- Beranda
- Stories from the Heart
Cahaya Ratih (18+/Thriller Genre)
...
TS
paycho.author
Cahaya Ratih (18+/Thriller Genre)
Quote:
GanSis, ane mau ngesharecerita ane berikutnya. Ini cerita udah ane bikin 4 tahun yang lalu tapi baru ane sharesekarang.
BTW, ini cerita genre thriller, crime, and romance.
Jangan lupa komennya, yah GanSis
Ini cerita ane yang sebelumnya. Full Romance dan lumayan bikin

Tapi 18+ juga
Kunjungin GanSis
BTW, ini cerita genre thriller, crime, and romance.
Jangan lupa komennya, yah GanSis

Ini cerita ane yang sebelumnya. Full Romance dan lumayan bikin


Tapi 18+ juga

Kunjungin GanSis
Quote:
DAFTAR ISI
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
CHARACTER'S BIO: NARA
PART 33
PART 34
CHARACTER'S BIO: RATIH
PART 35
CHARACTER'S BIO: DR. OKTA
PART 36
CHARACTER'S BIO: DR. Gladys
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
EPILOGUE
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
CHARACTER'S BIO: NARA
PART 33
PART 34
CHARACTER'S BIO: RATIH
PART 35
CHARACTER'S BIO: DR. OKTA
PART 36
CHARACTER'S BIO: DR. Gladys
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
EPILOGUE
Quote:
20rb 
Makasih yahhhhh.......moga2 bisa nyampe 100rb one day......

Makasih yahhhhh.......moga2 bisa nyampe 100rb one day......
Diubah oleh paycho.author 13-05-2017 07:23
junti27 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
105K
Kutip
683
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
paycho.author
#43
PART 6
Quote:
Kali ini Nara dipanggil bukan karena ia mendapat teguran lagi, tapi karena ada undangan istimewa untuk Nara. Sebuah undangan mewah berwarna hitam yang sampulnya saja dibuat dari beludru dengan pita emas, lebih mirip dompet yang dibawa perempuan ke kondangan daripada sebuah undangan.
“Undangan dari Keluarga Kartasurya buat kamu.”
Memang namanya yang tertulis di sana dan Nara membuka undangan itu. Ada nomor RSVP yang harus ia hubungi untuk mengkonfirmasi apakah ia akan datang atau tidak, serta tulisan ia boleh membawa satu tamu ekstra, undangannya ditulis dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Perancis. Nara sudah bersiap untuk menolak ketika Mahesa angkat bicara dan mengatakan ia tidak boleh menolak.
“Kenapa saya tidak boleh menolak, Pak?”
“Saya terkejut, loh kamu bertanya begitu.” Mahesa mendekatkan kursinya pada Nara dan mulai berbicara serius. “Ini pesta besar, cuma untuk kaum elit. Kamu bukan bagian dari mereka. Kamu enggak ngerasa aneh kalau diundang?” Nara mulai memikirkan kata-kata atasannya itu. “Saya yakin ada sesuatu. Karena itu baiknya kamu datang. Tidak perlu khawatir, kamu akan diawasi beberapa petugas.....”
“Tidak perlu, Pak. Yang seperti itu lebih mencurigakan. Saya mau ikuti permainannya dulu.”
Nara memberi hormat dan berjalan keluar ruangan. Ia langsung menelepon nomor RSVP itu ketika sampai di rumah. Ternyata proses mengkonfirmasi kehadiran itu lebih rumit daripada proses mendaftar menjadi polisi, Nara diminta untuk menyebutkan nomor undangannya, namanya sesuai dengan kartu pengenalnya beberapa kali, kemudian mengejanya, menyebutkan nomor tanda pengenal, kemudian alamat dan nomor teleponnya sampai-sampai tenggorokannya terasa kering.
“Anda diperbolehkan untuk membawa seorang pendamping, apa ada pendamping yang akan Anda bawa?”
“Tidak. Tidak ada.”
Ternyata sedih juga ketika ia bilang tidak ada.Kalau teman-temannya dengar, pasti ia sudah dikata-katain jomblo.
Cakep-cakep jomblo, jangan-jangan homo.
Tapi mungkin ada bagusnya juga kalau ia tidak membawa siapapun, siapa tahu dia malah ketemu cewek cakep di sana. Apalagi kalau lihat betapa rumitnya cuma mau RSVP, pasti tamunya juga VIP. Mungkin sorang-orang yang namanya hanya pernah Nara baca di majalah bisnis dan lifestyle, yang hidupnya sudah kebanyakan duit sampai-sampai bingung mau diapakan lagi duitnya.
Ibu Nara tidak percaya ketika anaknya ribut mencari tuxedo untuk malam minggu. Kencan sama siapa sampai harus pakai baju resmi? Biasanya keluar dari kamar saja di malam Minggu tidak pernah.
