- Beranda
- Stories from the Heart
National Badass "Sebuah Cerita Aksi Kriminal"
...
TS
ahmadsolo
National Badass "Sebuah Cerita Aksi Kriminal"
Mohon maaf saya adalah Newbie baru belajar nge-post, dan bila ada kata-kata yang kurang berkenaan mohon maaf.
WARNING!
Cerita ini mengandung banyak sekali kekerasan dan brutal, diharap anda sudah dewasa untuk membaca cerita ini.
Intro:
Sebuah cerita aksi kriminal bersetting di kota Surabaya dan sekitarnya pada masa kini atau sekitarnya, tepatnya di tahun 2014-2015 (sejarah alternatif). Dimana di sana ada kelompok pembunuh bayaran yang paling ditakuti di Indonesia bahkan seluruh dunia yang bernama "Rakun 1979" atau Rakun saja. Rakun dipimpin oleh seorang pembunuh bayaran tua bernama Usman Hardiyanto. Seorang mantan elit militer yang tangguh disegani sekaligus ditakuti. Pada suatu hari Rakun yang dipimpin oleh Usman sedang menghadapi ancaman dari seluruh negeri, dikarenakan Rakun banyak mengetahui rahasia negara dan berbahaya bagi negara. Ditambah lagi rival Usman yang bernama Hendro seorang Jendral besar negara Indonesia dengan kekuatannya ingin menghancurkan Rakun beserta Usman. Dan akhirnya Rakun yang dipimpin oleh Usman pun hancur dan banyak anggotanya tewas terbunuh. Beruntunglah Usman masih selamat, dan ada anggota lain yang masih selamat walaupun sedikit. Nasib Rakun yang ada di ujung tanduk pun akhirnya membuat Usman meminta perlindungan kepada Five Dragon Wak Ceco, yaitu perkumpulan mafia yang disegani di Indonesia yang dipimpin oleh 5 bos mafia paling ditakuti. Walaupun begitu Usman tahu pada esoknya nanti perlindungan dari Wak Ceco tidak akan bertahan lama. Akhirnya untuk membangkitkan kembali Rakun, Usman pun kembali merekrut orang-orang yang paling andal dan segera Usman pun membangun kembali Rakun dari nol. Rakun pun kembali bangkit dan berubah nama menjadi "Rakun 2015" yang siap untuk membalas dendam kehancuran Rakun. Dengan anggota barunya yang lebih kuat, Rakun menebarkan teror dan ancaman ke seluruh negeri untuk menghancurkan pejabat-pejabat korup dan mafia bajingan yang ingin menghancurkan Rakun. Tapi saat pembasmian yang dilakukan oleh Rakun. Usman dan anak buahnya mengetahui suatu rahasia besar yang tersembunyi, rahasia di dalam rahasia yang bahkan Rakun pun tidak mengetahuinya. Dan rahasia itu bernama "National Badass".
Berikut daftar Chapter-nya
Ch 001 - The Hand of Brother (Part 1)
Ch 001 - The Hand of Brother (Part 2)
Ch 002 - The Cry of The Fantasy
Ch 003 - The Cry of The Sky
Ch 004 - Dream of Anarchi (Part 1)
Ch 004 - Dream of Anarchi (Part 2)
Ch 005 - Langit yang Terbakar
Ch 006 - Bangsa-bangsa Besar
Ch 007 - Children of Nabayo (Part 1)
Ch 007 - Children of Nabayo (Part 2)
Ch 008 - Basic of Dragon, Basilic of Death
Ch 009 - Impianku
Ch 010 - One Soul for Country
Ch 011 - Silver Star
Ch 012 - Alone With My Life
Ch 013 - Five Dragon Wak Ceco
Ch 014 - The Country of Madafaka
Ch 015 - Kemanusian yang Berarti
Ch 016 - Mereka yang Tua tidak dapat mengubah Negara, Mereka yang muda yang dapat merubah Negara
Ch 017 - Indonesia belum merdeka
Ch 018 - Knight of Angel, Beast of Satan
Ch 019 - Ayah Kasih
Ch 020 - Pecundang yang Terlalu Berlebihan
Ch 021 - Berdosakah Aku?
Ch 022 - Teknologi Dunia
Ch 023 - Eagle "Part 1"
Ch 024 - Eagle "Part 2"
Ch 025 - The General
Ch 026 - Ikarus
Ch 027 - Pentem
Ch 028 - Wedus
Ch 029 - Sang Pengkhianat
Ch 030 - The Freelancer
Ch 031 - When The Eagle Seeing My Pant
Ch 032 - Tiga Pelayan
Ch 033 - Ultimatum (Part 1)
Ch 034 - Ancaman
Ch 035 - Basic of Death
Ch 036 - Katomson
Ch 037 - Bambang
Ch 037 - Bambang (lanjutan)
WARNING!
Cerita ini mengandung banyak sekali kekerasan dan brutal, diharap anda sudah dewasa untuk membaca cerita ini.
Intro:
Sebuah cerita aksi kriminal bersetting di kota Surabaya dan sekitarnya pada masa kini atau sekitarnya, tepatnya di tahun 2014-2015 (sejarah alternatif). Dimana di sana ada kelompok pembunuh bayaran yang paling ditakuti di Indonesia bahkan seluruh dunia yang bernama "Rakun 1979" atau Rakun saja. Rakun dipimpin oleh seorang pembunuh bayaran tua bernama Usman Hardiyanto. Seorang mantan elit militer yang tangguh disegani sekaligus ditakuti. Pada suatu hari Rakun yang dipimpin oleh Usman sedang menghadapi ancaman dari seluruh negeri, dikarenakan Rakun banyak mengetahui rahasia negara dan berbahaya bagi negara. Ditambah lagi rival Usman yang bernama Hendro seorang Jendral besar negara Indonesia dengan kekuatannya ingin menghancurkan Rakun beserta Usman. Dan akhirnya Rakun yang dipimpin oleh Usman pun hancur dan banyak anggotanya tewas terbunuh. Beruntunglah Usman masih selamat, dan ada anggota lain yang masih selamat walaupun sedikit. Nasib Rakun yang ada di ujung tanduk pun akhirnya membuat Usman meminta perlindungan kepada Five Dragon Wak Ceco, yaitu perkumpulan mafia yang disegani di Indonesia yang dipimpin oleh 5 bos mafia paling ditakuti. Walaupun begitu Usman tahu pada esoknya nanti perlindungan dari Wak Ceco tidak akan bertahan lama. Akhirnya untuk membangkitkan kembali Rakun, Usman pun kembali merekrut orang-orang yang paling andal dan segera Usman pun membangun kembali Rakun dari nol. Rakun pun kembali bangkit dan berubah nama menjadi "Rakun 2015" yang siap untuk membalas dendam kehancuran Rakun. Dengan anggota barunya yang lebih kuat, Rakun menebarkan teror dan ancaman ke seluruh negeri untuk menghancurkan pejabat-pejabat korup dan mafia bajingan yang ingin menghancurkan Rakun. Tapi saat pembasmian yang dilakukan oleh Rakun. Usman dan anak buahnya mengetahui suatu rahasia besar yang tersembunyi, rahasia di dalam rahasia yang bahkan Rakun pun tidak mengetahuinya. Dan rahasia itu bernama "National Badass".
