- Beranda
- Stories from the Heart
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
...
TS
jhonsonamama
[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel
SELAMAT DATANG GAN DI THREAD ANE 
Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Disini ane cuma mau share cerita yg sedang ane garap, walaupun masih nyubi (sangat nyubi malah) cuma ane berusaha bikin novel pertama
. Mohon maklum kalau ada salah kata atau salah grammar dan salah sebagainya, ane mohon untuk di kritik yaa
Silahkan dinikmati gan
Quote:
Sinopsis
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
Abad ke-17. Dua orang pemuda yang tidak saling mengenal dan tinggal di berbeda negara, Razak seorang polisi di Aceh dan Pierre bajak laut Spanyol. Tujuan mereka berbeda namun bersinggungan; dan masing-masing ingin meraih tujuannya.
![[Fiction, History, Fantasy ] Razak The Great - A Novel](https://s.kaskus.id/images/2017/01/23/1111324_20170123125157.jpg)
Quote:
Karena satu bab terlalu banyak untuk muat dalam satu post di kaskus, maka dengan ini ane minta maaf bahwa setiap bab akan dibagi menjadi 2 part. Terima kasih
Quote:
INDEX
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
BAB I Part 1
BAB I Part 2
BAB II Part 1
BAB II Part 2
BAB III
BAB IV Part 1
BAB IV Part 2
BAB V Part 1
BAB V Part 2
BAB VI Part 1
BAB VI Part 2
BAB VII Part 1
BAB VII Part 2
BAB VIII Part 1
BAB VIII Part 2
BAB IX Part 1
BAB IX Part 2
BAB X NEW!
Spoiler for BAB 1 Part 1:
BAB I
ACHEN
ACHEN
Achen, tahun 1635.
Bunyi pedagang bersahutan, barang tumpah ruah, bisa dilihat pedagang menjual apa saja yang dapat mereka jual. Di Achen (Aceh), hanya ada dua tempat yang selalu hidup dan ramai, yaitu pasar, dan masjid. Kota Achen, kalau bisa dinamakan kota, bukan main luasnya. Achen memiliki keliling sepanjang 2 mil (berdasarkan mil orang-orang Jerman yang sering singgah kemari mencari rempah), kota ini memiliki hampir sekitar 7000 sampai 8000 rumah. Ada 2 lapangan kosong yang luas yang sering dijadikan pasar mendadak oleh penduduk Achen, bisa terlihat pedagang muslim, pedagang yang menyembah berhala, dengan segala macam dagangannya.
Di sudut lapangan, tepat dibelakang sebuah masjid besar, Razak sebagai polisi kota Achen sedang melihat-lihat keadaan sekitar, barangkali ada perkelahian di pasar antara pedagang dan penjual, hal ini lumrah terjadi, apalagi bila pedagang dan pembeli berbeda ras. Ia bertugas ditemani temannya, Raffi—seorang polisi bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal yang khas. Ia, dan polisi pada umumnya membawa keris (semacam pisau belati) yang diselipkan di sabuk kulitnya, walaupun keris milik Raffi sangat jarang digunakan, ia cukup bangga mempunyainya. Karena keris yang dimiliki polisi kota Achen, memiliki cap khusus kesultanan, sangat efektif menakut-nakuti penjahat kelas teri yang berbuat onar, walaupun tidak harus menariknya dari sabuk.
Sembari mengamati orang berlalu lalang, Raffi berkata “Hmm sepertinya tidak ada yang menarik disini, apakah kita pergi saja dan mengecek tempat lain?”. “Hmm, ya sebentar lagi saja” kata Razak. Sambil Razak memerhatikan suasana, ia seperti menangkap sesuatu yang janggal, dua orang asing menghampiri pedagang dan menagih sesuatu, mereka tak lain adalah penagih pajak pasar. “Lihat, petugas penagih pajak,” Razak berkata sambil menunjuk kearah petugas itu menagih pajaknya.
“Sudah dua kali dalam seminggu mereka menagih, bukankah itu dilarang?” lanjutnya sembari bertanya pada Raffi.
“Ya, tapi itu sudah biasa teman,” jawab Raffi dengan nada datar. Ia tidak terkejut karena dia sudah 5 bulan ditugaskan menjaga pasar.
“Kenapa kau tidak melarangnya? Menurut peraturan yang dibuat Sultan, hal tersebut dilarang,” Razak heran mendengar jawaban temannya.
“Aku tahu kau baru 2 hari bekerja disini, tapi aku tidak tahu kau begitu bodoh.”
“Jelaskan, karena aku baru 2 hari disini.”
“Begini ya anak hijau, disini para petugas pajak memang menagih 2 kali dalam seminggu, yang pertama mereka serahkan ke tempat yang seharusnya—yaitu ke kas kesultanan, dan yang kedua mereka menagih untuk kantongnya sendiri, dan menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada atasannya.”
“Atasannya, menteri perpajakan sendiri?”
“Yap,” jawab Raffi singkat, sambil melihat-lihat pasar dan melihat apakah ada wanita cantik disana.
“Darimana kau tahu hal ini?” tanya Razak yang masih keheranan karena baginya semua bagian kesultanan jujur.
“Karena, yang kau lihat disana, orang yang paling kanan, adalah temanku,” kata Raffi sambil menunjuk.
“Temanmu orang yang jujur ya,” sindir Razak.
“Jangan bodoh, atasannya sendiri yang menyuruhnya demikian, ia sendiri hanya menjalankan tugasnya,” kata Raffi, ia mulai kesal sehingga pandangannya menatap muka Razak.
“Kau teman baikku Raffi, bukankah kau tahu betul apa cita-citaku. Membuat kota Achen ini aman, dan bersih, tapi aku akan mencoba berbicara dengan temanmu sambil mencari bakong (tembakau),” Razak berjalan meninggalkan Raffi dan menuju kearah pasar.
“Terserah kau sajalah,” kata Raffi sambil tetap berada di posisinya sembari melihat-lihat.
Barang-barang yang diperjual belikan di Achen sangat beragam, karena Sultan melakukan kerjasama-kerjasama dalam bidang perdagangan dengan negeri-negeri jauh. Pedagang India yang paling banyak ditemui di kota ini, karena memang jarak dari Achen ke India tidak begitu jauh. Saking banyaknya pedagang India di Achen, terkadang pelabuhan penuh dengan kapal-kapal orang India. Pernah Razak melihat ada 16 sampai 18 kapal yang singgah di pelabuhan. Orang Benggali (salah satu suku di India) menjual barang-barang seperti kapas, kain, candu, dan guci besar berisi mentega yang terbuat dari susu kerbau, orang-orang Achen sangat menggemarinya bahkan harganya sangat lumayan sekali. Tetapi bila berbicara pedagang, orang Gujarat lah yang paling rajin, bahkan ketika ada wabah kelaparan melanda Gujarat di tahun 1630 yang menewaskan hampir sejuta orang, para pedagang Gujarat masih memiliki peran terbanyak di bidang perdagangan di Achen. Razak berjalan di pasar sambil melihat-lihat apakah ada yang menjual bakong disini, dan tentu saja niat aslinya adalah untuk berbicara kepada penagih pajak. Kebetulan Razak melihat para penagih pajak sedang berhenti di tenda pedagang bakong, Razak menghampirinya. Ia tak langsung mengajak ngobrol para penagih pajak, ia hendak membeli bakong terlebih dahulu.
