- Beranda
- Stories from the Heart
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
...
TS
jhonsonamama
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
SELAMAT DATANG GAN DI THREAD ANE 
Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
Quote:
Sinopsis
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Quote:
Karena satu bab terlalu banyak untuk muat dalam satu post di kaskus, maka dengan ini ane minta maaf bahwa setiap bab akan dibagi menjadi 2 part. Terima kasih
Quote:
INDEX
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
Spoiler for BAB 1 Part 1:
BAB I
ACHEN
ACHEN
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Quote:
NOTE
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Diubah oleh jhonsonamama 07-02-2017 17:38
anasabila memberi reputasi
1
5.7K
Kutip
52
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jhonsonamama
#22
UPDATE BAB 5 PART 1
Di suatu sore yang damai, setidaknya begitu yang dirasakan Razak—cahaya remang-remang dari matahari sore memasuki rumah Razak. Cah hangat yang diminumnya menebar wewangian yang menyebar ke seluruh rumahnya. Kakinya diselonjorkan pada kursi yang menghadap kursi tempat ia duduk. Walaupun ia merasa tenang, hatinya gelisah karena kesepian. Raffi, teman terbaiknya mengkhianatinya dikarenakan harta. Ia tidak memiliki banyak teman, ia sedikit tertutup, dan sifatnya yang blak-blakan dianggap tidak bisa menjaga perasaan orang lain. Ia menyeruput cah dengan perlahan, kemudian termenung kembali, perasaan kesepian terus melandanya, ia memutuskan untuk berjalan-jalan di kota Achen untuk melepas keresahan. Tugas patroli sudah seminggu ia abaikan, ia hanya ingin menenangkan dirinya, dan bersiap untuk persidangan. Ia berjalan sendiri di kota Achen, hatinya kesepian sedangkan kota ini begitu ramai. Ia kemudian melihat pasar mendadak yang didirikan diatas lapangan kosong.
Kemudian ia teringat akan tukang bakong yang dulu ia selamatkan dari jeratan pajak nakal. Pasar sedang ramai-ramainya, para penjual dari kaum hawa; terutama ibu-ibu begitu berisik menawar harga kepada pedagang. Razak berjalan melewati kerumunan-kerumunan pembeli, tubuhnya berdesak-desakan, begitu panas disini—terutama bau keringat orang-orang yang berlalu lalang. Kemudian ia mendekat kepada tenda pedagang bakong, pedagang itu menyadari kehadiran Razak, dan menyapanya dengan hangat.
“Bapak Polisi yang waktu itu!” kata pedagang dengan antusias.
“Namaku Razak bila kau belum tahu,” kata Razak sambil menjabat tangan pedagang dan tersenyum dengan ramah.
“Perkenalkan, namaku Habib!” kata pedagang tersebut. Dari perawakannya, ia terlihat bukan orang asli Achen, hidungnya mancung, rambut ikal, dan terutama matanya yang biru. Sepertinya ia berasal dari negeri Turki. Kesultanan Achen, dan Kesultanan Turki merupakan kerabat baik. Karena mereka mempunyai persamaan-persamaan yang mendukung kekerabatannya. Contohnya kedua kesultanan ini menganut agama Islam. Kerjasama dalam bidang dagang, merupakan hal yang paling mempengaruhi hubungan ini.
“Bagaimana kabarmu Tuan Razak?” tanya pedagang yang sedang senggang.
“Tidak begitu baik Habib, aku digugat oleh Menteri Hussein karena telah mecenderai anak buahnya,” kata Razak sambil melihat-lihat bakong di tenda.
“Aduh, itu merupakan kabar yang sangat buruk. Jika saja aku bisa membantumu Tuan...,” Habib terlihat sangat bersimpati kepada Razak, Habib menjadi ikut cemas.
“Tidak perlu, aku kemari bukan untuk meminta bantuanu Habib yang baik, aku kehabisan bakong,” kata Razak dengan ramah, sebenarnya bakong dirumahnya masih banyak; ia hanya merasa kesepian dan butuh teman berbicara, lagipula ia sendiri tidak percaya bahwa Habib dapat membantu meringankan masalahnya.
“Tetapi, bila kupikir-pikir... Mungkin aku dapat membantumu,” kata Habib setelah ia terlihat asyik dengan pikirannya.
“Bagaimana kau dapat membantuku?” Razak terkejut dengan perkataan Habib, ia langsung mengacuhkan bakong yang sedang dilihatnya.
