- Beranda
- Stories from the Heart
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
...
TS
jhonsonamama
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
SELAMAT DATANG GAN DI THREAD ANE 
Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
Quote:
Sinopsis
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Quote:
Karena satu bab terlalu banyak untuk muat dalam satu post di kaskus, maka dengan ini ane minta maaf bahwa setiap bab akan dibagi menjadi 2 part. Terima kasih
Quote:
INDEX
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
Spoiler for BAB 1 Part 1:
BAB I
ACHEN
ACHEN
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Quote:
NOTE
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Diubah oleh jhonsonamama 07-02-2017 17:38
anasabila memberi reputasi
1
5.8K
Kutip
52
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jhonsonamama
#44
Spoiler for BAB IX Part 1:
BAB IX
PULAU WEH
PULAU WEH
Kesibukan siang hari di Achen berjalan seperti biasa, ramai akan aktifitas pedagang dan pembeli. Panas matahari menyelumuti Achen dengan perlahan, membuat udara terasa lembab. Siang itu, setelah shalat dzuhur dijalankan oleh kebanyakan orang Achen, Razak sudah bersiap menuju istana Sultan yang berada di jantung kota Achen. Tepat di seberang masjid besar Baiturrahman, masjid terbesar di kota Achen. Razak tidak pernah sebelumnya diundang, tentu saja tidak—maka ia memakai pakaian terbaiknya, yang terbuat dari kain sutera, dan sepatu kulit yang mengkilap. Tentu saja mengenakan serban terbaiknya juga.
Razak berjalan perlahan, menuju daerah istana, sekitar 15 menit berjalan dari rumahnya. Setelah ia berjalan melewati beberapa pasar di kota Achen, sampailah ia di kompleks istana Kesultanan yang sangat megah. Kelilingnya lebih dari setengah mil (sekitar 2 km), bentuknya hampir bulat bujur, dan sekelilingnya ada parit yang dalamnya 25 sampai 30 kaki (10 m) dan sama lebarnya, agak sukar dilalui karena terjal dan penuh semak. Tanah galiannya dibuang ke arah istana sehingga merupakan tembok; di atasnya ditanami bambu, buluh besar yang tumbuh setinggi pohon frene, dan tegak dan tebalnya sedemikian rupa hingga tak tertembus pandangan; bambu itu selalu hijau dan tak bisa dimakan api.
Tanah berbenteng itu bisa dimasuki dari sejumlah pintu, sekitar enam pintu. Pintu utama berada di bagian utara, menghadap ke kota. Di atasnya ada tembok kecil untuk menyangga serambi dengan dua pucuk meriam perunggu pada kedua belah pintu yang diarahkan kepada orang yang hendak masuk. Pintu-pintu itu terbuat dari balok susun setinggi temboknya, terbuat dari kayu yang cukup kuat dan ditutup dari dalam selain dengan gerendel juga dengan dua palang melintang besar yang masuk ke dalam tembok, dan ditutup dari dalam dengan kunci. Setiap pagi, dan setiap malam, waktu pintu-pintu istana dibuka, Sultan menyuruh bunyikan meriam.
Melalui pintu masuk yang besar inilah orang masuk ke dalam istana, apabila orang ini diundang masuk ke dalam, suatu hal yang tidak selalu terjadi. Razak berdiri di ambang pintu, dan penjaga di atas pintu yang berjumlah dua orang melihatnya berjalan dan berhenti didepan pintu istana.
“Apa keperluanmu, polisi?” teriak penjaga yang mengenakan serban merah dan memiliki badan berotot besar.
“Namaku Razak, selaku Komandan Kepolisian Patroli Achen. Kemari semata-mata hanya karena perintah Sultan.”