“Permisi, harga satu bungkus bakong Turki berapa?” tanya Razak kepada pedagang yang sedang berbicara kepada penagih pajak, ia langsung melayani Razak dengan senang hati, dan penagih pajak terpaksa menunggu.
“Bakong Tukri sebungkusnya seharga 2 mas (mata uang emas),” kata pedagang tersebut sambil mengeluarkan sebungkus bakong Turki dari tasnya dan ia berikan kepada Razak.
“Baiklah, ini masnya,” Razak memberikan 2 mas dan mengambil sebungkus bakong tersebut.
“Terima kasih,” setelah pedagang menerima 2 mas dari tangan Razak. Setelah proses transaksi usai, penagih pajak berbicara kepada pedagang.
“Baiklah, berikan pajak tenda kepada kami sebesar 20 mas,” kata salah satu penagih pajak kepada pedagang.
“Sebentar, bukankah kalian sudah menagih pajak untuk minggu ini? Berarti kalian menagih dua kali seminggu, ini diluar aturan,” kata Razak menyela omongan penagih pajak.
“Ini perintah Menteri Pajak langsung, kau polisi patroli tidak usah ikut campur dalam masalah pajak!” penagih pajak menyolot dan geram.
“Ini melanggar peraturan, pak! Saya bisa adukan bapak kepada atasan saya, dan anda akan dituntut,” balas Razak dengan nada yang mengimbangi si penagih pajak.
“Laporkan saja! Tetapi sebelum melaporkan aku ingin menghajarmu dulu, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini,” kata penagih pajak. Satu penagih pajak yang dari tadi diam berusaha menenangkannya, “Sudahlah, biarkan saja polisi amatiran ini.” Tanpa berbicara tiba-tiba kepalan penagih pajak yang emosional sudah melayang, hendak meninju Razak. Razak yang sudah menyadarinya langsung menangkap tangan penagih pajak, ia memuntirkan tangannya kesamping dan mendorongnya hingga terjatuh. Sepertinya puntiran Razak terlalu keras sehingga ia bisa mendengar bunyi tulang yang patah. Penagih pajak tersungkur dan mengerang hebat. Para pedagang dan pembeli disekitar langsung memalingkan pandangannya dan melihat perkelahian tersebut.
“Dasar biadab, kau yang akan kulaporkan kepada atasanmu, supaya kau jera,” kata penagih pajak sambil mengerang kesakitan. Razak tidak bergeming, ekspresinya bahkan datar—seolah tidak terjadi apa-apa dan bicara “Aku tidak takut, yang aku tahu kau telah melanggar peraturan dan melanggar peraturanlah yang aku takuti.” Kemudian penagih pajak yang daritadi diam mencoba membantu yang satunya untuk berdiri, setelah berdiri ia menopang temannya dan langsung pergi, tatapannya mendelik dan kesal, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Para pedagang di sekitar Razak, dan tentunya pedagang bakong yang daritadi hanya diam, keheranan, dan tercengang.
“Kau sungguh berani pak! Saya yakin pedagang lainpun menganggapmu begitu, dan saya sangat berterima kasih,” ucap pedagang dengan nada yang girang, ia menatap Razak seolah-olah Razak adalah seorang Nabi.
“Terima kasih kembali, tetapi apakah mereka memang selalu begitu?” tanya Razak
“Ya, pak! Mereka selalu menagih pajak dua kali dalam seminggu! Kami para pedagang tidak bisa berkutik, karena mereka mengancam kita tidak boleh berdagang lagi kalau tidak menuruti mereka,” ia menghela nafas panjang, dan melanjutkan. “Kami para pedagang bukan merupakan orang-orang berpendidikan tinggi pak, kami tidak tahu menahu soal peraturan yang tadi bapak sebutkan, yang kami tahu hanya soal berdagang, dan meraup mas sebanyak-banyaknya.”
“Kau seharusnya melaporkan kepada kami pak.”
“Yah, bukannya polisi juga tahu, tetapi tidak berbuat apa-apa?” pedagang keheranan atas perkataan Razak. “Temanmu yang tadi disana juga mengetahuinya kan? Aku sering melihat dia disini tapi tidak berbuat apa-apa,” lanjut si pedagang. Razak langsung melihat kearah Raffi terakhir berdiri, tetapi Raffi sudah tidak ada disana.
“Terima kasih pak, saya harus kembali bertugas lagi,” kata Razak kepada pedagang.
“Saya yang harusnya berterima kasih pak.”
“Oh ya, jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku tidak setua itu kok” kata Razak bergurau, ia tersenyum dan meninggalkan pedagang tersebut.
Razak memang belum tua, umurnya masih 22 tahun—tetapi karena badannya yang tinggi dan besar, ia seperti 10 tahun lebih tua. Rambutnya ditutupi serban yang dililit dikepalanya, hampir setiap warga Achen berpenampilan sama. Bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dan dagunya runcing. Bila serban yang dipakainya dilepas, rambutnya pendek namun ikal. Ia berjalan menuju tempat dia dan Raffi sebelumnya bertugas, namun batang hidung Raffi tidak terlihat. Matahari sudah mau terbenam, langit yang kemerahan adalah tanda bahwa tugas Razak telah usai. Ia harus kembali ke pos polisi patroli yang berjarak 10 menit berjalan dari pasar tempat ia berada untuk melapor dan mengembalikan keris kepolisian. Razak jalan dengan cepat—ia tidak sabar ingin mencicipi bakong Turki yang baru ia beli. Membayangkan membakar bakong, ditemani cah (teh) hangat, membuat Razak tidak sabar untuk kembali kerumahnya setelah kejadian yang tidak begitu menyenangkan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia sampai di pos patroli. Pos ini berada di sebelah masjid Al-Hikmah, masjid yang tidak begitu besar, namun selalu penuh saat waktu shalat tiba. Pos polisi patroli besarnya hanya sekitar 100 meter persegi, dipagari oleh pagar batu berwarna putih yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga mengelilingi bangunan pos. Pintu pagarnya terbuat dari kayu yang diserut halus, walaupun terbilang pendek, hanya 1,5 meter—begitu pula dengan tinggi pagarnya. Rumput-rumput liar sudah mulai tinggi disekitar bangunan pos, terkadang ditemukan ular di halamannya. Bangunannya sendiri berbentuk pergsegi, dan terdapat dua pintu, didepan, dan dibelakang. Pintu terbuat dari kayu, diatas pintu terdapat lambang polisi kesultanan, yaitu rajawali putih—dan bertuliskan “POS POLISI PATROLI KESULTANAN KOTA ACHEN” terpampang besar. Razak membuka pintu pagar, bunyi nyaringnya yang khas terdengar sampai ke dalam bangunan. Pos terlihat sepi, sepertinya polisi yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Razak membuka pintu, hanya terlihat Ahmad petugas malam yang sedang duduk didekat pintu masuk.
“Yang lain sudah pulang?” tanya Razak ke Ahmad sambil mengerluarkan keris untuk dikembalikan kepada Ahmad.
“Ya sudah pulang, hanya tersisa kami para petugas malam,” kata Ahmad.
“Kalau begitu, ini kerisnya, dan hari ini tidak ada yang menarik untuk dilaporkan, semua terlihat seperti seharusnya,” kata Razak.
“Ya sudah, kau boleh pulang,” kata Ahmad sembari mengambil keris yang diberikan oleh Razak, dan menaruhnya di ruang senjata—tak jauh dari pintu masuk.
