- Beranda
- Stories from the Heart
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
...
TS
taucolama
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
Quote:
Quote:
Quote:
Spoiler for Prolog:
Quote:
Quote:
Yang suka mohon Rate,Komen, Share.Diubah oleh taucolama 28-02-2017 07:49
afrizal7209787 dan 47 lainnya memberi reputasi
42
1M
1.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
taucolama
#1235
Kegelapan Part 3 😈
Aku masih terdiam memikirkan kejadian siang tadi. Viona sambil menggendong Anisa duduk disampingku. Aku memandangi kedua belahan jiwaku.
"yang, masih mikirin usaha cafe?": tanya Viona.
"Iya kenapa gara gara usaha ada orang yang berusaha mencelakai kita": kataku.
"Ya pikiran orang kan berbeda, kalau usaha cafe baru itu membuat keluarga kita terganggu lebih baik ditutup aja": kata Viona.
"Iya, tapi kan kasian karyawan ": jawabku.
"Sebenernya bisa diover aja ke cafe lama, lagi pula semenjak buka cafe baru ayang pergi pagi pulangnya malem waktu buat keluarga sebentar. Lagian penghasilan yg dulu cukup buat kita. ": kata Viona.
'Maaf, aku coba luangkan waktu lebih banyak untuk kamu dan Anisa.": kataku.
"Makasih, aku lebih suka hidup sederhana tapi bahagia punya waktu dengan keluarga lebih banyak.": kata Viona
Aku tersenyum, Viona begitu baik tak pernah menuntut banyak hal. Begitu pengertian dan sabar, aku tak salah pilih memilih pasangan hidup. Tiba tiba kurasakan getaran getaran tak enak. Aku segera meningkatkan kewaspadaanku. Ku membaca doa memohon perlindungan.
"Yang, bawa Anisa kekamar ajak ibu dan bibi juga, ingat apapun yang terjadi tetap dikamar bantu berdoa ya": kataku.
"Iya, hati hati ": kata Viona.
Aku merasakan ada beberapa sosok beraura hitam kelam berada diluar sana. Tiba tiba hembusan angin kencang disertai hawa panas terasa diruangan ini. Terdengar suara gemuruh guntur dan terdengar seperti benda berat terjatuh disertai lantai yang kuinjak bergetar.
Tampak bayangan samar yang lama kelamaan semakin jelas. Sosok kakek tua berambut putih panjang berbaju silat hadir diruangan ini. Aura gelap kelam disertai hawa panas mengisi ruangan ini. Padahal sosok kakek ini hadir dengan sedikit kekuatannya tapi bisa membuatku bergetar. Bila sosok kakek ini menjadi musuhku, aku belum tentu mampu menghadapinya.
"Aki": kataku.
"Incu, aki datang rek mantuan maneh (cucu, kakek datang mau membantu kamu)": kata sosok aki.
"Hatur nuhun, ki (terimakasih, kek)": kataku.
"Ulah didieu karunya kakaluarga maneh, hayu urang pindah (jangan disini kasian kekeluarga kamu, ayo kita pindah)": kata sosok aki.
Sekejap mata aku merasa berada di alam lain. Sosok sosok pengganggu kini kelihatan jelas. Ternyata sosok sosok yang hendak mencelakai keluargaku di kirim guru dari orang yang pernah kucekik ketika mengusir sosok wanita menyeramkan
Sosok yg disebut guru itu adalah seorang kakek tua yang sangat kurus hingga tampak tulang tulangnya menonjol, matanya seperti menonjol keluar dan anehnya sosok orang itu juga berambut panjang, dengan kuku kuku panjang berwarna hitam.
Belum lagi sosok nenek tua bertaring panjang dan dua sosok makhluk berbulu lebat bertaring panjang yang meneteskan air liur. Aku merasakan aura gelap menyelimuti para makhluk itu. Tiba tiba ada sosok beraura terang dan berenergi positif hadir disisiku. Wajahnya tampak seperti bersinar. Sosok itu mengenalkan diri sebagai eyang. Pandangan mata sosok eyang yang satu ini begitu teduh.
Eyang menyentuh bahuku, sentuhan eyang terasa hangat.
