- Beranda
- Stories from the Heart
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
...
TS
jhonsonamama
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
SELAMAT DATANG GAN DI THREAD ANE 
Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
Quote:
Sinopsis
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Quote:
Karena satu bab terlalu banyak untuk muat dalam satu post di kaskus, maka dengan ini ane minta maaf bahwa setiap bab akan dibagi menjadi 2 part. Terima kasih
Quote:
INDEX
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
Spoiler for BAB 1 Part 1:
BAB I
ACHEN
ACHEN
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Quote:
NOTE
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Diubah oleh jhonsonamama 07-02-2017 17:38
anasabila memberi reputasi
1
5.8K
Kutip
52
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jhonsonamama
#25
Quote:
Original Posted By mazyudyud►ga ada update?
oh iya lupa gan
baru inget pas agan ngepost
Spoiler for BAB VI Part 1:
BAB VI
GARUDA
Pedang panjang yang meliuk-liuk memantulkan sinar matahari diatasnya. Pedang tersebut tidak bisa dibilang panjang, namun tidak juga bisa dibilang pendek. Pedang ini merupakan pedang unik yang sangat asing menurut orang-orang Eropa. Gagang pedang tersebut berwarna coklat muram, sedikit mengkilap. Pedang jenis ini disebut “keris”, penampilannya sangat menyerupai belati, namun sedikit besar. Keris ini mempunyai sarung pedang yang terbuat dari kayu, mengikuti setiap belokan-belokan halus yang dilihat pada keris itu sendiri. Bisa dibilang hanya Letnan Stefan-lah, satu-satunya orang Spanyol yang memiliki keris. Itu merupakan sebuah warisan dari kakeknya, yang tidak lain merupakan angkatan laut terkenal yang mendapatkan hadiah dari Sultan Achen dahulu. Keris ini diberi nama “Garuda”; merupakan nama seekor hewan yang menyerupai burung.
Garuda merupakan hewan mitologi di Sumatra, biasanya dikaitkan dengan burung Rajawali. Bila kita bahas masalah ketajaman, keris mungkin tidak terlalu tajam bila dibandingkan pedang-pedang lurus khas Eropa. Tetapi karena pedang ini tidak lurus, meliuk-liuk bak seekor ular, tusukannya menjadi sangat berbahaya. Konon, bila seorang tertusuk keris, dan dicabutnya keris dari tubuhnya, maka organ-organ dalam si orang ini akan rusak karena belokan keris—fatal sekali. Dan disinilah dia, Garuda, sudah siap menemukan tuan-nya yang baru. Letnan Stefan telah mengumumkan hadiah turnamen ini, dan hadiahnya adalah Garuda, tidak ada yang menyangka bila benda pusaka tersebut rela ia berikan demi pemenang turnamen ini. Dan di hadapan Letnan Stefan pula, finalis turnamen sudah siap bertarung, menunggu aba-aba darinya. Satu dari dua petarung ini terlihat sedang merapihkan rambut pirangnya yang mencapai leher. Ia meregangkan kaki, dan tangannya. Begitu pula petarung yang satu lagi, perawakannya yang gemuk tidak menghalanginya untuk berlari-lari kecil. Sorak sorai penonton pun menggema di lapangan ini. Mereka sudah tidak sabar, mereka tidak sabar bagaimana kedua sahabat ini bertarung demi meraih Garuda.
“Pierre! Apa kau sudah siap?” tanya Letnan Stefan dengan nyaring. Kemudian Pierre mengacungi jempolnya, tanda ia sudah siap. Letnan Stefan mengangguk.
“Rogue! Apakah kau juga sudah siap?” tanya Letnan Stefan lagi. Rogue mengangguk pelan, ia juga sudah siap. Kemudian mereka berdiri saling berhadapan pada jarak yang aman, penonton sudah mengelilingi mereka berdua seperti gerombolan semut yang melihat gula. Pierre menatap Rogue dengan tatapan datar, Rogue tersenyum sedikit, ia tahu bahwa pertarungan ini akan menarik.
Ekspresi Pierre masih datar, namun pucat. Rogue pikir ia masih tidak enak badan. Tetapi pertarungan sudah didepan mata, mereka tidak dapat berpaling. Setelah satu menit mereka bertatap muka, suara nyaring Letnan Stefan memotong suasanya tegang tersebut, “Mulai!” kemudian lapangan tempat berlangsungnya pertarungan menjadi sangat ramai, sangat ribut, hingga suara-suara penonton dapat terdengar hingga ujung Puerto De Malaga. Pierre sudah terlihat memasang kuda-kudanya seperti biasa, tangan kanan dan kirinya mengepal menutupi wajah. Rogue terlihat berbeda, tangan kirinya mengepal didepan tangan kanannya, sejajar dengan dada. Tanpa disangka, Pierre berlari sangat cepat kearah Rogue. Rogue terkejut, bukan gaya bertarung Pierre yang biasanya. Langkah kaki Pierre begitu cepat dan panjang, bila ia berlari diatas salju, sepertinya tidak akan meninggalkan jejak karena begitu ringan langkah kakinya. Rogue bersiap akan serangan, ia biarkan alam bawah sadar menguasai otaknya.
Pierre melancarkan pukulan tangan kanan dengan cepat, namun terlihat penuh kekuatan. Rogue menghindar, refleksnya berperan baik. Pukulan kedua dilancarkan Pierre, Rogue menghindar lagi dengan lihai. Rogue menunggu celah pada tubuh Pierre, tetapi anehnya sama sekali tidak ada. Walaupun Pierre sudah melancarkan pukulannya beberapa kali, dan Rogue tetap menghindar, namun tidak ada celah pada tubuh Pierre. Kecepatan pukulan Pierre begitu cepat, dan konstan. Rogue mulai kehabisan akal, ia tidak tahu sampai kapan ia harus menghindari pukulan Pierre. Karena sedikit panik, Rogue terkena pukulan Pierre tepat di perut. Kemudian di wajah, perut lagi, wajah lagi, sehingga begitu banyak pukulan Pierre yang telah mengenai badan Rogue. Tetapi Rogue sangat kuat, walaupun ia merasakan sakit, namun ia masih bugar. Pierre terlihat kelelahan akibat serangan beruntunnya, Rogue menyadari—kemudian ia mendorong tubuh Pierre menggunakan bahu kanannya. Badan Pierre yang ringan dibandingkan badan Rogue, terhempas kebelakang. Pola serangan Pierre menjadi kacau dan terganggu. Sebelum Pierre memperbaiki ritme bertarungnya, pukulan kiri Rogue sudah terbang menuju wajah Pierre.
Pierre sadar, namun susah untuk menghindar karena dorongan Rogue tadi. Hantaman kepalan Rogue terkena pipi atas Pierre, untungnya Pierre sempat memalingkan sedikit wajahnya. Pierre terhempas kekiri, kaki kirinya mencoba menyeimbangkan tubuhnya, sesaat kemudian kaki kirinya menjadi keras, dan dengan tidak disangka—kaki kirinya menjadi tumpuan untuk memutarkan pinggulnya. Dari balik badannya, tinju kiri sudah Pierre siapkan. Dengan segenap kekuatan pinggul, tinju tangan kiri Pierre melayang dengan cepat dan keras. Rogue sama sekali tidak menduganya, ia baru saja melihat Pierre kesakitan karena pukulannya, namun tidak disangka ia sudah melancarkan serangan. Sebuah pukulan keras menghantam dada kiri Rogue, seketika Rogue merasa sesak. Sebuah erangan kecil terdengar keluar dari mulut Rogue. Serangan Pierre tadi menghabiskan hampir separuh staminanya, karenanya Pierre tidak dapat meninju lagi atau bahkan menendang. Rogue kaku sejenak, badannya membungkuk kesakitan, riuh penonton semakin keras, seperti senang akan pukulan Pierre yang fatal. Kedua petarung ini berhenti sejenak dari aksi serang menyerang, Pierre terlihat diam mengumpulkan stamina, dan Rogue terlihat berusaha memulihkan rasa sakitnya.
