- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
464.8K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#2492
A Part 80
Walaupun aku sempat menatapnya sebentar, tapi aku berusaha untuk menduukan kepala, mencoba sebisa mungkin untuk menghindari kontak mata langsung dengan kak Fe. Langkah kakiku kupercepat untuk pergi secepat mungkin dari hadapanya.
***
“Ni.. makan malam kata ibu” Kata kak Fe dari luar kamarku. Semenjak pulang sekolah dari sore hari tadi sampai jam 8 malam aku belum keluar kamar. Walaupun abis basket pas sore tadi, tapi sampai saat ini aku belum lapar, jadi aku hiraukan saja ajakan kak Fe buat makan malam. Baru deh sekitar jam 10an aku kelaparan, aku keluar kamar namun dari atas aku bisa melihat kak Fe sedang duduk menonton TV. Melihat di bawah ada kak Fe jadi mengurungkan niatku untuk mengambil makanan, aku pun kembali lagi ke kamarku.
Namun perutku tak dapat diajak dikompromi lagi, sejam kemudian aku keluar kamar lagi dan bersyukur kak Fe sudah gak ada. Aku pun segera turun ke bawah mematikan tv dan menuju meja makan mencari sebongkah makanan. Wah rupanya masih ada sisa opor ayam, aku yang kelaparan pun tanpa ampun langsung mengambil nasi dan makan malam sendirian tengah malam di dalam rumah.
“Laper ya???” Tiba-tiba saja kak Fe muncul pas aku lagi enak-enaknya melahap opor ayam. Namun dia langsung pergi ke atas menuju kamarnya. Sempat kepikiran yang barusan lewat itu apakah beneran kak Fe atau halusinasiku saja, soalnya dia tiba-tiba saja muncul dan berbicara padaku.
“Ani kamu makan jam segini?” Tiba-tiba saja kali ini ayah yang muncul dihadapanku. Rupanya ayahku baru pulang, dia menghampiriku dan bergabung bersamaku di meja makan.
“Gak takut itu perutmu buncit makan jam segini.” Kata ayah.
“Enggak yah.”
Ayahku kemudian mengambil piring dan nasi dan makan bersamaku.
“Ah iya kebetulan, baru saja ayah ngobrol sama Felisha di depan. Kamu katanya puasa bicara ya sama ibu dan Felisha?” Kata ayah di sela-sela makan.
“Gak kok yah.” Jawabku
“Jangan boong Ani.”
“Gpp kok yah.”
“Ani.. Ani… ayah tau ekspresi kamu kalau lagi kesal.”
“Ani….jadi begini… seseorang itu tidak ada yang diciptakan sempurna, setiap orang pasti mempunyai sisi baik dan sisi buruknya, termasuk ayah, ibu, dan Felisha juga. Ayah mendengar tadi dari Felisha, katanya kamu menemukan sesuatu milik Felisha..”
“Itu rokok yah dan obat.” Aku memotong ucapan ayah.
“Iya rokok, terus kenapa Ani?” Tanya ayah.
“Aku gak suka rokok.” Tegasku ke ayah.
“Kan ayah ngerokok, berarti kamu gak suka ayah?”
“Bukan begitu ayah, aku gak suka aja ada orang yang udah dikasih kelebihan dalam hal apapun tapi malah merusaknya atau tidak mensyukurinya.”
“Ani seperti yang ayah bilang tadi, setiap orang punya kelebihan dan kekuranganya, kamu gak bisa berharap atau menjadikan seseorang menjadi sesuai keinginan atau harapan kamu, kelebihan dan kekurangan itulah yang menjadikan seorang manusia, itu hak mereka untuk menjadi atau melakukan apa yang mereka mau, sebagai seorang manusia lainya kita harus bisa menerima setiap kelebihan dan kekurangan dan juga tindakan atau perilaku manusia lainya.”
“Seperti halnya Felisha dan ibu yang sudah menerima kita di keluarganya, apa kamu lupa, mereka sudah menerima kita di kehidupanya, Felisha yang awalnya sukar menerima kita berdua tapi perlahan dia mulai menerimanya, apa kamu juga lupa, betapa ibu sangat menyayangi kamu ini seperti anak kandungnya?”
“Mereka berdua tidak pernah kan mempermasalahkan apa kelebihan dan kekurangan kamu dari awal, mereka kan menerima kamu apa adanya di keluarga mereka.”
