- Beranda
- Stories from the Heart
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
...
TS
jhonsonamama
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
SELAMAT DATANG GAN DI THREAD ANE 
Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
Quote:
Sinopsis
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Quote:
Karena satu bab terlalu banyak untuk muat dalam satu post di kaskus, maka dengan ini ane minta maaf bahwa setiap bab akan dibagi menjadi 2 part. Terima kasih
Quote:
INDEX
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
Spoiler for BAB 1 Part 1:
BAB I
ACHEN
ACHEN
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Quote:
NOTE
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Diubah oleh jhonsonamama 07-02-2017 17:38
anasabila memberi reputasi
1
5.8K
Kutip
52
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jhonsonamama
#14
UPDATE BAB 3
Razak tersadar, ia haus—sangat kehausan. Ia mendapati dirinya sedang duduk di kursi kayu, dan kedua tangannnya terikat dibelakang kursi dengan kencang, kakinya yang lemas dibiarkan bebas, tidak terikat. Ia terkejut, berusaha mengingat-ingat mengapa ia disini. “Raffi brengsek!” ucapnya dengan nada pelan seolah berbisik. Ia menggoyang-goyangkan tangannya yang terikat, dan mencoba melepaskan tali yang mengikat dirinya; tetapi sia-sia. Ia pun sadar kakinya bebas, dan mencoba berdiri—tetapi percuma, tumpuannya terlalu besar di punggung; coba saja ikatan di tangannya sedikit longgar, maka ia dapat merubah tumpuannya lalu berdiri, sayang sekali pikirnya. Razak berada di suatu ruangan tertutup yang lembab, dan berbedu. Cahaya matahari terlihat menembus gorden yang tertutup, menandakan masih siang; tetapi Razak tidak mengetahui sudah berapa lama ia tak sadarkan diri. Setelah Razak lelah mencoba membuka ikatannya, Razak melihat sekeliling. Ia mencoba menerka-nerka sedang dimana ia, melihat ukiran kayu di lantai—ia menebak ruangan ini masih dirumah Raffi. Ruangannya tidak luas, hanya sekitar 3 meter persegi yang kosong, tidak terlihat barang satupun diruangan ini, kecuali kursi tempat ia duduk tentunya.
Razak berusaha tenang, setenang yang ia bisa; ia sadar betul bahwa kecemasan, dan kepanikan hanya memperkeruh suasana. Memang Razak selalu tenang, dan pandai mengontrol diri; ditambah ia selau berfikir sebelum bertindak, bakatnya yang luar biasa menurut beberapa orang termasuk Raffi. Ia menajamkan indra pendengarannya, barangkali ia mendengar sesuatu—ternyata benar, ia mendengar suara orang sedang bercakap-cakap di luar ruangan. Tidak, tidak diluar pikirnya, sepertinya dibawah. Razak tidak mendengar jelas, hanya seperti gema-gema percakapan. Tetapi, ada suara langkah yang seperti semakin jelas daripada gema-gema yang ia dengar barusan; apakah indra pendengarannya yang menajam atau—oh tidak, sepertinya ada orang yang mendekati ruangannya. Razak langsung berpura-pura tidak sadarkan diri, melemaskan kepalanya, dan menengadah ke bawah. “Graaak!” bunyi pintu terbuka, dan banyak langkah kaki yang masuk, tetapi sepertinya hanya dua orang.
“Razak... Razak... kau pikir kau begitu hebat ya? Lihatlah dirimu sendiri yang terkulai lemah!” kata suara yang sudah tidak asing lagi, Raffi berbicara kepada Razak, tidak peduli ia sadar atau tidak (yang sebenarnya sadar).
“Sepertinya kau sangat membencinya ya? Bukankah kau temannya sejak dulu di akademi?” kali ini suaranya asing, namun tidak begitu asing. Razak mengingat-ingat lagi; ternyata suara yang berbicara adalah suara Ahmad, sang penjaga pos malam yang baru kemarin ia temui. Razak sangat emosi, mengapa orang-orang di kepolisian sungguh anjing, dan sangat ingin menghajar mereka; tetapi seketika ia mengontrol emosinya karena tidak ingin kepura-puraannya terbongkar.
“Teman? Tidak, tidak ada yang suka dengannya Ahmad, dia itu selalu merasa paling benar, dan menganggap remeh segala hal, naif adalah kata yang tepat untuknya,” lanjut Raffi dengan nada yang semakin jengkel, sekali-kali melihat Razak.
“Wow itu kejam sekali, coba saja Razak mendengarnya, ia akan sangat sakit hati mendengar kata-kata itu, terutama keluar dari mulut teman kepercayaannya” kata Ahmad dilanjut dengan tawanya yang sinis (bila saja ia tahu bahwa sebenarnya Razak memang sadar).
“Jadi apa yang kita lakukan setelah si anjing ini sadar?” tanya Raffi kepada Ahmad.
“Komandan memberiku surat perintah tidak resmi yang menyuruh kita untuk memaksa dia meminta maaf kepada Menteri Hussein, kalau tidak mau juga bunuh saja kata Komandan; suratnya ada di sakuku bila kau ingin melihatnya,” kata Ahmad. Razak terkejut, hampir saja ia menegakkan kepalanya dan membalas memaki, tetapi kontrol akan emosinya sudah sangat terlatih, ia tetap tenang (berusaha tetap tenang).
“Tidak, aku tidak ingin melihatnya, tetapi mungkin saja ia sudah bangun, pukul kepalanya supaya kita tahu dia benar-benar pingsan atau tidak,” kata Raffi yang mengetahui Razak pandai mengontrol diri.
“Baiklah, kalau begitu,” kata Ahmad. “BAK!” Ahmad memukul Razak dengan keras dikepala Razak, tetapi Razak sudah mempersiapkan diri; ia tetap melemaskan kepalanya selemas mungkin walaupun sekarang kepalanya berdenging nyeri.