“Tunjukkan surat undangannya!” Kemudian Razak mengeluarkan suratnya dari saku celananya, dan menunjukkan surat itu terbuka, tinggi menghadap penjaga yang berdiri diatas tembok pintu utama. Kemudian penjaga tersebut mengangguk, dan memberikan isyarat kearah belakang; dibalik pintu, yang Razak tak bisa melihatnya. Sesaat kemudian pintu utama berderak kencang, bergetar dan terbuka. Perlahan-lahan pintu balok itu terbuka, sembari mata Razak melayangkan pandangannya kearah hamparan pelataran yang sangat luas. Tanpa disuruh lagi, Razak melangkahkan kakinya melewati pintu utama, dan badannya telah masuk sepenuhnya pada pelataran istana. Razak tercengang akan luasnya pelataran ini, kira-kira bisa diisi oleh 4000 orang yang bertempur atau 300 ekor gajah. Di sisi yang satu, Razak melihat ada gudang senjata, sebuah bangunan dari batu bata yang diatasnya ada teras, dan ditempati beberapa meriam kecil.
Lalu Razak berjalan melewati pelataran kedua, kemudian pelataran ketiga, setelah tiap kali melewati pos penjaga. Di setiap pos penjaga terlihat tiga penjaga yang teliti. Di pelataran ketigalah, penjaga kemudian memanggil Razak seraya mendekatinya. Penjaga itu mengaba-abakan Razak untuk mengikutinya, membelok dari jalan lurus menuju pelataran selanjutnya. Rumor yang beredar, masih banyak sekali pelataran di istana ini, tetapi dengan sedikit sekali keterangan mengenainya. Razak berjalan pelan mengikuti penjaga tersebut, melewati rumput hijau yang ditata sedemikian rapi sehingga seperti permadani yang indah. Lalu dihadapannya terlihat sebuah balai megah, sangat tinggi dibanding tembok batu bata yang menjaga istana ini; yang dinding-dindingnya dilapis kain emas, beludru dan kain damas. Di tempat itulah biasanya Sultan menerima pemberian-pemberian pengelana asing, lalu menjamu mereka dengan hidangan makanan yang mewah.
Penjaga tersebut kemudian mengetuk pintu balai megah tersebut, dan sesaat kemudian pintu itu terbuka dengan payah, karena berat. Dibuka oleh penjaga-penjaga lain didalam balai, tentunya juga sangat teliti menjaga balai tersebut. Pintu telah terbuka, dan terlihatlah kemegahan isi balai ini; dinding-dindingnya diselimuti kain emas yang berkilauan di mata, dan ada meja kayu panjang yang membentang pada tengah-tengah balai, untuk jamuan makanan sepertinya. Sultan terlihat sedang duduk pada meja tersebut, menunggu kedatangan Razak. Penjaga yang mengantarnya dari luar kemudian menunduk begitu sudah dekat dengan Sultan, dan kemudian pergi kearah sebelumnya. Sultan melihat Razak dengan tatapan yang serius, kemudian menyuruhnya duduk. Razak pun duduk tepat dihadapan Sultan, kemudian ia terdiam, menunggu Sultan untuk berbicara terlebih dahulu.
“Baguslah kau datang, ada hal penting yang harus kita diskusikan seperti yang tertulis pada suratku.”
“Ya Sultan, ada masalah apa sebenarnya, sehingga aku dipanggil menghadapmu, terutama didalam istana yang megah ini.”
“Sebenarnya, aku akui aku melantikmu dengan terburu-buru. Tentu saja karena kau pemuda yang hebat Razak, namun bukan hanya itulah alasanku melantikmu. Alasan lain dari pelantikanmu adalah, karena aku sendiri tidak menyukai Djamal, dan yang kedua, aku harus menghargai Sultan Turki dalam perdagangannya. Untuk masalah Sultan Turki mungkin kau sudah mengetahuinya, dan tidak akan aku bahas sekarang. Hal yang akan aku bahas ini adalah hal krusial, dan membutuhkan sebuah pemimpin polisi hebat yang tangguh, sepertimu. Apakah kau mengetahui tentang pulau di sekeliling pelabuhan Achen?”
“Ya, aku mengetahuinya. Terdapat pulau Weh dan pulau-pulau lainnya,” kata Razak.
