- Beranda
- Stories from the Heart
Pelangi Diatas Laut
...
TS
.raffertha
Pelangi Diatas Laut
Quote:
Aku duduk didepan jendela kamarku.
Melihat langit yang biru dan awan putih yang menghiasi.
Hari ini cukup cerah.
Membuatku ingin sekali pergi keluar hanya untuk berkunjung ke tempat-tempat yang menyenangkan.
Namaku Andrea Raffertha.
Aku biasa dipanggil Rea.
Aku lahir dikeluarga yang berkecukupan, walaupun teman-temanku selalu mengatakan bahwa aku adalah anak orang kaya.
Ya memang ayahku seorang pegawai negeri sipil yang golongannya sudah tinggi dengan jabatan menjanjikan.
Apa lagi ibuku.
Ibuku seorang Sekretaris Direksi Utama disebuah perusahaan milik negara.
Aku duduk dibangku Sekolah Menegah Atas kelas 10.
Dan dari sinilah kisahku dimulai.
Quote:
Spoiler for Sambutan:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Polling
0 suara
Siapakah sosok yang abadi dalam hati Andrea Raffertha ?
Diubah oleh .raffertha 14-08-2017 05:52
Arsana277 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
838.2K
4.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
.raffertha
#3584
Part 99
"Perasaan udah gw delete SMS nya Lydia.." gumamku dalam hati.
Rea : "Kenapa Lydia ?"
Aurel : "Siapa !!"
Rea : "Sepupu aku.."
Aurel : "Sepupu ? SMS nya pake ayank ayank kamu bilang sepupu ?"
Rea : "Dia salah kirim kali, yank.. Maka nya tadi dia nelpon mau bilang salah kirim tapi ga keangkat sama aku.."
Aurel : "Beneran ?"
Rea : "Ya iyalah.. Beneran.. Ngapain aku bohongin pacarku yang paling cantik satu ini..", sambil mencubit pipinya.
Aurel : "Jangan bohong.."
Rea : "Perlu aku telepon balik biar kamu percaya ?"
Aurel : "Ga usah, yank.. Aku percaya kok sama kamu.. Hehehehehe.."
"Bagus deh.. Kalo beneran minta telepon, matilah gw.." kataku dalam hati.
Rea : "Ya udah yuk jalan.. Mau kemana ?"
Aurel : "Taman aja yuk.. Kita pacaran.."
Rea : "Hhmm.. Ya udah yuk.."
Aku berangkat menuju taman kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Setelah memarkirkan motor ditempat yang sudah disediakan, aku dan Aurel berjalan mencari tempat duduk yang kosong.
Kami duduk disebuah bangku taman dengan dihiasi oleh pepohonan yang ada disekitar kami.
Aurel : "Cewek tadi siapa sih ?"
Rea : "Temenku di game.. Kebetulan dia diajak sama Reza main di warnetku.."
Aurel : "Ngeselin.. Mulutnya barbar.. Udah gitu pake nyuruh kamu jangan offline.. Jangan nurut sama ceweknya.."
Rea : "Udah udah.."
Aurel : "Pokoknya aku ga mau kamu main game lagi.. Main game boleh tapi pas lagi ga ada aku.."
Rea : "Iya yank.. Udah jangan marah lagi.."
Aurel : "Aku ga marah.. Cuma bete aja.."
Rea : "Udah jangan bete lagi.."
Aurel : "Ditambah lagi si Lydia itu.. Aku pikir kamu selingkuh, yank.."
Rea : "Pikiran kamu tuh jelek banget, yank.. Hahahahahahaha.."
Aurel : "Habis aku suka takut.. Banyak yang chat kamu di FB, wall kamu juga isinya perempuan semua.."
Rea : "Ya kan temen-temenku emang kebanyakan perempuan yank.. Yang laki-laki cuma beberapa aja.."
Aurel : "Kenapa kamu suka temenan sama perempuan ?"
Rea : "Kenapa ya ? Karena dia selalu jujur sama aku sama apa yang dia rasain.. Dari lahir juga tetanggaku perempuan semua.. Jadi kebawa deh sampe sekarang.."
