Kaskus

Story

taucolamaAvatar border
TS
taucolama
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
Quote:




Quote:
Quote:
Spoiler for Prolog:
Quote:
Quote:
Yang suka mohon Rate,Komen, Share.
Diubah oleh taucolama 28-02-2017 07:49
junti27Avatar border
ichamkbkAvatar border
afrizal7209787Avatar border
afrizal7209787 dan 47 lainnya memberi reputasi
42
1M
1.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
taucolamaAvatar border
TS
taucolama
#1279
Kegelapan part 6


Aku merasakan sakit yang tak tertahankan. Pandanganku mulai berkunang kunang kesadaranku mulai berkurang menahan sakit yang kurasa. Mungkin ini akhirku, aku mungkin bukan orang ahli ibadah, tapi aku ingin akhir hidupku dalam kebaikan. Aku sudah sulit mengucapkan kata. Dalam hatiku berdzikir menyebut nama Allah. Aku berdzikir dan berdoa agar Allah menyelamatkan keluargaku. Aku sudah dalam titik pasrah aku menerima takdir hidupku berakhir disini. Aku terus berdzikir menyebut nama Allah. Gelap mulai menyelimuti sekitarku lemah batinku menyebut nama Allah. Rasa sakit disekujur tubuhku tak tertahankan.

Batinku terus berusaha mengucap nama Allah. Tawa makhluk itu terdengar keras tapi aku tak peduli rasa amarah, benci, dendam kuhilangkan aku ingin berakhir dalam damai walau orang mendholimi aku. Aku mulai bisa menggerakan kembali lidahku. Kucoba membaca surat Annas, al falaq dan ayat kursi. Perlahan kubaca, makhluk itu tertawa dan mengikuti apa yang kubaca. Tapi aneh kenapa tiba tiba suara makhluk itu seperti terbata bata. Seiring itu pula sakitku mulai berkurang. Tiba tiba perutku sangat mual. Aku mencoba menahan tapi akhirnya aku muntah. Dan muntahanku adalah darah bercampur silet, jarum dan rambut. Aku teruskan membaca ayat kursi dan makhluk itu kini bergulingan dilantai sambil berteriak kesakitan. Aku terus membaca hingga ketika aku tamat membaca ayat kursi, makhluk itu hilang dan tercium bau benda terbakar.

Aku jatuh terduduk lemas. Aku tak bisa bangkit. Aku tak tau apa ini sudah berakhir atau belum. Tapi tak ada tanda tanda kehadiran makhluk yang berniat jahat. Suara pintu kamar terbuka. Kulihat ibu dan Viona menghampiriku. Viona berlari menghampiriku dan memelukku sambil menangis.

"Aka kamu gapapa kenapa baju kamu ada darahnya": kata Viona sambil memeriksa aku.
"Aku ga apa apa cuma lemas aja": jawabku.
"Bener ga apa apa, terus darah siapa dilantai": kata ibu.
"Darahku bu, tadi aku muntah ada darahnya": kataku.
"Periksa kedokter yah yang takut kenapa kenapa": kata Viona.
"Ga apa apa yang cuma butuh istirahat, kamu,ibu, anisa dan bibi ga apa apa?": kataku.
"Kami ga apa apa, ayo kita kedokter": kata Viona.
"Percaya ya sayang aku ga apa apa": kataku.
"Tapi kalo kamu ngerasa sakit sedikit kita kedokter": kata Viona.

Adzan subuh berkumandang, ibu membersihkan bekas muntahanku. Ibu terkaget kaget melihat ada jarum, silet, rambut dan pecahan beling di muntahanku. Tapi aku meyakinkan ibu kini aku sudah tidak apa apa. Aku kemudian ganti baju dan sholat subuh. Beres sholat subuh aku duduk dihalaman menikmati waktu pagi. Viona membawakan secangkir kopi dan beberapa potong roti.

"Yang bener ga apa apa": kata Viona.
"Aku baik baik aja, aku bersyukur masih bisa menikmati pagi ini dengan orang yg paling kusayangi": kataku.
"Yang, aku minta hindari hal hal seperti ini lagi aku khawatir banget": kata Viona.
"Semuanya sudah takdir ga bisa kita hindari. Kita mesti ambil hikmahnya": kataku.
"Yang tapi aku takut kehilangan kamu": kata Viona.
"Sama, aku juga.": kataku.
"Kita berdoa saja kita akan bersama hingga tua": kata Viona
"Iya": kataku.

Sekitar pukul 7 pagi pak Dayat kerumahku.

"Asalamualaikum": kata pak Dayat.
"Wa alaikum salam, silahkan duduk pak": kataku.
"Sedang santai nih": kata Pak Dayat.
"Iya lagi nikmati pagi": kataku.
"Malam di cafe cuma gangguan tak berarti, bapak malah khawatir sama nak Aka. Bapak hanya bisa doakan nak Aka saja": kata Pak Dayat.
"Doa bapak sangat berarti bagiku, sebentar pak saya kedalam dulu": kataku.
"Silahkan": kata pak Dayat.
Aku kedalam mengambil uang dan memasukkannya dalam amplop. Aku keluar lagi sambil memberikan amplop pada pak Dayat.
"Aduh jangan nak Aka, Bapak ikhlas nolong nak Aka": kata pak Dayat.
"Mohon diterima pak, saya anggap bapak sudah seperti bapak aku sendiri. Mohon diterima sebagai tanda bakti anak pada orang tuanya": kataku.
"Baiklah kalo begitu nak Aka tapi Bapak ingin nak Aka jangan sungkan kalo butuh bantuan Bapak": kata Pak Dayat.
"Iya pak makasih selama ini bapak sudah mau bantu aku": kataku.
"Nak bapak pulang dulu terimakasih ya pak": kata pak Dayat.
"Sama sama": kataku.

Seminggu setelah kejadian itu, salah satu cafe yang buka didekat cafeku tutup. Dari kabar yang kuterima dari salah satu karyawan cafe itu pemilik cafe tersebut sakit keras dan mendadak dan sakitnya aneh. Aku tak berburuk sangka, yang jelas semua yang terjadi adalah takdir dan perbuatan baik akan mendapatkan balasan kebaikan dan perbuatan jahat akan mendapatkan balasan yanh setimpal.
khuman
xue.shan
jenggalasunyi
jenggalasunyi dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.