“Pulau Weh-lah yang aku maksudkan. Disana, sedang terjadi peristiwa genting. Di sanalah, praktik sihir sedang ramai dijalankan oleh para dukun. Kau tahu, bahwa praktik sihir dan ahli-ahli sihir dilaknat oleh Allah, dan aku sebagai hamba-Nya, tidak dapat membiarkan itu begitu saja, maka dulu, aku menyuruh Djamal untuk mengatasi masalah tersebut. Tetapi, saat ia mengirim beberapa anak buahnya untuk mengatasi dukun-dukun tersebut, banyak dari anak buahnya yang tidak kembali. Djamal menyerah begitu saja, dan berkata kepadaku bahwa masalah tersebut akan diselesaikan secepatnya. Tetapi sudah satu tahun aku menunggu kabar keberhasilannya, dan tidak satupun aku mendengarnya. Maka dari itu, sekarang, tugas Djamal menjadi tugasmu sebagai Komandan Kepolisian Patroli. Dan sekaranglah momen untuk membuktikan dirimu pantas sebagai Komandan kepadaku, dengan sebuah pekerjaan yang nyata!”
Razak terdiam dan memerhatikan setiap patah kata yang keluar dari bibir Sultan, dan merinding ketika mendengar kata-kata praktik sihir dan dukun. Setelah itu Razak mengangguk pelan.
“Aku akan menjalankan tugas darimu dengan sepenuh hati Sultan!” Kemudian Sultan tersenyum, dan melanjutkan,
“Baguslah kalau begitu. Aku rasa diskusi kita telah selesai, aku akan menjamu kau dengan makanan enak, dan tentu saja sebuah tarian!” Kemudian Sultan menepuk tangannya beberapa kali, sebagai panggilan kepada pengawalnya. Satu pengawal datang kearahnya, dan mendekatkan telinganya kepada bibir Sultan, ia mengangguk dan meninggalkan balai dengan tergesa.
Kemudian tak berselang lama, wanita-wanita berpakaian aneh membawa bejana yang ditutupi oleh sebuah penutup bundar berwarna kuning kehadapan Sultan dan Razak yang telah duduk di meja panjang jamuan. Setelah diberi tanda oleh Sultan, wanita-wanita yang berjumlah sepuluh orang itu membuka bejana berisi makanan tersebut. Makanan yang disajikan banyak, ada minuman “racke” (yaitu arak), anggur nasi yang tinggi kadar alkoholnya.
Setelah jamuan makan, Sultan memanggil penarinya. Datanglah lima belas atau dua puluh perempuan yang cantik dan rupawan yang mengambil tempat di sepanjang tembok balai. Suara mereka ditingkah beberapa genderan kecil yang mereka pegang masing-masing, dan mereka menyanyikan kemenangan-kemenangan yang dicapai Sultan selama pemerintahannya. Razak terkagum akan kecantikan dan keindahan penari-penari ini, walaupun matanya seringkali tertunduk karena malu melihat perempuan-perempuan yang begitu cantik. Dandanan penari ini sangat unik namun elok, pertama di atas rambut mereka ada sebentuk topi yang terdiri dari unting-untingan emas yang banyak gerlapnya dengan jambul-jambulnya yang tinggi; topi itu ditelengkan ke sebelah telinga; mereka memakai anting-anting besar.
Bahu penari tersebut ditutupi sejenis hiasan ketat yang melingkari leher dan melebar membentuk lidah-lidah lancip lengkung seperti sinar-sinar matahari yang digambarkan, seluruhnya dari lempeng emas yang diukir aneh sekali. Di atasnya sebuah kemeja atau baju dari kain emas dengan sutera merah yang menutupi dada, dengan ikat pinggang besar yang lebar; pinggul mereka diikat ketat dengan selajur kain emas sebagaimana kebiasaan orang-orang Achen. Lengan dan kaki mereka telanjang tetapi dari pergelangan sampai siku tertutup berbagai renda emas berpermata. Di pinggang, masing-masing ada keris atau pedang yang hulu dan sarungnya penuh permata, dan tangan mereka memegang kipas besar dari emas dengan beberapa kerincing kecil di pinggirannya.
Tarian, dan jamuan makan telah usai setelah beberapa jam. Razak tidak akan melupakan pengalaman ini, ia begitu merasa terhormat telah dijamu makanan mewah dan tarian yang indah. Ia kemudian berpamitan dengan Sultan, dan diantarkan oleh seorang penjaga menuju ke gerbang utama istana; tempat Razak memasuki istana tadi. Walaupun hatinya senang, namun kerisauan segera mengambil alih pikirannya saat ia menginjakkan kaki di luar kompleks istana. Razak memiliki tugas besar dari Sultan, yaitu memberantas dukun-dukun yang bersemayam di pulau Weh. Sore hari telah datang, langit di barat kota Achen telah berwarna kemerah-merahan, Razak berniat langsung menuju pos polisi untuk menanyakan anak buahnya perihal kasus pulau Weh.
Langkah kaki Razak begitu cepat, dan akhirnya ia telah tiba di pos. Hanya ada sedikit anggota yang tersisa pada waktu itu, dan Nawal masih terlihat didalam pos. Razak memanggilnya dan berkata,
“Nawal, ada hal penting yang harus aku bicarakan,” kata Razak tergesa-gesa.
“Siap Komandan. Hal apakah itu?”
“Mari, lebih baik kita berbicara di ruanganku saja!”
Nawal mengikuti perintah Razak, ia mengikuti langkah Razak yang berjalan menuju ruangannya. Setelah mereka berdua masuk, Razak duduk di kursinya dan mulai berbicara.
“Apakah kau tahu mengenai kasus di pulau Weh?” tanya Razak. Seketika wajah Nawal memucat, dan terkejut.
“Ya...aku mengetahuinya. Oh! Pulau terkutuk itu, aku harap aku tidak akan mendengar keburukan yang terjadi di dalamnya lagi.”
“Tetapi aku ingin mengetahuinya, karena telah menjadi tugasku sekarang untuk memberantas praktik sihir di dalamnya.”
“Aku paham, Sultan sepertinya telah memberikanmu tugas yang berat Komandan. Karena dulu, Komandan Djamal pun diberikan tugas yang sama, dan tugas ini sangat memberatkan pikirannya.”
“Ya benar! Bila kau sudah mengetahuinya, maka bantulah aku, berikanlah aku semua informasi yang kau tahu mengenai pulau Weh, dan dukun-dukun didalamnya!”
“Baiklah kalau itu merupakan kemauanmu Komandan, aku akan menceritakan semua hal mengenai pulau Weh yang aku ketahui. Sebenarnya, dukun yang bertempat tinggal disana, dahulu sekali pernah tinggal di Achen, tepatnya di pedalaman hutan bagian timur, setidaknya begitulah yang aku dengar dari kabar-kabar yang berbisik di pasar maupun di masjid, terutama orangtuaku pernah bercerita seperti itu. Tidakkan kau pernah juga mendengar kisah dukun ini?”
“Ya aku kira itu merupakan hanya sekedar dongeng-dongeng dari orangtua kita, supaya kita dulu sebagai anak kecil tidak bermain di malam hari,” kata Razak.
“Memang benar, dahulu aku menganggapnya seperti itu. Karena aku juga belum pernah melihat dukun-dukun itu secara langsung, yang menurut dongeng bisa membuat keris-keris melayang dan mengeluarkan api yang bergejolak. Tetapi pada suatu hari Sultan datang langsung kemari, aku telah lupa kapan kejadiannya, aku kira sekitar lima tahun yang lalu.”
“Berarti saat aku belum menjadi anggota kepolisian maksudmu?”
“Ya benar Komandan. Sultan datang kemari dan berbicara empat mata dengan Komandan Djamal saja. Setelah mereka berbicara sekian lama, Komandan Djamal langsung menyuruh beberapa anggotanya untuk mempersenjatakan diri mereka sendiri, dan bertolak langsung ke Pulau Weh. Aku sendiri, beserta beberapa polisi pada waktu itu diminta untuk tinggal saja di Achen. Hanya anggota-anggota yang terkenal terkuat dan paling gagah beranilah yang Komandan Djamal tugaskan untuk menuju Pulau Weh. Setelah mereka pergi, kami para polisi setiap hari selalu menunggu kabar dari teman-teman kami yang bertugas itu, terutama Komandan Djamal terlihat sangat gelisah menunggu.”
“Lalu? Tidak ada satupun polisi yang kembali?” potong Razak.
“Ya...benar. Tidak ada satupun dari teman kami yang kembali setelah kami menunggu satu atau dua bulan. Lalu pada suatu hari, seorang nelayan datang kemari membawakan berita pilu. Ia melihat kapal kami, kapal anggota kepolisian terombang-ambing di lautan tanpa awak. Gemparlah seluruh anggota kepolisian, bahkan Komandan Djamal pun panik bukan main dibuatnya. Setelah Sultan mendengar kabar ini, ia sangat marah, aku pun tidak ingin mengingat-ingat kemarahan Sultan lagi, bahkan sekedar untuk bercerita kepadamu. Maka semenjak itu, Komandan Djamal selalu bersikeras menumpaskan dukun-dukun di Pulau Weh, yang berarti semakin banyak dari teman-teman anggota polisi yang mati sia-sia. Banyak sekali anggota polisi yang mati, dan bertambah banyak pula kemarahan Sultan karenanya. Begitulah semua yang kutahu tentang dukun dan Pulau Weh, karena mereka yang melihat mereka secara langsung, tidak akan hidup untuk bercerita.”
“Aduh! Tak kusangka begitu berat beban yang aku pikul!” kata Razak.
“Aku benci untuk mengatakannya, tetapi memang sangat berat. Saat kau berbicara tentang Pulau Weh, aku sangat ketakutan. Aku takut banyak dari anggota polisi yang akan kembali gugur. Komandan, maafkan bila aku lancang, tetapi misi ini merupakan misi bunuh diri, dan aku yakin anggota-anggota polisi lainnya tidak akan siap menjalankan misi seperti ini!”
“Ya, mungkin yang kau katakan tidak sepenuhnya salah Nawal. Tetapi dasar pemikiran Sultan mengenai misi ini, mengenai dukun di Achen ini, tidak salah juga. Aku tetap akan menjalankan misi ini, walaupun mungkin metode yang aku gunakan akan berbeda dengan metode Komandan Djamal dahulu.
“Metode apakah itu bila aku boleh tahu?”
“Biarlah untuk urusan metode, tetap menjadi bebanku saja Nawal. Silahkan, kembali ke pekerjaanmu,” kata Razak.
“Baiklah Komandan,” kata Nawal, lalu ia meninggalkan ruangan Razak. Tinggallah Razak sendiri di ruangannya, kecuali bersama pikirannya saja. Ia masih mempertanyakan metode yang ia rencanakan, apakah memang itu metode terbaik, atau metode terburuk, ia belum tahu pasti, sebelum ia mencobanya langsung.
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada siang hari yang panas di Achen, kegaduhan menyelimuti pos polisi. Terlihat kerumunan anggota polisi yang melingkari seseorang, dengan keheranan maupun kepanikan. Nawal terlihat diantara kerumunan, dan berbicara keras dan panik.
“Tunggu dulu Komandan! Mengapa menjadi seperti ini?!” kata Nawal, lalu yang lain menyorakinya dan membuat suara gaduh tanda setuju.
“Inilah metodeku Nawal, dan aku berhak melakukan hal yang paling baik menurutku, untuk kebaikan polisi Achen,” kata Razak yang terlihat sudah bersiap dengan peralatannya, menggandeng keris di sabuknya, mengenakan baju tebal dari kulit, dan sepatu yang terbuat dari kulit pula.
“Tetapi kau bisa terbunuh! Dan sangat besar kemungkinan kau untuk tidak kembali lagi!” teriak Nawal yang semakin geram, dan anggota polisi lain yang cemas, saling berbicara kepada sesamanya; mengeluarkan suara berbisik yang membuat gaduh.
“Selama ini, kita menggunakan kekerasan. Kita pergi kesana, ke Pulau Weh, dengan banyak manusia yang mengacungkan keris mereka! Aku rasa bila para dukun itu melakukan kekerasan, itu hanya bentuk melindungi diri mereka. Jadi, aku akan mengubah cara kita yang dahulu, cara kekerasan. Aku akan mencoba cara damai dengan berbicara terlebih dahulu kepada mereka, dan bila tidak berhasil, aku akan kembali, dan cara kekerasanlah yang akan aku tempuh,” kata Razak dengan mantap dan percaya diri, seketika kegaduhan diantara kerumunan sirna, setiap orang disana sekarang terdiam, dan berpikir.
Diubah oleh jhonsonamama 05-02-2017 21:37
0
Kutip
Balas