"Jangan takut nak, kita bersama melawan mereka": kata sosok Eyang.
Aku masih terdiam memikirkan kejadian siang tadi. Viona sambil menggendong Anisa duduk disampingku. Aku memandangi kedua belahan jiwaku.
"yang, masih mikirin usaha cafe?": tanya Viona.
"Iya kenapa gara gara usaha ada orang yang berusaha mencelakai kita": kataku.
"Ya pikiran orang kan berbeda, kalau usaha cafe baru itu membuat keluarga kita terganggu lebih baik ditutup aja": kata Viona.
"Iya, tapi kan kasian karyawan ": jawabku.
"Sebenernya bisa diover aja ke cafe lama, lagi pula semenjak buka cafe baru ayang pergi pagi pulangnya malem waktu buat keluarga sebentar. Lagian penghasilan yg dulu cukup buat kita. ": kata Viona.
'Maaf, aku coba luangkan waktu lebih banyak untuk kamu dan Anisa.": kataku.
"Makasih, aku lebih suka hidup sederhana tapi bahagia punya waktu dengan keluarga lebih banyak.": kata Viona
Aku tersenyum, Viona begitu baik tak pernah menuntut banyak hal. Begitu pengertian dan sabar, aku tak salah pilih memilih pasangan hidup. Tiba tiba kurasakan getaran getaran tak enak. Aku segera meningkatkan kewaspadaanku. Ku membaca doa memohon perlindungan.
"Yang, bawa Anisa kekamar ajak ibu dan bibi juga, ingat apapun yang terjadi tetap dikamar bantu berdoa ya": kataku.
"Iya, hati hati ": kata Viona.
Aku merasakan ada beberapa sosok beraura hitam kelam berada diluar sana. Tiba tiba hembusan angin kencang disertai hawa panas terasa diruangan ini. Terdengar suara gemuruh guntur dan terdengar seperti benda berat terjatuh disertai lantai yang kuinjak bergetar.
Tampak bayangan samar yang lama kelamaan semakin jelas. Sosok kakek tua berambut putih panjang berbaju silat hadir diruangan ini. Aura gelap kelam disertai hawa panas mengisi ruangan ini. Padahal sosok kakek ini hadir dengan sedikit kekuatannya tapi bisa membuatku bergetar. Bila sosok kakek ini menjadi musuhku, aku belum tentu mampu menghadapinya.
"Aki": kataku.
"Incu, aki datang rek mantuan maneh (cucu, kakek datang mau membantu kamu)": kata sosok aki.
"Hatur nuhun, ki (terimakasih, kek)": kataku.
"Ulah didieu karunya kakaluarga maneh, hayu urang pindah (jangan disini kasian kekeluarga kamu, ayo kita pindah)": kata sosok aki.
Sekejap mata aku merasa berada di alam lain. Sosok sosok pengganggu kini kelihatan jelas. Ternyata sosok sosok yang hendak mencelakai keluargaku di kirim guru dari orang yang pernah kucekik ketika mengusir sosok wanita menyeramkan
Sosok yg disebut guru itu adalah seorang kakek tua yang sangat kurus hingga tampak tulang tulangnya menonjol, matanya seperti menonjol keluar dan anehnya sosok orang itu juga berambut panjang, dengan kuku kuku panjang berwarna hitam.
Belum lagi sosok nenek tua bertaring panjang dan dua sosok makhluk berbulu lebat bertaring panjang yang meneteskan air liur. Aku merasakan aura gelap menyelimuti para makhluk itu. Tiba tiba ada sosok beraura terang dan berenergi positif hadir disisiku. Wajahnya tampak seperti bersinar. Sosok itu mengenalkan diri sebagai eyang. Pandangan mata sosok eyang yang satu ini begitu teduh.
Eyang menyentuh bahuku, sentuhan eyang terasa hangat.
"Jangan takut nak, kita bersama melawan mereka": kata sosok Eyang.
jenggalasunyi dan 7 lainnya memberi reputasi
6
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/12/02/9119792_201612020532230372.jpg)
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://dl.kaskus.id/i1109.photobucket.com/albums/h440/awtian/ob9bzx9x-1.gif)
A :
INDEX