- Beranda
- Stories from the Heart
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
...
TS
taucolama
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
Quote:
Quote:
Quote:
Spoiler for Prolog:
Quote:
Quote:
Yang suka mohon Rate,Komen, Share.Diubah oleh taucolama 28-02-2017 07:49
afrizal7209787 dan 47 lainnya memberi reputasi
42
1M
1.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
taucolama
#1583
Roda kehidupan part 5
Setelah 3 hari dirawat dirumah sakit Viona diperbolehkan pulang. Hari itu rumahku ramai sekali tetangga silih berganti menjenguk Viona dan putraku. Sampai malam masih banyak tamu yang menengok Deni,Indri, Intan,Erni,Joko,Irene dan karyawan cafe datang.
Sekitar jam sepuluh malam mereka pulang. Rumahku mulai sepi. Viona tidur di kamar bersama Anisa. Aku dan bibi beres beres gelas dan piring. Pukul 11 malam sudah beres bibi dan ibu mulai memasuki kamar masing masing. Aku masih duduk melepas lelah sambil menonton tv.
Sekitar tengah malam aku mendengar tangis bayi aku menengok putraku menangis dan sedang diganti popoknya dan kemudian tak lama keduanya tertidur kembali. Aku kembali duduk didepan tv. Tak lama terdengar suara tangis. Kupikir putraku menangis tapi setelah kudengar secara seksama tangis ini suara perempuan. Kudengarkan seksama tapi ini bukan suara Viona,bukan suara ibu atau bibi. Kurasa bulu kudukku mulai merinding, aku mulai merasa ada yang janggal suara tangis itu seperti menjauh kemudian mendekat. Aku mulai membaca doa.
Aku masuk kamar aku khawatir akan keadaan istri dan anak anakku. Aku terus membaca doa tapi suara tangis itu tak mau hilang. Terus seperti itu suata tangis itu kadang seperti jauh kadang seperti dekat kadang seperti berputar diatas rumahku.
Aku sempat kaget ketika pintu kamarku terbuka. Ternyata ibu membuka pintu melihat kedalam kamar. Ibu ternyata terbangun karena mendengar suara tangisan perempuan. Ibu kira viona yang menangis. Aku meminta ibu tidur dikamar menemani Viona. Ibu menyetujuinya, Ibu tidur disebelah Anisa.
Aku mencari senter, setelah menemukan senter aku melihat dari jendela kearah keluar. Tidak ada apa apa. Terdengar suara pintu kamar terbuka kulihat bibi terbangun. Bibi terbangun mendengar suara tangisan.
"Den, koq ada suara yang nangis apa Viona ga apa apa?": tanya bibi.
"Bukan Viona yang nangis tapi suaranya dari luar": kataku.
"Duh siapa yang nangis ya malam malam gini bibi jadi takut": kata bibi.
"Saya juga ga tau bi, aku keluar mau cek bibi tunggu disini ya": kataku.
"Iya den": kata bibi.
Aku membuka kunci pintu depan dan keluar. Diteras aku mengambil sebilah kayu. Lalu aku menyorotkan senter yg kupegang mencari cari siapa yang nangis. Dari jauh kulihat dua orang satpam komplek sedang keliling patroli berjalan kaki.
"Pak Aka ada apa malam malam diluar sendirian": kata Dede salah seorang satpam.
"Aku mendengar suara perempuan menangis pak": kataku.
"Masa sih pak": kata Bram satpam yang lain.
"Coba dengerin": kataku.
Kami bertiga mendengarkan dengan seksama. Ya terdengar suara tangis itu lagi.
"Kayanya dari arah sana deh pak": kata Dede.
"Iya ayo kita kesana": kataku.
Kami bertiga menuju kearah suara itu. Kami mencari cari sumber suara itu. Itu sepertinya sumber suaranya. Aku mengarahkan sinar senterku ke sumber suara itu.
Astaga ternyata yang menangis itu sosok wanita berambut panjang, bertaring dan bepakaian lusuh penuh tanah dan melayang sekitar setengah meter dari tanah. Melayang layang sambil menangis, matanya memancarkab sinar kehijauan. Kini sosok itu melihat kearah kami dan seperti marah. Matanya menjadi merah membara mukanya tak jelas seperti belepotan tanah hanya taringnya yang jelas terlihat. Sosok itu melayang mendekati kami kulihat Bram jatuh terduduk lemas, Dede wajahnya terlihat tegang dan memegang erat pentungan yang dibawanya.
