Kaskus

Story

antinakabaAvatar border
TS
antinakaba
clbk (kalau jodoh takkan kemana)
namaku Nana. Aku anak bungsu dari 6 bersaudara. selama ini, aku tidak pernah merasakan yang namanya pacaran. Bukannya ndak ada yang naksir, tapi memang aku ndak suka liat orang pacaran, kayak suami istri aja. kenapa ndak kimpoi aja sekalian. malah ada yang pacarannya sampe 9 tahun, pas nikah hanya bertahan 9 bulan. menurut aku, pacaran itu yang bukan sifat aslinya, pas nikah baru deh keliatan. Hingga saat itu tiba....

Waktu itu banyak teman kuliahku yang sering ngumpul di rumah. Biasalah, di awal2 semester, tugas kita menumpuk, n kebetulan yang punya kompi masih bisa diitung jari. Alhamdulillah aku diberi rezeki memiliki komputer. Jadinya, teman2 pada ngerjain tugas dirumahku.

Quote:


Yah, gitu deh. Aku mmg termasuk cewek yang cuek, keras kepala, dan sebagian orang bilang aku ini jaim. Entahlah, penilaian orang terhadap diri kita memang berbeda2. Kita bisa tahu bagaimana sifat kita dari orang2 yang berada di sekitar kita, bukan dari diri kita pribadi saja.


Spoiler for sesion 1:



Spoiler for sesion ke 2:




لاَ يَخْلُوَن رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلا وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ. وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ
“Janganlah seseorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali wanita tersebut disertai mahramnya, dan janganlah wanita melakukan safar kecuali disertai mahramnya” (Muttafaqun ‘alaihi – red)