Rogue telah pulih, namun sayangnya Pierre juga telah pulih. Dan mereka berdua dengan sangat cepat melancarkan pukulan, mereka berdua sama-sama menggunakan tangan kanannya untuk memukul, dan dengan momen yang tepat; kedua pukulan itu mengenai Pierre dan Rogue. Pukulan terhenti di wajah masing-masing lawan, tangan keduanya bersilangan seperti membentuk huruf “X”, penonton begitu terkejut dan terkesima secara bersamaan. Letnan Stefan yang daritadi mengamati seketika merasakan bulu kuduknya berdiri, ia merinding karena kagum, tidak dapat disangka pertarungan antara dua sahabat begitu hebat. Lalu, mereka menarik tangan kanannya dengan cepat, saat Rogue baru menarik tangannya, tangan kiri Pierre sudah terlihat akan meninjunya lagi. Rogue sadar, dan tidak dapat mengindar. Ia merasa yakin bahwa sekarang ia akan kalah, stamina Pierre menjadi jauh lebih baik dari pertarungan mereka sebelumnya. Pukulan Pierre dengan keras menghantam hidung Rogue, seketika Rogue merasa pusing yang hebat, namun kakinya masih terlihat kuat menumpu badannya, walaupun seperti pohon yang siap tumbang. Pierre mundur sedikit untuk mejauhi jarak dengan Rogue, takut akan serangan balasan. Namun Rogue tidak terlihat akan menyerang, untuk tetapi berdiri saja terlihat susah. Kakinya terlihat susah payang menopang badannya, kemudian Rogue menatap wajah Pierre yang tajam, namun waspada. “Selesaikan temanku,” kata Rogue dengan lemas.
Kemudian Pierre berlari cepat untuk mengakhiri pertarungan ini. Kaki kanan Pierre diangkat, dan menendang lurus kearah dada Rogue yang sudah berdiri lemas, tanpa perlawanan. Tendangan keras menghantam tubuh Rogue, badannya terpental kebelakang—dan akhirnya terjatuh. Suara badan Rogue yang menghantam tanah, tertutup oleh riuh teriakan penonton, tepuk tangan membanjiri Pierre, kemudian Pierre terdiam sejenak dengan peluh yang sudah membasahi seluruh badan. Tubuhnya berdiri tegak, kakinya berdiri dengan jarak lebar. Letnan Stefan, Sergio, Pauli, Raul, bahkan setiap mata yang memandang melihat Pierre berbeda dari sebelumnya. Tubuhnya yang tidak gemuk dan tidak kurus, berdiri dengan angkuh, namun elok. Rambut pirangnya terlihat berkibaran searah arah angin, sekarang ia terlihat sangat menawan. Bila ada wanita yang melihatnya sekarang, pasti akan menganggapnya seorang Pangeran Spanyol. Pierre langsung berjalan kearah Rogue yang masih terbaring lemah, lalu menggenggam tangannya sambil tersenyum.
“Kau sungguh kuat sekarang teman. Sepertinya kau sedikit berbeda dari Pierre yang aku kenal,” kata Rogue lemas sambil menggenggam tangan Pierre.
“Jangan berkata bodoh sekarang, ayo bangkit! Apa kau tidak malu?” kata Pierre dengan ramah, tawa kecilnya mengakhiri perkataannya. Rogue bangkit dibantu Pierre, kemudian semua penonton bertepuk tangan karena merasa puas telah melihat pertarungan yang hebat. Barangkali pertarungan mereka akan diceritakan di pub-pub kecil Malaga untuk waktu yang lama tentunya.
“Sambutlah juara turnamen gulat angkatan laut, Pierre!” teriak Letnan Stefan dengan nada yang bersemangat. Penonton sekarang meneriakkan nama Pierre beberapa kali. “Sekarang, untuk penyerahan hadiah! Majulah Pierre, dan akan kuserahkan Garuda!” kata Letnan Stefan yang sudah beridiri diujung lapangan membawa sebuah keris ditidurkan pada kedua telapaknya. Pierre tersenyum, kemudian berjalan perlahan melewati sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya. Lalu ia berdiri dihadapan Letnan Stefan, siap menerima Garuda, satu-satunya keris di seantero negeri Spanyol. Pierre menghadap wajah Letnan Stefan yang terseyum berseri-seri, kemudian menunduk untuk melihat Garuda yang sedang disarungi; mengkilat-kilat, liuknya sangat menggoda. Penonton melihat Pierre yang akan mengambil Garuda, senjata pusaka, keris yang dianggap merupakan mitos oleh masyarakat Eropa, bahkan nama keris sudah dilupakan oleh kebanyakan orang.
