- Beranda
- Stories from the Heart
Cahaya Ratih (18+/Thriller Genre)
...
TS
paycho.author
Cahaya Ratih (18+/Thriller Genre)
Quote:
GanSis, ane mau ngesharecerita ane berikutnya. Ini cerita udah ane bikin 4 tahun yang lalu tapi baru ane sharesekarang.
BTW, ini cerita genre thriller, crime, and romance.
Jangan lupa komennya, yah GanSis
Ini cerita ane yang sebelumnya. Full Romance dan lumayan bikin

Tapi 18+ juga
Kunjungin GanSis
BTW, ini cerita genre thriller, crime, and romance.
Jangan lupa komennya, yah GanSis

Ini cerita ane yang sebelumnya. Full Romance dan lumayan bikin


Tapi 18+ juga

Kunjungin GanSis
Quote:
DAFTAR ISI
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
CHARACTER'S BIO: NARA
PART 33
PART 34
CHARACTER'S BIO: RATIH
PART 35
CHARACTER'S BIO: DR. OKTA
PART 36
CHARACTER'S BIO: DR. Gladys
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
EPILOGUE
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
CHARACTER'S BIO: NARA
PART 33
PART 34
CHARACTER'S BIO: RATIH
PART 35
CHARACTER'S BIO: DR. OKTA
PART 36
CHARACTER'S BIO: DR. Gladys
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
EPILOGUE
Quote:
20rb 
Makasih yahhhhh.......moga2 bisa nyampe 100rb one day......

Makasih yahhhhh.......moga2 bisa nyampe 100rb one day......
Diubah oleh paycho.author 13-05-2017 07:23
junti27 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
104.9K
Kutip
683
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
paycho.author
#58
PART 9
Quote:
Kebiasaan Nara kalau hari libur itu pasti mencari buu di toko buku bekas. Segala macam buku dicari oleh Nara, sesuai dengan suasana hatinya. Buku, majalah, sampai jurnal-jurnal ilmiah semua diborong untuk hiburan alau libur.
“Kamu Nara, kan?”
Setelah selesai membayar buku-bukunya, Nara ditegur oleh sebuah suara jernih yang ia kira tidak akan pernah didengarnya lagi. Lagi, seorang gadis bertubuh kecil seperti anak-anak memandangnya dengan mata bulatnya yang ternyata bukan berwarna hitam atau cokelat tua seperti kebanyakan orang, warna cokelat matanya sangat terang bahkan lebih dekat ke warna kuning daripada cokelat.
“Ratih? Habis beli buku apa?”
Ratih menunjukan buku yang dibelinya dengan sedikit malu-malu.
Entah mana yang seharusnya merasa lebih canggung, Nara yang membeli setumpuk buku mengenai racun atau Ratih yang membeli dua buah buku karangan Anthony LaVeyan, Satanic Bible dan Witch Bible.
“Sedang mempelajari racun?”
“Kira-kira begitulah.”
Ratih merendahkan badannya dan melepas ikatan buku-buku yang dibeli oleh Nara, kemudian melihatnya satu-persatu. Nara jadi tidak enak hati melihat Ratih berjongkok seperti itu. Dulu sepupu-sepupu perempuan Nara dilarang berjongkok seperti itu oleh neneknya, apalagi kalau pakai rok. Makanya Nara menawarkan untuk menaruh bukunya di atas meja. Tapi Ratih menolak.
Akhirnya Nara beralih ke buku-buku Satanisme yang dieli Ratih. Satanisme bukan hal yang baru untuk Nara, salah satu temannya membahas mengenai satanisme di kelas antropologi agama dan Satanisme tidak lebih dari sebuah agama yang mempromosikan hedonisme serta konsumerisme. Kenapa Ratih tertarik dengan bacaan seperti ini? Ah mungkin hanya ingin membaca, tidak ada salahnya ini.
“Aku punya banyak buku tentang racun, kalau kamu mau, boleh main ke rumahku dan membaca di sana.” Ratih bangkit dan membersihkan pakaiannya dari debu-debu, pakaiannya berwarna hitam, jadi debu terlihat jelas menempel di bajunya.
