- Beranda
- Stories from the Heart
FADED...
...
TS
menghilanglupa
FADED...
thanks a lot for impressively beautiful cover nya
Quote:
FADED
Dengan hati terbuka,
izinkan aku untuk berbagi rasa, yang apabila ku pendam sendiri nyatanya hanya membawa resah, hanya hampa tanpa kata ketika aku coba pendam dalam dada.
Aku tau, pilu hanya akan kelabu jika aku tak bergerak maju, dan aku paham, menahan dalam kelam pada akhirnya hanya membawa keresahan.
maka dengan segala kerendahan hati, aku ingin coba menbagikan. sebuah kisah tak berujung yang sampai saat ini aku pendam, sendiran
izinkan aku untuk berbagi rasa, yang apabila ku pendam sendiri nyatanya hanya membawa resah, hanya hampa tanpa kata ketika aku coba pendam dalam dada.
Aku tau, pilu hanya akan kelabu jika aku tak bergerak maju, dan aku paham, menahan dalam kelam pada akhirnya hanya membawa keresahan.
maka dengan segala kerendahan hati, aku ingin coba menbagikan. sebuah kisah tak berujung yang sampai saat ini aku pendam, sendiran

Quote:
Pertemuan terkadang menghasilkan sesuatu yang sulit untuk dilupakan,
pertemuan juga kadang membuat kita penuh keheranan,
mengapa waktu begitu ahli dalam mengatur detak hati yang seakan hampir mati.
Pertemuan yang indah selalu membuat kita tak merasa lelah. Ada sebuah gairah yang membuat kita semangat dan tak hentinya tersenyum hingga melupakan resah,
adakalanya pertemuan terjadi begitu tiba-tiba, tanpa permisi atau memberi tanda.
Inilah yang terjadi saat ini,
lagi sebuah pertemuan yang sempat membuat hati bertanya sejuta arti.
Apakah gerangan yang membuat jantung begitu berdetak lebih kencang dari bisanya,
hati bergetar lebih cepat dan napas pun adakalanya ikut-ikutan tak stabil dalam menjalankan fungsinya,
sedikit berlebihan memang,
tapi beginilah keadaannya. Efek dari sebuah pertemuan yang aku khawatirkan akan berubah menjadi sebuah harapan,
yang semakin lama semakin aku rasakan kebenarannya.
Tapi sekali lagi,
siapa yang bisa melawan jika hati telah menentukan pilihan untuk berlabuh.
Sekuat apapun raga, jika hati telah memaksa untuk jatuh kedalam rasa yang dinamakan cinta,
maka semua raga dan segenap jiwa akan bertekuk lutut pada hati,
dan itu tandanya, jatuh cinta telah nyata akan hadirnya.
pertemuan juga kadang membuat kita penuh keheranan,
mengapa waktu begitu ahli dalam mengatur detak hati yang seakan hampir mati.
Pertemuan yang indah selalu membuat kita tak merasa lelah. Ada sebuah gairah yang membuat kita semangat dan tak hentinya tersenyum hingga melupakan resah,
adakalanya pertemuan terjadi begitu tiba-tiba, tanpa permisi atau memberi tanda.
Inilah yang terjadi saat ini,
lagi sebuah pertemuan yang sempat membuat hati bertanya sejuta arti.
Apakah gerangan yang membuat jantung begitu berdetak lebih kencang dari bisanya,
hati bergetar lebih cepat dan napas pun adakalanya ikut-ikutan tak stabil dalam menjalankan fungsinya,
sedikit berlebihan memang,
tapi beginilah keadaannya. Efek dari sebuah pertemuan yang aku khawatirkan akan berubah menjadi sebuah harapan,
yang semakin lama semakin aku rasakan kebenarannya.
Tapi sekali lagi,
siapa yang bisa melawan jika hati telah menentukan pilihan untuk berlabuh.
Sekuat apapun raga, jika hati telah memaksa untuk jatuh kedalam rasa yang dinamakan cinta,
maka semua raga dan segenap jiwa akan bertekuk lutut pada hati,
dan itu tandanya, jatuh cinta telah nyata akan hadirnya.
Quote:
FADED
Bab. 3
Shadow
Intermezzo
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Intermezzo
Shadow
Intermezzo
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Intermezzo
Bab 4.
Shadow become light
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Intermezzo
Shadow become light
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Intermezzo
the end
Spoiler for dari agan-agan :
Quote:
Quote:
Original Posted By canisfamiliaris►
OLA
Bagai abu arang sate yang terbang
Percikan debu hanya mampu berlalu
Wahai angin, apa salahku?
Kenapa harus aku?
Kau terbangkan aku
Kau ombang-ambingkan aku
Kau hempaskan aku
Kau bawa pergi jiwaku
Jauh......Jauh hingga aku lupa
Lupa akan tiada gunanya aku
Lupa tempatku
Lupa jati diriku
Jika itu kehendakmu, bawalah aku
Bawa aku bersamamu
Bawa aku kemanapun kau mau
Aku yang hanya pelengkapmu
Aku yang hanya mengotorimu
Tak mampuku tanpamu
Bersamamu aku menjadi sesuatu
Jangan kau pudarkan asaku
Bagai abu arang sate yang terbang
Percikan debu hanya mampu berlalu
Wahai angin, apa salahku?
Kenapa harus aku?
Kau terbangkan aku
Kau ombang-ambingkan aku
Kau hempaskan aku
Kau bawa pergi jiwaku
Jauh......Jauh hingga aku lupa
Lupa akan tiada gunanya aku
Lupa tempatku
Lupa jati diriku
Jika itu kehendakmu, bawalah aku
Bawa aku bersamamu
Bawa aku kemanapun kau mau
Aku yang hanya pelengkapmu
Aku yang hanya mengotorimu
Tak mampuku tanpamu
Bersamamu aku menjadi sesuatu
Jangan kau pudarkan asaku
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 210 suara
[ SPOILER ] HATI DIYAS BAKAL BERLABUH KE SIAPA ?
OLA
80%
RHEA
10%
VELIN
10%
Diubah oleh menghilanglupa 14-01-2017 21:33
jenggalasunyi dan 8 lainnya memberi reputasi
7
484.2K
Kutip
2.9K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
menghilanglupa
#2721
light
Part 9
"mas gue pengen nanya deh"
ditengah tawa yang mulai mereda, gue nyoba kembali serius ke dipa
"apaan ?"
"lo cerita apa aja ke rhea mas ?"
"cerita ? bentar, mm perasaan enggak deh"
"ayolah mas"
"gue lebih tepatnya cuman ngejawab aja"
"ngejawab apa ?"
"tentang lo sama ola"
gue lalu diem, gue udah tau persis apa yang dipa ceritain, dipa ini tipe orang yang plas plos orangnya, selama itu gak negatif, dia bakal cerita terbuka dan apa adanya.
"eh yas"
"apa ?"
"btw masalah lo sama rhea udah kelar ?"
"udah mas"
"good"
saat itu gue langsung beranjak tidur, rasanya gue pengen cepet-cepet balik.
tapi ditengah tengah lelepan gue, tiba-tiba pintu kamar ada yang ngetuk, saat itu yang inisiatif ngebuka pintu si dipa.
"eh olaaa"
samar gue denger kakak gue bilang gitu
"YAAAS NIH ADA OLA !!"
oke kali ini beneran jelas, ola yang dateng, dan sekarang udah jam 2 pagi -_-
"apaa laa"
sambil rada males gue nyamperin ola ke luar.
"cemilan gue mana yas ?"
"eh cemilan, oh itu punya lo ? udah abis tadi"
"yaaah"
"waduh gimana dong ? sorry atuh yaa"
"bungkusnya mana ? jangan bilang lo tinggal gitu aja yas"
"ooh iyaa, busseeet gue lupa, masih diatas laaa"
"yaudah ambil"
iya sih, ola ada benernya, gak seharusnya kita nyampah di rumah tetangga, dirumah sendiri aja kita suka emosyi kan kalo ada orang yang buang sampah sembarangan, rasanya pengen ngejitak kepalanya.
"oh bentar gue ambil la"
gue lalu pergi lagi ke rooftop dan gue liat ola ngikutin gue di belakang
"nah ini"
gue bilang gitu sambil niat mau balik lagi ke bawah
"yas, bentar deh"
"eh apalagi la ?"
