Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.8K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#69
PART 29


Betul-betul ngerasa bersalah aku sama si Yesi. Dan entah itu kecewa atau ill-feel, aku nggak tau. Aku benci untuk mengakuinya, tapi aku nggak bisa bohong.....kalau itulah yang kurasakan sama Mita sekarang.

Sebenci-bencinya dia sama orang, kukira ngehina orang tua itu benar-benar kelewatan, apalagi sampai ngehina ibu.

Saat itu muatan angkotnya hampir penuh. Yesi bisa duduk tapi aku enggak. Mau nggak mau aku pun menggelantung di pintu persis kondektur, yang mana nggak pernah kulakukan ketika aku masih sekolah.

Dan aku baru tau kalau sensasinya cukup menyenangkan.

“Turun di mana, Neng?”

“.........................”

“Neng, turun di mana? Ditanyain kok diem aja?”

“Bah, kapan pula aku punya kernet?!” si supir ngomong samaku, tapi matanya ngelihat ke spion di atas.

“Santai, Bang. Iklas, kok. Nggak bakal minta bagi-bagi.”

“Neng, ongkosnya mana, Neng?” kugoda lagi dia sambil mengulurkan tanganku. “Neeng, ongkosnya,” kali ini sambil kutepuk-tepuk lututnya.

Yesi memukul tanganku dan wajahnya masih jutek banget. Suasana itu jelas menarik buat seisi angkot, tapi aku nggak perduli, malah aku kian semangat untuk terus menggodanya. Teringat waktu sekolah dulu, kukira ini adalah bentuk pembalasan yang pantas buat dia.

Rasanya enak, asli. emoticon-Big Grin

“Bang, ada penumpang yang nggak mau bayar, Bang.”

Si supir langsung ketawa dan penumpang-penumpang lain pun ikut tersenyum.

“Apa kita turunin aja, Bang?”

Si supir hanya terkekeh.

“Tapi jangan, lah, Bang,” kataku lagi. “Galak ini, Bang. Aku aja tadi kena tabok, Bang.”

“Hahahahaha,” langsung ngakak lagi si supir. “Jangan galak-galak, la, Itoo.”

Yesi langsung merogoh saku celananya sebelum uangnya dilempar ke depan begitu saja. “Bang, berhenti, Bang!”

Sial, benar-benar nggak tahan dia rupanya.

“Bah! Besar kali ini!” si supir kebingungan begitu kuserahkan uang.

“Nggak ada lagi, Bang. Ya udah, Bang. Sekalian sama semuanya aja,” balasku buru-buru, bawannya udah mau nyusul si Yesi aja.

“Anak muda, anak muda, ada-ada aja kelen, bah.”

***


“Yesi!” kukejar lagi dia entah untuk keberapa kalinya. Gila, udah kayak ‘Termewek-mewek’ aja ini kami. emoticon-Nohope

“Yes! Tunggu kenapa, sih?!”

Sumpah, anak ini udah mirip atlit jalan cepat aja.

“Yes!!” kutarik lagi tangannya.

Gampar lagi, gampar lagi, lah.

“Maafin kenapa, sih?”

“..............................”

“Harus teriak aku? Biar semua orang bisa denger?”

“Jangan kayak anak-anak, lah.”

“Iya, Yes. Iyaaa. Aku memang anak-anak. Aku bodoh. Aku minta maaf. Aku nggak tau. Aku benar-benar minta maaf.”

“Kamu itu jahat banget tau nggak sama si Wiwid?”

“Aku berapa kali bilang?? Aku nggak tau, Yeeees,” aku betul-betul memelas. “Aku juga bingung kenapa dia sampai nekat kayak gitu. Aku minta maaf udah kasar sama kamu. Aku pun nggak nyangka kalau dia sampe sekasar itu sama kamu.”

“..............................”

“Maaf, ya?”

“............................”

“Aku teriak, nih.”

Langsung mendelik dia, padahal aku ya cuma pura-pura aja. emoticon-Big Grin

“Ya udah. Ngomooong.”

Yesi kemudian mengangguk.

“Ngomoooong.”

“Hmmmmmmmmp.”

“Yaelaah, pelit banget.”

“Udah, ah. Mau pulang,” katanya sebelum jalan lagi.

Aku kemudian langsung mengikutinya persis di sebelah. Dan ketika belasan meter kemudian, sebuah toko di seberang jalan membuat ‘bohlam’ dalam kepalaku menyala.

Kupikir ini bisa membuat suasana hatinya jadi lebih baik.

“Yes.”

“Apa?”

“Jangan pulang dulu, sih.”

“Mau ngapain?”

“Bentar, jangan ke mana-mana.”

“Mau ngapain, sih?”

“Udaaaah. Bentar doang, kok.”

Aku pun berlari seolah toko itu sudah mau tutup. Persis yang kubilang tadi, ini sama sekali nggak butuh waktu lama. Dan untungnya berhasil karena Yesi langsung tersenyum begitu aku keluar dari tempat itu.

‘Kringkring!’

“Neng, ikut Abang ke taman, yuk?”

Ketawa juga dia, akhirnya.

***


Untungnya Yesi mau untuk menyisihkan waktunya lagi. Dan siang itu, kami emoticon-Ngacirke taman kota dengan sepeda keranjang berwarna merah jambu. Yesi duduk menyamping dengan satu tangannya melingkar di pinggangku. Dan dia pasti tertawa tiap kali belnya sengaja kubunyikan sebelum teriak, “Bakso, baksooo.”

Karena sebelumnya aku ngerasa bersalah banget, otomatis bisa kayak gini lagi sama dia itu rasanya benar-benar menyenangkan. emoticon-Smilie

Lima belas menit berkayuh, kami pun sampai di sana, di taman yang elok dan menghadap ke sebuah danau. Biasanya, sih, ramai. Tapi karena masih jam segini, otomatis waktu itu cuma ada kami berdua.

Kemudian kami duduk di sebuah bangku batu yang panjang, dekat pohon besar yang bayangannya melindungi kami dari panas matahari.

Tenang banget suasananya. Jaminan mutu, lah. 

“Eh, Yes, kamu dicariin.”

“Dicariin? Dicariin siapa?”

“Rambo.”

“Masa?”

“Hmmmmp. ‘Gukgukguk’”

emoticon-Gila

“Itu artinya ‘Kak Yesi mana?’”

“Apaan, sih. Ngarang banget,” sambil senyum dia.

Lumayan, berhasil juga rupanya. emoticon-Smilie

“Udah mirip kamu. Tinggal dikalungin aja,” Yesi masih senyum. “Rambo...Rambo...kok, bisa Rambo, sih? Kayak nggak ada nama lain aja.”

“Aku yang namain.”

“Oooo, pantesan. Nggak heran aku. Cerdas.”

“Nggak boleh disia-siain juga.”

“Disia-siain?”

“Hmmmm,” jawabku sambil mengambil ponselku. “Nih, coba lihat.”

“Hahahahahaha,” Yesi langsung ngakak ngelihat fotonya si Rambo. “Ya ampuuun. Ini kenapa sampe kayak gini? Ya Tuhaaan.”

“Kami main Uno. Taruhannya coret muka. Aku, Doni, Om Prima, Tante Angie, seru, lah.”

“Lha, terus Rambo kenapa dicoret?”

“Dia ngambil kartuku. Jadi ketauan kalo aku punya kartu plus 4. Gemas aku, kucoret aja jadinya itu si Rambo.”

“Hahahahaha. Ada-ada aja. Hahahaha.”

Yesi mulai rajin ketawa lagi. Dan setelahnya, kami sedikit-banyak kembali mengenang hal-hal yang lucu ketika kami masih sekolah. Salah satunya adalah seorang guru bahasa inggris yang orangnya benar-benar udah berumur. Pernah suatu waktu, pas Yesi lagi nggak masuk, aku yang ketauan tidur disuruh pindah ke depan. Bangku paling depan itu kebetulan kosong satu karena orangnya juga nggak masuk.

Tapi,,nggak lama setelah itu,,,

Quote:


Yesi pasti ngakak kalau kuceritain lagi kejadian waktu itu.

Dan, terakhir, kami juga nyinggung lagi soal guru yang suka memanggil kami sebagai Duo Ye-Ye, karena di kelas yang namanya dari Y memang cuma dua.

Semeja lagi. emoticon-Nohope

“Ya salah kamu juga namanya ngikut-ngikutin.”

“Ngikutin darimana? Sembarangan. Ada juga kamu itu ngikutin aku.”