Aurel : "Tapi kamu ga ikutan doyan cowok kan ?"
Rea : "Ya ngga lah.. Aku masih normal, yank.. Kalo ga normal, waktu itu mana mungkin kita ngelakuin hal itu di warnet.."
Aurel : "Hal apa ?"
Rea : "Yang kita saling memegang alat yang ga boleh dipegang.. Hahahahahaha.."
Aurel : "Iiihh.. !! Kamu tuh !!", sambil menamparku pelan.
Rea : "Hahahahahahaha.."
Aurel : "Ketawa lagi.. Tanggung jawab pokoknya.. Ga mau tau.."
Rea : "Iya iya.."
Aurel : "Sebentar lagi kamu UN ya yank ?"
Rea : "Hhmm.. Gitu deh.. Habis UAS, pasti fokus UN.."
Aurel : "Kalo kamu lulus, aku sendirian dong disini.."
Rea : "Aku kan bakalan sering-sering main ke sekolah yank.. Sering-sering ketemu kamu.."
Aurel : "Emang rencana nya kamu mau masuk mana ?"
Rea : "UI sih.. Kalo bisa.. Hahahahhahahaha.."
Aurel : "Bisa.. Pasti bisa.. Aku doain deh yank.."
Rea : "Makasih sayang.."
Tak terasa hari sudah siang.
Sudah waktunya aku untuk sholat dzuhur.
Setelah sholat dzuhur, kami melanjutkan perjalanan kami untuk mencari makan.
Rea : "Mau makan dimana yank ?"
Aurel : "Dimana ya ? Aku ga tau daerah sini.."
Rea : "Cari didaerah Cikini mau ?"
Aurel : "Ya udah yuk disitu aja.."
Aku dan Aurel berjalan ketempat dimana motor papaku diparkirkan.
Setelah itu, kami mencari makan siang.
Dan kami putuskan untuk makan di sebuah restoran cepat saji yang ada disana.
Rea : "Habis ini mau kemana, yank ?"
Aurel : "Kemana ya ?"
Rea : "Ada tempat yang mau kamu kunjungin ga ?"
Aurel : "Taman Situ Lembang kamu tau, yank ?"
Rea : "Hhmm.. Tau sih.. Mau kesana ?"
Aurel : "Mau dong yank.. Habis makan ya.."
Rea : "Okeh.."
Kami segera menghabiskan makan siang kami disini.
Setelah itu, kami berangkat menuju tempat yang ingin dikunjungi oleh Aurel.
Tak membutuhkan waktu lama untuk kesana.
Hanya 15 menit perjalanan.
Sesampainya disana, aku parkirkan motor papaku dan mencari bangku taman yang kosong.
Kami duduk disebuah bangku taman yang dihiasi dengan tanaman disisi kiri dan kanannya.
Didepan kami ada sebuah danau buatan yang sangat indah.
Permukaan air yang tenang membuat suasana ini semakin membuat nyaman hati dan pikiran.
Aurel : "Kamu ga bosen kan jalan sama aku yank ?"
Rea : "Ngga kok.. Kamu bosen emang nya ?"
Aurel : "Ngga.."
Tiba-tiba, Aurel langsung menggenggam tanganku dengan erat.
Dia menatap mataku.
Aurel : "Yank, aku mau jujur sama kamu tentang keadaanku.. Tapi aku takut kamu jauhin aku.."
Rea : "Aku ga ada alasan untuk jauhin kamu selagi kamu jujur sama aku.."
Aurel : "Ini alasan kenapa aku sering gonta ganti pasangan.. Karena semua mantan-mantanku ga terima sama keadaanku.."
Rea : "Emang kamu kenapa sih, yank ?"
Aurel : "Sebenernya.. Aku ini.."
Rea : "Ngomong aja.. Ga apa-apa.."
Aurel : "Aku mohon jangan jauhin aku setelah ini, yank.."
Rea : "Ga ada alasan untuk jauhin kamu kok, yank.."
Aurel : "Sebenernya, aku ini cuma anak angkat, yank.."
Suasana menjadi hening sejenak.
Hanya suara pepohonan yang tertiup angin yang terdengar ditelingaku.
Aku bukannya tidak terima atau kaget dengan pernyataannya.
Justru banyak pertanyaan yang ada dikepalaku yang harus aku tanyakan kepada Aurel.
Aku bingung harus mulai dari mana.
Rea : "Aku mau tanya sama kamu boleh ?"
Aurel : "Boleh yank.."
Rea : "Tapi jawab jujur.."
Aurel : "Aku akan jawab jujur sejujur-jujurnya.."
Rea : "Orang tua kandung kamu masih ada ?"
Aurel : "Masih ada yank.."
Rea : "Masih suka nengokin ga ?"
Aurel : "Jarang, yank.."
Rea : "Pernah tanya ngga kenapa kamu sampe diangkat jadi anak sedangkan orang tua kandung kamu masih ada ?"
Aurel : "Kata orang tua angkatku, aku dibuang sama orang tua kandungku.. Orang tua kandungku malah sibuk kerja dan aku ga diurusin.."
Rea : "Masa sih ? Kayaknya ga mungkin yank.. Udah denger alasan langsung dari orang tua kandung kamu ?"
Aurel : "Belum.. Aku suka ga diizinin untuk nemuin mereka.."
Rea : "Ini ga bener yank.. Ga ada alasan apapun dan kamu ga perlu izin sama siapapun untuk nemuin orang tua kandung kamu sendiri.."
Aurel : "Tapi aku ga bisa bantah orang tua angkatku, yank.."
Rea : "Kenapa ?"
Aurel : "Mereka udah nyekolahin aku, kasih aku tempat tinggal.."
Rea : "Mereka bilang apa aja ke kamu ?"
Aurel : "Mereka pernah bilang jangan pikirin orang tua kandung aku yang udah buang aku.. Intinya aku ga boleh berbakti sama orang tua kandungku.."
Aurel : "Waktu dulu, aku pernah disuruh ikut les tari.. Terus aku ikut lomba tari dan juara.. Tapi hadiahnya diambil sama orang tua angkatku.. Katanya hadiah ini mama angkatku yang pegang karena udah ikutin aku les.."
Rea : "Yank, aku curiga deh.."
Aurel : "Curiga gimana ?"
Rea : "Kalo kamu ikut lomba apa aja dan menang dapat uang, apa uangnya mereka yang ambil ?"
Aurel : "Selama ini ya begitu yank.. Katanya untuk bakti aku kepada mereka.."
Rea : "Ini ga bener yank.. Ada yang salah sama hidup kamu.. Sekarang aku anter kamu ke rumah orang tua kandung kamu gimana ? Kamu tanya langsung.."
Aurel : "Tapi yank.."
Rea : "Ga ada tapi-tapi.. Kamu harus tau kejadian yang sebenernya.. Yuk berangkat.."
Aurel : "Yank..", sambil menahan tanganku.
Rea : "Apa ?"
Aurel : "Kamu ga bakalan jauhin aku kan ?"
Rea : "Ngga.. Ngga akan.."
Aku dan Aurel segera bergegas menuju rumah orang tua kandungnya.
Aurel memberi tahuku dimana orang tua kandungnya tinggal untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Setelah sampai disana, Aurel turun dari motor papaku.
Aurel : "Kamu ga usah turun yank.. Kamu pulang aja.. Aku ga mau nyeret kamu lebih dalam lagi untuk masalah hidupku.."
Rea : "Ya tapi kamu kabarin aku ya.. Kasih tau apa yang diceritain mama kandung kamu.."
Aurel : "Pasti yank.. Aku mohon bantuan kamu untuk menilai siapa yang bohong.."
Rea : "Iya yank.. Karena buat aku, ga mungkin orang tua kandung segitu bencinya sama anaknya sendiri kecuali anaknya salah.."
Aurel : "Ya udah kamu hati-hati dijalan ya yank.."
Rea : "Iya.. Aku pergi dulu ya.."