Ibunya membantu Nara berpakaian dengan menggunakan pakaian resmi kakeknya yang berbau seperti kayu karena terlalu lama disimpan di lemari. Memakai celana satin dan kemeja putih memang gampang, tapi yang lainnya yang tidak bisa dipahami oleh Nara.
Dengan sabar ibunya merapikan kemeja putihnya, yang bahkan cara memakainya saja salah sehingga terlihat miring dan tidak rapi.
“Kancingkan lehernya.”
“Masa sih? Boleh enggak dikancing, Bu?”
“Kalau seperti itu nanti tidak bagus kalau kamu pakai dasi. Yang benar, buka kancing yang paling atas, dan kancingkan kancing leher.”
Setelah Nara membuka kancing atas dan mengkancingkan kancing leher, ibunya memasangkan sebuah shirt stud yang terbuat dari perak dengan mata terbuat dari batuan berwarna….. entah bagaimana Nara mendeskripsikan warna, batu itu berwarna dasar kuning kecokelatan, namun tetap ada secercah warna merah dan abu-abu, sedikit warna hijau juga, kalau kata orang ini yang namanya batu bacan. Cuff links dengan mata yang sama dipakaikan oleh ibunya di lengan bajunya sebagai pengganti kancing.
“Pakai yang mana, Bu?” Nara mengangkat sebuah cummerbund dan rompi. Ibunya menunjuk cummberbund karena teorinya cummerbund dipakai pada malam yang hangat, meski itu rasanya rancu teori itu diterapkan di negara tropis yang selalu hangat. Cummerbund adalah semacam kain yang diikatkan di pinggang yang digunakan pada baju resmi laki-laki.
“Naikan kerahmu, Nara. Sini ibu pakaikan dasinya.” Dengan terampil ibunya membentuk dasi menjadi dasi kupu-kupu yang rapi. Ini adalah keterampilan janggal mengingat ibunya yang hippie itu benci pada kaum perlente, tapi ia bisa mendandani anak laki-lakinya itu menjadi perlente sekali. “Sebelum pakai jas, rapikan dulu rambutnya, nanti ibu pakaikan jasnya.” “Ini, jangan lupa pakai ini.” Ibunya menaruh sebuah saputangan yang sudah dilipat menjadi segitiga ke dalam saku jas Nara. “Kamu mau pergi naik apa, Nara?”
“Naik taksi saja, Bu. Biar praktis.”
“Entah kenapa, Ibu merasa kamu pasti ada maunya pergi ke pesta ini. Pasti ada hubungannya dengan kasus yang kamu tangani, kan?”
“Jangan dipikirin, Bu.Nara kan cuma ke pesta. Nara juga enggak tahu kenapa diundang. Tapi Nara aenggak apa-apa, kok.” Sebelum pergi, Nara mencium pipi ibunya.
Ia sama khawatir dengan ibunya, ia tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Zakaria Kartasurya yang mulai terlihat hitam di mata Nara.
Sebelum masuk ke dalam sebuah gedung mewah tempat acara berlangsung, Nara harus melewati beberapa prosedur pemeriksaan keamanan yang sama ketatnya dengan prosedur di bandara. Terlebih dahulu ia harus memperlihatkan undangan dan kartu pengenal. Seluruh barang bawaannya digeledah dan dilakukan juga body check. Memang tidak enak rasanya diperiksa seperti ini, pantas saja orang selalu kelihatan tidak nyaman ketika digeledah.
Setelah dinyatakan aman, Nara diizinkan untuk masuk melewati sebuah pintu kayu yang sangat tinggi, kemudian naik ke ruangan melewati tangga yang dilapisi oleh karpet berwarna merah.
Di dalam ruangan tempat pesta, gemerlapnya cahaya lampu bertuburukan dengan gemerlapnya pakaian dan perhiasan mewah yang dipakai oleh mereka yang sedang berpesta serta peralatan makan mahal yang terbuat dari kristal dan perak. Sebuah chandelierraksasa tergantung di atas langit-langit bermural yang menggambarkan langit biru cerah dan para dewa-dewi Romawi bergaya Renaissance yang terlihat gemuk namun tetap nyaman dengan ketelanjangan mereka.
Kemana Nara harus melangkah ia tidak tahu. Apa yang harus ia lakukan, tidak terpikirkan. Ia hanya diam saja di dekat tangga yang tadi ia naiki. Suara musik-musik klasik dan musik-musik vintage selera orang-orang kaya terdengar dari para pemain musik. Sesekali musik yang dimainkan adalah musik dansa sehingga mereka yang ingin berdansa akan berdansa mengikuti musik. Dansanya tentu bukan dansa yang hanya jingkrak-jingkrak, tapi ballroom dance macam salsa dan foxtrot, yang diawali dan diakhiri dengan membungkukkan badan.
