Original Posted By pasiolo84►Sore berganti malam...
Bayang-bayang pepohonan silih berganti mengiringi langkah Bulu. Langit berwarna jingga seakan tak bisa menyapu kabut gelap di hatinya. Penampakan yang baru saja dilihatnya semakin menambah duka menjadi-jadi. Begitu nelangsa hati Bulu.
Ayunan langkah seakan mengisyaratkan perasaannya sore itu.
Dia merogoh saku, ingin menghapus pemandangan hina dina dari ponselnya.
"Eh, ada WA", gumam Bulu. Aplikasi gratisan itu pun dia buka. Dia tak menyadari, satu hari ini ternyata Rinso dan Snoopy berulangkali menghubunginya.
Ya... Sejak Rinso dan Snoopy membisu dengan senyum menahan tawa kemarin sore, notifikasi WA pun dia buat bisu. Mereka menanyakan dagangan beha Bulu laris atau tidak. Apakah Bulu bertemu Ibu-ibu yang curhat tentang suami mereka. Makan siang dimana Bulu hari itu. Dan tak lupa lelucon dan meme tentang Rofi yang biasa menceriahkan hari mereka.
Bulu tak menanggapi satu pertanyaan pun dari Rinso dan Snoopy. Bahkan lelucon dan meme lucu yang dulu selalu dia tunggu, kini tak mengundang tawanya lagi. Tersenyum pun tidak.
"Cukup sudah...", kata Bulu dalam hati sambil menggigit bibir pahitnya.
Selesai menghitung untung penjualan beha, Bulu memantapkan niat untuk bertemu seseorang. Dia sudah merencanakannya dengan matang malam sebelumnya. Sembari berkaca di sebuah cermin retak, Bulu bernyanyi sumbang. "Lelaki dan Rembulan". Lagu yang mempertemukan mereka dulu, Bulu dan mahluk biadab itu.
Dengan membawa sebuah beha keluaran terbaru dan sepiring daging laknat, Bulu segera bergegas. Bertandang ke satu lapo tuak demi satu tujuan yang dianggapnya mulia.
Mengakhiri penderitaan Rofi...!!
"Lapo Ni Namboru", di sudut kota yang jauh dari keramaian. Itu tempat yang Bulu tuju.
Ketika beranjak pergi terdengar suara khas aplikasi gratisan. Lagi-lagi Rinso dan Snoopy di grup WA mereka. Bulu kembali mengacuhkan kedua sahabatnya.
Dia memacu motor Kawasaki Ninja kreditannya tanpa rasa takut, bak seorang Shinobi dengan satu misi rahasia. Deru mesin 250 cc itu seakan mewakili kobaran semangat Bulu di tengah dinginnya malam.
Sesampainya Bulu, sayup lagu jenaka terdengar.
"Guanteng nya pacarku.. Aauuhh.... Guanteng nya pacarku... Auuhh... Tak seguanteng guanteng guanteng pacar kau.... Yii...Haaa..."
Mendengar lagu dan tawa menyebalkan mereka, Bulu tertawa geli. "Seandainya rupa kalian seperti Delon Situmeang, tak apalah...", gumamnya.
Bulu tahu, mereka baru saja memulai ritual sakral. Bulu juga paham, sesangar apapun tampang mereka, sebesar apapun nyali mereka, dan sesuram apapun masa depan mereka kelak. Hanya ada satu lagu yang membuat mereka berlinang air mata tanpa rasa malu, meraung-raung sambil menepuk dada mereka.
"Inang Naburju". Sebuah lagu pertobatan.
Ya... Mereka kumpulan Tomat. Tobat Kumat, Tobat Kumat. Siklus tiada henti, seolah tak mengenal kata tamat.
Setelah bertegur sapa dan sekedar berbasa basi tanpa rasa canggung, Bulu pun bercerita tentang Rofi.
Dengan berbagai macam bumbu penggugah rasa, Bulu menceritakan fenomena yang sudah biasa dia lihat.
Si mahluk biadab, hanya bisa tersenyum menahan tawa. Tak ubahnya seperti sahabatnya Rinso dan Snoopy.
"Dasar biadab", ujar Bulu dalam hati.
Dia sadar berada di "sarang penyamun". Tak bisa berbuat lebih demi temannya Rofi. Akhirnya dia putuskan untuk membuka aib Rofi yang dulu tertutup rapat.
Suatu kisah mencengangkan yang mengernyitkan dahi. Seisi penghuni lapo pun terdiam. Hanya terdengar suara petikan gitar menambah aura mistis cerita Bulu di malam itu.
"Tahu kah kau, sampai sekarang Rofi belum bayar utang beha daganganku... Tak jarang pula, dia tega mencuri beha-beha bekas yang tak laku..."
Bahkan terakhir ini, sudah nekat mencuri beha nenek tetangga..!
Bayangkan itu..!", kata Bulu berapi-api...
Kemudian dia teringat foto yang tak jadi dihapusnya sore tadi.
"Dan lihat ini... Foto ini... Lihat...! Ini kejadian tadi sore..!" seraya menyerahkan ponsel iphone replika bekas dengan layar nya yang sudah retak.
Bagaikan seorang perawan digerayangi para lelaki, ponsel itu pun berpindah tuan demi tuan.
Pemain gitar yang lihai memainkan jari jemarinya, Krismon.
Lead vocal yang suaranya lantang seakan menantang, Binbin.
Backing vocal yang suaranya timbul tenggelam, Sparta.
