- Beranda
- Stories from the Heart
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
...
TS
jhonsonamama
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
SELAMAT DATANG GAN DI THREAD ANE 
Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
Quote:
Sinopsis
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Quote:
Karena satu bab terlalu banyak untuk muat dalam satu post di kaskus, maka dengan ini ane minta maaf bahwa setiap bab akan dibagi menjadi 2 part. Terima kasih
Quote:
INDEX
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
Spoiler for BAB 1 Part 1:
BAB I
ACHEN
ACHEN
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Quote:
NOTE
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Diubah oleh jhonsonamama 07-02-2017 17:38
anasabila memberi reputasi
1
5.8K
Kutip
52
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jhonsonamama
#19
Spoiler for BAB IV PART 2:
Pierre mengamati sekitar sebelum ia pulang. Lapangan tempatnya berlatih tadi sudah sepi; Pauli, dan Sergio juga sudah pulang. Udara dingin menembus baju lengan pendek Pierre yang tipis. Pierre teringat akan perkataan Rogue, staminanya memang payah. Ia memutuskan untur berlari-lari kecil sembari mengarah ke rumahnya. Pierre pun mulai berlari, walaupun udara sangat dingin, tekad Pierre sepertinya teguh sekali. Tak terasa ia sudah berlari satu jam berkeliling-keliling kota Malaga. Dari Puerto De Malaga ia berlari ke barat ke daerah Cruz De Humilladero, dan berbelok ke utara, kearah Palma-Panilla, lalu berbelok ke selatan menuju rumahnya, yang hanya berjarak 500 meter dari Palma-Panilla. Sesampai di depan rumahnya, ia menunduk sambil memegang kedua lututnya. Nafasnya tersenggal-senggal, keringat menetes ke tanah. Tetapi sepertinya Pierre akan melakukan lari-lari kecil keliling Malaga setiap hari, setelah latihan bersama angkatan laut telah usai. Badannya sangat letih sekarang, sepertinya ia terlalu memaksakan dirinya. Begitu memasuki rumahnya, ia langsung berjalan ke kamarnya, dan terkapar di kasur yang tidak begitu empuk.
Keesokan harinya, pagi yang dingin menyelimuti kota Malaga. Tetapi dingin lebih menusuk pagi ini, karena hujan gerimis jatuh perlahan dari awan gelap di pagi hari. Cahaya matahari sebagian tertutup oleh awan, menjadikan pagi ini gelap. Tetapi hujan itu, ditambah pagi yang dingin, tidak menghambat Pierre untuk bangun lebih siang. Ia sudah meninggalkan rumahnya dan siap menuju Puerto, dimana markas angkatan laut berada. Di tengah perjalanan yang becek, sekitar 100 meter di utara Puerto, ia melihat sesosok pria yang tidak lagi asing. Pria itu tidak lain merupakan Sergio, si pria ahli ilmu bumi (Pierre tidak begitu paham apa sebenarnya fungsi ilmu bumi). Sergio berjalan di seberang kanan Pierre, sepertinya ia belum menyadari Pierre yang sedang berjalan di seberang kirinya. Pierre ingin menyapanya, kemudian ia menyeberang dan mendekati Sergio. Setelah jarak antar keduanya cukup dekat Pierre menyapanya.
“Sergio!” kata Pierre. Sergio menoleh dengan heran, tetapi saat melihat Pierre, raut wajahnya berubah menjadi tersenyum simpul.
“Pierre!” kata Sergio sambil menjabat tangan Pierre yang basah. “Kita belum berkenalan secara resmi, tetapi tidak perlu lah, kita sudah saling mengenal nama,” kata Sergio.
“Pagi yang dingin ya, rumahmu dimana?” kata Pierre berusaha membuka pembicaraan dengan basa-basi.
“Ya, dingin sekali pagi ini. Rumahku di sekitar daerah Palma-Panilla,” kata Sergio.
“Bagaimana latihanmu, ahli ilmu bumi tidak biasa menggunakan senjata bukan?” tanya Pierre. Mereka berbincang-bincang sambil berjalan, dan sesekali mereka menghindari genangan air yang ada di tanah.
“Tentu tidak! Kami ahli ilmu bumi hanya menggunakan pena, dan kertas sebagai senjata,” kata Sergio, lalu dilanjut dengan tertawa ringan.
“Kelihatannya membosankan ya, tetapi ngomong-ngomong kita sudah dekat dengan Puerto,” kata Pierre yang sudah melihat Puerto dari kejauhan.
Setelah itu mereka berjalan bersama menuju Puerto, setelah mereka memasuki markas angkatan laut, terlihat lapangan tempat mereka berlatih kemarin sudah dipenuhi angkatan laut; Rogue juga terlihat sedang berbicara dengan Raul. Sepertinya latihan belum dimulai. Rogue melihat kedatangan Pierre bersama Sergio, kemudian ia menghampirinya.
“Kau sudah lama disini?” tanya Pierre kepada Rogue.
“Tidak, sekitar beberapa menit yang lalu aku sampai sini,” kata Rogue. Rogue menyadari Pierre, dan Sergio berjalan bersama. “Well, kau sudah berteman baik rupanya,” kata Rogue kepada Pierre. Kemudian Rogue tersenyum kepada Sergio dan menjabat tangannya.
“Yap, tak sengaja aku searah dengannya saat berjalan kemari,” kata Pierre.
“Kira-kira kapan dimulai ya latihannya?” Sergio bertanya kepada mereka berdua.
“Aku pikir sebentar lagi akan dimulai,” kata Rogue sambil melihat sekeliling.
Terompet khas angkatan laut berbunyi nyaring, menandakan latihan akan segera dimulai. Salah satu anggota angkatan laut berbicara didepan lapangan, “Hari ini kita akan berlatih menggunakan senapan sudut (flintlock pistol), tetapi tidak akan terlalu lama, karena senapan sudut sangat tidak efektif di cuaca lembab dan basah.” Pierre menjadi bersemangat, ia belum pernah menggunakan senapan sudut sebelumnya, karena senapan sundut begitu mahal, apalagi pelurunya. Kemudian disiapkanlah target boneka yang sudah diberi lingkaran untuk sasaran tembak. Jarak tembak sekitar 5 meter saja, karena senapan sundut seperti ini jarak tembaknya terbilang pendek. Kemudian Pierre mencoba menembakkan senapan sundut, saat ditembakkan suaranya begitu nyaring, dan asap putihnya mengepul sangat banyak, tentu saja ia gagal tepat mengenai sasaran. Rogue juga bernasib sama, keunggulannya tangan kosong, memakai pistol sangat membuatnya bingung. Pierre melihat Sergio juga gagal menembak tepat sasaran, tentunya Pauli juga. Sekitar tiga sampai empat jam mereka terus berlatih menggunakan senapan sudut. Pierre, dari berpuluh-puluh percobaan menembak, hanya tepat mengenai sasaran sebanyak tiga kali. Rogue lebih parah, ia hanya dapat mengenai sasaran sekali.
“Payah sekali, dasar senapan sudut sialan,” keluh Rogue sambil melihat senapan sudut yang digenggamnya.
“Menyedihkan sekali, aku saja mengenai tiga sasaran dengan tepat!” kata Pierre dengan bangga, setidaknya ia menang dari Rogue dalam hal ini.
“Sudahlah, setidaknya aku menang dalam hal tangan kosong” kata Rogue yang berusaha menghibur dirinya sendiri.
Akhirnya setelah melanjutkan berlatih senapan sudut, waktu makan siang tiba, dan mereka sangat bersemangat. Setelah makan siang dengan lahap dan puas, mereka kembali latihan. Kali ini latihan mengenai teknik-teknik dasar melaut, seperti berenang, menyiapkan mesiu dalam kapal, menurunkan sekoci bila keadaan darurat, dan lain-lain. Akhirnya setelah matahari terbenam latihan diberhentikan, dan dilanjutkan esok hari. Tinggal lima hari sisa latihan yang mereka punya, dan pada hari ke enam mereka akan berlayar, menuju Achen yang sangat-sangat jauh sekali. Pierre merasa tidak sabar, semakin hari ia semakin menunggu kedatangan momen terbesar dalam hidupnya, yaitu mengunjungi negeri nun jauh. Latihan stamina Pierre pun dilakukan dengan rutin, hampir tiap malam ia berlari dengan rute yang sama pada hari pertama. Staminanya jauh lebih baik sekarang, sepertinya tubuhnya sudah siap untuk mengarungi lautan. Tidak terasa tinggal satu hari lagi mereka berlatih, dan Pierre baru saja menyelesaikan latihan staminanya. Pada hari terakhir latihan, akan diadakan semacam turnamen gulat, ada 30 peserta yang mengikutinya, tentu saja Pierre, dan Rogue termasuk. Yang memenangi turnamen tersebut akan diberikan hadiah, Pierre belum tahu hadiah apa yang dimaksud. Pierre terbayang-bayang akan menghadapi Rogue. Ia pikir mungkin kali ini akan sedikit berbeda, karena staminanya jauh lebih baik sekarang. Hari pun berganti, dan semua orang telah berkumpul kembali di lapangan seperti biasa.
“Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, hari turnamen gulat!” kata seorang angkatan laut pengawas latihan. Sorak sorai membahana menyusul perkataannya, lapangan menjadi sangat ramai. “Saya akan kembali membacakan peraturan gulat ini, ada 30 orang yang mengikuti turnamen ini, nama kalian sudah diatur sedemikian rupa pada bagan, 15 orang pada bagan kiri, dan 15 orang pada bagan kanan. Tidak ada waktu bertarung, siapa yang tidak dapat melanjutkan pertarungan, akan kalah. Terjatuh dianggap kalah, tidak boleh menyerang alat vital, dan tidak boleh menggigit, yang tidak saya bacakan berarti boleh kalian lakukan. Semoga orang terkuat menang!” lapangan riuh kembali, sepertinya mereka tidak sabar menjalani turnamen. Pierre, dan Rogue tidak dalam satu bagan, berarti mereka dapat bertemu di final. Walaupun sepertinya Pierre akan sulit masuk final, bila ia menang di ronde pertama kali ini, ia akan bertemu dengan Raul. Raul merupakan contoh angkatan laut yang sangat baik, posturnya bisa dibilang sempurna. Otot-ototnya sangat menonjol, postur jangkung, dan ia mahir bela diri tangan kosong. Lawan pertama Pierre merupakan angkatan laut bernama Ramos, bukan lawan yang terlalu sulit sepertinya. Tubuhnya hanya sedikit berotot, badannya juga bisa dibilang gemuk; mungkin Pierre akan mengalahkannya dengan mudah.
Setelah menunggu beberapa pertandingan akhirnya giliran Pierre untuk bertarung, lawannya Ramos; sudah berdiri di hadapannya sekitar 4 meter jaraknya. Arena pertarungan ini dibuat seperti lingkaran, pasir di lapangan ini, diukir dengan tongkat hingga membuat bentuk lingkaran. Pierre, dan Ramos sudah saling berhadapan; Pierre cukup tenang kali ini, karena sepertinya ia bisa mengalahkan Ramos dengan mudah. Ramos, dihadapannya terlihat percaya diri, senyum kecil diujung bibirnya terlihat—seolah mengejek. “Mulai!” aba-aba dari angkatan laut yang menjadi panitia turnamen. Teriakannya juga memulai delapan pertandingan yang serentak dilakukan di lapangan. Angkatan laut yang belum bertanding, atau sudah bertanding berdiri di pinggir atau berkeliling lapangan untuk melihat-lihat pertandingan. Seperti biasa, Pierre bertarung dengan strategi counter attack. Ia menunggu Ramos melancarkan serangan-serangannya. Ramos berlari sambil berteriak, Pierre sudah memasang kuda-kuda mengepal menutupi mukanya; kaki kanan Pierre dimundurkan, siap melancarkan tendangannya. Saat kira-kira Ramos sudah di jarak tendangnya, Pierre langsung mengayunkan tendangan kaki kanan dengan kekuatan penuh pinggulnya. Ramos yang hendak menyerang terkejut, perut kirinya terkena tendangan Pierre dengan cukup fatal.
Ramos sedikit terpental ke kanan, ia terlihat geram; ia langsung berlari kembali untuk menyerang Pierre dengan membabi buta. Sekarang giliran Ramos yang hendak menendang Pierre, kaki kanan Ramos menendang Pierre dengan lurus kearah dadanya; hendak menjatuhkannya. Pierre menyadarinya, saat tendangan mendekati dadanya, ia bergeser dengan cepat ke kiri; kemudian menangkap kaki Ramos menggunakan kedua tangannya. Saat kaki Ramos terangkat, Ramos panik tidak bisa berkutik, dan kehilangan keseimbangan. Dengan cepat kaki kiri Pierre menyapu kaki Ramos yang menjadi satu-satunya tumpuan. Ramos terjatuh dengan cepat, punggungnya menghantam tanah dengan keras. “Pertarungan antara Pierre, dan Ramos selesai. Pemenangnya Pierre!” kata panitia turnamen. Rogue yang sedang menunggu gilirannya untuk bertanding, tersenyum kearah Pierre. Pertarungan terus berlanjut seakan tidak menganggap cahaya matahari yang menyorot tajam kearah lapangan. Dua jam telah berlalu, dan babak semi final akan segera dimulai. Para semifinalis sedang bersiap-siap, melakukan pemanasan-pemanasan kecil. Rogue meregangkan kedua tangannya, menggelengkan lehernya sampai berbunyi. Pierre yang menjadi kuda hitam, ternyata sampai babak semi final, ia sedang melakukan pemanasan juga.
“Wah wah, aku harap aku bertemu denganmu di final Pierre,” kata Rogue sambil melakukan pemanasan.
“Tentu saja aku tidak ingin, aku harap kau kalah di babak ini,” kata Pierre ketus, tetapi ekspresinya menunjukkan bahwa ia sedang bergurau.
“Yap, waktu mengobrol sudah habis! Babak semifinal akan segera dimulai!” kata panitia turnamen dengan suara yang keras. Para angkatan laut yang sudah kalah dalam turnamen, terlihat mengelilingi area pertarungan semi final, sorak sorai tidak dapat dihindarkan. Lawan Pierre dalam semi final adalah Chris, pria berambut ikal yang memiliki alis menyatu, hidungnya besar seolah merupakan pipa udara; tubuhnya kecil dan pendek. Pierre sedikit khawatir, ia tahu bahwa Chris mengalahkan semua petarung lain yang dihadapinya dengan waktu tidak kurang dari dua menit. Pierre memerhatikan sekeliling sambil menunggu, ia melihat Letnan Stefan dikerumunan penonton. Kemudian ia melihat ke kiri, Rogue sedang berdiri melihat Pierre sambil menunggu pertarungannya, karena babak semi final dibagi dalam dua pertandingan. “Silahkan mendekat! Pierre, dan Chris!” kata panitia turnamen. Mereka berdiri berhadapan, dengan jarak lima meter. Pierre melihat Chris dengan tajam, begitu juga Chris. Mereka menunggu aba-aba panitia, keringat Pierre terlihat mengucur dari balik rambutnya.
“Mulai!” teriak panitia turnamen dengan lantang. Sorak sorai penonton menutup kata-kata panitia tersebut. Pierre dan Chris sudah memasang kuda-kuda. Chris diam dengan tenang, sambil mengawasi. Pierre melakukan hal yang sama, mereka berdua belum beranjak dari tempatnya semula. Akhirnya mereka berdua bergerak bersama, bergerak memutar. Pierre sudah tidak sabar lagi, ia melesat dengan cepat; Chris menanti momen tersebut, ia melancarkan tinjunya menyamping. Pierre sambil berlari menyadari gerakan Chris, ia merunduk, kemudian melakukan tinju uppercut yang diarahkan kepada dagu bawah Chris. Chris menarik kepalanya kebelakang dengan cepat, hidungnya terserempet tinju Pierre. Saat pertahanan Pierre terbuka karena uppercut nya, Chris mengarahkan tinjunya ke perut Pierre. Perut Pierre terhantam tinju Chris, Pierre mengerang kesakitan, dan terpental kebelakang. Chris melanjutkan pukulannya bertubi-tubi kearah Pierre, tetapi Pierre menangkisnya atau menghindarinya dengan cepat, saat pukulan Chris berhenti—Pierre melancarkan serangan menyamping kearah telinga Chris dengan cepat. Chris terkena pukulan Pierre, telinganya berdenging hebat, kepanya pusing, dan sedikit kehilangan keseimbangan. Saat itulah Pierre menendang lurus kearah perut Chis, tendangannya membuat Chris terpental dan jatuh. Semua penonton terperanjat, dan terkejut. Mereka tidak menyangka Chris yang biasanya menjatuhkan lawan dibawah dua menit, sekarang dijatuhkan dibawah dua menit. Letnan Stefan langsung melihat Pierre dengan ekspresi tidak percaya, dalam hati ia berfikir bahwa Pierre bukan orang sembarangan. Pierre seakan dalam alam setengah sadarnya, ia baru sadar sepenuhnya setelah panitia turnamen berteriak, “Semi final babak pertama dimenangkan oleh Pierre!”. Rogue langsung menghampiri Pierre yang terlihat kebingungan, dan menepuk punggung Pierre yang basah karena keringat.
“Wow, kau sungguh kuat sekarang Pierre,” kata Rogue dengan nada yang bersemangat.
“Ya, aku tidak tahu. Semua seperti berjalan dengan sangat cepat,” kata Pierre yang masih sedikit linglung.
“Selamat teman, tunggu aku di final,” Rogue berkata sambil meninggalkannya, bersiap untuk babak kedua semi final. Chris yang masih terkapar kemudian berdiri, dan melihat Pierre dengan aneh. Ia kemudian menghampiri Pierre lalu menjabat tangannya.
“Kau sungguh kuat, lawan terkuat yang pernah kuhadapi,” kata Chris dengan sedikit tersenyum.
“Terima kasih, tetapi aku sedikit kehilangan kesadaran tadi,” kata Pierre.
“Apa? Mustahil. Kau tadi bertarung dengan sangat baik,” kata Chris sembari menyengir, kemudian meninggalkan Pierre. Pierre keheranan, lalu ia meninggalkan arena pertarungan kemudian duduk di pojok lapangan, berusaha menenangkan pikirannya, ia sangat risau karena pikirannya yang sempat hilang tadi. Babak kedua semifinal akan dimulai, Rogue melawan angkatan laut bernama Pedro, pria berotot jangkung; matanya buta sebelah, kepalanya botak licin, penampilannya membuat setengah angkatan laut segan terhadapnya. Pierre terlihat masih terganggu, sehingga tidak berniat menonton pertarungan sahabatnya. “Mulai!” teriakan panitian turnamen terdengar nyaring, sorak sorai penonton menyambutnya, dan mulailah babak kedua semi final. Sergio, dan Pauli yang sudah kalah di babak-babak awal turnamen, terlihat sedang bercakap-cakap. Mereka melihat Pierre kemudian menghampirinya. “Ada apa Pierre?” tanya Pauli, Sergio juga seperti ingin tahu. “Tidak, bukan apa-apa, aku hanya sedikit tidak enak badan,” kata Pierre tanpa melihat wajah mereka berdua; tatapannya terpaku pada tanah kering yang ia duduki.
“Kau memasuki babak final, bila aku jadi kau aku akan merasa semangat,” kata Stefan yang menimpali dengan nada yang ramah, dan tersenyum dengan lebar.
“Ya, aku juga. Aku dengar Letnan Stefan telah menyiapkan hadiah yang baik untuk pemenang turnamen,” kata Pauli.
“Aku jadi penasaran, apakah kau tahu hadiahnya?” kata Sergio bertanya pada Pauli. Sedangkan Pierre tetap berdiam diri, dan menunduk. Ekspresi pada wajah Pauli berubah menjadi serius dan berkata, “Aku dengar, hadiah itu merupakan hadiah yang tidak disangka-sangka, sebuah benda pusaka yang telah lama dilupakan.”
SEPERTI BIASA UPDATE SETIAP HARI
BAB 5 COMING TOMORROW
Diubah oleh jhonsonamama 25-01-2017 10:50
0
Kutip
Balas