- Beranda
- Stories from the Heart
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
...
TS
taucolama
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
Quote:
Quote:
Quote:
Spoiler for Prolog:
Quote:
Quote:
Yang suka mohon Rate,Komen, Share.Diubah oleh taucolama 28-02-2017 07:49
afrizal7209787 dan 47 lainnya memberi reputasi
42
1M
1.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
taucolama
#1507
Asmara
Sore hari ini aku sedang santai duduk di kursi teras. Ku melihat Anisa sedang bermain dengan teman sebayanya dihalaman, sedangkan Viona sedang asik mengobrol dengan ibu ibu muda dikomplek ini sambil mengawasi anak anak yang sedang bermain.
Kulihat Tania datang setelah menyapa Viona dan ibu ibu. Tania langsung menuju ke arahku dan duduk disampingku.
"Ka, aku ingin ngomong serius": kata Tania.
"Iya ngomong aja": kataku.
"Ka, kalo milih pasangan yang baik yang gimana sih?": tanya Tania.
"Ya, pilih yang kuat agamanya": kataku
"Tapi kalo suka sama yang cakep gimana?": tanya Tania lagi.
"Ya udah pilih aja yang cakep": kataku.
"Tapi takut kaya kejadian sama mama, om Broto cakep eh kelakuannya begitu": kata Tania
"Ya kamu tinggal pilih dari tiga mana yang sreg dihati kamu": kataku.
"Perasaan tadi ga cerita deh ada tiga orang": kata Tania.
"Emang ngga cuma perasaanku dari tiga yang deketin kamu, dua yang lagi diseleksi. Kalo perasaanku walau belum pernah liat orangnya yang ganteng kamu lebih suka tapi kamu kurang suka sikapnya. Tapi kalo yang ganteng juga sih cuma gantengan yang kamu suka, orangnya kalem pembawaannya baik. Nah kamu ngerasa nyaman sama yang mana?": tanyaku.
"Ih kakak curang belum diceritain koq udah tau. Aku nyaman sih sama yg kedua baik terus enak diajak ngobrol tapi koq kaya monoton. Kalo yang pertama... Ah ga ah malu": kata Tania.
"Nyosor melulu ya? bilang gini aja halalin dulu baru boleh nyosor 24 jam hehehehehe": kataku
"Tu kan koq tau sih sebel deh, jadi pilih siapa dong?": kata Tania
"Pilih yang bener bener sayang sama kamu": kataku.
"Caranya gimana?": tanya Tania.
"Ajak aja nemuin mama kamu": kataku.
"ah mama aja bisa salah pilih": kata Tania.
"Ga boleh gitu bagaimanapun itu mama kamu seorang mama punya rasa yang lebih keanaknya bisa tau mana yang bener atau yang salah": kataku.
"Tapi kaka temenin mama ya, atau ketemu sama kaka dulu baru ketemuin sama mama, lagian mama kan percaya sama kaka": kata Tania.
"Iya boleh, suruh kesini aja kasian dari tadi nungguin di warung deket belokkan": kataku.
"Kaka tau dari mana?": kata Tania
"Nebak aja": kataku.
"Hihihihi kaka bener ini yg mau serius yang atu lagi ga mau diajak ketemu keluarga aku maunya cuma nyosor doang sebel, ntar ya aku telpon dulu": kata Tania.
Tania menelpon pacarnya. Kulihat Viona sudah beres ngobrol, kulihat para ibu ibu pulang bersama anaknya masing masing. Kulihat Viona menggendong Anisa dan menuju kearah kami. Sesampainya diteras Anisa ingin dipangku oleh ku dan Viona duduk disampingku.
"Alo Anisa cantik": kata Tania.
"Alo tante tengil": kata Anisa
"Ih siapa yang ngajarin bilang tante tengil?": kata Tania.
"Bunda, kalo tante datang ayah tanya siapa yang dateng, kata bunda tante tengil": kata Anisa.
"Kaka Viona ih ngajarin yang jelek": kata Tania sambil melotot ke Viona.
Aku dan Viona tertawa.
Tak lama kemudian datang motor memasuki halaman rumah.
"Yang, siapa tuh yang dateng?": tanya Viona.
"Pacar nya tante tengil": kataku sambil tersenyum. Dan Tania mencubitku.
"Tante, jangan cubit ayah sakit tau": kata Anisa.
"Ih gemes deh Anisa dah pinter ngomong": kata Tania
Seorang cowo turun dari motor dan menghampiri kami.
"Asalamualaikum": cowo itu mengucap salam
"Wa alaikum salam, silahkan duduk": kata Viona.
Cowo itu mengajak salaman. Pertama bersalaman dengan Viona lalu denganku. Ketika bersalaman denganku cowo itu sedikit kelihatan kaget. Cowo itu lalu duduk.
"Ka, kenalin ini temen aku, namaya Diki": kata Tania.
"Iya, kenalin juga saya Viona dan suami saya Aka": kata Viona.
"Mereka kaka aku": kata Tania pada Diki.