“Lha, yang duluan lahir siapa coba?”

Sial, selalu aja dia pakai jurus yang ini. “Iye, iye, beda sebulan doang. Bentar lagi ada yang minta dipanggil Kakak pasti.”

“Hahahahaha. Enggaklah, kesannya aku tua banget.”

“EMAANGGG.”

“Hahahaha, apaan, sih. Eh, harusnya nama kamu itu jangan dari Y.”

“Lha, kalau bukan dari Y, trus apa?”

“Ya banyak. Aohan? Bohan? Cohan? Dohan?”

“Ya nggak dipukul rata juga kaliiii, Buuuuk.”

“Aaaaaah......Lohan! Lohaan!! Iya, nama kamu Lohan aja. Hahahaha.”

“Sial banget, dikira aku ikan? Kalo namaku Lohan, namamu juga harusnya diganti.”

“Diganti apa?”

“Yes-No.”

“Heh! Jangan jorok, ya, emoticon-Mad ” langsung dipukulnya badanku.

Aku benar-benar nggak mikir ke sana. Sumpah.

Demi Tuhan #sambil nginjek tanah 3X emoticon-Hammer

“Eh, tapi, kok, kamu bisa dipanggil, O’ang, sih?”

“Ya mana kutau. Yang manggil aku juga kalian, kan?”

“Ya aku, kan, juga ikutan anak-anak.”

“Ya aku mana tau. Si Choki paling yang manggil gitu duluan.”

“Heh, kamu, kan, besok pulang. Nggak ke tempat sodara kamu dulu?”

“Nggak tau juga, sih. Tapi ayo kalo mau.”

“Lha, sodara sodara kamu, kenapa aku yang diajak?”

“Biar kamu ketemu lagi sama si Rambo.”

“Bilang aja kamu males kalo sendiri, takut diceramahin, kan, kamu?”

“Hahahaha. Cerdas.”

“Yee, aku ya juga punya kali sodara cowok. SD dulu aku sering main ke tempat dia. Dia itu melihara merpati. Banyak banget. Aku kepingin melihara juga, tapi nggak pernah kesampean.”

“Tinggal beli doang.”

“Bukan itu juga, O’oon. Pas gencar-gencarnya flu burung itu, lho. Jadi Mamaku rada takut. Makanya dilarang pas mau melihara di rumah.”

Mama....

Ah, sialan.

“Pas udah gak gencar lagi, akunya jadi kebawa males juga. Nggak sempat-sempat, kepikiran tugas....”

“Yes.”

Yesi menoleh. “Apa?”

“Aku minta maaf ya soal yang tadi.”

“Iyeee. Udah dimaafin juga.”

“Yes, aku serius. Aku nggak enak banget sama kamu, sumpah. Aku nggak tau kalo Mita bisa sampe kasar kayak gitu. Malah aku juga ikut-ikutan kasar lagi.”

“Apaan, sih,” Yesi langsung menarik tangannya dari genggamanku. Lalu ia berpaling ke arah danau. “Udah dimaafin, kok emoticon-Malu .”

emoticon-Smilie

“Trus, kamu tau nggak yang bikin aku suka sama merpati?” katanya lagi.

“Apa’an?”

“Merpati itu katanya binatang yang romantis. Tau nggak kamu?”

“Enggak. Nggak pernah denger.”

“Ya iya, lah. Kamu, kan, blo’on, taunya apa coba.”

“Hahaha, tadi kamu sendiri yang ngomong kalau aku ini cerdas.”

“Nggak jadi.”

“Hahahaha.”

“Tapi romantis dari mananya, sih?” kutanya lagi dia. “Romantisan monyet, deh. Anjing juga. Ah, sama semua perasaan.”

“Mereka itu setia sama pasangannya, ‘Ang. Aku juga nggak merhatiin banget, sih. Tapi ya gitulah kata orang-orang.”

“Ah, masa’.”

“Yeeee. Orang dibilangin juga. Makanya aku tiba-tiba keingat Wiwid. Beruntung banget kamu, bisa dapat pacar kayak si Wiwid itu. Aku, sih, nggak bisa kalo kayak dia.”

“Ya aku juga tau kalo kamu nggak sesabar itu. Model kayak kamu, mah, pasti udah nyakar-nyakar kalo kejadiannya kayak tadi.”

