- Beranda
- Stories from the Heart
Diary Si Jomblo Perak (Cerita Cinta, Komedi, Plus Horror)
...
TS
dylancalista
Diary Si Jomblo Perak (Cerita Cinta, Komedi, Plus Horror)

Hay agan dan aganwati, salam kenal. Ane new bie nih di kaskus, jadi mohon bantuannya untuk kasih saran atau kritik kalau cerita ane nnti rada mulai ngebosenin atau nggak nyambung.
Ane mau nulis cerita nih, tentang kehidupan jomblo yang ane lakoni, selama 25 tahun! Ceritanya nggak real 100%, tapi ada beberapa scene yang emang asli ane alami, Oo yah, Nama Ane Evan, keren ya nama ane? tapi sama teman-teman ane sering diplesetin jadi Epan, Yah, biar ga lama-lama berbasa basi, kita mulai aja ya gan? cekidot.
Quote:
Klik me!
Prolog
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14 (1)
Part 14 (2)
Part 15 (1)
Part 15 (2)
Part 16
Part 17 (1)
Part 17(2)
Part 17(2)
Part 18(1)
Part 18(2)
Part 19(1)
Part 19(2)
Part 19(3)
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 26(2)
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30(1)
Part 30(2)
Part 30(3)
Part 31(1)
Part 31(2)
Part 32(1)
Part 32(2)
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 36(2)
Part 36(3)
Part 37(1)
Part 37(2)
Part 38(1)
Part 38(2)
Part 39
Part 40(1)
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Diubah oleh dylancalista 27-03-2019 21:27
mrezapmrg97 dan 27 lainnya memberi reputasi
28
322.6K
1.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dylancalista
#333
Part 26- Part 2 (Maaf, untuk part ini untuk 17+)
Della: Kamu tak seharusnya berani berdiri di hadapan ku! Kamu harusnya berlutut padaku!
Gua: apaan sih Del?
Della melotot, gua sempet kaget melihat matanya yang gedenya kayak golf yang bikin merinding itu cengirannya yang kayak wajah menyengir tapi bukan nyengir cantik ya, tapi nyengir ala-ala film horror gitu. Gua baru aja ingin berjalan meninggalkannya, tapi tangan Della menghentikan langkah gua, cengkraman yang sangat kuat untuk ukuran seorang perempuan bertubuh mungil sepertinya.
Della: Kamu mau ke mana? Kamu harus membayar semua tindakan buruk yang kamu lakukan kepadaku!
Gua ingin melepaskan cengkraman Della, tapi makan lama makin kuat cengkramannya dan wajah Della berubah makin mengerikan, wajah yang tadinya cantik merona tampak berubah menjadi pucat pasi. Wajahnya seratus kali lebih mengerikan dari sebelumnya, dia tertawa keras. Gua merinding banget, cengkramannya makin keras dan gua berusaha melawan.
Della: Kau akan menyempurnakan diriku! Kau harus ikut bersamaku! Kau harus membayar semua yang sudah kau lakukan!
Gua masih berusaha melepaskan diri, sementara tangan gua berasa panas banget, sekujur tubuh gua berasa panas. Dia melepaskan cengkramannya dan malah mencekik leher gua sekarang, sampai gua susah bernafas. Gua nggak tahu apa maksud kata-kata dia tadi. Tapi yang jelas, semua yang dia perlihatkan pada keluarga gua dan gua berbanding terbalik dengan dia yang sekarang mencekik gua. Dengan keras seperti ini, gua udah nggak kuat. Gua nggak bisa melepaskan diri gua, sampai gua melihat Pakde Iyan menghampiri gua. Ntah apa yang dia lakukan, yang pasti dia melepaskan gua dari cekikan Della. Lalu gua nggak inget apa-apa lagi.
Van, Van...
Gua terbangun mendengar suara halus yang gua kenali memanggil nama gua, gua membuka mata dan melihat Kayla di hadapan gua. bersama Pakde Iyan. Gua menatap sekeliling untuk memastikan gua di kamar gua sekarang dan pastinya, nggak ada Della ataupun sosok-sosok mengerikan tadi.