"Yah, tuh kucing gede kok diem disana aja. Pus sini": kata Anisa sambil melambai kearah motornya Diki.
"Mana ga ada kucing?": kata Tania.
"Iya ga ada": kata Viona.
"Ada itu pus, pus sini main": kata Anisa.
"Kalo yang besar kucing, apa coba? itu seperti boneka Anisa yang belang.": kataku.
"Harimau ya yah": kata Anisa
"Iya sayang": kataku.
"Kumaha damang, Diki?": tanyaku.
"Pangestu, kumaha sawalerna?": kata Diki.
"Alhamdulillah damang": kataku.
"Diki ga pernah cerita bisa sunda": kata Tania.
"Kan ga pernah ditanya": kata Diki.
"Ih sebel malah kaka yang tau duluan": kata Tania.
"Diki mesti sabar ngadepin sikap Tania yang gampang berubah tergantung cuaca": kataku.
"Ah apaan sih kaka": kata Tania.
"Punten, koq akang tau saya orang sunda": kata Diki.
"Ayah, kucing nya mirip yang pernah ke kamar ayah, cuma yang kekamar lebih gede putih warnanya": kata Anisa.
"Masa koq ayah ga liat": kataku.
"Ayahnya lagi bobo": kata Anisa.
"Anisa ayo mandi dulu": kata Viona
"Iya bunda, tante Tania nisa mandi dulu ya, dadah pus.": kata Anisa. Viona dan Anisa kedalam rumah.
"Ih Anisa ngomong apaan sih": kata Tania.
"Namanya juga anak kecil, oh ya Diki temen kuliah Tania": tanyaku
"Ngga ka, saya satu kampus beda jurusan": kata Diki
"Oh, dah lama kenal Tania": tanyaku.
"Lumayan kenal ada setahun lebih, cuma sering ngobrolnya baru beberapa bulan": kata Diki.
"Iya ka, aku ajak kesini biar kenal ama keluargaku. Ntar kalo mau ngajak main atau kemana tau kemana harus minta ijin": kata Tania.
"Iya ka, saya serius sama Tania": kata Diki.
"Ya kalau serius Tania ajak ketemu mama": kataku.
"Sama kakak dong ketemu mamanya": kata Tania.
"Iya ayo sekarang aja": kataku.
"Makasih ka, sekalian ada yang ingin saya tanyakan pada kakak": kata Diki.
"Ya udah nanti ngobrolnya dirumah Tania": kataku.
Aku masuk kedalam rumah bilang pada Viona hendak ke rumah mama shinta. Lalu aku,Tania, dan Diki berjalan menuju rumah Tania.
Sore hari ini aku sedang santai duduk di kursi teras. Ku melihat Anisa sedang bermain dengan teman sebayanya dihalaman, sedangkan Viona sedang asik mengobrol dengan ibu ibu muda dikomplek ini sambil mengawasi anak anak yang sedang bermain.
Kulihat Tania datang setelah menyapa Viona dan ibu ibu. Tania langsung menuju ke arahku dan duduk disampingku.
"Ka, aku ingin ngomong serius": kata Tania.
"Iya ngomong aja": kataku.
"Ka, kalo milih pasangan yang baik yang gimana sih?": tanya Tania.
"Ya, pilih yang kuat agamanya": kataku
"Tapi kalo suka sama yang cakep gimana?": tanya Tania lagi.
"Ya udah pilih aja yang cakep": kataku.
"Tapi takut kaya kejadian sama mama, om Broto cakep eh kelakuannya begitu": kata Tania
"Ya kamu tinggal pilih dari tiga mana yang sreg dihati kamu": kataku.
"Perasaan tadi ga cerita deh ada tiga orang": kata Tania.
"Emang ngga cuma perasaanku dari tiga yang deketin kamu, dua yang lagi diseleksi. Kalo perasaanku walau belum pernah liat orangnya yang ganteng kamu lebih suka tapi kamu kurang suka sikapnya. Tapi kalo yang ganteng juga sih cuma gantengan yang kamu suka, orangnya kalem pembawaannya baik. Nah kamu ngerasa nyaman sama yang mana?": tanyaku.
"Ih kakak curang belum diceritain koq udah tau. Aku nyaman sih sama yg kedua baik terus enak diajak ngobrol tapi koq kaya monoton. Kalo yang pertama... Ah ga ah malu": kata Tania.
"Nyosor melulu ya? bilang gini aja halalin dulu baru boleh nyosor 24 jam hehehehehe": kataku
"Tu kan koq tau sih sebel deh, jadi pilih siapa dong?": kata Tania
"Pilih yang bener bener sayang sama kamu": kataku.
"Caranya gimana?": tanya Tania.
"Ajak aja nemuin mama kamu": kataku.
"ah mama aja bisa salah pilih": kata Tania.
"Ga boleh gitu bagaimanapun itu mama kamu seorang mama punya rasa yang lebih keanaknya bisa tau mana yang bener atau yang salah": kataku.
"Tapi kaka temenin mama ya, atau ketemu sama kaka dulu baru ketemuin sama mama, lagian mama kan percaya sama kaka": kata Tania.
