- Beranda
- Stories from the Heart
Cahaya Ratih (18+/Thriller Genre)
...
TS
paycho.author
Cahaya Ratih (18+/Thriller Genre)
Quote:
GanSis, ane mau ngesharecerita ane berikutnya. Ini cerita udah ane bikin 4 tahun yang lalu tapi baru ane sharesekarang.
BTW, ini cerita genre thriller, crime, and romance.
Jangan lupa komennya, yah GanSis
Ini cerita ane yang sebelumnya. Full Romance dan lumayan bikin

Tapi 18+ juga
Kunjungin GanSis
BTW, ini cerita genre thriller, crime, and romance.
Jangan lupa komennya, yah GanSis

Ini cerita ane yang sebelumnya. Full Romance dan lumayan bikin


Tapi 18+ juga

Kunjungin GanSis
Quote:
DAFTAR ISI
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
CHARACTER'S BIO: NARA
PART 33
PART 34
CHARACTER'S BIO: RATIH
PART 35
CHARACTER'S BIO: DR. OKTA
PART 36
CHARACTER'S BIO: DR. Gladys
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
EPILOGUE
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
CHARACTER'S BIO: NARA
PART 33
PART 34
CHARACTER'S BIO: RATIH
PART 35
CHARACTER'S BIO: DR. OKTA
PART 36
CHARACTER'S BIO: DR. Gladys
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
EPILOGUE
Quote:
20rb 
Makasih yahhhhh.......moga2 bisa nyampe 100rb one day......

Makasih yahhhhh.......moga2 bisa nyampe 100rb one day......
Diubah oleh paycho.author 13-05-2017 07:23
junti27 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
104.9K
Kutip
683
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
paycho.author
#65
PART 11
Quote:
Harapan Nara cuma satu, baca gratis di toko buku langganannnya. Uang jajannya habis gara-gara beli buku kemarin, baca gratis solusinya kalau begini. Dan sekarang, kalau ke toko buku, harapan Nara cuma satu, mudah-mudahan ketemu lagi dengan Ratih.
Dan ternyata doanya dijawab oleh Aphrodite yang membawa Ratih ke tempat yang sama hari ini dengan yang ia kunjungi. Di balik rak buku-buku literatur klasik, Ratih seperti biasa terlihat cutedan elegan dengan pakaian-pakaian yang indah. Dulu pasti Ratih sering bikin teman-temannya iri karena bajunya lucu-lucu, hari ini Ratih menggunakan dress berwarna krem dengan pola bunga mawar.
Matanya yang cerah bersinar-sinar ketika melihat Nara, pasti menyakitkan untuk lehernya ketika harus melihat ke atas terus-menerus. Ratih sepertinya bukan tipe perempuan yang mempermasalahkan tinggi badannya, malah ia memanfaatkan betul perawakannya yang kecil untuk terlihat seperti boneka. Entah kenapa ia menikmati menjadi boneka, tapi yang pasti, ia adalah boneka yang hidup, yang selalu memandang Nara dengan mata penuh rasa penasaran dan sesekali memiringkan kepalanya.
“Lagi cari buku?”
“Oh tidak. Hanya sedang ingin kemari. Kamu sendiri sedang cari buku apa?” seperti biasa, Ratih bicara dengan bahasa super baku dan kaku. Rasanya kayak bicara dengan kamus.
“Mmm…..sebenarnya…..”
Nara menjelaskan apa yang ia cari dan apa yang menjadi masalahnya sementara Ratih mendengarkan dengan seksama. Sama seperti Nara, Ratih langsung berpikir mengenai herbal, tapi setelah dijelaskan kalau tidak ada yang seperti itu di rumahnya, Ratih kembali menopang dagunya dan berpikir.
“Apa ia pernah berkunjung ke Amerika Selatan atau Afrika?”
“Kayaknya sih..”
“Kalau begitu…..aku sarankan untuk memeriksa tekonya.”
“Teko?”
“Teko, cangkir, teapot, mug apapun yang digunakan olehnya untuk minum teh. Kalau ada sisa teh, itu yang kamu cari.”
“Mmm…..aku juga enggak tahu apa yang aku cari sebenarnya…..”
“Ya....”
Rasa bercampur antara terimakasih, lega dan kagum diberikan pada Nara untuk Ratih yang memandanganya dengan bingung, meski lama-lama ia tertawa melihat ekspresi Nara.
“Ratih?”
“Ya?”
“Aku…..boleh numpang baca lagi?”
“Oh tentu. Hati-hati ketiduran lagi tapi yah.”
Kali ini Nara berniat untuk mengingat jalannya sendiri sehingga ia bisa ke rumah Ratih tanpa harus menunggunya di toko buku, satu-satunya tempat dimana ia bisa bertemu dengan Ratih. Tentu sebagai orang modern, ketika berkenalan dengan orang baru yang ditanyakan adalah nomor kontaknya. Tapi pada kasus Ratih agak sedikit berbeda, ia tidak memegang gadget apapun dan tidak menggunakan media sosial apapun dengan alasan ia tidak kenal banyak orang sehingga tidak butuh gadget atau media sosial.
Memang benar pikiran Nara sebelumnya, gadis ini terlalu dramatis, manusia macam apa yang bisa hidup tanpa gadget di kehidupan modern saat ini?
“Kalau kamu mau membaca di luar boleh, kok. Jam segini biasanya aku juga lebih memilih baca di luar. Ini tea time. Ohya, kalau kamu mau membaca tentang entheogen, sebaiknya baca ini…..”
Ratih menggeser sebuah bangku dan naik ke atasnya untuk mengambil buku dari rak yang paling atas. Buku ini sepertinya bukan buku lama karena terlihat masih bersih. Dan memang bukan buku lama karena baru keluar di tahun 90an, mengenai penelitian etnobiologi di Peru serta ada sebuah majalah yang membahas mengenai ayahuasca. Ada beberapa jurnal dan buku yang juga diberikan Ratih mengenai tanaman psychedelic. Setelah mencarikan buku untuk Nara, Ratih meminta agar Nara menunggunya di halaman sementara ia mengambil teh dan kukis yang ia buat sendiri. Ratih juga membawa sebuah buku gambar dan tempat pensil yang berisi pensil dengan bermacam-macam ketebalan, penghapus, pengserut, dan berbagai macam alat-alat menggambar lainnya.
Sementara Nara menikmati bukunya, Ratih mulai membuat goresan di atas kertas gambarnya dengan pensil HB. Sesekali matanya pindah untuk melihat Nara, kemudian pindah lagi ke buku gambarnya. Setelah menggambar dasarnya, Ratih menggunakan pensil 4B dan 6B untuk menggambar detilnya, sambil sesekali menghapus bagian yang ia anggap kurang sempurna. Lama-lama Nara penasaran pada apa yang sedang digambar oleh Ratih, apalagi sekali-kali matanya mengawasi Nara sebelum akhirnya kembali ke gambarannya.
“Gambar apa, sih?”
Ratih hanya tersenyum dan tidak menjawab, tangannya terus menari-nari di atas kertas, membimbing pensilnya untuk menciptakan sebuah karya seni. Meski sudah mencoba untuk mengintip, ternyata tidak mudah juga karena Ratih menutupi bagian yang tidak sedang ia kerjakan dengan tisu untuk mencegah gambarnya berantakan karena terkena tangannya atau terkena pensil. Akhirnya Nara tidak mencoba-coba lagi dan kembali ke bukunya sambil sesekali mengambil gambar dari bagian-bagian buku yang dibacanya yang ia anggap penting.
Sebelum Nara menyelesaikan bukunya, Ratih sudah membereskan peralatan gambarnya. Tangannya yang putih menghitam terkena pensil, sedikit nodanya mengotori pakaiannya.
“Sudah selesai gambarnya?” Ratih mengangguk. “Boleh lihat?” ia tidak mengizinkan Nara memegang buku gambarnya namun ia memperlihatkan gambar yang baru saja ia selesaikan. “Itu gue?”
Nara ingin tertawa melihat dirinya dalam gambar Ratih, ia tidak pernah digambar oleh siapapun sebelumnya dan tidak menyangka ia terlihat begitu anggun dalam gambar itu. Pikiran narsistik tidak bisa dihindari oleh Nara yang sepertinya menikmati sekali memandangi gambar dirinya yang sedang membaca serius dengan kaki yang diangkat satu dan tangan yang memangku kepalanya, terlihat seperti seorang ‘sir’, hanya saja ia memakai kaos dan celana jins. Ratih menggambar rambut Nara dengan luar biasa, setiap ikalnya tergambar dengan detil, bahkan ia menggambar facial hairnya, gambar itu mengingatkan kalau Nara harus bercukur nanti di rumah.
“Aku paling suka matamu. Itu bagian paling indah dari wajahmu.” Wajah Ratih tidak menunjukan seperti ia sedang menggoda dan kesungguhan terdengar dari suaranya ketika memuji, apalagi kemudian Ratih menatap langsung pada mata Nara, warna mata Ratih yang lembut dan berwarna kekuningan bertemu dengan mata Nara yang cokelat gelap hampir hitam dan tajam. “Hanya sedikit aneh, karena wajah Nara itu lembut sekali. Bukan seperti kebanyakan pria.”
“Gambarmu keren banget, yah. Sudah lama belajar menggambar?”
“Baru-baru, kok. Dulu malah aku tidak bisa gambar. Tiba-tiba saja ingin belajar gambar, dan sekarang hasilnya begini.”
“Mau lihat gambar yang lain, boleh?”
“Ada, sih…..tapi nanti saja aku kasih lihat. Soalnya…..tidak enak menunjukan gambarku pada laki-laki.” Ratih mengakhirnya dengan terkikik kecil.
Memangnya apa yang ia gambar? Perempuan telanjang? Ratih kayaknya bukan tipe ermepuan yang suka gambar seperti itu. Tapi yah mana tahu. Bisa juga dia gambar untuk latihan anatomi.
“Ratih…..tinggal di sini sendiri?” inilah pertama kalinya Nara membicarakan kehidupan pribadi Ratih, dan ia ingin memanfaatkan kesempatan ini dengan menggali informasi sebanyak-banyaknya dari gadis misterius ini.
“Iya…..sekarang ini aku tinggal sendiri saja di sini.”
“Orangtua Ratih dimana? Maaf…..”
“Orangtuaku sudah lama tidak ada. Saat ini aku tinggal sendiri saja. Ada sih kerabat. Tapi aku lebih senang tinggal di sini sendiri.”
“Maaf, yah Ratih. Jadi nanya hal pribadi.” Ratih tersenyum, nampaknya ia tidak keberatan dengan pertanyaan Nara meski kepalanya menjadi lebih tertunduk sekarang.
“Kalau Nara sendiri? Nara pekerjaannya apa?”
“Polisi.”
“Polisi yang macam apa?”
“Polisi penyidik di bagian kriminal umum.”
“Seperti detektif begitu, yah?”
“Semacam itulah.”
“Lalu Nara masih…..tinggal dengan orangtua? Atau sudah berkeluarga?”
“Memangnya aku terlihat seperti sudah jadi suami orang, yah?” suara tawa yang lebih kencang terdengar bersamaan dengan sebuah gelengan kepala. “Aku tinggal sama ibu berdua. Belum berkeluarga, kok.”
“Pacar juga tidak punya?”
“Enggak.”
Biar kelihatannya kalem dan pendiam, rupanya ia to the point juga, tidak ragu menanyakan masalah pribadi, bahkan kalau pembicaraan diteruskan, pertanyaan Ratih semakin ajaib dan ia terlihat enteng saya menanyakannya.
“Aku pikir orang seperti Nara itu pasti pacarnya banyak. Nara kan tampan, seharusnya banyak perempuan yang mau denganmu. Memangnya belum ada yang cocok? Atau Nara tidak suka perempuan?”
Kurang ajar juga ini bocah.
Nara tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan ini. Mana yang benar, menjawab pertanyaan atau mengklarifikasi pernyataan? Jarang ada yang kepo masalah cinta Nara, kayaknya mereka segan, bahkan Okta tidak pernah bertanya tentang cinta. Sekalinya ada yang bertanya malah seorang yang baru ia temui dan caranya menanyakan hal itu juga sangat enteng, seperti tidak ada yang salah dengan pertanyaanya.
“Aku suka perempuan, kok. Hanya sekarang aku masih sibuk dengan pekerjaan dan harus mengurus ibu di rumah. Jadi enggak sempet pacaran. Terakhir pacaran aja pas kuliah. Enggak pernah lagi, deh.”
“Oh…..hanya dengan ibu…..Nara tidak punya ayah?”
Ratih benar-benar tidak berpikir dua kali ketika bertanya. Meski Nara sudah biasa dengan pertanyaan seperti ini, normalnya orang ketika bertanya mengenai ayah Nara akan berbicara dengan perlahan-lahan, penuh kesopanan yang berpura-pura karena khawatir Nara akan tersinggung ketika mereka bertanya mengenai ayahnya. Kalau mereka memang tidak ingin menyinggung Nara, seharusnya mereka tidak bertanya sama sekali. Pertanyaan Ratih sangat mengganggu Nara karena caranya bertanya yang begitu enteng dan dingin. Tapi mau marah pun Nara kalah oleh mata Ratih yang membulat dan menatapnya dengan polos dan penuh rasa ingin tahu.
“Aku anak tanpa ayah. Tidak perlu dibahas. Mau dibahas juga aku tidak tahu ayahku dimana. Siapa ayahku aja enggak pernah tahu.”
Ratih memiringkan kepalanya sambil mengangguk, tidak ada laga ia akan meneruskan pertanyaanya yang kontroversial itu. Mungkin sebaiknya ia lari sebelum Ratih memperpanjang pertanyaannya.
“Oh sudah mau pulang, yah? Sebentar.” Sebuah kantung kain berisi kukis diberikan kepada Nara sebagai oleh-oleh dengan pesan agar Nara membagi kukis itu dengan ibunya.
Nara sempat bepikir mungkin sebaiknya dia sendiri yang makan kukisnya. Bukan karena kukis itu enak banget, rasanya normal saja apalagi kalau dibandingkan dengan buatan neneknya yang jago masak, tapi karena kukis itu pemberian dari Ratih.
Nara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kencang ketika ia memikirkan Ratih.
Apakah ia menyukainya? Ia tidak menyangkal kalau ia suka melihat gaya Ratih yang kekanakan-kanakan, meski sedikit beresiko karena sampai sekarang Nara tidak tahu apakah Ratih itu kekanak-kanakan atau memang masih bocah. Tapi untuk menyukainya secara hati? Entahlah, sepertinya masih terlalu cepat. Lagipula berteman dengan Ratih berarti Nara harus memperkuat jantungnya, pertanyaannya seringkali tidak berperasaan dan membuatnya terganggu.
“Bu……Ibu……”
Nara melompat ke sofa tempat ibunya sedang duduk sambil menonton TV, kemudian ia menyandarkan kepalanya ke bahu ibunya.
“Ganti baju dulu, sana. Cuci muka dan tangan……”
“Nanti saja.” Nara mengeluarkan bingkisan kain yang ia terima tadi dan menyerahkan pada ibunya.
“Apa ini?”
“Kue…..”
“Dari siapa?”
“Teman.”
Ibunya membuka bingkisan kain itu dan memakan isinya tanpa banyak berkomentar. Aneh, bukan Nara yang membuat kukis itu, namun mengapa sepertinya ia yang gugup, takut ibunya tidak menyukai kukis itu?
“Ibu suka?”
“Suka, kok. Teman kamu yang buat?” Nara mengangguk. “Teman biasa? Atau……teman yang lain?”
“Ah ibu…..” Nara merasakan pipinya memanas.
Baru pertama kali Nara terbuka pada ibunya mengenai kehidupan pribadinya. Ia tidak dekat dengan ibunya karena memang masa kecilnya tidak banyak dihabiskan berdua.
Ketika Nara lahir, nenek dan kakeknya meminta agar Nara dirawat oleh mereka, sementara ibunya tetap di Amerika Serikat dengan alasan untuk bekerja. Tiga tahun setelahnya, ibunya kembali, namun ia sama sekali tidak tertarik untuk mengurus Nara. Entah apa yang ia lakukan selama itu sampai akhirnya Ibu Nara insyaf dan ingin ia kembali.
Tidak mudah memang jalan yang harus ia tempuh untuk mendapatkan Nara kembali, selain karena ia harus bekerja dan mengumpulkan uang untuk hidup, mengambil hati Nara yang merasa tidak ada keterikatan dengan ibunya juga sulit. Berkali-kali ibunya meminta Nara kembali, berkali-kali pula Nara menolak dan memilih untuk tinggal bersama dengan nenek-kakeknya meski kehidupan Nara tidak begitu nyaman.
Nara selalu dianggap pembawa sial oleh keluarga ibunya. Ibunya adalah anak termuda dari lima bersaudara, kakak pertama dan keempat laki-laki, sisanya perempuan. Ketika Nara tinggal di rumah neneknya, ia sudah punya sembilan orang sepupu yang semuanya tinggal tidak jauh dari rumah kakek dan nenek mereka dan secara teratur berkunjung. Awal-awalnya mereka dilarang oleh orangtua mereka untuk bermain dengan Nara, nenek dan kakeknya pun tidak berusaha untuk membuat sepupu-sepupu Nara untuk akrab dengannya. Tapi namanya anak-anak, belum bisa dinodai oleh kebencian orangtuanya. Nara punya kemampuan khusus untuk mengambil hati siapapun yang membencinya, dengan kelakuannya yang lembut, kelakarnya yang ajaib, kecerdasannya, dan ia memiliki wajah yang rupawan sehingga tidak ada yang tega untuk menjahatinya terus menerus meski ia dianggap pembawa sial.
Baru ketika ia masuk SMP, Nara mulai mau diajak keluar oleh ibunya sampai akhirnya ia pindah ketika SMA. Untuk menghidupi Nara, ibunya sempat bekerja sebagai model dan memang ia memiliki pekerjaan sampingan, tidak butuh waktu lama bagi Nara untuk mengetahui apa pekerjaan sampingan ibunya. Tapi memang ketika muda dulu ibunya sangat cantik, bahkan sekarang pun masih sangat cantik meski usia memang tidak bisa dilawan terutama oleh mereka yang menolak kulitnya disuntik berbagai macam obat-obatan. Kecantikan ibunya itulah yang menurun pada Nara, garis dagu dan rahangnya yang lembut dan rambutnya yang ikal.
“Siapa memang namanya?”
“Namanya? Dewi Ratih…..”
“Nama seorang dewi rembulan……”
Ya, nama Ratih memang nama seorang Dewi Rembulan. Nama yang sama dengan Diana, Selena, Luna, Phoebe, Chia, dan Hecate. Dan nama yang tepat untuk disandang oleh Ratih yang selalu terlihat cerah seperti rembulan, namun memiliki sisi gelapnya yang penuh misteri.
“Sudah seserius apa kalian berdua?”
“Belum sampai mana-mana. Sebenarnya tidak ada dimana-mana juga.”
Memang begitu adanya hubungan mereka berdua sekarang, Nara bahkan tidak yakin kalau Ratih sudah mempercayainya sebagai seorang teman. Entahlah mungkin hubungan mereka hanya seperti pustakawan dan pengunjung perpustakaan yang mencari buku? Yang pasti tidak ada pustakawan yang membuat Nara terjaga di malam hari karena memikirkannya terus.
Dan ternyata doanya dijawab oleh Aphrodite yang membawa Ratih ke tempat yang sama hari ini dengan yang ia kunjungi. Di balik rak buku-buku literatur klasik, Ratih seperti biasa terlihat cutedan elegan dengan pakaian-pakaian yang indah. Dulu pasti Ratih sering bikin teman-temannya iri karena bajunya lucu-lucu, hari ini Ratih menggunakan dress berwarna krem dengan pola bunga mawar.
Matanya yang cerah bersinar-sinar ketika melihat Nara, pasti menyakitkan untuk lehernya ketika harus melihat ke atas terus-menerus. Ratih sepertinya bukan tipe perempuan yang mempermasalahkan tinggi badannya, malah ia memanfaatkan betul perawakannya yang kecil untuk terlihat seperti boneka. Entah kenapa ia menikmati menjadi boneka, tapi yang pasti, ia adalah boneka yang hidup, yang selalu memandang Nara dengan mata penuh rasa penasaran dan sesekali memiringkan kepalanya.
“Lagi cari buku?”
“Oh tidak. Hanya sedang ingin kemari. Kamu sendiri sedang cari buku apa?” seperti biasa, Ratih bicara dengan bahasa super baku dan kaku. Rasanya kayak bicara dengan kamus.
“Mmm…..sebenarnya…..”
Nara menjelaskan apa yang ia cari dan apa yang menjadi masalahnya sementara Ratih mendengarkan dengan seksama. Sama seperti Nara, Ratih langsung berpikir mengenai herbal, tapi setelah dijelaskan kalau tidak ada yang seperti itu di rumahnya, Ratih kembali menopang dagunya dan berpikir.
“Apa ia pernah berkunjung ke Amerika Selatan atau Afrika?”
“Kayaknya sih..”
“Kalau begitu…..aku sarankan untuk memeriksa tekonya.”
“Teko?”
“Teko, cangkir, teapot, mug apapun yang digunakan olehnya untuk minum teh. Kalau ada sisa teh, itu yang kamu cari.”
“Mmm…..aku juga enggak tahu apa yang aku cari sebenarnya…..”
Quote:
“Salah satu cara untuk mengkonsumi entheogenpada masyarakat lokal adalah dengan merebus dan menikmatinya seperti teh atau kopi. Merokok, menghisapnya akan menimbulkan kecurigaan, tapi meminumnya mungkin tidak. Kalau begini, bisa saja ia diberikan oleh seseorang tanpa curiga, atau bisa jadi ia meminum dengan kemauannya sendiri. Misalnya diberikan oleh orang dan mengatakan itu jamu. dan biasanya ada MAOI yang digunakan untuk mengaktifkan kimia di dalamnya. MAOInya pasti bisa kamu cari sendiri. Obat anti-depresant misalnya”
“Ya....”
Rasa bercampur antara terimakasih, lega dan kagum diberikan pada Nara untuk Ratih yang memandanganya dengan bingung, meski lama-lama ia tertawa melihat ekspresi Nara.
“Ratih?”
“Ya?”
“Aku…..boleh numpang baca lagi?”
“Oh tentu. Hati-hati ketiduran lagi tapi yah.”
Kali ini Nara berniat untuk mengingat jalannya sendiri sehingga ia bisa ke rumah Ratih tanpa harus menunggunya di toko buku, satu-satunya tempat dimana ia bisa bertemu dengan Ratih. Tentu sebagai orang modern, ketika berkenalan dengan orang baru yang ditanyakan adalah nomor kontaknya. Tapi pada kasus Ratih agak sedikit berbeda, ia tidak memegang gadget apapun dan tidak menggunakan media sosial apapun dengan alasan ia tidak kenal banyak orang sehingga tidak butuh gadget atau media sosial.
Memang benar pikiran Nara sebelumnya, gadis ini terlalu dramatis, manusia macam apa yang bisa hidup tanpa gadget di kehidupan modern saat ini?
“Kalau kamu mau membaca di luar boleh, kok. Jam segini biasanya aku juga lebih memilih baca di luar. Ini tea time. Ohya, kalau kamu mau membaca tentang entheogen, sebaiknya baca ini…..”
Ratih menggeser sebuah bangku dan naik ke atasnya untuk mengambil buku dari rak yang paling atas. Buku ini sepertinya bukan buku lama karena terlihat masih bersih. Dan memang bukan buku lama karena baru keluar di tahun 90an, mengenai penelitian etnobiologi di Peru serta ada sebuah majalah yang membahas mengenai ayahuasca. Ada beberapa jurnal dan buku yang juga diberikan Ratih mengenai tanaman psychedelic. Setelah mencarikan buku untuk Nara, Ratih meminta agar Nara menunggunya di halaman sementara ia mengambil teh dan kukis yang ia buat sendiri. Ratih juga membawa sebuah buku gambar dan tempat pensil yang berisi pensil dengan bermacam-macam ketebalan, penghapus, pengserut, dan berbagai macam alat-alat menggambar lainnya.
Sementara Nara menikmati bukunya, Ratih mulai membuat goresan di atas kertas gambarnya dengan pensil HB. Sesekali matanya pindah untuk melihat Nara, kemudian pindah lagi ke buku gambarnya. Setelah menggambar dasarnya, Ratih menggunakan pensil 4B dan 6B untuk menggambar detilnya, sambil sesekali menghapus bagian yang ia anggap kurang sempurna. Lama-lama Nara penasaran pada apa yang sedang digambar oleh Ratih, apalagi sekali-kali matanya mengawasi Nara sebelum akhirnya kembali ke gambarannya.
“Gambar apa, sih?”
Ratih hanya tersenyum dan tidak menjawab, tangannya terus menari-nari di atas kertas, membimbing pensilnya untuk menciptakan sebuah karya seni. Meski sudah mencoba untuk mengintip, ternyata tidak mudah juga karena Ratih menutupi bagian yang tidak sedang ia kerjakan dengan tisu untuk mencegah gambarnya berantakan karena terkena tangannya atau terkena pensil. Akhirnya Nara tidak mencoba-coba lagi dan kembali ke bukunya sambil sesekali mengambil gambar dari bagian-bagian buku yang dibacanya yang ia anggap penting.
Sebelum Nara menyelesaikan bukunya, Ratih sudah membereskan peralatan gambarnya. Tangannya yang putih menghitam terkena pensil, sedikit nodanya mengotori pakaiannya.
“Sudah selesai gambarnya?” Ratih mengangguk. “Boleh lihat?” ia tidak mengizinkan Nara memegang buku gambarnya namun ia memperlihatkan gambar yang baru saja ia selesaikan. “Itu gue?”
Nara ingin tertawa melihat dirinya dalam gambar Ratih, ia tidak pernah digambar oleh siapapun sebelumnya dan tidak menyangka ia terlihat begitu anggun dalam gambar itu. Pikiran narsistik tidak bisa dihindari oleh Nara yang sepertinya menikmati sekali memandangi gambar dirinya yang sedang membaca serius dengan kaki yang diangkat satu dan tangan yang memangku kepalanya, terlihat seperti seorang ‘sir’, hanya saja ia memakai kaos dan celana jins. Ratih menggambar rambut Nara dengan luar biasa, setiap ikalnya tergambar dengan detil, bahkan ia menggambar facial hairnya, gambar itu mengingatkan kalau Nara harus bercukur nanti di rumah.
“Aku paling suka matamu. Itu bagian paling indah dari wajahmu.” Wajah Ratih tidak menunjukan seperti ia sedang menggoda dan kesungguhan terdengar dari suaranya ketika memuji, apalagi kemudian Ratih menatap langsung pada mata Nara, warna mata Ratih yang lembut dan berwarna kekuningan bertemu dengan mata Nara yang cokelat gelap hampir hitam dan tajam. “Hanya sedikit aneh, karena wajah Nara itu lembut sekali. Bukan seperti kebanyakan pria.”
“Gambarmu keren banget, yah. Sudah lama belajar menggambar?”
“Baru-baru, kok. Dulu malah aku tidak bisa gambar. Tiba-tiba saja ingin belajar gambar, dan sekarang hasilnya begini.”
“Mau lihat gambar yang lain, boleh?”
“Ada, sih…..tapi nanti saja aku kasih lihat. Soalnya…..tidak enak menunjukan gambarku pada laki-laki.” Ratih mengakhirnya dengan terkikik kecil.
Memangnya apa yang ia gambar? Perempuan telanjang? Ratih kayaknya bukan tipe ermepuan yang suka gambar seperti itu. Tapi yah mana tahu. Bisa juga dia gambar untuk latihan anatomi.
“Ratih…..tinggal di sini sendiri?” inilah pertama kalinya Nara membicarakan kehidupan pribadi Ratih, dan ia ingin memanfaatkan kesempatan ini dengan menggali informasi sebanyak-banyaknya dari gadis misterius ini.
“Iya…..sekarang ini aku tinggal sendiri saja di sini.”
“Orangtua Ratih dimana? Maaf…..”
“Orangtuaku sudah lama tidak ada. Saat ini aku tinggal sendiri saja. Ada sih kerabat. Tapi aku lebih senang tinggal di sini sendiri.”
“Maaf, yah Ratih. Jadi nanya hal pribadi.” Ratih tersenyum, nampaknya ia tidak keberatan dengan pertanyaan Nara meski kepalanya menjadi lebih tertunduk sekarang.
“Kalau Nara sendiri? Nara pekerjaannya apa?”
“Polisi.”
“Polisi yang macam apa?”
“Polisi penyidik di bagian kriminal umum.”
“Seperti detektif begitu, yah?”
“Semacam itulah.”
“Lalu Nara masih…..tinggal dengan orangtua? Atau sudah berkeluarga?”
“Memangnya aku terlihat seperti sudah jadi suami orang, yah?” suara tawa yang lebih kencang terdengar bersamaan dengan sebuah gelengan kepala. “Aku tinggal sama ibu berdua. Belum berkeluarga, kok.”
“Pacar juga tidak punya?”
“Enggak.”
Biar kelihatannya kalem dan pendiam, rupanya ia to the point juga, tidak ragu menanyakan masalah pribadi, bahkan kalau pembicaraan diteruskan, pertanyaan Ratih semakin ajaib dan ia terlihat enteng saya menanyakannya.
“Aku pikir orang seperti Nara itu pasti pacarnya banyak. Nara kan tampan, seharusnya banyak perempuan yang mau denganmu. Memangnya belum ada yang cocok? Atau Nara tidak suka perempuan?”
Kurang ajar juga ini bocah.
Nara tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan ini. Mana yang benar, menjawab pertanyaan atau mengklarifikasi pernyataan? Jarang ada yang kepo masalah cinta Nara, kayaknya mereka segan, bahkan Okta tidak pernah bertanya tentang cinta. Sekalinya ada yang bertanya malah seorang yang baru ia temui dan caranya menanyakan hal itu juga sangat enteng, seperti tidak ada yang salah dengan pertanyaanya.
“Aku suka perempuan, kok. Hanya sekarang aku masih sibuk dengan pekerjaan dan harus mengurus ibu di rumah. Jadi enggak sempet pacaran. Terakhir pacaran aja pas kuliah. Enggak pernah lagi, deh.”
“Oh…..hanya dengan ibu…..Nara tidak punya ayah?”
Ratih benar-benar tidak berpikir dua kali ketika bertanya. Meski Nara sudah biasa dengan pertanyaan seperti ini, normalnya orang ketika bertanya mengenai ayah Nara akan berbicara dengan perlahan-lahan, penuh kesopanan yang berpura-pura karena khawatir Nara akan tersinggung ketika mereka bertanya mengenai ayahnya. Kalau mereka memang tidak ingin menyinggung Nara, seharusnya mereka tidak bertanya sama sekali. Pertanyaan Ratih sangat mengganggu Nara karena caranya bertanya yang begitu enteng dan dingin. Tapi mau marah pun Nara kalah oleh mata Ratih yang membulat dan menatapnya dengan polos dan penuh rasa ingin tahu.
“Aku anak tanpa ayah. Tidak perlu dibahas. Mau dibahas juga aku tidak tahu ayahku dimana. Siapa ayahku aja enggak pernah tahu.”
Ratih memiringkan kepalanya sambil mengangguk, tidak ada laga ia akan meneruskan pertanyaanya yang kontroversial itu. Mungkin sebaiknya ia lari sebelum Ratih memperpanjang pertanyaannya.
“Oh sudah mau pulang, yah? Sebentar.” Sebuah kantung kain berisi kukis diberikan kepada Nara sebagai oleh-oleh dengan pesan agar Nara membagi kukis itu dengan ibunya.
Nara sempat bepikir mungkin sebaiknya dia sendiri yang makan kukisnya. Bukan karena kukis itu enak banget, rasanya normal saja apalagi kalau dibandingkan dengan buatan neneknya yang jago masak, tapi karena kukis itu pemberian dari Ratih.
Nara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kencang ketika ia memikirkan Ratih.
Apakah ia menyukainya? Ia tidak menyangkal kalau ia suka melihat gaya Ratih yang kekanakan-kanakan, meski sedikit beresiko karena sampai sekarang Nara tidak tahu apakah Ratih itu kekanak-kanakan atau memang masih bocah. Tapi untuk menyukainya secara hati? Entahlah, sepertinya masih terlalu cepat. Lagipula berteman dengan Ratih berarti Nara harus memperkuat jantungnya, pertanyaannya seringkali tidak berperasaan dan membuatnya terganggu.
“Bu……Ibu……”
Nara melompat ke sofa tempat ibunya sedang duduk sambil menonton TV, kemudian ia menyandarkan kepalanya ke bahu ibunya.
“Ganti baju dulu, sana. Cuci muka dan tangan……”
“Nanti saja.” Nara mengeluarkan bingkisan kain yang ia terima tadi dan menyerahkan pada ibunya.
“Apa ini?”
“Kue…..”
“Dari siapa?”
“Teman.”
Ibunya membuka bingkisan kain itu dan memakan isinya tanpa banyak berkomentar. Aneh, bukan Nara yang membuat kukis itu, namun mengapa sepertinya ia yang gugup, takut ibunya tidak menyukai kukis itu?
“Ibu suka?”
“Suka, kok. Teman kamu yang buat?” Nara mengangguk. “Teman biasa? Atau……teman yang lain?”
“Ah ibu…..” Nara merasakan pipinya memanas.
Baru pertama kali Nara terbuka pada ibunya mengenai kehidupan pribadinya. Ia tidak dekat dengan ibunya karena memang masa kecilnya tidak banyak dihabiskan berdua.
Ketika Nara lahir, nenek dan kakeknya meminta agar Nara dirawat oleh mereka, sementara ibunya tetap di Amerika Serikat dengan alasan untuk bekerja. Tiga tahun setelahnya, ibunya kembali, namun ia sama sekali tidak tertarik untuk mengurus Nara. Entah apa yang ia lakukan selama itu sampai akhirnya Ibu Nara insyaf dan ingin ia kembali.
Tidak mudah memang jalan yang harus ia tempuh untuk mendapatkan Nara kembali, selain karena ia harus bekerja dan mengumpulkan uang untuk hidup, mengambil hati Nara yang merasa tidak ada keterikatan dengan ibunya juga sulit. Berkali-kali ibunya meminta Nara kembali, berkali-kali pula Nara menolak dan memilih untuk tinggal bersama dengan nenek-kakeknya meski kehidupan Nara tidak begitu nyaman.
Nara selalu dianggap pembawa sial oleh keluarga ibunya. Ibunya adalah anak termuda dari lima bersaudara, kakak pertama dan keempat laki-laki, sisanya perempuan. Ketika Nara tinggal di rumah neneknya, ia sudah punya sembilan orang sepupu yang semuanya tinggal tidak jauh dari rumah kakek dan nenek mereka dan secara teratur berkunjung. Awal-awalnya mereka dilarang oleh orangtua mereka untuk bermain dengan Nara, nenek dan kakeknya pun tidak berusaha untuk membuat sepupu-sepupu Nara untuk akrab dengannya. Tapi namanya anak-anak, belum bisa dinodai oleh kebencian orangtuanya. Nara punya kemampuan khusus untuk mengambil hati siapapun yang membencinya, dengan kelakuannya yang lembut, kelakarnya yang ajaib, kecerdasannya, dan ia memiliki wajah yang rupawan sehingga tidak ada yang tega untuk menjahatinya terus menerus meski ia dianggap pembawa sial.
Baru ketika ia masuk SMP, Nara mulai mau diajak keluar oleh ibunya sampai akhirnya ia pindah ketika SMA. Untuk menghidupi Nara, ibunya sempat bekerja sebagai model dan memang ia memiliki pekerjaan sampingan, tidak butuh waktu lama bagi Nara untuk mengetahui apa pekerjaan sampingan ibunya. Tapi memang ketika muda dulu ibunya sangat cantik, bahkan sekarang pun masih sangat cantik meski usia memang tidak bisa dilawan terutama oleh mereka yang menolak kulitnya disuntik berbagai macam obat-obatan. Kecantikan ibunya itulah yang menurun pada Nara, garis dagu dan rahangnya yang lembut dan rambutnya yang ikal.
“Siapa memang namanya?”
“Namanya? Dewi Ratih…..”
“Nama seorang dewi rembulan……”
Ya, nama Ratih memang nama seorang Dewi Rembulan. Nama yang sama dengan Diana, Selena, Luna, Phoebe, Chia, dan Hecate. Dan nama yang tepat untuk disandang oleh Ratih yang selalu terlihat cerah seperti rembulan, namun memiliki sisi gelapnya yang penuh misteri.
“Sudah seserius apa kalian berdua?”
“Belum sampai mana-mana. Sebenarnya tidak ada dimana-mana juga.”
Memang begitu adanya hubungan mereka berdua sekarang, Nara bahkan tidak yakin kalau Ratih sudah mempercayainya sebagai seorang teman. Entahlah mungkin hubungan mereka hanya seperti pustakawan dan pengunjung perpustakaan yang mencari buku? Yang pasti tidak ada pustakawan yang membuat Nara terjaga di malam hari karena memikirkannya terus.
indrag057 dan mmuji1575 memberi reputasi
2
Kutip
Balas