- Beranda
- Stories from the Heart
Serial Killer : Trio Legend
...
TS
schilfouts
Serial Killer : Trio Legend

Quote:
Spoiler for Serial Killer : Trio Legend:
Indeks
Spoiler for Indeks:

Diubah oleh schilfouts 17-04-2017 22:04
anasabila memberi reputasi
1
12.8K
160
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
schilfouts
#149
Part 6 ~ Bertiga dan Kejadian Tak Terduga (IBNU POV)
Aku menghampiri Ken yang sedang bermain kartu uno dengan Surep.
"Sudahlah Surep, terima saja kekalahanmu ini.. Lihat kan kartu mu masih banyak?"
Ken tersenyum sinis sambil memamerkan kartu uno yang hanya tersisa dua.
"Tidak, lihat saja aku akan membuatmu kalah."
Surep yang tak mau kalah mencoba membuat Ken kalah. Dia sedang terlihat berfikir kartu apa yang harus dikeluarkan. Aku melihat Surep mengeluarkan kartu berwarna Merah.
"Yak.. Uno!!"
Gadis kecil ini berseteru kegirangan. Dia berjoget-joget dengan bahagianya dikarenakan telah berhasil membuat seorang Surep Peltier kalah telak tiga kali dalam bermain Uno.
Aku menepuk bahu Surep, "mohon sabar ya." sambil sesekali terkekeh melihat ekspresi wajah Surep yang bete itu.
"Tahu kan apa hukumannya buat yang kalah?" Ken membereskan Kartu uno mereka.
Surep menghela nafas sejenak, "traktir ken makan selama seminggu."
Aku melirik Ken , dia menyengir gembira. Gadis kecil ini menang banyak.
"Ada laporan tentang pembunuhan lagi nih," Arif memasuki ruangan lalu terduduk disamping Ken.
"Kalian bertiga yang mengambil alih pekerjaan,mau?" Arif menatap kami bertiga sambil menunggu jawaban dari kami.
Kami bertiga saling bertatapan satu sama lain.
"Aku sih mau saja mengambil alih, tapi kalau Ibnu dan Surep.. Aku tidak tahu." ucap Ken yang sembari menyomot marshmallow miliknya.
"Aku mau, kau juga mau kan rep?" tanya ku pada pria yang memiliki tinggi kira-kira 180cm ini.
Kami melihat Surep yang menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Datanglah ke daerah Pademangan dan cari target kita." perintah Arif pada kami.
Dia meninggalkan sebuah berkas milik target. Surep mengambil berkas tersebut lalu membacanya. Aku melihat Ken berpindah posisi duduk dan duduk disebelah Surep membaca setiap detail dari target , tak lupa dengan cemilan ditangannya.
Keheningan terjadi. Aku sibuk dengan ponselku dan mereka sibuk dengan bacaan mereka. Ken berdiri dan duduk disamping aku sambil menyandarkan kepalanya pada bahuku. Sudah sering dia melakukan hal ini sejak aku mengizinkan dirinya untuk bersandar pada tubuhku.
"Jadi kapan kita mau berangkat ke Pademangan?" ucap Surep yang bangkit dari duduknya dan segera mengambil sebotol anggur merah dari atas meja.
"Bagaimana kalau besok pagi?," ucap Ken yang memegang tanganku.
"Baiklah besok pagi kita berangkat" ujar ku sambil menyandarkan kepala di kepalanya Ken.
***
Kami bertiga berdiri di pintu masuk kota Pademangan, kota ini cukup ramai dipagi hari dan sepi dimalam hari. Kota yang berjarak 120km dari kota Kebun Bawang ini banyak sekali cafe atau restaurant sea food. Dan sepertinya gadis ini....
"Aahhhh... Aroma ikan segar terasa sekali, hm.. Bagaimana kalau kita menginap semalam disini? Dan kita dinner di salah satu cafe sea food yang enak."
Gadis yang berdiri di samping ku dan disamping Surep ini sedari tadi berceloteh sambil menebak nama masakan yang aromanya tercium oleh hidungnya.