Razak langsung keluar pos, dan hendak pulang. Diluar matahari telah terbenam, bulan sudah menggantikannya. Cuaca sudah mulai dingin,
sepertinya sekarang sudah memasuki musim hujan. Rumah Razak tidak terlalu jauh, ia menyewa rumah di perumahan pedagang dari sebuah keluarga kaya. Walaupun rumahnya tidak besar, Razak tidak peduli, ia hanya menganggap rumah sebagai tempat untuk tidur. Bagi keluarganya, yang umumnya berprofesi sebagai penebang kayu, Razak merupakan kebanggaan keluarganya. Orang tuanya sudah lama meninggal, saudaranya yang berjumlah 4 orang merupakan penebang kayu, hanya Razak-lah yang ambisius, dan menganggap penebang kayu sebagai perusak bumi—setidaknya itulah yang ia anggap. Karenanya, hubungan Razak dengan keempat saudaranya kurang baik. Tetapi saudara-saudaranya yang tinggal di bukit disebelah utara kota Achen, selalu bercerita dan membanggakan Razak kepada teman-temannya—walaupun mereka benci karena Razak tidak meneruskan mata pencaharian keluarganya. Pendapatan Razak sebagai polisi patroli cuku banyak, setiap minggu ia mendapat 60 mas, cukup untuk menyewa rumahnya yang disewakan seharga 150 mas per-bulan. Setelah kira-kira 10 menit berjalan, sampailah Razak dirumahnya—sebuah rumah sederhana beratapkan jerami, dan berdinding batu. Luas rumahnya hanya 40 meter persegi, untuk sementara ini sangat cukup bagi Razak yang masih melajang. Ia membuka pintu rumah, mengambil lilin di lemari dan membakarnya untuk ditaruh di meja ruang tengahnya. Ia duduk, dan bersandar—lalu teringat akan bakong yang sudah dibelinya. Setelah dilinting menggunakan kertas tipis (kertas khusus yang dibuat dari kayu yang dihaluskan) ia membakarnya. Sambil menikmati rokok, ia bersandar dan melamun—entah berapa lama ia merokok, dan melamun sampai ia terkantuk sambil mengangguk-ngangguk, dan dengan tidak sadar menjatuhkan bakong ke lantai.
“Dak-dak, dak-dak, dak-dak” Razak terbangun, ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Ternyata cahaya matahari telah mengintip di jendela rumahnya, dan Razak mendengar ketukan di pintu. Sambil berdiri, dan melemaskan otot-ototnya ia berkata, “Sebentar!” kepada siapapun pengetuk di pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, dan ternyata Raffi.
“Kau baru bangun? Komandan Djamal meminta kau bertemu dengannya di pos,” kata Raffi yang terlihat sudah rapi dan mengenakan pakaian tugasnya.
“Ya, tapi mengapa sepagi ini? Bukankah kita bertugas jam 11?” tanya Razak sambil mengucek matanya, karena masih ada kotoran di matanya.
“Memang benar, tetapi Komandan Djamal memanggilmu bukan mengenai tugas, entahlah, katanya penting”
“Aku tidak begitu suka dengannya,” kata Razak sambil menghela nafas,sambil mengingat-ingat sikap tempramen Komandan Djamal.
“Aku juga, tapi bergegaslah atau kau akan kena semprotnya,” kata Raffi.
“Ya, aku akan kesana sebentar lagi,” kata Razak sambil mengangguk.
Raffi pamit, dan pergi. Razak dengan cepat masuk, dan mencuci mukanya; ia rasa tidak ada waktu untuk mandi. Setelah dirasa siap, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung berlari menuju pos. Sesampainya di pos, ia membuka pintu. Suasana disana sudah ramai tidak seperti kemarin malam; semua petugas menoleh Razak dengan tatapan yang aneh, seperti Razak akan dicambuk rotan. “Razak! Komandan Djamal sudah menunggumu di ruangannya!” kata Yaqub petugas yang kebetulan berjalan melewatinya. Razak mengangguk, dan langsung menuju ruangan Komandan Djamal. “Dak-dak” Razak mengetuk pintu ruangan Kolonel Djamal yang tertutup kemudian langsung masuk—ia melihat Kolonel Djamal sedang duduk di belakang meja kerjanya, langsung menghadap pintu. Kedua tangannya bergenggaman diatas meja dan menopang dagunya yang bulat.
JANGAN LUPA

Quote:
NOTE
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Sejarah di dalam novel ini nggak sembarang ane caplok dari google, referensi sejarah Aceh abad ke-17 ane ambil dari sumber yang valid yaitu dari buku Denys Lombard (Kerajaan Aceh).
Diubah oleh jhonsonamama 07-02-2017 17:38
anasabila memberi reputasi
1
5.8K
Kutip
52
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jhonsonamama
#7
UPDATE BAB 2 PART 1
Malaga, tahun 1635.
“Pierre!” sahut pria bertubuh gemuk yang memiliki rambut coklat terang.
“Ada apa... apa kau tidak melihat aku sedang bersenang-senang disini?” jawab Pierre, pria bertubuh kekar, berambut pirang terang, dan memiliki mata biru yang menyala.
“Tidak, selain kau hanya meminum anggur murahan yang menjijikan,” jawab temannya, Rogue, yang tentu bukan namanya yang asli.
“Jangan bilang kapten menyuruh kita untuk bepergian menyebrangi laut yang semakin kesini semakin memuakkan,” Pierre berkata dengan nada yang lemas, efek anggur murahan.
“Lebih baik daripada hanya minum-minum di pub yang kumuh, dan dipadati dengan orang-orang berkeringat,” balas Rogue.
“Tidak, tidak begitu temanku, setidaknya disini, aku bisa melihat si cantik Nashandra, hihihi,” Pierre cekikian, semakin mabuk dari sebelumnya.
“Nashandraaa, kemari kau, kau berhutang satu dansa dihadapanku,” Pierre menarik tangan pramusaji pub yang terkenal akan kecantikannya, dia memiliki rambut panjang pirang, hidungnya yang mancung, dan mata biru yang indah. Nashandra tentu tidak menyukainya, ia kemudian mendorong Pierre dengan pelan, tetapi karena kondisi Pierre yang sudah mabuk berat, ia terhuyung jatuh ke lantai—tak sadarkan diri.