Berikut daftar Chapter-nya
Spoiler for List of Chapters:
Ch 001 - The Hand of Brother (Part 1)
Ch 001 - The Hand of Brother (Part 2)
Ch 002 - The Cry of The Fantasy
Ch 003 - The Cry of The Sky
Ch 004 - Dream of Anarchi (Part 1)
Ch 004 - Dream of Anarchi (Part 2)
Ch 005 - Langit yang Terbakar
Ch 006 - Bangsa-bangsa Besar
Ch 007 - Children of Nabayo (Part 1)
Ch 007 - Children of Nabayo (Part 2)
Ch 008 - Basic of Dragon, Basilic of Death
Ch 009 - Impianku
Ch 010 - One Soul for Country
Ch 011 - Silver Star
Ch 012 - Alone With My Life
Ch 013 - Five Dragon Wak Ceco
Ch 014 - The Country of Madafaka
Ch 015 - Kemanusian yang Berarti
Ch 016 - Mereka yang Tua tidak dapat mengubah Negara, Mereka yang muda yang dapat merubah Negara
Ch 017 - Indonesia belum merdeka
Ch 018 - Knight of Angel, Beast of Satan
Ch 019 - Ayah Kasih
Ch 020 - Pecundang yang Terlalu Berlebihan
Ch 021 - Berdosakah Aku?
Ch 022 - Teknologi Dunia
Ch 023 - Eagle "Part 1"
Ch 024 - Eagle "Part 2"
Ch 025 - The General
Ch 026 - Ikarus
Ch 027 - Pentem
Ch 028 - Wedus
Ch 029 - Sang Pengkhianat
Ch 030 - The Freelancer
Ch 031 - When The Eagle Seeing My Pant
Ch 032 - Tiga Pelayan
Ch 033 - Ultimatum (Part 1)
Ch 034 - Ancaman
Ch 035 - Basic of Death
Ch 036 - Katomson
Ch 037 - Bambang
Ch 037 - Bambang (lanjutan)
Diubah oleh ahmadsolo 03-11-2017 22:03
anasabila memberi reputasi
1
7.2K
Kutip
56
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ahmadsolo
#49
Ch 033 - Ultimatum (Part 1)
Terdapat 3 kata yang menurutku kata yang paling keren di dunia, 3 kata itu adalah: "Netral", "Dictator", dan "Ultimatum". Aku membahas terlebih dahulu kata Ultimatum, kata yang keren bukan? Pertama kali aku mendengar atau membaca kata ini saat SD pada jam pelajaran sejarah, tepatnya sejarah Pertempuran Surabaya. Kalau tidak salah dalam ceritanya saat arek-arek Suroboyo berhasil membunuh Jenderal Inggris (dibom kalau gk salah), sekutu segera mengeluarkan "Ultimatum" terhadap arek-arek Suraboyo untuk menyerahkan senjata-senjata mereka. Akan tetapi para pejuang Suroboyo menolak Ultimatum sekutu. Ultimatum disebarkan melalui pamflet-pamflet yang dijatuhkan dari pesawat sekutu (Apa benar ceritaku ini?). Lalu aku bertanya-tanya, apa itu "Ultimatum"? Akhirnya setelah aku teliti terlebih lanjut, ternyata arti kata dari Ultimatum adalah "Permintaan yang Mengancam" kurang lebih tepatnya seperti begitu.
Dalam ceritaku ini, dua orang polisi (atau polisi abal-abal yang diresmikan oleh kepolisian resmi) sedang menuju suatu tempat, yaitu kantor Rakun. Apa yang mereka berdua lakukan? Yaitu melakukan "Ultimatum" terhadap Rakun.
01 Januari 2015, 10.67 WIB, Surabaya di Markas Rakun
Markas/Kantor Rakun tidak seperti kantor lainnya yang selalu berada di pusat kota yang berada di gedung-gedung tinggi. Markas Rakun terletak di pinggir kota, dan bentuknya seperti rumah biasa yang mempunyai taman yang cukup luas. Lalu bagaimana dengan tetangganya, apakah mereka tahu tentang keberadaan mereka? Jawabannya ya. Mereka tahu kalau di rumah itu adalah tempat berkumpulnya para pembunuh bayaran yang selalu membantai targetnya. Tetapi untungnya, Rakun bisa bersosialisi dengan warga sekitar. Disana mereka mengaku bahwa yang mereka bunuh adalah "orang-orang jahat" dan melindungi "orang-orang baik", serta tugas mereka juga mengawal orang-orang baik. Warga desa disana sangat percaya terhadap Rakun dan malah merasa aman disana, sebab dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berani macam-macam di desa tempat dimana Rakun tinggal seperti perampokan, pencurian, pemerkosaan tidak ada yang berani melakukannya, berbeda dengan desa tetangga yang mengalami kasus kriminal
Markas Rakun bercat putih dengan halaman yang luas, tidak bertingkat, diluar terlihat kecil tapi di dalam terlihat luas, banyak tanaman yang ditanam di sana, bahkan ada tanaman obat-obatan/herbal. Dulunya Rakun memiliki 3 markas. Markas pertama di gudang bekas TNI, markas kedua di salah satu ruangan markas kepolisian yang saat ini dipimpin oleh Bambang, dan yang terakhir Usman memilih di dalam desa. Alasannya simpel, karena Rakun tidak mau dicampuri tangan oleh kepolisian dan militer. Sementara di bagian belakang markas adalah sungai/kali yang mengalir di dalam desa yaitu kali brantas. Sementara di depan markas, tampak dua orang berjaket+berjas yang satunya membawa koper yang sepertinya rada grogi segera memasuki markas Rakun.
Yusril: Apakah kau takut?
Roni: Nggak.
Yusril: Yakin? Kau pasti takut!
Roni: Lapo? Masa aku takut sama Rakun.
Yusril: Heheheh. Alasanmu Ron. ron!
Roni: Pasti kamu yang takut!
Yusril: Heh.
Segera dua orang yang agak ketakutan itu memasuki gerbang markas Rakun, tetapi seorang penjaga berumur bapak2 menghentikan langkahnya.
Projo: Siapa kalian? Sepertinya kalian bukan warga desa ini. Mau apa kalian? Kalian mau bertemu dengan Bro Usman, Bos tidak mempunyai janji ketemuan. Harus janjian terlebih dahulu sebelum bertemu Bro Usman.
Roni: Ayolah brooouuuwww! Kami ini dari kepolisian. Kami ingin bertemu dengan Usman karena suatu hal yang penting.
Projo: Kalau kalian dari kepolisian, mana lencana kalian sama surat dari kepolisian.
Yusril: Kami memiliki surat dari kepolisian.
Lalu Yusril yang membawa koper itu mengeluarkan sebuah kertas di dalam kantongnya kepada sang penjaga.