“Oh, sepertinya dia memang pingsan, sayang sekali,” kata Raffi dengan sedikit jengkel; ia berharap Razak memang sadar lalu menghajarnya bertubi-tubi.
“Ya sudahlah kau tunggu disini saja, aku lapar sekarang. Bolehkah aku mengambil beberapa cemilan dibawah?” kata Ahmad yang mulai bosan dan lapar.
“Silahkan saja, anggaplah rumahmu sendiri,” kata Raffi.
Jadi dugaan Razak ternyata benar, ini memang di rumah Raffi. Ahmad keluar ruangan dan suara langkahnya seperti langkah orang yang menuruni tangga. Jadi ini dilantai dua, pikir Razak. Tinggal Raffi sendirian diruangan, Razak berfikir ia bisa menendang Raffi; tetapi bila sudah tertendang percuma saja, ia akan kembali bangkit lalu usaha Razak daritadi berakhir dengan sia-sia. Razak mengintip dengan hati-hati ke lantai untuk mencari-cari benda tajam apa yang ada disana, tetapi nihil—sama sekali kosong melompong. “Pintar juga mereka,” kata Razak dalam hati. Raffi berjalan kesana kemari di dalam ruangan, seperti bosan menunggu, lalu suara langkah kakinya mendekat. Raffi menarik baju Razak di leher dengan kedua tangannya, dan hembusan nafas Raffi terasa tepat didepan muka Razak. Raffi mengangkat Razak cukup tinggi, sampai kaki kursi bagian belakang tempat Razak diikat terangkat. Kaki Razak pun telah menyetuh lantai, Razak menyadari ini merupakan momen tepat untuk melawan.
Dengan secepat kilat, Razak menengadah keatas dan membuka matanya—menatap mata Raffi yang tidak siap dengan tatapan tajam. Sebelum Raffi berkutik, Razak menyundul hidung Raffi, dengan segenap kekuatan otot lehernya. Kepala Raffi terhempas kebelakang beserta badannya, hidungnya berdarah hebat bila Raffi menyadarinya. Raffi pusing, dan terjatuh. Tetapi Razak sudah setengah berdiri dengan bungkuk, tetapi tangannya masih terikat di kursi, begitu pula Raffi; kakinya sudah ditekuk di lantai, siap untuk berdiri. Kejadian setelahnya tidak dapat disangka, Razak melompat menjatuhkan diri sambil memutar kearah Raffi yang masih dilantai, siap menindih Raffi dengan kursinya yang terikat. “BRAKK!” Razak menindih Raffi sampai kursi yang mengikat tangannya hancur berkeping—keras sekali. Akhirnya tangannya bebas, tangan kanan, dan kirinya sekarang terikat kepada sebuah batang kayu serpihan kursi. Batang kayu itu menggantung di tangan kanan, dan tangan kiri Razak. Razak berdiri, dan Raffi sudah tidak sadarkan diri—sepertiya beberapa tulang Raffi patah. Saat Razak ingin melepaskan ikatan di kedua tangannya, Ahmad berlari menaiki tangga untuk mengecek kegaduhan. Ahmad membuka pintu, tetapi sayang sekali Razak telah menantinya dengan wajah pembunuh—begitu haus darah. Ia mengayunkan batang kayu yang terikat di tangannya, pas sekali mengenai kepala Ahmad; Ahmad terhempas kebelakang, ia terjatuh dan tak sadarkan diri.
Razak kesetanan—sambil berteriak tidak terkontrol ia berlari kepada Ahmad yang sudah terkulai lemas dan menghajar kepalanya bertubi-tubi dengan sebatang kayu. Setelah pukulan kelima atau keenam, Razak sadar kemudian mundur dari badan Ahmad. Ia terduduk, nafasnya tersenggal-senggal, keringat bercucuran, matanya melotot seolah tidak percaya apa yang telah ia perbuat. Ia duduk selama beberapa saat, mencoba menjernihkan pikiran. Kemudian ia melihat dua tubuh terkulai lemas di lantai, ia masih tidak percaya apa yang telah terjadi. Biasanya ia sangat pandai mengontrol diri, tetapi rasa sakit akan dikhianati, membuat emosi menguasai otaknya dengan cepat; seperti kobaran api yang membakar kayu dengan lahap. Razak menarik nafas dalam, dan mengeluarkannya. Ia mulai mengontrol penuh emosinya, dan sesaat ia telah tenang. Ia berkata pada dirinya sendiri berkali-kali bahwa apa yang dilakukannya adalah pembelaan diri, dan ia menjadi tenang setelah kata-kata itu terus diulangnya.
Razak berdiri, membersihkan debu-debu yang menempel di celana kainnya yang berwarna putih, kemudian ia teringat akan surat perintah yang Komandan Djamal berikan pada Ahmad; mungkin surat ini akan berguna sewaktu-waktu. Ia menunduk mendekat kepada Ahmad yang sudah terkulai lemas tak sadarkan diri, darah dikepalanya mengucur hebat dan membuat sebuah genangan di lantai—seperti genangan air diwaktu hujan tiba. Razak meraba-raba saku celana Ahmad, kemudian menemukan surat dari Komandan Djamal, surat itu hanya menggunakan kertas coklat biasa. Razak membukanya dan membacanya, tulisan tangan saja yang terdapat di surat itu, tidak ada tanda pengenal atau tanda tangan Komandan Sendiri. Tetapi ia menemukan bukti yang kuat bahwa Komandan yang membuat suratnya, dibalik kertasnya ada cap komandan kepolisian, cap yang hanya dimiliki oleh Komandan Djamal untuk memberikan surat perintah atau semacamnya. Capnya diukir sama persis dengan cap kesultanan, berbentuk bundar, dan terdapat dua golok yang bersilangan di dalamnya. Razak tersenyum lega, akhirnya ada hal baik juga di hari yang buruk, dan penuh kebencian. Cap tersebut bisa dijadikan bukti untuk nanti di persidangan, ia memasukkan surat tersebut ke saku celananya. Ia keluar dari ruangan tersebut dan menuruni tangga kayu, setelah turun ia melihat sekeliling; dan ternyata memang benar ini rumah Raffi. Ia berjalan ke ambang pintu, sebelum membuka pintu ia takut kalau orang-orang suruhan Komandan Djamal telah menunggunya diluar. Ia membuka sedikit pintu, cahaya matahari ikut memasuki celah yang sempit itu. Ia mengintip keluar dengan seksama, tetapi yang ia bisa lihat hanya orang-orang berjalan berlalu lalang seperti biasa. “Aman,” ucapnya dalam hati, kemudian ia keluar; seketika merasakan kehangatan cahaya matahari yang menyejukkannya, kemudian ia mengambil nafas panjang dan mulai berjalan.
Razak sangat letih, ia ingin beristirahat sebentar saja. Maka ia menuju ke rumahnya sendiri yang hanya memakan waktu 10-15 menit perjalanan dari rumah Raffi. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia merasakan pening yang luar biasa di kepalanya, langkahnya terganggu dan menjadi tidak seimbang. Ia terhuyung jatuh dengan pelan, orang-orang yang melintas melihatnya keheranan. Setelah dirasa kondisinya sudah cukup membaik, ia berdiri dan melanjutkan berjalan. Akhirnya ia melihat rumahnya yang kecil di kejauhan, ia melebarkan langkah kakinya untuk segera sampai. Ia membuka pintu rumahnya dengan tidak sabar, kemudian langsung menuju ke kasur dan menjatuhkan diri dalam lelap. Razak tertidur dengan lelap tanpa mimpi. Suara jangkrik tedengar bersahutan, berbicara dalam gelapnya malam, udara dingin diluar masuk melewati jendela rumah Razak, dan seperti asap udara itu menyelimutinya tanpa disuruh. Ia terbangun dari tidurnya, sepertinya sudah tengah malam, kondisinya sudah jauh lebih baik daripada tadi siang. Kemudian ia pergi ke dapur untuk membuat satu gelas cah manis hangat. Harum semerbaknya menyebar ke seluruh ruangan, ia mencium aromanya terlebih dahulu, kemudian menyeruputnya lembut; tidak ada kenikmatan selain cah manis hangat di malam hari, setidaknya begitulah yang masyarakat Achen sering katakan. Tetapi Razak masih merasa ada yang kurang, “Oh benar, aku belum merokok semenjak pagi tadi,” katanya pelan kepada diri sendiri. Ia kemudian membakar bakong nya, dan duduk di kursi ruang tengahnya yang nyaman dalam remang-remang cahaya lilin di dalam ruangannya, tentu saja ditemani segelas cah manis hangat. Asap bakong yang dibakar mengepul ke langit-langit rumah dan menyebar luas, entah kemana asap itu menuju; sama seperti pikiran Razak saat ini. Ia berpikir keras, dan ia bertekad kembali kepada Komandan Djamal dan bersikukuh pada tekadnya untuk mengikuti persidangan. Setidaknya, ia membawa sebuah kunci; yaitu surat perintah Komandan Djamal sendiri untuk menghabisinya. Kemudian Razak kembali termenung dalam benaknya yang menjulur liar entah kemana, setelah itu ia sudah terangguk-angguk mengantuk.
Hari sudah pagi menjelang siang, bunyi keramaian kota menembus dinding-dinding batu rumah Razak, udara hangat dan segar juga ikut hadir bersama cahaya matahari. Razak terbangun dan mendapati dirinya duduk di kursi. Ia pun bangkit, dan mencuci mukanya, ia ingin segera bergegas ke pos untuk mencari jawaban; tentunya kepada Komandan Djamal. Setelah Razak siap, ia mengantongi kembali surat perintahnya dalam saku celananya. Ia keluar dari rumahnya, dan langsung bergegas menuju pos, yang mungkin saja ia menuju ke kematiannya sendiri. Langkah kakinya cepat, walau dalam hati ia merasa ketakutan; seketika ada kedinginan yang mencengkram kedua kakinya. Bangunan pos patroli sudah terlihat di kejauhan, bangunan yang dahulu ia lihat, terasa berbeda sekarang. Dahulu ia melihat gedung itu seperti secercah cahaya dalam gelap, bangunan tak berdosa diantara kota Achen. Sekarang bangunan itu terlihat seperti bara api didalam setumpuk jerami, apinya akan menyebar, membakar jerami di sekelilingnya. Razak membuka pintu pagar pos yang khas bunyinya dan mendekati pintu masuk. Ia membuka pintu, dan melihat Razi, Awwal, dan lain-lain sedang bertugas seperti biasa.
Razi melihat kedatangan Razak, tetapi seperti biasa-biasa saja; tidak terjadi apa-apa. “Razak, kenapa kau tidak bertugas kemarin?” tanya Razi. “Aku tidak enak badan kemarin,” kata Razak sambil melewati Razi yang sedang duduk di lorong. Razak berhenti kemudian bertanya, “Apakah Komandan Djamal ada diruangannya?” “Ada,” jawab Razi singkat seperti tidak ingin diganggu. Razak mengangguk sedikit kemudian berjalan kembali menuju ruangan Komandan Djamal.
