- Beranda
- Stories from the Heart
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
...
TS
dianmaya2002
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Erick dan Darren kembali dihadapkan dengan seorang psikopat gila pecinta Disney Princess yang menyebut dirinya sebagai PRINCE CHARMING. Korban - korbannya selalu ditemukan dalam berbagai tema Disney Princess, seperti Stella Magnolia yang ditemukan ditepi dermaga dalam balutan kostum mermaid seperti Princess Ariel.
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Hai Agan dan Aganwati...
Ane balik lagi nih buat posting sequel nya Biro Detektif Supranatural PSYCH
Yang masih penasaran sama Mbak Samantha Reindhaard bakal ane buat tambah penasaran lagi...
ini akun wattpad ane Anthazagoraphobia
karya ane:
Biro Detektif Supranatural PSYCH : Pieces #1
The Haunted Hotel La Chandelier
bagi cendol dan rate nya ya
DAFTAR ISI
Spoiler for Index:
Diubah oleh dianmaya2002 07-03-2017 20:20
zeref13 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
17.1K
Kutip
80
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dianmaya2002
#2
Spoiler for 2:
Revisi
Ada kalimat absurd atau typo yang belum dibenerin? Kasih tau aja ya pake quote
Ada kalimat absurd atau typo yang belum dibenerin? Kasih tau aja ya pake quote
Bayu duduk disinggasananya sambil menyesap kopi hangat yang baru saja diantar oleh salah satu office boy bernama Suparman yang telah lima tahun bekerja di kepolisian. Kegagalannya memenjarakan Yamaguchi membuat dirinya frustasi. Emosinya sedang meledak – meledak hingga tak jarang pria tua itu melontarkan kata – kata sarkastik yang menyakitkan hati setiap waktu pada anak buahnya.
Secangkir kopi hangat tidak dapat menentramkan hatinya. Senyuman kebebasan Yamaguchi selalu saja muncul bagai kaset rusak yang berputar tanpa henti dikepalanya. Jika membunuh itu bukan kegiatan ilegal yang dilarang oleh hukum, maka saat ini juga ia sudah berangkat menuju Golden Lotus untuk menembak kepala si brengsek itu. Mungkin takdir masih belum memberikan kesempatan padanya untuk menangkap si Yamaguchi sialan itu.
Tiba – tiba telepon dihadapannya berbunyi cukup nyaring. Lalu ia pun mengangkatnya.
"Halo."
"Hai Bapak kepala Polisi..."
"Siapa ini? Jangan bermain – main denganku!" ujar Bayu dengan nada emosi.
Pria diseberang sana kembali tertawa terbahak – bahak. Beberapa saat kemudian ia terdiam dan mulai serius.
"Apa kau ingat mermaid cantik yang kau temukan di Distrik K? Kedua bola matanya yang menatap sayu kearah lautan. Rambut indahnya beterbangan diterpa semilir angin pantai. Oh betapa aku merindukan gadisku itu."
"APA MAKSUDMU?"
"Oh ya aku mengirimkan kejutan untukmu. Semoga kau suka Bapak Bayu Satrio."
Percakapan telepon itu terputus begitu saja. Meninggalkan tanda tanya besar. Yang meneleponnya adalah si pembunuh dengan alias Prince Charming. Ketukan pintu nyaring membuatnya tersadar.
"Masuk."
"Ada paket untukmu Chief." Ujar Ayla, seorang polwan yang juga bawahannya.
"Bawa kemari."
Ayla memasuki ruangan itu dengan membawa sebuah kotak seukuran kardus sepatu terbungkus kertas berwarna cokelat. Kotak itu sangat ringan, amat ringan. Jika ditebak beratnya tidak sampai satu kilogram.
"Siapa yang mengirimkannya?"
"Seorang kurir Chief."
Tangannya dengan gesit mengoyak bungkus kardus itu dengan cepat. Mata tuanya sungguh terkejut saat melihat isi dari kotak misterius tanpa nama dan alamat tersebut.
"AYLA PANGGIL FORENSIK SEKARANG JUGA."
Sebelum petugas forensik tiba, Leon, seorang cyber crime police masuk kedalam ruangan Bayu dengan wajah yang tak kalah paniknya.
"Chief, demi Tuhan kau harus melihat ini. Sekarang juga!"
Leon menaruh laptop yang dibawanya dimeja Bayu dan memperlihatkan browser yang menampilkan sebuah website berjudul beautifulcreatures.com.
