- Beranda
- Stories from the Heart
Love is a Beautiful Pain
...
TS
diitt
Love is a Beautiful Pain

Quote:
Ya, quotes diatas itu mungkin pas banget buat gambarin apa itu perasaan jatuh cinta, ketika kita bahkan ga bisa tidur karena tau akhirnya kenyataan itu lebih indah daripada mimpi kita yang bahkan sudah indah sekalipun, karena kita ingin selalu bersamanya bukan di mimpi, tapi didunia nyata. Duduk bersebelahan, menghabiskan waktu bersama dan juga saling memberikan kenyamanan satu sama lain.
Cerita ini mungkin hanya seperti catatan harian, cuman menceritakan kehidupanku, baik itu pertemanan, pekerjaan, romansa, dan juga hal lainnya. Klise memang kalau aku bilang terserah kalian mau mengganggap ini cerita real atau cuman fiktif semata, jadi anggep aja cerita ini cerita fiktif yang sering kalian liat di FTV siang hari.
"Love is a Beautiful Pain"kalimat yang mungkin sudah sering banget kalian denger, bahkan aku menggunakan ini sebagai judul cerita ini bukan karena kata-katanya ngena banget dihati. tetapi memang cerita ini persis banget seperti apa yang tersirat dijudul cerita ini. Karena walau itu menyakiti kita sekalipun, itulah cinta. yang memang kita sendiri terkadang benci karena harus merasakan cinta pada orang yang salah dan bahkan waktu yang salah.
Akan banyak sekali typo, adegan garing, dan juga hal yang mungkin mainstream banget untuk kalian. Tapi percayalah, gak bakal ada kentang.
Kalau ada kata-kata mutiara, quotes galau, kutipan-kutipan, lirik lagu, dan yang lainnya, maafkan. Itu cuman hasil googling semata, engga kok bercanda.
INDEX
Spoiler for Index:
PROLOG
Quote:
Sebelumnya perkenalkan namaku Adit, lengkapnya Aditya Nugraha. Nama yang diberikan oleh orangtuaku dengan harapan aku akan bersinar seperti matahari, dan mungkin bisa menerangi kegelapan hati seseorang #tsahh. Oh iya, aku bukan seorang penulis, apalagi seorang pencerita yang baik, tapi aku ingin menceritakan kisahku ini yang mungkin sangat biasa saja untuk dibaca.
Aku tinggal di kota Bandung, salah satu kota besar, kota dimana aku mengenal seseorang, seseorang yang memberikanku cerita baru disetiap hariku, seseorang yang membuatku mengenal apa itu cinta, dan seseorang yang juga membuatku mengenal apa itu sakit hati, lucu bukan? Ya itu memang lucu menurutku.
Aku merupakan seorang anak dari keluarga yang sederhana, rumah tidak besar, tidak punya mobil, dan orangtuaku hanya berjualan kecil-kecilan saja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ya, tapi aku bersyukur dengan keluarga sederhana ini, dengan satu adik yang selalu bisa sukses membuatku tertawa tiap kali aku pusing dengan pekerjaanku.
Ya, aku sudah bekerja. Aku bekerja di sebuah perusahaan di kota Bandung, sebagai seorang Graphic Designer. Walaupun gajiku tidak besar dan jarang sekali mendapatkan bonus lembur, tetapi aku sangat bersyukur karena itu cukup untuk membantu perekonomian keluargaku dan juga memberi adik kesayanganku itu jajan. Jobdesk menumpuk dan juga deadline yang tak masuk diakal memang selalu membuatku keteteran, berganti konsep, mendesain ulang, dan menerima revisi yang bertubi-tubi sudah menjadi seperti makananku sehari-hari, ditambah lagi aku bukan merupakan lulusan dari jurusan desain ataupun hal hal yang berbau seni, sehingga aku dituntut untuk mempelajari berbagai software untuk desain dan juga harus bisa kreatif.
Oke, mungkin kalian bosan membaca perkenalan tentang diriku yang sangat biasa dan panjang ini. Jadi aku akan memulai ceritaku. Namaku Adit, dan ini ceritaku.
Diubah oleh diitt 08-02-2017 21:45
delia.adel dan anasabila memberi reputasi
2
4.8K
55
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
diitt
#36
Part 2 : Nadine Silviani
“Teh, namanya Nadine ya?” tanyaku pada perempuan itu.
“Eh” dia sedikit kaget mungkin aku tiba-tiba bertanya padanya. “Kok tau?” lanjutnya lagi.
Ya, dia Nadine, cewek yang pernah di-kepo-in olehku beberapa waktu yang lalu. Mungkin melihatnya difoto beda dengan melihatnya secara langsung, makanya aku sedikit pangling melihatnya. Atau mungkin juga karea baru pertama kali bertemu.
“Ah, iya ini waktu itu tau dari akun sosmednya teh” ucapku sedikit gugup
“Ohehe gitu ya” jawabnya singkat
“Iya hehe” ucapku
Udah gitu aja? Iya, cuman gitu aja. Perkenalan singkat satu pihak, aku tau namanya, tapi dia ga tau namaku sama sekali, ya memang harusnya aku langsung kasih tau aja tanpa dia tanya juga, tapi balik lagi. Aku culun, agak bingung emang mau ngomong apa waktu itu. Bahkan saat ngetik cerita ini, aku berfikir kenapa dulu ga ngomong kaya gini, kaya gitu, blablabla..
“Eh udah nih” terdengar suara dari belakangku, ya itu temannya Nadine. Entah siapa namanya.
“Oh udah ya, yuk” ucap Nadine
“Eh bentar, a ini aku mau tanya” ucap temennya Nadine
“Iya kenapa ya?” tanyaku
“Ini kan aku menang quiz kemarin, aku udah kirim alamatnya tapi kok belum dibaca ya chat nya” tanya teman Nadine itu.
“Oh iya, kebetulan emang aku yang ngurus akunnya, dan belum aku baca hehe, oh jadi teteh kemarin yang menang quiz nya ya, teh Devi kan?” tanyaku sedikit kaget
“Yaudah deh, kan daripada dikirim nanti lama lagi, mending aku kasih sekarang aja deh ya teh” ucapku
“Iya aku yang menang haha iya bener boleh deh” balasnya.
Akhirnya aku menyuruh temanku untuk pergi kekantor mengambil hadiah quiz untuk teteh satu ini. Ya, namanya Devi, kenapa aku tau? Karena aku yang milih pemenangnya.
Singkat cerita temenku udah balik lagi, sambil bawa hadiah buat dikasih ke teh Devi ini, dan ga basa basi aku langsung aja kasih hadiahnya ke teh Devi.
“Ini teh, diterima ya hadiahnya” ucapku sambil memberikan kantong berisi hadiah
“Oh iya makasih ya” ucapnya sambil menyambut kantong yang aku kasih
Setelah menerima hadiah itu, teh Devin sama Nadine pun pamit pulang, mungkin mau ada acara lagi seperti pembeli yang lainnya.
“Yaudah atuh a , kita pulang dulu ya” ucap Devi sekaligus mewakili Nadine
“Oh iya, hati-hati dijalan ya” ucapku
“Iya” jawab keduanya dan mereka pun pergi
Malem ini mungkin pertama kalinya malam dimana aku sama sekali gak nyesel udah disuruh lembur dikantor, bahkan aku bersyukur karena bisa lembur di acara ini, jadi bisa bertemu dengan mereka berdua.
“Nadine ya?” ucapku dalam hati.
*
*
Akhirnya datang juga dipenghujung acara, jam 12 dan saatnya malam baru dirayakan, malam pergantian tahun, malam dimana semua orang menyambut lembaran baru, malam dimana semua orang berharap hal baik akan selalu bersama mereka sepanjang tahun ini, dan malam dimana aku kenal dengan dia. Nadine.
“tiga...dua..satu..”
Terdengar bunyi kembang api dimana-mana, langit menjadi terang, semua orang bersukacita, penuh tawa kebahagiaan, malam yang juga menjadi awal dari ceritaku ini.
*
*
Angin pagi yang dingin mulai menyapa badanku, bahkan selimut tebalku ini saja tak mampu menahan dinginnya kota Bandung pagi ini. ditambah juga suara kesibukan orang-orang dirumah membuatku terpaksa harus bangun walau berat memang, apalagi hari ini hari libur.
Aku bangun dan sedikit meregangkan tubuhku, rasa pegal sehabis mengurus acara kemarin sangat terasa dipagi ini, bahu, punggung, kaki, tangan, semuanya pegal.
Setelah berhasil memaksa diriku untuk pergi ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka, aku pun duduk di balkon rumah, ditemani kopi hangat yang aku bikin sebelumnya.
“Nadine ya” ucapku
Ya, dari kemarin hanya Nadine saja yang aku pikirkan, sangat tinggi rasaku untuk bisa berkenalan dengan Nadine. Apalagi ketika aku pertama kali melihatnya, aku tiba-tiba berfikir “Tuhan, aku ingin sekali membahagiakan dia”. Konyol bukan? Ya mungkin itu terdengar konyol, tapi pertama kali aku melihatnya, aku langsung merasa kalau aku ini punya tugas untuk membahagiakan dia, melepasnya dari rasa sakit yang dia derita. #tsaaaahhh
Aku ambil hp ku, membuka instagram dan mengetik namanya, dan munculah akun “Nadine Silviani” menggunakan foto dirinya sendiri sedang memakai jilbab. Cantik, pikirku.
Lalu aku klik tombol “Ikuti”. Ya, aku mengikutinya langsung, tanpa fikir panjang dan berharap akan dinotice olehnya. Dan dia akan berkata “Oh ini aa yang kemarin”. Ya, itu cuman harapanku aja.
*
Sejam, dua jam, tidak ada tanda-tanda kalau aku akan difollback sama Nadine. Sampai aku jadi bosen, dan akhirnya aku malah message dia.
“Hoho ini yang kemarin kan ya ka
” entah apa yang aku pikirin waktu ngetik ini.
Dan ga lama setelah itu, hp ku langsung bunyi , ada notif dari instagram.
“Nadine Silviani” baru saja mengirimi Anda pesan”
Deg! Aku kaget, bingung , mau dibuka takut jawabannya jelek, kalo ga dibuka malah bikin penasaran.
Yaudah akhirnya aku buka pesannya.
“Kemarin yg apa wkwk” jawabnya
Ada rasa seneng dan bingung, ya.. dia ternyata bukan tipe cewek jutek yang seperti aku pikirkan, bahkan dia bales dengan tertawa.
“Yang di store wkwk” balasku
Ga berselang lama, langsung dibales lagi sama dia
“Benar sekali” balasnya
Darisitu kita mulai bertukar pesan, ngobrolin banyak hal, dan ternyata dia itu tinggal nya deket banget sama kantorku, mungkin cuman beberapa langkah aja. Masih satu jalan besar. Umurnya 19 tahun, setahun lebih tua dariku, iya aku masih berumur 18 tahun.
Nadine orangnya enak buat diajak ngobrol ternyata, kita mempunyai bahan obrolan yang sama, dan nyambung untuk diobrolin. Ya, mungkin ini awal yang baik untuk bisa mengenalnya lebih jauh.
“Teh, namanya Nadine ya?” tanyaku pada perempuan itu.
“Eh” dia sedikit kaget mungkin aku tiba-tiba bertanya padanya. “Kok tau?” lanjutnya lagi.
Ya, dia Nadine, cewek yang pernah di-kepo-in olehku beberapa waktu yang lalu. Mungkin melihatnya difoto beda dengan melihatnya secara langsung, makanya aku sedikit pangling melihatnya. Atau mungkin juga karea baru pertama kali bertemu.
“Ah, iya ini waktu itu tau dari akun sosmednya teh” ucapku sedikit gugup
“Ohehe gitu ya” jawabnya singkat
“Iya hehe” ucapku
Udah gitu aja? Iya, cuman gitu aja. Perkenalan singkat satu pihak, aku tau namanya, tapi dia ga tau namaku sama sekali, ya memang harusnya aku langsung kasih tau aja tanpa dia tanya juga, tapi balik lagi. Aku culun, agak bingung emang mau ngomong apa waktu itu. Bahkan saat ngetik cerita ini, aku berfikir kenapa dulu ga ngomong kaya gini, kaya gitu, blablabla..
“Eh udah nih” terdengar suara dari belakangku, ya itu temannya Nadine. Entah siapa namanya.
“Oh udah ya, yuk” ucap Nadine
“Eh bentar, a ini aku mau tanya” ucap temennya Nadine
“Iya kenapa ya?” tanyaku
“Ini kan aku menang quiz kemarin, aku udah kirim alamatnya tapi kok belum dibaca ya chat nya” tanya teman Nadine itu.
“Oh iya, kebetulan emang aku yang ngurus akunnya, dan belum aku baca hehe, oh jadi teteh kemarin yang menang quiz nya ya, teh Devi kan?” tanyaku sedikit kaget
“Yaudah deh, kan daripada dikirim nanti lama lagi, mending aku kasih sekarang aja deh ya teh” ucapku
“Iya aku yang menang haha iya bener boleh deh” balasnya.
Akhirnya aku menyuruh temanku untuk pergi kekantor mengambil hadiah quiz untuk teteh satu ini. Ya, namanya Devi, kenapa aku tau? Karena aku yang milih pemenangnya.
Singkat cerita temenku udah balik lagi, sambil bawa hadiah buat dikasih ke teh Devi ini, dan ga basa basi aku langsung aja kasih hadiahnya ke teh Devi.
“Ini teh, diterima ya hadiahnya” ucapku sambil memberikan kantong berisi hadiah
“Oh iya makasih ya” ucapnya sambil menyambut kantong yang aku kasih
Setelah menerima hadiah itu, teh Devin sama Nadine pun pamit pulang, mungkin mau ada acara lagi seperti pembeli yang lainnya.
“Yaudah atuh a , kita pulang dulu ya” ucap Devi sekaligus mewakili Nadine
“Oh iya, hati-hati dijalan ya” ucapku
“Iya” jawab keduanya dan mereka pun pergi
Malem ini mungkin pertama kalinya malam dimana aku sama sekali gak nyesel udah disuruh lembur dikantor, bahkan aku bersyukur karena bisa lembur di acara ini, jadi bisa bertemu dengan mereka berdua.
“Nadine ya?” ucapku dalam hati.
*
*
Akhirnya datang juga dipenghujung acara, jam 12 dan saatnya malam baru dirayakan, malam pergantian tahun, malam dimana semua orang menyambut lembaran baru, malam dimana semua orang berharap hal baik akan selalu bersama mereka sepanjang tahun ini, dan malam dimana aku kenal dengan dia. Nadine.
“tiga...dua..satu..”
Terdengar bunyi kembang api dimana-mana, langit menjadi terang, semua orang bersukacita, penuh tawa kebahagiaan, malam yang juga menjadi awal dari ceritaku ini.
*
*
Angin pagi yang dingin mulai menyapa badanku, bahkan selimut tebalku ini saja tak mampu menahan dinginnya kota Bandung pagi ini. ditambah juga suara kesibukan orang-orang dirumah membuatku terpaksa harus bangun walau berat memang, apalagi hari ini hari libur.
Aku bangun dan sedikit meregangkan tubuhku, rasa pegal sehabis mengurus acara kemarin sangat terasa dipagi ini, bahu, punggung, kaki, tangan, semuanya pegal.
Setelah berhasil memaksa diriku untuk pergi ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka, aku pun duduk di balkon rumah, ditemani kopi hangat yang aku bikin sebelumnya.
“Nadine ya” ucapku
Ya, dari kemarin hanya Nadine saja yang aku pikirkan, sangat tinggi rasaku untuk bisa berkenalan dengan Nadine. Apalagi ketika aku pertama kali melihatnya, aku tiba-tiba berfikir “Tuhan, aku ingin sekali membahagiakan dia”. Konyol bukan? Ya mungkin itu terdengar konyol, tapi pertama kali aku melihatnya, aku langsung merasa kalau aku ini punya tugas untuk membahagiakan dia, melepasnya dari rasa sakit yang dia derita. #tsaaaahhh
Aku ambil hp ku, membuka instagram dan mengetik namanya, dan munculah akun “Nadine Silviani” menggunakan foto dirinya sendiri sedang memakai jilbab. Cantik, pikirku.
Lalu aku klik tombol “Ikuti”. Ya, aku mengikutinya langsung, tanpa fikir panjang dan berharap akan dinotice olehnya. Dan dia akan berkata “Oh ini aa yang kemarin”. Ya, itu cuman harapanku aja.
*
Sejam, dua jam, tidak ada tanda-tanda kalau aku akan difollback sama Nadine. Sampai aku jadi bosen, dan akhirnya aku malah message dia.
“Hoho ini yang kemarin kan ya ka
” entah apa yang aku pikirin waktu ngetik ini.Dan ga lama setelah itu, hp ku langsung bunyi , ada notif dari instagram.
“Nadine Silviani” baru saja mengirimi Anda pesan”
Deg! Aku kaget, bingung , mau dibuka takut jawabannya jelek, kalo ga dibuka malah bikin penasaran.
Yaudah akhirnya aku buka pesannya.
“Kemarin yg apa wkwk” jawabnya
Ada rasa seneng dan bingung, ya.. dia ternyata bukan tipe cewek jutek yang seperti aku pikirkan, bahkan dia bales dengan tertawa.
“Yang di store wkwk” balasku
Ga berselang lama, langsung dibales lagi sama dia
“Benar sekali” balasnya
Darisitu kita mulai bertukar pesan, ngobrolin banyak hal, dan ternyata dia itu tinggal nya deket banget sama kantorku, mungkin cuman beberapa langkah aja. Masih satu jalan besar. Umurnya 19 tahun, setahun lebih tua dariku, iya aku masih berumur 18 tahun.
Nadine orangnya enak buat diajak ngobrol ternyata, kita mempunyai bahan obrolan yang sama, dan nyambung untuk diobrolin. Ya, mungkin ini awal yang baik untuk bisa mengenalnya lebih jauh.
0