Pakaiannya dan penampilannya tidak lebih dewasa dari sebelumnya, dengan dresshitam yang bawahnya diberi renda putih, begitu juga di sekitar leher dan lengan bajunya. Rambut hitamnya dihiasi dengan sebuah bandana hitam yang juga berenda, ia lebih terlihat seperti suster di gereja Katolik jadinya.
“Rumah Ratih jauh enggak dari sini?”
“Hanya sejauh jalan kaki, kok. Tapi kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa, minggu depan aku akan kembali lagi ke sini, nanti aku bawakan buku untukmu.”
Biasanya Nara ogah diajak pergi oleh orang yang tidak dikenalnya, tapi kali ini ia tidak bisa menolak. Aneh memang kalau ia menganggap bahwa gaya bicara Ratih yang sangat formal lah yang membuat Nara yakin untuk mengikutinya.
Sejauh jalan kaki, entah maksudnya kaki siapa. Karena jaraknya tidak dekat sama sekali, sudah hampir dua puluh menit mereka berjalan, lama-lama mereka semakin jauh dari keramaian dan jalan besar, memasuki daerah seperti perkampungan dan lama-lama sepertinya jauh dari peradaban. Masih ada juga ternyata tempat seperti ini di kota yang padat begini, rumah yang jauh dari rumah lainnya dan dikelilingi seperti hutan. Secara insting Nara menjadi semakin waspada dan mulai merasa pilihannya salah. Ketika Nara hampir menyerah karena jalan yang jauh yang harus ditempuhnya, ia akhirnya menemukan sebuah rumah yang cukup besar, dan yang pasti kuno. Ia berdoa inilah rumah yang dimaksud, dan untunglah doanya terjawab.
Di dalam rumahnya sangat dingin dengan bau seperti yang Nara temukan di rumah neneknya, bau rumah tua yang sudah ada sejak abad lalu. Meski tertata rapi, ia mendapatkan kesan bahwa rumah ini tidak selalu dibersihkan. Yang paling mengganggu Nara adalah kurangnya pencahayaan di rumah ini. Di luar matahari sedang bersinar, tapi rumah ini sepertinya blank spot sehingga matahari tidak masuk sinarnya. Maklum saja, kain gorden yang besar-besar dan tebal menutupi semua jendela di rumah ini dan jejak debunya menunjukan kain itu jarang dibuka.
“Ke sebelah sini.” Ratih menunjuk ke arah tangga dan naik ke lantai atas.
Perpustakaan di rumah Ratih tidak besar, sempit dan memanjang berbentuk letter L, namun berlantai dua. Di setiap sudutnya hanya ada buku, buku, dan buku. Dari mulai yang tersusun sangat rapi di dalam rak-rak kayu yang kuno, di atas meja yang berada di dekat jendela menuju ke beranda, di sudut-sudut, menempel di dinding, bahkan di bawah tangga yang juga dijadikan rak untuk buku. Meski sepertinya buku bertebaran dimana-mana, Ratih bisa mengingat posisi buku yang ia cari. Kali ini ia mengajak Nara ke lantai dua, menuju seksi buku-buku kuno, buku-buku kuno asing, buku-buku sains kuno asing…..
“Nah, ini tempat buku-buku kimia, tapi buku yang ingin aku tunjukan sebenarnya buku ini…..”
“Waaa…..Paracelcus…..”
Entah bagaimana buku itu berada dalam koleksi perpustakaan Ratih, namun jarang sekali ada yang memiliki cetakan dari buku-buku Paracelcus, Bapak dari Toksikologi yang terkenal karena menyelidiki racun bukan hanya dari catatan-catatan kuno Bangsa Arab, Yunani, dan Romawi, tapi juga dari alam. Tulisannya masih berbau okultis, hermetis, dan alkemis, namun tanpa tulisannya toksikologi akan menjadi lain. Buku-buku itu mungkin bukan cetakan asli, tapi memilikinya pasti sangat berharga. Sayang buku itu ditulis dalam Bahasa Jerman, Jerman Kuno pula. “Ini juga mungkin bisa kamu baca.”
Medieval Arabic Toxicology: The Book on Poisons of ibn Wahshiya and its Relation to Early Native American and Greek Texts oleh Martin Levey yang berbahasa Inggris dan relatif sudah lama juga. Nara sudah mendengar mengenai buku ini, namun belum pernah menemukannya. Rasanya sudah tidak mungkin menemukan tulisan Ibnu Washshiya untuk umum, karenanya tulisan Levey inilah yang membantu para pecinta racun untuk mempelajari Book of Poison yang ditulis abad ke-9.
