- Beranda
- Stories from the Heart
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
...
TS
jhonsonamama
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
SELAMAT DATANG GAN DI THREAD ANE 
Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
Quote:
Sinopsis
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Quote:
Karena satu bab terlalu banyak untuk muat dalam satu post di kaskus, maka dengan ini ane minta maaf bahwa setiap bab akan dibagi menjadi 2 part. Terima kasih
Quote:
INDEX
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
Spoiler for BAB 1 Part 1:
BAB I
ACHEN
ACHEN
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Quote:
NOTE
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Diubah oleh jhonsonamama 07-02-2017 17:38
anasabila memberi reputasi
1
5.8K
Kutip
52
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jhonsonamama
#47
Spoiler for BAB X:
BAB X
ASTRAL
ASTRAL
Christine telah mengarungi jarak yang jauh, sangat jauh. Benua Africa telah terlewati dari bagian barat, selatan melewati tanjung harapan, hingga sekarang di Samudera Hindia yang begitu luas. Tidak banyak kejadian-kejadian penting yang terjadi, kecuali diserang oleh kapal perompak dua tahun yang lalu. Bisa dibilang selama dua tahun kurang ini, perjalanan mereka mulus, tiada hambatan, dan setiap awak kapal dalam kondisi yang baik, terkecuali Pierre.
Kondisinya kurang baik dalam beberapa minggu ini, tubuhnya mengalami demam yang tinggi, sudah 5 hari ia hanya terbaring lemas di biliknya. Penyebab penyakit ini tidak jelas, para medik di kapal telah merawatnya sebisa mungkin. Bahkan Pauli, ahli penyakit dalam wilayah tropis pun tidak tahu menahu tentang penyakit ini. Tetapi Pierre bersikeras bahwa ia hanya kelelahan, dan mabuk laut. Semua orang tidak mengetahui, termasuk Letnan Stefan, bahwa sesungguhnya dalam beberapa minggu ini, Garuda sering sekali hadir dalam mimpi Pierre; dan entah mengapa setelah Pierre terbangun dari mimpi itu, seketika tubuhnya mengalami demam yang hebat.
Pierre membuka mata, tatapannya kabur sekali dan tubuhnya merasa sangat lemas. Ia masih terbaring di kasur kerasnya, beserta beberapa lapis selimut. Pierre merasa sangat dingin pada siang hari yang panas seperti hari ini. Rambut pirangnya yang panjang membuat lehernya penuh dengan keringat. Kumis dan janggutnya sudah sangat tebal, menyatu dengan berantakan. Pierre langsung menoleh ke meja kayu disebelah kasurnya, dan dugaannya benar—Garuda berpindah posisi. Efek magisnya semakin hari semakin kuat semenjak kejadian dengan bajak laut dua tahun yang lalu, frekuensi mimpi melonjak, begitu juga dengan pergerakan-pergerakan fisik Garuda yang tidak bisa dijelaskan.
Lalu terdengar suara riuh dari geladak utama, seperti sedang ada perkelahian hebat. Pierre ingin sekali beranjak dari kasurnya dan melihat, namun ia merasa terlalu lemas. Jeritan-jeritan marah terdengar saling bersahutan, kemudian suara adu pedang. Pierre seketika merasa panik ada apa ini, pikirnya dalam hati. Lalu pintu kayu kamarnya terdorong dengan kencang, seseorang masuk dengan kasar. Ternyata itu merupakan Rogue, dengan panik ia berkata,
“Pierre! Kau harus tetap disini! Bersembunyilah, bila perlu tutupi dirimu dengan selimut!”
“Ada apa Rogue?!” kata Pierre dengan panik, namun tidak terlihat karena wajahnya yang begitu pucat.
“Kapal kita diserang kembali oleh perompak, sepertinya berasal dari India! Berhati-hatilah, jumlah mereka sangat banyak. Setiap awak kapal yang bisa bertarung, sedang bertarung di geladak utama.”
“Dan kau sendiri?”
“Aku akan pergi ke geladak utama sekarang, aku kesini sekedar memperingatkanmu. Aku pergi sekarang, hati-hatilah kawan!” lalu Rogue kembali menutup pintu dengan cepat, kemudian ia berlari dengan cepat ke geladak utama.
Lalu kemudian Pierre terdiam khawatir. Dengan susah payah ia mengambil Garuda yang sedang terbaring, dan menyembunyikannya dibawah selimut. Suara pertarungan terdengar sangat ribut, teriakan-teriakan orang yang terluka sangat mengerikan, terlebih saat Pierre tidak disana. Pierre kemudian menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, untuk bersembunyi. Tubuhnya berkeringat, nafasnya sesak karena tertutupi selimut, namun nasihat dari Rogue tetap ia lakukan. Lama kelamaan suara pertarungan sepertinya mendekat, dan Pierre yakin, para perompak telah mencapai lorong kamar.