“Aku akan mengajak semua pedagang disini, yang tidak suka dengan penagihan pajak yang melanggar aturan, untuk membelamu di persidangan nanti! Kau tahu, apa yang bisa mengalahkan hukum? Rakyat lah yang mengalahkannya! Semua pedagang disini sudah tahu akan engkau, kau seperti penyelamat pasar ini, mereka pasti akan dengan senang hati membantumu!” kata Habib dengan semangat, dan berapi-api—sampai pedagang-pedagang lain menjadi memperhatikan mereka berdua. Razak terdiam beberapa saat, ia masih mencerna apa yang dibicarakan Habib.
“Hukum dikalahkan rakyat?” tanya Razak untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar dari Habib, ia pikir mungkin ia salah mendengar.
“Ya tuan, bila kami, para pedagang hadir semua disaat pengadilan berlangsung dan melakukan protes hebat, saya yakin hati Sultan akan lulu,” kata Habib dengan ekspresi yang menunjukkan ia yakin dengan apa yang ia telah katakan.
“Hmmm... Mungkin iya, mungkin tidak,” kata Razak pelan. Ia berfikir bahwa mungkin saja apa yang dikatakan Habib benar, tetapi bisa juga tidak benar.
“Ya memang belum pasti, tetapi apa salahnya dicoba terlebih dahulu,” kata Habib yang menyadari keraguan Razak.
“Ya, memang tidak ada salahnya untuk mencoba,” kata Razak setelah mendengarkan perkataan Habib.
“Terlebih aku merupakan pedagang dari Negeri Turki tuan, bila Sultan menyadari kehadiranku, maka ia pasti tak ingin mengecewakanku sebagai orang Turki, Sultan-mu sangat segan terhadap Sultan-ku,” kata Habib, kali ini dengan nada yang semakin yakin dari sebelumnya. “Kapan persidangan itu digelar tuan?” lanjut Habib.
“Aku tidak tahu, aku menunggu petugas pengadilan datang membawa surat gugatan, dan menjemputku,” kata Razak.
“Kalau begitu berjanjilan tuan, kau akan memberitahuku sebelum mengikuti persidangan, aku hanya ingin membalas budi kepada tuan, khususnya kami—ingin membalas budi,” kata Habib.
“Baiklah kalau begitu, aku berjanji akan memberitahumu,” Razak tersenyum kepada Habib, akhirnya ia merasa sedikit tenang karena ada pihak yang mendukungnya. “Terima kasih Habib, kalau begitu aku izin pamit, aku harus kembali ke rumah,” kata Razak, setelah itu ia berlalu meninggalkan Habib.
Di pojok kota yang jauh berbeda, tempat dimana orang-orang kaya menikmati hasil kerja kerasnya, sebuah rumah tinggi berpagarkan besi (sangat jarang rumah di Achen diberi pagar), dinding rumah itu mengkilat bila terkena cahaya matahari. Luas rumah itu hampir setara dengan luas 5 rumah warga biasa, sangat besar. Disanalah Menteri Hussein bertempat tinggal, tentu beserta pelayan yang banyak. Saat itu udara sedang dingin, angin bertiup pelan namun menusuk, awan hitam sudah terlihat menunggu di ujung langit barat. Sepertinya hujan lebat akan datang, menggantikan terik matahari yang telah berlangsung selama beberapa hari. Daun-daun di pepohonan seperti menari berirama searah arah angin, beberapa dari daunnya melepaskan diri karena sudah tidak kuat atau dengan sengaja. Beberapa tanah-tanah di kota Achen hampir tertutupi oleh daun kering layu berwarna coklat muram. Menteri Hussein, seperti biasa sedang terduduk di kursi taman rumahnya yang elok. Ia duduk di kursi kayu dengan pahatan yang halus, disebelahnya ada meja kayu yang sama halusnya. Diatas meja ada cah hangat yang harum, tentu bukan berasal dari Sumatra. Ia sedang duduk terdiam, sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Seketika pelayannya berjalan pelan kearahnya.
“Tuan, tadi utusan Tuan Malik datang kerumah, ia mengatakan bahwa surat gugatan telah ditandatanganinya, dan tergugat akan segera diberi surat untuk dipanggil ke pengadilan,” kata pelayan tersebut.