Pierre , pria kelahiran Belanda yang tidak jelas asal usulnya—mungkin hanya anak dari tukang pembuat roti tak dikenal yang menikahi wanita yang entah istri keberapa, dan menelantarkan anaknya begitu saja. Ia kemudian dibawa pamannya ke Spanyol, yang tidak tahan akan bapak dan ibu Pierre yang acuh terhadap anak lelakinya. Pamannya bekerja sebagai kurir alkohol dari pub, untuk dibawa kepada kapal-kapal yang akan berlayar di Puerto de Malaga (pelabuhan Malaga). Karena Pierre sering ikut dengan pamannya mengantarkan alkohol, ia cukup dikenali di pelabuhan, dan sering bermain bersama penjelajah-penjelajah yang akan berlayar. Tubuhnya kekar, dan berotot semata-mata karena pekerjaannya yang menuntut badan yang kekar untuk mengangkut box-box berisi alkohol yang berat. Sifatnya serampangan, pecandu alkohol, dan perokok berat. Tetapi ia rajin dan gesit melakukan pekerjannya, maka dari itulah banyak para bajak laut, atau penjelajah di pelabuhan yang menyukainya. Ia sering diajak oleh beberapa bajak laut untuk ikut serta mengarungi lautan, dan diajarkan cara-cara mengisi mesiu untuk meriam, atau kadang hanya sekedar tukang bersih-bersih di kapal selama perjalanan. Bajak laut di Puerto de Malaga, Spanyol, tidak sebringas dan sekejam yang biasa digambarkan orang-orang, walau nama mereka bajak laut, terkadang mereka hanya sekedar “jalan-jalan” mengarungi samudera dan mencari-cari harta karun di pulau-pulau baru yang tak berpenghuni. Mereka jarang menjarah, dan merampok kapal-kapal di perairan, terutama kapal Inggris yang terkenal tangguh di perairan. Pernah suatu waktu, saat Pierre ikut dengan bajak laut setengah tengkorak yang dipimpin Captain Mariano, kapal yang ditumpanginya tidak sengaja masuk ke wilayah perairan Angkatan Laut Inggris. Berbagai macam meriam telah terarah kepada kapal Captain Mariano, namun alih-alih membalas mereka dengan meriam juga, justru Captain Mariano menyerah dengan mengangkat tangannya, dan membayar sejumlah uang kepada Angkatan Laut Inggris sebagai permintaan maafnya. Begitulah kondisi bajak laut di Puerto de Malaga ini, mereka jarang terlibat perkelahian hebat, justru mereka cenderung mengarungi laut dengan damai, dan sebagai olah raga saja untuk memuaskan hasrat mereka yang umumnya ingin berpetualang.
Sesaat setelah Pierre bangun dari mabuknya, ia merasa sangat pusing dan linglung—memang biasanya seperti ini efek peminum alkohol sampai tak sadarkan diri.Ia melihat pemandangan yang tak asing—yang tak lain adalah Puerto de Malaga disaat malam hari. Udara sangat dingin dan kencang, karena memang berasal dari angin laut yang sekarang sepertinya lagi kencang-kencangnya. Pierre mendapati dirinya sendiri sedang duduk bersandar ke sebuah dinding bangunan rumah nelayan setempat. Ia celingak-celinguk mencari tahu bagaimana ia bisa disini, sesaat kemudian datang orang bergerombol kearahnya, Pierre mengenali satu orang dari gerombolan tersebut, yang tak lain merupakan sahabatnya, Rogue.
“Tidurmu nyenyak,eh Pierre?” ejek Rogue.
“Persetan denganmu Rogue, kau pasti yang membawaku kesini.”
“Ya, sebenarnya aku ingin mengajakmu baik-baik tadi di pub, tetapi kau terlalu sadar untuk diajak bicara.”
“Nashandra melihatku seperti ini? Oh tidak, dia pasti sangat jijik kepadaku sekarang,” gumam Pierre.
“Tidak, tidak usah khawatir. Ia telah jijik padamu sejak pertama kali melihatmu dulu,” ejek Rogue dilanjut dengan tawanya.
“Sudahlah, aku benci bila kau telah mengejekku,” Pierre membersihkan celana kain coklatnya yang kotor dengan menepuk-tepuknya, walaupun ia tahu akan sia-sia karena celananya juga basah terkena anggur, dan kemudian Pierre berdiri dan berkata “Jadi, mengapa kau bawaku kesini pada larut malam?”
“Jadi begini, tadi siang saat aku sedang membersihkan kapal Captain Mariano, tiba-tiba prajurit angkatan laut raja berbondong-bondong datang ke Puerto de Malaga dan menghampiri Captain Mariano yang kebetulan ada disampingku. Kemudian salah satu pimpinannya mengatakan ia membutuhkan orang untuk ikut bersama angkatan laut menuju Achen untuk membawa rempah-rempah. Captain Mariano mengatakan kepada pimpinan itu, bahwa ia bisa mengajak aku, dan kau Pierre.”
“Kenapa kita? Seenaknya sekali kapten.”
“Karena kita masih muda, dan bujangan.”
“HAH! Kalau begitu aku menikah besok dengan Nashandra.”
“Coba saja, bila kau masih ada muka untuk menghadapnya,” Rogue kembali mengejek Pierre.
“Yah, kalau memang begitu kata kapten, kita tidak bisa menolaknya kan?”
“Bisa, bila kau ingin kembali mengantar alkohol ke kapal; dan terutama bila kau mempunyai dua nyawa untuk menghadap kapten.”
“Tentu saja aku tidak mau menjadi kurir sialan lagi.”
“Maka dari itulah, temanku, aku mengajakmu berlayar ke benua baru yang jauh.”
“Rempah sialan, aku masih tidak mengerti mengapa rempah berharga sangat mahal.”
“Percuma aku jelaskan padamu Pierre, otakmu tidak akan sampai.”
“Ya sudahlah, aku terima tawaran angkatan laut sialan itu.”
“Baiklah kalau begitu, kita disuruh berkumpul disini pagi-pagi kata kapten.”
“Baiklah, kalau begitu aku ingin istirahat sekarang, dan mengganti pakaianku yang bau anggur ini,” kata Pierre.
“Hati-hati, aku tidak ingin mengangkutmu lagi,” jawab Rogue.
Mereka berpisah, Pierre berjalan ke arah kota untuk pulang kerumahnya, sedangkan Rogue ke arah yang berlawanan. Jalanan di kota Malaga terlihat sepi, karena sudah lewat tengah malam. Bila siang hari, kota ini akan sangat ramai, bukan hanya orang-orang Spanyol yang meramaikan kota ini. Berbagai agama dan ras menghiasi Malaga, karena Puerto De Malaga adalah pelabuhan yang tersohor, dan cukup mudah untuk dijangkau. Mesjid dan gereja sama banyaknya disini, karena dulu Muslim pernah menguasai kota ini—walaupun dulu mereka dihabisi, tetap saja banyak keturunan-keturunan muslim yang masih bertahan. Sambil berjalan, ia mengeluarkan rokok dari dalam kantung celananya dan membakarnya, ia tidak tahan dengan udara dingin ini. Beberapa menit kemudian, ia sampai di rumahnya; sebuah bangunan bertingkat satu yang sederhana, malah tampak tak terurus. Tembok dirumahnya kotor, dan mengelupas—tetapi Pierre merupakan orang yang acuh, dan tidak mau ambil pusing toh ia hanya sedikit menghabiskan waktu dirumah.