Projo: Lalu lencana kalian (sambil melihat surat yang memang resmi)?
Yusril: Sebenarnya kami tidak mempunyai lencana sama sekali, tetapi dalam surat yang tertera kami benar-benar utusan dari kepolisian. LIhat! Apa itu surat palsu?
Projo: Loh, kok? Yang benar saja, kok kepolisian... ah, ah, ah. OHHhhh. Aku tahu, aku tahu... Kalian pasti "Ronin" ya?! Jadi memang benar rumor kalau Ronin didirikan lagi.
Yusril: Ya itu kami. Masalah?
Roni: Ya, ya, hampir sama dengan namaku. Perkenalkan namaku Roni, dan temanku namanya Yusril.
Projo: Heh! Kepolisian memang selalu kurang ajar, mengutus preman seperti kalian untuk melakukan pekerjaan kotor.
Yusril: Terserah. Mau bilang kami preman, penjahat, polisi abal-abal juga terserah.
"Ronin" adalah julukan dari orang "sipil" yang diangkat oleh kepolisian untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang melanggar hukum demi memuluskan operasi yang dilancarkan oleh kepolisian. Ronin selalu disebut sebagai kambing hitam kepolisian, sehingga nama baik kepolisian terjaga. Pekerjaan yang dilakukan oleh Roni tergolong sangat ekstrim dan lebih berbahaya daripada pekerjaan polisi resmi, seperti pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, penangkapan, dll. Tetapi sayang gaji mereka sangat rendah dibanding gaji kepolisian, bila ada kenaikan gaji dalam kepolisian, para Ronin tidak akan naik. Bagi kepolisian, Ronin cumalah sampah dan dipandang rendah oleh polisi-polisi lain. itulah yang menyebabkan terjadinya pemberontakan yang dilakukan oleh Ronin di dalam tubuh kepolisian, tepatnya pada tahun 1990 Ronin mulai memberontak dan membunuh banyak kepolisian. Uprising! Begitulah yang mereka dengungkan. Tetapi sayang pemberontakan yang dilakukan oleh para Ronin berhasil dibasmi oleh kepolisian dibantu dengan TNI (pada masa itu TNI sama Polisi masih "panas"). Tidak ada yang tahu siapa pemimpin pemberontak, yang jelas Ronin dibubarkan, yang terlibat dalam pemberontakan dihukum, dan yang tidak terlibat dihentikan. Tugas "Polisi" tetap polisi yang harus menangani.
Sampai pada tahun 2009, secara diam-diam Ronin dibentuk kembali oleh kepolisian untuk menangani tugas ekstrim. Akan tetapi pembentukan Ronin kali ini lebih baik daripada yang dulu, gaji yang setara dengan polisi, fasilitas penunjang yang baik, keamanan yang lebih baik, sosialisasi antar polisi yang lebih ramah (walau ada yang anti), dll. Tetapi mereka para Ronin tetap dianggap sampah, dan tidak ada bedanya dengan para hitmen panggung hitam.
Nama resmi Ronin sebenarnya adalah "Aparat Sipil Penegak Hukum" (ASPH), awalnya nama asli resminya adalah "Aparat Sipil Eksekutor" (ASE), tetapi namanya diganti menjadi ASPH karena jauh lebih manusiawi. Lalu mengapa mereka dikenal sebagai nama Ronin? Nama itu dimulai dari salah satu majalah "Toempoe" jaman dahulu yang berjudul "Ronin!" yang mengorek informasi tentang seluk beluk ASPH dalam melakukan tugas kotor dalam pengawasan kepolisian. Majalah Toempoe mengkritik kepolisian karena Polisi yang dianggap sebagai samurai seharusnya bertugas melindungi negara (tuan), bukan para penjahat yang dianggap sebagai Ronin (Samurai terbuang) yang melindungi negara. Selain nama Ronin, mereka juga dikenal sebagai polisi abal-abal yang diresmikan, polisi wanabe, Preman legal.
Yusril dan Roni adalah anggota Ronin gelombang ketiga (diterima pada tahun 2011). Mereka ingat tugas pertama sebagai Ronin adalah membunuh seorang wanita tua yang dianggap sebagai pengedar obat bius. Dan itulah pertama kalinya mereka berdua membunuh seseorang. Tergiang betapa menakutkan dihantui oleh orang-orang mati yang telah mereka bunuh.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yusril: Nenek tua..... (sambil melihat seorang nenek yang melewati jalan di depan markas)
Projo: Hey kamu yang bawa koper! Ayo segera masuk! Bro Usman mempunyai waktu yang lebih penting daripada bertemu dengan orang rendahan seperti kalian.
Roni: Cih! Oy Ril jangan melamun. Ayo masuk!
Yusril: oh. Ya.
Dua orang itu segera masuk ke markas Rakun di dampingi oleh Projo, melewati gerbang, menuju teras dan memasuki pintu, lalu menelusuri kamar demi kamar yang gelap. Pintu-pintu kamar di dalam Rakun semuanya bewarna hitam, entah kenapa dan juga di dalam ruangannnya dicat warna hitam, berbeda dengan dinding luar rumah yang dicat warna putih. Lampu di dalam redup, sehingga tampak gelap dan menimbulkan perasaan angker. Kemudian dua orang itu beserta Projo berada di depan pintu yang terang, pintu yang berbeda dengan pintu lainnya, pintu warna biru.
Projo: Bentar, aku masuk dulu. Kalian tunggu disini, sebelum menunggu izin.
Pintu terbuka dan projo segera masuk ke kamar, sekilas mereka berdua melihat sesosok anak muda, Usman kah? Bukan Usman, orang tua, mungkin itu anak buah Usman lainnya.
Yusril dan Roni menunggu lama sekitar belasan menit, mendengar bisik-bisik di dalam pintu biru itu. Keringat membasahi sekujur tubuh mereka. Antara cemas, takut, atau emang pengap di dalam rumah ini. Setelah belasan menit kemudian, Projo muncul dari balik pintu. Menyuruh masuk mereka berdua berhadapan dengan Usman.
Roni: Kenapa lama?
Projo: Bukan urusanmu. Kalian berdua, masuklah.
Mereka berdua diizinkan masuk ke dalam ruangan berpintu biru. Mereka masuk melihat seorang kakek tua beserta dua anak muda yang sepertinya mengawal si kakek tua itu.
Usman: Bro Projo, apakah kamu bisa meninggalkan kami?
Projo: Tapi big bro, mereka ini...
Usman: Tidak apa-apa, ada Bro Anthony dan Bro Riyadi yang menemaniku.
Projo: Baiklah.
Pintu ruangan tertutup, Projo berjaga di depan pintu berjaga-jaga bila ada suatu masalah. Yusril dan Roni berdiri kaku di hadapan Usman beserta anak buahnya yang duduk di kursi. Mungkin sebelumnya mereka berdiskusi tentang rencana pembunuhan yang ditawarkan oleh Salim.
Usman: Kalian berdua duduklah, tidak apa-apa. Tidak perlu malu2.
