Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.8K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#70
PART 30 : I


Sial, aku nggak tau kalau dia ternyata udah di sana, berdiri sendirian di dekat mobilnya. Iya, iya! Itu mobil yang waktu itu hampir kami tabrak sama si Choki.

Ah, sialan. Nggak mungkin salah aku, ini pasti ada kaitannya sama kejadian tadi. Pasti.

Anj#ng, langsung jantungan aku. Harus ngapain ini?!!!!!

Dia yang daritadi diam akhirnya jalan juga. Kukira dia bakal ndekatin kami, tapi dia rupanya jalan terus sampai ke pinggir danau. Berdiri sebentar, dia kemudian menoleh lagi ke arah kami.

“Bentar, ya, Yes.”

Aku aslinya takut, tapi aku kayaknya memang nggak punya banyak pilihan. Aku pun akhirnya memberanikan diri. Kudekati dia dan sekarang aku berdiri persis di sebelahnya.

“Bagus ya tempatnya,” katanya tanpa menoleh sedikit pun.

Aku benar-benar nggak tau harus nanggepin apa.

“Kamu tahu? Aku tadi lihat dia. Sepertinya habis terjadi sesuatu. Dan orang itu bilang kalau.....bagaimana harus mengatakan ini, ya? Mmmmm..........,” kemudian dia menatapku, “pacarmu? Baru aja mukul dia?”

“Itu....itu cuma salah paham, Bang.”

“Bentar, bentar,” katanya sambil merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. “Ya??” Kemudian dia menghela nafas panjang. “Aku bilang danau. Ada berapa banyak rupanya danau di tempat ini?” katanya lagi dan panggilan itu pun diputus. “Otak udang.”

Aku tahu kalau Yesi daritadi ngelihatin terus. Jadinya ketika kusempatkan untuk berbalik, Aku sengaja tersenyum biar dia nggak curiga.

“Pacarmu manis,” Oscar rupanya juga ikut melihat ke sana.

“Bukan, Bang. Dia...temenku.”

“Berarti.....bukan dia yang mukul Mita?”

“Bukan, Bang.”

“Oh. Berarti.....orang itu yang udah bohong samaku?”

Sialan, Aku nggak tau harus nanggepin apa.

“Lumayan,” dia tersenyum. “Kamu anaknya lumayan. Aku akui itu.”

“...............................”

“Kita coba lagi, ya. Apa dia yang mukul Mita?”

“Bang, kejadian tadi cuma salah paham aja, Bang. Demi Tuhan.”

“Sshhh, sshhh, ssssshhh. Kamu ini kenapa? Jangan takut gitu, lah. Kesannya aku ini orang jahat. Aku datang ke sini baik-baik, kan?”

“..............................”

“Terakhir. Apa dia.......yang udah mukul Mita?”

Sialan, aku benar-benar di posisi terjepit.

“.....................................................Iya, Bang.”

“Haaaaa, akhirnya.”

“Bang, tolong, Bang. Tadi cuma salah paham. Aku yang salah, Bang. Lagian juga Mita yang mulai duluan.”

“Kamu ngaku salah, tapi kamu juga nyalahin dia?”

“Enggak, Bang. Aku nggak nyalahin dia. Aku yang salah memang....”

Aku belum selesai bicara, tapi Oscar langsung menarikku dan menempelkan kepalanya tepat di samping wajahku.

“Dengar ini sialan. Aku benar-benar benci sama kamu, kamu tahu? Kamu udah punya pacar, tapi kamu juga pingin ngedeketin dia. Aku benar berarti. Kamu ini bajingan,” dia berbisik, dan dia menekankan kebencian itu di tiap kata-katanya. “Aku kira kamu orang yang cerdas. Tanpa aku bilang pun kamu harusnya tahu.............kalau Mita.....bukan buat bajingan menyedihkan seperti kamu.”

“Bang, maaf, Bang.”

“Aaah,” katanya sambil melepaskanku.

Aku mengikuti pandangannya, dan Aku mendapati ada dua mobil lagi yang datang ke sini. Semua yang di dalam langsung keluar dan berdiri di sekitar Yesi. Dan aku bisa ngelihat kalau Yesi udah nggak nyaman sama situasinya.

Bangs#t.

“Sekarang, kamu ikut samaku. Kita jangan ngobrol di sini. Bosan.”

Aku nggak percaya kalau tujuannya cuma mau ngobrol. Tapi aku benar-benar kebingungan harus ngapain.

“Ayo.”

“Jangan ganggu dia tapi.”

“Hey, hey, hey. Kamu kira aku ini laki-laki macam apa?”

Sadar nggak punya pilihan lagi, Aku pun mendekati Yesi dan mengajaknya menjauh sedikit dari orang-orang itu.

“’Ang, orang-orang ini siapa?”

“Nggak apa-apa. Yes, kamu bisa pulang sendiri, kan?”

“Kamu mau ke mana?”

“Aku mau pergi sama dia.”

“Ngapain?”

“Ada urusan dikit. Nggak apa-apa, ya?”

Ada jeda sedikit sebelum dia ngomong, “Kamu kenapa sama orang-orang ini, ‘Aaang?”
Yesi terdengar begitu cemas, seolah tau sendiri kayak orang sakti. Sialan, padahal aku udah senyum biar situasinya tampak senormal mungkin.

“Aku nggak apa-apa, Yeees. Oke?”

“Enggak. Aku nggak mau.”

“Yes, aku ada urusan bentar.”

“Enggak.”

“Yes, aku minta tolong banget.”

“Enggak.” Kali ini dia melotot. “Kamu kenapa sama mereka?”

“Aku nggak apa-apa, Yes. Tolonglah, kamu nurut aja.”

“Ya kamu kenapa sama mereka?!”

“Bukan urusan kamu. Udahlah, percuma ngomong sama kamu.”

“Ang!”

“Ang!”

Aku jalan terus ke arah mobil. Mau nggak mau memang aku harus ngacuhin dia.

“Heh! Awas! Lepasin!” Yesi mencoba menembus hadangan orang-orang itu.

“’Ang!!”

“Awas kalian!!”

“AAANG!!!!”

“AWAAASS!!!!”

“AWAS KALIAN!!! LEPASIIN!!!”

“Jangan jadi pengganggu!!!!!”

‘Gdebuk!!’

?????!!!!!

Aku berbalik. Dan aku terkejut melihat Yesi pingsan dekat bangku batu yang kami duduki tadi.

ANJ#NG!!!!!

“YESI!!!! YESIIIIIIIIIIIII!!!!!! YESIIIIIIIIII!! ANJ#NG KALIAN!!! baik!!!!!!! LEPAAAASS!!!!!! LEPAAAAASSS!!!!!! TOLOONG!!!!!!! TOLOOOOOONGGG!!! TOLOOOOOOOOONG!!!!!! YESIIIII!!! YESIIIIIIIIIII!!!!!!”

Aku ngelakuin apapun agar orang-orang ini melepaskanku. Tapi, kejadian yang menimpa Choki kurasakan juga sekarang.

“Teriak lagi kamu, bangs#t. Kulubangi kepalamu sekarang.”

Aku akhirnya digelandang masuk ke mobil mereka. Dan di sana.....Yesi......masih tergeletak.....nggak berdaya....sendirian.

Aku nggak bisa apa-apa kecuali menangis.

***

Diubah oleh kawmdwarfa 28-01-2017 18:22
ariefdias
pulaukapok
pulaukapok dan ariefdias memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.