Pierre panik, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Bila ia memaksakan diri untuk bertarung, tentunya akan sia-sia karena kondisi tubuhnya yang sedang sangat lemah. Ia hanya memejamkan matanya, tidak tahu selama berapa lama. Pikirannya tetap fokus, namun tubuhnya menjadi rileks. Kemudian seketika, rasa kantuk hebat menyerang, dan ia mengalami kejang-kejang, seperti tertindih seseorang. Pierre seperti ditindih oleh hantu, ia tidak dapat menggerakkan satu jari pun, ia terdiam kaku. Kesadaran Pierre masih utuh, namun tidak dapat bergerak. Lalu ia menjadi lemas, tubuhnya merasakan sensasi yang makin parah; ia merasa tubuhnya terombang-ambing di sebuah arus sungai yang deras, ia merasakan sakit yang hebat pada sekujur tubuhnya.
Indra pendengaran Pierre masih bekerja, ia mendengar suara langkah kaki yang mendekati kamarnya. Kondisi badannya sekarang telah sangat lemas, tetapi ia mencoba bangkit, dan ia berhasil dengan mudahnya. Namun anehnya saat ia bangkit, suasana sekitar menjadi berbeda, seperti kemerah-merahan dan pandangannya samar-samar. Ia keheranan, ia merasa tubuhnya sehat kembali, lalu ia memutuskan untuk berdiri. Apa yang Pierre lihat selanjutnya tidak dapat dipercaya, begitu ia bangkit—ia melihat dirinya masih terbaring dbawah selimut. Pierre terkejut setengah mati, lalu mencoba menyentuh-nyentuh tubuhnya, namun sia-sia; tangannya menembus selimut begitu saja. Lalu ia melihat sebuah tali cerah yang aneh, ia tersangkut pada kepala, dan tersambung kepada dirinya yang sedang terbaring di kasur. Pierre sangat panik, ia yakin bahwa ia telah mati.
Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya terbuka, dan sesosok pria besar memasuki kamar itu dengan tergesa, tangannya membawa pedang yang teracung; siap untuk digunakan. Namun anehnya, pria tersebut tidak dapat melihatnya, pria tersebut tertuju pada Pierre yang sedang terbaring.
“Tidak! Bangunlah Pierre!” teriak Pierre kepada Pierre yang terbaring. Tetapi Pierre yang tertidur tak kunjung bangun, sedangkan perompak itu telah mendekatinya, hendak membuka selimut itu. Lalu dengan tiba-tiba muncullah sesosok pria aneh berwarna putih yang muncul seperti sebuah asap rokok, sosoknya samar-samar. Pria tersebut berdiri tepat disebelah Pierre yang sedang berdiri panik, kemudian pria aneh tersebut meregangkan tangannya seolah menarik hendak menarik sesuatu—sedangkan selimut Pierre telah terbuka. Terlihatlah Pierre yang terbaring lemas sambil memegang Garuda diatas perutnya. Pria aneh tersebut masih meregangkan tangannya, lalu kemudian tiba-tiba Garuda tertarik dengan cepat kepada genggaman pria aneh tersebut. Pierre yang berdiri disebelahnya terkejut, sama seperti si perompak tersebut, terkejut. Lalu, pria aneh tersebut mulai menebas-nebaskan Garuda kepada perompak tersebut.
Sepertinya perompak tersebut tidak bisa melihat pria aneh, maupun Pierre yang sedang berdiri. Karenanya, perompak tersebut lari terbirit-birit keluar dari kamar Pierre, namun sosok pria aneh itu mengejar sambil melayang dan menancapkan Garuda pada punggungnya, seketika perompak tersebut tersungkur dan mati. Kemudian Garuda melayang kembali, ketempatnya yang semula; diatas perut Pierre yang sedang tertidur.
Pierre terkejut setengah mati setelah melihat pemandangan tersebut, otaknya tidak dapat menerima begitu saja adegan ini. Ia kemudian menoleh melihat pria aneh tersebut, sekarang sosok itu seperti bertambah jelas, tubuhnya pendek, banyak keriput di wajahnya seperti orang tua, dan janggutnya begitu lebat berwarna putih, yang mengitari wajahnya. Sosok tersebut diam menatap Pierre, mereka berdua saling bertatapan. Lalu Pierre tidak tahan akan semua kejanggalan ini, lalu ia berkata,
“Ada apa ini? Siapa kau?” tanya Pierre kepada pria aneh tersebut.