“Baiklah kalau begitu, terima kasih, suasana hatiku menjadi baik,” kata Menteri Hussein. Kemudian pelayan itu meninggalkan Menteri Hussein sendirian, menikmati tamannya. Ia kemudian asyik berpikir dengan pikirannya, ia membayangkan apa hukuman yang akan dijatuhkan kepada Razak. Ia sangat benci bila bisnis kotornya diganggu gugat, terutama oleh sebuah amatiran dari kepolisian.
Langkah kaki Razak berjalan beraturan melewati kota Achen yang terlihat lenggang. Hujan akan tiba, dan para pedagang sangat tidak menyukainya. Tenda-tenda pedagang telah dirapihkan dan terlihat kosong. Para anak-anak kecil yang biasanya terlihat sedang bermain-main juga tidak terlihat, mungkin telah disuruh pulang oleh orangtuanya. Kaki panjang Razak berjalan melewati daerah kumuh kota Achen, tepat di timur jauh daerah elit kota Achen. Disini, pepohonan tidak teratur, jalan setapak pun tidak diberi batu dengan teratur. Tanah lembek menghampar sejauh mata, membuat sepatu kulit Razak kotor dengan tanah yang menempel di ujung sepatunya. Setiap Razak menuju rumahnya, ia selalu melewati daerah kumuh ini, karena itu juga Razak sadar betul akan penderitaan rakyat-rakyat kecil di kota Achen ini, ia sendiri bukan lahir dari keluarga yang kaya—malah bisa dibilang keluarga miskin. Setelah melewati daerah kumuh, Razak berjalan melewati kuburan-kuburan yang tidak terawat menuju daerah pertokoan, disitulah rumahnya berada.
Razak berjalan melewati daerah pertokoan, dan rumahnya yang berada di pinggir jalan sempit sudah terlihat. Tetapi tidak hanya rumahnya yang sekarang terlihat, ada dua orang asing sedang terlihat menunggu di ambang pintu rumahnya. Kedua orang asing itu terlihat mengetuk-ngetuk pintu rumahnya yang kosong. Razak menyadarinya, kemudian ia menghampiri kedua orang asing itu. Kedua orang asing itu menyadari kedatangan Razak, kemudian melihatnya beberapa lama.
“Ada apa pak mengetuk pintu rumahku?” tanya Razak.
“Jadi kau pemilik rumah ini, berarti kau Razak ya?” tanya kembali salah satu orang asing yang mukanya terlihat ramah, orang asing yang satunya hanya diam seperti patung.
“Ya benar,” kata Razak menyahutnya.
“Kami petugas pengadilan, kami diminta untuk memberitahukan anda, bahwa anda digugat oleh Menteri Hussein. Surat gugatan telah ditandatangani oleh Tuan Malik, selaku sekretaris pengadilan Kota Achen. Anda kami berikan beritahukan untuk mengetahui bahwa persidangan anda diadakan besok pagi di balai pengadilan pidana,” kata orang asing itu.
“Baiklah, aku sudah menyangkanya. Aku akan hadir besok,” kata Razak dengan nada yang tegas.
“Terima kasih. Bila keesokan hari anda tidak datang, saya dan rekan saya akan kembali untuk pemanggilan kedua,” kata orang asing itu. “Baiklah, kami akan pergi, selamat sore,” katanya dan dua orang asing itu meninggalkan Razak. Sesaat setelah mereka meninggalkan Razak di depan rumahnya, Razak merasa gemetar. Ia merasa tegang, tetapi dilain hal ia merasa semangat, otaknya pun berusaha mencerna apa yang sedang ia rasakan. Razak seperti hendak tertawa, walau rahangnya gemetar, ia merasa senang dan takut sekaligus. Baru pertama kali Razak merasakan perasaan seperti ini, tatapannya kosong tidak memperhatikan. Razak akhirnya mengetahui apa yang ia rasakan—ia merasa sangat hidup. Ia merasakan bahwa keputusan yang dibuatnya benar, ia sangat senang bisa berhadapan dengan penguasa lalim, ia cukup senang bahwa setidaknya ia meresahkan Menteri Hussein. Kemudian Razak masuk kerumahnya dengan suasana hati yang aneh, dan langsung duduk di kursi kayu kesayangannya. Ia menggosok-gosokkan rambutnya yang ikal dengan kasar, sekarang ia berpikir apa yang akan ia siapkan dihadapan hakim besok, yang kabarnya merupakan Sultan Iskandar Muda sendiri. Lalu ia teringat akan percakapan Habib, ia langsung bergegas keluar dari rumahnya menuju pasar, ia berlari sangat kencang. Tidak terasa 10 menit perjalanan ia lewati, ia datang dengan terengah-engah menuju tenda Habib. Habib melihat Razak terengah-engah.