Setelah ia membuka pintu rumahnya, ia melepas jaket tebalnya dan menarohnya di kursi dengan asal, ia tidak peduli lagi dengan kondisi rumahnya, yang ia inginkan sekarang hanya istirahat karena kepalanya masih sedikit pusing. Sepatu kulit murahnya ia lempar menggunakan kaki ke pojok ruangan, kemudian melepas baju dan celananya yang sudah bau tak karuan. Dengan terhuyung Pierre menuju ke kasurnya—seolah kasur sudah memanggil-manggil namanya. Ia menjatuhkan tubuhnya yang lemas ke kasur, dan dalam hitungan detik ia sudah terlelap. Di lain tempat, Rogue masih terjaga—dan berlatih fisik di rumahnya. Rogue, pria bertubuh gemuk, namun berotot—merupakan mantan pegulat yang suka bertanding di bar-bar kota. Ia dipanggil Rogue, karena walau tubuhnya yang gempal, gerakannya cukup gesit sebagai pegulat. Hantamannya yang cepat dan keras, dan mampu mengindar dari pukulan-pukulan musuhnya, membuat Rogue merupakan salah satu pegulat yang disegani di Malaga. Bila engkau masuk ke bar-bar di kota dan menanyakan tentang Rogue, semua orang pasti tahu namanya. Tetapi pada suatu waktu, ia kalah dengan pebajak laut handal yang kurus, yang baru Rogue lihat bergulat. Sebelum bertanding dengannya, pria kurus itu berbicara pada Rogue, kalau ia kalah ia harus ikut bekerja dengannya, tetapi bila Rogue menang, ia boleh meminta apa saja darinya; kapal, dan emas menjadi taruhan pebajak laut tersebut. Rogue segera menyetujuinya karena ia pikir ia dapat dengan mudah menaklukkannya, postur bajak laut itu tinggi dan kurus, hanya sedikit otot yang dapat dilihat di lengan, dan dadanya; ia tak lain merupakan Captain Mariano yang sedang mencari anak buah untuk perjalanannya.
Pertarungan pun dimulai, Rogue bermain aman dengan mencari celah counter attack, Captain Mariano menyadarinya. Ia menjatuhkan jab ringan yang mengarah ke kepala Rogue, saat Rogue menghindar, ia tidak menyangka lutut Captain Mariano sudah melayang mengarah ke perut sebelah kirinya. Rogue terkena tendangan lutut cukup keras, dan ia berhenti sejenak karena kesakitan. Saat itulah Captain Mariano memutarkan badannya, menekuk sikunya dan menghantam kepala Rogue dengan keras. Rogue tumbang—dan begitulah akhirnya ia menjadi anak buah Captain Mariano. Sudah dua tahun sejak Rogue bergabung menjadi anak buah Captain Mariano, dan ia memang dapat diandalkan, karena fisik, dan staminanya sangat kuat. Dari sanalah, ia mengenal Pierre, pria urakan, pecandu alkohol, tetapi Pierre sangat setia kawan dan menjadi teman yang enak diajak bercanda. Bisa dibilang dua orang ini merupakan orang kepercayaan Captain Mariano, karena setiap ia melakukan perjalanan, mereka berdua selalu ikut serta.
Bila berbicara soal Pierre, nampaknya ia memiliki berbagai kekurangan, tetapi Pierre juga mempunyai kelebihan, tentunya. Ia setia kawan,
loyal, walaupun senang sekali mengeluh. Keberuntungan, mungkin merupakan salah satu dari sifat Pierre, pernah suatu waktu saat ia sedang berpetualang bersama Captain Mariano, dan Rogue—ombak begitu besar menerpa Alice (nama kapal Captain Mariano), Pierre yang sedang meminum anggur di pinggir kapal, terhempas keluar kapal dan tercebur ke laut yang sedang penuh ombak. Rogue melihatnya dan memberitahu Captain Mariano, seluruh awak kapal disuruh untuk mencarinya, sampai ada yang terjun pula ke laut. Pierre tidak dapat ditemukan, mungkin telah terseret ombak dengan jauh. Setelah semalaman mencari, akhirnya Captain Mariano menarik kesimpulan Pierre telah tewas—karena sepertinya tidak akan ada manusia yang selamat dari badai pada malam hari di laut, dan melawan ombak yang sedang marah. Tetapi dua hari kemudian, ada kapal nelayan yang mendekati Alice—dan terlihat Pierre disana dengan tampang yang seolah tidak ada yang menimpanya. Ia masih memegang botol anggur yang ia minum saat hari ia menghilang. Pierre kemudian berkata, bahwa ia terseret ombak dan tak sadarkan diri hingga pagi, dan untungnya ada nelayan yang melihatnya terapung—dan membawanya kembali ke Alice, untung Alice belum terlalu jauh dari tempat terakhir Pierre tenggelam, yaitu dekat pelabuhan Catalunya.
Saat fajar menyingsing menembus jendela bulat berukuran kecil di rumah Pierre, ia sudah bangun dari tidurnya, dan sedang menenggak sebuah kopi. Pierre bangun lebih cepat daripada hari-hari biasa karena teringat ia dan Rogue disuruh menghadap Captain Mariano. Setelah selesai menenggak kopi, ia melihat ke kanan dan kiri seolah mencari sesuatu. Kemudian ia teringat rokoknya tertinggal di dalam jaketnya kemarin, ia berdiri mengambilnya dan langsung membakarnya sambil bersantai di kursi. Sambil menghisap dan membuang asap rokok, pikiran Pierre melayang tak tentu, ia berpikir apa yang akan Captain Mariano katakan saat bertemunya nanti, apakah Achen tempat yang berbahaya atau tidak, dan lain-lain. Pierre rasa ia telah cukup bersantai-santai, kemudian ia siap-siap dan keluar dari rumahnya menuju pelabuhan.
Ia menikmati udara pagi di kota Malaga, sambil berjalan, ia mengamati suasana pasar yang ramai akan pedagang. Bangunan-bangunan tua nan eksotik, keberagaman ras disini, membuat Pierre bersyukur ia dibawa Pamannya dulu ke Malaga. Nasib pamannya, Rousseau, tidak begitu baik di Malaga. Setelah bekerja menjadi kurir alkohol cukup lama, hampir sekitar 6 tahun, ia terlilit utang kepada pejabat lokal Malaga. Utangnya didapat hasil dari hobinya, yaitu berjudi di salah satu pub di Malaga bernama “Red Brooch”. Rousseau diberi waktu satu bulan untuk membayar utangnya, namun apa daya, penghasilan sebagai kurir sangat tidak memungkinkan untuk membayar utang yang cukup besar, yaitu 200 keping emas. Berbagai cara ia tempuh untuk membayar utangnya, sampai suatu ketika ia nekat mencuri salah satu cadangan makanan di kapal bajak laut. Ternyata, keberuntungan tidak di pihaknya, Rousseau tertangkap basah, dan akhir ceritanya sudah dapat ditebak. Pierre yang tahu akan hal ini, memakluminya mengapa nasib pamannya seperti ini. Dalam hatinya, ia menyayangkan mengapa pamannya malah menghabis-habiskan uangnya untuk berjudi. Tetapi, peristiwa ini telah lama terjadi dan Pierre bersyukur untuk menjadikan kisah pamannya sebagai pelajaran.
Tak terasa ia sudah berjalan cukup jauh, dan sudah memasuki areal Puerto de Malaga. Pierre melihat Captain Mariano, Rogue, dan satu orang asing yang tidak ia kenali, sedang duduk bersama di kedai roti tak jauh dari posisinya. Penampilan orang asing itu cukup biasa, dengan jubah memanjang ke bawah, tetapi rambutnya cepak seperti angkatan laut. Kemudian Pierre melangkah mendekatinya—Rogue melihat Pierre berjalan menghampirinya dan menyuruhnya untuk kesini. “Nah, datang juga kau nak,” sambut Captain Mariano. “Biar ku perkenalkan anggota angkatan laut Spanyol, dibawah pimpinan Raja Phillip IV, Stefan,” Kemudian Stefan tersenyum dan menunduk sedikit kepada Pierre, dan berkata “Senang bertemu denganmu,”. “Dan ini Pierre, anak buahku yang setia,” lanjut Captain Mariano. Pierre membalas senyumannya dan membalasnya “Suatu kehormatan bertemu denganmu, Sir Stefan”. “Tidak usah begitu kaku, Stefan saja,” jawabnya. “Pesan makan saja Nak, aku yang traktir hari ini,” kata Captain Mariano. “Dengan senang hati,” kata Pierre. Ia kemudian memesan roti lapis yang diisi dengan bacon, makanan yang tak biasa ia makan, tentu saja karena harganya yang lumayan mahal. Setelah memesan ia duduk, dan berkata “Jadi, kapan rencana ekspedisi Raja Phillip untuk ke Achen?”. “Bulan depan kita akan berlayar, selama menunggu, kau dan Rogue akan dilatih teknik-teknik dasar berlayar dari angkatan laut langsung,” kata Stefan. “Wow, itu akan menarik, ya kan Rogue?” tanya Pierre. “Yup, menarik dan melelahkan pastinya”. “Tentu saja, jika kau ingin melaut dengan baik,” kata Stefan. “Jadi besok, kau dan Rogue pada saat fajar menyingsing, diharapkan telah hadir di tempat ini dan melakukan pelatihan bersama para angkatan laut yang lain, bagaimana?” lanjutnya. “Hmm aku setuju, walaupun sepertinya ayam belum berkokok” kata Pierre. “Jika si pemalas itu setuju, tentunya aku juga,” kata Rogue. “Oke kalau begitu, terima kasih gentleman aku bertemu kalian lagi besok, sampai jumpa,” kata Stefan, kemudian ia berdiri dari tempatnya diikuti Captain Mariano untuk membahas sesuatu.
Pesanan Pierre telah matang, pedangan itu mengantarkan makanan kepadanya. Pierre kelaparan, ia langsung melahapnya.
“Jadi beginilah kita, dua orang yang sama sekali bukan pelaut, dan bukan juga penjelajah, malah akan berlayar ke negeri nun jauh ya,” kata Rogue.
“Kau tahu, ada banyak jalan menuju Roma, seperti kita—ada banyak jalan menuju kejayaan, walaupun kau hanya dari pegulat amatiran,” kata Pierre sambil mengunyah makanannya.
“Dan kau seorang bastard,” kata Rogue dilanjut dengan tawanya.
“Berarti aku tidak akan melihat Nashandra dalam waktu yang lama ya.”
“Temuilah dia, anggap saja perpisahan.”
Spoiler for BAB II Part 1:
BAB II
LUCKY PIERRE
LUCKY PIERRE
Malaga, tahun 1635.
“Pierre!” sahut pria bertubuh gemuk yang memiliki rambut coklat terang.
“Ada apa... apa kau tidak melihat aku sedang bersenang-senang disini?” jawab Pierre, pria bertubuh kekar, berambut pirang terang, dan memiliki mata biru yang menyala.
“Tidak, selain kau hanya meminum anggur murahan yang menjijikan,” jawab temannya, Rogue, yang tentu bukan namanya yang asli.
“Jangan bilang kapten menyuruh kita untuk bepergian menyebrangi laut yang semakin kesini semakin memuakkan,” Pierre berkata dengan nada yang lemas, efek anggur murahan.
“Lebih baik daripada hanya minum-minum di pub yang kumuh, dan dipadati dengan orang-orang berkeringat,” balas Rogue.
“Tidak, tidak begitu temanku, setidaknya disini, aku bisa melihat si cantik Nashandra, hihihi,” Pierre cekikian, semakin mabuk dari sebelumnya.
“Nashandraaa, kemari kau, kau berhutang satu dansa dihadapanku,” Pierre menarik tangan pramusaji pub yang terkenal akan kecantikannya, dia memiliki rambut panjang pirang, hidungnya yang mancung, dan mata biru yang indah. Nashandra tentu tidak menyukainya, ia kemudian mendorong Pierre dengan pelan, tetapi karena kondisi Pierre yang sudah mabuk berat, ia terhuyung jatuh ke lantai—tak sadarkan diri.
Pierre , pria kelahiran Belanda yang tidak jelas asal usulnya—mungkin hanya anak dari tukang pembuat roti tak dikenal yang menikahi wanita yang entah istri keberapa, dan menelantarkan anaknya begitu saja. Ia kemudian dibawa pamannya ke Spanyol, yang tidak tahan akan bapak dan ibu Pierre yang acuh terhadap anak lelakinya. Pamannya bekerja sebagai kurir alkohol dari pub, untuk dibawa kepada kapal-kapal yang akan berlayar di Puerto de Malaga (pelabuhan Malaga). Karena Pierre sering ikut dengan pamannya mengantarkan alkohol, ia cukup dikenali di pelabuhan, dan sering bermain bersama penjelajah-penjelajah yang akan berlayar. Tubuhnya kekar, dan berotot semata-mata karena pekerjaannya yang menuntut badan yang kekar untuk mengangkut box-box berisi alkohol yang berat. Sifatnya serampangan, pecandu alkohol, dan perokok berat. Tetapi ia rajin dan gesit melakukan pekerjannya, maka dari itulah banyak para bajak laut, atau penjelajah di pelabuhan yang menyukainya. Ia sering diajak oleh beberapa bajak laut untuk ikut serta mengarungi lautan, dan diajarkan cara-cara mengisi mesiu untuk meriam, atau kadang hanya sekedar tukang bersih-bersih di kapal selama perjalanan. Bajak laut di Puerto de Malaga, Spanyol, tidak sebringas dan sekejam yang biasa digambarkan orang-orang, walau nama mereka bajak laut, terkadang mereka hanya sekedar “jalan-jalan” mengarungi samudera dan mencari-cari harta karun di pulau-pulau baru yang tak berpenghuni. Mereka jarang menjarah, dan merampok kapal-kapal di perairan, terutama kapal Inggris yang terkenal tangguh di perairan. Pernah suatu waktu, saat Pierre ikut dengan bajak laut setengah tengkorak yang dipimpin Captain Mariano, kapal yang ditumpanginya tidak sengaja masuk ke wilayah perairan Angkatan Laut Inggris. Berbagai macam meriam telah terarah kepada kapal Captain Mariano, namun alih-alih membalas mereka dengan meriam juga, justru Captain Mariano menyerah dengan mengangkat tangannya, dan membayar sejumlah uang kepada Angkatan Laut Inggris sebagai permintaan maafnya. Begitulah kondisi bajak laut di Puerto de Malaga ini, mereka jarang terlibat perkelahian hebat, justru mereka cenderung mengarungi laut dengan damai, dan sebagai olah raga saja untuk memuaskan hasrat mereka yang umumnya ingin berpetualang.
Sesaat setelah Pierre bangun dari mabuknya, ia merasa sangat pusing dan linglung—memang biasanya seperti ini efek peminum alkohol sampai tak sadarkan diri.Ia melihat pemandangan yang tak asing—yang tak lain adalah Puerto de Malaga disaat malam hari. Udara sangat dingin dan kencang, karena memang berasal dari angin laut yang sekarang sepertinya lagi kencang-kencangnya. Pierre mendapati dirinya sendiri sedang duduk bersandar ke sebuah dinding bangunan rumah nelayan setempat. Ia celingak-celinguk mencari tahu bagaimana ia bisa disini, sesaat kemudian datang orang bergerombol kearahnya, Pierre mengenali satu orang dari gerombolan tersebut, yang tak lain merupakan sahabatnya, Rogue.