Dengan agak ragu2, mereka berdua duduk di hadapan Usman.
Usman: Jadi kedatangan kesini ada urusan apa, apakah dirasa penting.
Roni: Sebenarnya...
Yusril: Aku saja yang ngomong.... Sebenarnya kedatangan kami disini hanya memberikan koper yang kami bawa untuk diserahkan kepada pemimpin Rakun, yang pastinya anda. Jujur kami tidak tahu apa isi dari koper tersebut, dan kami dilarang membuka isi koper tersebut kecuali anda yang membukanya. Dan kami harus melihat anda membuka koper ini. (sambil meletakkan koper yang dibawa diatas meja).
Usman: Benarkah kalian semua mewakili kepolisian pusat.
Yusril: Benar, ini suratnya. (sambil menyerahkan surat)
Usman: Hmmm. Memang asli. Tetapi kenapa harus aku yang membuka koper, dan kalian menunggu aku membuka koper? Apa alasannya?
Yusril: Kami tidak tahu alasannya, kami mendapatkan perintah dari kepolisian untuk menyerahkan koper ini kepada anda, dan menunggu anda membukanya.
Usman: Baik, baik. Kalau begitu aku menolak, aku menolak membuka koper yang bapak-bapak ini berikan kepada saya. Maaf, dan kalian segeralah kembali.
Yusril: Tapi Pak, anda harus membuka koper ini. Ini perintah dari kepolisian.
Usman: Kepolisian mana? Saya tidak diberi alasan mengapa saya harus membuka isi tas koper ini. Bila ingin bekerja sama dengan saya, maka mau tidak mau saya harus diberi alasan. Tanpa alasan yang jelas, saya tidak mau disuruh-suruh. Apakah kalian paham, bila kalian sudah diberi alasan yang jelas, kalian boleh kembali ke sini lagi.
Yusril tanpa gugup menghadapi sikap Usman yang tidak mau m10enurutinya.
Yusril: Pak, ini perintah benar-benar dari pusat pak, pak saya mohon segera membuka isi tas koper ini pak.
Usman: Kalian segeralah oergi dari sini, kalau tidak. Mohon maaf, saya memaksa kalian untuk keluar.
Yusril: Pak..
Roni: Cok! Ultimatum! COK! Ngerti!
Lalu semua orang terdiam....
Riyadi: Hey, hey, hey lambemu, lambemu cangkemu! Jogoen cok omonganmu, kamu gak tahu siapa yang kamu ajak ngomong!
Roni: ULTIMATUM! Kalian paham! Itulah alasan kami membawa koper ini kepada anda! (sambil menunjuk jarinya ke arah Usman).
Usman: Ultimatum? Apa saya tidak salah dengar?
Yusril: Hey ron, ron, ron... maksudmu?
Roni: Ya itu benar-benar ultimatum dari kepolisian, jadi puas mendengar alasan kami?!
Usman: Lalu apa alasannya (lagi) dari kepolisian meng-ultimatum saya atau kami. Dan apa isi dari ultimatumnya.
Lalu Roni menarik mengambil tas koper misterius itu dari meja Usman.
Roni: Aku yakin kau pasti penasaran isi koper ini. Disinilah semua alasan keparatmu disimpan. Penasarankan? Saya juga? Makan silitku! Ayo Ron kita tinggalkan markas setan.
Riyadi: Hancritt.....
Projo (di luar ruangan): .....
Usman: Tunggu, tunggu, tunggu. Setelah aku pikir-pikir, aku mau melihat isi dari tas koper ini.
Roni: Kenapa heh? Bukannya kau bilang tidak mau melihat isi tasku?
Usman: Tadinya aku berpikir begitu. Tapi kalau kalian pergi, apakah kalian tidak dihukum oleh kepolisian.
Roni: Sama sekali tidak. Ayo ril, segera pergi dari sini.
Usman: Baiklah, aku minta maaf atas sikapku tadi. Kau tahu, koper yang kau bawa sangat mencurigakan. Sepertinya aku percaya pada kalian berdua kalau kalian tidak tahu apa isinya, tapi Ultimatum? Apa benar menurutmu begitu?
Roni: Ya, silahkan buka kopernya. Kalau mau.
Lalu Roni yang tadi berdiri segera duduk dan meletakkan kopernya di atas meja, koper masih belum terbuka dan Usman menatap dan menebak apa isi dari koper tersebut.
Usman: Hmmm... Aku berpikir kalau isi dari koper ini bisa saja jebakan, dan bisa saja koper ini ada senjata pembunuh atau apa, kalau kalian bilang ini adalah ultimatum. Aku masih belum mau membuka isi kopernya, dan aku ingin bertanya kepada kalian, khusunya kau (sambil menunjuk Yusril). Apa benar yang dikatakan oleh temanmu itu, kalau kepolisian mengultimatum aku?
Yusril dengan perasaan gugup berkata..
Yusril: Ehh... Iya, iya. Menurutku begitu.
Usman: Anda yakin?
Yusril: Ya, ya sangat yakin.
Usman: Atau mungkin kalian salah dengar dan kalian masih menyangka kalau koper ini isinya adalah hal-hal yang mengultimatum kami.
Yusril: Tidak, kami berpikir kalau memang benar ada isi ultimatum di koper ini.
Usman: Lalu aku bertanya, kira-kira menurut kalian berdua apa isi dari ultimatum ini?
Roni: Menurutku isinya...
Usman: Aku tidak bertanya padamu, aku bertanya kepada temanmu.
Yusril: Ah, anu, anu.
Riyadi: Mungkin kalian berdua berbohong, hubungan kami dengan kepolisian masih baik-baik saja (walaupun dengan pihak militer agak gimana gitu)
Roni: Tidak kami tidak berbohong.
Usman: Jadi isinya apa? Yusril.
Yusril: Eh kau tahu namaku? Oh ya, orang yg jaga tadi ya... ehhh... sebenarnya aku tidak tahu, jujur aku tidak tahu tentang Ultimatum itu. Yang tahu cuma Roni ini.
Usman: Oh begitu ya, jadi temanmu yang satunya menguping pembicaraan di kepolisian ini, soal Ultimatum.
Roni: Ya itu benar. Yusril tidak tahu apa2, tapi aku tahu kalau kepolisian bersama militer mau mengultimatum kalian. Dan isi Ultimatumnya...
Usman: Sebentar, jangan bicara dulu tentang isi ultimatum. Aku ingin kalian berdua membuka koper ini.
Yusril: Tapi pak, harus bapak yang membuka koper ini. Kami tidak diperbolehkan untuk membuka koper.
Usman: Dan saya memperbolehkan kalian berdua membuka kopernya.
Yusril dan Roni: ......
Usman: Ayolah jangan malu-malu, kalian berdua di dalam pengawasanku bukan kepolisian. Polisi tidak mungkin melihat kalian berdua membuka koper. Tenang aku dan dua orang yang dibelakangku tidak akan memberitahu kalau kalian berdualah yang membuka koper. Tidak usah sungkan.
