“Fiuh. Panas juga ya”
Gue mengeluh di tengah kerumunan orang yang sedang antri untuk ikut job fair di salah satu gedung pertemuan besar di bilangan Jakarta Selatan.
“Tsk. Masih jam 7 pagi tapi udah rame amat. Padahal gerbangnya dibuka jam 8.”
Kembali gue mengeluh dalam hati. Ini pertama kalinya gue pergi mencari kerja lewat job fair seperti ini. Ternyata lulus dengan predikat baik dari salah satu universitas swasta ternama di kota Bandung nggak menjamin gue untuk mudah mencari kerja. Gue berkali – kali mencoba mencari kerja di kota kembang selama sebulan penuh terhitung setelah gua wisuda. Tapi, hasilnya nihil. Terpaksa karena gak mau membebani orang tua dengan biaya kosan disana, gue kembali ke Jakarta. Tempat dimana gue dibesarkan. Padahal waktu kuliah, gue bertekad untuk gak kerja di Jakarta. Alasannya? Jakarta terlalu sumpek ! Macet, panas, naik angkutan umum mesti desek – desekan dan lain lain. Pokoknya banyak faktor saat itu yang bikin gue malas untuk kerja di Jakarta. Tapi apa daya. Nasib berkata lain.
Gue nengok ke kanan ke kiri berharap ada sesuatu yang bisa menghilangkan kebosanan gua mengantri. Mau terus – terusan mainin handphone, bosan juga. Mata gue tertuju ke tiga cewek di depan gue. Gue antri di urutan ke empat. Depan gue ada tiga orang cewek yang lagi asyik ngobrol.
“Asik bener kayaknya”
Ucap gue dalam hati. Di tengah lamunan gue, cewek yang berdiri persis di depan gue tiba – tiba berbalik badan
“Panas juga ya” sahutnya
“Eh? Iya panas” jawab gue kikuk.
Cewek dengan balutan kemeja putih dan rok krem itu melontarkan senyumnya.
“Mas darimana?”
“Oh. Saya mah asli Jakarta. Mbaknya?”
“Saya dari Kuningan, Jawa Barat mas. Tapi, ngekos di daerah Mampang situ tuh” Jari telunjuknya menunjuk ke arah barat.
“Oalah. Udah lama mbak cari kerja?”
“Yaa lumayan lah. Saya sempat kerja. Tapi, keluar karena alasan tertentu. Terus ini mulai cari – cari lagi deh”
“Ooh gitu. Oh iya kita belom kenal nama. Saya Cita” Gue mengulurkan tangan gue ke arah cewek ini.
“Fitri” Jawabnya sambil kembali melontarkan senyumnya.
“Kayak nama cewek mas” ucapnya lagi seraya tertawa.
“Yah emang gitu mbak. Kalo mau protes mah sama orang tua saya aja. Mereka yang ngasih saya nama” gue pun ikut tertawa. Emang sih nama gue kayak nama cewek. Bahkan kalo pesen ojek online atau taksi online gua selalu di panggil “Mbak”.
Setelah itu, kami hening beberapa saat. Gak lama kemudian Fitri mengeluarkan handphone dari dalam tasnya.
“Ada pin BB gak?”
“Oh. Ada. Bentar” Gue mengeluarkan handphone dari kantong celana.
“Nih scan barcode ini aja” sahut gue lagi.
“Yesss udah” sahutnya ceria. Gue pun ikut tersenyum
“Loket sudah dibuka. Para peserta harap antri dengan tertib” Panitia job fair memberikan pengumuman lewat pengeras suara.
“Yuk masuk” Ajak Fitri
“Yuk” gue pun mengiyakan ajakannya.
Gue dan Fitri pun berkeliling job fair mencari tempat yang ideal untuk menyerahkan CV. Tepat ketika pukul 12 siang. Kami selesai melakukan sebar CV ke perusahaan – perusahaan yang membuka stand di job fair tersebut. Setelah kami beristirahat setengah jam. Kami memutuskan untuk pulang kerumah masing – masing.
Di tengah perjalanan pulang. Handphone gue bergetar menandakan ada pesan masuk. Setelah gua cek. Ternyata itu dari Fitri
“Cita udah sampai mana?”
“Masih di jalan”
“Aku udah di kosan doongg. Bosen tau dikosan”
“Yaudah jalan atuh kemana gitu”
“Umm gimana kalo besok kita jalan?”
“Boleeh. Kabarin aku aja Fit”
“Okey !

”
Gue pun tersenyum sambil memandang langit cerah hari itu.
Kisah ane dan Fitri akan ane tulis sebagai side story di thread ini. Karena thread ini bukan mengisahkan tentang dirinya. Tapi ane masukin ke intro karena dia termasuk bagian dari pengalaman ane mencari kerja hehehe.