Sebenarnya aku tidak mengerti ayah ini ngomong apaan, yang pasti kupingku sangat peka ketika ayah berbicara tentang bagaimana ibu sangat menyanyangiku dan juga kak Fe yang sekarang ini jauh lebih baik perlakuanya kepadaku dibandingkan dulu. Kok rasa-rasanya aku jadi jahat banget gara-gara marah dan gak berbicara sama mereka karena masalah sepele ini. Aku juga jadi berpikir hal-hal yang kak Fe lakukan dan yang pernah ibu lakukan itu bukan urusanku juga tapi urusan mereka sendiri, punya hak apa aku marah dan benci mereka atas perilaku mereka yang tak merugikan diriku.
“Sudah ya ayah ngantuk, kamu cepetan tidur besok kan sekolah.” Kata ayah seraya langsung pergi meninggalkanku.
“jangan cemberut gitu akh, anak ayah jelek kalau cemberut.”
***
Selesai membereskan meja makan dan mencuci piring, aku pun kembali ke kamar. Setelah mendengar obrolan ayah yang gak jelas itu kok aku jadi ngearasa bersalah banget sama kak Fe dan ibu. Mereka kan gak punya salah kepadaku terus kenapa aku tiba-tiba jadi males bicara sama mereka. Justru aku yang harus minta maaf karena mengacak-ngacak kamar kak Fe tanpa ijin darinya. Begitu juga aku yang marah ke ibu gara-gara mendengar perilaku ibu di masa lalu yang baru aku tahu.
***
Karena tidur larut aku pun bangun kesiangan, aku segera mandi lalu turun ke bawah untuk sarapan, disana masih ada ibu dan kak Fe yang lagi makan.
“Pagi Ani.” Sapa ibu.
“Bu…kak Fe..”
“Kenapa Ani?” Tanya ibu.
“Udah bisa ngomong sekarang?” Kata kak Fe sinis.
“Maafin aku yaaaah"
“Maaf buat apa?”
“Ya maafin aku kalau kemarin-kemarin aku marah dan gak bicara sama kalian berdua.” Kataku kepada mereka.
“Oh begitu, jadi Gimana ?” Tanya ibu melihat kak Fe.
“Gimana apa bu?” Tanya balik kak Fe ke ibu.
“Apa kita terima permintaan maaf gadis ini?” Kata ibu ke kak Fe.
“Kalau aku sih NO!” Ujar kak Fe yang beranjak pergi dari meja makan lalu mengambil tas sekolahnya.
***
“Ni.. makan malam kata ibu” Kata kak Fe dari luar kamarku. Semenjak pulang sekolah dari sore hari tadi sampai jam 8 malam aku belum keluar kamar. Walaupun abis basket pas sore tadi, tapi sampai saat ini aku belum lapar, jadi aku hiraukan saja ajakan kak Fe buat makan malam. Baru deh sekitar jam 10an aku kelaparan, aku keluar kamar namun dari atas aku bisa melihat kak Fe sedang duduk menonton TV. Melihat di bawah ada kak Fe jadi mengurungkan niatku untuk mengambil makanan, aku pun kembali lagi ke kamarku.
Namun perutku tak dapat diajak dikompromi lagi, sejam kemudian aku keluar kamar lagi dan bersyukur kak Fe sudah gak ada. Aku pun segera turun ke bawah mematikan tv dan menuju meja makan mencari sebongkah makanan. Wah rupanya masih ada sisa opor ayam, aku yang kelaparan pun tanpa ampun langsung mengambil nasi dan makan malam sendirian tengah malam di dalam rumah.
“Laper ya???” Tiba-tiba saja kak Fe muncul pas aku lagi enak-enaknya melahap opor ayam. Namun dia langsung pergi ke atas menuju kamarnya. Sempat kepikiran yang barusan lewat itu apakah beneran kak Fe atau halusinasiku saja, soalnya dia tiba-tiba saja muncul dan berbicara padaku.
“Ani kamu makan jam segini?” Tiba-tiba saja kali ini ayah yang muncul dihadapanku. Rupanya ayahku baru pulang, dia menghampiriku dan bergabung bersamaku di meja makan.
“Gak takut itu perutmu buncit makan jam segini.” Kata ayah.
“Enggak yah.”
Ayahku kemudian mengambil piring dan nasi dan makan bersamaku.
“Ah iya kebetulan, baru saja ayah ngobrol sama Felisha di depan. Kamu katanya puasa bicara ya sama ibu dan Felisha?” Kata ayah di sela-sela makan.
“Gak kok yah.” Jawabku
“Jangan boong Ani.”
“Gpp kok yah.”
“Ani.. Ani… ayah tau ekspresi kamu kalau lagi kesal.”
“Ani….jadi begini… seseorang itu tidak ada yang diciptakan sempurna, setiap orang pasti mempunyai sisi baik dan sisi buruknya, termasuk ayah, ibu, dan Felisha juga. Ayah mendengar tadi dari Felisha, katanya kamu menemukan sesuatu milik Felisha..”
“Itu rokok yah dan obat.” Aku memotong ucapan ayah.
“Iya rokok, terus kenapa Ani?” Tanya ayah.
“Aku gak suka rokok.” Tegasku ke ayah.
“Kan ayah ngerokok, berarti kamu gak suka ayah?”
“Bukan begitu ayah, aku gak suka aja ada orang yang udah dikasih kelebihan dalam hal apapun tapi malah merusaknya atau tidak mensyukurinya.”
“Ani seperti yang ayah bilang tadi, setiap orang punya kelebihan dan kekuranganya, kamu gak bisa berharap atau menjadikan seseorang menjadi sesuai keinginan atau harapan kamu, kelebihan dan kekurangan itulah yang menjadikan seorang manusia, itu hak mereka untuk menjadi atau melakukan apa yang mereka mau, sebagai seorang manusia lainya kita harus bisa menerima setiap kelebihan dan kekurangan dan juga tindakan atau perilaku manusia lainya.”
“Seperti halnya Felisha dan ibu yang sudah menerima kita di keluarganya, apa kamu lupa, mereka sudah menerima kita di kehidupanya, Felisha yang awalnya sukar menerima kita berdua tapi perlahan dia mulai menerimanya, apa kamu juga lupa, betapa ibu sangat menyayangi kamu ini seperti anak kandungnya?”
“Mereka berdua tidak pernah kan mempermasalahkan apa kelebihan dan kekurangan kamu dari awal, mereka kan menerima kamu apa adanya di keluarga mereka.”
Sebenarnya aku tidak mengerti ayah ini ngomong apaan, yang pasti kupingku sangat peka ketika ayah berbicara tentang bagaimana ibu sangat menyanyangiku dan juga kak Fe yang sekarang ini jauh lebih baik perlakuanya kepadaku dibandingkan dulu. Kok rasa-rasanya aku jadi jahat banget gara-gara marah dan gak berbicara sama mereka karena masalah sepele ini. Aku juga jadi berpikir hal-hal yang kak Fe lakukan dan yang pernah ibu lakukan itu bukan urusanku juga tapi urusan mereka sendiri, punya hak apa aku marah dan benci mereka atas perilaku mereka yang tak merugikan diriku.
“Sudah ya ayah ngantuk, kamu cepetan tidur besok kan sekolah.” Kata ayah seraya langsung pergi meninggalkanku.
“jangan cemberut gitu akh, anak ayah jelek kalau cemberut.”
***
Selesai membereskan meja makan dan mencuci piring, aku pun kembali ke kamar. Setelah mendengar obrolan ayah yang gak jelas itu kok aku jadi ngearasa bersalah banget sama kak Fe dan ibu. Mereka kan gak punya salah kepadaku terus kenapa aku tiba-tiba jadi males bicara sama mereka. Justru aku yang harus minta maaf karena mengacak-ngacak kamar kak Fe tanpa ijin darinya. Begitu juga aku yang marah ke ibu gara-gara mendengar perilaku ibu di masa lalu yang baru aku tahu.
***
Karena tidur larut aku pun bangun kesiangan, aku segera mandi lalu turun ke bawah untuk sarapan, disana masih ada ibu dan kak Fe yang lagi makan.
“Pagi Ani.” Sapa ibu.
“Bu…kak Fe..”
“Kenapa Ani?” Tanya ibu.
“Udah bisa ngomong sekarang?” Kata kak Fe sinis.
“Maafin aku yaaaah"
“Maaf buat apa?”
“Ya maafin aku kalau kemarin-kemarin aku marah dan gak bicara sama kalian berdua.” Kataku kepada mereka.
“Oh begitu, jadi Gimana ?” Tanya ibu melihat kak Fe.
“Gimana apa bu?” Tanya balik kak Fe ke ibu.
“Apa kita terima permintaan maaf gadis ini?” Kata ibu ke kak Fe.
“Kalau aku sih NO!” Ujar kak Fe yang beranjak pergi dari meja makan lalu mengambil tas sekolahnya.
0