“Ada apa tuan? Kau seperti orang yang dikejar oleh gajah,” kata Habib.
“Begini Habib, persidanganku akan dilakukan esok hari,”kata Razak dengan nafas yang tesenggal.
“Baiklah tuan! Aku akan memberitahu semua pedagang pasar disini!” Habib terlihat sangat bersemangat, walaupun ia hanya membantu.
“Panggil semua kemari, aku yang akan berbicara,” kata Razak mantap. Ia akan melakukan sebuah pidato kecil kepada pedagang. Habib berlari-lari dengan tergesa, ia langsung menghampiri setiap tenda pedagang, para pembeli bingung akan ulah Habib. Para pedagang melihat kearah Razak dengan heran, kemudian mengangguk, tanda mereka menyetujui ajakan Habib. Dalam beberapa saat sudah terlihat macam-macam pedagang berkumpul meriung mengelilingi Razak sebagai pusat. Razak bisa melihat pedagang dari berbagai ras, ada pedagang berasal dari Tiongkok, pedagang dari India, dan pedagang-pedagang lokal. Semua menatap Razak penasaran, beberapa ada yang berbisik dengan sesamanya. Habib berlari kesamping Razak, kemudian ia berteriak.
“Inilah Tuan Razak yang telah membantu kita dari penagihan pajak kotor, dia membela kita semua, bahkan ia menghajar salah satu dari penagih pajak! Ia ingin berbicara kepada kalian semua!” kata Habib keras kepada semua pedagang yang sudah berkumpul. Setelah para pedagang mendengar perkataan Habib, mereka bertepuk tangan, dan menyorak-nyoraki Razak. Razak tersenyum ringan kepada Habib, ia menarik nafas panjang.
“Para pedagang kota Achen yang terhormat. Namaku Razak, anggota polisi patroli. Mungkin anda semua sudah tahu bahwa aku telah menghajar salah satu penagih pajak kotor kemarin, aku tidak suka dengan sifat sewenang-wenang mereka. Mereka mencari harta dari jalan yang kotor, dan aku tidak bisa tinggal diam!” tepuk tangan riuh, pasar menjadi seperti pusat pertunjukkan, aktifitas jual beli lumpuh sementara.
“Tetapi sayangnya, Menteri Pajak yaitu Menteri Hussein telah menggugatku! Ia tidak terima bahwa anak buahnya telah aku lukai! Dan aku dipanggil untuk menghadiri persidangan besok, melawan Menteri Hussein! Aku minta kalian semua hadir disana, dan membelaku! Dan yakinlah, aku akan membela kalian semua!” kata Razak dengan penuh wibawa dan sangat berapi-api. Razak sendiri terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan, dampaknya sangat hebat. Para pedagang bersorak sorai riuh, beberapa dari mereka meneriakkan nama Razak berulang-ulang kali. Habib yang daritadi disebelahnya melongo, ia sangat kagum terhadap Razak. Hasil dari pidato Razak menimbulkan dampak positif, mereka berteriak dengan tidak karuan bahwa mereka akan datang. Razak berterima kasih, kemudian ia menjabat tangan semua pedagang di tempat itu dengan senyumnya. Masyarakat yang melintasi pasar, dan para masyarakat Achen yang sedang berbelanja juga bertepuk tangan kepada Razak, dan ikut menyalaminya. Razak bak tokoh revolusioner di pasar ini, semua telah mengenalnya, dan semua mendukungnya. Razak sangat puas dengan pencapaian ini, ia harap para pedagang dapat menjadi juru selamatnya dalam persidangan besok.
Setelah pidato Razak tersebut, aktifitas jual beli kembali berjalan, setelah berterima kasih kepada Habib, Razak pulang kerumahnya dengan perasaan yang jauh lebih baik daripada saat ia berangkat menuju pasar. Ia sekarang telah bersandar pada kursi kayu kesayangannya, dan sedang membakar bakong dengan tenang. Akhirnya ia rasa ia dapat tidur tenang malam ini, dan yakin bahwa para pedagang akan membantunya esok. Hisapan demi hisapan bakong Turki favoritnya terasa begitu nikmat, ditemani kegelapan sebuah bara api menyala, dan dengan tenang membakar lintingan perlahan. Asap putih keluar dari mulutnya, begitu syahdu, asap mengepul menuju langit-langit—malam ini terasa begitu bersahaja, jangkrik diluar saling bernyanyi seakan memahami betul suasana hati Razak yang sedang gembira. Untuk malam ini, Razak tertidur dengan lelap untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini, dan ia tertidur tanpa bermimpi.