"gue mau tanya, lo tadi ngobrol apa aja ke rhea ?"
"ya gitu deeh"
"ya gitu deh apa, jujur aja yas sama gue ? gue gak papa kok"
kali ini ola mulai duduk di kursi kecil sambil menyilangkan tangannya, mungkin udara saat itu udah mulai ngebuatnya dingin.
"lo pengen gue jujur la ?"
"iya"
gue lalu duduk, dengan narik napas panjang, gue mulai ngatur nada kosa kata
"rhea itu sahabat gue yang paling keren la, jujur, sebelum gue hidup mandiri disini, gue itu orang yang super duper intovert la. gue beneran takut banget buat bergaul, dari dulu gue cuman deket sama ibu gue, sejak kecil la. gue sd aja masih ditungguin. apalagi saat gue kudu ngalamin masa-masa perih itu, gue bener-bener jadi pendiem banget, sama kakak gue dipa aja dulu gue gak deket. nah saat gue kudu ngerantau ke sini, gue nyoba ngelawan rasa takut itu la, lalu gue kenal lo, gue kenal sosok lo yang sumpah gue gak bakal pernah ngira bisa ketemu sosok luar biasa kayak lo, pinter, cakep, polos. dan gue bisa deket sama elo itu luar biasa banget. terus gue ketemu rhea, itupun gak sengaja pas nganterin lo tes. dan gue sama rhea punya hobby sama, selera musik sama, dan gak butuh waktu lama gue bisa punya temen yang enak buat ngobrol la, dan gue seneng banget dia jadi sahabat gue, yang selama ini gue beneran gak pernah punya temen sebelumnya, apalagi buat ngobrol. dan gimana gue gak ngerasa takut campur kaget saat dia bilang dia gak bisa lagi jadi temen gue ? jujur la, gue takut banget. tapi gue lega, ketakutan gue itu gak bener-bener kejadian"
"jadi yas, lo... ?"
"gue belum pernah punya temen sebelumnya la, dan semenjak gue kenal lo, kenal rhea, kenal ronaldo yg satu-satunya cowok yg mulai ngajak ngbrol gue duluan dan ngajak gue putsal, belum lagi tingkah dipa yang mulai ngakrabin diri ke gue, gue ngerasa ketakutan gue buat bergaul jadi pudar laa, pudaaaar. dan gue gak mau itu hilang. gue pengen banget punya sahabat kayak lo, kayak rhea. asal lo tau la, kalian menginspirasi gue banget"
"dan elo la, lo itu sahabat gue yang paling spesial, gue begitu terkagum banget sama lo, sama kehidupan lo, sama diri lo, sama ke jeniusan lo, sama kebesaran pemikiran lo, gue masih pengen banget ada di samping lo, disamping temen-temen gue yang lain juga. terutama lo ola, sampe kapanpun gue gak pengen gak ketemu lo. jadi la, gue pengen nembak lo"
"yas..."
"lo pengen gue jujur kan la ?"
dengan terdiam, ola mengangguk
"gue pengen lo jadi sahabat gue, sahabat spesial di hidup gue, gue gak mau lo, rhea, atau siapapun pergi ninggalin gue, karena cuman kalian sahabat gue laaa, cuman itu yang gue punya, cuman itu semangat gue selain kedua orang tua gue"
gue liat ola terkejut, namun beberapa detik kemudian dia menunduk sambil tersenyum.
"yas, gue gak bisa"
"lo bisa laaaa, bisaaaa !! gue tau la, lo pasti bisaa, lo bakal bisa bebas dari ditian selamanya, gue berani jamin la, hasil terapi lo itu udah nunjukin semuanya la"
ngedenger gue ngomong gitu, kepala ola langsung terangkat, dan kali ini dia menatap gue dengan serius
"ola, sorry sebelumnya, sekali lagi gue sorry, saat itu, saat di rumah lo, lo inget kan saat gue benerin laptop lo yang rusak sampe lo ketiduran di sofa ? saat gue udah beres, gue ngambil selimut dikamar lo, dan gue gak sengaja liat selembaran hasil terapi lo, dan gue langsung baca saat itu, gue harap lo gak marah, gue cuman mau jujur la, dan setelah gue baca, gue tau, lo pasti bisa nemuin diri lo yang lebih luar biasa la, masih banyak kesempatan lo nemuin yang lebih istimewa selain ditian. gue berani jamin itu la, dan selama gue ngejamin itu, gue gak mau jauh dari lo"
"yaas"
kali ini ola mulai berkaca-kaca, entah dorongan darimana, akhirnya gue bilang juga semua keresahan gue selama ini.