"Ken, bisa kah kau menutup mulutmu semenit saja? Aku jenuh mendengar kamu menebak makanan yang aromanya tercium di hidungmu," Surep melirik Ken dan yang dilirik malah memasang tampang bete.
"Sudahlah rep, biarkan saja gadis ini berceloteh. Mencairkan suasana , daripada kita berjalan tanpa suara." ucapku yang kemudian memegang kepala Ken.
Ken mendongakkan kepalanya sambil mengucapkan kata, "bagus, kamu belain aku." tanpa suara.
Kami berjalan kurang lebih selama 1 jam , mencari keberadaan kantor lurah setempat. Surep memutuskan untuk beristirahat di halte terdekat, kali ini kami bekerja tanpa membawa kendaraan.
Aku menatap Ken yang sedang asik mengemil tersebut.
-flashback 3 minggu yg lalu-
"Aku melihat Ken 8 tahun lalu membunuh istri dan anakmu Ibnu, kenapa kamu malah menginginkan dekat dengannya?" Aheron mendatangiku.
"Tidak mungkin, kau kan tahu kalau Ken itu masih amatir. Bagaimana bisa seorang amatir membunuh dengan rapih seperti itu?"
Aku menatap Aheron yang sedang duduk di kursinya, aku mendengar bahwa dia sedang menghela nafas. Hening, diantara kami tidak ada satupun yang mengeluarkan suara. Aku tidak tahu apa maksud dari Aheron yang menyuruh ku untuk menjauhi Ken dan bilang pada Arif untuk memecat Ken.
Beberapa bulan lalu , Aheron bilang padaku bahwa Ken pantas berada di divisi 9 dan bersemangat karna Ken Sheridan mirip dengan Ken Quiakides pemimpin dan salah satu pendiri League yang juga mantan prajurit Shontelle.
Tapi hari ini Aheron berkata lain. Dia bilang padaku bahwa yang membunuh istri dan anakku, membunuh kekasih Arif, dan Membunuh Anak Surep adalah Ken Quiakides gadis yang paling di takuti di League. Dan Aheron juga menyuruh aku untuk segera menyingkirkan Ken Sheridan, karena menurutnya Ken Quiakides menyamar sebagai Ken Sheridan.
Aku juga memperhatikan tingkah laku Aheron yang bisa dibilang ketakutan. Baru kali ini aku melihat wanita yang suka menganggu Dr. alif ini ketakutan.
"Singkirkan Ken Sheridan dari divisi 9."
-flashback end-
"Holaaaaaa Ibnu,"
Aku tersentak kaget karena Ken sedang melambaikan tangannya di depan mataku. Gadis ini menyengir.
"Sedang memikirkan apa sih? Sampai dipanggilin tidak menyaut."
Aku menghela nafas dan tersenyum padanya.
"Tidak sedang memikirkan apapun kok."
Ken terdengar sedang menghela nafas, "baiklah, ayo kita menyebrang jalan. Surep sudah menunggu kita."
Aku menengok ke arah kiri ku dan Surep tidak berada disana. Where my maknae gagal.
"Surep sudah berada di seberang jalan, tuh." Ken menunjuk ke arah dimana Surep berada.
Aku melihat dia melambaikan tangan pada kami.
"Cepatlah, aku sudah lapar!!!" teriak Surep menyuruh kami untuk segera menyebrang jalan.
***
AUTHOR POV
"Pak, sepertinya ada seseorang yang sedang mencari informasi tentang Ken Sheridan atasan kita."
Salah seorang IT di tempat kami menemukan sebuah masalah baru, yakni ada seseorang yang berusaha mencari informasi terkait Ken Sheridan.
"Kau bisa mengurusnya kan?" Rizky menepuk pundak karwayannya dan menatap layar komputer yang berada di Hadapan Rizky. "Cari tahu, siapa yang mencoba mencari tahu tentang Ken Sheridan."
Saat ini identitas dari Ken Sheridan kami rahasiakan demi kepentingan dirinya dan juga kepentingan organisasi yang dibentuk oleh Ken Quiakides tanpa sepengetahuan pemerintah dan League.