Garuda seperti telah memanggil Pierre yang berdiri dihadapannya, kemudian dengan perlahan Pierre meraih Garuda yang sedang tertidur dari kedua tangan Letnan Stefan. Riuh penonton tidak terbendung lagi saat Garuda pindah ke tangan Pierre. Pierre mengamati Garuda dengan tatapan kagum, belum pernah ia melihat belati semacam ini, keindahannya sekarang mengikatnya—layaknya benda sihir. Sekarang telah tiba saatnya, Garuda telah memilih tuan-nya yang baru. Pierre mengangkat kedua tangannya yang membawa Garuda, kemudian dengan perlahan melepaskan sarungnya; bunyi khas yang sangat indah terdengar, seperti simfoni yang menenggelamkan. Kilatan besi mencuat seiring sarung kayu Garuda terbuka, seperti layaknya mata yang mengintip; mencari tahu siapa tuan-nya yang baru.
Pierre sudah setengah membuka sarung Garuda, kemudian ia menarik Garuda dengan cepat; sekarang terlihatlah keelokan keris yang mengkilat, Pierre mengaguminya sesaat, kemudian badannya memutar, dan mengacungkan Garuda dengan tinggi kearah penonton. Setiap mata yang melihat, terkesima. Sosok Pierre yang mengacungkan Garuda sangat tampan dan gagah, seperti lukisan indah yang dilukis oleh seniman tersohor. Rogue, dan setiap orang yang melihat kejadian ini, tidak dapat melupakan momen ini untuk waktu yang sangat lama. Bahkan kelak, momen ini sampai menjadi kisah-kisah dongeng untuk anak-anak mereka yang menjadi saksi kejadian ini. Dengan begitu, Garuda telah memiliki tuan yang baru, dan untuk waktu yang lama.
Sebelum Pierre beranjak dari tempatnya, Letnan Stefan mendekatkan bibirnya pada kuping Pierre, seperti ingin memberitahu sesuatu yang rahasia. “Jangan sampai Garuda menggerogotimu,” kata Letnan Stefan pelan, kemudian ia pergi meninggalkan Pierre yang terlihat bingung. Dengan tidak disangka Rogue telah merangkul leher Pierre dari belakang, dan tersenyum lebar kepadanya. Rogue merasa sangat bangga kepada sahabatnya, rasa sayang telah mengalahkan rasa iri yang terdapat di hatinya.
“Ayo kawan! Traktir aku segelas sangria!,” kata Rogue bersemangat.
“Nanti malam setelah latihan, akan kupesan sangria khusus untukmu!” jawab Pierre dengan senyumnya yang lebar, ia terlihat sangat bahagia sekarang. Karena tidak mungkin orang seperti Pierre membeli sangria (anggur manis yang dicampur dengan buah-buahan), karena harganya yang mahal dan sangria identik dengan kaum bangsawan. Tidak terasa langit sudah merah pucat, matahari telah setengah bersembunyi di kejauhan, dan akan digantikan dengan cahaya bulan sebentar lagi. Latihan hari terakhir sudah usai, dan mereka telah mempelajari teknik-teknik penting dalam melaut. Tinggal hitungan hari mereka akan berangkat, meninggalkan benua biru, dan bertolak ke negeri nun jauh, Achen. Jarak dari Spanyol ke Achen belum diketahui pasti di jaman ini, para pelaut hanya menggunakan satuan waktu; yaitu berjarak dua tahun perjalanan laut, itu pun bila air laut sangat tenang sejauh Spanyol ke Achen, yang sama sekali tidak mungkin. Badai hujan pasti akan menerjang mereka di beberapa lautan, dan kadang bukannya menghambat perjalanan, namun menghentikan perjalanan untuk selamanya.
Malam ini, bintang-bintang menyala sesekali dalam hitamnya langit. Sesosok bulan memantulkan cahaya dengan terang, tubuhnya penuh malam ini. Di daerah sudut Palma-Panilla, masyarakat terlihat ramai berjalan berlalu-lalang. Pierre dan Rogue terlihat sedang berjalan sambil bergurau sesekali, mencari pub di daerah itu.
“Sudahlah, mengapa kita tidak mengunjungi Dancing Wine?” kata Rogue sambil cengengesan.
“Persetan denganmu, aku bilang selain Dancing Wine!” kata Pierre dengan ketus, dan tatapannya memerhatikan jalan. Padahal jarak dari mereka ke Dancing Wine hanya dua puluh meter.
“Lihatlah remang-remang cahaya indah disana, yakin kau tidak ingin kesana?” kata Rogue yang sambil menunjuk jauh kedepan kearah pub Dancing Wine.