“Tubuhmu sedang memasuki dunia astral, aku Nehru, penjaga Garuda maupun pengendalinya,” kata Nehru dengan suara yang sangat aneh, suaranya seperti gema yang sumber suaranya tidak keluar dari mulutnya, namun sumber suara Nehru terdengar dari segala penjuru.
“Jadi engkau! Yang membuat Garuda melayang dengan sendirinya, yang menolongku pada dua tahun yang lalu, jadi ternyata engkau!” kata Pierre.
“Ya, benar. Aku menjagamu Pierre.”
“Tapi, mengapa?”
“Kau tidak perlu tahu akan hal itu,” suara Nehru semakin menggema, dan Pierre sedikit takut akan suara itu.
“Baiklah, bila kau berkata demikian. Namun kapal ini sedang diserang, dan aku khawatir akan teman-temanku yang sedang bertarung. Bantulah mereka Nehru!”
“Baiklah…,” dengan cepat Garuda telah melayang kembali menuju tangan Nehru, “Mari, ikutlah…,” kata Nehru, lalu ia melayang dengan cepat keluar dari kamar. Pierre bergegas mengikuti, ia terkejut, rupanya Pierre dapat melayang dalam dunia astral ini, ia tidak begitu mengerti, namun ia tidak memikirkan ini lebih jauh. Pierre melayang mengikuti Nehru, yang sedang melayang menuju geladak utama. Lalu terlihatlah, pertarungan hebat sedang terjadi, ada sekitar 20 angkatan laut yang sedang bertarung, masing-masing melawan satu orang perompak, mereka bertarung menggunakan pedang. Banyak juga terlihat mayat-mayat perompak maupun angkatan laut, sepertinya pertarungan ini telah berlangsung lama. Mereka berdua seperti hantu yang hadir di tengah peperangan, mengamati dengan tidak terlihat. Lalu Nehru, memecah belah pertarungan tersebut, menyerang perompak-perompak dengan cepat, seperti badai pasir yang menyapu pepohonan. Semua orang di geladak utama terdiam terkejut, walaupun yang mereka lihat hanyalah Garuda yang melayang-layang dengan sendirinya. Hanya beberapa waktu, semua perompak telah tewas oleh Nehru—para angkatan laut masih terdiam, kemudian bersorak ramai.
Lalu Nehru perlahan-lahan menghilang seperti sebuah asap yang tertiup angin kencang, dan Garuda jatuh begitu saja di lantai. Semua angkatan laut bersorak sorai gembira—walaupun ada rasa takut sedikit di dalam hati mereka pada Garuda yang melayang sendiri. Kemudian Rogue bersorak meneriaki nama Pierre, lalu kemudian semua mengikuti sorakan Rogue mengelu-elukan nama Pierre; mereka pikir Pierre yang bertindak demikian seperti kejadian dua tahun lalu. Pierre yang melayang diantara kerumunan angkatan laut mulai merasa pusing, indera penglihatannya seperti tidak bekerja dengan baik, semua pandangannya menjadi samar dan pudar. Tubuhnya merasa perlahan-lahan tenggelam, lalu semuanya menjadi hitam.
Pierre sedang terduduk—dalam ruangan gelap aneh dan sempit. Hawa ruangan itu lembab, kemerah-merahan suasana ruangan itu. Ia kemudian melihat ke sekeliling, gelap sekali. Sekonyong-konyong gumpalan asap putih terbang mendekat, dan membentuk menjadi sebuah sosok; yaitu Nehru.
“Pierre, kau telah mengetahui sosok-ku yang sesungguhnya. Sosok yang menjagamu dan teman-temanmu dalam perjalanan ini. Kau juga telah mengalami peristiwa astral, dimana jiwamu terpisah dengan ragamu, begitu mirip dengan kematian, namun begitu berbeda. Dalami dan pelajari baik-baik bagaimana kau dapat memasuki astral, karena hal itu sangat penting untuk membantumu, ketahuilah satu hal Pierre, yakinlah aku menjagamu.”
“Tetapi…,” alih-alih Pierre menjadi tenang, ia malah makin bingung oleh perkataan Nehru. Namun asap itu melayang memencar, menjadi tidak
berbentuk lagi. Pierre sadar ini mimpi, maka ia segera mencubit-cubit dirinya sendiri untuk bangun. Benarlah, tiba-tiba Pierre tersentak bangun dari tidurnya, dan samar-samar ia melihat banyak kerumunan orang di kamarnya. Lalu saat mereka menyadari Pierre telah sadar dari tidurnya, mereka bersorak senang dan Rogue langsung memeluk Pierre yang masih berbaring lemas.
“Aku—maksudku kami, sangat berterima kasih akan jasamu Pierre!” kata Rogue.