“Bak-bak, bak-bak, bak-bak,” Razak mengetuk pintu ruangan Komandan Djamal. Ketegangannya memang sudah sedikit reda karena anggota polisi yang lain sepertinya tidak mengetahui apa yang terjadi, tetapi menghadap Komandan Djamal dengan kondisi seperti ini sangat menegangkan. “Siapa itu? Masuklah,” kata Komandan Djamal dari dalam ruangan, sepertinya ia tidak tahu bahwa yang mengetuk pintu adalah Razak.
Razak membuka pintu dengan keras, sampai pintu yang dibuka mengenai tembok disampingnya, muka Komandan Djamal tercengan—seperti melihat hantu.
“Terkejut?” tanya Razak dengan sinis.
“A... Aku...,” Komandan Djamal terkejut bukan main, nafasnya tersenggal dan tidak dapat bicara dengan jelas.
“Pokoknya aku akan mengikuti persidangan! Kalau kau menghalangiku lagi, nasibmu akan sama seperti Raffi, dan Ahmad,” kata Razak. “Kenapa kau begitu menginginkanku tidak ikut persidangan? Ho, sepertinya aku tahu, uang pajak yang mereka ambil itu..., mengalir padamu juga kan?” lanjut Razak dengan tenang, tetapi mencoba menusuk.
“Bajingan! Kau itu hanya pion kecil di suatu permainan catur yang besar!” Komandan gusar sekali.
“Pion kecil? Sepertinya aku akan menjadi ratu karena mempunyai ini,” Razak mengeluarkan surat perintah dari sakunya, dan melambai-lambaikan kertas itu kepada Komandan.
Kemudian Razak tersenyum, dan meninggalkan ruangan Komandan Djamal. Komandan Djamal terduduk diam, ia pucat pasi. Amanat Menteri Hussein tidak ia jalankan dengan baik, ia tidak akan dapat mas hasil pajak lagi. Di Achen, orang-orang kaya punya pengaruh yang besar dalam dunia peradilan, dikarenakan orang-orang kaya-lah yang terkadang memimpin persidangan, baik dalam kasus perdata maupun pidana. Tetapi bila masalah sudah cukup besar, sampai seorang Menteri yang bersengketa, maka Sultan sendirilah yang akan menjadi hakim, untuk mencegah adanya nepotisme dalam peradilan. Di lain pihak, Menteri Hussein tidak ingin ambil pusing masalah perpajakan, ia hanya tidak ingin diganggu dalam menjalankan bisnis gelapnya. Tetapi bila masih ada yang mengganggu, terlebih telah melukai anak buahnya, ia tidak ragu untuk menuntut, karena reputasinya baik, hakim manapun akan mendukungnya, tidak terkecuali sang Sultan sendiri.
Beberapa hari kemudian, Menteri Hussein sedang bersantai di rumahnya, rumah besar di daerah elit Achen. Orang-orang kaya di Achen, seperti orang kaya pada umumnya, memiliki pelayan yang sangat banyak di rumahnya. Bahkan, mereka memiliki beras-beras yang ditimbun di gudang, bila suatu saat kelaparan melanda Achen. Menteri Hussein sedang terduduk di halaman rumahnya yang indah, dihiasi pepohonan, dan ada kolam kecil yang elok di bagian tengah halamannya. Saat tengah asyik menikmati bakong nya, pelayan kepercayaannya datang menghampiri.
“Tuan Hussein, maaf mengganggu. Ada tamu yang ingin bertemu,” kata pelayan dengan ramah.
“Siapa? Jangan sampai istri keduaku,” tanya Menteri Hussein.
“Bukan tuan, sepertinya dia polisi,” kata si pelayan.
“Pasti Djamal, suruh ia masuk!” kata Menteri Hussein. Beberapa saat kemudian, Komandan Djamal terlihat telah berjalan diantar pelayan menuju tempat duduk Menteri Hussein.
“Ada apa Djamal? Apa kau sudah berurusan dengan bawahanmu?” kata Menteri Hussein kepada Komandan Djamal yang baru saja duduk disebelahnya.
“Ia tidak mau meminta maaf kepadamu, ia bersikeras ingin mengikuti persidangan,” kata Komandan Djamal, eskpresinya terlihat ketakutan.
“Kalau begitu aku akan memprosesnya secepat mungkin, kau tahu, aku tidak mungkin kalah di persidangan,” kata Menteri Hussein dengan bangga.
“Tetapi, dia memiliki bukti yang memberatkanku,” kata Komandan Djamal dengan suara pelan, dan menunduk.
“Apa itu?” kata Menteri Hussein sambil memelototkan matanya.
“Surat yang kuberikan kepada anak buahku untuk mengancamnya, ternyata dia berhasil lolos, dan ia menunjukkan kepadaku, bahwa ia akan menunjukkan surat itu kepada hakim nanti di pengadilan,” kata Komandan Djamal, nadanya semakin memelas.
“Kau sungguh bodoh, tetapi bukti itu tidak memberatkanku, itu resiko yang kau tanggung karena telah bertindak bodoh,” kata Menteri Hussein ketus.
“Tolonglah aku Hussein, bukankah kita teman? Kita telah menghasilkan banyak uang karena pajak kepada pedagang,” kata Komandan Djamal, berharap Menteri Hussein terenyuh.
“Teman? Apakah kau tahu, aku hanya berteman denganmu karena aku berharap anggota-anggota tololmu menjaga bisnis kita berjalan baik. Tetapi nyatanya, anak buahmu mengganggu anak buahku,” kata Menteri Hussein gusar. “Pergi kau dari rumahku, sekarang aku akan berjuang sendiri.” Komandan Djamal lesu, ia tidak percaya apa yang telah ia dengar.
“Apa yang kau tunggu? Pergi!” hardik Menteri Hussein kepadanya. Kemudian Komandan Djamal berdiri, dan beranjak pergi. Menteri Hussein kemudian memanggil pelayannya.
“Ya tuan?” tanya pelayan dengan sopan.