Aku segera memacu motor papaku dan pergi meninggalkan Aurel yang sudah masuk kedalam rumah orang tua kandungnya.
Aku langsung menuju rumahku karena aku tak ingin diganggu dan ingin menyendiri dikamarku selama Aurel mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
20 menit perjalanan, akhirnya aku sampai dirumahku.
Aku segera masuk kedalam rumah dan masuk kamarku.
15 menit aku menunggu kabar dari Aurel, akhirnya dia mengirimkan sebuah SMS kepadaku.
Aku hanya tidur-tiduran diatas kasurku ini setelah saling berbalas pesan singkat dengan Aurel.
Setelah itu, Lydia menelponku 20 menit kemudian.
Rea : "Kenapa Lydia ?"
Aurel : "Siapa !!"
Rea : "Sepupu aku.."
Aurel : "Sepupu ? SMS nya pake ayank ayank kamu bilang sepupu ?"
Rea : "Dia salah kirim kali, yank.. Maka nya tadi dia nelpon mau bilang salah kirim tapi ga keangkat sama aku.."
Aurel : "Beneran ?"
Rea : "Ya iyalah.. Beneran.. Ngapain aku bohongin pacarku yang paling cantik satu ini..", sambil mencubit pipinya.
Aurel : "Jangan bohong.."
Rea : "Perlu aku telepon balik biar kamu percaya ?"
Aurel : "Ga usah, yank.. Aku percaya kok sama kamu.. Hehehehehe.."
"Bagus deh.. Kalo beneran minta telepon, matilah gw.." kataku dalam hati.
Rea : "Ya udah yuk jalan.. Mau kemana ?"
Aurel : "Taman aja yuk.. Kita pacaran.."
Rea : "Hhmm.. Ya udah yuk.."
Aku berangkat menuju taman kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Setelah memarkirkan motor ditempat yang sudah disediakan, aku dan Aurel berjalan mencari tempat duduk yang kosong.
Kami duduk disebuah bangku taman dengan dihiasi oleh pepohonan yang ada disekitar kami.
Aurel : "Cewek tadi siapa sih ?"
Rea : "Temenku di game.. Kebetulan dia diajak sama Reza main di warnetku.."
Aurel : "Ngeselin.. Mulutnya barbar.. Udah gitu pake nyuruh kamu jangan offline.. Jangan nurut sama ceweknya.."
Rea : "Udah udah.."
Aurel : "Pokoknya aku ga mau kamu main game lagi.. Main game boleh tapi pas lagi ga ada aku.."
Rea : "Iya yank.. Udah jangan marah lagi.."
Aurel : "Aku ga marah.. Cuma bete aja.."
Rea : "Udah jangan bete lagi.."
Aurel : "Ditambah lagi si Lydia itu.. Aku pikir kamu selingkuh, yank.."
Rea : "Pikiran kamu tuh jelek banget, yank.. Hahahahahahaha.."
Aurel : "Habis aku suka takut.. Banyak yang chat kamu di FB, wall kamu juga isinya perempuan semua.."
Rea : "Ya kan temen-temenku emang kebanyakan perempuan yank.. Yang laki-laki cuma beberapa aja.."
Aurel : "Kenapa kamu suka temenan sama perempuan ?"
Rea : "Kenapa ya ? Karena dia selalu jujur sama aku sama apa yang dia rasain.. Dari lahir juga tetanggaku perempuan semua.. Jadi kebawa deh sampe sekarang.."
Aurel : "Tapi kamu ga ikutan doyan cowok kan ?"
Rea : "Ya ngga lah.. Aku masih normal, yank.. Kalo ga normal, waktu itu mana mungkin kita ngelakuin hal itu di warnet.."
Aurel : "Hal apa ?"
Rea : "Yang kita saling memegang alat yang ga boleh dipegang.. Hahahahahaha.."
Aurel : "Iiihh.. !! Kamu tuh !!", sambil menamparku pelan.
Rea : "Hahahahahahaha.."
Aurel : "Ketawa lagi.. Tanggung jawab pokoknya.. Ga mau tau.."
Rea : "Iya iya.."
