TS
whiteshark21
NULL
NULL
more than just none
Cerita ini lebih saya kategorikan ke Action-Mistery,yah apapun itu.
sudut pandang orang ketiga(serba tau) dan bahasa indonesia semi baku.
Sinopsis
Bagas,seorang pemuda biasa dipercaya dan diikutsertakan oleh kepolisian untuk membantu menangani kasus-kasus pembunuhan di Ibu Kota.
Keahliannya berhasil menuntun dirinya bergabung ke dalam 'Divisi 1', sebuah grup berisi sekumpulan veteran anak muda dengan keahliannya di masing-masing cabang ilmu forensik.
Rules
- nggak ada peraturan tambahan,bebas aja.
- batasan-batasannya mengacu penuh ke rules H2H & SFTH.
- komentar & teguran langsung saja dilayangkan via Post atau PM.
Warning!
- Cerita ini benang merahnya adalah tentang jagoan lawan penjahat jadi temanya nggak jauh-jauh dari kekerasan.( dengan kata lain kalau kalian sangat tabu dengan kata 'pembunuhan' dan sebagainya, sebaiknya pindah ke bacaan lain ).
- sebagian dari inti cerita ini bukan untuk ditiru atau diidolakan,begitu. ( Hal baik selalu menang jadi jangan tiru yang buruknya )
- Tokoh,Tempat,Kejadian semuanya Fiksi. (Extremely fiksi mungkin)
- Banyak hal terjadi di cerita ini;beberapa masuk akal,beberapa belum bisa dilakukan di jaman ini dan beberapa mungkin mustahil dilakukan di dunia ini.
- Berdasarkan temanya ane pribadi bilang konten cerita ini untuk umur 17 tahun ke atas atau mereka yang sudah mampu menalar cerita fiksi.
- Kentang, pasti! ( TSnya masih belum lancar menulis jadi jeda per part-nya bakalan cukup lama )
- N/A.
Isi Cerita
Spoiler for Ilustrasi karakter:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Spoiler for CHAPTER 3:
Spoiler for CHAPTER 4:
Pengumuman tutup lapak (closed permanently)
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Masukkan dan Update Cerita
Cerita GaJe, 1 hari = 10 chapter ( Random )
0%
Cerita biasa, 1 hari = 1 chapter ( 00:00 - 12:00 )
0%
Cerita lumayan, 1 hari = 1 chapter ( 12:00 - 00:00 )
0%
Cerita bagus, 2 hari = 1 chapter ( 17:00 - 20:00 )
0%
Cerita menarik, 3 hari = 2 chapter ( 12:00 & 17:00 )
0%
NULL, 7 hari = 1 chapter ( 15:00 )
0%
Diubah oleh whiteshark21 11-04-2017 20:43
anasabila memberi reputasi
1
21.4K
98
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
whiteshark21
#80
Chapter 2 - Main story
Index 20 - The reason
"digital forensik normal?" tanya Sarah memilih menunggu penjelasan lebih detail dari pada langsung menyimpulkannya sendiri.
"soalnya,mereka berempat bisa melakukan semuanya langsung di TKP,yang idealnya kalau orang normal harus memeriksanya baik dari analisis lab maupun otopsi menyeluruh" jelas Doni.
"iya juga sih,mereka berempat berbeda" balas Sarah.
"apa intinya dia ingin kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu langsung di TKP seperti mereka?" tanya Dimas.
"cuma dugaanku saja.. lebih dari itu mungkin mereka justru mau aku menyelesaikan tugasku dari kejauhan,tanpa menyentuh TKP" jawab Bagas.
"tapi kamu juga bisa kan,Gas?" tanya Sarah merasa Bagas memang bisa berbuat banyak secara langsung tanpa harus berada di belakang monitor setiap saat.
"...." Bagas masih diam sebentar sebelum ingin menjawab.
"yah,intinya divisi 1 ingin Bagas yang dulu menjadi Bagas yang sekarang" jelas Doni menyampaikan kesimpulan pribadinya.
"..!!?"
temannya memilih diam sementara dan memikirkannya,tatapan masing-masing dari mereka adalah tatapan saling memahami satu sama lain.
"ya kan? liat makluk ini.. dia bahkan nggak perlu seperangkat alat canggih di meja kerjanya.. dia udah dapat semuanya cuma bermodal satu smartphone" jelas Doni kemudian mendorong pundak Bagas dengan semangatnya.
"mereka sengaja menempatkanmu di posisi sulit yang mana kalau kamu nggak berubah maka kamu nggak akan digunakan sama mereka.. masuk akal" balas Dimas paham intinya.
"kalau kami berlima ibarat pemain basket,aku ini pemain yang kaku dan dibatasi aturan.. aku forensik yang mentaati aturan kerja,sedangkan mereka berempat sangat bebas" jelas Bagas menyusul.
"forensik free style.. seperti yang sudah disebut tadi" celoteh Doni mengingatkan sebutan tersebut.
"...."
"sebab itu aku pernah bilang ke kalian kalau aku yang sekarang bahkan sudah lupa gimana cara forensik digital bekerja.. mungkin dulunya itu juga yang mereka berempat rasakan" kata Bagas.
"ngomong-ngomong,sesudah setengah tahun lebih aku ada di divisi 1,akhirnya aku ketemu sama mahluk nggak jelas ini" kata Bagas menunjuk Doni.
"aku kira kamu nggak mau nyeritain bagianku,sialan" balas Doni tertawa.
"dulunya dia ikut jadi asisten detektif swasta.." jelas Bagas.
"walaupun cuma staff pembantu detektif swasta,karirku masih lebih jelas dari anak muda yang hilang harapan ini.. ngomong-ngomong,sebenarnya secara teknis divisi 1 nya Bagas sudah memenuhi syarat buat dianggap detektif swasta" kata Doni menunjuk Bagas.
"kalian sahabatan sejak pertama ketemu?" tanya Sarah.
"awalnya aku cuma manfaatin dia buat membantuku,nggak taunya kami emang secocok itu" jawab Doni masih dengan ekspresi happy di wajahnya.