Website itu memperlihatkan lima buah foto cantik Stella Magnolia dalam berbagai pose. Stella yang tengah menggenggam tangan bercincin hitam dijari manisnya. Tangan tersebut adalah tangan milik seorang pria. Stella tengah berdiri dipinggir pantai mengenakan gaun putih sambil tersenyum manis.
Foto Stella tengah berlari di padang ilalang. Lagi – lagi sambil menggenggam tangan seorang pria yang sayangnya tak memperlihatkan wajahnya. Foto Stella yang tengah tertidur pulas diatas ranjang. Dan foto yang terakhir adalah dimana mayat Stella ditemukan di dermaga Distrik K dalam balutan kostum mermaid dimana ia telah meregang nyawa.
"Cari tahu siapa dalang dibalik website ini."
Tidak beberapa lama teleponnya kembali berdering, Bayu pun langsung mengangkatnya. Telepon itu berasal dari Jason.
"Holy Shit! Kau harus kemari dan melihat si cantik ini!"
Bayu memijit pelipisnya perlahan. Masalah datang bertubi – tubi.
"Jason! Apa si cantik itu kehilangan kulitnya?"
"Bagaimana kau tahu hal itu Chief?"
"Kulitnya ada di kantorku Jason. Psikopat gila itu mengirimkannya lewat kurir."
"Damn! Tapi ada satu hal lagi yang perlu kau lihat dan sebaiknya kau kesini sekarang juga. Aku juga telah menghubungi PSYCH untuk melihat ini."
***
Suasana di Golden Lotus sangat berbeda ketika disiang hari. Tidak ada dentuman musik EDM, sexy dancer, bahkan bartender dan para waiter belum menampakkan batang hidungnya disana. Beberapa bodyguard berwajah khas Asia Timur menyapa kedatangan mereka berdua, siapa lagi jika bukan Darren dan Samantha.
"Darren-san. Douzo!"
Ia hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Darren tahu jika beberapa mata – mata suruhan Bayu tengah berada disekitar Golden Lotus, mengawasi gerak – gerik setiap orang yang berhubungan dengan Yamaguchi.
Darren dan Samantha duduk disebuah kursi dekat bar. Yamaguchi muncul dari bagian dalam klub. Menghampiri mereka berdua dan duduk tepat disebelah Samantha
"Sudah lama kita tidak bertemu." Ujar Yamaguchi sambil tersenyum kearah Darren. "Pasti mengenai Stella. Madam Viola akan menjawab seluruh pertanyaan kalian. Dimana Erick? Tidak biasanya ia absen dalam sebuah penyelidikan."
"Kondisinya sedang sangat buruk."
"Dan akhirnya kau mengajak dia?" ujar Yamaguchi sambil melirik kearah Samantha.
Darren hanya mengedikkan bahunya.
Viola datang dengan penampilan yang cukup sederhana. Tanpa riasan menor maupun gaun yang terbuka seperti yang selalu digunakannya saat menyambut para tamu. Ia langsung menghambur kearah Darren lalu duduk dipangkuannya dengan manja.
"Aku merindukanmu Darren."
"Maaf Viola tapi aku kesini untuk bertugas. Bisakah kau duduk dikursimu?"
Samantha hanya menatap pasangan beda usia ini dengan tatapan jengah hingga memutar kedua bola matanya terang – terangan. Hal yang paling ia sesali karena hidup kembali adalah melihat adegan – adegan tak senonoh yang berlangsung dihadapannya.
Memori seminggu yang lalu berputar dikepalanya. Hari itu ia menemani Jackson berbelanja disebuah supermarket. Saat sedang membantu pelayan tua itu mendorong troli berisi barang belanjaan, ia tidak sengaja mendengar percakapan anak sekolah dasar yang masih bau kencur saling memanggil dengan sebutan ayah – bunda. Dua bocah itu beruntung karena Samantha tidak berdiri dirak penjualan pisau, jika itu terjadi maka dua pisau daging berukuran besar sudah dipastikan menancap dengan cantik dikepala mereka berdua.
Yamaguchi yang melihat ekspresi sebal yang terpancar jelas diwajah Samantha hanya terkekeh geli.
"Viola jaga sikapmu! Darren kesini dengan partner cantiknya."
Kini manik mata Viola telah beralih kearah Samantha dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Memindai gadis itu dari atas kebawah sesekali membandingkannya dengan dirinya. Yamaguchi dan Darren dapat mencium aroma persaingan yang menguar diantara mereka. Entah mengapa Darren merasa jika gadis ini cemburu dengan perlakuan manis Viola padanya.