“Kau pergi ke rumah Malik, berikan surat gugat ini untuk ditandatangani olehnya, pastikan segera ditandatangani, karena aku ingin persidangan berjalan sesegera mungkin!”
BAB 4 COMING TOMORROW
Spoiler for BAB III:
BAB III
BETRAYAL
BETRAYAL
Razak tersadar, ia haus—sangat kehausan. Ia mendapati dirinya sedang duduk di kursi kayu, dan kedua tangannnya terikat dibelakang kursi dengan kencang, kakinya yang lemas dibiarkan bebas, tidak terikat. Ia terkejut, berusaha mengingat-ingat mengapa ia disini. “Raffi brengsek!” ucapnya dengan nada pelan seolah berbisik. Ia menggoyang-goyangkan tangannya yang terikat, dan mencoba melepaskan tali yang mengikat dirinya; tetapi sia-sia. Ia pun sadar kakinya bebas, dan mencoba berdiri—tetapi percuma, tumpuannya terlalu besar di punggung; coba saja ikatan di tangannya sedikit longgar, maka ia dapat merubah tumpuannya lalu berdiri, sayang sekali pikirnya. Razak berada di suatu ruangan tertutup yang lembab, dan berbedu. Cahaya matahari terlihat menembus gorden yang tertutup, menandakan masih siang; tetapi Razak tidak mengetahui sudah berapa lama ia tak sadarkan diri. Setelah Razak lelah mencoba membuka ikatannya, Razak melihat sekeliling. Ia mencoba menerka-nerka sedang dimana ia, melihat ukiran kayu di lantai—ia menebak ruangan ini masih dirumah Raffi. Ruangannya tidak luas, hanya sekitar 3 meter persegi yang kosong, tidak terlihat barang satupun diruangan ini, kecuali kursi tempat ia duduk tentunya.
Razak berusaha tenang, setenang yang ia bisa; ia sadar betul bahwa kecemasan, dan kepanikan hanya memperkeruh suasana. Memang Razak selalu tenang, dan pandai mengontrol diri; ditambah ia selau berfikir sebelum bertindak, bakatnya yang luar biasa menurut beberapa orang termasuk Raffi. Ia menajamkan indra pendengarannya, barangkali ia mendengar sesuatu—ternyata benar, ia mendengar suara orang sedang bercakap-cakap di luar ruangan. Tidak, tidak diluar pikirnya, sepertinya dibawah. Razak tidak mendengar jelas, hanya seperti gema-gema percakapan. Tetapi, ada suara langkah yang seperti semakin jelas daripada gema-gema yang ia dengar barusan; apakah indra pendengarannya yang menajam atau—oh tidak, sepertinya ada orang yang mendekati ruangannya. Razak langsung berpura-pura tidak sadarkan diri, melemaskan kepalanya, dan menengadah ke bawah. “Graaak!” bunyi pintu terbuka, dan banyak langkah kaki yang masuk, tetapi sepertinya hanya dua orang.
“Razak... Razak... kau pikir kau begitu hebat ya? Lihatlah dirimu sendiri yang terkulai lemah!” kata suara yang sudah tidak asing lagi, Raffi berbicara kepada Razak, tidak peduli ia sadar atau tidak (yang sebenarnya sadar).
“Sepertinya kau sangat membencinya ya? Bukankah kau temannya sejak dulu di akademi?” kali ini suaranya asing, namun tidak begitu asing. Razak mengingat-ingat lagi; ternyata suara yang berbicara adalah suara Ahmad, sang penjaga pos malam yang baru kemarin ia temui. Razak sangat emosi, mengapa orang-orang di kepolisian sungguh anjing, dan sangat ingin menghajar mereka; tetapi seketika ia mengontrol emosinya karena tidak ingin kepura-puraannya terbongkar.
“Teman? Tidak, tidak ada yang suka dengannya Ahmad, dia itu selalu merasa paling benar, dan menganggap remeh segala hal, naif adalah kata yang tepat untuknya,” lanjut Raffi dengan nada yang semakin jengkel, sekali-kali melihat Razak.
“Wow itu kejam sekali, coba saja Razak mendengarnya, ia akan sangat sakit hati mendengar kata-kata itu, terutama keluar dari mulut teman kepercayaannya” kata Ahmad dilanjut dengan tawanya yang sinis (bila saja ia tahu bahwa sebenarnya Razak memang sadar).
“Jadi apa yang kita lakukan setelah si anjing ini sadar?” tanya Raffi kepada Ahmad.
“Komandan memberiku surat perintah tidak resmi yang menyuruh kita untuk memaksa dia meminta maaf kepada Menteri Hussein, kalau tidak mau juga bunuh saja kata Komandan; suratnya ada di sakuku bila kau ingin melihatnya,” kata Ahmad. Razak terkejut, hampir saja ia menegakkan kepalanya dan membalas memaki, tetapi kontrol akan emosinya sudah sangat terlatih, ia tetap tenang (berusaha tetap tenang).
“Tidak, aku tidak ingin melihatnya, tetapi mungkin saja ia sudah bangun, pukul kepalanya supaya kita tahu dia benar-benar pingsan atau tidak,” kata Raffi yang mengetahui Razak pandai mengontrol diri.
“Baiklah, kalau begitu,” kata Ahmad. “BAK!” Ahmad memukul Razak dengan keras dikepala Razak, tetapi Razak sudah mempersiapkan diri; ia tetap melemaskan kepalanya selemas mungkin walaupun sekarang kepalanya berdenging nyeri.
“Oh, sepertinya dia memang pingsan, sayang sekali,” kata Raffi dengan sedikit jengkel; ia berharap Razak memang sadar lalu menghajarnya bertubi-tubi.