"di satu sisi kamu ngerasa dibuang oleh rekanmu,terus di sisi lain kamu merasa diperlukan sama Doni.." kata Dimas mengira-ngira.
"sejak itu dia mulai sering bekerja buat timku dibanding buat timnya sendiri.. aku nggak tau gimana caranya dia nutup-nutupin itu dari atasannya dulu" kata Doni.
"hahaha.. pak Adam udah tau soal itu dari dulu,parah" balas Bagas terpancing untuk tertawa.
"lalu... soal divisi 1,mereka berempat sangat disayangkan sekali yah" kata Sarah masih sangat tertarik dengan topik itu.
"tentunya.. selama bertahun-tahun masyarakat kehilangan divisi 1 angkatan pertamanya,tak disangka divisi 1 yang baru kemudian muncul di tengah-tengah mereka" balas Doni merasa topik ceritanya telah dialihkan.
"setahun lebih sudah berlalu sejak mereka meninggal.." kata Dimas.
"...."
"kamu yang paling kenal mereka dibanding siapa pun" kata Sarah seakan menunggu sesuatu yang bisa diceritakan lagi dari pengalaman Bagas bersama mereka berempat.
"ya,Raka si pengamat jenazah korban.. dia pria aneh,orang-orang bilang dia punya kepribadian ganda yang bertolak belakang" jelas Bagas mengenai Raka temannya,nadanya kini lepas seperti tak punya beban lagi.
"dia menyebut kemampuannya sebagai 'mind simulation' dimana dia bisa memperkirakan 10,25,40,60 atau lebih cara ataupun kemungkinan-kemungkinan yang menyebakan korban meninggal,hanya dari melihat kondisi fisik mayatnya.. di sisi lain,kepribadian yang satunya sangat logis dan selalu memakai perhitungan forensik kriminolog" lanjutnya.
"memperkirakan? apa bisa?" tanya Sarah.
"ya,sejauh ini perkiraannya selalu tepat.. letak serta posisi tangan dan kaki,jari-jari tangan,arah muka,sorotan mata,bercak darah,kondisi pakaian,dan detail lainnya bisa ia gunakan untuk memperkirakan cara mati korban... oh,iya.. cara mati yang ku katakan di sini artinya adalah rentetan peristiwa sampai ke detail mendalam dari bagaimana seseorang bisa kehilangan nyawanya.. bukan hanya sekedar tau penyebab kematiannya saja" jawab Bagas.
"apa dia sudah mencobanya,atau bagaimana? gimana dia bisa tau cara mati korban dari hal seperti itu" tanya Dimas.
"mind simulation.. yang sering kutemui,biasanya dia menutup mata dan hanya berdiam diri di tempat selama berjam-jam kalau kami sedang tak ada kerjaan di kantor" jawab Bagas sepengetahuannya.
"dia membayangkan kronologi kejadian secara detail dan memperkirakan input dan outputnya ke pada tubuh si penderita.. itu seperti kamu membuat simulator di otakmu mengenai apa dampak yang terjadi kalau seseorang memotong urat nadi di tangannya,dsb." tambah Doni mengira-ngira.
"memangnya apa yang perlu dikira-kira menurutmu? kalau dia memotong tangannya sudah jelas dia akan mati" balas Dimas.
"buat kita hal seperti itu sepele,buat dia setiap 1cm beda kedalaman sayatnya/potongnya itu menghasilkan reaksi lanjutan yang berbeda-beda,dari situ berangkatlah teori-teori kemungkinan yang bercabang" jelas Doni lagi.
"ya,aku bisa paham.. dia mencari tau reka kejadian mundur dari korban sebelum meninggal" kata Sarah hanya sebatas mengatakannya saja.
"yop.. kalau di sebuah kasus,kejadiannya terekam CCTV atau kamera semacamnya sih nggak apa-apa.. tapi kalau nggak? Raka yang satu ini bisa menggantikannya" jelas Bagas.
"astaga.." reaksi Sarah tak menemukan kata-kata lain lagi untuk mengomentarinya.
"hei-hei-hei.. kalian berdua terlalu fokus ke kemampuannya.. coba liat sisi lainnya" suruh Doni diikuti dengan senyum ejekannya.
"kamu mau bilang kalau dengan adanya Raka,bahkan polisi sudah nggak butuh lagi rekaman CCTV kan? dengan kata lain Bagas juga nggak dibutuhkan di sesi itu" balas Dimas tak diduga ternyata menyadari hal yang dimaksud Doni.
"sial,kamu gesit juga mikirnya,Mas"
"lalu si kepribadian satunya?" tanya Dimas penasaran.
"kalau dia lebih ilmiah dan hanya bisa memakai bukti yang sudah ada.. investigasinya juga sering hanya sebatas mengetahui penyebab kematian korban dan jejak-jejak pembunuhannya" jawab Bagas.
"maksudmu?"
"dia tipe kriminolog yang fokus berfikir di dalam kotak(think inside the box),menggunakan apapun yang dia lihat,yang dia tahu.. sampai pada kondisi yang memaksanya berfikir di luar kotak(think out of the box),maka di saat itu dia akan berganti versi ke diri yang satunya tadi"
"apa gunanya kalau begitu? si tukang ngira-ngira kayaknya justru lebih berguna dari dia"
"nggak sepenuhnya bener.. keduanya punya kelemahan masing-masing,dan masing-masing kelemahannya membuka pintu menuju ke kepribadian yang berlawanan"
"hoh,jadi kelemahannya menjadi transisi untuk saling berpindah tempat" masih dari Dimas.
"ya,awalnya kami cuma tau kalau pemicunya adalah kesenangan dan kemarahan.. you know lah,seperti hulk.. Raka_01 yang emosi akan berubah jadi Raka,lalu begitu semua reda dia kembali ke Raka awal" balas Bagas.
"tapi perbedaan cara investigasi mereka juga memicu perpindahan ternyata.." lanjutnya lagi.
"jangan bingung,Raka_01 itu sebutan yang dibuat sama teman-temannya di divisi 1 buat menamai versi Raka yang lebih logis dan frendly" kata Doni.
"apa keduanya selalu bekerja sama?" tanya Sarah pendek.
"well,nggak selalu.. pembunuh amatir selalu membuat pertunjukannya terlalu simpel,jadi Raka_01(think inside the box) sendiri sudah cukup buat nanganinnya"
"si Raka_01 yang kamu maksud adalah dia yang selalu muncul di pemberitaan kan? yang dikenal bisa membaca orang lain"
"ya,kemampuannya dia kuasai karena selama masa mudanya dia sudah meneliti berbagai macam kebiasaan seseorang saat menemui kondisi-kondisi tertentu.. dia belajar dari pengalamannya saat bekerja,hampir semua gajinya ia gunakan untuk apapun agar dia bisa memasang kamera tersembunyi di tempat yang ia inginkan" jelas Bagas.
"untuk merekam kebiasaan orang-orang?" tanya Dimas menebak.
"iya,dia sudah menggeluti berbagai macam jenis pekerjaan.. dan dari sana ia dapat banyak sampel tentang perilaku manusia berdasarkan kondisi-kondisi yang lebih spesifik" jawabnya.
"baginya kekayaan adalah saat dia menghabiskan seluruh uangnya untuk mendapatkan hasil dari eksperimen sosialnya" lanjut Bagas.
"mempelajari perilaku manusia hanya dengan cara seperti itu.." kata Sarah tak mengiranya.
"yup,sesimpel itu menjadikan dia orang terhebat di jajaran kriminolog seibu kota ini" balas Bagas.
ketiganya nampak sampai kepada satu kesimpulan yang sama tentang Raka.
"nggak beda jauh,Jessica mendapat keahliannya juga dari hal yang sepele seperti mempelajari reaksi seseorang dalam tayangan acara TV dan acara-acara sejenisnya di internet,dia sedikit terbatas kalau sudah terjun ke dunia sosial maka dari itu dia jarang melakukan pengamatan langsung pada sampel di sekitarnya dan lebih suka mengamati sebuah kebohongan yang direkam menggunakan kamera(tayangan-tayangan)" lanjut Bagas.
"reaksi psikologis.. betul,kalau dia nggak punya kecenderungan bersosial yang baik maka bisa dipastikan reaksi dan respon orang-orang di sekitarnya juga akan seragam dan subjektif padanya" celetuk Sarah.
"dulu juga pernah ada rumor kalau dia bisa mengendalikan mimpinya sendiri.. dari situ,semua pengalamannya saat dia terjaga bisa ia bongkar kembali sampai ke datilnya saat dia tidur" jelas Bagas.
"iya,aku pernah denger juga soal rumor itu di kantorku yang dulu" kata Sarah sudah tak asing.
"mengetahui semua yang dibuat-buat dan semua yang asli,ia kuasai dari situ.. kemampuannya membaca orang lain menjadikan dirinya yang paling sering bertugas sebagai pengamat para saksi di tempat kejadian" jelas Bagas.
"dia sama dengan Raka kalau begitu" tebak Dimas.
"nggak juga,walau sama-sama disebut bisa membaca seseorang.. simpelnya yang Raka baca adalah penampilan luar sedangkan Jessica membaca apa yang orang lain ucapkan,di sini bisa dibilang ruang lingkup Jessica adalah membaca pikiran seseorang"
"oh,bagus.. lalu apa bedanya?" balas Dimas masih tak mengerti.
"kalau kamu berikan sebuah sampul majalah fasion pada Raka,dia akan membedakan mana model amatir dan mana model yang profesional,mana model yang singgel(single) dan mana model yang sudah merit.. tapi kamu kasih dia rekaman 10 menit percakapan telfon ke dia,dia nggak akan tau apa-apa.. baru hal itu bisa dibalik ke kondisi Jessica,itu gambaran awamnya" jelas Doni.
"apa sih Don,nggak jelas penggambaranmu itu,ngawur" kata Bagas.
"hahaha.. bukan begitu yah? tau deh,Bagas yang lebih tau tuh" balas Doni melempar kemudinya ke Bagas lagi.
"aku familiar dengan teknik membaca ekspresi wajah.. antara Raka dan Jessica,aku lebih mirip ke siapa?" tanya Sarah membuat pertanyaan Dimas menjadi lebih simpel.
"mungkin lebih ke Raka.. dia menguasai bidang visual banget soalnya"
"jadi Jessica nggak pernah pakai teknik itu semasa melakukan penyidikannya?"
"well,mungkin dia juga pakai.. aku yakin dia juga ahli soal itu, hanya saja teknik andalannya adalah membaca kondisi kejiwaan seseorang dari suaranya"
"oohh.. begini aja gampangnya,mayat menyembunyikan kebenarannya di balik penampilan,sedangkan mereka yang masih hidup menyembunyikan kebenaran di balik perkataan" kata Doni kelihatan senang dengan pemikirannya barusan.
"sip,Don.. filosofimu kuterima kali ini"
"huweeh,filosofi kepalamu,Gas"
"ternyata banyak sekali yang nggak aku tau tentang divisi 1 yang sebenarnya,yah?" kata Sarah merasa senang bisa mengetahui lebih.
"oiya,dia juga masternya dalam hal senjata api.. bahkan dia jadi satu-satunya orang di divisi 1 yang punya izin menggunakan senjata api" tambah Doni.
"ya,yang satu ini sama sulitnya untuk dipercaya.. hobi kecilnya dengan senjata api mainan justru membuatnya menjadi penembak jitu di divisi 1" tambah Bagas.
"aku malah baru tahu sisi lain jessica yang satu ini" komentar Sarah yang faktanya sangat mengidolakan jessica sejak pertama kali menonton siaran TV acara mereka.
"apa itu menonjol? maksudku,semua polisi di tempatku dulu juga dilatih untuk bisa menggunakan senjata api" tanya Dimas kembali.
"damn,Dimas.. aku juga bisa kalau cuma nembak pakek senjata api.. tapi soal akurasi,Jessica mengalahkan semuanya" jelas Bagas merinding pada potongan terakhir kalimatnya.
"habis mereka,Karina.. dia unggul di indera penciumannya,baginya zat kimia sudah tak ada yang asing lagi.. kemampuannya di bidang kimia menjadikan dia paling fleksibel,dia bisa ada di bagian pemeriksaan tersangka,dia bisa ikut juga di pemeriksaan barang bukti,tapi yang paling sering dia ada di bagian pemeriksaan jasad korban bersama Arya" jelas Bagas panjang.