"Viola!" Ujar Yamaguchi tegas.
Akhirnya wanita itu duduk dikursi kosong tepat disebelah kiri Darren.
"Aku ingin menanyakanmu tentang Stella Magnolia."
"Kemarin polisi telah datang kesini dan menanyaiku soal Stella tapi aku dengan senang hati akan menceritakannya kembali untukmu."
"Oke kau bisa memulainya." Ujar Darren sambil menyalakan recorder yang entah kapan berada ditangannya.
Mata Viola menerawang. Ingatannya kembali pada saat pertama kali bertemu dengan Stella.
(Memory Viola)
Seperti biasanya, Viola berdiri didepan cermin besar. Mengagumi dirinya sendiri. Di umurnya yang telah mencapai kepala lima, kulitnya masih kencang tanpa ada gelambir maupun keriput. Mukanya terlihat segar tanpa keriput, flek hitam, maupun kantung mata. Lekukan tubuhnya bak gitar spanyol tak kalah dengan anak – anak asuhannya yang masih berumur 20 tahunan.
Para pelanggan pria yang rata – rata berumur lebih muda 10 tahun darinya tidak pernah komplen dengan performanya diatas ranjang. Wajah mereka tampak sumringah karena terpuaskan. Ketukan pintu menyadarkannya lalu bergegas membukanya. Seorang gadis cantik berambut hitam lurus berada tepat dihadapannya. Gadis itu bernama Kattareya Angel.
"Masuklah." Ujar Viola tersenyum ramah lalu mempersilahkan Kat duduk. "Ada apa Kat?"
Kat pun menceritakan pertemuannya dengan gadis desa bernama Eti Sumiati disebuah emperan minimarket 24 hour yang tak jauh dari apartemennya. Lalu meminta pertolongan Viola untuk memberinya pekerjaan apa saja asal bukan sebagai seorang hostess.
Kat juga menceritakan bahwa ibu Eti sedang sakit keras maka ia nekat datang ke ibu kota untuk mengais rejeki. Madam Viola yang kasihan pun memberikan gadis itu pekerjaan sebagai cleaning service di Golden Lotus dengan jadwal khusus yaitu pada siang hari dimana klub sepi, tanpa ada pengunjung satu pun.
Ia tidak mau Eti terjerumus pergaulan bebas dan berakhir seperti dirinya. Sikap baik Eti pun membuat seluruh penghuni Golden Lotus sayang padanya termasuk para bodyguard. Madam Viola pun memberikannya tips besar, melebihi karyawan mana pun.
Setahun kemudian, Eti datang padanya. Memohon untuk menjadikannya sebagai seorang hostess. Berkali – kali ia menolak permintaan gadis itu, tapi akhirnya ia luluh juga karena tekad kuat Eti.
Madam Viola mengganti nama Eti dengan nama Stella Magnolia.
(End Memory)
"Gadis tamak." Gumam Samantha yang membuat Madam Viola menatapnya tajam.
"Aku setuju denganmu Nona." Kata Yamaguchi.
"Jadi apa ada kejadian janggal sebelum kematian Stella?"
"Sehari sebelumnya ia sempat melayani tamu bernama Tanaka Hashirama, seorang kontraktor muda yang tergila – gila padanya. Menurutku Stella sangat beruntung karena saat itu Tanaka sempat mengutarakan niatnya padaku untuk menebus gadis itu dan menikahinya."
"..."
"Sayangnya Stella menolak permintaan Tanaka-san berkali – kali dengan berbagai alasan tapi pria itu tetap saja mengejarnya. Mungkin itu yang dinamakan sebagai cinta buta."
"Apa mungkin Tanaka-san dalang dibalik kematian Stella?" tanya Yamaguchi. "Aku hanya menebak saja. Banyak kasus pembunuhan dengan latar belakang patah hati, kecewa, cinta tak terbalaskan. Yahh semacam itu."
"Tidak menutup kemungkinan..."
Sebelum menyelesaikan kata – katanya, ponsel Darren berbunyi nyaring. Ia pun langsung mengangkatnya. Ekspresi tegang tercetak jelas diwajahnya sebelum ia mengakhiri pembicaraan dengan si penelepon.
"Kau tidak apa – apa Senpai?"
"Aku harus ke rumah sakit sekarang. Viola bisa aku minta kontak Tanaka-san dan Kattareya?"
