba – tiba saja suara itu tak terdengar lagi. Kini rasa takut yang ia rasakan ibarat kuku – kuku panjang nan tajam yang telah mencengkeram jiwanya. Nafas gadis itu seakan berhenti ketika suara hembusan nafas pelan terdengar jelas ditelinganya.
"Aku akan menyucikanmu dari segala keburukan dunia ini." bisiknya dengan suara bariton.
Setelah itu ia merasakan sebuah jarum yang menusuk permukaan kulitnya. Suntikan itu mengakibatkan semua syaraf ditubuhnya mati membeku. Rintihannya terhenti. Kedua kelopak matanya tidak dapat berkedip. Gadis itu belum mati! Belum saatnya untuk mati.
***
Leon menatap layar monitor dihadapannya dengan wajah kusut dan frustasi. Ia masih berkutat dengan website baru bagi pecinta sadistik, gore, blood splatter, dan kekerasan, apalagi kalau bukan beautifulcreatures.com, website yang mengunggah foto seorang mermaid cantik yang menjadi korban pembunuhan.
Ia berulang kali men-scroll halaman website itu dan membaca komentar – komentar yang ditinggalkan oleh para followers-nya. Foto – foto korban sudah di like dan di share oleh ribuan orang. Sebenarnya mencari lokasi atau IP address suatu website sangatlah mudah, apalagi bagi mantan hacker seperti dirinya. Namun berulang kali ia melakukan hacking untuk melacak lokasi tersebut, berulang kali pula IP Address dari website tersebut berubah sekejap mata. Leon tahu jika pemilik website ini bukanlah sembarang orang dan yang jelas ia tidak mau keberadaannya ditemukan.
Mulutnya terasa pahit hingga ia pun memutuskan untuk mengambil sebungkus rokok yang ada didekatnya. Erangan frustasi keluar begitu saja dari mulutnya, ternyata rokok miliknya telah habis. Mau tak mau ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke minimarket terdekat untuk membeli rokok dan mungkin beberapa makanan ringan dan minuman dingin.
Sekarang ia sudah kembali berada didepan layar komputernya lagi. Baginya meninggalkan seperangkat alat komputernya walaupun hanya sebentar adalah hal tabu kecuali jika rokoknya habis. Leon kembali me-refresh halaman website itu. Matanya tertuju pada ikon notifikasi yang terdapat di sudut kanan atas. Pada ikon tersebut muncul angka satu berwarna merah, menandakan ada sebuah pemberitahuan yang masuk, baik berupa pertemanan, reply komentar, maupun pemberitahuan khusus yang berasal dari si empunya website.
Tangannya dengan cepat menyambar mouse berwarna hitam dan mengkliknya dengan cepat. Ternyata itu adalah pemberitahuan khusus dari admin website tersebut. Dengan rasa penasaran, Leon mengkliknya. Sekarang beranda firefox-nya menunjukkan halaman depan website tersebut. Ia benar – benar terperanjat saat melihat sebuah catatan khusus yang dibuat oleh si admin.
Hai semua...
Aku yakin kalian juga telah bosan menanti.
Dan juga bosan menerka – nerka
Seperti apa kegilaanku selanjutnya
Oleh karena itu,
Aku akan segera memuaskan dahaga kalian.
By the way, sampai detik ini Bayu Satrio
Sang pembela kebenaran
Sang penegak hukum
Sang protagonis dikehidupan nyata
Belum menyentuhku sama sekali
Apa aku terlalu misterius?
Apa aku harus memberimu petunjuk untuk menangkapku?
Aku akan berbaik hati untuk meninggalkan sebuah petunjuk
Mudah – mudahan dapat sedikit membantumu.
"Satu gigitan. Satu kesempatan. Dan dia mati.
Apa kau tidak tahu
jika apel beracun mempunyai rasa yang nikmat?"
Waktumu 24 jam
Untuk menyelamatkannya!
Xoxo,
-Prince Charming-
23:55
Dibawah tulisan itu ada sebuah foto peti kaca yang diletakkan ditengah – tengah pepohonan rindang yang teduh. Leon mengambil ponsel yang ada disaku celananya dengan tangannya yang gemetar.
"Halo Chief! Buka website sialan itu sekarang juga. Si Prince Charming akan kembali beraksi."
***
Spoiler for 5:
Darren berada disebuah ruangan berinterior serba putih. Yah kalian bisa menebaknya sebagai ruang rawat rumah sakit. Erick tidak mati, mana mungkin jatuh dari lantai dua dapat menyebabkan kematian, apalagi dibawah balkon kamarnya adalah taman bunga yang ditumbuhi oleh rumput – rumput jepang yang gemuk dan subur, bukannya lantai semen yang keras. Tangan kanannya patah karena menahan beban tubuhnya saat jatuh. Kepalanya bocor karena terantuk pot bunga besar yang ditanami oleh bunga kamboja berwarna merah. Beberapa bagian tubuhnya lecet.