"lo mau kan la, jadi orang yang selalu dideket gue, jadi orang yang selalu ngedenger keluh kesah gue, jadi orang yang gue tanyaain kalo gue cuman bisa ngegambar oreo di lembar jawaban ?"
kali ini ola beneran nangis, tapi dengan iringan senyum yang mulai terbit diantara dua bibir tipis yang begitu manis.
"gue sayang lo yas, dan gue gak pernah bakal gak sayang lo, tapi gue juga tau, sayang gue ke elo karena gue takut kehilangan lo, lagi"
gue lega ola ngomong gitu, paling enggak ketakutan gue beneran gak terbukti, dan gue percaya, ola bakal lebih ngerti gimana perasaaan gue.
"gue juga sayang elo la, sampe kapanpun, gue bakal terus ada sampe lo beneran memudarkan rasa kehilangan lo itu, karena bagi gue, lo itu sahabat terspesial gue laaa"
"lo mau kan, nerima gue ?"
"jadi sahabat lo yang paling lo sayang"
dengan tangis sendu tawa, ola mengangguk.
"makasih la, makasih banyak"
Bagaimanapun kita harus melangkah kedepan, move dari ketakutan yang sebenarnya gak pernah nyata, ketakutan yang ada karena permainan ilusi dari alam bawah sadar kita. dan cara melawannya, cuman ada satu hal, berdiri lalu berlari melawan rasa takut itu, prove it kalo kita bisa menjadi penguasa dari diri kita sendiri. and this what i did, gue ngerasa beruntung bisa ketemu orang baru yang ngebuat mata gue terbuka tentang thug life, gue amat bersyukur.
gimana gue ketemu ola yang begitu ngebuat gue kaget tiba-tiba, yang ngebuat hidup gue kebalik 180 derajat, yang ngebuat gue berpikir bahwa dunia itu luas banget. dan gue ngerasa hidup ola adalah nahkoda gue buat berani ngarungi samudra kehidupan dengan ombak yang menerjang. dan gue gak bisa berhenti bersyukur soal itu.
ketemu olivia rhea, diwaktu gak sengaja dengan alunan musik yang satu selera, ngabisin ribuan menit buat ngobrol sana-sini tanpa kehabisan topik atau kata, belum lagi moment saat dia ngebobol pertahanan tim gue di fifa, that's was radiculus bagi hidup gue. sungguh gue beruntung banget bisa ketemu sama sosok rhea.
dan gue berterimakasih, sabrina ola, olivia rhea. kalian adalah sahabat gue yang bakal gue sayang, sampe nanti di masa depan.
Part 9
Quote:
"mas gue pengen nanya deh"
ditengah tawa yang mulai mereda, gue nyoba kembali serius ke dipa
"apaan ?"
"lo cerita apa aja ke rhea mas ?"
"cerita ? bentar, mm perasaan enggak deh"
"ayolah mas"
"gue lebih tepatnya cuman ngejawab aja"
"ngejawab apa ?"
"tentang lo sama ola"
gue lalu diem, gue udah tau persis apa yang dipa ceritain, dipa ini tipe orang yang plas plos orangnya, selama itu gak negatif, dia bakal cerita terbuka dan apa adanya.
"eh yas"
"apa ?"
"btw masalah lo sama rhea udah kelar ?"
"udah mas"
"good"
saat itu gue langsung beranjak tidur, rasanya gue pengen cepet-cepet balik.
tapi ditengah tengah lelepan gue, tiba-tiba pintu kamar ada yang ngetuk, saat itu yang inisiatif ngebuka pintu si dipa.