“Ya sudahlah kau tunggu disini saja, aku lapar sekarang. Bolehkah aku mengambil beberapa cemilan dibawah?” kata Ahmad yang mulai bosan dan lapar.
“Silahkan saja, anggaplah rumahmu sendiri,” kata Raffi.
Jadi dugaan Razak ternyata benar, ini memang di rumah Raffi. Ahmad keluar ruangan dan suara langkahnya seperti langkah orang yang menuruni tangga. Jadi ini dilantai dua, pikir Razak. Tinggal Raffi sendirian diruangan, Razak berfikir ia bisa menendang Raffi; tetapi bila sudah tertendang percuma saja, ia akan kembali bangkit lalu usaha Razak daritadi berakhir dengan sia-sia. Razak mengintip dengan hati-hati ke lantai untuk mencari-cari benda tajam apa yang ada disana, tetapi nihil—sama sekali kosong melompong. “Pintar juga mereka,” kata Razak dalam hati. Raffi berjalan kesana kemari di dalam ruangan, seperti bosan menunggu, lalu suara langkah kakinya mendekat. Raffi menarik baju Razak di leher dengan kedua tangannya, dan hembusan nafas Raffi terasa tepat didepan muka Razak. Raffi mengangkat Razak cukup tinggi, sampai kaki kursi bagian belakang tempat Razak diikat terangkat. Kaki Razak pun telah menyetuh lantai, Razak menyadari ini merupakan momen tepat untuk melawan.
Dengan secepat kilat, Razak menengadah keatas dan membuka matanya—menatap mata Raffi yang tidak siap dengan tatapan tajam. Sebelum Raffi berkutik, Razak menyundul hidung Raffi, dengan segenap kekuatan otot lehernya. Kepala Raffi terhempas kebelakang beserta badannya, hidungnya berdarah hebat bila Raffi menyadarinya. Raffi pusing, dan terjatuh. Tetapi Razak sudah setengah berdiri dengan bungkuk, tetapi tangannya masih terikat di kursi, begitu pula Raffi; kakinya sudah ditekuk di lantai, siap untuk berdiri. Kejadian setelahnya tidak dapat disangka, Razak melompat menjatuhkan diri sambil memutar kearah Raffi yang masih dilantai, siap menindih Raffi dengan kursinya yang terikat. “BRAKK!” Razak menindih Raffi sampai kursi yang mengikat tangannya hancur berkeping—keras sekali. Akhirnya tangannya bebas, tangan kanan, dan kirinya sekarang terikat kepada sebuah batang kayu serpihan kursi. Batang kayu itu menggantung di tangan kanan, dan tangan kiri Razak. Razak berdiri, dan Raffi sudah tidak sadarkan diri—sepertiya beberapa tulang Raffi patah. Saat Razak ingin melepaskan ikatan di kedua tangannya, Ahmad berlari menaiki tangga untuk mengecek kegaduhan. Ahmad membuka pintu, tetapi sayang sekali Razak telah menantinya dengan wajah pembunuh—begitu haus darah. Ia mengayunkan batang kayu yang terikat di tangannya, pas sekali mengenai kepala Ahmad; Ahmad terhempas kebelakang, ia terjatuh dan tak sadarkan diri.
Razak kesetanan—sambil berteriak tidak terkontrol ia berlari kepada Ahmad yang sudah terkulai lemas dan menghajar kepalanya bertubi-tubi dengan sebatang kayu. Setelah pukulan kelima atau keenam, Razak sadar kemudian mundur dari badan Ahmad. Ia terduduk, nafasnya tersenggal-senggal, keringat bercucuran, matanya melotot seolah tidak percaya apa yang telah ia perbuat. Ia duduk selama beberapa saat, mencoba menjernihkan pikiran. Kemudian ia melihat dua tubuh terkulai lemas di lantai, ia masih tidak percaya apa yang telah terjadi. Biasanya ia sangat pandai mengontrol diri, tetapi rasa sakit akan dikhianati, membuat emosi menguasai otaknya dengan cepat; seperti kobaran api yang membakar kayu dengan lahap. Razak menarik nafas dalam, dan mengeluarkannya. Ia mulai mengontrol penuh emosinya, dan sesaat ia telah tenang. Ia berkata pada dirinya sendiri berkali-kali bahwa apa yang dilakukannya adalah pembelaan diri, dan ia menjadi tenang setelah kata-kata itu terus diulangnya.
Razak berdiri, membersihkan debu-debu yang menempel di celana kainnya yang berwarna putih, kemudian ia teringat akan surat perintah yang Komandan Djamal berikan pada Ahmad; mungkin surat ini akan berguna sewaktu-waktu. Ia menunduk mendekat kepada Ahmad yang sudah terkulai lemas tak sadarkan diri, darah dikepalanya mengucur hebat dan membuat sebuah genangan di lantai—seperti genangan air diwaktu hujan tiba. Razak meraba-raba saku celana Ahmad, kemudian menemukan surat dari Komandan Djamal, surat itu hanya menggunakan kertas coklat biasa. Razak membukanya dan membacanya, tulisan tangan saja yang terdapat di surat itu, tidak ada tanda pengenal atau tanda tangan Komandan Sendiri. Tetapi ia menemukan bukti yang kuat bahwa Komandan yang membuat suratnya, dibalik kertasnya ada cap komandan kepolisian, cap yang hanya dimiliki oleh Komandan Djamal untuk memberikan surat perintah atau semacamnya. Capnya diukir sama persis dengan cap kesultanan, berbentuk bundar, dan terdapat dua golok yang bersilangan di dalamnya. Razak tersenyum lega, akhirnya ada hal baik juga di hari yang buruk, dan penuh kebencian. Cap tersebut bisa dijadikan bukti untuk nanti di persidangan, ia memasukkan surat tersebut ke saku celananya. Ia keluar dari ruangan tersebut dan menuruni tangga kayu, setelah turun ia melihat sekeliling; dan ternyata memang benar ini rumah Raffi. Ia berjalan ke ambang pintu, sebelum membuka pintu ia takut kalau orang-orang suruhan Komandan Djamal telah menunggunya diluar. Ia membuka sedikit pintu, cahaya matahari ikut memasuki celah yang sempit itu. Ia mengintip keluar dengan seksama, tetapi yang ia bisa lihat hanya orang-orang berjalan berlalu lalang seperti biasa. “Aman,” ucapnya dalam hati, kemudian ia keluar; seketika merasakan kehangatan cahaya matahari yang menyejukkannya, kemudian ia mengambil nafas panjang dan mulai berjalan.