Dan Rizky bertugas melindungi gadis mungil tersebut dengan ikut bekerja di League.
"Pak, yang mencari tahu keberadaan Ken Sheridan adalah Aheron Cherise."
Rizky tersenyum sinis mengetahui siapa orang yg mencoba mengorek informasi tentang Ken Sheridan.
***
IBNU POV
"Baiklah hari ini kita akan menginap dikota ini, sesuai dengan permintaan gadis mungil yg katanya imut."
Surep menyeruput kopinya. Aku melihat ekspresi dari gadis yang dimaksud sedang menunjukan bahwa dia kesal dengan ucapan dari Surep. Dia lalu melempar kertas yang membungkus nasi ke arah Surep.
"Menginap di hotel atau motel?" tanyaku yang sedang asik memakan sushi yang telah aku pesan.
"Bagaimana kalau motel?" jawab Ken yang sedang menyomot udang goreng milik Surep.
Aku melihat Surep menepuk pelan punggung tangan Ken. "Hei kami tidak meminta pendapatmu."
Ken dan Surep saling melirik satu sama lain. Aku seperti sedang melihat di salah satu anime jepang yang kalau tokohnya sedang berdebat pasti ada yang seperti petir. Pemandangan seperti ini jarang terjadi, jika Arif mengetahuinya mungkin Surep akan di skors 3 bulan untuk tidak ke club malam karena berdebat dengan Ken.
"Sepertinya ide bagus untuk menginap di motel, harganya lebih murah dibanding hotel."
Aku menyetujui pendapat dari Ken. No problem lah tidur di motel yang penting dapat tempat tinggal sementara.
"Kau sudah menghubungi pihak kelurahan , kalau kita akan datang nu?" Surep menatap ku yang sedang menikmati hidangan kami.
"Sudah." jawabku dengan santai.
Kami tidak tahu jenis pembunuhan yang dilakukan oleh sang pembunuh. Tidak ada keterangan sama sekali di berkas target. Surep mengira bahwa sepertinya kota ini adalah kota dimana banyak psycho bertebaran, alasan dia mengatakan hal seperti itu karena setiap target kita pasti berasal dari kota pademangan ini.
"Hey apa kalian dengar semalam ada mayat lagi di dekat pabrik tua."
Kami yang mendengar hal itu dari gerombolan pria yang duduk dibelakang kami langsung terdiam sejenak. Kami juga menajamkan pendengaran kami.
"Ah aku sudah mendengarnya dari beberapa orang yang ada di rumahku. Mereka bilang kalau mayat itu adalah seorang pria, tapi tidak tahu identitas si pria yang sebenarnya."
Aku melihat Surep beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju gerombolan pria tersebut.
"Permisi, apa berita itu benar? Hm.. Ditemukan mayat pria?"
Surep bertanya dengan ramah, aku dan Ken saling berpandangan melihat apa yang dilakukan oleh maknae gagal tersebut.
Tampaknya gerombolan pria tersebut saling memandang satu sama lain dan memandang dengan heran ke arah Surep.
"Iya, itu benar tuan. Tapi yang selalu jadi korban adalah pria kaya. Entah tujuan apa si pelaku hanya membunuh pria kaya." ucap seorang pria yang memakai topi merah.
"Eh tapi kan 2 minggu yang lalu korbannya bukan pria kaya, tetapi pria miskin yang sok kaya." sela pria berbadan gempal itu.
"Seriuskah?" ucap mereka bersamaan.
"Yeah, kata pamanku yang seorang polisi berkata demikian."
Aku melihat Surep meneliti satu persatu dari gerombolan ini. Feeling ku mengatakan bahwa Surep sedang merencanakan sesuatu yang tanpa aku dan Ken tahu.
"Ada mayat!! Ada mayat pria di selokan." teriak salah satu pengunjung cafe ini.
Aku,Ken dan Surep saling menatap satu sama lain dan segera beranjak dari tempat kami menuju lokasi ditemukan nya mayat itu. Tak lupa pula aku meninggalkan beberapa lembar uang untuk membayar makanan kami.
***
0