“Tidurmu nyenyak,eh Pierre?” ejek Rogue.
“Persetan denganmu Rogue, kau pasti yang membawaku kesini.”
“Ya, sebenarnya aku ingin mengajakmu baik-baik tadi di pub, tetapi kau terlalu sadar untuk diajak bicara.”
“Nashandra melihatku seperti ini? Oh tidak, dia pasti sangat jijik kepadaku sekarang,” gumam Pierre.
“Tidak, tidak usah khawatir. Ia telah jijik padamu sejak pertama kali melihatmu dulu,” ejek Rogue dilanjut dengan tawanya.
“Sudahlah, aku benci bila kau telah mengejekku,” Pierre membersihkan celana kain coklatnya yang kotor dengan menepuk-tepuknya, walaupun ia tahu akan sia-sia karena celananya juga basah terkena anggur, dan kemudian Pierre berdiri dan berkata “Jadi, mengapa kau bawaku kesini pada larut malam?”
“Jadi begini, tadi siang saat aku sedang membersihkan kapal Captain Mariano, tiba-tiba prajurit angkatan laut raja berbondong-bondong datang ke Puerto de Malaga dan menghampiri Captain Mariano yang kebetulan ada disampingku. Kemudian salah satu pimpinannya mengatakan ia membutuhkan orang untuk ikut bersama angkatan laut menuju Achen untuk membawa rempah-rempah. Captain Mariano mengatakan kepada pimpinan itu, bahwa ia bisa mengajak aku, dan kau Pierre.”
“Kenapa kita? Seenaknya sekali kapten.”
“Karena kita masih muda, dan bujangan.”
“HAH! Kalau begitu aku menikah besok dengan Nashandra.”
“Coba saja, bila kau masih ada muka untuk menghadapnya,” Rogue kembali mengejek Pierre.
“Yah, kalau memang begitu kata kapten, kita tidak bisa menolaknya kan?”
“Bisa, bila kau ingin kembali mengantar alkohol ke kapal; dan terutama bila kau mempunyai dua nyawa untuk menghadap kapten.”
“Tentu saja aku tidak mau menjadi kurir sialan lagi.”
“Maka dari itulah, temanku, aku mengajakmu berlayar ke benua baru yang jauh.”
“Rempah sialan, aku masih tidak mengerti mengapa rempah berharga sangat mahal.”
“Percuma aku jelaskan padamu Pierre, otakmu tidak akan sampai.”
“Ya sudahlah, aku terima tawaran angkatan laut sialan itu.”
“Baiklah kalau begitu, kita disuruh berkumpul disini pagi-pagi kata kapten.”
“Baiklah, kalau begitu aku ingin istirahat sekarang, dan mengganti pakaianku yang bau anggur ini,” kata Pierre.
“Hati-hati, aku tidak ingin mengangkutmu lagi,” jawab Rogue.
Mereka berpisah, Pierre berjalan ke arah kota untuk pulang kerumahnya, sedangkan Rogue ke arah yang berlawanan. Jalanan di kota Malaga terlihat sepi, karena sudah lewat tengah malam. Bila siang hari, kota ini akan sangat ramai, bukan hanya orang-orang Spanyol yang meramaikan kota ini. Berbagai agama dan ras menghiasi Malaga, karena Puerto De Malaga adalah pelabuhan yang tersohor, dan cukup mudah untuk dijangkau. Mesjid dan gereja sama banyaknya disini, karena dulu Muslim pernah menguasai kota ini—walaupun dulu mereka dihabisi, tetap saja banyak keturunan-keturunan muslim yang masih bertahan. Sambil berjalan, ia mengeluarkan rokok dari dalam kantung celananya dan membakarnya, ia tidak tahan dengan udara dingin ini. Beberapa menit kemudian, ia sampai di rumahnya; sebuah bangunan bertingkat satu yang sederhana, malah tampak tak terurus. Tembok dirumahnya kotor, dan mengelupas—tetapi Pierre merupakan orang yang acuh, dan tidak mau ambil pusing toh ia hanya sedikit menghabiskan waktu dirumah.
Setelah ia membuka pintu rumahnya, ia melepas jaket tebalnya dan menarohnya di kursi dengan asal, ia tidak peduli lagi dengan kondisi rumahnya, yang ia inginkan sekarang hanya istirahat karena kepalanya masih sedikit pusing. Sepatu kulit murahnya ia lempar menggunakan kaki ke pojok ruangan, kemudian melepas baju dan celananya yang sudah bau tak karuan. Dengan terhuyung Pierre menuju ke kasurnya—seolah kasur sudah memanggil-manggil namanya. Ia menjatuhkan tubuhnya yang lemas ke kasur, dan dalam hitungan detik ia sudah terlelap. Di lain tempat, Rogue masih terjaga—dan berlatih fisik di rumahnya. Rogue, pria bertubuh gemuk, namun berotot—merupakan mantan pegulat yang suka bertanding di bar-bar kota. Ia dipanggil Rogue, karena walau tubuhnya yang gempal, gerakannya cukup gesit sebagai pegulat. Hantamannya yang cepat dan keras, dan mampu mengindar dari pukulan-pukulan musuhnya, membuat Rogue merupakan salah satu pegulat yang disegani di Malaga. Bila engkau masuk ke bar-bar di kota dan menanyakan tentang Rogue, semua orang pasti tahu namanya. Tetapi pada suatu waktu, ia kalah dengan pebajak laut handal yang kurus, yang baru Rogue lihat bergulat. Sebelum bertanding dengannya, pria kurus itu berbicara pada Rogue, kalau ia kalah ia harus ikut bekerja dengannya, tetapi bila Rogue menang, ia boleh meminta apa saja darinya; kapal, dan emas menjadi taruhan pebajak laut tersebut. Rogue segera menyetujuinya karena ia pikir ia dapat dengan mudah menaklukkannya, postur bajak laut itu tinggi dan kurus, hanya sedikit otot yang dapat dilihat di lengan, dan dadanya; ia tak lain merupakan Captain Mariano yang sedang mencari anak buah untuk perjalanannya.
Pertarungan pun dimulai, Rogue bermain aman dengan mencari celah counter attack, Captain Mariano menyadarinya. Ia menjatuhkan jab ringan yang mengarah ke kepala Rogue, saat Rogue menghindar, ia tidak menyangka lutut Captain Mariano sudah melayang mengarah ke perut sebelah kirinya. Rogue terkena tendangan lutut cukup keras, dan ia berhenti sejenak karena kesakitan. Saat itulah Captain Mariano memutarkan badannya, menekuk sikunya dan menghantam kepala Rogue dengan keras. Rogue tumbang—dan begitulah akhirnya ia menjadi anak buah Captain Mariano. Sudah dua tahun sejak Rogue bergabung menjadi anak buah Captain Mariano, dan ia memang dapat diandalkan, karena fisik, dan staminanya sangat kuat. Dari sanalah, ia mengenal Pierre, pria urakan, pecandu alkohol, tetapi Pierre sangat setia kawan dan menjadi teman yang enak diajak bercanda. Bisa dibilang dua orang ini merupakan orang kepercayaan Captain Mariano, karena setiap ia melakukan perjalanan, mereka berdua selalu ikut serta.