"tapi,kalau kasusnya keracunan bukannya mustahil bisa mengetahui sesuatunya cuma lewat penciuman? lagi pula banyak juga zat kimia yang nggak berbau" tanya Dimas.
"ya,selain penciuman dia juga sudah terbiasa sama berbagai jenis reaksi kimia terhadap tubuh.. usia,fisik,mental,gender,suhu badan,suhu ruangan,semuanya bisa dikalkulasikan dengan waktu kematian korban karena zat beracun.. baginya setiap susunan racun selalu membutuhkan waktu yang beragam sampai mereka berhasil melumpuhkan korban" jelas Bagas lagi.
"tetap saja kan,dia harus dapat sampel racun itu dan menganalisanya dengan metode kimia?" tanya Dimas.
"reaksi,mas.. apapun yang terjadi di dalam tubuhmu akan nampak ke permukaan luar tubuhmu.. parameternya banyak,dan baginya dia cukup lihat tanda-tanda itu dari luar"
"aku belum pernah liat yang semacam itu di Amerika dulu.. kalian emang aneh kelewatan"
"yah,kata dia nggak semua zat berbahaya akan berdampak ke kondisi fisik bagian luar sih.. jadi dia juga sering menggunakan sampel darah korban buat ia campurkan dengan senyawa campurannya"
"ohh,uji lab portabel yah.. aku pernah baca artikel itu di internet dulu" sambar Sarah.
"yop.. cuma Karina sama Arya yang selalu bawa tas kemana-mana.. siapa sangka seisi tasnya bisa menggantikan semua fasilitas lab di markas kami"
"jadi cuma dia yang masih sedikit normal dan bisa disamakan dengan forensik pada umumnya yah" kata Dimas berpendapat.
"nggak ada kata normal buat keempat orang itu mas.. kamu cari saja 'alat' di lab forensik manapun yang bisa menghasilkan jaminan 100% data akurat dari pemeriksaan kimia dalam waktu kurang dari satu menit... di sisi lain,prosedur pengerjaannya juga selalu aneh" balas Bagas meyakinkan temannya itu.
"kalau Raka punya mind simulation dan Jessica bisa mengendalikan dirinya dalam alam mimpi.. Karina lebih unik,karena dia bisa memanipuasi emosi seseorang" tambahan dari Doni.
"yang terakhir si dia.. Arya,laki-laki yang sangat benci dengan garis polisi,itulah kenapa kemana pun dia pergi pasti ia selalu membawa gunting di sakunya" kata Bagas kembali ke penjelasannya.
"itu pernah ditanyakan juga di salah satu acara mereka dulu,tapi seingatku dia nggak mau menjawabnya" kata Sarah menanggapi serius.
"itu berkaitan dengan trauma saat masa kecilnya.. nggak ada satu pun TKP yang divisi 1 datangi masih memasang garis polisi.. kalau pun ada pasti kondisinya sudah terpotong"
"dia siapa? dokter forensik?" tanya Dimas.
"dia dokter kami di divisi 1.. dokter yang tetap memaksa berjalan walau kakinya dipotong" jawab Bagas ambigu.
"maksudmu?"
"dokter manapun akan selesai begitu saja kalau keluarga korban menolak proses otopsi bagian dalam mayat korban.. tapi dia nggak,dia mencari cara supaya bisa tetap dapat semua informasinya walau tanpa melakukan otopsi mendalam pada mayat sekali pun"
"dia juga ahli soal obat-obatan,terlebih jika itu jenis antibiotik.. soalnya selain ahli dalam hal bedah dia ahli juga ahli soal virus dan bakteri" tambah Doni.
"bicara soal bedah membedah.. dia mungkin sudah lupa caranya membedah seseorang" kata Bagas.
"tunggu,itu kedengaran seperti kalimatmu sebelumnya.." balas Sarah tersenyum.
"ya,mereka berempat berkembang karena melewati berbagai tantangan di bidang pekerjaannya masing-masing.. mareka adalah diriku yang saat ini,orang yang lupa bagaimana melakukan hal yang benar secara normal" jelas Bagas ikut tersenyum karena merasa dirinya aneh.
"yang dulu aku tau,dia juga bisa mengira-ngira rasa sakit yang dialami korban sebelum meninggal dunia di tangan pembunuhnya.. aku sih nggak tau kemampuan seperti itu membantu apa justru nggak berguna,yah" tambah Doni.
"itu lebih mirip sama mind simulation punya Raka,tapi sebagai dokter ahli dia akan lebih rinci di bagian anatomi syaraf tubuh penderita dibandingkan sekedar mind simulation punya Raka" kata Bagas.
"yah,itulah kurang lebih soal divisi 1" kata Bagas selesai dengan satu bab awal tentang siapa mereka,divisi 1.
"kamu ketinggalan satu.. hmmm" balas Sarah memancing.
"siapa? aku? hahahh"
"kamu kan juga resmi menjadi anggota mereka"
"aku adalah aku yang kalian kenal saat ini,perbedaanku dengan diriku yang dulu juga ku kira sudah terangkum di cerita tadi"
"kamu pernah bergabung sama mereka,lalu kamu keluar.. dan sekarang kamu kembali lagi ke kursimu saat keempatnya sudah nggak ada" kata Sarah panjang terdengar seperti sebaris kesimpulan di telinga Bagas.
"...!!?"
"apa tujuan 'baru'-mu?" tanya Sarah tiba-tiba setelahnya.
"{ apa alasanku kembali? apa tujuanku? ...jadi dia nggak cuma mendengarkan ceritaku mentah-mentah,yah.. psikolog emang luar biasanya kayaknya } ...tujuanku cuma untuk 'menangkap' mereka berlima" jawab Bagas biasa-biasa saja.
"itu bukan 'wewenang' kamu kan? kamu seorang forensik digital di tim kita" balas Sarah terdengar tak searah dengan maksud perkataan Bagas.
"aku cuma meminjamkan pengetahuanku.. ingat kan,divisi 1 generasi kedua sejatinya cuma pembantu?"
