- Beranda
- Stories from the Heart
Aku pergi sebentar, boleh?
...
TS
201192
Aku pergi sebentar, boleh?

Quote:
INDEX:
SATU : Ve !!!
DUA : Kak Tama
TIGA : Diam
EMPAT : Coklat
LIMA : Break Up Lexa !
ENAM : Boleh Aku Bertanya Sesuatu?
TUJUH : Tadaima
DELAPAN : Gadis Coklat
SEMBILAN : Api Cemburu
SEPULUH : Bad Day
SEBELAS : Terbongkar !!!
DUA BELAS : Revenge
TIGA BELAS : Flashback
EMPAT BELAS : Nyaman
LIMA BELAS : PUTUS
ENAM BELAS : Perkenalan
TUJUH BELAS : Akhirnya
DELAPAN BELAS : Jarak
SEMBILAN BELAS : Mayumi Baskara
DUA PULUH : Suci atau Shinta ?
DUA PULUH SATU : It's Final Choise
DUA PULUH DUA : Itu Nyata
DUA PULUH TIGA : Kecerobohan Mayu
DUA PULUH EMPAT : Terlalu berharap
Quote:
Polling
0 suara
LANJUT ??
Diubah oleh 201192 25-10-2017 22:54
anasabila memberi reputasi
1
89.6K
500
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
201192
#460
DUA PULUH : Suci atau Shinta?
DUKKK
"Aduh. . . ." Shinta meringis kecil ketika tubuhnya teduduk jatuh di depan kantin ketika hendak menuju kelas. Padahal terpaksa ia turun ke lantai 2 untuk memesan makan siang pesanan Lexa hari ini, tapi kini kotak nasi itu tumpah terjatuh di hadapannya.
"Sorry, ga sengaja. Gue ganti ya" Sambut laki-laki berambut mohawk merah itu sambil mengulurkan tangan ke arah Shinta.
Sementara Shinta masih meringis sambil mengusap siku kirinya yang terasa sedikit nyeri. "siapa sih anak kelas 2 yang gue tabrak ini, keras amat badannya kaya tembok" sungutnya.
"Hello sist,are you okay?" kembali uluran tangan dijulurkan si mohawk.
PLAK
Tepisan tangan dari Shinta cukup mengagetkannya.
"Sas sis sa sis, dikira sekolah ini toko onlen apa, gausah so'...gue bisa berdiri sendiri" Shinta mendumel berdiri sambil membersihkan bagian belakang roknya.
"Sorry, I'll pay it"
"Ya harus lah ! kan elo yang jato. . ." ucapan Shinta terhenti ketika mengangkat kepalanya dan melihat anak kelas 2 yang kini ada di hadapannya.
Shinta memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil memberikan tatapan menyelidik langsung ke sosok yang ada di depanya ini.
"Elo siapa? Anak sini juga? kok gue ga pernah liat ya sebelumnya?!".
"Oh...gue Willy, Willy Pradipta. . .gue anak baru di sekolah ini, Jadi gimana? gue ganti ya makanan lo yang barusan jatoh". Sambil (lagi) mengulurkan tangan. Kini uluran tangan itu bersambut menjadi jabatan hangat. "Gue Shinta Pratiwi, kelas 12 IPA 2".
"Loh? kok anak kelas 12 ada di lantai sini? bukannya kalian punya kantin sendiri di lantai 3 ?" ujar Willy.
"Iya, kebetulan kantin atas lagi tutup hari ini, jadi terpaksa turun ke lantai sini deh" balas Shinta ramah.
Sekilas Shinta melirik 2 strip yang terdapat pada dasi Willy "Oh, elo kelas 2 ya Will, oiya. . . mmmm..."
"Iya gue kelas 2, ada apa btw?"
"Tangan gue, tolong lepas, kan udah kenalananya" ujar Shinta pelan.
"EH. . . .HAHAHAHAHAHAHA, Sorry suka lupa diri emang tangan gue kalo liat anugrah Tuhan kaya gini" celoteh Willy, sambil melangkah masuk ke dalam kantin. "Ayo kita beli lagi pesenan elo yang gue jatohin itu" lanjutnya lagi.
"Eh iya, lupa gue, itu kan pesenan Lexa, bisa mampus gue kalo sampe telat". Sambil mengikuti langkah Willy yang masuk ke kantin Shinta menggumam dalam hati "ini gue mimpi apa bisa punya adik kelas vampire keren gini, kamera mana kamera? ini bukan lagi ada di sinetron kan?".