Aurel : "Sebentar lagi kamu UN ya yank ?"
Rea : "Hhmm.. Gitu deh.. Habis UAS, pasti fokus UN.."
Aurel : "Kalo kamu lulus, aku sendirian dong disini.."
Rea : "Aku kan bakalan sering-sering main ke sekolah yank.. Sering-sering ketemu kamu.."
Aurel : "Emang rencana nya kamu mau masuk mana ?"
Rea : "UI sih.. Kalo bisa.. Hahahahhahahaha.."
Aurel : "Bisa.. Pasti bisa.. Aku doain deh yank.."
Rea : "Makasih sayang.."
Tak terasa hari sudah siang.
Sudah waktunya aku untuk sholat dzuhur.
Setelah sholat dzuhur, kami melanjutkan perjalanan kami untuk mencari makan.
Rea : "Mau makan dimana yank ?"
Aurel : "Dimana ya ? Aku ga tau daerah sini.."
Rea : "Cari didaerah Cikini mau ?"
Aurel : "Ya udah yuk disitu aja.."
Aku dan Aurel berjalan ketempat dimana motor papaku diparkirkan.
Setelah itu, kami mencari makan siang.
Dan kami putuskan untuk makan di sebuah restoran cepat saji yang ada disana.
Rea : "Habis ini mau kemana, yank ?"
Aurel : "Kemana ya ?"
Rea : "Ada tempat yang mau kamu kunjungin ga ?"
Aurel : "Taman Situ Lembang kamu tau, yank ?"
Rea : "Hhmm.. Tau sih.. Mau kesana ?"
Aurel : "Mau dong yank.. Habis makan ya.."
Rea : "Okeh.."
Kami segera menghabiskan makan siang kami disini.
Setelah itu, kami berangkat menuju tempat yang ingin dikunjungi oleh Aurel.
Tak membutuhkan waktu lama untuk kesana.
Hanya 15 menit perjalanan.
Sesampainya disana, aku parkirkan motor papaku dan mencari bangku taman yang kosong.
Kami duduk disebuah bangku taman yang dihiasi dengan tanaman disisi kiri dan kanannya.
Didepan kami ada sebuah danau buatan yang sangat indah.
Permukaan air yang tenang membuat suasana ini semakin membuat nyaman hati dan pikiran.
Aurel : "Kamu ga bosen kan jalan sama aku yank ?"
Rea : "Ngga kok.. Kamu bosen emang nya ?"
Aurel : "Ngga.."
Tiba-tiba, Aurel langsung menggenggam tanganku dengan erat.
Dia menatap mataku.
Aurel : "Yank, aku mau jujur sama kamu tentang keadaanku.. Tapi aku takut kamu jauhin aku.."
Rea : "Aku ga ada alasan untuk jauhin kamu selagi kamu jujur sama aku.."
Aurel : "Ini alasan kenapa aku sering gonta ganti pasangan.. Karena semua mantan-mantanku ga terima sama keadaanku.."
Rea : "Emang kamu kenapa sih, yank ?"
Aurel : "Sebenernya.. Aku ini.."
Rea : "Ngomong aja.. Ga apa-apa.."
Aurel : "Aku mohon jangan jauhin aku setelah ini, yank.."
Rea : "Ga ada alasan untuk jauhin kamu kok, yank.."
Aurel : "Sebenernya, aku ini cuma anak angkat, yank.."
Suasana menjadi hening sejenak.
Hanya suara pepohonan yang tertiup angin yang terdengar ditelingaku.
Aku bukannya tidak terima atau kaget dengan pernyataannya.
Justru banyak pertanyaan yang ada dikepalaku yang harus aku tanyakan kepada Aurel.
Aku bingung harus mulai dari mana.
Rea : "Aku mau tanya sama kamu boleh ?"
Aurel : "Boleh yank.."
Rea : "Tapi jawab jujur.."
Aurel : "Aku akan jawab jujur sejujur-jujurnya.."
Rea : "Orang tua kandung kamu masih ada ?"
Aurel : "Masih ada yank.."
Rea : "Masih suka nengokin ga ?"