"eh olaaa"
samar gue denger kakak gue bilang gitu
"YAAAS NIH ADA OLA !!"
oke kali ini beneran jelas, ola yang dateng, dan sekarang udah jam 2 pagi -_-
"apaa laa"
sambil rada males gue nyamperin ola ke luar.
"cemilan gue mana yas ?"
"eh cemilan, oh itu punya lo ? udah abis tadi"
"yaaah"
"waduh gimana dong ? sorry atuh yaa"
"bungkusnya mana ? jangan bilang lo tinggal gitu aja yas"
"ooh iyaa, busseeet gue lupa, masih diatas laaa"
"yaudah ambil"
iya sih, ola ada benernya, gak seharusnya kita nyampah di rumah tetangga, dirumah sendiri aja kita suka emosyi kan kalo ada orang yang buang sampah sembarangan, rasanya pengen ngejitak kepalanya.
"oh bentar gue ambil la"
gue lalu pergi lagi ke rooftop dan gue liat ola ngikutin gue di belakang
"nah ini"
gue bilang gitu sambil niat mau balik lagi ke bawah
"yas, bentar deh"
"eh apalagi la ?"
"gue mau tanya, lo tadi ngobrol apa aja ke rhea ?"
"ya gitu deeh"
"ya gitu deh apa, jujur aja yas sama gue ? gue gak papa kok"
kali ini ola mulai duduk di kursi kecil sambil menyilangkan tangannya, mungkin udara saat itu udah mulai ngebuatnya dingin.
"lo pengen gue jujur la ?"
"iya"
gue lalu duduk, dengan narik napas panjang, gue mulai ngatur nada kosa kata
"rhea itu sahabat gue yang paling keren la, jujur, sebelum gue hidup mandiri disini, gue itu orang yang super duper intovert la. gue beneran takut banget buat bergaul, dari dulu gue cuman deket sama ibu gue, sejak kecil la. gue sd aja masih ditungguin. apalagi saat gue kudu ngalamin masa-masa perih itu, gue bener-bener jadi pendiem banget, sama kakak gue dipa aja dulu gue gak deket. nah saat gue kudu ngerantau ke sini, gue nyoba ngelawan rasa takut itu la, lalu gue kenal lo, gue kenal sosok lo yang sumpah gue gak bakal pernah ngira bisa ketemu sosok luar biasa kayak lo, pinter, cakep, polos. dan gue bisa deket sama elo itu luar biasa banget. terus gue ketemu rhea, itupun gak sengaja pas nganterin lo tes. dan gue sama rhea punya hobby sama, selera musik sama, dan gak butuh waktu lama gue bisa punya temen yang enak buat ngobrol la, dan gue seneng banget dia jadi sahabat gue, yang selama ini gue beneran gak pernah punya temen sebelumnya, apalagi buat ngobrol. dan gimana gue gak ngerasa takut campur kaget saat dia bilang dia gak bisa lagi jadi temen gue ? jujur la, gue takut banget. tapi gue lega, ketakutan gue itu gak bener-bener kejadian"
"jadi yas, lo... ?"
"gue belum pernah punya temen sebelumnya la, dan semenjak gue kenal lo, kenal rhea, kenal ronaldo yg satu-satunya cowok yg mulai ngajak ngbrol gue duluan dan ngajak gue putsal, belum lagi tingkah dipa yang mulai ngakrabin diri ke gue, gue ngerasa ketakutan gue buat bergaul jadi pudar laa, pudaaaar. dan gue gak mau itu hilang. gue pengen banget punya sahabat kayak lo, kayak rhea. asal lo tau la, kalian menginspirasi gue banget"
"dan elo la, lo itu sahabat gue yang paling spesial, gue begitu terkagum banget sama lo, sama kehidupan lo, sama diri lo, sama ke jeniusan lo, sama kebesaran pemikiran lo, gue masih pengen banget ada di samping lo, disamping temen-temen gue yang lain juga. terutama lo ola, sampe kapanpun gue gak pengen gak ketemu lo. jadi la, gue pengen nembak lo"
"yas..."
