Kaskus

Story

taucolamaAvatar border
TS
taucolama
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
Quote:




Quote:
Quote:
Spoiler for Prolog:
Quote:
Quote:
Yang suka mohon Rate,Komen, Share.
Diubah oleh taucolama 28-02-2017 07:49
junti27Avatar border
ichamkbkAvatar border
afrizal7209787Avatar border
afrizal7209787 dan 47 lainnya memberi reputasi
42
1M
1.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
taucolamaAvatar border
TS
taucolama
#1349
Dia yang terluka part 4


Sosok itu hanya diam dan sedikit sedikit menjadi samar samar dan hilang. Tiba tiba rasa cemas menghantui aku. Aku masuk kedalam.

"Joko, kamu bawa motor? Anter aku ya": kataku.
"Bawa, anter kemana?": tanya Joko.
"Dah nanti dijalan aku kasih tau, Viona aku pergi dulu sebentar": kataku.
"Hati hati": kata Viona.

Aku mengambik jaketku dan bersama Joko ke parkiran, kuberitahu Joko agar segera ke kostan Irene. Joko segera memacu motornya ke arah kostan Irene. Aku telpon Intan sedang ada dimana dia. Intan menjawab sedang membeli makanan bersama mama Irene. Ke khawatiranku makin menjadi, aku minta Joko lebih cepat memacu motornya. Sampai di kostan Irene aku dan Joko bergegas ke kamar kostan Irene.

Kulihat pintu terbuka sedikit. Ku ucap salam tak ada yang menjawab. Aku dan Joko masuk, kulihat seseorang dipintu kamar mandi. Kostan Irene memiliki kamar mandi didalam. Ku mendekati kamar mandi, ternyata ke khawatiranku menjadi nyata. Kulihat Irene sedang mengiris lengannya dengan pisau cutter. Aku langsung berteriak agar Irene hentikan apa yang dilakukan. Aku segera merebut pisau cutter itu, sampai tanganku terluka ketika merebut pisau itu. Setelah kuberhasil merebut pisau itu dan kulempar jauh jauh.

"Biarkan, biarkan aku mati": teriak Irene.
"Istigfar Irene, istigfar coba istigfar": kataku sambil memegang kedua tangan Irene.
"aku mau mati aja": kata Irene sambil menangis. Aku gak tau apa yang terjadi dengan Irene. Dia basah kuyup pakaian yang dipakainya basah semua.
"Istigfar Irene, istigfar ": kataku lagi.
Irene memelukku sambil menangis keras. Berulang kali Irene berkata ingin mati, tapi terus ku bimbing dia agar mau istigfar.
Akhirnya Irene mau istigfar.

Tak lama Intan dan mama Irene datang. Intan dan mama Irene keheranan mengira apa yang terjadi.

"Ada apa ini": kata mama Irene.
"Tadi Irene coba bunuh diri": kata Joko.
"Astagfirullah Irene kenapa kamu nak, jangan seperti itu": kata mama Irene.
"Irene jangan lakukan hal seperti itu lagi inget itu dosa, kasian sama mama": kataku.
Irene hanya menangis dan tetap memelukku.
"Tadi pas ditinggal Irene biasa aja lagi telpon sama pacarnya": kata Intan.
"Coba liat hp Irene": kata Joko.
Intan mengambil hp Irene yang tergeletak di kasur dan memberikannya pada Joko.
Joko memeriksa hp Irene.

"Kurang ajar masa cwo itu kirim sms kasar dan kurang ajar sama Irene": kata Joko.
"Sini gue liat": kata Intan.
Joko ngasih hp Irene ke Intan.
"Iya kurang ajar nih orang": kata Intan.
"Mau gue hajar nih cwo": kata Joko.
"Udah jangan ributin cwo itu, kita pikirin Irene aja": kataku.
Mama Irene membelai rambut Irene yang menangis memelukku.

Setelah reda ku minta Irene duduk dan melepas pelukannya. Irene melepas pelukannya dan duduk dilantai.

"Aka tanganmu berdarah": kata Intan.
"Sini biar kuperiksa": kata Joko sambil melihat tanganku.
"Lukanya cukup dalam ka mesti ke dokter. Intan ada kain buat nekan luka": kata Joko.
Intan mengambil t shirt dan Joko mebalut lukaku dengan T Shirt.
"Coba periksa Iren juga": kataku.
Joko meriksa lengan Irene, untung luka Irene cuma luka gores belum mengenai nadinya.

"Aka udah kedokter dulu biar Irene kami jaga": kata Intan.
"Ayo Aka biar kuantar": kata Joko.
"Dekat belokan didepan ada klinik coba kesana": kata Intan.

Aku dan Joko pergi ke klinik. Di klinik dokter menjahit tanganku 2 jahitan.

"Sebenarnya isi sms itu apa Joko": kataku.
"Kayanya Irene ngehubungi pacarnya minta supportnya, tapi balasan sms dari pacarnya kasar sekali dan ga sopan, mana bilang perempuan penyakitan segala. Ntar kalo ketemu gue hajar cwo itu": kata Joko.
"Udah jangan biarin aja. Perasaan Irene pernah bilang udah putus gara gara cowo itu selingkuh": kataku.
"Nah Irene jarang ngobrol masalah pribadi ke aku sama Erni, ka sekarang balik ke cafe atau ke kosan Irene": kata Joko.
"Ke kosan Irene dulu, aku ingin pastiin Irene udah stabil emosinya, aku gak nyangka Irene bisa berbuat senekat ini": kataku.

Aku dan Joko kembali ke kosan Irene. Sampai disana sudah ada Erni, Viona dan Tania.
Kulihat Irene sudah berganti pakaian kulihat mama Irene dan Viona sedang menasehati Irene sesekali kulihat Viona membelai rambut Irene.
Kuhampiri Erni yang sedang menggendong Anisa.

"Koq kalian bisa ada disini?": tanyaku.
"Tadi Viona ngajak aku dan Tania nengok Irene, beneran tadi Irene mau bunuh diri": kata Erni.
"Bener untung pisaunya direbut Aka. Kayanya sih gara gara kata kata cwonya Irene, apalagi kondisi Irene lagi ga stabil": kata Joko.
"Kalian harus suport terus Irene yah, kasian gantian kalo ada yang punya waktu luang tengokin Irene": kataku.
"Pastinya ka, kita semua sebagai sahabat sayang sama Irene": kata Erni.
"Untungnya penghuni kamar kostan yang lain pada kerja jadi gak heboh. Kasih tau Intan jangan sampai orang lain tau": kataku.
"Iya kasian Irene jangan sampai orang lain tau Irene mau bunuh diri": kata Erni.

Viona keluar dari kamar dan mengambil Anisa dari gendongan Erni. Erni dan Joko kemudian masuk kekamar kosan menemui Irene. Aku dan Viona duduk bangku diluar kamar kosan Irene.

"Kamu gak apa apa, kata Intan kamu terluka yang": kata Viona
"Gak apa apa udah dijait tadi ke dokter cuma 2 jahitan": kataku.
"Koq kamu tau Irene mau bunuh diri?": tanya Viona.
"Pas dicafe tiba tiba aku liat sosok mirip Irene basah kuyup terus pergelangan tangannya terluka dan mengeluarkan darah aku jadi ingat Irene dan khawatir makanya aku ajak Joko": kataku.
Anisa ingin pindah kepangkuanku. Kupangku dan kucium lembut rambutnya.

"Semoga anak ayah jangan seperti ayahnya": kataku.
"Kenapa yang?": tanya Viona.
"Aku gak mau Anisa seperti aku. Tadi dirumah sakit aku melihat seorang pasien dan kulihat pasien itu akan meninggal. Terus di cafe kulihat sosok mirip Irene berdarah darah. Aku gak mau hal seperti itu terjadi pada Anisa. Aku juga ingin berhenti mengalami itu. Aku ingin seperti orang lain. Aku ingin hidup normal. Melihat seperti ini sungguh menyakitkan dan membebaniku.": kataku.
Aku tertunduk. Ku harap anakku tumbuh normal jangan mengalami hal seperti ayahnya. Aku tak tau apa ini sebuah kutukan atau anugrah.
"Sabar yang semua ada hikmahnya": kata Viona.
Tania menghampiri kami mengajak pulang. Aku dan Viona pamit pulang ke Irene, mamanya dan Intan. Aku berpesan agar Intan menjaga Irene. Mamanya Irene berulangkali mengucapkan terimakasih. Tania menyetir mobil aku, viona dan Anisa duduk dibelakang. Hari yang melelahkan bagiku.
khuman
xue.shan
jenggalasunyi
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.