Aurel : "Jarang, yank.."
Rea : "Pernah tanya ngga kenapa kamu sampe diangkat jadi anak sedangkan orang tua kandung kamu masih ada ?"
Aurel : "Kata orang tua angkatku, aku dibuang sama orang tua kandungku.. Orang tua kandungku malah sibuk kerja dan aku ga diurusin.."
Rea : "Masa sih ? Kayaknya ga mungkin yank.. Udah denger alasan langsung dari orang tua kandung kamu ?"
Aurel : "Belum.. Aku suka ga diizinin untuk nemuin mereka.."
Rea : "Ini ga bener yank.. Ga ada alasan apapun dan kamu ga perlu izin sama siapapun untuk nemuin orang tua kandung kamu sendiri.."
Aurel : "Tapi aku ga bisa bantah orang tua angkatku, yank.."
Rea : "Kenapa ?"
Aurel : "Mereka udah nyekolahin aku, kasih aku tempat tinggal.."
Rea : "Mereka bilang apa aja ke kamu ?"
Aurel : "Mereka pernah bilang jangan pikirin orang tua kandung aku yang udah buang aku.. Intinya aku ga boleh berbakti sama orang tua kandungku.."
Aurel : "Waktu dulu, aku pernah disuruh ikut les tari.. Terus aku ikut lomba tari dan juara.. Tapi hadiahnya diambil sama orang tua angkatku.. Katanya hadiah ini mama angkatku yang pegang karena udah ikutin aku les.."
Rea : "Yank, aku curiga deh.."
Aurel : "Curiga gimana ?"
Rea : "Kalo kamu ikut lomba apa aja dan menang dapat uang, apa uangnya mereka yang ambil ?"
Aurel : "Selama ini ya begitu yank.. Katanya untuk bakti aku kepada mereka.."
Rea : "Ini ga bener yank.. Ada yang salah sama hidup kamu.. Sekarang aku anter kamu ke rumah orang tua kandung kamu gimana ? Kamu tanya langsung.."
Aurel : "Tapi yank.."
Rea : "Ga ada tapi-tapi.. Kamu harus tau kejadian yang sebenernya.. Yuk berangkat.."
Aurel : "Yank..", sambil menahan tanganku.
Rea : "Apa ?"
Aurel : "Kamu ga bakalan jauhin aku kan ?"
Rea : "Ngga.. Ngga akan.."
Aku dan Aurel segera bergegas menuju rumah orang tua kandungnya.
Aurel memberi tahuku dimana orang tua kandungnya tinggal untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Setelah sampai disana, Aurel turun dari motor papaku.
Aurel : "Kamu ga usah turun yank.. Kamu pulang aja.. Aku ga mau nyeret kamu lebih dalam lagi untuk masalah hidupku.."
Rea : "Ya tapi kamu kabarin aku ya.. Kasih tau apa yang diceritain mama kandung kamu.."
Aurel : "Pasti yank.. Aku mohon bantuan kamu untuk menilai siapa yang bohong.."
Rea : "Iya yank.. Karena buat aku, ga mungkin orang tua kandung segitu bencinya sama anaknya sendiri kecuali anaknya salah.."
Aurel : "Ya udah kamu hati-hati dijalan ya yank.."
Rea : "Iya.. Aku pergi dulu ya.."
Aku segera memacu motor papaku dan pergi meninggalkan Aurel yang sudah masuk kedalam rumah orang tua kandungnya.
Aku langsung menuju rumahku karena aku tak ingin diganggu dan ingin menyendiri dikamarku selama Aurel mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
20 menit perjalanan, akhirnya aku sampai dirumahku.
Aku segera masuk kedalam rumah dan masuk kamarku.
15 menit aku menunggu kabar dari Aurel, akhirnya dia mengirimkan sebuah SMS kepadaku.
Quote:
Aku hanya tidur-tiduran diatas kasurku ini setelah saling berbalas pesan singkat dengan Aurel.
Setelah itu, Lydia menelponku 20 menit kemudian.
Quote:
JabLai cOY memberi reputasi
1