"kamu sepakat menamai tim kita divisi 0,nama yang kamu harapkan bisa lebih hebat dari divisimu sebelumnya" masih tentang percakapan Bagas dan Sarah.
"....."
"ingat kan? nol lebih tinggi dari satu,kamu bagian dari kami.. {auranya nggak seimbang saat dia bilang ingin 'menangkap' barusan.. aku kira makna di balik kata tadi justru seperti 'balas dendam' }"
"aku kembali karena dulu aku pernah membuat janji sama pak Adam.. tapi tetap saja,kalau mereka berlima terlibat di kasus yang kita tangani,aku nggak mau melepaskannya begitu saja" kata Bagas.
{ ya ampun,aku harus bilang apa lagi? ...sudahlah } batin Sarah punya hipotesanya sendiri namun memilih untuk memendamnya sekali lagi.
{ kamu yang pertama ku kenal lebih seperti orang yang putus asa karena ditinggal mati rekannya.. tapi setelah semua ini,ku kira aku tau tujuan aslimu itu apa.. } batinnya masih berlanjut.
"nggak usah khawatir,Sarah.. Bagas nggak bakalan membunuh siapapun" kata Doni entah kebetulan dari mana bisa tepat dengan perasaan Sarah.
# Jaminan dari teman terdekat.
"digital forensik normal?" tanya Sarah memilih menunggu penjelasan lebih detail dari pada langsung menyimpulkannya sendiri.
"soalnya,mereka berempat bisa melakukan semuanya langsung di TKP,yang idealnya kalau orang normal harus memeriksanya baik dari analisis lab maupun otopsi menyeluruh" jelas Doni.
"iya juga sih,mereka berempat berbeda" balas Sarah.
"apa intinya dia ingin kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu langsung di TKP seperti mereka?" tanya Dimas.
"cuma dugaanku saja.. lebih dari itu mungkin mereka justru mau aku menyelesaikan tugasku dari kejauhan,tanpa menyentuh TKP" jawab Bagas.
"tapi kamu juga bisa kan,Gas?" tanya Sarah merasa Bagas memang bisa berbuat banyak secara langsung tanpa harus berada di belakang monitor setiap saat.
"...." Bagas masih diam sebentar sebelum ingin menjawab.
"yah,intinya divisi 1 ingin Bagas yang dulu menjadi Bagas yang sekarang" jelas Doni menyampaikan kesimpulan pribadinya.
"..!!?"
temannya memilih diam sementara dan memikirkannya,tatapan masing-masing dari mereka adalah tatapan saling memahami satu sama lain.
"ya kan? liat makluk ini.. dia bahkan nggak perlu seperangkat alat canggih di meja kerjanya.. dia udah dapat semuanya cuma bermodal satu smartphone" jelas Doni kemudian mendorong pundak Bagas dengan semangatnya.
"mereka sengaja menempatkanmu di posisi sulit yang mana kalau kamu nggak berubah maka kamu nggak akan digunakan sama mereka.. masuk akal" balas Dimas paham intinya.
"kalau kami berlima ibarat pemain basket,aku ini pemain yang kaku dan dibatasi aturan.. aku forensik yang mentaati aturan kerja,sedangkan mereka berempat sangat bebas" jelas Bagas menyusul.
"forensik free style.. seperti yang sudah disebut tadi" celoteh Doni mengingatkan sebutan tersebut.
"...."
"sebab itu aku pernah bilang ke kalian kalau aku yang sekarang bahkan sudah lupa gimana cara forensik digital bekerja.. mungkin dulunya itu juga yang mereka berempat rasakan" kata Bagas.
"ngomong-ngomong,sesudah setengah tahun lebih aku ada di divisi 1,akhirnya aku ketemu sama mahluk nggak jelas ini" kata Bagas menunjuk Doni.
"aku kira kamu nggak mau nyeritain bagianku,sialan" balas Doni tertawa.
"dulunya dia ikut jadi asisten detektif swasta.." jelas Bagas.
"walaupun cuma staff pembantu detektif swasta,karirku masih lebih jelas dari anak muda yang hilang harapan ini.. ngomong-ngomong,sebenarnya secara teknis divisi 1 nya Bagas sudah memenuhi syarat buat dianggap detektif swasta" kata Doni menunjuk Bagas.
"kalian sahabatan sejak pertama ketemu?" tanya Sarah.
"awalnya aku cuma manfaatin dia buat membantuku,nggak taunya kami emang secocok itu" jawab Doni masih dengan ekspresi happy di wajahnya.
"di satu sisi kamu ngerasa dibuang oleh rekanmu,terus di sisi lain kamu merasa diperlukan sama Doni.." kata Dimas mengira-ngira.
"sejak itu dia mulai sering bekerja buat timku dibanding buat timnya sendiri.. aku nggak tau gimana caranya dia nutup-nutupin itu dari atasannya dulu" kata Doni.
"hahaha.. pak Adam udah tau soal itu dari dulu,parah" balas Bagas terpancing untuk tertawa.
"lalu... soal divisi 1,mereka berempat sangat disayangkan sekali yah" kata Sarah masih sangat tertarik dengan topik itu.
"tentunya.. selama bertahun-tahun masyarakat kehilangan divisi 1 angkatan pertamanya,tak disangka divisi 1 yang baru kemudian muncul di tengah-tengah mereka" balas Doni merasa topik ceritanya telah dialihkan.
"setahun lebih sudah berlalu sejak mereka meninggal.." kata Dimas.
"...."
"kamu yang paling kenal mereka dibanding siapa pun" kata Sarah seakan menunggu sesuatu yang bisa diceritakan lagi dari pengalaman Bagas bersama mereka berempat.
"ya,Raka si pengamat jenazah korban.. dia pria aneh,orang-orang bilang dia punya kepribadian ganda yang bertolak belakang" jelas Bagas mengenai Raka temannya,nadanya kini lepas seperti tak punya beban lagi.