Bila berbicara soal Pierre, nampaknya ia memiliki berbagai kekurangan, tetapi Pierre juga mempunyai kelebihan, tentunya. Ia setia kawan,
loyal, walaupun senang sekali mengeluh. Keberuntungan, mungkin merupakan salah satu dari sifat Pierre, pernah suatu waktu saat ia sedang berpetualang bersama Captain Mariano, dan Rogue—ombak begitu besar menerpa Alice (nama kapal Captain Mariano), Pierre yang sedang meminum anggur di pinggir kapal, terhempas keluar kapal dan tercebur ke laut yang sedang penuh ombak. Rogue melihatnya dan memberitahu Captain Mariano, seluruh awak kapal disuruh untuk mencarinya, sampai ada yang terjun pula ke laut. Pierre tidak dapat ditemukan, mungkin telah terseret ombak dengan jauh. Setelah semalaman mencari, akhirnya Captain Mariano menarik kesimpulan Pierre telah tewas—karena sepertinya tidak akan ada manusia yang selamat dari badai pada malam hari di laut, dan melawan ombak yang sedang marah. Tetapi dua hari kemudian, ada kapal nelayan yang mendekati Alice—dan terlihat Pierre disana dengan tampang yang seolah tidak ada yang menimpanya. Ia masih memegang botol anggur yang ia minum saat hari ia menghilang. Pierre kemudian berkata, bahwa ia terseret ombak dan tak sadarkan diri hingga pagi, dan untungnya ada nelayan yang melihatnya terapung—dan membawanya kembali ke Alice, untung Alice belum terlalu jauh dari tempat terakhir Pierre tenggelam, yaitu dekat pelabuhan Catalunya.
Saat fajar menyingsing menembus jendela bulat berukuran kecil di rumah Pierre, ia sudah bangun dari tidurnya, dan sedang menenggak sebuah kopi. Pierre bangun lebih cepat daripada hari-hari biasa karena teringat ia dan Rogue disuruh menghadap Captain Mariano. Setelah selesai menenggak kopi, ia melihat ke kanan dan kiri seolah mencari sesuatu. Kemudian ia teringat rokoknya tertinggal di dalam jaketnya kemarin, ia berdiri mengambilnya dan langsung membakarnya sambil bersantai di kursi. Sambil menghisap dan membuang asap rokok, pikiran Pierre melayang tak tentu, ia berpikir apa yang akan Captain Mariano katakan saat bertemunya nanti, apakah Achen tempat yang berbahaya atau tidak, dan lain-lain. Pierre rasa ia telah cukup bersantai-santai, kemudian ia siap-siap dan keluar dari rumahnya menuju pelabuhan.
Ia menikmati udara pagi di kota Malaga, sambil berjalan, ia mengamati suasana pasar yang ramai akan pedagang. Bangunan-bangunan tua nan eksotik, keberagaman ras disini, membuat Pierre bersyukur ia dibawa Pamannya dulu ke Malaga. Nasib pamannya, Rousseau, tidak begitu baik di Malaga. Setelah bekerja menjadi kurir alkohol cukup lama, hampir sekitar 6 tahun, ia terlilit utang kepada pejabat lokal Malaga. Utangnya didapat hasil dari hobinya, yaitu berjudi di salah satu pub di Malaga bernama “Red Brooch”. Rousseau diberi waktu satu bulan untuk membayar utangnya, namun apa daya, penghasilan sebagai kurir sangat tidak memungkinkan untuk membayar utang yang cukup besar, yaitu 200 keping emas. Berbagai cara ia tempuh untuk membayar utangnya, sampai suatu ketika ia nekat mencuri salah satu cadangan makanan di kapal bajak laut. Ternyata, keberuntungan tidak di pihaknya, Rousseau tertangkap basah, dan akhir ceritanya sudah dapat ditebak. Pierre yang tahu akan hal ini, memakluminya mengapa nasib pamannya seperti ini. Dalam hatinya, ia menyayangkan mengapa pamannya malah menghabis-habiskan uangnya untuk berjudi. Tetapi, peristiwa ini telah lama terjadi dan Pierre bersyukur untuk menjadikan kisah pamannya sebagai pelajaran.
Tak terasa ia sudah berjalan cukup jauh, dan sudah memasuki areal Puerto de Malaga. Pierre melihat Captain Mariano, Rogue, dan satu orang asing yang tidak ia kenali, sedang duduk bersama di kedai roti tak jauh dari posisinya. Penampilan orang asing itu cukup biasa, dengan jubah memanjang ke bawah, tetapi rambutnya cepak seperti angkatan laut. Kemudian Pierre melangkah mendekatinya—Rogue melihat Pierre berjalan menghampirinya dan menyuruhnya untuk kesini. “Nah, datang juga kau nak,” sambut Captain Mariano. “Biar ku perkenalkan anggota angkatan laut Spanyol, dibawah pimpinan Raja Phillip IV, Stefan,” Kemudian Stefan tersenyum dan menunduk sedikit kepada Pierre, dan berkata “Senang bertemu denganmu,”. “Dan ini Pierre, anak buahku yang setia,” lanjut Captain Mariano. Pierre membalas senyumannya dan membalasnya “Suatu kehormatan bertemu denganmu, Sir Stefan”. “Tidak usah begitu kaku, Stefan saja,” jawabnya. “Pesan makan saja Nak, aku yang traktir hari ini,” kata Captain Mariano. “Dengan senang hati,” kata Pierre. Ia kemudian memesan roti lapis yang diisi dengan bacon, makanan yang tak biasa ia makan, tentu saja karena harganya yang lumayan mahal. Setelah memesan ia duduk, dan berkata “Jadi, kapan rencana ekspedisi Raja Phillip untuk ke Achen?”. “Bulan depan kita akan berlayar, selama menunggu, kau dan Rogue akan dilatih teknik-teknik dasar berlayar dari angkatan laut langsung,” kata Stefan. “Wow, itu akan menarik, ya kan Rogue?” tanya Pierre. “Yup, menarik dan melelahkan pastinya”. “Tentu saja, jika kau ingin melaut dengan baik,” kata Stefan. “Jadi besok, kau dan Rogue pada saat fajar menyingsing, diharapkan telah hadir di tempat ini dan melakukan pelatihan bersama para angkatan laut yang lain, bagaimana?” lanjutnya. “Hmm aku setuju, walaupun sepertinya ayam belum berkokok” kata Pierre. “Jika si pemalas itu setuju, tentunya aku juga,” kata Rogue. “Oke kalau begitu, terima kasih gentleman aku bertemu kalian lagi besok, sampai jumpa,” kata Stefan, kemudian ia berdiri dari tempatnya diikuti Captain Mariano untuk membahas sesuatu.
Pesanan Pierre telah matang, pedangan itu mengantarkan makanan kepadanya. Pierre kelaparan, ia langsung melahapnya.
“Jadi beginilah kita, dua orang yang sama sekali bukan pelaut, dan bukan juga penjelajah, malah akan berlayar ke negeri nun jauh ya,” kata Rogue.
“Kau tahu, ada banyak jalan menuju Roma, seperti kita—ada banyak jalan menuju kejayaan, walaupun kau hanya dari pegulat amatiran,” kata Pierre sambil mengunyah makanannya.
“Dan kau seorang bastard,” kata Rogue dilanjut dengan tawanya.
“Berarti aku tidak akan melihat Nashandra dalam waktu yang lama ya.”
“Temuilah dia, anggap saja perpisahan.”
Diubah oleh jhonsonamama 23-01-2017 15:44
0
Kutip
Balas