“Wow, mau banget gue kalau tinggal di sini.”
“Kalau kamu mau membaca, baca saja di sini. Sampai puas. Aku tinggal dulu, yah?”
“Enggak apa-apa, nih? Beneran?”
“Tidak apa-apa. Siapa sih orang yang mau mencuri buku, lagipula? Baca saja dengan tenang. Mau teh?”
Gue orang yang mau nyolong buku. Nara menggelengkan kepalanya.
Ratih benar-benar meninggalkan Nara sendirian, terlampau janggal untuk seseorang yang baru berkenalan sudah saling percaya seperti itu.
Tapi emangnya Nara mau ngapain? Mungkin Ratih memang bisa tahu kalau Nara bukan orang yang suka macam-macam dan tidak mungkin membawa lari buku-buku berharganya. Tapi untuk Nara yang terasa tidak benar tetap saja tidak benar, seorang perempuan yang tiba-tiba membawa seorang pria asing ke rumahnya dan meninggalkannya sendiri di antara buku-buku berharga misalnya, itu tidak normal baginya.
Segera setelah Ratih meninggalkannya, Nara berkeliling untuk melihat-lihat, apakah ada yang tidak sreg, yang tidak seharusnya. Berlebihan memang kalau ia berpikiran Ratih seorang psycho yang mengurungnya untuk kemudian membunuhnya seperti di film-film, hanya saja Nara tetap ingin agar ia merasa aman. Ia membuka pintu keluar yang ternyata normal-normal saja, tidak terkunci. Ratih sudah tidak ada lagi di dekat sana, mungkin sudah ada di lantai bawah. Pintu beranda juga tidak dikunci, dan tidak ada hal-hal aneh yang harus ia curigai sepertinya, barulah Nara bisa kembali ke atas dan membaca dengan tenang.
Belum ada seperempat buku ia selesaikan, Nara sudah merasa mengantuk. Buku ini bukan buku yang mudah, Bahasa Inggrisnya tidak simpel apalagi karena beberapa kata merupakan penerjemahan dari Bahasa Arab kuno, karena itu tidak mudah untuk membacanya. di pojok ruangan atas terdapat satu tempat ala lesehan di rumah makan Arab, dengan bantal-bantal di atas lantai yang ditutupi permadani. Nara pindah ke sana dan membaca sambil berbaring sampai akhirnya ia tertidur.
“Nara? Nara?” Ratih menggoncang-goncang tubuh Nara untuk membangunkannya. Lampu di sekitar perpustakaan sudah menyala semua dan di luar langit sudah berwarna hitam pekat, Ratih pun sudah berganti pakaian menggunakan baju tidur warna putih. Sudah berapa lama ia tertidur? Di sekitarnya tidak ada jam dan Nara sendiri tidak memakai arloji.
“Ini jam berapa, yah?”
“Pokoknya sudah malam, bulan sudah keluar dari tadi.”
Kalau mau pulang pasti sulit karena mengingat jalan yang tadi dilewati bahkan tidak mudah diingat di siang hari. Apa mungkin kalau ia minta diantar oleh Ratih? Tapi kasihan juga, masa meminta diantar malam-malam begini oleh perempuan?
“Kamu mau pulang, yah?” seolah bisa membaca pikirannya, Ratih menanyakan apakah Nara ingin pulang karena hari sudah gelap. Nara mengangguk dengan tidak enak hati. “Biar aku antar. Kamu pasti lupa jalan keluar.”
Ketika menolak pun Nara menolaknya dengan setengah hati, lebih karena ia memenuhi sifat chivalry, yaitu ia harus terus terlihat jantan di depan wanita, daripada ia mengakui kelemahannya dan dianggap sepele oleh wanita. Kebiasaan masyarakat patriarkis yang sebenarnya merugikan baik untuk dirinya maupun untuk perempuan. Buktinya tidak butuh waktu lama bagi Ratih untuk meyakinkan ia tidak apa-apa dan mau mengantar Nara pulang. Sebelum pulang, Ratih menyarankan agar Nara mencuci mukanya terlebih dahulu di wastafel dekat pintu perpustakaan, selain untuk menghilangkan kantuk, juga untuk membersihkan debu dari perpustakaan. Sementara Nara mencuci muka, Ratih sudah berada di bawah untuk mengenakan mantel dan menutupi kepalanya dengan hoodie mantelnya.