Anthony: Waktu kalian berdua cuma 1 menit untuk membuka koper. Bila tidak, kalian berdua akan mendapatkan.... you know lah (sambil memegang pistol di saku kanannya)
Riyadi: (dengan mata tajam menatap dua orang itu, dia memegang pistol di sakunya juga)
Usman: Jadi gimana?
Yusril: Gulp... Apakah ini adalah Ultimatum?
Usman: Aku tidak tahu isinya (koper) apa, jadi aku belum tahu apakah ini ultimatum atau tidak.
Yusril: Bukan begitu, maksudku apakah yang kau lakukan saat ini adalah "Ultimatum" terhadap kita?
Usman: Sepertinya begitu, aku terpaksa melakukannya.
Lalu dua orang itu segera membuka koper itu. Mereka berdua memegang tas koper misterius yang bewarna hitam itu.
Roni: Kita buka bersama, aku juga penasaran apa isinya.
Yusril: Ok.
Kedua tangan mereka satu persatu membuka kunci koper, tinggal membuka kopernya.
Dan akhirnya mereka membuka tas koper dan melihat sesuatu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Usman: Apa isinya?
Yusril dan Roni cuma bengong saja, lalu dia membalikkan tas koper itu dan memperlihatkan isi dalam tas kepada Usman. Dan isinya adalah sebuah pistol yang sepertinya telah berisi peluru dan sebuah kertas.
Usman: Ehhh... apakah ini yang kau sebut Ultimatum?
Lalu Usman pun mengambil sebuah lembaran kertas dan dia lalu membaca tulisan di kertas itu.
Usman: Hehehe, saya rasa ini bukan ultimatum. Lihat saja kertasnya.
Lalu dia menyodorkan kertas itu kepada Roni dan Yusril, dan tulisannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"BUNUH DUA RONIN ITU! DENGAN PISTOL YANG DALAM KOPER!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Usman: Aku heran kenapa sampai kepolisian menyuruh aku untuk membunuh kalian berdua? Apa ada yang tahu?
Segera dengan reflek cepat, Yusril dan Roni meraba-raba saku mereka. Mencari pistol yang mereka bawa, tetapi....
(di luar ruangan) Projo: Apaan pistol ini? Pakai ditempel stiker segala?
Usman: Oh ya aku lupa, peraturan yang paling utama untuk menemuiku di dalam ruangan ini, dilarang membawa senjata. Sepertinya Projo berhasil membawa senjata kalian.
(sambil berdiri) Roni: baik!
Lalu Roni terpaksa mengambil senjata yang dalam koper itu, membuka pengaman dan membidik ke arah Usman. Segera Riyadi dan Anthony berdiri dan mengarahkan senjata mereka ke arah Roni dan Yusril.
Anthony: Letakkan senjata kalian!
Usman lalu mengangkat tangan kanannya, memberi aba-aba terhadap Anthony dan Riyadi untuk menahan tembakannya. Posisi mereka saling mengancam, dan Projo masih tetap di luar.
Lalu orang-orang dalam markas panik dan menuju ke pintu biru yang dijaga oleh Projo, tetapi Projo menghentikan langkah orang-orang itu dan berkata biarkan Usman yang menyelesaikannya. Usman tetap tenang dan tersenyum akan hal ini.
Usman: Bila kau menarik pelatuk itu dan membunuhku, kau akan dalam masalah yang sangat besar. Orang-orangku akan membunuh kalian, walaupun kalian berhasil lolos, kalian akan diburu bahkan mungkin kalian akan diburu oleh polisi juga.
Roni: Lebih baik daripada aku dan Yusri dibunuh dengan pistol ini.
Lalu Yusril yang tadinya bengong segera menarik koper itu, dan menjadikan tameng.
Usman: Tenang, santai. Aku sebenarnya tidak ada niat membunuh kalian berdua, aku tidak akan menuruti perintah kepolisian. Aku sangat tahu mengenai tentang kalian semua, Mahadi Yusril dan Roni Fadhal.
Yusril: Apa yang kau tahu tentang kami?
Usman: Kalian berdua adalah dua orang yang memiliki catatan rekor membunuh paling banyak di anggota Ro... maksudku ASPH. Kalian berdua mengetahui banyak sekali informasi-informasi rahasia yang dimiliki oleh negara. Dan banyak sekali peristiwa-persitiwa besar yang ada kaitannya campur tangan kalian, seperti peristiwa tenggelamnya kapal pesiar "Sunrise Strom" milik Nizam.
Yusril: Ya itu benar, itu sabotase dari kami.
Usman: Itulah mengapa aku akan membebaskan kalian, aku tidak memiliki niat untuk membunuh kalian, percayalah. Akan tetapi tolong jelaskan, apa maksud ultimatum yang telah kalian katakan tadi?
BERSAMBUNG
Spoiler for crita:
Terdapat 3 kata yang menurutku kata yang paling keren di dunia, 3 kata itu adalah: "Netral", "Dictator", dan "Ultimatum". Aku membahas terlebih dahulu kata Ultimatum, kata yang keren bukan? Pertama kali aku mendengar atau membaca kata ini saat SD pada jam pelajaran sejarah, tepatnya sejarah Pertempuran Surabaya. Kalau tidak salah dalam ceritanya saat arek-arek Suroboyo berhasil membunuh Jenderal Inggris (dibom kalau gk salah), sekutu segera mengeluarkan "Ultimatum" terhadap arek-arek Suraboyo untuk menyerahkan senjata-senjata mereka. Akan tetapi para pejuang Suroboyo menolak Ultimatum sekutu. Ultimatum disebarkan melalui pamflet-pamflet yang dijatuhkan dari pesawat sekutu (Apa benar ceritaku ini?). Lalu aku bertanya-tanya, apa itu "Ultimatum"? Akhirnya setelah aku teliti terlebih lanjut, ternyata arti kata dari Ultimatum adalah "Permintaan yang Mengancam" kurang lebih tepatnya seperti begitu.
Dalam ceritaku ini, dua orang polisi (atau polisi abal-abal yang diresmikan oleh kepolisian resmi) sedang menuju suatu tempat, yaitu kantor Rakun. Apa yang mereka berdua lakukan? Yaitu melakukan "Ultimatum" terhadap Rakun.