Dokter Tirta baru saja memeriksanya dan mengatakan bahwa benturan kepalanya tidak begitu parah jadi tidak menyebabkan amnesia maupun gangguan lainnya. Ia juga berkata bahwa Erick mengalami halusinasi akut karena saking lamanya tidak tidur. Bertambahlah beban Darren, karena saat ini partnernya tidak dapat diandalkan sama sekali. Ia mulai memijat pelipisnya yang nyeri dan mulai berdenyut – denyut tak karuan.
Jika kalian menanyakan Samantha, gadis itu tepat duduk disamping Darren dengan wajah tenang tanpa beban. Tangannya sibuk membolak – balik majalah misteri yang baru saja ia beli di minimarket yang terletak diseberang rumah sakit. Sesekali ia mendengus geli ketika membaca sebuah kolom bacaan yang berisikan iklan paranormal yang menawarkan jasanya untuk menggandakan uang. Dan tentu saja hal itu mengganggu Darren.
"Apa kau tidak bisa sedikit bersimpati? Paling tidak kau bisa pura – pura memasang wajah sedih karena insiden ini."
"Dia belum mati Darren!" tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang sedang ia baca. "Berhentilah untuk khawatir. Kau seperti nenek – nenek tua keriput yang hobi menggerutu saja."
"WHAT!? Kau menyamakanku yang tampan ini dengan nenek tua keriput penggerutu. Sepertinya ada yang salah dengan kedua matamu."
Samantha memutar kedua bola matanya sebal saat mendengar kenarsisan pria yang duduk disebelahnya.
"Oh ya Sam! Sebenarnya apa yang terjadi padamu waktu itu?"
Gadis itu terdiam, lalu menutup kasar majalah yang ada ditangannya.
"Aku tidak akan menceritakan semuanya padamu. Tapi satu hal yang perlu kau ketahui, gadis itu korban Demons. Mereka telah memulai ritual kedua kebangkitan Azazel."
"Demons? Apa kau yakin?"
"Aku telah berhasil mengenkripsi ritual kedua untuk membangkitkan Azazel. Aku akan memberitahukannya padamu tapi jangan menyela perkataanku sedikit pun."
"Okay."
"Seperti yang kita tahu jika Tuhan membutuhkan tujuh hari untuk menciptakan dunia dan dihari ketujuh Tuhan beristirahat. Di Israel kuno, mereka beristirahat pada hari Sabat sebagai hari ketujuh sebagaimana yang diperintahkan dalam hukum taurat. Inti dari angka tujuh dalam bahasa Ibrani berarti "menjadi penuh" atau "menjadi lengkap". Jadi, jika seseorang memiliki ketujuh dosa ini, mereka berarti dalam keadaan lengkap dalam dosa dan semakin jauh kepada Tuhan."
"..."
"Dalam kitab Demons, ritual pertama adalah pengorbanan anak laki – laki yang masih suci. Seperti yang kita tahu bahwa Soeroso melakukan hal itu dengan baik. Ritual kedua adalah pengorbanan tujuh wanita yang mencerminkan seven deadly sins atau tujuh dosa mematikan manusia. Pertama envy atau kecemburuan. Kedua greed atau keserakahan. Ketiga glutony atau kerakusan. Keempat lust atau nafsu birahi. Kelima wrath atau amarah. Keenam sloth atau kemalasan. Ketujuh pride atau kesombongan."
Darren menghela nafas panjang.
"Silahkan kalau kau mau bertanya." Ujar Samantha.
"Aku kira aku belum boleh bertanya. Baiklah! Lalu apa kaitan ketujuh dosa itu dengan mayat mermaid kemarin? Maksudku kenapa harus Stella Magnolia? Seperti yang kita tahu bahwa setiap manusia pasti mempunyai kriteria seven deadly sins tersebut termasuk kau, aku bahkan semua orang didunia ini."
"Anggap saja pembunuh itu mempunyai kriteria tersendiri dalam menjaring korbannya. Apa kau sudah memeriksa latar belakang Stella dengan benar? Pasti ada keunikan tersendiri yang dimiliki Stella hingga si pembunuh memilihnya."
"Wow! Kata – katamu terdengar seperti seorang detektif profesional."
"Ini karena ulah Jackson yang selalu meracuniku untuk membaca novel – novel Agatha Christy miliknya."
Darren tertawa.
"Satu pertanyaan lagi? Kenapa mesti kostum mermaid?"