Kayla: Syukurlah kamu sudah bangun
Pakde Iyan: Sudah, biarkan dia istirahat dulu, Kayla. Dia sepertinya sangat lelah
gua memegangi dada gua yang masih terasa sakit dan leher gua yang masih terasa perih, ntah apa yang gua alami tadi, yang pasti gua jera untuk melakukan hal tadi lagi. Gua menatap pakde Iyan yang duduk di samping tempat tidur gua dengan tatapan cemas.
Pakde Iyan: Syukurlah kamu masih bisa kembali
Gua: pakde nyaris membunuh aku
Pakde iyan menatap gua dengan tatapan bersalah, sementara kayla berusaha menengahi suasana kikuk antara gua dan Pakde sepertinya.
Kayla: Karna hanya dengan cara itu, kamu bisa melihat makhluk seperti apa yang mengincarmu, van. Pakde mu nggak punya cara lain. Lebih membahayakan membiarkanmu begitu daripada kamu nggak tahu siapa yang mengincarmu sebenarnya.
Pakde Iyan: Maafin Pakde, Pan
Gua menatap Pakde mencoba memahami posisi Pakde, sesuai perkataan Kayla tadi. Kayla masih saja menatap kami berdua yang diem-dieman.
Gua: Jadi yang mengincarku itu...
Pakde Iyan: Makhluk itu, Pakde khawatir sama kamu, Pan. bahkan di dunia roh pun kamu belum bisa menandinginya.
Gua: sebenarnya apa salah aku ya Pakde?
Pakde Iyan menggeleng pelan: Pakde nggak bisa menerawang itu. Kamu yang harusnya tahu, Pan.
Obrolan kami terhenti ketika Emak masuk ke kamar gua dengan tatapan cemas.
Emak: kata pakdemu, kamu tadi abis jatuh di rumahnya? udah baikan pan? kamu kok ceroboh banget jadi orang
Gua: Iya, maaf Mak.
Emak: Tuh, Della tadi ketemu Emak. Dia bilang besok mau ajak kamu jalan-jalan keliling desa
Deg!
Tubuh gua mendadak gemetar, membayangkan sosok itu dihadapan gua lagi bisa jantungan gua. pikiran gua masih terbayang-bayang wajahnya yang pucat pasi sedang menatap gua dengan kejamnya. Tapi gua harus menyelesaikan masalah ini, Pakde dan Kayla menatap gua cemas.
Gua: Rumahnya Della di mana sih, Mak?
Sesuai alamat yang Emak kasih, harusnya Della tinggal di ujung desa, di dekat bataran sungai. Gua meminjam sepeda Bapak untuk ke sana, pura-pura modusnya nganterin rantang yang waktu itu dia pinjamkan untuk membawa makanan yang dia berikan ke gua. Tapi belum sampai ke rumah Della, gua berhenti saat gua melihat Della bersama seorang pria dari jauh. Bukan pria desa sini sepertinya, wajah pria itu kurang jelas. tapi dari pakaiannya, kelihatan bahwa pria itu pendatang, bukan asli warga desa kami. Gua memincingkan mata untuk melihat lebih jelas, ya benar itu Della. Wajahnya tampak cantik, seperti terakhir gua bertemu di rumah gua ketika dia mengantarkan makanan untuk gua, Gua memarkirkan sepeda di dekat pos ronda dan memilih untuk berjalan agar memudahkan gua untuk melihat apa yang terjadi, mungkin saja itu pacarnya Della. Tapi gua penasaran dan gua coba mengikuti mereka. Mereka berjalan ke arah pemukiman penduduk, yang sepi, daerah pemukiman penduduk pendatang. Gua melihat mereka berdua memasuki sebuah rumah penduduk yang kalau di kampung gua seperti kos-kosannya gitu lah. Gua penasaran saat melihat mereka berdua berjalan ke salah satu kamar, feeling gua nggak enak. Gua melihat kamar yang mereka masuki dan kebetulan ada jendela yang menghadap ke arah kamar itu, jendela dari luar. Gua berjalan ke jendela itu dan ternyata di tutup, gua bepikir keras untuk mencari cara melihat ke dalam. ternyata di bawah jendela itu ada celah atau bolongan gitu, lubang kecil yang mungkin cuma muat satu mata untuk melihat ke dalam kamar itu. Dan gua mencoba untuk melihat ke dalam dengan cermat. Della dan pria tadi berpelukan, erat. Pria yang mungkin usianya seumuran gua itu mulai mengerayangi tubuh Della. lalu mencium bibir Della dengan ganas, Della membalasnya. Kemudian, pria itu membaringkan tubuh Della yang sudah setengah tanpa busana itu ke ranjang, dan bisa ditebak mereka melakukan hubungan suami istri. Gua mencoba memalingkan pandangan dari mereka dan mulai beranggapan bahwa mungkin mereka pasangan kekasih dan mungkin wajar mereka melakukannya. Gua bangun dari tempat gua mengintip dan akan beranjak pergi, tapi suara pria meronta terdengar dari dalam sana, gua kembali mengintip dan gua hampir nggak percaya melihatnya.
Della mencekik pria itu dan Della tampak menghirup sesuatu dari hidung pria itu, dan tak lama kemudian pria itu terjatuh ke lantai, gua melongo dan kaki gua lemas melihatnya.
Della: Kamu tak seharusnya berani berdiri di hadapan ku! Kamu harusnya berlutut padaku!
Gua: apaan sih Del?
Della melotot, gua sempet kaget melihat matanya yang gedenya kayak golf yang bikin merinding itu cengirannya yang kayak wajah menyengir tapi bukan nyengir cantik ya, tapi nyengir ala-ala film horror gitu. Gua baru aja ingin berjalan meninggalkannya, tapi tangan Della menghentikan langkah gua, cengkraman yang sangat kuat untuk ukuran seorang perempuan bertubuh mungil sepertinya.
Della: Kamu mau ke mana? Kamu harus membayar semua tindakan buruk yang kamu lakukan kepadaku!
Gua ingin melepaskan cengkraman Della, tapi makan lama makin kuat cengkramannya dan wajah Della berubah makin mengerikan, wajah yang tadinya cantik merona tampak berubah menjadi pucat pasi. Wajahnya seratus kali lebih mengerikan dari sebelumnya, dia tertawa keras. Gua merinding banget, cengkramannya makin keras dan gua berusaha melawan.
Della: Kau akan menyempurnakan diriku! Kau harus ikut bersamaku! Kau harus membayar semua yang sudah kau lakukan!
Gua masih berusaha melepaskan diri, sementara tangan gua berasa panas banget, sekujur tubuh gua berasa panas. Dia melepaskan cengkramannya dan malah mencekik leher gua sekarang, sampai gua susah bernafas. Gua nggak tahu apa maksud kata-kata dia tadi. Tapi yang jelas, semua yang dia perlihatkan pada keluarga gua dan gua berbanding terbalik dengan dia yang sekarang mencekik gua. Dengan keras seperti ini, gua udah nggak kuat. Gua nggak bisa melepaskan diri gua, sampai gua melihat Pakde Iyan menghampiri gua. Ntah apa yang dia lakukan, yang pasti dia melepaskan gua dari cekikan Della. Lalu gua nggak inget apa-apa lagi.
***
Van, Van...
Gua terbangun mendengar suara halus yang gua kenali memanggil nama gua, gua membuka mata dan melihat Kayla di hadapan gua. bersama Pakde Iyan. Gua menatap sekeliling untuk memastikan gua di kamar gua sekarang dan pastinya, nggak ada Della ataupun sosok-sosok mengerikan tadi.
Kayla: Syukurlah kamu sudah bangun
Pakde Iyan: Sudah, biarkan dia istirahat dulu, Kayla. Dia sepertinya sangat lelah
gua memegangi dada gua yang masih terasa sakit dan leher gua yang masih terasa perih, ntah apa yang gua alami tadi, yang pasti gua jera untuk melakukan hal tadi lagi. Gua menatap pakde Iyan yang duduk di samping tempat tidur gua dengan tatapan cemas.
Pakde Iyan: Syukurlah kamu masih bisa kembali
Gua: pakde nyaris membunuh aku
Pakde iyan menatap gua dengan tatapan bersalah, sementara kayla berusaha menengahi suasana kikuk antara gua dan Pakde sepertinya.
Kayla: Karna hanya dengan cara itu, kamu bisa melihat makhluk seperti apa yang mengincarmu, van. Pakde mu nggak punya cara lain. Lebih membahayakan membiarkanmu begitu daripada kamu nggak tahu siapa yang mengincarmu sebenarnya.
Pakde Iyan: Maafin Pakde, Pan
Gua menatap Pakde mencoba memahami posisi Pakde, sesuai perkataan Kayla tadi. Kayla masih saja menatap kami berdua yang diem-dieman.
Gua: Jadi yang mengincarku itu...
Pakde Iyan: Makhluk itu, Pakde khawatir sama kamu, Pan. bahkan di dunia roh pun kamu belum bisa menandinginya.
Gua: sebenarnya apa salah aku ya Pakde?
Pakde Iyan menggeleng pelan: Pakde nggak bisa menerawang itu. Kamu yang harusnya tahu, Pan.
Obrolan kami terhenti ketika Emak masuk ke kamar gua dengan tatapan cemas.
Emak: kata pakdemu, kamu tadi abis jatuh di rumahnya? udah baikan pan? kamu kok ceroboh banget jadi orang
Gua: Iya, maaf Mak.
Emak: Tuh, Della tadi ketemu Emak. Dia bilang besok mau ajak kamu jalan-jalan keliling desa
Deg!
Tubuh gua mendadak gemetar, membayangkan sosok itu dihadapan gua lagi bisa jantungan gua. pikiran gua masih terbayang-bayang wajahnya yang pucat pasi sedang menatap gua dengan kejamnya. Tapi gua harus menyelesaikan masalah ini, Pakde dan Kayla menatap gua cemas.
Gua: Rumahnya Della di mana sih, Mak?
****
Sesuai alamat yang Emak kasih, harusnya Della tinggal di ujung desa, di dekat bataran sungai. Gua meminjam sepeda Bapak untuk ke sana, pura-pura modusnya nganterin rantang yang waktu itu dia pinjamkan untuk membawa makanan yang dia berikan ke gua. Tapi belum sampai ke rumah Della, gua berhenti saat gua melihat Della bersama seorang pria dari jauh. Bukan pria desa sini sepertinya, wajah pria itu kurang jelas. tapi dari pakaiannya, kelihatan bahwa pria itu pendatang, bukan asli warga desa kami. Gua memincingkan mata untuk melihat lebih jelas, ya benar itu Della. Wajahnya tampak cantik, seperti terakhir gua bertemu di rumah gua ketika dia mengantarkan makanan untuk gua, Gua memarkirkan sepeda di dekat pos ronda dan memilih untuk berjalan agar memudahkan gua untuk melihat apa yang terjadi, mungkin saja itu pacarnya Della. Tapi gua penasaran dan gua coba mengikuti mereka. Mereka berjalan ke arah pemukiman penduduk, yang sepi, daerah pemukiman penduduk pendatang. Gua melihat mereka berdua memasuki sebuah rumah penduduk yang kalau di kampung gua seperti kos-kosannya gitu lah. Gua penasaran saat melihat mereka berdua berjalan ke salah satu kamar, feeling gua nggak enak. Gua melihat kamar yang mereka masuki dan kebetulan ada jendela yang menghadap ke arah kamar itu, jendela dari luar. Gua berjalan ke jendela itu dan ternyata di tutup, gua bepikir keras untuk mencari cara melihat ke dalam. ternyata di bawah jendela itu ada celah atau bolongan gitu, lubang kecil yang mungkin cuma muat satu mata untuk melihat ke dalam kamar itu. Dan gua mencoba untuk melihat ke dalam dengan cermat. Della dan pria tadi berpelukan, erat. Pria yang mungkin usianya seumuran gua itu mulai mengerayangi tubuh Della. lalu mencium bibir Della dengan ganas, Della membalasnya. Kemudian, pria itu membaringkan tubuh Della yang sudah setengah tanpa busana itu ke ranjang, dan bisa ditebak mereka melakukan hubungan suami istri. Gua mencoba memalingkan pandangan dari mereka dan mulai beranggapan bahwa mungkin mereka pasangan kekasih dan mungkin wajar mereka melakukannya. Gua bangun dari tempat gua mengintip dan akan beranjak pergi, tapi suara pria meronta terdengar dari dalam sana, gua kembali mengintip dan gua hampir nggak percaya melihatnya.
Della mencekik pria itu dan Della tampak menghirup sesuatu dari hidung pria itu, dan tak lama kemudian pria itu terjatuh ke lantai, gua melongo dan kaki gua lemas melihatnya.
adityazafrans dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup
