- Beranda
- Stories from the Heart
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
...
TS
taucolama
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
Quote:
Quote:
Quote:
Spoiler for Prolog:
Quote:
Quote:
Yang suka mohon Rate,Komen, Share.Diubah oleh taucolama 28-02-2017 07:49
afrizal7209787 dan 47 lainnya memberi reputasi
42
1M
1.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
taucolama
#1598
Awal dari teror
Jujur baru kali ini aku mengalami hal seperti ini. Sosok wanita yang melayang ini jelas dilihat bukan hanya olehku. Dan biasanya aku menghadapi makhluk tak kasat mata dialam mereka, kini aku menghadapi makhluk ini dialam manusia.
Aku juga merasakan takut tapi kutekan ketakutanku karena kutau memang keinginan makhluk seperti itu. Agar manusia merasa takut.
"Awas pak hati hati biar saya didepan": kata satpam yang bernama Pak Dede.
Kulihat ia sedang merapal doa sambil maju selangkah kedepanku. Aku melepaskan kayu yang kubawa. Aku berjongkok mengambil segenggam tanah dipinggir jalan dan ku membaca doa lalu aku berdiri lagi.
Sosok makhluk itu makin mendekat. Rambut panjangnya tertiup angin hingga menampakkan wajahnya yang seperti busuk dan mata merah menyala dan seperti tak memiliki hidung, hanya lubang hidung wajahnya tak jelas hanya terlihat taring putih menyembul.
Ketika sudah dekat sekali dengan makhluk itu,pak Dede mengayunkan pentungan karetnya pada sosok itu. Anehnya pentungan itu seperti menembus bayangan saja. Sosok itu tembus melewati pak Dede. Kemudian melewati ku hanya satu meter dari depanku. Ketika sosok itu melewatiku bau tak enak tercium dan terasa dingin menerpa membuat bulu kuduk berdiri. Sosok itu tertawa melengking setelah beberapa jauh sosok itu berbalik arah dan mengarah kembali kearah kami. Aku membaca doa. Sosok itu kembali melayang kearah kami dibarengi teriakan Cumiakan telinga. Ketika sangat dekat ku lemparkan tanah ke arah sosok itu dan....
Sosok itu terpental jatuh dekat pak Dede. Dengan sigap pak Dede memukulkan pentungannya. Buggg.... Pukulan pentungan pak Dede mengenai makhluk itu disertai jerit melengking makhluk itu. Pak Dede meraih kain yang dikenakan sosok itu dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya yang memegang pentungan mengayun hendak memukul lagi.
Tapi sosok itu bangkit melayang menjauh sambil menjerit dan tiba tiba berubah jadi asap putih yang kemudian hilang tertiup angin. Aku menarik nafas lega. Pak Dede pun sama seperti ku, pak Dede melihat tangan kirinya yang tadi sempat memegang baju sosok itu. Kini ditangannya ada kain kafan kotor oleh tanah. Pak Dede melemparkan kain itu kebawah sambil bergidik.
"Pak Aka ga apa apa": kata Pak Dede.
"Gak apa apa": kataku. Sebenarnya aku merasa gak enak dipanggil pak oleh pak Dede yang umurnya jauh diatasku. Mungkin pak Dede memanggilku pak untuk menghormatiku.
"Pak Bram, ga apa apa": kataku teringat satpam yang satu lagi.
Kami menghampiri pak Bram yang ternyata pingsan.
"Waduh gimana nih Bram, nama aja bram kumis gede baru gitu aja pingsan": kata Pak Dede.
"Pak, kita pindahin aja keteras rumahku.": kataku.
"Iya pak": kata Pak Dede.
Aku dan pak Dede menggotong pak Bram dan membaringkannya di kursi panjang diterasku. Aku masuk kedalam rumah ternyata bibi belum tidur lagi. Ku meminta bibi mengambilkan minyak kayu putih. Bibi mengambilkannya,kemudian mengibas ngibaskan minyak kayu putih didekat hidung pak Bram. Tak lama pak Bram sadar, dan seperti ketakutan. Pak Dede menenangkan pak Bram. Bibi mengambilkan air putih dan pak Bram meminumnya, akhirnya pak Bram jadi tenang.
"Pak Aka selama saya jadi satpam, baru kali ini saya mengalami hal paling menakutkan seperti ini. Biasanya cuma bayangan sekilas, suara suara. Yang ini jelas sekali": kata Pak Dede.
"Tapi bapak hebat berani ngga lari": kataku.
"Dulu kata guru ngaji saya jangan takut sama makhluk seperti itu karena manusia lebih mulia, saya juga salut sama pak Aka ga lari": kata pak Dede.
"Kan ada pak Dede, aku jadi gak takut": kataku sambil tersenyum.
Tak lama adzan subuh terdengar pak Dede dan pak Bram pamit kembali ke pos dan aku masuk kerumah untuk mengambil wudhu.
Jujur baru kali ini aku mengalami hal seperti ini. Sosok wanita yang melayang ini jelas dilihat bukan hanya olehku. Dan biasanya aku menghadapi makhluk tak kasat mata dialam mereka, kini aku menghadapi makhluk ini dialam manusia.
Aku juga merasakan takut tapi kutekan ketakutanku karena kutau memang keinginan makhluk seperti itu. Agar manusia merasa takut.
"Awas pak hati hati biar saya didepan": kata satpam yang bernama Pak Dede.
Kulihat ia sedang merapal doa sambil maju selangkah kedepanku. Aku melepaskan kayu yang kubawa. Aku berjongkok mengambil segenggam tanah dipinggir jalan dan ku membaca doa lalu aku berdiri lagi.
Sosok makhluk itu makin mendekat. Rambut panjangnya tertiup angin hingga menampakkan wajahnya yang seperti busuk dan mata merah menyala dan seperti tak memiliki hidung, hanya lubang hidung wajahnya tak jelas hanya terlihat taring putih menyembul.
Ketika sudah dekat sekali dengan makhluk itu,pak Dede mengayunkan pentungan karetnya pada sosok itu. Anehnya pentungan itu seperti menembus bayangan saja. Sosok itu tembus melewati pak Dede. Kemudian melewati ku hanya satu meter dari depanku. Ketika sosok itu melewatiku bau tak enak tercium dan terasa dingin menerpa membuat bulu kuduk berdiri. Sosok itu tertawa melengking setelah beberapa jauh sosok itu berbalik arah dan mengarah kembali kearah kami. Aku membaca doa. Sosok itu kembali melayang kearah kami dibarengi teriakan Cumiakan telinga. Ketika sangat dekat ku lemparkan tanah ke arah sosok itu dan....
Sosok itu terpental jatuh dekat pak Dede. Dengan sigap pak Dede memukulkan pentungannya. Buggg.... Pukulan pentungan pak Dede mengenai makhluk itu disertai jerit melengking makhluk itu. Pak Dede meraih kain yang dikenakan sosok itu dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya yang memegang pentungan mengayun hendak memukul lagi.
Tapi sosok itu bangkit melayang menjauh sambil menjerit dan tiba tiba berubah jadi asap putih yang kemudian hilang tertiup angin. Aku menarik nafas lega. Pak Dede pun sama seperti ku, pak Dede melihat tangan kirinya yang tadi sempat memegang baju sosok itu. Kini ditangannya ada kain kafan kotor oleh tanah. Pak Dede melemparkan kain itu kebawah sambil bergidik.
"Pak Aka ga apa apa": kata Pak Dede.
"Gak apa apa": kataku. Sebenarnya aku merasa gak enak dipanggil pak oleh pak Dede yang umurnya jauh diatasku. Mungkin pak Dede memanggilku pak untuk menghormatiku.
"Pak Bram, ga apa apa": kataku teringat satpam yang satu lagi.
Kami menghampiri pak Bram yang ternyata pingsan.
"Waduh gimana nih Bram, nama aja bram kumis gede baru gitu aja pingsan": kata Pak Dede.
"Pak, kita pindahin aja keteras rumahku.": kataku.
"Iya pak": kata Pak Dede.
Aku dan pak Dede menggotong pak Bram dan membaringkannya di kursi panjang diterasku. Aku masuk kedalam rumah ternyata bibi belum tidur lagi. Ku meminta bibi mengambilkan minyak kayu putih. Bibi mengambilkannya,kemudian mengibas ngibaskan minyak kayu putih didekat hidung pak Bram. Tak lama pak Bram sadar, dan seperti ketakutan. Pak Dede menenangkan pak Bram. Bibi mengambilkan air putih dan pak Bram meminumnya, akhirnya pak Bram jadi tenang.
"Pak Aka selama saya jadi satpam, baru kali ini saya mengalami hal paling menakutkan seperti ini. Biasanya cuma bayangan sekilas, suara suara. Yang ini jelas sekali": kata Pak Dede.
"Tapi bapak hebat berani ngga lari": kataku.
"Dulu kata guru ngaji saya jangan takut sama makhluk seperti itu karena manusia lebih mulia, saya juga salut sama pak Aka ga lari": kata pak Dede.
"Kan ada pak Dede, aku jadi gak takut": kataku sambil tersenyum.
Tak lama adzan subuh terdengar pak Dede dan pak Bram pamit kembali ke pos dan aku masuk kerumah untuk mengambil wudhu.
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/12/02/9119792_201612020532230372.jpg)
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://dl.kaskus.id/i1109.photobucket.com/albums/h440/awtian/ob9bzx9x-1.gif)
A :
INDEX