“Yeeee. Dikirain aku kucing. Lagian bukan itu juga, kali.”

“Tapi,,,,” kataku lagi. Tanpa tersenyum. “Aku nggak bakal nggangguin dia lagi, kok, Yes.”

“Pisah, gitu?”

“Hmmm...tapi nggak pake putus-putusan kayaknya.”

“Ya nggak bisa gitu, dong, ‘Ang. Kamu harus ngejelasin semua dulu.”

“Enggak, Yes. Aku rasa nggak perlu. Aku rasa pun dia mikir juga kalau itu nggak perlu. Kamu tau nggak? Choki tadi bilang, kalau Wiwid ada cerita sama dia waktu dianterin pulang dari rumah sakit. Choki nggak mau bilang cerita apa. Aku pun nggak pingin tau juga kayaknya. Kamu memang bener, Yes. Aku udah jahat banget sama si Wiwid. Waktu di rumah sakit itu, aku yakin banget kalau dia juga tahu aku habis jalan sama Mita, tapi dia diem aja kayak nggak ada apa-apa.”

“Ang.” Kemudian Yesi bersiap untuk mengatakan sesuatu. “Kamu.... nggak marah....kalau....mmmm....misalnya......Choki nanti jadian sama Wiwid?”

“Hah?”

“Denger dulu, ‘Ang. Choki nggak ada maksud buat.... yaaaa...nikam kamu dari belakang gitu, lah.”

“Bukan, bukan, Yes. Bukan itu. Maksud kamu, dia suka sama Wiwid, gitu?”

Wiwid nggak ngejawab, tapi aku tau dari rautnya. Dia ngiyakan.

“Kamu malah senyum?”

“Aku justru senang, Yes.”

“Senang?”

“Aku kenal Choki, Yes. Anak itu bandel emang, tapi dia baik kalau urusan kayak gini. Sial, anak itu. Napa nggak dari dulu? Napa nggak ngomong coba?”

“Bukannya dia udah pernah ngomong?”

“Hah? Kapan?”

“Ya mana kutau.”

Ah, ngarang anak itu. Kapan coba dia ngomong kalau dia suka sama Wiwid?

“Ya bagus, deh. Kirain kamu bakal marah tau si Choki ada niat buat nggantiin kamu.”
“Enggak, kok, Yes. Wiwid itu baik banget serius, tapi aku nggak pernah bisa suka ama dia. Nggak tau kenapa.”

“Iya, iya. Te-o-pe banget, deh, itu si Mita. Bisa buat kamu sampai kayak gitu.”

“Yes, udahlah.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa, cuma nggak pingin ngomongin dia aja.”

“Kenapa? Bukannya udah jadian?” Yesi senyum.

“Yeees, udahlah. Jangan diomongin lagi.”

“Kenapa, sih, Yohaaan?” makin semangat dia buat ngegoda, balik lagi aslinya kayak dulu-dulu.

“Ya aku nggak enaklah.”

“Lha, nggak enak kenapa?”

“Pake nanya lagi. Ya nggak enak sama kamu, lah.”

“Sini pipinya kalau gitu.” Yesi langsung memanjangkan lengannya.

“Silahkan. Mau dicium, kan?”

“Najis! emoticon-Mad ” langsung dipukulnya badanku.

“Lha, terus?”

“Mau aku tambahin lagi,” katanya sambil melebarkan tangannya. “Kan, kalau ditampar pipi kanan, harus ngasih pipi kirinya juga.”

“Ya nggak gitu juga kali.”

“Sini, sini,” Yesi ngangkat tangannya lagi.

“Apaan, sih.”

“Eh, firmannya ada, lho.”

“Nggak, nggak.”

“Sekaliiiiii aja.”

“Enggak!”

“Hahahaha.”

“Udah, sih.”

“Eh, ‘Ang.”

“enggaak emoticon-Mad .”

“’Ang!”

“Enggaaaak.”

“Serius kali!”

“Apa?”

“Itu temen kamu bukan, sih? Kayaknya dia senyum-senyum deh ngelihatin kita.”

“Mana?” aku langsung berbalik ngikutin arah pandangannya Yesi.

Hah??

Oscar??

***
Diubah oleh kawmdwarfa 21-01-2017 10:07
ariefdias
pulaukapok
pulaukapok dan ariefdias memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.