Diubah oleh antinakaba 03-03-2017 15:21
0
52.7K
460
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
antinakabaAvatar border
TS
antinakaba
#280
flashback (sudut pandang ilo) bag 3
Beberapa bulan kemudian, shuzu hamil lagi. Aku benar2 subur, padahal sejak zakariya lahir, aku selalu azl, tapi jadi juga..he..he..
Suatu ketika, aku pergi ke pernikahan teman. Sepulang dari pernikahan...
Shuzu : zaujy, tau nggak aku tadi ketemu siapa
Ilo : yah banyaklah pastinya, kan acaranya rame skali kan
Shuzu : aku ketemu nana. Dia sekarang gemuk, makin cantik deh.
Ilo : oh ya? Artinya hidupnya bahagia dong. Tapi aku nggak liat suaminya.
Shuzu : dia tadi pergi rame2 sama ummahat lain
Ilo : dia udah punya anak
Shuzu : kayaknya belum tuh. Enggak terasa yah udah lima tahun mereka nikah tapi belum dikarunia seorang anak. Aku bersyukur udah hampir 3. Bisa banyak yang mendoakan kalau aku meninggal.
Ilo : iya, alhamdulillah. Walaupun kita juga kaget kok bisa jadi yah
Shuzu : namanya rezeki enggak bisa ditolaklah.
Selang beberapa lama, shuzu kedatangan tamu. Ternyata tante yang merawat dia sejak ibunya meninggal. Dia baru pulang dari TKW dan lari karena tidak tahan dengan perlakuan majikan barunya. Shuzu sangat senang dengan kedatangan tantenya. Dia betul2 melayani tantenya, sebagai bentuk terima kasih karena telah merawat shuzu dari kecil. Aku sempat jengkel juga, karena semua pekerjaan rumah shuzu yang kerjakan hingga shuzu kelelahan. Aku sempat bertengkat dengan shuzu. Setidak2nya kan tantenya bisa bantu2 juga, jangan karena menuntut balas budi sampai2 membiarkan shuzu mengerjakan semua pekerjaan rumahnya.
Ilo : mau berapa lama sih tantemu disini
Shuzu : aku juga tak tau zaujy. Belum ada kejelasan kapan tante pulang. Tapi aku senang kok, aku bisa membalas budi tanteku.
Ilo : tapi kamu kecapean. Apalagi kamu lagi hamil. Kamu pikirkan kesehatanmu juga dong. Kamu juga tidak punya waktu untuk melayani aku.
Shuzu : maafkan aku zaujy. Kumohon ijinkan aku membalas budi tanteku yah. Aku tau aku salah karena tidak sanggup lagi melayanimu di ranjang karena kecapean. Tapi aku mohon pengertianmu. Kalau tanteku udah pulang, aku servis kamu deh, 5 x sehari juga boleh.
Ilo : iya, tapi kapan? Bisa2 aku sakit prostat lagi, udah sampai ubun2 nih.
Shuzu : sabar yah sayang. Aku istirahat dulu.
Ilo : huh
Akhirnya tantenya pun pulang. Suatu hari ada telpon dari bapaknya menanyakan kapan perkiraan shuzu melahirkan. Beliau rencana berkunjung karena rindu pengen ketemu cucunya. Bayangkan, hari pernikahan shuzu saja bapaknya tidak bisa hadir, dan sampai sekarang dia belum sempat melihat kedua cucunya. Ibu tiri shuzu sangat kejam. Dia yang selalu menghalang2i bapak shuzu untuk bertemu. Dia takut hartanya akan dibagi ke shuzu.
Menjelang kelahiran anak kami yang ketiga, bapak shuzu datang. Itupun harus pergi secara diam, karena kalau ketahuan istrinya, pasti gagal lagi dia berangkat. Pertemuan antara bapak dan anak sangat mengharukan. Betapa bahagianya shuzu bisa bertemu ayahnya, hingga seperti waktu kedatangan tantenya, kembali dia menomorduakan aku. Suatu malam aku minta jatah, namun shuzu menolak, aku marah dan masuk kamar sambil tidur2an.
Malamnya sebelum shuzu melahirkan, shuzu datang padaku:
Shuzu : zaujy mau jima’ yah?
Ilo : diam
Shuzu : aku siap zaujy. Aku ingin melayani zaujy sebelum aku melahirkan. Zaujy tau kan setelah melahirkan aku akan mengalami nifas selama 40 hari. Aku tidak tega melihat zaujy menunggu selama itu.
Akupun jima’ dengan shuzu dengan gaya yang sesuai dengan orang hamil besar. Gaya kami memang menoton, begitu2 saja. Belakangan baru kutahu kalau dengan gaya seperti itu, lebih mudah hamil dibanding gaya yang lain.
Keesokan harinya, Sepulang kerja, shuzu sudah kesakitan pertanda ingin melahirkan. Akupun segera membawanya ke tempat bersalin naik motor. Di tengah jalan, shuzu sudah tidak tahan. Terpaksa aku singgah di rumah sakit bersalin yang terdekat, karena tempat shuzu biasa periksa masih jauh.
Shuzu : zaujy, doakan aku yah
