Lalu lintas di sini bisa dibilang sepi – tidak terlalu ramai- dan cukup terang mengingat hotel tempatku menginap berada tepat di sebelah mall yang cukup di terkenal di jogja. “Amplaz” yah begitu orang-orang menyebutnya. Aku pun mulai melangkah menuju Angkringan tersebut, karena lalu lintas yang tidak begitu ramai memudahkanku untuk menyeberang melewati salah satu jalan utama kota jogja tsb. “ Pasti ramai banget nih tempat kalau siang hari “ pikirku.
Aku pun mulai mendekati warung sederhana bertenda biru itu, dan melihat-lihat makanan apa saja yang di sajikan di angkringan tersebut, aku melihat beberapa tusuk sate yang bermacam-macam mulai dari telur puyuh, usus ayam-mungkin- ati, daging, dan ada pula bungkusan yang aku rasa berisi nasi kucing – hanya menerka-nerka-
“Mas...” Sapaku dengan suara agak parau, aku sempat bingung memilih sapaan yang cocok, aku tau beberapa jenis sapaan baik formal maupun non-formal, seperti mas, mbak, bahkan ada kata coeg/cuk yang berarti bro kalau di translate ke dalam bahasa gaulnya anak jakarta.
“ Iya... mau makan apa ?” Tanya mas itu
“ Ini isinya– sambil menunjuk bungkusan yang aku terka merupakan nasi kucing- nasi kucing ya mas ?” “ Iya teh...isinya ada nasi, sambel sama ikan asin “ jawabnya dengan sedikit senyum
“ Hmm... nasinya satu......dua deh hehehe, telur tusuknya dua sama minumnya...” jawabku sambil berusaha memilih minuman yang akan menjadi pendamping sarapanku pagi ini “ Bungkus atau makan sini teh..? “ tanya mas penjual angkringan tersebut dan memotong lamunanku -kebingunganku dalam memilih minuman-.
“ Ah...di bungkus aja mas, minumnya es teh ya satu – minuman dingin emang gak nahan dah..he..he” tawaku dalam hati dengan sedikit rasa bersalah karena gagal sarapan dengan yang hangat-hangat
Aku pun duduk di angkringan tersebut sembari menunggu mas tersebut menyiapkan pesananku. Suasana di angkringan ini entah-bagaimana terasa lebih hangat, seperti ada pembatas antara angkringan ini dengan dunia diluar sana dan aku sepertinya mulai mengerti, mengapa banyak orang yang suka sekali duduk-duduk -sambil bersenda gurau- di angkringan untuk membunuh waktu yang ada.
“ Teh.....ini semuanya jadi Rp. 12.000 “ Katanya sambil memastikan pesananku tidak ada yang terlupakan. “ Rp. 12.000 ya mas ? “ tanyaku sembari mengeluarkan dompet hadiah ulang tahun kemarin dari mama dan menyerahkan dua lembar uang 10.000
Mas tersebut pun membuka laci yang berada di sebelah kanan gerobaknya, dan mengeluarkan uang kembalian sebanyak Rp. 8000 “ ini teh kembaliannya... receh gapapa ya “ kata mas itu sambil tersenyum
“ iya mas gapapa, terimakasih “ jawabku dengan senyuman pula
Ini salah satu kebiasaan unik di negeriku tidak peduli siapa yang menolong ataupun di tolong kami tetap berusaha mengucapkan kata terimakasih. Aku pun kembali berjalan menuju hotel melewati suhu udara yang sudah mulai bersahabat ditemani cahaya sang fajar yang mulai menampakkan dirinya sedikit demi sedikit.
-iv-