"dia menyebut kemampuannya sebagai 'mind simulation' dimana dia bisa memperkirakan 10,25,40,60 atau lebih cara ataupun kemungkinan-kemungkinan yang menyebakan korban meninggal,hanya dari melihat kondisi fisik mayatnya.. di sisi lain,kepribadian yang satunya sangat logis dan selalu memakai perhitungan forensik kriminolog" lanjutnya.
"memperkirakan? apa bisa?" tanya Sarah.
"ya,sejauh ini perkiraannya selalu tepat.. letak serta posisi tangan dan kaki,jari-jari tangan,arah muka,sorotan mata,bercak darah,kondisi pakaian,dan detail lainnya bisa ia gunakan untuk memperkirakan cara mati korban... oh,iya.. cara mati yang ku katakan di sini artinya adalah rentetan peristiwa sampai ke detail mendalam dari bagaimana seseorang bisa kehilangan nyawanya.. bukan hanya sekedar tau penyebab kematiannya saja" jawab Bagas.
"apa dia sudah mencobanya,atau bagaimana? gimana dia bisa tau cara mati korban dari hal seperti itu" tanya Dimas.
"mind simulation.. yang sering kutemui,biasanya dia menutup mata dan hanya berdiam diri di tempat selama berjam-jam kalau kami sedang tak ada kerjaan di kantor" jawab Bagas sepengetahuannya.
"dia membayangkan kronologi kejadian secara detail dan memperkirakan input dan outputnya ke pada tubuh si penderita.. itu seperti kamu membuat simulator di otakmu mengenai apa dampak yang terjadi kalau seseorang memotong urat nadi di tangannya,dsb." tambah Doni mengira-ngira.
"memangnya apa yang perlu dikira-kira menurutmu? kalau dia memotong tangannya sudah jelas dia akan mati" balas Dimas.
"buat kita hal seperti itu sepele,buat dia setiap 1cm beda kedalaman sayatnya/potongnya itu menghasilkan reaksi lanjutan yang berbeda-beda,dari situ berangkatlah teori-teori kemungkinan yang bercabang" jelas Doni lagi.
"ya,aku bisa paham.. dia mencari tau reka kejadian mundur dari korban sebelum meninggal" kata Sarah hanya sebatas mengatakannya saja.
"yop.. kalau di sebuah kasus,kejadiannya terekam CCTV atau kamera semacamnya sih nggak apa-apa.. tapi kalau nggak? Raka yang satu ini bisa menggantikannya" jelas Bagas.
"astaga.." reaksi Sarah tak menemukan kata-kata lain lagi untuk mengomentarinya.
"hei-hei-hei.. kalian berdua terlalu fokus ke kemampuannya.. coba liat sisi lainnya" suruh Doni diikuti dengan senyum ejekannya.
"kamu mau bilang kalau dengan adanya Raka,bahkan polisi sudah nggak butuh lagi rekaman CCTV kan? dengan kata lain Bagas juga nggak dibutuhkan di sesi itu" balas Dimas tak diduga ternyata menyadari hal yang dimaksud Doni.
"sial,kamu gesit juga mikirnya,Mas"
"lalu si kepribadian satunya?" tanya Dimas penasaran.
"kalau dia lebih ilmiah dan hanya bisa memakai bukti yang sudah ada.. investigasinya juga sering hanya sebatas mengetahui penyebab kematian korban dan jejak-jejak pembunuhannya" jawab Bagas.
"maksudmu?"
"dia tipe kriminolog yang fokus berfikir di dalam kotak(think inside the box),menggunakan apapun yang dia lihat,yang dia tahu.. sampai pada kondisi yang memaksanya berfikir di luar kotak(think out of the box),maka di saat itu dia akan berganti versi ke diri yang satunya tadi"
"apa gunanya kalau begitu? si tukang ngira-ngira kayaknya justru lebih berguna dari dia"
"nggak sepenuhnya bener.. keduanya punya kelemahan masing-masing,dan masing-masing kelemahannya membuka pintu menuju ke kepribadian yang berlawanan"
"hoh,jadi kelemahannya menjadi transisi untuk saling berpindah tempat" masih dari Dimas.
"ya,awalnya kami cuma tau kalau pemicunya adalah kesenangan dan kemarahan.. you know lah,seperti hulk.. Raka_01 yang emosi akan berubah jadi Raka,lalu begitu semua reda dia kembali ke Raka awal" balas Bagas.
"tapi perbedaan cara investigasi mereka juga memicu perpindahan ternyata.." lanjutnya lagi.
"jangan bingung,Raka_01 itu sebutan yang dibuat sama teman-temannya di divisi 1 buat menamai versi Raka yang lebih logis dan frendly" kata Doni.
"apa keduanya selalu bekerja sama?" tanya Sarah pendek.
"well,nggak selalu.. pembunuh amatir selalu membuat pertunjukannya terlalu simpel,jadi Raka_01(think inside the box) sendiri sudah cukup buat nanganinnya"
"si Raka_01 yang kamu maksud adalah dia yang selalu muncul di pemberitaan kan? yang dikenal bisa membaca orang lain"
"ya,kemampuannya dia kuasai karena selama masa mudanya dia sudah meneliti berbagai macam kebiasaan seseorang saat menemui kondisi-kondisi tertentu.. dia belajar dari pengalamannya saat bekerja,hampir semua gajinya ia gunakan untuk apapun agar dia bisa memasang kamera tersembunyi di tempat yang ia inginkan" jelas Bagas.
"untuk merekam kebiasaan orang-orang?" tanya Dimas menebak.
"iya,dia sudah menggeluti berbagai macam jenis pekerjaan.. dan dari sana ia dapat banyak sampel tentang perilaku manusia berdasarkan kondisi-kondisi yang lebih spesifik" jawabnya.
"baginya kekayaan adalah saat dia menghabiskan seluruh uangnya untuk mendapatkan hasil dari eksperimen sosialnya" lanjut Bagas.
"mempelajari perilaku manusia hanya dengan cara seperti itu.." kata Sarah tak mengiranya.
"yup,sesimpel itu menjadikan dia orang terhebat di jajaran kriminolog seibu kota ini" balas Bagas.
ketiganya nampak sampai kepada satu kesimpulan yang sama tentang Raka.
Spoiler for Picture:
"nggak beda jauh,Jessica mendapat keahliannya juga dari hal yang sepele seperti mempelajari reaksi seseorang dalam tayangan acara TV dan acara-acara sejenisnya di internet,dia sedikit terbatas kalau sudah terjun ke dunia sosial maka dari itu dia jarang melakukan pengamatan langsung pada sampel di sekitarnya dan lebih suka mengamati sebuah kebohongan yang direkam menggunakan kamera(tayangan-tayangan)" lanjut Bagas.
"reaksi psikologis.. betul,kalau dia nggak punya kecenderungan bersosial yang baik maka bisa dipastikan reaksi dan respon orang-orang di sekitarnya juga akan seragam dan subjektif padanya" celetuk Sarah.
"dulu juga pernah ada rumor kalau dia bisa mengendalikan mimpinya sendiri.. dari situ,semua pengalamannya saat dia terjaga bisa ia bongkar kembali sampai ke datilnya saat dia tidur" jelas Bagas.
"iya,aku pernah denger juga soal rumor itu di kantorku yang dulu" kata Sarah sudah tak asing.
"mengetahui semua yang dibuat-buat dan semua yang asli,ia kuasai dari situ.. kemampuannya membaca orang lain menjadikan dirinya yang paling sering bertugas sebagai pengamat para saksi di tempat kejadian" jelas Bagas.
"dia sama dengan Raka kalau begitu" tebak Dimas.
"nggak juga,walau sama-sama disebut bisa membaca seseorang.. simpelnya yang Raka baca adalah penampilan luar sedangkan Jessica membaca apa yang orang lain ucapkan,di sini bisa dibilang ruang lingkup Jessica adalah membaca pikiran seseorang"
"oh,bagus.. lalu apa bedanya?" balas Dimas masih tak mengerti.
"kalau kamu berikan sebuah sampul majalah fasion pada Raka,dia akan membedakan mana model amatir dan mana model yang profesional,mana model yang singgel(single) dan mana model yang sudah merit.. tapi kamu kasih dia rekaman 10 menit percakapan telfon ke dia,dia nggak akan tau apa-apa.. baru hal itu bisa dibalik ke kondisi Jessica,itu gambaran awamnya" jelas Doni.
"apa sih Don,nggak jelas penggambaranmu itu,ngawur" kata Bagas.
"hahaha.. bukan begitu yah? tau deh,Bagas yang lebih tau tuh" balas Doni melempar kemudinya ke Bagas lagi.
"aku familiar dengan teknik membaca ekspresi wajah.. antara Raka dan Jessica,aku lebih mirip ke siapa?" tanya Sarah membuat pertanyaan Dimas menjadi lebih simpel.
"mungkin lebih ke Raka.. dia menguasai bidang visual banget soalnya"
"jadi Jessica nggak pernah pakai teknik itu semasa melakukan penyidikannya?"
"well,mungkin dia juga pakai.. aku yakin dia juga ahli soal itu, hanya saja teknik andalannya adalah membaca kondisi kejiwaan seseorang dari suaranya"
"oohh.. begini aja gampangnya,mayat menyembunyikan kebenarannya di balik penampilan,sedangkan mereka yang masih hidup menyembunyikan kebenaran di balik perkataan" kata Doni kelihatan senang dengan pemikirannya barusan.
"sip,Don.. filosofimu kuterima kali ini"
"huweeh,filosofi kepalamu,Gas"
"ternyata banyak sekali yang nggak aku tau tentang divisi 1 yang sebenarnya,yah?" kata Sarah merasa senang bisa mengetahui lebih.
"oiya,dia juga masternya dalam hal senjata api.. bahkan dia jadi satu-satunya orang di divisi 1 yang punya izin menggunakan senjata api" tambah Doni.
"ya,yang satu ini sama sulitnya untuk dipercaya.. hobi kecilnya dengan senjata api mainan justru membuatnya menjadi penembak jitu di divisi 1" tambah Bagas.
"aku malah baru tahu sisi lain jessica yang satu ini" komentar Sarah yang faktanya sangat mengidolakan jessica sejak pertama kali menonton siaran TV acara mereka.
"apa itu menonjol? maksudku,semua polisi di tempatku dulu juga dilatih untuk bisa menggunakan senjata api" tanya Dimas kembali.
"damn,Dimas.. aku juga bisa kalau cuma nembak pakek senjata api.. tapi soal akurasi,Jessica mengalahkan semuanya" jelas Bagas merinding pada potongan terakhir kalimatnya.
Spoiler for Picture:
"habis mereka,Karina.. dia unggul di indera penciumannya,baginya zat kimia sudah tak ada yang asing lagi.. kemampuannya di bidang kimia menjadikan dia paling fleksibel,dia bisa ada di bagian pemeriksaan tersangka,dia bisa ikut juga di pemeriksaan barang bukti,tapi yang paling sering dia ada di bagian pemeriksaan jasad korban bersama Arya" jelas Bagas panjang.
"tapi,kalau kasusnya keracunan bukannya mustahil bisa mengetahui sesuatunya cuma lewat penciuman? lagi pula banyak juga zat kimia yang nggak berbau" tanya Dimas.
"ya,selain penciuman dia juga sudah terbiasa sama berbagai jenis reaksi kimia terhadap tubuh.. usia,fisik,mental,gender,suhu badan,suhu ruangan,semuanya bisa dikalkulasikan dengan waktu kematian korban karena zat beracun.. baginya setiap susunan racun selalu membutuhkan waktu yang beragam sampai mereka berhasil melumpuhkan korban" jelas Bagas lagi.
"tetap saja kan,dia harus dapat sampel racun itu dan menganalisanya dengan metode kimia?" tanya Dimas.
"reaksi,mas.. apapun yang terjadi di dalam tubuhmu akan nampak ke permukaan luar tubuhmu.. parameternya banyak,dan baginya dia cukup lihat tanda-tanda itu dari luar"
"aku belum pernah liat yang semacam itu di Amerika dulu.. kalian emang aneh kelewatan"
"yah,kata dia nggak semua zat berbahaya akan berdampak ke kondisi fisik bagian luar sih.. jadi dia juga sering menggunakan sampel darah korban buat ia campurkan dengan senyawa campurannya"
"ohh,uji lab portabel yah.. aku pernah baca artikel itu di internet dulu" sambar Sarah.