“Bukankah aku sudah cerita, aku akan bertemu dengan Nashandra setelah kita kembali dari Achen,” kata Pierre. Mereka berjalan, dan Rogue masih cengengesan. Jarak mereka dengan Dancing Wine sudah sangat dekat, Pierre yakin bahwa Nashandra pasti tengah sibuk-sibuknya sekarang, dan tidak akan melihat Pierre bila sekedar melintas. Tetapi kenyataan berbeda, tiba-tiba pintu kayu Dancing Wine terbuka, dan sesosok wanita cantik keluar, yang tidak lain merupakan Nashandra. Pierre kalap, ia langsung berlari menuju gang disebelah kirinya yang gelap, dan bersembunyi di ambang gang yang gelap itu. Untungnya, Nashandra tidak melihatnya, hanya Rogue yang ia lihat sedang berdiri dengan ekspresi yang sangat bodoh.
“Hai Rogue, mengapa berdiri disana sendirian?” tanya Nashandra dengan suara lembutnya yang indah, ia juga sedikit terkejut melihat Rogue.
“Hmm… Tidak… Aku hanya sedang mencari tempat untuk minum,” karangnya dengan spontan, dan masih dengan raut wajah yang dungu. Di sebelah kirinya, Pierre sedang bersandar pada tembok gang yang gelap, dan mencoba mendengarkan apa yang mereka katakan.
“Kalau begitu masuklah! Di dalam banyak angkatan laut yang sedang minum juga,” kata Nashandra.
“Oh… Begitu… Sebenarnya aku telah berjanji dengan Pierre untuk menemuinya…,” kata Rogue dengan spontan, dan setelah itu ia merasa bodoh telah membuat karangan yang buruk.
“Ah Pierre!” kata Nashandra sedikit berteriak. “Para angkatan laut didalam membicarakannya, aku sempat mencuri dengar. Katanya ia memenangi turnamen gulat angkatan laut, dan menerima sebuah pedang, mereka bilang Pierre sangat keren, dan gagah,” kata Nashandra dengan nada yang bersemangat, ia kira Rogue belum tahu soal semua ini. Pierre yang sedang bersembunyi terlihat girang, dan melihat Garuda yang sedang tersarung rapih di ikatan sabuknya.
“Ya, ya…,” kata Rogue dengan canggung, berusaha memikirikan apa yang akan dikatakannya kalau Nashandra bertanya soal Pierre. Tiba-tiba pintu pub terbuka lagi, dan terlihat beberapa orang keluar dari pub itu dengan kondisi setengah mabuk. Orang-orang itu tidak asing, yakni Raul, Pauli, dan beberapa anggota angkatan laut lainnya. Mereka melihat Rogue yang sedang berdiri mengobrol dengan Nashandra.
“Oy Rogue! Dimana Pierre? Bukankah tadi ia pergi bersamamu?” kata Pauli, suaranya lemas, namun nyaring. Rogue sangat terkejut, berarti ia tertangkap basah karena berbohong oleh Nashandra. Saat ia lihat Nashandra, wajahnya keheranan. Kemudian Rogue sudah tidak kuat lagi, lalu dengan cepat ia berlari kabur ke gang tempat Pierre bersembunyi. Cepat sekali ia berlari, para angkatan laut, dan Nashandra keheranan, dan saling menatap kepada sesamanya. Pierre yang daritadi hanya diam, terkejut karena Rogue telah berlari kencang melewatinya, tanpa pikir panjang dan entah mengapa, Pierre ikut berlari menyusulnya. Di ujung gang, kira-kira sudah jauh dari Dancing Wine, Rogue berhenti sambil membungkuk, nafasnya tersenggal kelelahan. Pierre berlari mendekat, kemudian ikut membungkuk kelelahan, tangannya bersandar pada punggung Rogue.
“Apa yang telah kaulakukan,” kata Pierre dengan nafas yang tersenggal, masih kelelahan.
“Aku berusaha menyelamatkanmu bodoh! Sudahlah, aku jadi tidak ingin minum-minum sekarang, sepertinya aku langsung pulang untuk beristirahat,” kata Rogue yang sama lelahnya dengan Pierre.
“Yah, kurasa aku juga kalau begitu. Ingin langsung beristirahat saja,” kata Pierre.
Diubah oleh jhonsonamama 31-01-2017 19:13
0
Kutip
Balas