"Wah elo pesen 2 porsi? banyak juga makan lo ya" seloroh Willy yang melihat Shinta memesan 2 porsi makan siang.
"Enak aja, ini titipan temen gue 1, bukan punya gue semua" bantah Shinta.
"Lah, temen lu lumpuh ya?" tanya Willy.
"Maksud lo?".
"Ya masa mesen makan siang aja mesti nitip sih, kan dia yang laper, dia yang butuh. Kenapa orang lain yang mesti repot". Tanpa beban Willy berujar, Ia tak mengetahui bahwa teman Shinta yang ia judge "lumpuh" itu adalah ratu sekolahnya.
Belum sepatah kata terujar dari Shinta. . .
DRRRTT....DRRTTT....
"Sorry, a minute" ujar Willy mengangkat teleponnya.
"Ga usah, gue mau ke kelas aja, mau makan. Laper" ujar Shinta sambil berlalu.
"Okay, see u soon" ujar Willy.
- - -
"Whats'up bro?" sambut Willy ke telepon yang ada ditelinganya kini.
"Sialan lu, gue nelpon malah ditinggal ngobrol". Ujar Ryu di sebrang telpon.
"Sorry, ada urusan sama makhluk indah gue barusan. . .hehehe" Sambil menyeruput kopi kemasan yang ditangannya, matanya masih mengikuti langkah Shinta pergi barusan.
"Anak baru begundal, tobat lo buru, maen cewe mulu. Nanti balik sekolah ke rumah gue yak, maen PS bareng. Lama gue ga ada lawan". Sungut Ryu.
"Oh, ok bro, lagian lo juga ga bakal bisa menang sih lawan gue. . . .hahahahaha" tawa Willy.
- - -
Sambil mereka asik di tengah game yang sedang mereka mainkan di rumah Ryu. Willy terus tertawa atas kemenangannya dengan tanda ia bebas mencolek tepung yang di beri sedikit air pada wajah Ryu. Entah sudah berapa kekalahan yang Ryu alami. Wajahnya hampir rata terkena colekan tepung kini. Sementara wajah Willy mulus tak tercolek sedikitpun.
"BAHAHAHAHAHAHAHA. . . .Lo masih bego aja dari dulu" seloroh Willy.
"Kampret, lo yang ga ngurang-ngurang skillnya, dasar maniak game". Dumel Ryu kesal karena tak pernah menang. "Btw, emang lo masih suka maenin cewe ya? ga jadi lo incer cewe yang dulu itu?" Lanjut Ryu.
"Ya namanya juga pria rupawan, mesti bisa manfaatin lah. Hahahahahaha" Willy menimpali.
"Kampret, beneran gue woy. . ." -___-
"Hahahaha, iye-iye, dulu sempet gue deket lama sama cewe di Singapura pas tahap pemulihan. Dia perfect buat fisik seorang model, umurnya juga lebih tua di setahun kalo ga salah. Dia lumayan lama nginep lama di RS.Singapura sama gue, katanya sih ada kelainan Jantungnya". Ujar Willy datar.
"Trus kalian berlanjut?"
"Nope, She's gone. . .Katanya kalo ga salah, pas sakitnya mulai reda. Dia lanjutin kuliah ke Jepang, kuliah seni. Abis itu kita udah jarang kontak. Awal sih iya email-emailan, tapi makin kesini makin susah gue hubungin, mungkin karena jadwal kuliahnya yang padet".
"Alah dasar kampret, lonya aja yang ga niat nyari dia" lanjut Ryu.
"Ga, sebenernya gue ngarep banget ke dia, tapi yah mau gimana lagi. Lagian tadi di kantin sekolah gue ketemu cewe yang menarik. Tapi dia kelas 3, nanti lo bantuin gue yak. Hehehehe".
"Hah? lu belum seminggu disini udah mau ngegebet kakak kelas?" kacau lo Will, dasar Babon.
"Ya mumpung dia belum lulus kan bro, gapapa lah"
"Siapa namanya? jangan bilang kalo lo gatau namanya!"
"Inget gue, namanya Shinta Pratiwi"
GLEK
Tangan Ryu terhenti memainkan console game yang ia pegang, sambil melengos kaku ke Willy ia bertanya "Lo beneran mau gebet Shinta?"
"Lah emang kenapa? Something wrong bro?"
Ryu mengusap mukanya dengan telapak tangannya.
"EH jangan curang loh, nanti sore baru lo boleh apus tu make-up!"
"Will. . . ."
"Huh?"
"Don't ruin your life, stay away from her"
Sebenarnya Ryu tak punya masalah pribadi dengan Shinta, tapi mengingat Lexa adalah pecandu masalah yang selalu sepaket dengan Shinta, dan kemanapun mereka berada selalu berdua. Ryu merasa wajib menjauhkan sahabatnya ini dari masalah yang bisa menjadi rumit jika ada Lexa di dalamnya.
"Gue ga ngerti lo kenapa, tapi kalo ga bisa jelasin apa alesan lo buat gue jauhin dia, gue anggep kita saingan buat dapetin Shinta bro" Ucapan Willy serius.
"Hah? Gue? saingan? Shinta? ngaco lu will, pokoknya lu jauhin dia, itu yang terbaik menurut gue".
"Tau ah, gajelas lu bro, btw gue pinjem Hp lo bentar ya. . .mau bilang ke nyokap balik malem, pulsa gue abis". Sambil mengambil Hp Ryu yang tergeletak di atas kasur Willy beranjak keluar kamar sejenak.
"Yaelah tattoan, rambut di cat, masih aja jadi anak mamih"
Tak lama setelah menelepon, tiba-tiba Willy masuk ke kamar Ryu dengan pucat seperti baru saja melihat hantu.
"Napa lu wil?kesambet?"
"Bro. . . ." Sambil menyerahkan hpnya pada Ryu.
[I]"Apaan?"
"Itu foto di hp lo"
Ryu reflek melihat galeri foto yang Willy baru buka. Tak ada yang aneh menurutnya.
"Ada apa dengan galeri foto gue Wil?"
Willy lalu merebut hp Ryu dan mencari foto yang baru saja ia lihat. Lalu menunjukkan segera pada Ryu. Itu adalah foto Suci yang di make-over pamannya beberapa waktu lalu saat itu berkunjung ke Jepang.
"Itu. . . .Suci kan ?" Willy bertanya serius.
"Iya, kok lu tau wil?"
"Suci Van Winkelhoff kan?" ulang Wiily.
"Iya, ini kenalan gue di Jepang. Emang kenapa?" Ryu makin bingung dengan kelakuan sahabatnya yang ada di depan matanya ini.
"Dia, dia si cewe yang kelainan jantung, yang gue ceritain bro" ujar Willy sambil memegang pundak Ryu
Kini Ryu yang kaget. "Hah? serius lo Will?"
"Lo kira ngapain gue ngewarnain rambut gue kaya gini?" tuntuk Willy ke arah rambutnya.
"Eh iya bener, warnanya sama" Ryu pun tersadar.
"Gini aja wil, gue ada kontaknya, lo mau ga?" lanjut Ryu pada Willy.
"Mau lah bro!!"
"Trus Shinta gimana? lu jauhin dia, gue kasih kontak Suci. Deal?"
GLEK.
Kali ini Willy membisu, tak dapat membalas pertanyaan Ryu barusan.
"Aduh. . . ." Shinta meringis kecil ketika tubuhnya teduduk jatuh di depan kantin ketika hendak menuju kelas. Padahal terpaksa ia turun ke lantai 2 untuk memesan makan siang pesanan Lexa hari ini, tapi kini kotak nasi itu tumpah terjatuh di hadapannya.
"Sorry, ga sengaja. Gue ganti ya" Sambut laki-laki berambut mohawk merah itu sambil mengulurkan tangan ke arah Shinta.
Sementara Shinta masih meringis sambil mengusap siku kirinya yang terasa sedikit nyeri. "siapa sih anak kelas 2 yang gue tabrak ini, keras amat badannya kaya tembok" sungutnya.
"Hello sist,are you okay?" kembali uluran tangan dijulurkan si mohawk.
PLAK
Tepisan tangan dari Shinta cukup mengagetkannya.
"Sas sis sa sis, dikira sekolah ini toko onlen apa, gausah so'...gue bisa berdiri sendiri" Shinta mendumel berdiri sambil membersihkan bagian belakang roknya.
"Sorry, I'll pay it"
"Ya harus lah ! kan elo yang jato. . ." ucapan Shinta terhenti ketika mengangkat kepalanya dan melihat anak kelas 2 yang kini ada di hadapannya.
Shinta memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil memberikan tatapan menyelidik langsung ke sosok yang ada di depanya ini.
"Elo siapa? Anak sini juga? kok gue ga pernah liat ya sebelumnya?!".