Di depan gerbang, terlebih dahulu Ratih mengambil sebuah lentera untuk menerangi jalan mereka. Entahlah rasanya lentera seredup itu tidak akan cukup untuk menerangi jalan yang sangat gelap. Mereka mulai berjalan dengan Ratih memimpin jalan hingga mereka sampai ke jalan besar.
Sampai ke jalan besar? Belum smpai sepuluh menit mereka berjalan Nara sudah berada di tepi jalan besar. Apa jalan yang diambil Ratih itu jalan memotong? Kenapa jalan yang ditempuh sekarang jauh lebih cepat dari jalan yang tadi? Sepertinya jalan yang mereka tempuh padahal sama saja.
“Nah, sampai di sini saja, yah?” belum sempat Nara mengucapkan terimakasih, Ratih sudah menghilang.
“Kamu Nara, kan?”
Setelah selesai membayar buku-bukunya, Nara ditegur oleh sebuah suara jernih yang ia kira tidak akan pernah didengarnya lagi. Lagi, seorang gadis bertubuh kecil seperti anak-anak memandangnya dengan mata bulatnya yang ternyata bukan berwarna hitam atau cokelat tua seperti kebanyakan orang, warna cokelat matanya sangat terang bahkan lebih dekat ke warna kuning daripada cokelat.
“Ratih? Habis beli buku apa?”
Ratih menunjukan buku yang dibelinya dengan sedikit malu-malu.
Entah mana yang seharusnya merasa lebih canggung, Nara yang membeli setumpuk buku mengenai racun atau Ratih yang membeli dua buah buku karangan Anthony LaVeyan, Satanic Bible dan Witch Bible.
“Sedang mempelajari racun?”
“Kira-kira begitulah.”
Ratih merendahkan badannya dan melepas ikatan buku-buku yang dibeli oleh Nara, kemudian melihatnya satu-persatu. Nara jadi tidak enak hati melihat Ratih berjongkok seperti itu. Dulu sepupu-sepupu perempuan Nara dilarang berjongkok seperti itu oleh neneknya, apalagi kalau pakai rok. Makanya Nara menawarkan untuk menaruh bukunya di atas meja. Tapi Ratih menolak.
Akhirnya Nara beralih ke buku-buku Satanisme yang dieli Ratih. Satanisme bukan hal yang baru untuk Nara, salah satu temannya membahas mengenai satanisme di kelas antropologi agama dan Satanisme tidak lebih dari sebuah agama yang mempromosikan hedonisme serta konsumerisme. Kenapa Ratih tertarik dengan bacaan seperti ini? Ah mungkin hanya ingin membaca, tidak ada salahnya ini.
“Aku punya banyak buku tentang racun, kalau kamu mau, boleh main ke rumahku dan membaca di sana.” Ratih bangkit dan membersihkan pakaiannya dari debu-debu, pakaiannya berwarna hitam, jadi debu terlihat jelas menempel di bajunya.
Pakaiannya dan penampilannya tidak lebih dewasa dari sebelumnya, dengan dresshitam yang bawahnya diberi renda putih, begitu juga di sekitar leher dan lengan bajunya. Rambut hitamnya dihiasi dengan sebuah bandana hitam yang juga berenda, ia lebih terlihat seperti suster di gereja Katolik jadinya.
“Rumah Ratih jauh enggak dari sini?”
“Hanya sejauh jalan kaki, kok. Tapi kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa, minggu depan aku akan kembali lagi ke sini, nanti aku bawakan buku untukmu.”
Biasanya Nara ogah diajak pergi oleh orang yang tidak dikenalnya, tapi kali ini ia tidak bisa menolak. Aneh memang kalau ia menganggap bahwa gaya bicara Ratih yang sangat formal lah yang membuat Nara yakin untuk mengikutinya.
Sejauh jalan kaki, entah maksudnya kaki siapa. Karena jaraknya tidak dekat sama sekali, sudah hampir dua puluh menit mereka berjalan, lama-lama mereka semakin jauh dari keramaian dan jalan besar, memasuki daerah seperti perkampungan dan lama-lama sepertinya jauh dari peradaban. Masih ada juga ternyata tempat seperti ini di kota yang padat begini, rumah yang jauh dari rumah lainnya dan dikelilingi seperti hutan. Secara insting Nara menjadi semakin waspada dan mulai merasa pilihannya salah. Ketika Nara hampir menyerah karena jalan yang jauh yang harus ditempuhnya, ia akhirnya menemukan sebuah rumah yang cukup besar, dan yang pasti kuno. Ia berdoa inilah rumah yang dimaksud, dan untunglah doanya terjawab.
Di dalam rumahnya sangat dingin dengan bau seperti yang Nara temukan di rumah neneknya, bau rumah tua yang sudah ada sejak abad lalu. Meski tertata rapi, ia mendapatkan kesan bahwa rumah ini tidak selalu dibersihkan. Yang paling mengganggu Nara adalah kurangnya pencahayaan di rumah ini. Di luar matahari sedang bersinar, tapi rumah ini sepertinya blank spot sehingga matahari tidak masuk sinarnya. Maklum saja, kain gorden yang besar-besar dan tebal menutupi semua jendela di rumah ini dan jejak debunya menunjukan kain itu jarang dibuka.
“Ke sebelah sini.” Ratih menunjuk ke arah tangga dan naik ke lantai atas.
Perpustakaan di rumah Ratih tidak besar, sempit dan memanjang berbentuk letter L, namun berlantai dua. Di setiap sudutnya hanya ada buku, buku, dan buku. Dari mulai yang tersusun sangat rapi di dalam rak-rak kayu yang kuno, di atas meja yang berada di dekat jendela menuju ke beranda, di sudut-sudut, menempel di dinding, bahkan di bawah tangga yang juga dijadikan rak untuk buku. Meski sepertinya buku bertebaran dimana-mana, Ratih bisa mengingat posisi buku yang ia cari. Kali ini ia mengajak Nara ke lantai dua, menuju seksi buku-buku kuno, buku-buku kuno asing, buku-buku sains kuno asing…..
“Nah, ini tempat buku-buku kimia, tapi buku yang ingin aku tunjukan sebenarnya buku ini…..”
“Waaa…..Paracelcus…..”
Entah bagaimana buku itu berada dalam koleksi perpustakaan Ratih, namun jarang sekali ada yang memiliki cetakan dari buku-buku Paracelcus, Bapak dari Toksikologi yang terkenal karena menyelidiki racun bukan hanya dari catatan-catatan kuno Bangsa Arab, Yunani, dan Romawi, tapi juga dari alam. Tulisannya masih berbau okultis, hermetis, dan alkemis, namun tanpa tulisannya toksikologi akan menjadi lain. Buku-buku itu mungkin bukan cetakan asli, tapi memilikinya pasti sangat berharga. Sayang buku itu ditulis dalam Bahasa Jerman, Jerman Kuno pula. “Ini juga mungkin bisa kamu baca.”
Medieval Arabic Toxicology: The Book on Poisons of ibn Wahshiya and its Relation to Early Native American and Greek Texts oleh Martin Levey yang berbahasa Inggris dan relatif sudah lama juga. Nara sudah mendengar mengenai buku ini, namun belum pernah menemukannya. Rasanya sudah tidak mungkin menemukan tulisan Ibnu Washshiya untuk umum, karenanya tulisan Levey inilah yang membantu para pecinta racun untuk mempelajari Book of Poison yang ditulis abad ke-9.
“Wow, mau banget gue kalau tinggal di sini.”
“Kalau kamu mau membaca, baca saja di sini. Sampai puas. Aku tinggal dulu, yah?”
“Enggak apa-apa, nih? Beneran?”
“Tidak apa-apa. Siapa sih orang yang mau mencuri buku, lagipula? Baca saja dengan tenang. Mau teh?”
Gue orang yang mau nyolong buku. Nara menggelengkan kepalanya.
Ratih benar-benar meninggalkan Nara sendirian, terlampau janggal untuk seseorang yang baru berkenalan sudah saling percaya seperti itu.
Tapi emangnya Nara mau ngapain? Mungkin Ratih memang bisa tahu kalau Nara bukan orang yang suka macam-macam dan tidak mungkin membawa lari buku-buku berharganya. Tapi untuk Nara yang terasa tidak benar tetap saja tidak benar, seorang perempuan yang tiba-tiba membawa seorang pria asing ke rumahnya dan meninggalkannya sendiri di antara buku-buku berharga misalnya, itu tidak normal baginya.
Segera setelah Ratih meninggalkannya, Nara berkeliling untuk melihat-lihat, apakah ada yang tidak sreg, yang tidak seharusnya. Berlebihan memang kalau ia berpikiran Ratih seorang psycho yang mengurungnya untuk kemudian membunuhnya seperti di film-film, hanya saja Nara tetap ingin agar ia merasa aman. Ia membuka pintu keluar yang ternyata normal-normal saja, tidak terkunci. Ratih sudah tidak ada lagi di dekat sana, mungkin sudah ada di lantai bawah. Pintu beranda juga tidak dikunci, dan tidak ada hal-hal aneh yang harus ia curigai sepertinya, barulah Nara bisa kembali ke atas dan membaca dengan tenang.
Belum ada seperempat buku ia selesaikan, Nara sudah merasa mengantuk. Buku ini bukan buku yang mudah, Bahasa Inggrisnya tidak simpel apalagi karena beberapa kata merupakan penerjemahan dari Bahasa Arab kuno, karena itu tidak mudah untuk membacanya. di pojok ruangan atas terdapat satu tempat ala lesehan di rumah makan Arab, dengan bantal-bantal di atas lantai yang ditutupi permadani. Nara pindah ke sana dan membaca sambil berbaring sampai akhirnya ia tertidur.
“Nara? Nara?” Ratih menggoncang-goncang tubuh Nara untuk membangunkannya. Lampu di sekitar perpustakaan sudah menyala semua dan di luar langit sudah berwarna hitam pekat, Ratih pun sudah berganti pakaian menggunakan baju tidur warna putih. Sudah berapa lama ia tertidur? Di sekitarnya tidak ada jam dan Nara sendiri tidak memakai arloji.
“Ini jam berapa, yah?”
“Pokoknya sudah malam, bulan sudah keluar dari tadi.”
Kalau mau pulang pasti sulit karena mengingat jalan yang tadi dilewati bahkan tidak mudah diingat di siang hari. Apa mungkin kalau ia minta diantar oleh Ratih? Tapi kasihan juga, masa meminta diantar malam-malam begini oleh perempuan?
“Kamu mau pulang, yah?” seolah bisa membaca pikirannya, Ratih menanyakan apakah Nara ingin pulang karena hari sudah gelap. Nara mengangguk dengan tidak enak hati. “Biar aku antar. Kamu pasti lupa jalan keluar.”
Ketika menolak pun Nara menolaknya dengan setengah hati, lebih karena ia memenuhi sifat chivalry, yaitu ia harus terus terlihat jantan di depan wanita, daripada ia mengakui kelemahannya dan dianggap sepele oleh wanita. Kebiasaan masyarakat patriarkis yang sebenarnya merugikan baik untuk dirinya maupun untuk perempuan. Buktinya tidak butuh waktu lama bagi Ratih untuk meyakinkan ia tidak apa-apa dan mau mengantar Nara pulang. Sebelum pulang, Ratih menyarankan agar Nara mencuci mukanya terlebih dahulu di wastafel dekat pintu perpustakaan, selain untuk menghilangkan kantuk, juga untuk membersihkan debu dari perpustakaan. Sementara Nara mencuci muka, Ratih sudah berada di bawah untuk mengenakan mantel dan menutupi kepalanya dengan hoodie mantelnya.
Di depan gerbang, terlebih dahulu Ratih mengambil sebuah lentera untuk menerangi jalan mereka. Entahlah rasanya lentera seredup itu tidak akan cukup untuk menerangi jalan yang sangat gelap. Mereka mulai berjalan dengan Ratih memimpin jalan hingga mereka sampai ke jalan besar.
Sampai ke jalan besar? Belum smpai sepuluh menit mereka berjalan Nara sudah berada di tepi jalan besar. Apa jalan yang diambil Ratih itu jalan memotong? Kenapa jalan yang ditempuh sekarang jauh lebih cepat dari jalan yang tadi? Sepertinya jalan yang mereka tempuh padahal sama saja.
“Nah, sampai di sini saja, yah?” belum sempat Nara mengucapkan terimakasih, Ratih sudah menghilang.
indrag057 dan mmuji1575 memberi reputasi
2
Kutip
Balas