"lo pengen gue jujur kan la ?"
dengan terdiam, ola mengangguk
"gue pengen lo jadi sahabat gue, sahabat spesial di hidup gue, gue gak mau lo, rhea, atau siapapun pergi ninggalin gue, karena cuman kalian sahabat gue laaa, cuman itu yang gue punya, cuman itu semangat gue selain kedua orang tua gue"
gue liat ola terkejut, namun beberapa detik kemudian dia menunduk sambil tersenyum.
"yas, gue gak bisa"
"lo bisa laaaa, bisaaaa !! gue tau la, lo pasti bisaa, lo bakal bisa bebas dari ditian selamanya, gue berani jamin la, hasil terapi lo itu udah nunjukin semuanya la"
ngedenger gue ngomong gitu, kepala ola langsung terangkat, dan kali ini dia menatap gue dengan serius
"ola, sorry sebelumnya, sekali lagi gue sorry, saat itu, saat di rumah lo, lo inget kan saat gue benerin laptop lo yang rusak sampe lo ketiduran di sofa ? saat gue udah beres, gue ngambil selimut dikamar lo, dan gue gak sengaja liat selembaran hasil terapi lo, dan gue langsung baca saat itu, gue harap lo gak marah, gue cuman mau jujur la, dan setelah gue baca, gue tau, lo pasti bisa nemuin diri lo yang lebih luar biasa la, masih banyak kesempatan lo nemuin yang lebih istimewa selain ditian. gue berani jamin itu la, dan selama gue ngejamin itu, gue gak mau jauh dari lo"
"yaas"
kali ini ola mulai berkaca-kaca, entah dorongan darimana, akhirnya gue bilang juga semua keresahan gue selama ini.
"lo mau kan la, jadi orang yang selalu dideket gue, jadi orang yang selalu ngedenger keluh kesah gue, jadi orang yang gue tanyaain kalo gue cuman bisa ngegambar oreo di lembar jawaban ?"
kali ini ola beneran nangis, tapi dengan iringan senyum yang mulai terbit diantara dua bibir tipis yang begitu manis.
"gue sayang lo yas, dan gue gak pernah bakal gak sayang lo, tapi gue juga tau, sayang gue ke elo karena gue takut kehilangan lo, lagi"
gue lega ola ngomong gitu, paling enggak ketakutan gue beneran gak terbukti, dan gue percaya, ola bakal lebih ngerti gimana perasaaan gue.
"gue juga sayang elo la, sampe kapanpun, gue bakal terus ada sampe lo beneran memudarkan rasa kehilangan lo itu, karena bagi gue, lo itu sahabat terspesial gue laaa"
"lo mau kan, nerima gue ?"
"jadi sahabat lo yang paling lo sayang"
dengan tangis sendu tawa, ola mengangguk.
"makasih la, makasih banyak"
Quote:
Bagaimanapun kita harus melangkah kedepan, move dari ketakutan yang sebenarnya gak pernah nyata, ketakutan yang ada karena permainan ilusi dari alam bawah sadar kita. dan cara melawannya, cuman ada satu hal, berdiri lalu berlari melawan rasa takut itu, prove it kalo kita bisa menjadi penguasa dari diri kita sendiri. and this what i did, gue ngerasa beruntung bisa ketemu orang baru yang ngebuat mata gue terbuka tentang thug life, gue amat bersyukur.
gimana gue ketemu ola yang begitu ngebuat gue kaget tiba-tiba, yang ngebuat hidup gue kebalik 180 derajat, yang ngebuat gue berpikir bahwa dunia itu luas banget. dan gue ngerasa hidup ola adalah nahkoda gue buat berani ngarungi samudra kehidupan dengan ombak yang menerjang. dan gue gak bisa berhenti bersyukur soal itu.
ketemu olivia rhea, diwaktu gak sengaja dengan alunan musik yang satu selera, ngabisin ribuan menit buat ngobrol sana-sini tanpa kehabisan topik atau kata, belum lagi moment saat dia ngebobol pertahanan tim gue di fifa, that's was radiculus bagi hidup gue. sungguh gue beruntung banget bisa ketemu sama sosok rhea.
dan gue berterimakasih, sabrina ola, olivia rhea. kalian adalah sahabat gue yang bakal gue sayang, sampe nanti di masa depan.
the end.
junti27 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas

