- Beranda
- Stories from the Heart
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
...
TS
taucolama
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
Quote:
Quote:
Quote:
Spoiler for Prolog:
Quote:
Quote:
Yang suka mohon Rate,Komen, Share.Diubah oleh taucolama 28-02-2017 07:49
afrizal7209787 dan 47 lainnya memberi reputasi
42
1M
1.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
taucolama
#1569
Roda Kehidupan part 4
Aku masih kaget melihat pemandangan yang ganjil itu apalagi masih pagi hari. Belum lama tiba tiba bau kurang sedap tercium, tiba tiba ada sosok yang sudah tidak utuh muncul disisiku. Aku kaget sekali, tapi sepertinya sosok itu tak berniat jahat..sosok itu seperti berbicara tapi tak jelas seperti menggumam karena rahangnya seperti terlepas...
tolong istri mu..... Tolong istri mu..kata sosok itu lalu lenyap.. Aku masih terpaku hingga seseorang menyentuh bahuku. Seseorang bapak bapak yang sudah tua duduk disampingku.
"Sabar nak, jalani saja takdir yg telah terjadi. Tenangkan pikiranmu nanti kamu melihat jelas": kata bapak itu. Tak lama bapak itu berdiri pergi. Aku bingung siapa bapak itu. Aku mencoba saran bapak itu, aku memejamkan mata menenangkan pikiran. Kuambil nafas dalam dalam. Rasaku membawa batinku ketempat viona berada.. Astaga ada makhluk hitam mencekik Viona. Kenapa aku tak tahu sebelumnya. Mungkin kata bapak itu benar, mungkin karena pikiranku kacau aku tak melihat makhluk yg mengganggu Viona. Kubaca doa perlahan dengan khusu dan perlahan makhluk itu menyeringai mengerikan dan membalikkan badannya kearahku.
Makhluk itu seperti hendak menerkamku. Aku terus membaca doa. Aneh ada hawa panas keluar dari tubuhku menjalar ke makhluk itu. Makhluk itu kembali menyeringai dan berusaha maju tapi hawa panas itu menahan makhluk itu. Kini hawa panas itu makin terasa panas bagi makhluk itu, hingga makhluk itu berteriak teriak kepanasan dan akhirnya makhluk itu pergi lari kepanasan.
Aku membuka mata. Keringat membasahi wajahku. Kuambil air mineral dan kuteguk sampai habis heran kenapa aku merasa sangat haus. Kejadian seperti ini lagi terjadi. Kenapa ada saja yang berniat tak baik pada keluargaku.
Seorang dokter menghampiriku.
"Maaf anda keluarganya ibu Viona": kata Dokter itu.
"Ya, saya suaminya": kataku.
"Begini ibu Viona sudah sadar dan telah melewati masa kritisnya dan bisa pindah keruang rawat. Bapak bisa tanya kamar kosong dan memilih kamar yang mau ditempati di kantor administrasi.": kata Dokter tersebut.
"Terimakasih dokter": kataku.
"Ya sama sama": kata Dokter itu lalu pergi.
Aku pun menuju bagian administrasi. Dalam perjalananku ke administrasi ku bertemu teh Ida.
"Ka, mau kemana. Gimana Viona?": tanya teh Ida
"Ke administrasi, viona udah sadar bisa pindah keruang rawat": kataku.
Aku dan teh Ida ke administrasi. Aku meminta kamar VIP buat Viona. Kemudian aku dan teh Ida kembali keruang ICU ternyata Viona sudah dipindah. Aku dan teh Ida menuju kamar rawat. Sesampainya kulihat Viona sedang berbaring dan dokter sedang memeriksanya. Walau masih pucat Viona tersenyum padaku. Senyumnya membuat semua kekhawatiranku sirna. Dokter memberitahu dalam 2 atau 3 hari Viona bisa pulang. Aku sangat bersyukur sekali atas berita ini. Dokterpun keluar ruangan. Aku dan teh Ida menghampiri Viona.
"Yang gimana bayi kita?": tanya Viona.
"Sehat, laki laki anak kedua kita": kataku.
"Boleh dibawa kesini?": tanya Viona.
"Gak tau nanti kita tanya dokter": kataku.
"Cepet sembuh ya dik": kata Teh Ida.
"Iya teh, anaknya gak diajak": kata Viona.
"Lagi sekolah, kan sekarang udah masuk tk": kata Teh Ida.
"Anisa gimana": tanya Viona.
"Ada dirumah sama Ibu, udah sekarang banyak istirahat biar cepet sembuh biar bisa ketemu anak anak": kataku.
"Yang koq pucet": kata Viona.
"Malem ga bisa tidur": kataku.
"Yang aneh aku serasa denger suara kamu tapi seperti ada sosok hitam menghalangi aku ketemu kamu": kata Viona
"Yg penting kamu sekarang sudah lebih baik": kataku.
Hpku berdering ibu menelpon menanyakan kabar Viona ku bilang Viona sudah sadar dan pindah ke kamar rawat inap. Anisa putriku ternyata rewel menanyakan ibunya terus. Kuberikan hp pada Viona. Viona berbicara pada Anisa. Viona menyerahkan kembali hp padaku. Telepon telah ditutup.
"Yang pulang dulu, Anisa rewel kasian ibu. Kata Anisa kalo gak ada bunda dirumah, Ayah harus ada dirumah": kata Viona.
"Iya ka, pulang dulu istirahat dulu dirumah biar teteh tunggu disini": kata teh Ida.
"Iya teh kayanya aku perlu tidur sebentar": kataku.
"Hati hati dijalannya": kata Viona
Aku melangkah keluar menuju parkiran dan kemudian mengendarai mobil pulang kerumah.
Aku masih kaget melihat pemandangan yang ganjil itu apalagi masih pagi hari. Belum lama tiba tiba bau kurang sedap tercium, tiba tiba ada sosok yang sudah tidak utuh muncul disisiku. Aku kaget sekali, tapi sepertinya sosok itu tak berniat jahat..sosok itu seperti berbicara tapi tak jelas seperti menggumam karena rahangnya seperti terlepas...
tolong istri mu..... Tolong istri mu..kata sosok itu lalu lenyap.. Aku masih terpaku hingga seseorang menyentuh bahuku. Seseorang bapak bapak yang sudah tua duduk disampingku.
"Sabar nak, jalani saja takdir yg telah terjadi. Tenangkan pikiranmu nanti kamu melihat jelas": kata bapak itu. Tak lama bapak itu berdiri pergi. Aku bingung siapa bapak itu. Aku mencoba saran bapak itu, aku memejamkan mata menenangkan pikiran. Kuambil nafas dalam dalam. Rasaku membawa batinku ketempat viona berada.. Astaga ada makhluk hitam mencekik Viona. Kenapa aku tak tahu sebelumnya. Mungkin kata bapak itu benar, mungkin karena pikiranku kacau aku tak melihat makhluk yg mengganggu Viona. Kubaca doa perlahan dengan khusu dan perlahan makhluk itu menyeringai mengerikan dan membalikkan badannya kearahku.
Makhluk itu seperti hendak menerkamku. Aku terus membaca doa. Aneh ada hawa panas keluar dari tubuhku menjalar ke makhluk itu. Makhluk itu kembali menyeringai dan berusaha maju tapi hawa panas itu menahan makhluk itu. Kini hawa panas itu makin terasa panas bagi makhluk itu, hingga makhluk itu berteriak teriak kepanasan dan akhirnya makhluk itu pergi lari kepanasan.
Aku membuka mata. Keringat membasahi wajahku. Kuambil air mineral dan kuteguk sampai habis heran kenapa aku merasa sangat haus. Kejadian seperti ini lagi terjadi. Kenapa ada saja yang berniat tak baik pada keluargaku.
Seorang dokter menghampiriku.
"Maaf anda keluarganya ibu Viona": kata Dokter itu.
"Ya, saya suaminya": kataku.
"Begini ibu Viona sudah sadar dan telah melewati masa kritisnya dan bisa pindah keruang rawat. Bapak bisa tanya kamar kosong dan memilih kamar yang mau ditempati di kantor administrasi.": kata Dokter tersebut.
"Terimakasih dokter": kataku.
"Ya sama sama": kata Dokter itu lalu pergi.
Aku pun menuju bagian administrasi. Dalam perjalananku ke administrasi ku bertemu teh Ida.
"Ka, mau kemana. Gimana Viona?": tanya teh Ida
"Ke administrasi, viona udah sadar bisa pindah keruang rawat": kataku.
Aku dan teh Ida ke administrasi. Aku meminta kamar VIP buat Viona. Kemudian aku dan teh Ida kembali keruang ICU ternyata Viona sudah dipindah. Aku dan teh Ida menuju kamar rawat. Sesampainya kulihat Viona sedang berbaring dan dokter sedang memeriksanya. Walau masih pucat Viona tersenyum padaku. Senyumnya membuat semua kekhawatiranku sirna. Dokter memberitahu dalam 2 atau 3 hari Viona bisa pulang. Aku sangat bersyukur sekali atas berita ini. Dokterpun keluar ruangan. Aku dan teh Ida menghampiri Viona.
"Yang gimana bayi kita?": tanya Viona.
"Sehat, laki laki anak kedua kita": kataku.
"Boleh dibawa kesini?": tanya Viona.
"Gak tau nanti kita tanya dokter": kataku.
"Cepet sembuh ya dik": kata Teh Ida.
"Iya teh, anaknya gak diajak": kata Viona.
"Lagi sekolah, kan sekarang udah masuk tk": kata Teh Ida.
"Anisa gimana": tanya Viona.
"Ada dirumah sama Ibu, udah sekarang banyak istirahat biar cepet sembuh biar bisa ketemu anak anak": kataku.
"Yang koq pucet": kata Viona.
"Malem ga bisa tidur": kataku.
"Yang aneh aku serasa denger suara kamu tapi seperti ada sosok hitam menghalangi aku ketemu kamu": kata Viona
"Yg penting kamu sekarang sudah lebih baik": kataku.
Hpku berdering ibu menelpon menanyakan kabar Viona ku bilang Viona sudah sadar dan pindah ke kamar rawat inap. Anisa putriku ternyata rewel menanyakan ibunya terus. Kuberikan hp pada Viona. Viona berbicara pada Anisa. Viona menyerahkan kembali hp padaku. Telepon telah ditutup.
"Yang pulang dulu, Anisa rewel kasian ibu. Kata Anisa kalo gak ada bunda dirumah, Ayah harus ada dirumah": kata Viona.
"Iya ka, pulang dulu istirahat dulu dirumah biar teteh tunggu disini": kata teh Ida.
"Iya teh kayanya aku perlu tidur sebentar": kataku.
"Hati hati dijalannya": kata Viona
Aku melangkah keluar menuju parkiran dan kemudian mengendarai mobil pulang kerumah.
Diubah oleh taucolama 10-02-2017 21:04
jenggalasunyi dan 8 lainnya memberi reputasi
9
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/12/02/9119792_201612020532230372.jpg)
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://dl.kaskus.id/i1109.photobucket.com/albums/h440/awtian/ob9bzx9x-1.gif)
A :
INDEX