"Tentu saja."
Setelah mendapatkan kontak Tanaka-san dan Kattareya, mereka berdua pergi meninggalkan Golden Lotus. Sementara Yamaguchi dan Viola menatap punggung mereka berdua yang semakin lama semakin menjauh. Ada setitik kecemburuan yang muncul dalam benak Viola. Dirinya memang tidak muda lagi, apalagi jika disandingkan dengan seorang model seperti Maya Alcander.
"Keichi-kun, apa aku sudah tidak cantik lagi?"
Yamaguchi menoleh pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu dengan senyuman tulus.
"Bagiku kau masih sangat cantik." Ujarnya sambil memeluk Viola.
***
Darren dan Samantha berjalan menuju ruang jenazah, Jason si dokter forensik telah menunggu mereka. Sesuatu yang aneh dan ganjil membuat Samantha bergidik ngeri. Apalagi rumah sakit adalah tempat dimana hidup dan mati saling bersinggungan, datang silih berganti kapan saja tak kenal waktu.
Belum pernah ia merasa seperti ini. Samantha memperlambat langkahnya namun sia – sia. Kakinya seperti dipaksa untuk melangkah oleh kekuatan besar untuk mendekati ruang jenazah. Darren menoleh dan tidak menemukan Samantha berada disampingnya. Ia menengok kebelakang dan mendapati gadis itu berjalan perlahan jauh dibelakangnya. Pria itu berbalik dan menghampiri Samantha.
"Kau kenapa?"
Wajah pias Samantha membuatnya terkejut. Baru kali ini ia melihat seorang pembunuh berdarah dingin seperti Samantha ketakutan. Darren yakin pasti ada sesuatu yang tengah dirahasiakan darinya.
"Hei kau tidak apa – apa?" ujar Darren lagi sambil menangkupkan kedua telapak tangannya diwajah gadis itu. Samantha hanya memandang Darren dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"..."
"Kau bisa menungguku disini."
"Aku ikut."
Darren mengangguk lalu menautkan jari jemarinya ditangan Samantha yang dingin. Menyalurkan sedikit kekuatan agar rasa takut yang menghinggapi gadis itu sirna secara perlahan.
"Hmm... Apa kau sudah merasa tenang>"
Gadis itu hanya mengangguk dalam diam.
"Kalau begitu ayo." Ujar Darren tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Entah mengapa pria itu merasakan desiran aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Jika yang ada dihadapannya adalah seorang Maya pasti tidak akan seperti ini, karena sejak dulu Darren hanya menganggapnya sebagai adik. Namun sekarang sosok dihadapannya adalah seorang Samantha Reindhaard. Ia pun berusaha menetralkan detakan jantungnya dengan memulai candaan absurd yang sering membuat gadis itu emosi.
"Tumben sekali kau mau aku gandeng." Ujar Darren terkekeh.
"Hanya kali ini saja! Camkan itu!" jawab Samantha ketus tentunya dengan tatapan mata tajam yang menjadi ciri khasnya.
Bayu, Azka, Devon, Jared dan Jason mengarahkan pandangannya kearah pintu yang tiba – tiba terbuka. Mereka terkejut sekaligus heran ketika melihat Darren dan Samantha, dalam hal ini mereka hanya tahu jika yang berdiri didepan mereka adalah Maya Alcander, model papan atas yang berstatus hiatus.
"Aku tidak keberatan jika kau mau menggenggam tanganku setiap saat tapi untuk saat ini sebaiknya kau melepaskan tanganku Sam." Bisik Darren tepat ditelinga Samantha. Gadis itu langsung melepaskan kaitan tangannya.
Bayu hampir saja membuka mulutnya untuk melontarkan komentar pedas. Namun Darren berhasil membungkamnya.
"Simpan komentarmu Chief!"
"..."
"Maaf atas keterlambatanku dan partner baruku. Jadi ada apa kau memanggilku kemari Dokter Jason?"
Jason berjalan mendekati sebuah meja stainless lalu menyingkap kain hijau penutup kadaver tersebut. Kondisi kadaver tersebut membuat semua oran yang ada diruangan tersebut terkejut bukan main. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka, bahkan Bayu yang hobi melemparkan kata – kata sarkastik pun terdiam begitu melihat kondisi mayat yang ada dihadapannya.
***
Diubah oleh dianmaya2002 18-03-2017 10:04
sormin180 memberi reputasi
1
Kutip
Balas