01 Januari 2015, 10.67 WIB, Surabaya di Markas Rakun
Markas/Kantor Rakun tidak seperti kantor lainnya yang selalu berada di pusat kota yang berada di gedung-gedung tinggi. Markas Rakun terletak di pinggir kota, dan bentuknya seperti rumah biasa yang mempunyai taman yang cukup luas. Lalu bagaimana dengan tetangganya, apakah mereka tahu tentang keberadaan mereka? Jawabannya ya. Mereka tahu kalau di rumah itu adalah tempat berkumpulnya para pembunuh bayaran yang selalu membantai targetnya. Tetapi untungnya, Rakun bisa bersosialisi dengan warga sekitar. Disana mereka mengaku bahwa yang mereka bunuh adalah "orang-orang jahat" dan melindungi "orang-orang baik", serta tugas mereka juga mengawal orang-orang baik. Warga desa disana sangat percaya terhadap Rakun dan malah merasa aman disana, sebab dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berani macam-macam di desa tempat dimana Rakun tinggal seperti perampokan, pencurian, pemerkosaan tidak ada yang berani melakukannya, berbeda dengan desa tetangga yang mengalami kasus kriminal
Markas Rakun bercat putih dengan halaman yang luas, tidak bertingkat, diluar terlihat kecil tapi di dalam terlihat luas, banyak tanaman yang ditanam di sana, bahkan ada tanaman obat-obatan/herbal. Dulunya Rakun memiliki 3 markas. Markas pertama di gudang bekas TNI, markas kedua di salah satu ruangan markas kepolisian yang saat ini dipimpin oleh Bambang, dan yang terakhir Usman memilih di dalam desa. Alasannya simpel, karena Rakun tidak mau dicampuri tangan oleh kepolisian dan militer. Sementara di bagian belakang markas adalah sungai/kali yang mengalir di dalam desa yaitu kali brantas. Sementara di depan markas, tampak dua orang berjaket+berjas yang satunya membawa koper yang sepertinya rada grogi segera memasuki markas Rakun.
Yusril: Apakah kau takut?
Roni: Nggak.
Yusril: Yakin? Kau pasti takut!
Roni: Lapo? Masa aku takut sama Rakun.
Yusril: Heheheh. Alasanmu Ron. ron!
Roni: Pasti kamu yang takut!
Yusril: Heh.
Segera dua orang yang agak ketakutan itu memasuki gerbang markas Rakun, tetapi seorang penjaga berumur bapak2 menghentikan langkahnya.
Projo: Siapa kalian? Sepertinya kalian bukan warga desa ini. Mau apa kalian? Kalian mau bertemu dengan Bro Usman, Bos tidak mempunyai janji ketemuan. Harus janjian terlebih dahulu sebelum bertemu Bro Usman.
Roni: Ayolah brooouuuwww! Kami ini dari kepolisian. Kami ingin bertemu dengan Usman karena suatu hal yang penting.
Projo: Kalau kalian dari kepolisian, mana lencana kalian sama surat dari kepolisian.
Yusril: Kami memiliki surat dari kepolisian.
Lalu Yusril yang membawa koper itu mengeluarkan sebuah kertas di dalam kantongnya kepada sang penjaga.
Projo: Lalu lencana kalian (sambil melihat surat yang memang resmi)?
Yusril: Sebenarnya kami tidak mempunyai lencana sama sekali, tetapi dalam surat yang tertera kami benar-benar utusan dari kepolisian. LIhat! Apa itu surat palsu?
Projo: Loh, kok? Yang benar saja, kok kepolisian... ah, ah, ah. OHHhhh. Aku tahu, aku tahu... Kalian pasti "Ronin" ya?! Jadi memang benar rumor kalau Ronin didirikan lagi.
Yusril: Ya itu kami. Masalah?
Roni: Ya, ya, hampir sama dengan namaku. Perkenalkan namaku Roni, dan temanku namanya Yusril.
Projo: Heh! Kepolisian memang selalu kurang ajar, mengutus preman seperti kalian untuk melakukan pekerjaan kotor.
Yusril: Terserah. Mau bilang kami preman, penjahat, polisi abal-abal juga terserah.
"Ronin" adalah julukan dari orang "sipil" yang diangkat oleh kepolisian untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang melanggar hukum demi memuluskan operasi yang dilancarkan oleh kepolisian. Ronin selalu disebut sebagai kambing hitam kepolisian, sehingga nama baik kepolisian terjaga. Pekerjaan yang dilakukan oleh Roni tergolong sangat ekstrim dan lebih berbahaya daripada pekerjaan polisi resmi, seperti pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, penangkapan, dll. Tetapi sayang gaji mereka sangat rendah dibanding gaji kepolisian, bila ada kenaikan gaji dalam kepolisian, para Ronin tidak akan naik. Bagi kepolisian, Ronin cumalah sampah dan dipandang rendah oleh polisi-polisi lain. itulah yang menyebabkan terjadinya pemberontakan yang dilakukan oleh Ronin di dalam tubuh kepolisian, tepatnya pada tahun 1990 Ronin mulai memberontak dan membunuh banyak kepolisian. Uprising! Begitulah yang mereka dengungkan. Tetapi sayang pemberontakan yang dilakukan oleh para Ronin berhasil dibasmi oleh kepolisian dibantu dengan TNI (pada masa itu TNI sama Polisi masih "panas"). Tidak ada yang tahu siapa pemimpin pemberontak, yang jelas Ronin dibubarkan, yang terlibat dalam pemberontakan dihukum, dan yang tidak terlibat dihentikan. Tugas "Polisi" tetap polisi yang harus menangani.
Sampai pada tahun 2009, secara diam-diam Ronin dibentuk kembali oleh kepolisian untuk menangani tugas ekstrim. Akan tetapi pembentukan Ronin kali ini lebih baik daripada yang dulu, gaji yang setara dengan polisi, fasilitas penunjang yang baik, keamanan yang lebih baik, sosialisasi antar polisi yang lebih ramah (walau ada yang anti), dll. Tetapi mereka para Ronin tetap dianggap sampah, dan tidak ada bedanya dengan para hitmen panggung hitam.
Nama resmi Ronin sebenarnya adalah "Aparat Sipil Penegak Hukum" (ASPH), awalnya nama asli resminya adalah "Aparat Sipil Eksekutor" (ASE), tetapi namanya diganti menjadi ASPH karena jauh lebih manusiawi. Lalu mengapa mereka dikenal sebagai nama Ronin? Nama itu dimulai dari salah satu majalah "Toempoe" jaman dahulu yang berjudul "Ronin!" yang mengorek informasi tentang seluk beluk ASPH dalam melakukan tugas kotor dalam pengawasan kepolisian. Majalah Toempoe mengkritik kepolisian karena Polisi yang dianggap sebagai samurai seharusnya bertugas melindungi negara (tuan), bukan para penjahat yang dianggap sebagai Ronin (Samurai terbuang) yang melindungi negara. Selain nama Ronin, mereka juga dikenal sebagai polisi abal-abal yang diresmikan, polisi wanabe, Preman legal.
Yusril dan Roni adalah anggota Ronin gelombang ketiga (diterima pada tahun 2011). Mereka ingat tugas pertama sebagai Ronin adalah membunuh seorang wanita tua yang dianggap sebagai pengedar obat bius. Dan itulah pertama kalinya mereka berdua membunuh seseorang. Tergiang betapa menakutkan dihantui oleh orang-orang mati yang telah mereka bunuh.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yusril: Nenek tua..... (sambil melihat seorang nenek yang melewati jalan di depan markas)
Projo: Hey kamu yang bawa koper! Ayo segera masuk! Bro Usman mempunyai waktu yang lebih penting daripada bertemu dengan orang rendahan seperti kalian.
Roni: Cih! Oy Ril jangan melamun. Ayo masuk!
Yusril: oh. Ya.
Dua orang itu segera masuk ke markas Rakun di dampingi oleh Projo, melewati gerbang, menuju teras dan memasuki pintu, lalu menelusuri kamar demi kamar yang gelap. Pintu-pintu kamar di dalam Rakun semuanya bewarna hitam, entah kenapa dan juga di dalam ruangannnya dicat warna hitam, berbeda dengan dinding luar rumah yang dicat warna putih. Lampu di dalam redup, sehingga tampak gelap dan menimbulkan perasaan angker. Kemudian dua orang itu beserta Projo berada di depan pintu yang terang, pintu yang berbeda dengan pintu lainnya, pintu warna biru.
Projo: Bentar, aku masuk dulu. Kalian tunggu disini, sebelum menunggu izin.
Pintu terbuka dan projo segera masuk ke kamar, sekilas mereka berdua melihat sesosok anak muda, Usman kah? Bukan Usman, orang tua, mungkin itu anak buah Usman lainnya.
Yusril dan Roni menunggu lama sekitar belasan menit, mendengar bisik-bisik di dalam pintu biru itu. Keringat membasahi sekujur tubuh mereka. Antara cemas, takut, atau emang pengap di dalam rumah ini. Setelah belasan menit kemudian, Projo muncul dari balik pintu. Menyuruh masuk mereka berdua berhadapan dengan Usman.
Roni: Kenapa lama?
Projo: Bukan urusanmu. Kalian berdua, masuklah.
Mereka berdua diizinkan masuk ke dalam ruangan berpintu biru. Mereka masuk melihat seorang kakek tua beserta dua anak muda yang sepertinya mengawal si kakek tua itu.
Usman: Bro Projo, apakah kamu bisa meninggalkan kami?
Projo: Tapi big bro, mereka ini...
Usman: Tidak apa-apa, ada Bro Anthony dan Bro Riyadi yang menemaniku.
Projo: Baiklah.
Pintu ruangan tertutup, Projo berjaga di depan pintu berjaga-jaga bila ada suatu masalah. Yusril dan Roni berdiri kaku di hadapan Usman beserta anak buahnya yang duduk di kursi. Mungkin sebelumnya mereka berdiskusi tentang rencana pembunuhan yang ditawarkan oleh Salim.
Usman: Kalian berdua duduklah, tidak apa-apa. Tidak perlu malu2.
Dengan agak ragu2, mereka berdua duduk di hadapan Usman.
Usman: Jadi kedatangan kesini ada urusan apa, apakah dirasa penting.
Roni: Sebenarnya...
Yusril: Aku saja yang ngomong.... Sebenarnya kedatangan kami disini hanya memberikan koper yang kami bawa untuk diserahkan kepada pemimpin Rakun, yang pastinya anda. Jujur kami tidak tahu apa isi dari koper tersebut, dan kami dilarang membuka isi koper tersebut kecuali anda yang membukanya. Dan kami harus melihat anda membuka koper ini. (sambil meletakkan koper yang dibawa diatas meja).
Usman: Benarkah kalian semua mewakili kepolisian pusat.
Yusril: Benar, ini suratnya. (sambil menyerahkan surat)
Usman: Hmmm. Memang asli. Tetapi kenapa harus aku yang membuka koper, dan kalian menunggu aku membuka koper? Apa alasannya?
Yusril: Kami tidak tahu alasannya, kami mendapatkan perintah dari kepolisian untuk menyerahkan koper ini kepada anda, dan menunggu anda membukanya.
Usman: Baik, baik. Kalau begitu aku menolak, aku menolak membuka koper yang bapak-bapak ini berikan kepada saya. Maaf, dan kalian segeralah kembali.
Yusril: Tapi Pak, anda harus membuka koper ini. Ini perintah dari kepolisian.
Usman: Kepolisian mana? Saya tidak diberi alasan mengapa saya harus membuka isi tas koper ini. Bila ingin bekerja sama dengan saya, maka mau tidak mau saya harus diberi alasan. Tanpa alasan yang jelas, saya tidak mau disuruh-suruh. Apakah kalian paham, bila kalian sudah diberi alasan yang jelas, kalian boleh kembali ke sini lagi.
Yusril tanpa gugup menghadapi sikap Usman yang tidak mau m10enurutinya.
Yusril: Pak, ini perintah benar-benar dari pusat pak, pak saya mohon segera membuka isi tas koper ini pak.
Usman: Kalian segeralah oergi dari sini, kalau tidak. Mohon maaf, saya memaksa kalian untuk keluar.
Yusril: Pak..
Roni: Cok! Ultimatum! COK! Ngerti!
Lalu semua orang terdiam....
Riyadi: Hey, hey, hey lambemu, lambemu cangkemu! Jogoen cok omonganmu, kamu gak tahu siapa yang kamu ajak ngomong!
Roni: ULTIMATUM! Kalian paham! Itulah alasan kami membawa koper ini kepada anda! (sambil menunjuk jarinya ke arah Usman).
Usman: Ultimatum? Apa saya tidak salah dengar?
Yusril: Hey ron, ron, ron... maksudmu?
Roni: Ya itu benar-benar ultimatum dari kepolisian, jadi puas mendengar alasan kami?!
Usman: Lalu apa alasannya (lagi) dari kepolisian meng-ultimatum saya atau kami. Dan apa isi dari ultimatumnya.
Lalu Roni menarik mengambil tas koper misterius itu dari meja Usman.
Roni: Aku yakin kau pasti penasaran isi koper ini. Disinilah semua alasan keparatmu disimpan. Penasarankan? Saya juga? Makan silitku! Ayo Ron kita tinggalkan markas setan.
Riyadi: Hancritt.....
Projo (di luar ruangan): .....
Usman: Tunggu, tunggu, tunggu. Setelah aku pikir-pikir, aku mau melihat isi dari tas koper ini.
Roni: Kenapa heh? Bukannya kau bilang tidak mau melihat isi tasku?
Usman: Tadinya aku berpikir begitu. Tapi kalau kalian pergi, apakah kalian tidak dihukum oleh kepolisian.
Roni: Sama sekali tidak. Ayo ril, segera pergi dari sini.
Usman: Baiklah, aku minta maaf atas sikapku tadi. Kau tahu, koper yang kau bawa sangat mencurigakan. Sepertinya aku percaya pada kalian berdua kalau kalian tidak tahu apa isinya, tapi Ultimatum? Apa benar menurutmu begitu?
Roni: Ya, silahkan buka kopernya. Kalau mau.
Lalu Roni yang tadi berdiri segera duduk dan meletakkan kopernya di atas meja, koper masih belum terbuka dan Usman menatap dan menebak apa isi dari koper tersebut.
Usman: Hmmm... Aku berpikir kalau isi dari koper ini bisa saja jebakan, dan bisa saja koper ini ada senjata pembunuh atau apa, kalau kalian bilang ini adalah ultimatum. Aku masih belum mau membuka isi kopernya, dan aku ingin bertanya kepada kalian, khusunya kau (sambil menunjuk Yusril). Apa benar yang dikatakan oleh temanmu itu, kalau kepolisian mengultimatum aku?
Yusril dengan perasaan gugup berkata..
Yusril: Ehh... Iya, iya. Menurutku begitu.
Usman: Anda yakin?
Yusril: Ya, ya sangat yakin.
Usman: Atau mungkin kalian salah dengar dan kalian masih menyangka kalau koper ini isinya adalah hal-hal yang mengultimatum kami.
Yusril: Tidak, kami berpikir kalau memang benar ada isi ultimatum di koper ini.
Usman: Lalu aku bertanya, kira-kira menurut kalian berdua apa isi dari ultimatum ini?
Roni: Menurutku isinya...
Usman: Aku tidak bertanya padamu, aku bertanya kepada temanmu.
Yusril: Ah, anu, anu.
Riyadi: Mungkin kalian berdua berbohong, hubungan kami dengan kepolisian masih baik-baik saja (walaupun dengan pihak militer agak gimana gitu)
Roni: Tidak kami tidak berbohong.
Usman: Jadi isinya apa? Yusril.
Yusril: Eh kau tahu namaku? Oh ya, orang yg jaga tadi ya... ehhh... sebenarnya aku tidak tahu, jujur aku tidak tahu tentang Ultimatum itu. Yang tahu cuma Roni ini.
Usman: Oh begitu ya, jadi temanmu yang satunya menguping pembicaraan di kepolisian ini, soal Ultimatum.
Roni: Ya itu benar. Yusril tidak tahu apa2, tapi aku tahu kalau kepolisian bersama militer mau mengultimatum kalian. Dan isi Ultimatumnya...
Usman: Sebentar, jangan bicara dulu tentang isi ultimatum. Aku ingin kalian berdua membuka koper ini.
Yusril: Tapi pak, harus bapak yang membuka koper ini. Kami tidak diperbolehkan untuk membuka koper.
Usman: Dan saya memperbolehkan kalian berdua membuka kopernya.
Yusril dan Roni: ......
Usman: Ayolah jangan malu-malu, kalian berdua di dalam pengawasanku bukan kepolisian. Polisi tidak mungkin melihat kalian berdua membuka koper. Tenang aku dan dua orang yang dibelakangku tidak akan memberitahu kalau kalian berdualah yang membuka koper. Tidak usah sungkan.
Anthony: Waktu kalian berdua cuma 1 menit untuk membuka koper. Bila tidak, kalian berdua akan mendapatkan.... you know lah (sambil memegang pistol di saku kanannya)
Riyadi: (dengan mata tajam menatap dua orang itu, dia memegang pistol di sakunya juga)
Usman: Jadi gimana?
Yusril: Gulp... Apakah ini adalah Ultimatum?
Usman: Aku tidak tahu isinya (koper) apa, jadi aku belum tahu apakah ini ultimatum atau tidak.
Yusril: Bukan begitu, maksudku apakah yang kau lakukan saat ini adalah "Ultimatum" terhadap kita?
Usman: Sepertinya begitu, aku terpaksa melakukannya.
Lalu dua orang itu segera membuka koper itu. Mereka berdua memegang tas koper misterius yang bewarna hitam itu.
Roni: Kita buka bersama, aku juga penasaran apa isinya.
Yusril: Ok.
Kedua tangan mereka satu persatu membuka kunci koper, tinggal membuka kopernya.
Dan akhirnya mereka membuka tas koper dan melihat sesuatu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Usman: Apa isinya?
Yusril dan Roni cuma bengong saja, lalu dia membalikkan tas koper itu dan memperlihatkan isi dalam tas kepada Usman. Dan isinya adalah sebuah pistol yang sepertinya telah berisi peluru dan sebuah kertas.
Usman: Ehhh... apakah ini yang kau sebut Ultimatum?
Lalu Usman pun mengambil sebuah lembaran kertas dan dia lalu membaca tulisan di kertas itu.
Usman: Hehehe, saya rasa ini bukan ultimatum. Lihat saja kertasnya.
Lalu dia menyodorkan kertas itu kepada Roni dan Yusril, dan tulisannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"BUNUH DUA RONIN ITU! DENGAN PISTOL YANG DALAM KOPER!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Usman: Aku heran kenapa sampai kepolisian menyuruh aku untuk membunuh kalian berdua? Apa ada yang tahu?
Segera dengan reflek cepat, Yusril dan Roni meraba-raba saku mereka. Mencari pistol yang mereka bawa, tetapi....
(di luar ruangan) Projo: Apaan pistol ini? Pakai ditempel stiker segala?
Usman: Oh ya aku lupa, peraturan yang paling utama untuk menemuiku di dalam ruangan ini, dilarang membawa senjata. Sepertinya Projo berhasil membawa senjata kalian.
(sambil berdiri) Roni: baik!
Lalu Roni terpaksa mengambil senjata yang dalam koper itu, membuka pengaman dan membidik ke arah Usman. Segera Riyadi dan Anthony berdiri dan mengarahkan senjata mereka ke arah Roni dan Yusril.
Anthony: Letakkan senjata kalian!
Usman lalu mengangkat tangan kanannya, memberi aba-aba terhadap Anthony dan Riyadi untuk menahan tembakannya. Posisi mereka saling mengancam, dan Projo masih tetap di luar.
Lalu orang-orang dalam markas panik dan menuju ke pintu biru yang dijaga oleh Projo, tetapi Projo menghentikan langkah orang-orang itu dan berkata biarkan Usman yang menyelesaikannya. Usman tetap tenang dan tersenyum akan hal ini.
Usman: Bila kau menarik pelatuk itu dan membunuhku, kau akan dalam masalah yang sangat besar. Orang-orangku akan membunuh kalian, walaupun kalian berhasil lolos, kalian akan diburu bahkan mungkin kalian akan diburu oleh polisi juga.
Roni: Lebih baik daripada aku dan Yusri dibunuh dengan pistol ini.
Lalu Yusril yang tadinya bengong segera menarik koper itu, dan menjadikan tameng.
Usman: Tenang, santai. Aku sebenarnya tidak ada niat membunuh kalian berdua, aku tidak akan menuruti perintah kepolisian. Aku sangat tahu mengenai tentang kalian semua, Mahadi Yusril dan Roni Fadhal.
Yusril: Apa yang kau tahu tentang kami?
Usman: Kalian berdua adalah dua orang yang memiliki catatan rekor membunuh paling banyak di anggota Ro... maksudku ASPH. Kalian berdua mengetahui banyak sekali informasi-informasi rahasia yang dimiliki oleh negara. Dan banyak sekali peristiwa-persitiwa besar yang ada kaitannya campur tangan kalian, seperti peristiwa tenggelamnya kapal pesiar "Sunrise Strom" milik Nizam.
Yusril: Ya itu benar, itu sabotase dari kami.
Usman: Itulah mengapa aku akan membebaskan kalian, aku tidak memiliki niat untuk membunuh kalian, percayalah. Akan tetapi tolong jelaskan, apa maksud ultimatum yang telah kalian katakan tadi?
BERSAMBUNG
0
Kutip
Balas