Samantha terdiam sejenak. Ia tahu persis siapa pembunuhnya termasuk hobi anehnya. Ia mengenalnya lebih dari siapa pun. Sangat amat mengenalnya! Hanya saja gadis itu bungkam, menutup rapat fakta yang ia tahu hanya untuk dirinya sendiri. Ia akan memberi waktu pada sahabat lamanya untuk menikmati permainan yang ia ciptakan, sebelum Samantha membunuhnya.
"Aku tidak tahu."
"Berhubung kau tahu mengenai ritual kedua ini, maka kau harus ikut investigasi selanjutnya bersamaku."
"Lalu siapa yang menjaga si bodoh itu?" sambil menunjuk Erick yang masih tak sadarkan diri. Samantha memicingkan matanya saat melihat keanehan pada Erick. Lalu ia berjalan mendekatinya. "Kemana kalung jimat yang biasa dipakai Erick?"
Darren beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan kesebelah Samantha.
"Sepertinya terlepas saat ia jatuh."
"Atau sengaja ia lepaskan hingga iblis jalang itu nyaris membunuhnya."
"Aku akan menelepon Jackson."
Tidak beberapa lama, Jackson datang bersama beberapa pengawal berseragam hitam. Pria tua itu tersenyum saat menatap Darren dan Samantha tapi matanya berubah menjadi sendu dan senyumannya memudar saat melihat keadaan Erick.
"Apa kau menemukannya?" tanya Darren
Jackson mengangguk dan mengeluarkan sebuah kalung berbandul bulan sabit dan matahari dari kantung jasnya. Tangan keriputnya maju dan memasangkan kalung itu dileher Erick.
"I know this is not okay!" ujarnya terisak.
"Erick baik – baik saja Jackson." Ujar Darren sambil menenangkan pria tua disebelahnya.
"Don't you dare to lie Darren Pradipta."
Darren tahu jika Jackson sudah menyebut namanya lengkap, maka amarah pria tua itu telah mencapai ubun – ubun. Hampir saja meledak bagaikan gunung berapi aktif yang tengah erupsi.
"Maaf Jackson tapi saat ini aku tidak akan memberi tahu apa pun padamu." Ujar Darren. "Maya ayo kita pergi! Ada tempat yang harus kita datangi."
Mereka berdua pergi meninggalkan Jackson. Pria tua itu menghela nafas panjang, menetralkan emosinya yang sempat memuncak. Berusaha sabar dalam menghadapi masalah yang tengah menimpa Erick, majikan yang ia anggap sebagai seorang anak. Ia melangkah menuju sofa putih yang terletak disudut ruangan. Mengeluarkan novel Percy Jackson yang baru saja ia beli.
"Apa salahnya membaca novel bergenre fantasi."
Darren menatap nyalang jalanan yang ada dihadapannya dari belakang kemudi. Samantha sendiri duduk tepat disebelahnya. Suasana dalam mobil itu sangat hening. Tak ada satu pun dari mereka yang berusaha untuk memecah keheningan. Sampai salah satu dari mereka jengah dan muak dengan suasana canggung seperti itu.
"Sebenarnya kemana tujuan kita?" tanya Samantha.
"Kau mau kemana Sam? Kali ini aku berbaik hati akan mengantarmu."
Seringai menghiasi wajah cantiknya.
"Kediaman Aurelia Reindhaard."
Jawaban gadis itu membuat Darren menghentikan mobilnya tiba – tiba hingga menimbulkan suara roda berdecit.
"Apa rencanamu?" ujarnya dengan tatapan mata tajam yang menusuk.
"Turuti kemauanku maka aku akan menyelamatkan Erick."
***
Seorang pria ber- hoody hitam tengah berdiri didalam sebuah ruangan dengan cahaya kekuningan yang dihasilkan dari lampu murahan ber-watt kecil. Ditengah ruangan itu seorang wanita berambut panjang terikat disebuah kursi tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Matanya ditutup dengan dasi berwarna merah maroon. Mulutnya pun dibekap dengan sehelai sapu tangan berwarna putih.
Aroma pengap menyeruak kedalam indera penciumannya. Seluruh jendela diruangan itu ditutup oleh potongan papan menyilang hingga menghambat sirkulasi udara diruangan itu. Air mata meluncur dengan deras membasahi wajahnya. Ketakutan menghampirinya. Bayangan ibunya saat menangis ketika dirinya tak sengaja menyakiti hatinya yang rapuh terus berputar dibenaknya. Seandainya tahu jika ini hari terakhirnya untuk hidup, maka ia akan meminta maaf pada sang ibu. Tapi semua telah terlambat. Perasaan bingung menyelimuti dirinya, kenapa ia harus diposisi seperti ini? Sejujurnya ia tidak mengetahui kesalahan apa yang ia lakukan.