"yop.. cuma Karina sama Arya yang selalu bawa tas kemana-mana.. siapa sangka seisi tasnya bisa menggantikan semua fasilitas lab di markas kami"
"jadi cuma dia yang masih sedikit normal dan bisa disamakan dengan forensik pada umumnya yah" kata Dimas berpendapat.
"nggak ada kata normal buat keempat orang itu mas.. kamu cari saja 'alat' di lab forensik manapun yang bisa menghasilkan jaminan 100% data akurat dari pemeriksaan kimia dalam waktu kurang dari satu menit... di sisi lain,prosedur pengerjaannya juga selalu aneh" balas Bagas meyakinkan temannya itu.
"kalau Raka punya mind simulation dan Jessica bisa mengendalikan dirinya dalam alam mimpi.. Karina lebih unik,karena dia bisa memanipuasi emosi seseorang" tambahan dari Doni.
Spoiler for Picture:
"yang terakhir si dia.. Arya,laki-laki yang sangat benci dengan garis polisi,itulah kenapa kemana pun dia pergi pasti ia selalu membawa gunting di sakunya" kata Bagas kembali ke penjelasannya.
"itu pernah ditanyakan juga di salah satu acara mereka dulu,tapi seingatku dia nggak mau menjawabnya" kata Sarah menanggapi serius.
"itu berkaitan dengan trauma saat masa kecilnya.. nggak ada satu pun TKP yang divisi 1 datangi masih memasang garis polisi.. kalau pun ada pasti kondisinya sudah terpotong"
"dia siapa? dokter forensik?" tanya Dimas.
"dia dokter kami di divisi 1.. dokter yang tetap memaksa berjalan walau kakinya dipotong" jawab Bagas ambigu.
"maksudmu?"
"dokter manapun akan selesai begitu saja kalau keluarga korban menolak proses otopsi bagian dalam mayat korban.. tapi dia nggak,dia mencari cara supaya bisa tetap dapat semua informasinya walau tanpa melakukan otopsi mendalam pada mayat sekali pun"
"dia juga ahli soal obat-obatan,terlebih jika itu jenis antibiotik.. soalnya selain ahli dalam hal bedah dia ahli juga ahli soal virus dan bakteri" tambah Doni.
"bicara soal bedah membedah.. dia mungkin sudah lupa caranya membedah seseorang" kata Bagas.
"tunggu,itu kedengaran seperti kalimatmu sebelumnya.." balas Sarah tersenyum.
"ya,mereka berempat berkembang karena melewati berbagai tantangan di bidang pekerjaannya masing-masing.. mareka adalah diriku yang saat ini,orang yang lupa bagaimana melakukan hal yang benar secara normal" jelas Bagas ikut tersenyum karena merasa dirinya aneh.
"yang dulu aku tau,dia juga bisa mengira-ngira rasa sakit yang dialami korban sebelum meninggal dunia di tangan pembunuhnya.. aku sih nggak tau kemampuan seperti itu membantu apa justru nggak berguna,yah" tambah Doni.
"itu lebih mirip sama mind simulation punya Raka,tapi sebagai dokter ahli dia akan lebih rinci di bagian anatomi syaraf tubuh penderita dibandingkan sekedar mind simulation punya Raka" kata Bagas.
Spoiler for Picture:
"yah,itulah kurang lebih soal divisi 1" kata Bagas selesai dengan satu bab awal tentang siapa mereka,divisi 1.
"kamu ketinggalan satu.. hmmm" balas Sarah memancing.
"siapa? aku? hahahh"
"kamu kan juga resmi menjadi anggota mereka"
"aku adalah aku yang kalian kenal saat ini,perbedaanku dengan diriku yang dulu juga ku kira sudah terangkum di cerita tadi"
"kamu pernah bergabung sama mereka,lalu kamu keluar.. dan sekarang kamu kembali lagi ke kursimu saat keempatnya sudah nggak ada" kata Sarah panjang terdengar seperti sebaris kesimpulan di telinga Bagas.
"...!!?"
"apa tujuan 'baru'-mu?" tanya Sarah tiba-tiba setelahnya.
"{ apa alasanku kembali? apa tujuanku? ...jadi dia nggak cuma mendengarkan ceritaku mentah-mentah,yah.. psikolog emang luar biasanya kayaknya } ...tujuanku cuma untuk 'menangkap' mereka berlima" jawab Bagas biasa-biasa saja.
"itu bukan 'wewenang' kamu kan? kamu seorang forensik digital di tim kita" balas Sarah terdengar tak searah dengan maksud perkataan Bagas.
"aku cuma meminjamkan pengetahuanku.. ingat kan,divisi 1 generasi kedua sejatinya cuma pembantu?"
"kamu sepakat menamai tim kita divisi 0,nama yang kamu harapkan bisa lebih hebat dari divisimu sebelumnya" masih tentang percakapan Bagas dan Sarah.
"....."
"ingat kan? nol lebih tinggi dari satu,kamu bagian dari kami.. {auranya nggak seimbang saat dia bilang ingin 'menangkap' barusan.. aku kira makna di balik kata tadi justru seperti 'balas dendam' }"
"aku kembali karena dulu aku pernah membuat janji sama pak Adam.. tapi tetap saja,kalau mereka berlima terlibat di kasus yang kita tangani,aku nggak mau melepaskannya begitu saja" kata Bagas.
{ ya ampun,aku harus bilang apa lagi? ...sudahlah } batin Sarah punya hipotesanya sendiri namun memilih untuk memendamnya sekali lagi.
{ kamu yang pertama ku kenal lebih seperti orang yang putus asa karena ditinggal mati rekannya.. tapi setelah semua ini,ku kira aku tau tujuan aslimu itu apa.. } batinnya masih berlanjut.
"nggak usah khawatir,Sarah.. Bagas nggak bakalan membunuh siapapun" kata Doni entah kebetulan dari mana bisa tepat dengan perasaan Sarah.
# Jaminan dari teman terdekat.
0
