“Kamu…..Narada, kan? Yang polisi itu?” Nara mengangguk dengan penuh kelegaan ketika melihat tuan rumah menyapanya. Setidaknya ada yang mengajaknya bicara. Setelah menyalaminya, Bapak Zakaria membawanya berkeliling bertemu dengan istrinya dan kerabatnya yang lain. Nara diperkenalkan sebagai polisi yang membantunya menyelesaikan masalah dengan lawan bisnisnya serta mulai mempromosikan Nara.
Masalah bisnis apa? Masalah hukum apa? Memangnya Nara itu pengacara?
Orang kaya memang banyak berpura-pura, rupanya belum ada yang tahu mengenai Julia yang tewas tergantung. Terus saja Nara dibawa berkeliling hingga lama-lama Nara tersenyum dan mengikuti permainan penuh kebohongan ini.
“Kamu sudah makan sesuatu? Atau minum mungkin?”
“Belum, Pak. Saya belum makan atau minum apapun.”
“Kalau begitu nikmati saja dulu pesta ini. Makan atau minum. Atau berdansa. Atau sekedar berbincang-bincang. Di sini banyak perempuan muda cantik dan sukses. Kamu mau yang mana? Artis? Sosialita? Dokter? Pengusaha? Pengacara? Ada semua. Kamu itu ganteng, pasti gampang menarik perhatian perempuan di sini.”
Nara menggeretakan giginya, rupanya tidak enak dibilang ganteng oleh laki-laki. Bapak Zakaria memanggil seorang pelayan yang membawa champagneyang disediakan dalam gelas yang panjang dan sangat ramping, ia memberikan satu gelas pada Nara, satu lagi untuk dirinya. “Nikmati dulu pestanya. Kalau sudah selesai, temui saya di ruangan saya. Tiga puluh menit dari sekarang.”
Daripada memperhatikan perempuan cantik, Nara lebih memperhatikan gelas yang tadi dipakai oleh Bapak Zakaria. Setelah minum, gelas tersebut ditaruh di sebuah meja. Nara gatal ingin mengambil gelas itu karena akan ada bukti DNA yang ia butuhkan untuk kasusnya. Beberapa kali Nara sudah mau mengabil gelas itu, tapi entah kenapa selalu tidak jadi. Malah gelasnya keburu diambil.
Sampai 30 menit, Nara bebas melakukan hal lain, makan misalnya. Ia selalu suka makan. Makanan di sini dibawa berkeliling oleh para pelayan di atas nampan dan dipotong dalam ukuran yang sangat kecil, benar-benar ukuran basa-basi karena sekecil ini nyelap di gigi pun enggak bakal. Rupanya ada kesalahan strategi, ini bukan pesta biasa dimana ia bisa makan sepuasnya karena disediakan nasi serta lauk-pauk prasmanan, ini pesta a’la Barat yang diadakan bukan untuk makan-makan. Sedih rasanya mengingat tadi Nara tidak makan di rumah dengan harapan ia bisa makan enak di sini, apalagi orang-orang ini adalah orang-orang yang sangat judgemental meski tidak mengenal Nara, mereka tidak akan segan-segan untuk melemparkan pandangan penuh celaan kalau ia makan banyak di acara ini. Apalagi, benar kata Bapak Zakaria, Nara itu menarik hingga sejak tadi ada saja perempuan muda yang bermain pandang-pandangan dengannya dan memberikan isyarat bahwa mereka mau diajak berkenalan oleh Nara. Kebanyakan sinyal dan isyarat itu hanya ditangkis dengan senyuman, kemudian Nara membalikan badannya dan pergi ke beranda.
Tidak ada orang di beranda, hanya ada seorang anak perempuan kecil dalam baju yang indah sekali. Wajahnya tidak terlihat karena ia sedang ke halaman yang gelap karena malam ini tidak berbulan. Yang kelihatan cuma rambutnya yang dibiarkan terurai, rambut hitam yang ikal, menutupi punggungnya yang indah yang ditunjukan dari posturnya yang bagus ketika ia berdiri. Anak itu menggunakan gaun terbuat dari organza berwarna merah gelap dengan pita besar berwana putih di belakangnya, seperti baju yang biasa digunakan anak kecil kalau ke pesta ulangtahun.
Lama Nara menatap anak kecil itu, antara kagum dan penasaran, tapi ia juga heran, kok ada anak kecil di pesta semalam ini?
“Kamu sendirian aja, Dik?” Nara mencoba untuk beramah-tamah. Yang diajak berbicara membalikan badan.
“Kamu kira aku anak kecil, yah?” suaranya yang tajam menunjukan ia bukan seorang anak kecil sehingga Nara malu sendiri. Tapi kalau ia tidak bicara pasti Nara masih mengira ia anak kecil. Tingginya hanya setinggi pundak Nara dengan wajah bulat dan pipi tembam, serta poni yang menggembung hampir menutupi matanya yang bulat.
“Uppsss…..sorry.”
Perempuan yang tadi mengeluarkan suara tajam itu kini tersenyum lebih ramah ketika tahu Nara mulai salah tingkah.