Razak sangat letih, ia ingin beristirahat sebentar saja. Maka ia menuju ke rumahnya sendiri yang hanya memakan waktu 10-15 menit perjalanan dari rumah Raffi. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia merasakan pening yang luar biasa di kepalanya, langkahnya terganggu dan menjadi tidak seimbang. Ia terhuyung jatuh dengan pelan, orang-orang yang melintas melihatnya keheranan. Setelah dirasa kondisinya sudah cukup membaik, ia berdiri dan melanjutkan berjalan. Akhirnya ia melihat rumahnya yang kecil di kejauhan, ia melebarkan langkah kakinya untuk segera sampai. Ia membuka pintu rumahnya dengan tidak sabar, kemudian langsung menuju ke kasur dan menjatuhkan diri dalam lelap. Razak tertidur dengan lelap tanpa mimpi. Suara jangkrik tedengar bersahutan, berbicara dalam gelapnya malam, udara dingin diluar masuk melewati jendela rumah Razak, dan seperti asap udara itu menyelimutinya tanpa disuruh. Ia terbangun dari tidurnya, sepertinya sudah tengah malam, kondisinya sudah jauh lebih baik daripada tadi siang. Kemudian ia pergi ke dapur untuk membuat satu gelas cah manis hangat. Harum semerbaknya menyebar ke seluruh ruangan, ia mencium aromanya terlebih dahulu, kemudian menyeruputnya lembut; tidak ada kenikmatan selain cah manis hangat di malam hari, setidaknya begitulah yang masyarakat Achen sering katakan. Tetapi Razak masih merasa ada yang kurang, “Oh benar, aku belum merokok semenjak pagi tadi,” katanya pelan kepada diri sendiri. Ia kemudian membakar bakong nya, dan duduk di kursi ruang tengahnya yang nyaman dalam remang-remang cahaya lilin di dalam ruangannya, tentu saja ditemani segelas cah manis hangat. Asap bakong yang dibakar mengepul ke langit-langit rumah dan menyebar luas, entah kemana asap itu menuju; sama seperti pikiran Razak saat ini. Ia berpikir keras, dan ia bertekad kembali kepada Komandan Djamal dan bersikukuh pada tekadnya untuk mengikuti persidangan. Setidaknya, ia membawa sebuah kunci; yaitu surat perintah Komandan Djamal sendiri untuk menghabisinya. Kemudian Razak kembali termenung dalam benaknya yang menjulur liar entah kemana, setelah itu ia sudah terangguk-angguk mengantuk.
Hari sudah pagi menjelang siang, bunyi keramaian kota menembus dinding-dinding batu rumah Razak, udara hangat dan segar juga ikut hadir bersama cahaya matahari. Razak terbangun dan mendapati dirinya duduk di kursi. Ia pun bangkit, dan mencuci mukanya, ia ingin segera bergegas ke pos untuk mencari jawaban; tentunya kepada Komandan Djamal. Setelah Razak siap, ia mengantongi kembali surat perintahnya dalam saku celananya. Ia keluar dari rumahnya, dan langsung bergegas menuju pos, yang mungkin saja ia menuju ke kematiannya sendiri. Langkah kakinya cepat, walau dalam hati ia merasa ketakutan; seketika ada kedinginan yang mencengkram kedua kakinya. Bangunan pos patroli sudah terlihat di kejauhan, bangunan yang dahulu ia lihat, terasa berbeda sekarang. Dahulu ia melihat gedung itu seperti secercah cahaya dalam gelap, bangunan tak berdosa diantara kota Achen. Sekarang bangunan itu terlihat seperti bara api didalam setumpuk jerami, apinya akan menyebar, membakar jerami di sekelilingnya. Razak membuka pintu pagar pos yang khas bunyinya dan mendekati pintu masuk. Ia membuka pintu, dan melihat Razi, Awwal, dan lain-lain sedang bertugas seperti biasa.
Razi melihat kedatangan Razak, tetapi seperti biasa-biasa saja; tidak terjadi apa-apa. “Razak, kenapa kau tidak bertugas kemarin?” tanya Razi. “Aku tidak enak badan kemarin,” kata Razak sambil melewati Razi yang sedang duduk di lorong. Razak berhenti kemudian bertanya, “Apakah Komandan Djamal ada diruangannya?” “Ada,” jawab Razi singkat seperti tidak ingin diganggu. Razak mengangguk sedikit kemudian berjalan kembali menuju ruangan Komandan Djamal.
“Bak-bak, bak-bak, bak-bak,” Razak mengetuk pintu ruangan Komandan Djamal. Ketegangannya memang sudah sedikit reda karena anggota polisi yang lain sepertinya tidak mengetahui apa yang terjadi, tetapi menghadap Komandan Djamal dengan kondisi seperti ini sangat menegangkan. “Siapa itu? Masuklah,” kata Komandan Djamal dari dalam ruangan, sepertinya ia tidak tahu bahwa yang mengetuk pintu adalah Razak.
Razak membuka pintu dengan keras, sampai pintu yang dibuka mengenai tembok disampingnya, muka Komandan Djamal tercengan—seperti melihat hantu.
“Terkejut?” tanya Razak dengan sinis.
“A... Aku...,” Komandan Djamal terkejut bukan main, nafasnya tersenggal dan tidak dapat bicara dengan jelas.
“Pokoknya aku akan mengikuti persidangan! Kalau kau menghalangiku lagi, nasibmu akan sama seperti Raffi, dan Ahmad,” kata Razak. “Kenapa kau begitu menginginkanku tidak ikut persidangan? Ho, sepertinya aku tahu, uang pajak yang mereka ambil itu..., mengalir padamu juga kan?” lanjut Razak dengan tenang, tetapi mencoba menusuk.
“Bajingan! Kau itu hanya pion kecil di suatu permainan catur yang besar!” Komandan gusar sekali.
“Pion kecil? Sepertinya aku akan menjadi ratu karena mempunyai ini,” Razak mengeluarkan surat perintah dari sakunya, dan melambai-lambaikan kertas itu kepada Komandan.
Kemudian Razak tersenyum, dan meninggalkan ruangan Komandan Djamal. Komandan Djamal terduduk diam, ia pucat pasi. Amanat Menteri Hussein tidak ia jalankan dengan baik, ia tidak akan dapat mas hasil pajak lagi. Di Achen, orang-orang kaya punya pengaruh yang besar dalam dunia peradilan, dikarenakan orang-orang kaya-lah yang terkadang memimpin persidangan, baik dalam kasus perdata maupun pidana. Tetapi bila masalah sudah cukup besar, sampai seorang Menteri yang bersengketa, maka Sultan sendirilah yang akan menjadi hakim, untuk mencegah adanya nepotisme dalam peradilan. Di lain pihak, Menteri Hussein tidak ingin ambil pusing masalah perpajakan, ia hanya tidak ingin diganggu dalam menjalankan bisnis gelapnya. Tetapi bila masih ada yang mengganggu, terlebih telah melukai anak buahnya, ia tidak ragu untuk menuntut, karena reputasinya baik, hakim manapun akan mendukungnya, tidak terkecuali sang Sultan sendiri.
Beberapa hari kemudian, Menteri Hussein sedang bersantai di rumahnya, rumah besar di daerah elit Achen. Orang-orang kaya di Achen, seperti orang kaya pada umumnya, memiliki pelayan yang sangat banyak di rumahnya. Bahkan, mereka memiliki beras-beras yang ditimbun di gudang, bila suatu saat kelaparan melanda Achen. Menteri Hussein sedang terduduk di halaman rumahnya yang indah, dihiasi pepohonan, dan ada kolam kecil yang elok di bagian tengah halamannya. Saat tengah asyik menikmati bakong nya, pelayan kepercayaannya datang menghampiri.
“Tuan Hussein, maaf mengganggu. Ada tamu yang ingin bertemu,” kata pelayan dengan ramah.
“Siapa? Jangan sampai istri keduaku,” tanya Menteri Hussein.
“Bukan tuan, sepertinya dia polisi,” kata si pelayan.
“Pasti Djamal, suruh ia masuk!” kata Menteri Hussein. Beberapa saat kemudian, Komandan Djamal terlihat telah berjalan diantar pelayan menuju tempat duduk Menteri Hussein.
“Ada apa Djamal? Apa kau sudah berurusan dengan bawahanmu?” kata Menteri Hussein kepada Komandan Djamal yang baru saja duduk disebelahnya.
“Ia tidak mau meminta maaf kepadamu, ia bersikeras ingin mengikuti persidangan,” kata Komandan Djamal, eskpresinya terlihat ketakutan.
“Kalau begitu aku akan memprosesnya secepat mungkin, kau tahu, aku tidak mungkin kalah di persidangan,” kata Menteri Hussein dengan bangga.
“Tetapi, dia memiliki bukti yang memberatkanku,” kata Komandan Djamal dengan suara pelan, dan menunduk.
“Apa itu?” kata Menteri Hussein sambil memelototkan matanya.
“Surat yang kuberikan kepada anak buahku untuk mengancamnya, ternyata dia berhasil lolos, dan ia menunjukkan kepadaku, bahwa ia akan menunjukkan surat itu kepada hakim nanti di pengadilan,” kata Komandan Djamal, nadanya semakin memelas.
“Kau sungguh bodoh, tetapi bukti itu tidak memberatkanku, itu resiko yang kau tanggung karena telah bertindak bodoh,” kata Menteri Hussein ketus.
“Tolonglah aku Hussein, bukankah kita teman? Kita telah menghasilkan banyak uang karena pajak kepada pedagang,” kata Komandan Djamal, berharap Menteri Hussein terenyuh.
“Teman? Apakah kau tahu, aku hanya berteman denganmu karena aku berharap anggota-anggota tololmu menjaga bisnis kita berjalan baik. Tetapi nyatanya, anak buahmu mengganggu anak buahku,” kata Menteri Hussein gusar. “Pergi kau dari rumahku, sekarang aku akan berjuang sendiri.” Komandan Djamal lesu, ia tidak percaya apa yang telah ia dengar.
“Apa yang kau tunggu? Pergi!” hardik Menteri Hussein kepadanya. Kemudian Komandan Djamal berdiri, dan beranjak pergi. Menteri Hussein kemudian memanggil pelayannya.
“Ya tuan?” tanya pelayan dengan sopan.
“Kau pergi ke rumah Malik, berikan surat gugat ini untuk ditandatangani olehnya, pastikan segera ditandatangani, karena aku ingin persidangan berjalan sesegera mungkin!”
BAB 4 COMING TOMORROW
Diubah oleh jhonsonamama 24-01-2017 15:17
iinoux memberi reputasi
-1
Kutip
Balas