"Iya boleh, suruh kesini aja kasian dari tadi nungguin di warung deket belokkan": kataku.
"Kaka tau dari mana?": kata Tania
"Nebak aja": kataku.
"Hihihihi kaka bener ini yg mau serius yang atu lagi ga mau diajak ketemu keluarga aku maunya cuma nyosor doang sebel, ntar ya aku telpon dulu": kata Tania.
Tania menelpon pacarnya. Kulihat Viona sudah beres ngobrol, kulihat para ibu ibu pulang bersama anaknya masing masing. Kulihat Viona menggendong Anisa dan menuju kearah kami. Sesampainya diteras Anisa ingin dipangku oleh ku dan Viona duduk disampingku.
"Alo Anisa cantik": kata Tania.
"Alo tante tengil": kata Anisa
"Ih siapa yang ngajarin bilang tante tengil?": kata Tania.
"Bunda, kalo tante datang ayah tanya siapa yang dateng, kata bunda tante tengil": kata Anisa.
"Kaka Viona ih ngajarin yang jelek": kata Tania sambil melotot ke Viona.
Aku dan Viona tertawa.
Tak lama kemudian datang motor memasuki halaman rumah.
"Yang, siapa tuh yang dateng?": tanya Viona.
"Pacar nya tante tengil": kataku sambil tersenyum. Dan Tania mencubitku.
"Tante, jangan cubit ayah sakit tau": kata Anisa.
"Ih gemes deh Anisa dah pinter ngomong": kata Tania
Seorang cowo turun dari motor dan menghampiri kami.
"Asalamualaikum": cowo itu mengucap salam
"Wa alaikum salam, silahkan duduk": kata Viona.
Cowo itu mengajak salaman. Pertama bersalaman dengan Viona lalu denganku. Ketika bersalaman denganku cowo itu sedikit kelihatan kaget. Cowo itu lalu duduk.
"Ka, kenalin ini temen aku, namaya Diki": kata Tania.
"Iya, kenalin juga saya Viona dan suami saya Aka": kata Viona.
"Mereka kaka aku": kata Tania pada Diki.
"Yah, tuh kucing gede kok diem disana aja. Pus sini": kata Anisa sambil melambai kearah motornya Diki.
"Mana ga ada kucing?": kata Tania.
"Iya ga ada": kata Viona.
"Ada itu pus, pus sini main": kata Anisa.
"Kalo yang besar kucing, apa coba? itu seperti boneka Anisa yang belang.": kataku.
"Harimau ya yah": kata Anisa
"Iya sayang": kataku.
"Kumaha damang, Diki?": tanyaku.
"Pangestu, kumaha sawalerna?": kata Diki.
"Alhamdulillah damang": kataku.
"Diki ga pernah cerita bisa sunda": kata Tania.
"Kan ga pernah ditanya": kata Diki.
"Ih sebel malah kaka yang tau duluan": kata Tania.
"Diki mesti sabar ngadepin sikap Tania yang gampang berubah tergantung cuaca": kataku.
"Ah apaan sih kaka": kata Tania.
"Punten, koq akang tau saya orang sunda": kata Diki.
"Ayah, kucing nya mirip yang pernah ke kamar ayah, cuma yang kekamar lebih gede putih warnanya": kata Anisa.
"Masa koq ayah ga liat": kataku.
"Ayahnya lagi bobo": kata Anisa.
"Anisa ayo mandi dulu": kata Viona
"Iya bunda, tante Tania nisa mandi dulu ya, dadah pus.": kata Anisa. Viona dan Anisa kedalam rumah.
"Ih Anisa ngomong apaan sih": kata Tania.
"Namanya juga anak kecil, oh ya Diki temen kuliah Tania": tanyaku
"Ngga ka, saya satu kampus beda jurusan": kata Diki
"Oh, dah lama kenal Tania": tanyaku.
"Lumayan kenal ada setahun lebih, cuma sering ngobrolnya baru beberapa bulan": kata Diki.
"Iya ka, aku ajak kesini biar kenal ama keluargaku. Ntar kalo mau ngajak main atau kemana tau kemana harus minta ijin": kata Tania.
"Iya ka, saya serius sama Tania": kata Diki.
"Ya kalau serius Tania ajak ketemu mama": kataku.
"Sama kakak dong ketemu mamanya": kata Tania.
"Iya ayo sekarang aja": kataku.
"Makasih ka, sekalian ada yang ingin saya tanyakan pada kakak": kata Diki.
"Ya udah nanti ngobrolnya dirumah Tania": kataku.
Aku masuk kedalam rumah bilang pada Viona hendak ke rumah mama shinta. Lalu aku,Tania, dan Diki berjalan menuju rumah Tania.
jenggalasunyi dan 6 lainnya memberi reputasi
7
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/12/02/9119792_201612020532230372.jpg)
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://dl.kaskus.id/i1109.photobucket.com/albums/h440/awtian/ob9bzx9x-1.gif)
A :
INDEX