Suara sepatu yang bergesekan dengan lantai ruangan terdengar. Semakin lama semakin dekat. Tidak, bukan itu. Pria itu tidak mendekat tapi berjalan mengelilinginya. Ketakutan semakin menjalarinya. Keringat dingin pun meluncur dengan deras dikulit halusnya. Jantungnya berdebar seakan memaksa keluar dari rongga dadanya. Gadis itu hanya terisak pedih. Tidak ada yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Sementara pria asing itu terus berjalan memutarinya. Menatapnya bagai hewan predator yang siap memangsanya kapan saja.
Tiba – tiba saja suara itu tak terdengar lagi. Kini rasa takut yang ia rasakan ibarat kuku – kuku panjang nan tajam yang telah mencengkeram jiwanya. Nafas gadis itu seakan berhenti ketika suara hembusan nafas pelan terdengar jelas ditelinganya.
"Aku akan menyucikanmu dari segala keburukan dunia ini." bisiknya dengan suara bariton.
Setelah itu ia merasakan sebuah jarum yang menusuk permukaan kulitnya. Suntikan itu mengakibatkan semua syaraf ditubuhnya mati membeku. Rintihannya terhenti. Kedua kelopak matanya tidak dapat berkedip. Gadis itu belum mati! Belum saatnya untuk mati.
***
Leon menatap layar monitor dihadapannya dengan wajah kusut dan frustasi. Ia masih berkutat dengan website baru bagi pecinta sadistik, gore, blood splatter, dan kekerasan, apalagi kalau bukan beautifulcreatures.com, website yang mengunggah foto seorang mermaid cantik yang menjadi korban pembunuhan.
Ia berulang kali men-scroll halaman website itu dan membaca komentar – komentar yang ditinggalkan oleh para followers-nya. Foto – foto korban sudah di like dan di share oleh ribuan orang. Sebenarnya mencari lokasi atau IP address suatu website sangatlah mudah, apalagi bagi mantan hacker seperti dirinya. Namun berulang kali ia melakukan hacking untuk melacak lokasi tersebut, berulang kali pula IP Address dari website tersebut berubah sekejap mata. Leon tahu jika pemilik website ini bukanlah sembarang orang dan yang jelas ia tidak mau keberadaannya ditemukan.
Mulutnya terasa pahit hingga ia pun memutuskan untuk mengambil sebungkus rokok yang ada didekatnya. Erangan frustasi keluar begitu saja dari mulutnya, ternyata rokok miliknya telah habis. Mau tak mau ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke minimarket terdekat untuk membeli rokok dan mungkin beberapa makanan ringan dan minuman dingin.
Sekarang ia sudah kembali berada didepan layar komputernya lagi. Baginya meninggalkan seperangkat alat komputernya walaupun hanya sebentar adalah hal tabu kecuali jika rokoknya habis. Leon kembali me-refresh halaman website itu. Matanya tertuju pada ikon notifikasi yang terdapat di sudut kanan atas. Pada ikon tersebut muncul angka satu berwarna merah, menandakan ada sebuah pemberitahuan yang masuk, baik berupa pertemanan, reply komentar, maupun pemberitahuan khusus yang berasal dari si empunya website.
Tangannya dengan cepat menyambar mouse berwarna hitam dan mengkliknya dengan cepat. Ternyata itu adalah pemberitahuan khusus dari admin website tersebut. Dengan rasa penasaran, Leon mengkliknya. Sekarang beranda firefox-nya menunjukkan halaman depan website tersebut. Ia benar – benar terperanjat saat melihat sebuah catatan khusus yang dibuat oleh si admin.
Hai semua...
Aku yakin kalian juga telah bosan menanti.
Dan juga bosan menerka – nerka
Seperti apa kegilaanku selanjutnya
Oleh karena itu,
Aku akan segera memuaskan dahaga kalian.
By the way, sampai detik ini Bayu Satrio
Sang pembela kebenaran
Sang penegak hukum
Sang protagonis dikehidupan nyata
Belum menyentuhku sama sekali
Apa aku terlalu misterius?
Apa aku harus memberimu petunjuk untuk menangkapku?
Aku akan berbaik hati untuk meninggalkan sebuah petunjuk
Mudah – mudahan dapat sedikit membantumu.
"Satu gigitan. Satu kesempatan. Dan dia mati.
Apa kau tidak tahu
jika apel beracun mempunyai rasa yang nikmat?"
Waktumu 24 jam
Untuk menyelamatkannya!
Xoxo,
-Prince Charming-
23:55
Dibawah tulisan itu ada sebuah foto peti kaca yang diletakkan ditengah – tengah pepohonan rindang yang teduh. Leon mengambil ponsel yang ada disaku celananya dengan tangannya yang gemetar.
"Halo Chief! Buka website sialan itu sekarang juga. Si Prince Charming akan kembali beraksi."
***
0
Kutip
Balas