Suara bass serak-serak becek, Fendi.
Dan seorang kritikus yang penuh wibawa, senyum dan tawa, Toto.
"Woiii.. Ini kawan kau..?" tanya Krismon.
Bagai petir di siang terik. Si mahluk biadab tak menduga akan diinterogasi. Dengan berat hati, dia menjawab.
"Bukan gitunya... Kawan dia ini punya kawan... Kawannya si kawannya itu punya kawan lagi. Nah, itulah si kawan itu..", ucap si mahluk biadab berkelit.
Hmmm... Begitu...???, tanya Binbin sambil mendelik..
Tak ingin menjawab, si mahluk biadab memalingkan wajah ke arah Toto seakan minta pertolongan.
"Bah, jawab...?, tanya Fendi lagi dengan sorot mata setajam silet.
Si mahluk biadab pun berandai andai. Seandainya tak mengiyakan pertemuan dengan Bulu. Seandainya tak ada mahluk hina bernama Rofi. Seandainya dia bisa menghilang. Seandainya... Seandainya...
"Begitulah..." ucapnya lirih dengan nafas panjang. Seolah itu nafas terakhirnya.
Belum selesai dia menarik nafas kembali, Bulu bersuara.
"Bantulah Rofi...", pinta Bulu sembari menyerahkan beha berwarna merah maroon yang dibawanya.
Seisi lapo pun riuh, ricuh. Gelak tawa memecah kesunyian. Terdengar perlahan, lagu plesetan "Behaku Ada Lima" dimainkan Krismon dengan irama padang pasir.
Mengiringi perasaan si mahluk biadab yang ingin segera menenggelamkan dirinya ke Danau Toba.
"Apa ini heh...?" tanya si mahluk biadab itu.
"Beha keluaran terbaru untuk mu...", jawab Bulu dengan semangat.
Tawa seisi lapo semakin menggelegar. Seekor anjing yang sudah tertidur mendengar kisah Rofi akhirnya terbangun. Ikut menggonggong, melolong, terbawa suasana.
Suatu kolaborasi sempurna dengan suara tawa yang tak berirama.
"Ini lapo... Kawan bisa jadi lawan... Lawan bisa jadi kawan...", ujar si mahluk biadab setengah suara.
Wajahnya memerah, senada dengan warna beha yang dibawa Bulu.
Bulu pun langsung beranjak dari duduknya dan meraih tangan si mahluk biadab. Bulu pun sungkem sembari mencium cincin berlian Swarovski imitasi kebanggaannya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk Rofi",tanya Bulu seperti memelas.
Tanpa berfikir lama mahluk biadab itu menjawab.
"Pergilah dengan damai... Bawa beha ini... Berikan pada Rofi... Dan hapuslah utang-utangnya. " ,jawabnya datar.
"Hanya itu..?" tanya Bulu penuh heran dan seakan tak rela melakukannya.
Ada senyum di wajah mahluk biadab itu. Senyum mengundang tamparan bagi yang melihatnya.
"Hmmm... Selama ini dia hanya berkutat pada beha. Cobalah untuk mengasihi Rofi dengan memberikan sesuatu yang lebih bermakna."
"Isi Beha...!! ", jawabnya sambil menoleh ke arah Toto yang dibalas dengan anggukan, senyum kemudian tawa.
Terdengar seseorang berbicara, namun suaranya timbul tenggelam.
Ya... Itu si Sparta. Entah apa yang disarankannya. Seakan hanya dia dan Pencipta lah yang tahu.
Mendengar jawaban itu, Bulu pun terdiam. Memikirkan sesuatu dengan sorot mata tajam dibalik lensa kacamatanya. Setelah meminum seteguk dua teguk tuak yang terhidang di hadapannya, Bulu mengeluarkan ratusan uang pecahan 2.000.
"Aku yang bayar semua, aku pamit dulu", kata Bulu ke kumpulan Tomat.
Baru hendak melangkahkan kaki, seseorang memanggil Bulu.
Binbin berseru kepadanya dengan logat kental dan bahasa Indonesia yang kurang disempurnakan.
"Apanya maksud kau, Saudaraku...! Minum mu pun tak kau habiskan kutengok...! Kau bayar pulak semua...! Tak sor kau rupanya...!
Sikit-sikit aja tapi habis..!", rayu Binbin kepada Bulu.
Bulu belum menjawab, si Krismon pun menyahut lagi.
"Cem mananya...! Cepat kali pulak kau mau pulang...!
Yang di Taman Lawang itu..! Pulang pagi nya...!
Jangan kalah kau...!"
Mendengar itu, dengan lantang Bulu pun menjawab.
"Bukan gitunya...! Besok pagi-pagi buta aku udah jualan beha...!
Ngertilah sikit...!"
Akhirnya Fendi mencoba memahami Bulu. Tetap dengan sorot mata setajam silet, dia menepuk pundak kekar Bulu.
"Oke lah.. Oke..!
Kalau di jalan...! Awas...! Hati-hati kau...!
Entah apa maksud Fendi, Bulu tak ingin berlama-lama lagi. Dia pun beranjak pergi.
Prangg... Terdengar suara piring pecah. Piring tempat daging laknat yang dibawa Bulu pecah tanpa sebab.
"Bahkan piring hadiah deterjen dari Rinso pun tak ingin berlama-lama dengan kumpulan ini", pikir Bulu.
Lanjut, gan. Sampe rumah roboh sebentar lagi