"Oh...gue Willy, Willy Pradipta. . .gue anak baru di sekolah ini, Jadi gimana? gue ganti ya makanan lo yang barusan jatoh". Sambil (lagi) mengulurkan tangan. Kini uluran tangan itu bersambut menjadi jabatan hangat. "Gue Shinta Pratiwi, kelas 12 IPA 2".
"Loh? kok anak kelas 12 ada di lantai sini? bukannya kalian punya kantin sendiri di lantai 3 ?" ujar Willy.
"Iya, kebetulan kantin atas lagi tutup hari ini, jadi terpaksa turun ke lantai sini deh" balas Shinta ramah.
Sekilas Shinta melirik 2 strip yang terdapat pada dasi Willy "Oh, elo kelas 2 ya Will, oiya. . . mmmm..."
"Iya gue kelas 2, ada apa btw?"
"Tangan gue, tolong lepas, kan udah kenalananya" ujar Shinta pelan.
"EH. . . .HAHAHAHAHAHAHA, Sorry suka lupa diri emang tangan gue kalo liat anugrah Tuhan kaya gini" celoteh Willy, sambil melangkah masuk ke dalam kantin. "Ayo kita beli lagi pesenan elo yang gue jatohin itu" lanjutnya lagi.
"Eh iya, lupa gue, itu kan pesenan Lexa, bisa mampus gue kalo sampe telat". Sambil mengikuti langkah Willy yang masuk ke kantin Shinta menggumam dalam hati "ini gue mimpi apa bisa punya adik kelas vampire keren gini, kamera mana kamera? ini bukan lagi ada di sinetron kan?".
"Wah elo pesen 2 porsi? banyak juga makan lo ya" seloroh Willy yang melihat Shinta memesan 2 porsi makan siang.
"Enak aja, ini titipan temen gue 1, bukan punya gue semua" bantah Shinta.
"Lah, temen lu lumpuh ya?" tanya Willy.
"Maksud lo?".
"Ya masa mesen makan siang aja mesti nitip sih, kan dia yang laper, dia yang butuh. Kenapa orang lain yang mesti repot". Tanpa beban Willy berujar, Ia tak mengetahui bahwa teman Shinta yang ia judge "lumpuh" itu adalah ratu sekolahnya.
Belum sepatah kata terujar dari Shinta. . .
DRRRTT....DRRTTT....
"Sorry, a minute" ujar Willy mengangkat teleponnya.
"Ga usah, gue mau ke kelas aja, mau makan. Laper" ujar Shinta sambil berlalu.
"Okay, see u soon" ujar Willy.
- - -
"Whats'up bro?" sambut Willy ke telepon yang ada ditelinganya kini.
"Sialan lu, gue nelpon malah ditinggal ngobrol". Ujar Ryu di sebrang telpon.
"Sorry, ada urusan sama makhluk indah gue barusan. . .hehehe" Sambil menyeruput kopi kemasan yang ditangannya, matanya masih mengikuti langkah Shinta pergi barusan.
"Anak baru begundal, tobat lo buru, maen cewe mulu. Nanti balik sekolah ke rumah gue yak, maen PS bareng. Lama gue ga ada lawan". Sungut Ryu.
"Oh, ok bro, lagian lo juga ga bakal bisa menang sih lawan gue. . . .hahahahaha" tawa Willy.
- - -
Sambil mereka asik di tengah game yang sedang mereka mainkan di rumah Ryu. Willy terus tertawa atas kemenangannya dengan tanda ia bebas mencolek tepung yang di beri sedikit air pada wajah Ryu. Entah sudah berapa kekalahan yang Ryu alami. Wajahnya hampir rata terkena colekan tepung kini. Sementara wajah Willy mulus tak tercolek sedikitpun.
"BAHAHAHAHAHAHAHA. . . .Lo masih bego aja dari dulu" seloroh Willy.
"Kampret, lo yang ga ngurang-ngurang skillnya, dasar maniak game". Dumel Ryu kesal karena tak pernah menang. "Btw, emang lo masih suka maenin cewe ya? ga jadi lo incer cewe yang dulu itu?" Lanjut Ryu.
"Ya namanya juga pria rupawan, mesti bisa manfaatin lah. Hahahahahaha" Willy menimpali.
"Kampret, beneran gue woy. . ." -___-
"Hahahaha, iye-iye, dulu sempet gue deket lama sama cewe di Singapura pas tahap pemulihan. Dia perfect buat fisik seorang model, umurnya juga lebih tua di setahun kalo ga salah. Dia lumayan lama nginep lama di RS.Singapura sama gue, katanya sih ada kelainan Jantungnya". Ujar Willy datar.
"Trus kalian berlanjut?"
"Nope, She's gone. . .Katanya kalo ga salah, pas sakitnya mulai reda. Dia lanjutin kuliah ke Jepang, kuliah seni. Abis itu kita udah jarang kontak. Awal sih iya email-emailan, tapi makin kesini makin susah gue hubungin, mungkin karena jadwal kuliahnya yang padet".
"Alah dasar kampret, lonya aja yang ga niat nyari dia" lanjut Ryu.
"Ga, sebenernya gue ngarep banget ke dia, tapi yah mau gimana lagi. Lagian tadi di kantin sekolah gue ketemu cewe yang menarik. Tapi dia kelas 3, nanti lo bantuin gue yak. Hehehehe".
"Hah? lu belum seminggu disini udah mau ngegebet kakak kelas?" kacau lo Will, dasar Babon.
"Ya mumpung dia belum lulus kan bro, gapapa lah"
"Siapa namanya? jangan bilang kalo lo gatau namanya!"
"Inget gue, namanya Shinta Pratiwi"
GLEK
Tangan Ryu terhenti memainkan console game yang ia pegang, sambil melengos kaku ke Willy ia bertanya "Lo beneran mau gebet Shinta?"
"Lah emang kenapa? Something wrong bro?"
Ryu mengusap mukanya dengan telapak tangannya.
"EH jangan curang loh, nanti sore baru lo boleh apus tu make-up!"
"Will. . . ."
"Huh?"
"Don't ruin your life, stay away from her"
Sebenarnya Ryu tak punya masalah pribadi dengan Shinta, tapi mengingat Lexa adalah pecandu masalah yang selalu sepaket dengan Shinta, dan kemanapun mereka berada selalu berdua. Ryu merasa wajib menjauhkan sahabatnya ini dari masalah yang bisa menjadi rumit jika ada Lexa di dalamnya.
"Gue ga ngerti lo kenapa, tapi kalo ga bisa jelasin apa alesan lo buat gue jauhin dia, gue anggep kita saingan buat dapetin Shinta bro" Ucapan Willy serius.
"Hah? Gue? saingan? Shinta? ngaco lu will, pokoknya lu jauhin dia, itu yang terbaik menurut gue".
"Tau ah, gajelas lu bro, btw gue pinjem Hp lo bentar ya. . .mau bilang ke nyokap balik malem, pulsa gue abis". Sambil mengambil Hp Ryu yang tergeletak di atas kasur Willy beranjak keluar kamar sejenak.
"Yaelah tattoan, rambut di cat, masih aja jadi anak mamih"
Tak lama setelah menelepon, tiba-tiba Willy masuk ke kamar Ryu dengan pucat seperti baru saja melihat hantu.
"Napa lu wil?kesambet?"
"Bro. . . ." Sambil menyerahkan hpnya pada Ryu.
[I]"Apaan?"
"Itu foto di hp lo"
Ryu reflek melihat galeri foto yang Willy baru buka. Tak ada yang aneh menurutnya.
"Ada apa dengan galeri foto gue Wil?"
Willy lalu merebut hp Ryu dan mencari foto yang baru saja ia lihat. Lalu menunjukkan segera pada Ryu. Itu adalah foto Suci yang di make-over pamannya beberapa waktu lalu saat itu berkunjung ke Jepang.
"Itu. . . .Suci kan ?" Willy bertanya serius.
"Iya, kok lu tau wil?"
"Suci Van Winkelhoff kan?" ulang Wiily.
"Iya, ini kenalan gue di Jepang. Emang kenapa?" Ryu makin bingung dengan kelakuan sahabatnya yang ada di depan matanya ini.
"Dia, dia si cewe yang kelainan jantung, yang gue ceritain bro" ujar Willy sambil memegang pundak Ryu
Kini Ryu yang kaget. "Hah? serius lo Will?"
"Lo kira ngapain gue ngewarnain rambut gue kaya gini?" tuntuk Willy ke arah rambutnya.
"Eh iya bener, warnanya sama" Ryu pun tersadar.
"Gini aja wil, gue ada kontaknya, lo mau ga?" lanjut Ryu pada Willy.
"Mau lah bro!!"
"Trus Shinta gimana? lu jauhin dia, gue kasih kontak Suci. Deal?"
GLEK.
Kali ini Willy membisu, tak dapat membalas pertanyaan Ryu barusan.
Diubah oleh 201192 03-02-2017 11:59
0