Ilo : iya sayang. Kamu nyebut syahadat berulang2 yah sayang (akupun mentalqinnya)
Shuzu : zaujy, kayak shuzu mau mati saja. inikan sudah anak ketiga
Ilo : yah ndak apa2 kan nyebut nama Allah sebanyak2nya
Shuzu : zaujy udah dzikir petang?
Ilo : kan belum ashar
Shuzu : kalau gitu, shuzu aja yang dzikir. Takutnya nanti bayinya keburu lahir shuzu nggak sempat lagi dzikirnya. (sambil berdzikir sayyidul istighfar).
Ilo : tuh udah adzan. Aku ke masjid dulu yah, mau sholat
Shuzu : jangan lama2 yah zaujy
Ilo : iya, tunggu aku yah. Aku mau liat anakku lahir
Akupun ke masjid untuk menunaikan sholat ashor. Setelah sholat, aku kaget, lho...motor aku dimana? Kok hilang... Astagfirullah, siapa sih yang tega2 mencuri motor disaat genting begini. Terpaksa aku lari menuju rumah sakit yang lumayan jauh. Terdengar suara orang berkuat tanda mau melahirkan. Akupun segera masuk ke ruang bersalin dan kulihat shuzu lagi berjuang. Akupun mendekat. Kupegang tangannya dan kubisikkan dzikir2 agar dia kuat. Dan suara tangis bayi pun terdengar. Alhamdulillah, bayi kami laki2.
Ilo : shuzu, bayi kita laki2 lagi
Shuzu : diam
Ilo : shuzu, kamu dengar aku tidak
Shuzu masih diam
Ilo : SUSTER, ISTRI SAYA KENAPA! SUSTER, TOLONG ISTRI SAYA PINGSAN
Suster segera menangani shuzu. Ya Allah, ada apa ini. Tidak biasanya shuzu begini. Kelahiran pertama dan kedua normal2 saja. segera kutelpon bapak untuk kerumah sakit. Kutelpon abi untuk menjemput anak2 di rumah.
Ilo : suster, istri saya kenapa?
Suster : sepertinya dia punya penyakit jantung. Dia harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar karena kami tidak memiliki fasilitas untuk menanganinya.
Ilo : tolong suster, usahakan istri saya bisa pulih kembali
Shuzu dimasukkan ke ambulans. Untung bapaknya juga sudah tiba di rumah sakit. Kami berdua ikut di dalam ambulans. Namun terlambat, shuzu meninggal di perjalanan. Kulihat ada keringat di dahi shuzu. Ya Allah, aku mencintai istriku, tapi ternyata Engkau lebih mencintainya. Begitu banyak tanda2 mati syahid yang engkau berikan. Terlihat senyum shuzu di wajahnya. Aku ikhlas ya Allah. Semoga shuzu bahagia di sisiMu.
Kulihat bapaknya tertunduk dan menangis. Sepertinya dia menyesal karena waktu bersama shuzu hanya 3 hari. Mungkin bapaknya juga sudah punya firasat shuzu akan meninggal karena dia sudah tidak memperdulikan istrinya yang selalu menahannya untuk bertemu dengan shuzu.
Jenazah shuzu dibawa ke rumah ortuku. Rencana penyelenggaraan jenazah di rumah ortu. Usai sholat subuh, akupun mempersiapkan perlengkapan penyelenggaraan jenasah. Aku lihat nana juga hadir, nana menatapku dengan wajah sedih. Aku tau dia sangat ingin menghiburku. Kulihat dia masuk kamar, sepertinya dia mencari anak2 shuzu. Akupun mengangkat jenazah shuzu ke tempat dimana dia akan dimandikan. Sekembalinya, aku berpapasan dengan nana, dia menuntun nailah melihat umminya untuk terakhir kalinya. Kudengar pembicaraan orang2 yang ada di ruangan tersebut mencari 1 orang lagi yang akan memangku jenazah shuzu, dan ternyata nana mengajukan dirinya untuk memangku shuzu di bagian kepalanya. Aku terharu melihat kesediaan nana.
Akhirnya jenasah shuzu dimakamkan di pekuburan dekat rumahku. Shuzu disholatkan 2 kali, pertama di masjid dekat rumah ortuku, dan kedua, di masjid dekat rumahku. Sahabat2 shuzu begitu bersedih, sampai2 ummu dihyah pingsan beberapa kali saking sedihnya. Dia sahabat terbaik shuzu.
Sepeninggal shuzu, hidupku rasanya hampa. Aku tidak semangat untuk berangkat kerja. Aku tidak peduli kalau aku dipecat. Oh ya, motorku ternyata tidak hilang. Motor aku tinggal di rumah sakit dan ke masjid dengan jalan kaki. Abi waktu itu ke rumah sakit minta kunci motor untuk dbawa pulang. Mungkin saat aku tak bisa melihat motorku, merupakan pertanda bahwa aku akan kehilangan sesuatu yang ternyata lebih berharga. Kalau saja aku bisa memilih, biarlah motorku hilang daripada shuzu yang harus pergi meninggalkanku.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.