Spoiler for BAB V Part 1:
BAB V
PARA PEDAGANG PASAR
PARA PEDAGANG PASAR
Di suatu sore yang damai, setidaknya begitu yang dirasakan Razak—cahaya remang-remang dari matahari sore memasuki rumah Razak. Cah hangat yang diminumnya menebar wewangian yang menyebar ke seluruh rumahnya. Kakinya diselonjorkan pada kursi yang menghadap kursi tempat ia duduk. Walaupun ia merasa tenang, hatinya gelisah karena kesepian. Raffi, teman terbaiknya mengkhianatinya dikarenakan harta. Ia tidak memiliki banyak teman, ia sedikit tertutup, dan sifatnya yang blak-blakan dianggap tidak bisa menjaga perasaan orang lain. Ia menyeruput cah dengan perlahan, kemudian termenung kembali, perasaan kesepian terus melandanya, ia memutuskan untuk berjalan-jalan di kota Achen untuk melepas keresahan. Tugas patroli sudah seminggu ia abaikan, ia hanya ingin menenangkan dirinya, dan bersiap untuk persidangan. Ia berjalan sendiri di kota Achen, hatinya kesepian sedangkan kota ini begitu ramai. Ia kemudian melihat pasar mendadak yang didirikan diatas lapangan kosong.
Kemudian ia teringat akan tukang bakong yang dulu ia selamatkan dari jeratan pajak nakal. Pasar sedang ramai-ramainya, para penjual dari kaum hawa; terutama ibu-ibu begitu berisik menawar harga kepada pedagang. Razak berjalan melewati kerumunan-kerumunan pembeli, tubuhnya berdesak-desakan, begitu panas disini—terutama bau keringat orang-orang yang berlalu lalang. Kemudian ia mendekat kepada tenda pedagang bakong, pedagang itu menyadari kehadiran Razak, dan menyapanya dengan hangat.
“Bapak Polisi yang waktu itu!” kata pedagang dengan antusias.
“Namaku Razak bila kau belum tahu,” kata Razak sambil menjabat tangan pedagang dan tersenyum dengan ramah.
“Perkenalkan, namaku Habib!” kata pedagang tersebut. Dari perawakannya, ia terlihat bukan orang asli Achen, hidungnya mancung, rambut ikal, dan terutama matanya yang biru. Sepertinya ia berasal dari negeri Turki. Kesultanan Achen, dan Kesultanan Turki merupakan kerabat baik. Karena mereka mempunyai persamaan-persamaan yang mendukung kekerabatannya. Contohnya kedua kesultanan ini menganut agama Islam. Kerjasama dalam bidang dagang, merupakan hal yang paling mempengaruhi hubungan ini.
“Bagaimana kabarmu Tuan Razak?” tanya pedagang yang sedang senggang.
“Tidak begitu baik Habib, aku digugat oleh Menteri Hussein karena telah mecenderai anak buahnya,” kata Razak sambil melihat-lihat bakong di tenda.
“Aduh, itu merupakan kabar yang sangat buruk. Jika saja aku bisa membantumu Tuan...,” Habib terlihat sangat bersimpati kepada Razak, Habib menjadi ikut cemas.
“Tidak perlu, aku kemari bukan untuk meminta bantuanu Habib yang baik, aku kehabisan bakong,” kata Razak dengan ramah, sebenarnya bakong dirumahnya masih banyak; ia hanya merasa kesepian dan butuh teman berbicara, lagipula ia sendiri tidak percaya bahwa Habib dapat membantu meringankan masalahnya.
“Tetapi, bila kupikir-pikir... Mungkin aku dapat membantumu,” kata Habib setelah ia terlihat asyik dengan pikirannya.
“Bagaimana kau dapat membantuku?” Razak terkejut dengan perkataan Habib, ia langsung mengacuhkan bakong yang sedang dilihatnya.
“Aku akan mengajak semua pedagang disini, yang tidak suka dengan penagihan pajak yang melanggar aturan, untuk membelamu di persidangan nanti! Kau tahu, apa yang bisa mengalahkan hukum? Rakyat lah yang mengalahkannya! Semua pedagang disini sudah tahu akan engkau, kau seperti penyelamat pasar ini, mereka pasti akan dengan senang hati membantumu!” kata Habib dengan semangat, dan berapi-api—sampai pedagang-pedagang lain menjadi memperhatikan mereka berdua. Razak terdiam beberapa saat, ia masih mencerna apa yang dibicarakan Habib.