“Enggak apa-apa. Maklum, resiko jadi orang pendek selalu dikira anak kecil.”
Ya, pendek, dengan wajah bulat, mata besar dan baju ulangtahun bocah. Darimana gue tahu lu bukan anak kecil?
Untunglah Nara tidak mengutarakan pikirannya itu. Perempuan tadi meminta Nara untuk berdiri di dekatnya sementara ia sendiri melompat untuk duduk di atas balkon. hebat, dia tidak takut kalau ia akan jatuh ketika ia melompat untuk duduk di atas balkon sementara tubuhnya melayang seperti bulu angsa yang ringan sekali.
“Nama kamu siapa?” suaranya berubah, tidak lagi tajam bahkan lebih kekanak-kanakan.
“Saya Narada Kanekaputra. Tapi panggil saja Nara. Kalau kamu?”
“Dewi Ratih. Panggil saja Ratih.”
“Ratih, ya? Kamu sendiri di sini?”
“Iya aku sendirian. Tapi tidak enak juga karena tidak ada yah menghadiri pesta sendirian. Dari tadi tidak ada yang bisa diajak bicara, ya sudah aku keluar saja.”
“Emangnya kamu di sini atas undangan siapa?”
“Aku teman anak yang punya pesta, Julia. Tapi…..dari tadi aku tunggu kok belum datang-datang yah?”
Ingin sekali Nara mengatakan bahwa ia seharusnya tidak menunggu lagi karena temannya itu sudah tidak ada dan kasusnya lebih kelam daripada yang dipikirkan oleh siapapun sebelumnya. Untunglah ia bisa menghentikan lidahnya untuk terus berbicara dan membiarkan Ratih menunggu. Mungkin nanti ia akan pulang kalau temannya itu tidak kunjung datang.
“Kamu sendiri, datang atas undangan siapa? Kamu teman ayahnya?”
“Yah, kurang lebih begitulah.”
“Kurang lebih? Berarti bukan benar-benar teman? Sekedar rekan kerja?”
Buset, ini anak kepo, deh.
Nara menjawab dengan sebuah anggukan agar Ratih tidak terus bertanya. Setelah perkenalan singkat itu Nara dan Ratih tidak lagi banyak bicara, Lagipula, ada baiknya ia tidak terlalu banyak bicara, posisinya sedang tidak aman sekarang. Sudah tentu tidak ada satu orang pun yang tahu dimana atau bagaimana keadaan Julia, dan mereka yang tahu diharapkan tidak berkata apapun.
“Kamu mau minum?” tanya Ratih memecah keheningan.
“Aku tidak minum alkohol.”
“Aku juga, kok.” Ratih melambaikan tangan dan seseorang datang membawa nampan penuh minuman, bukan champagne seperti tadi tapi minuman bersoda. Entah apa yang berbeda dari minuman soda ini, yang pasti ini bukan seperti merk yang biasa diminum oleh Nara, atau setidaknya yang pernah dikenal oleh lidahnya. Mungkin ini merk luar negeri yang belum pernah ada di negara ini. Namanya juga orang kaya, di pesta seperti ini sekalian saja menyuguhkan makanan dan minuman aneh yang tidak biasa diminum orang.
“Ratih masih…..” sekolah? Kerja? Kuliah? “Kuliah?”
“Oh tidak. Aku di rumah saja. Karena…..kalau menurutku lebih baik tinggal di rumah dan belajar daripada belajar di luar.” Aneh rasanya melihat seorang perempuan muda yang cantik berpikiran seperti ibunya yang kontra pada pendidikan formal. “Banyak yang bisa aku baca di rumah, daripada kalau aku harus pergi ke sekolah, rasanya tidak bebas. Sedikit yang bisa kupelajari…..”
“Tapi lebih fokus.” Nara menyela. “Dan yang terpenting dari belajar di luar adalah kita melatih praktek, bukan hanya teori. Banyak orang yang menghabiskan waktunya membaca di rumah tapi tidak pernah mempraktekan apa yang ia tahu. Jadinya ya…..dia cenderung takut pada dunia.”
Mata bulat Ratih membesar dan bibirnya terbuka sedikit. Sepertinya ia tidak pernah ada yang mendebat, jadi ketika didebat, ia sedikit tersentak. Begitulah kalau lebih banyak membaca sendiri di rumah dan jarang bergaul, tidak ada yang dianggap sebagai saingan sehingga seolah-olah ia yang paling tahu segalanya.
“Kamu jarang keluar rumah, yah?”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Yah, kelihatan saja. Belum terkena noda dunia.”
Ratih tertawa mendengar penjelasan Nara itu. Suara tawanya terdengar jernih, seperti lonceng Natal. Jernih tapi tidak jaim, jernih tapi lepas tertawanya, seperti sudah lama tidak ada yang mengajaknya tertawa.
Nara melongok jamnya, tiga puluh menit sudah hampir berlalu sejak ia diminta untuk menghadap Zakaria Kartasurya. Sudah saatnya ia pergi dan mengucapkan salam perpisahan pada perempuan yang baru ditemuinya itu.
“Ratih, aku per.....gi......”
Aneh, rasanya Nara hanya melongok jamnya selama beberapa saat, tapi gadis itu menghilang entah kemana. Dan yang pertama kali dilakukan Nara untuk mencari keberadaannya adalah dengan melihat ke bawah balkon. Ya tentu saja karena jalan yang terdekat untuk menghilang adalah dengan meloncat ke bawah, lagipula Ratih terlihat sangat ringan seperti bulu, jangan-jangan ia terbawa angin.
Sangat disayangkan sekali olehnya Ratih menghilang, tanpa sempat Nara menanyakan kontaknya.
“Undangan dari Keluarga Kartasurya buat kamu.”
Memang namanya yang tertulis di sana dan Nara membuka undangan itu. Ada nomor RSVP yang harus ia hubungi untuk mengkonfirmasi apakah ia akan datang atau tidak, serta tulisan ia boleh membawa satu tamu ekstra, undangannya ditulis dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Perancis. Nara sudah bersiap untuk menolak ketika Mahesa angkat bicara dan mengatakan ia tidak boleh menolak.
“Kenapa saya tidak boleh menolak, Pak?”
“Saya terkejut, loh kamu bertanya begitu.” Mahesa mendekatkan kursinya pada Nara dan mulai berbicara serius. “Ini pesta besar, cuma untuk kaum elit. Kamu bukan bagian dari mereka. Kamu enggak ngerasa aneh kalau diundang?” Nara mulai memikirkan kata-kata atasannya itu. “Saya yakin ada sesuatu. Karena itu baiknya kamu datang. Tidak perlu khawatir, kamu akan diawasi beberapa petugas.....”
“Tidak perlu, Pak. Yang seperti itu lebih mencurigakan. Saya mau ikuti permainannya dulu.”
Nara memberi hormat dan berjalan keluar ruangan. Ia langsung menelepon nomor RSVP itu ketika sampai di rumah. Ternyata proses mengkonfirmasi kehadiran itu lebih rumit daripada proses mendaftar menjadi polisi, Nara diminta untuk menyebutkan nomor undangannya, namanya sesuai dengan kartu pengenalnya beberapa kali, kemudian mengejanya, menyebutkan nomor tanda pengenal, kemudian alamat dan nomor teleponnya sampai-sampai tenggorokannya terasa kering.
“Anda diperbolehkan untuk membawa seorang pendamping, apa ada pendamping yang akan Anda bawa?”
“Tidak. Tidak ada.”
Ternyata sedih juga ketika ia bilang tidak ada.Kalau teman-temannya dengar, pasti ia sudah dikata-katain jomblo.
Cakep-cakep jomblo, jangan-jangan homo.
Tapi mungkin ada bagusnya juga kalau ia tidak membawa siapapun, siapa tahu dia malah ketemu cewek cakep di sana. Apalagi kalau lihat betapa rumitnya cuma mau RSVP, pasti tamunya juga VIP. Mungkin sorang-orang yang namanya hanya pernah Nara baca di majalah bisnis dan lifestyle, yang hidupnya sudah kebanyakan duit sampai-sampai bingung mau diapakan lagi duitnya.
Ibu Nara tidak percaya ketika anaknya ribut mencari tuxedo untuk malam minggu. Kencan sama siapa sampai harus pakai baju resmi? Biasanya keluar dari kamar saja di malam Minggu tidak pernah.
Ibunya membantu Nara berpakaian dengan menggunakan pakaian resmi kakeknya yang berbau seperti kayu karena terlalu lama disimpan di lemari. Memakai celana satin dan kemeja putih memang gampang, tapi yang lainnya yang tidak bisa dipahami oleh Nara.
Dengan sabar ibunya merapikan kemeja putihnya, yang bahkan cara memakainya saja salah sehingga terlihat miring dan tidak rapi.
“Kancingkan lehernya.”
“Masa sih? Boleh enggak dikancing, Bu?”
“Kalau seperti itu nanti tidak bagus kalau kamu pakai dasi. Yang benar, buka kancing yang paling atas, dan kancingkan kancing leher.”
Setelah Nara membuka kancing atas dan mengkancingkan kancing leher, ibunya memasangkan sebuah shirt stud yang terbuat dari perak dengan mata terbuat dari batuan berwarna….. entah bagaimana Nara mendeskripsikan warna, batu itu berwarna dasar kuning kecokelatan, namun tetap ada secercah warna merah dan abu-abu, sedikit warna hijau juga, kalau kata orang ini yang namanya batu bacan. Cuff links dengan mata yang sama dipakaikan oleh ibunya di lengan bajunya sebagai pengganti kancing.
“Pakai yang mana, Bu?” Nara mengangkat sebuah cummerbund dan rompi. Ibunya menunjuk cummberbund karena teorinya cummerbund dipakai pada malam yang hangat, meski itu rasanya rancu teori itu diterapkan di negara tropis yang selalu hangat. Cummerbund adalah semacam kain yang diikatkan di pinggang yang digunakan pada baju resmi laki-laki.
“Naikan kerahmu, Nara. Sini ibu pakaikan dasinya.” Dengan terampil ibunya membentuk dasi menjadi dasi kupu-kupu yang rapi. Ini adalah keterampilan janggal mengingat ibunya yang hippie itu benci pada kaum perlente, tapi ia bisa mendandani anak laki-lakinya itu menjadi perlente sekali. “Sebelum pakai jas, rapikan dulu rambutnya, nanti ibu pakaikan jasnya.” “Ini, jangan lupa pakai ini.” Ibunya menaruh sebuah saputangan yang sudah dilipat menjadi segitiga ke dalam saku jas Nara. “Kamu mau pergi naik apa, Nara?”
“Naik taksi saja, Bu. Biar praktis.”
“Entah kenapa, Ibu merasa kamu pasti ada maunya pergi ke pesta ini. Pasti ada hubungannya dengan kasus yang kamu tangani, kan?”
“Jangan dipikirin, Bu.Nara kan cuma ke pesta. Nara juga enggak tahu kenapa diundang. Tapi Nara aenggak apa-apa, kok.” Sebelum pergi, Nara mencium pipi ibunya.
Ia sama khawatir dengan ibunya, ia tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Zakaria Kartasurya yang mulai terlihat hitam di mata Nara.
Quote:
Begitulah cara memandang orang, kalau orang itu masih baik-baik saja maka Nara akan melihat orang itu sebagai putih, kalau ia jahat, maka akan terlihat hitam. Tidak ada abu-abu hanya hitam dan putih.
Sebelum masuk ke dalam sebuah gedung mewah tempat acara berlangsung, Nara harus melewati beberapa prosedur pemeriksaan keamanan yang sama ketatnya dengan prosedur di bandara. Terlebih dahulu ia harus memperlihatkan undangan dan kartu pengenal. Seluruh barang bawaannya digeledah dan dilakukan juga body check. Memang tidak enak rasanya diperiksa seperti ini, pantas saja orang selalu kelihatan tidak nyaman ketika digeledah.
Setelah dinyatakan aman, Nara diizinkan untuk masuk melewati sebuah pintu kayu yang sangat tinggi, kemudian naik ke ruangan melewati tangga yang dilapisi oleh karpet berwarna merah.
Di dalam ruangan tempat pesta, gemerlapnya cahaya lampu bertuburukan dengan gemerlapnya pakaian dan perhiasan mewah yang dipakai oleh mereka yang sedang berpesta serta peralatan makan mahal yang terbuat dari kristal dan perak. Sebuah chandelierraksasa tergantung di atas langit-langit bermural yang menggambarkan langit biru cerah dan para dewa-dewi Romawi bergaya Renaissance yang terlihat gemuk namun tetap nyaman dengan ketelanjangan mereka.
Kemana Nara harus melangkah ia tidak tahu. Apa yang harus ia lakukan, tidak terpikirkan. Ia hanya diam saja di dekat tangga yang tadi ia naiki. Suara musik-musik klasik dan musik-musik vintage selera orang-orang kaya terdengar dari para pemain musik. Sesekali musik yang dimainkan adalah musik dansa sehingga mereka yang ingin berdansa akan berdansa mengikuti musik. Dansanya tentu bukan dansa yang hanya jingkrak-jingkrak, tapi ballroom dance macam salsa dan foxtrot, yang diawali dan diakhiri dengan membungkukkan badan.
“Kamu…..Narada, kan? Yang polisi itu?” Nara mengangguk dengan penuh kelegaan ketika melihat tuan rumah menyapanya. Setidaknya ada yang mengajaknya bicara. Setelah menyalaminya, Bapak Zakaria membawanya berkeliling bertemu dengan istrinya dan kerabatnya yang lain. Nara diperkenalkan sebagai polisi yang membantunya menyelesaikan masalah dengan lawan bisnisnya serta mulai mempromosikan Nara.
Quote:
Kalau ada masalah hukum, langsung lapor pada anak ini…..begitu katanya.
Masalah bisnis apa? Masalah hukum apa? Memangnya Nara itu pengacara?
Orang kaya memang banyak berpura-pura, rupanya belum ada yang tahu mengenai Julia yang tewas tergantung. Terus saja Nara dibawa berkeliling hingga lama-lama Nara tersenyum dan mengikuti permainan penuh kebohongan ini.
“Kamu sudah makan sesuatu? Atau minum mungkin?”
“Belum, Pak. Saya belum makan atau minum apapun.”
“Kalau begitu nikmati saja dulu pesta ini. Makan atau minum. Atau berdansa. Atau sekedar berbincang-bincang. Di sini banyak perempuan muda cantik dan sukses. Kamu mau yang mana? Artis? Sosialita? Dokter? Pengusaha? Pengacara? Ada semua. Kamu itu ganteng, pasti gampang menarik perhatian perempuan di sini.”
Nara menggeretakan giginya, rupanya tidak enak dibilang ganteng oleh laki-laki. Bapak Zakaria memanggil seorang pelayan yang membawa champagneyang disediakan dalam gelas yang panjang dan sangat ramping, ia memberikan satu gelas pada Nara, satu lagi untuk dirinya. “Nikmati dulu pestanya. Kalau sudah selesai, temui saya di ruangan saya. Tiga puluh menit dari sekarang.”
Daripada memperhatikan perempuan cantik, Nara lebih memperhatikan gelas yang tadi dipakai oleh Bapak Zakaria. Setelah minum, gelas tersebut ditaruh di sebuah meja. Nara gatal ingin mengambil gelas itu karena akan ada bukti DNA yang ia butuhkan untuk kasusnya. Beberapa kali Nara sudah mau mengabil gelas itu, tapi entah kenapa selalu tidak jadi. Malah gelasnya keburu diambil.
Sampai 30 menit, Nara bebas melakukan hal lain, makan misalnya. Ia selalu suka makan. Makanan di sini dibawa berkeliling oleh para pelayan di atas nampan dan dipotong dalam ukuran yang sangat kecil, benar-benar ukuran basa-basi karena sekecil ini nyelap di gigi pun enggak bakal. Rupanya ada kesalahan strategi, ini bukan pesta biasa dimana ia bisa makan sepuasnya karena disediakan nasi serta lauk-pauk prasmanan, ini pesta a’la Barat yang diadakan bukan untuk makan-makan. Sedih rasanya mengingat tadi Nara tidak makan di rumah dengan harapan ia bisa makan enak di sini, apalagi orang-orang ini adalah orang-orang yang sangat judgemental meski tidak mengenal Nara, mereka tidak akan segan-segan untuk melemparkan pandangan penuh celaan kalau ia makan banyak di acara ini. Apalagi, benar kata Bapak Zakaria, Nara itu menarik hingga sejak tadi ada saja perempuan muda yang bermain pandang-pandangan dengannya dan memberikan isyarat bahwa mereka mau diajak berkenalan oleh Nara. Kebanyakan sinyal dan isyarat itu hanya ditangkis dengan senyuman, kemudian Nara membalikan badannya dan pergi ke beranda.
Tidak ada orang di beranda, hanya ada seorang anak perempuan kecil dalam baju yang indah sekali. Wajahnya tidak terlihat karena ia sedang ke halaman yang gelap karena malam ini tidak berbulan. Yang kelihatan cuma rambutnya yang dibiarkan terurai, rambut hitam yang ikal, menutupi punggungnya yang indah yang ditunjukan dari posturnya yang bagus ketika ia berdiri. Anak itu menggunakan gaun terbuat dari organza berwarna merah gelap dengan pita besar berwana putih di belakangnya, seperti baju yang biasa digunakan anak kecil kalau ke pesta ulangtahun.
Lama Nara menatap anak kecil itu, antara kagum dan penasaran, tapi ia juga heran, kok ada anak kecil di pesta semalam ini?
“Kamu sendirian aja, Dik?” Nara mencoba untuk beramah-tamah. Yang diajak berbicara membalikan badan.
“Kamu kira aku anak kecil, yah?” suaranya yang tajam menunjukan ia bukan seorang anak kecil sehingga Nara malu sendiri. Tapi kalau ia tidak bicara pasti Nara masih mengira ia anak kecil. Tingginya hanya setinggi pundak Nara dengan wajah bulat dan pipi tembam, serta poni yang menggembung hampir menutupi matanya yang bulat.
“Uppsss…..sorry.”
Perempuan yang tadi mengeluarkan suara tajam itu kini tersenyum lebih ramah ketika tahu Nara mulai salah tingkah.
“Enggak apa-apa. Maklum, resiko jadi orang pendek selalu dikira anak kecil.”
Ya, pendek, dengan wajah bulat, mata besar dan baju ulangtahun bocah. Darimana gue tahu lu bukan anak kecil?
Untunglah Nara tidak mengutarakan pikirannya itu. Perempuan tadi meminta Nara untuk berdiri di dekatnya sementara ia sendiri melompat untuk duduk di atas balkon. hebat, dia tidak takut kalau ia akan jatuh ketika ia melompat untuk duduk di atas balkon sementara tubuhnya melayang seperti bulu angsa yang ringan sekali.
“Nama kamu siapa?” suaranya berubah, tidak lagi tajam bahkan lebih kekanak-kanakan.
“Saya Narada Kanekaputra. Tapi panggil saja Nara. Kalau kamu?”
“Dewi Ratih. Panggil saja Ratih.”