“Tidak, aku tidak melakukan apapun,” kata Pierre lemas. “Itu merupakan perbuatan Garuda semata, dia-lah yang telah menyelamatkan aku dan kalian.”
“Ya kami tahu, tetapi—bukankah kau yang membuat Garuda melayang sendiri dan membunuh semua perompak diatas tadi?”
“Tidak! Kau tidak mengerti…,” kata Pierre lelah, ia sendiri sebenarnya masih sangat bingung dengan apa yang telah terjadi.
“Sudahlah, biarkan ia beristirahat,” kata Letnan Stefan dari ambang pintu kepada para kerumunan angkatan laut. Lalu mereka semua meninggalkan kamar Pierre dengan berisik, tinggallah Rogue dan Letnan Stefan saja di kamar Pierre. Rogue kemudian menatap Letnan Stefan dengan khawatir karena keadaan Pierre yang aneh.
“Aku tahu Pierre, semenjak kau mendapatkan Garuda, kau menjadi berbeda. Semua hal ini memang tidak masuk akal, kami seperti orang gila saja bila memberitahu kepada teman-teman di Malaga ada belati yang melayang-layang sendiri. Tetapi cobalah untuk santai sedikit Pierre, aku sebagai sahabatmu sangat khawatir dengan sifatmu belakangan ini,” kata Rogue.
“Ya, aku tahu aku menjadi berbeda. Tetapi selama aku berada disini, semua hal tidak masuk akal terjadi, dan selalu berkaitan dengan diriku Rogue, apakah aku masih bisa santai!?”
“Mungkin kau dan anggota lain masih bisa tertawa normal dan minum anggur dengan tenang. Tetapi berbeda denganku Rogue, berbeda!” kata Pierre dengan emosi, tangannya telah menggenggam kencang selimut yang terbaring diatasnya.
“Memang benar katamu, tapi kau berbeda dari kita semua. Aku rasa kau memiliki takdir khusus yang berbeda dari kami semua, maka wajar bila beban yang kau pikul lebih berat dibanding beban masing-masing dari kami.”
“Omong kosong macam apa itu Rogue? Sudahlah tinggalkan aku sendiri saja, aku sedang tidak berhasrat untuk sebuah percakapan ringan,” kata Pierre sambil membaringkan kembali tubuhnya. Rogue menghela nafasnya panjang, kemudian meninggalkan kamar Pierre dengan perasaan kesal, begitu juga Letnan Stefan.
Setelah Pierre melihat Rogue dan Letnan Stefan meninggalkan kamarnya, ia memejamkan mata; mencoba untuk istirahat. Ia harap dengan tidur yang nyenyak perasaan tidak enak tentang semua hal yang terjadi di kapal ini bisa lenyap. Pusing merambat ke kepala Pierre dengan cepat; lalu pusing itu mengantarnya tidur. Tiba-tiba ia berada di ruangan gelap, tubuhnya melayang-layang dengan tidak karuan.
“Kumohon, jangan kejadian aneh lagi!” pikir Pierre dalam hati.
Lama kelamaan ruangan itu menjadi semakin terang seiring detik berjalan; lalu Pierre mendapati dirinya sedang melayang di udara di atas hutan yang sangat hijau—ia belum pernah melihat hutan sehijau itu dengan pepohonan yang sangat rapat. Lalu dengan cepat pula pemandangan itu hilang, pemandangan berganti secara acak dan cepat; membuat Pierre begitu mual dan pusing. Ia ingin sekali bangun dari mimpi atau apa pun namanya yang ia alami sekarang.
“Achen...” ujar Pierre dalam hati pelan, begitu ia mengatakannya ia terkejut—mengapa ia tahu pemandangan tadi adalah pemandangan Achen, sedangkan ia pun tak pernah kesana dan tidak bisa membayangkan tempat seperti apa Achen itu. Kemudian dengan cepat terlihatlah sesosok pria tinggi besar yang sedang berlatih menggunakan belati yang bentuknya menyerupai Garuda. Pemandangan berganti lagi, sekarang Pierre mulai panik, ia merasa ia berkeringat hebat; walaupun dalam mimpi.
Warna merah menyala yang begitu mengerikan dilihat Pierre, asap hitam membumbung tinggi di kegelapan malam. Jeritan pria, suara gemericik api yang melahap kayu—membuat Pierre ingin menangis; walau ia sadar betul bahwa ini hanyalah mimpi. Namun mimpi ini begitu nyata, begitu menjanjikan. Dengan refleks dan tidak sadarkan diri Pierre berkata,
“Razak...”
Mungkin untuk update selanjutnya akan memakan waktu lama, karena BAB XI masih ane garap.
So stay tune guys

Diubah oleh jhonsonamama 07-02-2017 17:36
0
Kutip
Balas