Sebuah Perjanjian
Siang itu gue membeli Nasi Padang untuk makan siang. Dan gue bungkus tentunya. Karena, porsi Nasi Padang kalo dibungkus pasti lebih banyak daripada makan di tempat. Gue pun masuk ke pantry. Duduk di meja kosong terakhir. Meja yang lain udah gak ada tempat. Satu meja di pantry kantor gue ini cuma cukup untuk empat orang soalnya. Gak lama kemudian Vina juga masuk dan duduk di sebelah gue.
“Makan kak cit”. Dia menyapa sambil membuka bekalnya yang terdiri dari 3 kotak ukuran kecil.
“Hooh”. Gue mengiyakan sambil mengigit ayam goreng yang gue beli.
“Vin itu kenyang? Bekal kamu dikit amat”. Gue mulai membuka pembicaraan.
“Kenyang doong”. Sahutnya ceria.
“Itu sayur apaan sih?”. Gue melirik ke arah kotak bekalnya dia
“Sayur asin bikinan mama aku”
“Sayur Asin? What?”
“Ituloh yang daunnya asin. Yang biasanya di cacah kecil – kecil gitu”
“Ealah. Bilang dong. Aku kan ga ngerti dunia persayuran. Hahaha. Aku juga gak terlalu suka sayur”
“Ih payah, sayur itu bagus untuk kesehatan loh kak cit. Cobain aja makan rutin”
“Hem gimana yaaa”. Gue mulai berpikir.
Kita berdua hening sesaat sambil melihat acara televisi di pantry. Yang ada di pantry pun kali ini cuma gue dan Vina. Orang – orang kantor yang lain udah balik ke tempatnya masing – masing.
“Vin”
“Hm?” sahutnya sambil tetap mengunyah makanan yang ada di mulut mungilnya.
“Kalo aku nyoba jadi vegetarian selama seminggu gimana?”
“Hah? Beneran?” Matanya berbinar ketika gue mengajukan diri untuk mencoba jadi vegetarian.
“Tapi, tadi bilangnya ga suka sayur huuu”. Vina mencibir ke arah gue.
“Yee justru ituu. Mungkin dengan jadi vegetarian. Aku bisa lebih suka sama sayur”. Sahut gue gak mau kalah
“Yakin nih kak cit?”
“Yakin. Mulai minggu depan ya”. Sahut gue mantap.
“Okeee deh”
“Tapi, kamu kasih tau makanan yang gak boleh dan yang boleh dimakan ya? Pokoknya samain aja deh apa yang boleh dan nggak kayak kamu gitu ”
“Siap pak ! Janji dulu dong”. Vina mengepalkan tangannya ke arah gue
“Siapa takut”. Gue pun ikut mengepalkan tangan.
Tangan kita beradu menandakan bahwa kita sama – sama setuju. Kalo bahasa kerennya, ini namanya Brofist.
Waktu berjalan dan udah saatnya gue menepati janji gue ke Vina untuk jadi vegetarian selama seminggu. Sehari sebelum gua memulai ini, gue menghubungi dia via chat.
“Vin. Start besok yaah”
“Iyak kak cit. Silahkan”
“Eh kerupuk kulit boleh dimakan?”
“Nggak boleee. Dari kulit sapi kan itu. Pokoknya yang olahan ga bole”
“Waduh, siomay, batagor, dan otak – otak berarti ga boleh?”
“Gak boleeee”
“Yah, aku ngemil apaan dong kalo di warnet?”
“Yaaa aku ga tauuu. Pokoknya yang begitu gak boleee”
“Terus ini. sarapan burjo aja kali yak besok? Burjo boleh kan?”
“BOLEEEEH. ITU ENAK TAUUU. AKU SUKA”. Balasnya dengan capslock rusak. Menandakan dia antusias menjawab pertanyaan gue.
“Hahaha yaudah okeee. Untuk sementara itu dulu pertanyaannya yaaa”
“Sipppp”.
Gue menaruh handphone gue, gue keluar kamar. Di ruang tengah ada nyokap yang lagi asyik bolak – balik majalah berisi resep masakan.
“Mam, mulai besok kalo masak ada sayurnyaa dong. Jangan lupa sama tahu tempenya juga”
Nyokap gue mengernyitkan dahi. Kemudian menempelkan tangannya di dahi gue.
“Kamu kesambet? Tiba – tiba minta di masakin sayur. Biasanya nggak suka”
Gue menepis tangan nyokap gue.
“Yeee anaknya mau hidup sehat juga. Masih aja diledekin”.
“Hahaha bercandaa naak. Okedeh. Lagian sebetulnya juga tiap hari mami masak sayur kok. Kamunya aja tuh yang ga pernah makan. Makan diluar mulu mentang – mentang sekarang udah cari duit sendiri”. Nyokap gue menjelaskan panjang lebar sambil tertawa
“Oh iya ya? Aku ga tau”. Gue tersipu malu dengan jawaban nyokap gue.
Gue pun kembali ke kamar untuk tidur. Besok gue harus masuk kerja setelah menghabiskan weekend. Dan tentunya. Membuka lembar baru sebagai seorang vegetarian.