Setelah 3 hari dirawat dirumah sakit Viona diperbolehkan pulang. Hari itu rumahku ramai sekali tetangga silih berganti menjenguk Viona dan putraku. Sampai malam masih banyak tamu yang menengok Deni,Indri, Intan,Erni,Joko,Irene dan karyawan cafe datang.
Sekitar jam sepuluh malam mereka pulang. Rumahku mulai sepi. Viona tidur di kamar bersama Anisa. Aku dan bibi beres beres gelas dan piring. Pukul 11 malam sudah beres bibi dan ibu mulai memasuki kamar masing masing. Aku masih duduk melepas lelah sambil menonton tv.
Sekitar tengah malam aku mendengar tangis bayi aku menengok putraku menangis dan sedang diganti popoknya dan kemudian tak lama keduanya tertidur kembali. Aku kembali duduk didepan tv. Tak lama terdengar suara tangis. Kupikir putraku menangis tapi setelah kudengar secara seksama tangis ini suara perempuan. Kudengarkan seksama tapi ini bukan suara Viona,bukan suara ibu atau bibi. Kurasa bulu kudukku mulai merinding, aku mulai merasa ada yang janggal suara tangis itu seperti menjauh kemudian mendekat. Aku mulai membaca doa.
Aku masuk kamar aku khawatir akan keadaan istri dan anak anakku. Aku terus membaca doa tapi suara tangis itu tak mau hilang. Terus seperti itu suata tangis itu kadang seperti jauh kadang seperti dekat kadang seperti berputar diatas rumahku.
Aku sempat kaget ketika pintu kamarku terbuka. Ternyata ibu membuka pintu melihat kedalam kamar. Ibu ternyata terbangun karena mendengar suara tangisan perempuan. Ibu kira viona yang menangis. Aku meminta ibu tidur dikamar menemani Viona. Ibu menyetujuinya, Ibu tidur disebelah Anisa.
Aku mencari senter, setelah menemukan senter aku melihat dari jendela kearah keluar. Tidak ada apa apa. Terdengar suara pintu kamar terbuka kulihat bibi terbangun. Bibi terbangun mendengar suara tangisan.
"Den, koq ada suara yang nangis apa Viona ga apa apa?": tanya bibi.
"Bukan Viona yang nangis tapi suaranya dari luar": kataku.
"Duh siapa yang nangis ya malam malam gini bibi jadi takut": kata bibi.
"Saya juga ga tau bi, aku keluar mau cek bibi tunggu disini ya": kataku.
"Iya den": kata bibi.
Aku membuka kunci pintu depan dan keluar. Diteras aku mengambil sebilah kayu. Lalu aku menyorotkan senter yg kupegang mencari cari siapa yang nangis. Dari jauh kulihat dua orang satpam komplek sedang keliling patroli berjalan kaki.
"Pak Aka ada apa malam malam diluar sendirian": kata Dede salah seorang satpam.
"Aku mendengar suara perempuan menangis pak": kataku.
"Masa sih pak": kata Bram satpam yang lain.
"Coba dengerin": kataku.
Kami bertiga mendengarkan dengan seksama. Ya terdengar suara tangis itu lagi.
"Kayanya dari arah sana deh pak": kata Dede.
"Iya ayo kita kesana": kataku.
Kami bertiga menuju kearah suara itu. Kami mencari cari sumber suara itu. Itu sepertinya sumber suaranya. Aku mengarahkan sinar senterku ke sumber suara itu.
Astaga ternyata yang menangis itu sosok wanita berambut panjang, bertaring dan bepakaian lusuh penuh tanah dan melayang sekitar setengah meter dari tanah. Melayang layang sambil menangis, matanya memancarkab sinar kehijauan. Kini sosok itu melihat kearah kami dan seperti marah. Matanya menjadi merah membara mukanya tak jelas seperti belepotan tanah hanya taringnya yang jelas terlihat. Sosok itu melayang mendekati kami kulihat Bram jatuh terduduk lemas, Dede wajahnya terlihat tegang dan memegang erat pentungan yang dibawanya.
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/12/02/9119792_201612020532230372.jpg)
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://dl.kaskus.id/i1109.photobucket.com/albums/h440/awtian/ob9bzx9x-1.gif)
A :
INDEX