“Hukum dikalahkan rakyat?” tanya Razak untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar dari Habib, ia pikir mungkin ia salah mendengar.
“Ya tuan, bila kami, para pedagang hadir semua disaat pengadilan berlangsung dan melakukan protes hebat, saya yakin hati Sultan akan lulu,” kata Habib dengan ekspresi yang menunjukkan ia yakin dengan apa yang ia telah katakan.
“Hmmm... Mungkin iya, mungkin tidak,” kata Razak pelan. Ia berfikir bahwa mungkin saja apa yang dikatakan Habib benar, tetapi bisa juga tidak benar.
“Ya memang belum pasti, tetapi apa salahnya dicoba terlebih dahulu,” kata Habib yang menyadari keraguan Razak.
“Ya, memang tidak ada salahnya untuk mencoba,” kata Razak setelah mendengarkan perkataan Habib.
“Terlebih aku merupakan pedagang dari Negeri Turki tuan, bila Sultan menyadari kehadiranku, maka ia pasti tak ingin mengecewakanku sebagai orang Turki, Sultan-mu sangat segan terhadap Sultan-ku,” kata Habib, kali ini dengan nada yang semakin yakin dari sebelumnya. “Kapan persidangan itu digelar tuan?” lanjut Habib.
“Aku tidak tahu, aku menunggu petugas pengadilan datang membawa surat gugatan, dan menjemputku,” kata Razak.
“Kalau begitu berjanjilan tuan, kau akan memberitahuku sebelum mengikuti persidangan, aku hanya ingin membalas budi kepada tuan, khususnya kami—ingin membalas budi,” kata Habib.
“Baiklah kalau begitu, aku berjanji akan memberitahumu,” Razak tersenyum kepada Habib, akhirnya ia merasa sedikit tenang karena ada pihak yang mendukungnya. “Terima kasih Habib, kalau begitu aku izin pamit, aku harus kembali ke rumah,” kata Razak, setelah itu ia berlalu meninggalkan Habib.
Di pojok kota yang jauh berbeda, tempat dimana orang-orang kaya menikmati hasil kerja kerasnya, sebuah rumah tinggi berpagarkan besi (sangat jarang rumah di Achen diberi pagar), dinding rumah itu mengkilat bila terkena cahaya matahari. Luas rumah itu hampir setara dengan luas 5 rumah warga biasa, sangat besar. Disanalah Menteri Hussein bertempat tinggal, tentu beserta pelayan yang banyak. Saat itu udara sedang dingin, angin bertiup pelan namun menusuk, awan hitam sudah terlihat menunggu di ujung langit barat. Sepertinya hujan lebat akan datang, menggantikan terik matahari yang telah berlangsung selama beberapa hari. Daun-daun di pepohonan seperti menari berirama searah arah angin, beberapa dari daunnya melepaskan diri karena sudah tidak kuat atau dengan sengaja. Beberapa tanah-tanah di kota Achen hampir tertutupi oleh daun kering layu berwarna coklat muram. Menteri Hussein, seperti biasa sedang terduduk di kursi taman rumahnya yang elok. Ia duduk di kursi kayu dengan pahatan yang halus, disebelahnya ada meja kayu yang sama halusnya. Diatas meja ada cah hangat yang harum, tentu bukan berasal dari Sumatra. Ia sedang duduk terdiam, sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Seketika pelayannya berjalan pelan kearahnya.
“Tuan, tadi utusan Tuan Malik datang kerumah, ia mengatakan bahwa surat gugatan telah ditandatanganinya, dan tergugat akan segera diberi surat untuk dipanggil ke pengadilan,” kata pelayan tersebut.
“Baiklah kalau begitu, terima kasih, suasana hatiku menjadi baik,” kata Menteri Hussein. Kemudian pelayan itu meninggalkan Menteri Hussein sendirian, menikmati tamannya. Ia kemudian asyik berpikir dengan pikirannya, ia membayangkan apa hukuman yang akan dijatuhkan kepada Razak. Ia sangat benci bila bisnis kotornya diganggu gugat, terutama oleh sebuah amatiran dari kepolisian.
Langkah kaki Razak berjalan beraturan melewati kota Achen yang terlihat lenggang. Hujan akan tiba, dan para pedagang sangat tidak menyukainya. Tenda-tenda pedagang telah dirapihkan dan terlihat kosong. Para anak-anak kecil yang biasanya terlihat sedang bermain-main juga tidak terlihat, mungkin telah disuruh pulang oleh orangtuanya. Kaki panjang Razak berjalan melewati daerah kumuh kota Achen, tepat di timur jauh daerah elit kota Achen. Disini, pepohonan tidak teratur, jalan setapak pun tidak diberi batu dengan teratur. Tanah lembek menghampar sejauh mata, membuat sepatu kulit Razak kotor dengan tanah yang menempel di ujung sepatunya. Setiap Razak menuju rumahnya, ia selalu melewati daerah kumuh ini, karena itu juga Razak sadar betul akan penderitaan rakyat-rakyat kecil di kota Achen ini, ia sendiri bukan lahir dari keluarga yang kaya—malah bisa dibilang keluarga miskin. Setelah melewati daerah kumuh, Razak berjalan melewati kuburan-kuburan yang tidak terawat menuju daerah pertokoan, disitulah rumahnya berada.
Razak berjalan melewati daerah pertokoan, dan rumahnya yang berada di pinggir jalan sempit sudah terlihat. Tetapi tidak hanya rumahnya yang sekarang terlihat, ada dua orang asing sedang terlihat menunggu di ambang pintu rumahnya. Kedua orang asing itu terlihat mengetuk-ngetuk pintu rumahnya yang kosong. Razak menyadarinya, kemudian ia menghampiri kedua orang asing itu. Kedua orang asing itu menyadari kedatangan Razak, kemudian melihatnya beberapa lama.
“Ada apa pak mengetuk pintu rumahku?” tanya Razak.
“Jadi kau pemilik rumah ini, berarti kau Razak ya?” tanya kembali salah satu orang asing yang mukanya terlihat ramah, orang asing yang satunya hanya diam seperti patung.
“Ya benar,” kata Razak menyahutnya.
“Kami petugas pengadilan, kami diminta untuk memberitahukan anda, bahwa anda digugat oleh Menteri Hussein. Surat gugatan telah ditandatangani oleh Tuan Malik, selaku sekretaris pengadilan Kota Achen. Anda kami berikan beritahukan untuk mengetahui bahwa persidangan anda diadakan besok pagi di balai pengadilan pidana,” kata orang asing itu.
“Baiklah, aku sudah menyangkanya. Aku akan hadir besok,” kata Razak dengan nada yang tegas.
“Terima kasih. Bila keesokan hari anda tidak datang, saya dan rekan saya akan kembali untuk pemanggilan kedua,” kata orang asing itu. “Baiklah, kami akan pergi, selamat sore,” katanya dan dua orang asing itu meninggalkan Razak. Sesaat setelah mereka meninggalkan Razak di depan rumahnya, Razak merasa gemetar. Ia merasa tegang, tetapi dilain hal ia merasa semangat, otaknya pun berusaha mencerna apa yang sedang ia rasakan. Razak seperti hendak tertawa, walau rahangnya gemetar, ia merasa senang dan takut sekaligus. Baru pertama kali Razak merasakan perasaan seperti ini, tatapannya kosong tidak memperhatikan. Razak akhirnya mengetahui apa yang ia rasakan—ia merasa sangat hidup. Ia merasakan bahwa keputusan yang dibuatnya benar, ia sangat senang bisa berhadapan dengan penguasa lalim, ia cukup senang bahwa setidaknya ia meresahkan Menteri Hussein. Kemudian Razak masuk kerumahnya dengan suasana hati yang aneh, dan langsung duduk di kursi kayu kesayangannya. Ia menggosok-gosokkan rambutnya yang ikal dengan kasar, sekarang ia berpikir apa yang akan ia siapkan dihadapan hakim besok, yang kabarnya merupakan Sultan Iskandar Muda sendiri. Lalu ia teringat akan percakapan Habib, ia langsung bergegas keluar dari rumahnya menuju pasar, ia berlari sangat kencang. Tidak terasa 10 menit perjalanan ia lewati, ia datang dengan terengah-engah menuju tenda Habib. Habib melihat Razak terengah-engah.
“Ada apa tuan? Kau seperti orang yang dikejar oleh gajah,” kata Habib.
“Begini Habib, persidanganku akan dilakukan esok hari,”kata Razak dengan nafas yang tesenggal.
“Baiklah tuan! Aku akan memberitahu semua pedagang pasar disini!” Habib terlihat sangat bersemangat, walaupun ia hanya membantu.
“Panggil semua kemari, aku yang akan berbicara,” kata Razak mantap. Ia akan melakukan sebuah pidato kecil kepada pedagang. Habib berlari-lari dengan tergesa, ia langsung menghampiri setiap tenda pedagang, para pembeli bingung akan ulah Habib. Para pedagang melihat kearah Razak dengan heran, kemudian mengangguk, tanda mereka menyetujui ajakan Habib. Dalam beberapa saat sudah terlihat macam-macam pedagang berkumpul meriung mengelilingi Razak sebagai pusat. Razak bisa melihat pedagang dari berbagai ras, ada pedagang berasal dari Tiongkok, pedagang dari India, dan pedagang-pedagang lokal. Semua menatap Razak penasaran, beberapa ada yang berbisik dengan sesamanya. Habib berlari kesamping Razak, kemudian ia berteriak.
“Inilah Tuan Razak yang telah membantu kita dari penagihan pajak kotor, dia membela kita semua, bahkan ia menghajar salah satu dari penagih pajak! Ia ingin berbicara kepada kalian semua!” kata Habib keras kepada semua pedagang yang sudah berkumpul. Setelah para pedagang mendengar perkataan Habib, mereka bertepuk tangan, dan menyorak-nyoraki Razak. Razak tersenyum ringan kepada Habib, ia menarik nafas panjang.
“Para pedagang kota Achen yang terhormat. Namaku Razak, anggota polisi patroli. Mungkin anda semua sudah tahu bahwa aku telah menghajar salah satu penagih pajak kotor kemarin, aku tidak suka dengan sifat sewenang-wenang mereka. Mereka mencari harta dari jalan yang kotor, dan aku tidak bisa tinggal diam!” tepuk tangan riuh, pasar menjadi seperti pusat pertunjukkan, aktifitas jual beli lumpuh sementara.
“Tetapi sayangnya, Menteri Pajak yaitu Menteri Hussein telah menggugatku! Ia tidak terima bahwa anak buahnya telah aku lukai! Dan aku dipanggil untuk menghadiri persidangan besok, melawan Menteri Hussein! Aku minta kalian semua hadir disana, dan membelaku! Dan yakinlah, aku akan membela kalian semua!” kata Razak dengan penuh wibawa dan sangat berapi-api. Razak sendiri terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan, dampaknya sangat hebat. Para pedagang bersorak sorai riuh, beberapa dari mereka meneriakkan nama Razak berulang-ulang kali. Habib yang daritadi disebelahnya melongo, ia sangat kagum terhadap Razak. Hasil dari pidato Razak menimbulkan dampak positif, mereka berteriak dengan tidak karuan bahwa mereka akan datang. Razak berterima kasih, kemudian ia menjabat tangan semua pedagang di tempat itu dengan senyumnya. Masyarakat yang melintasi pasar, dan para masyarakat Achen yang sedang berbelanja juga bertepuk tangan kepada Razak, dan ikut menyalaminya. Razak bak tokoh revolusioner di pasar ini, semua telah mengenalnya, dan semua mendukungnya. Razak sangat puas dengan pencapaian ini, ia harap para pedagang dapat menjadi juru selamatnya dalam persidangan besok.
Setelah pidato Razak tersebut, aktifitas jual beli kembali berjalan, setelah berterima kasih kepada Habib, Razak pulang kerumahnya dengan perasaan yang jauh lebih baik daripada saat ia berangkat menuju pasar. Ia sekarang telah bersandar pada kursi kayu kesayangannya, dan sedang membakar bakong dengan tenang. Akhirnya ia rasa ia dapat tidur tenang malam ini, dan yakin bahwa para pedagang akan membantunya esok. Hisapan demi hisapan bakong Turki favoritnya terasa begitu nikmat, ditemani kegelapan sebuah bara api menyala, dan dengan tenang membakar lintingan perlahan. Asap putih keluar dari mulutnya, begitu syahdu, asap mengepul menuju langit-langit—malam ini terasa begitu bersahaja, jangkrik diluar saling bernyanyi seakan memahami betul suasana hati Razak yang sedang gembira. Untuk malam ini, Razak tertidur dengan lelap untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini, dan ia tertidur tanpa bermimpi.
Diubah oleh jhonsonamama 26-01-2017 13:13
0
Kutip
Balas