“Ratih, ya? Kamu sendiri di sini?”
“Iya aku sendirian. Tapi tidak enak juga karena tidak ada yah menghadiri pesta sendirian. Dari tadi tidak ada yang bisa diajak bicara, ya sudah aku keluar saja.”
“Emangnya kamu di sini atas undangan siapa?”
“Aku teman anak yang punya pesta, Julia. Tapi…..dari tadi aku tunggu kok belum datang-datang yah?”
Ingin sekali Nara mengatakan bahwa ia seharusnya tidak menunggu lagi karena temannya itu sudah tidak ada dan kasusnya lebih kelam daripada yang dipikirkan oleh siapapun sebelumnya. Untunglah ia bisa menghentikan lidahnya untuk terus berbicara dan membiarkan Ratih menunggu. Mungkin nanti ia akan pulang kalau temannya itu tidak kunjung datang.
“Kamu sendiri, datang atas undangan siapa? Kamu teman ayahnya?”
“Yah, kurang lebih begitulah.”
“Kurang lebih? Berarti bukan benar-benar teman? Sekedar rekan kerja?”
Buset, ini anak kepo, deh.
Nara menjawab dengan sebuah anggukan agar Ratih tidak terus bertanya. Setelah perkenalan singkat itu Nara dan Ratih tidak lagi banyak bicara, Lagipula, ada baiknya ia tidak terlalu banyak bicara, posisinya sedang tidak aman sekarang. Sudah tentu tidak ada satu orang pun yang tahu dimana atau bagaimana keadaan Julia, dan mereka yang tahu diharapkan tidak berkata apapun.
“Kamu mau minum?” tanya Ratih memecah keheningan.
“Aku tidak minum alkohol.”
“Aku juga, kok.” Ratih melambaikan tangan dan seseorang datang membawa nampan penuh minuman, bukan champagne seperti tadi tapi minuman bersoda. Entah apa yang berbeda dari minuman soda ini, yang pasti ini bukan seperti merk yang biasa diminum oleh Nara, atau setidaknya yang pernah dikenal oleh lidahnya. Mungkin ini merk luar negeri yang belum pernah ada di negara ini. Namanya juga orang kaya, di pesta seperti ini sekalian saja menyuguhkan makanan dan minuman aneh yang tidak biasa diminum orang.
“Ratih masih…..” sekolah? Kerja? Kuliah? “Kuliah?”
“Oh tidak. Aku di rumah saja. Karena…..kalau menurutku lebih baik tinggal di rumah dan belajar daripada belajar di luar.” Aneh rasanya melihat seorang perempuan muda yang cantik berpikiran seperti ibunya yang kontra pada pendidikan formal. “Banyak yang bisa aku baca di rumah, daripada kalau aku harus pergi ke sekolah, rasanya tidak bebas. Sedikit yang bisa kupelajari…..”
“Tapi lebih fokus.” Nara menyela. “Dan yang terpenting dari belajar di luar adalah kita melatih praktek, bukan hanya teori. Banyak orang yang menghabiskan waktunya membaca di rumah tapi tidak pernah mempraktekan apa yang ia tahu. Jadinya ya…..dia cenderung takut pada dunia.”
Mata bulat Ratih membesar dan bibirnya terbuka sedikit. Sepertinya ia tidak pernah ada yang mendebat, jadi ketika didebat, ia sedikit tersentak. Begitulah kalau lebih banyak membaca sendiri di rumah dan jarang bergaul, tidak ada yang dianggap sebagai saingan sehingga seolah-olah ia yang paling tahu segalanya.
“Kamu jarang keluar rumah, yah?”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Yah, kelihatan saja. Belum terkena noda dunia.”
Ratih tertawa mendengar penjelasan Nara itu. Suara tawanya terdengar jernih, seperti lonceng Natal. Jernih tapi tidak jaim, jernih tapi lepas tertawanya, seperti sudah lama tidak ada yang mengajaknya tertawa.
Nara melongok jamnya, tiga puluh menit sudah hampir berlalu sejak ia diminta untuk menghadap Zakaria Kartasurya. Sudah saatnya ia pergi dan mengucapkan salam perpisahan pada perempuan yang baru ditemuinya itu.
“Ratih, aku per.....gi......”
Aneh, rasanya Nara hanya melongok jamnya selama beberapa saat, tapi gadis itu menghilang entah kemana. Dan yang pertama kali dilakukan Nara untuk mencari keberadaannya adalah dengan melihat ke bawah balkon. Ya tentu saja karena jalan yang terdekat untuk menghilang adalah dengan meloncat ke bawah, lagipula Ratih terlihat sangat ringan seperti bulu, jangan-jangan ia terbawa angin.
Sangat disayangkan sekali olehnya Ratih menghilang, tanpa sempat Nara menanyakan kontaknya.
Diubah oleh paycho.author 01-02-2017 18:50
indrag057 memberi reputasi
1
Kutip
Balas