- Beranda
- Stories from the Heart
Cahaya Ratih (18+/Thriller Genre)
...
TS
paycho.author
Cahaya Ratih (18+/Thriller Genre)
Quote:
GanSis, ane mau ngesharecerita ane berikutnya. Ini cerita udah ane bikin 4 tahun yang lalu tapi baru ane sharesekarang.
BTW, ini cerita genre thriller, crime, and romance.
Jangan lupa komennya, yah GanSis
Ini cerita ane yang sebelumnya. Full Romance dan lumayan bikin

Tapi 18+ juga
Kunjungin GanSis
BTW, ini cerita genre thriller, crime, and romance.
Jangan lupa komennya, yah GanSis

Ini cerita ane yang sebelumnya. Full Romance dan lumayan bikin


Tapi 18+ juga

Kunjungin GanSis
Quote:
DAFTAR ISI
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
CHARACTER'S BIO: NARA
PART 33
PART 34
CHARACTER'S BIO: RATIH
PART 35
CHARACTER'S BIO: DR. OKTA
PART 36
CHARACTER'S BIO: DR. Gladys
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
EPILOGUE
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
CHARACTER'S BIO: NARA
PART 33
PART 34
CHARACTER'S BIO: RATIH
PART 35
CHARACTER'S BIO: DR. OKTA
PART 36
CHARACTER'S BIO: DR. Gladys
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
EPILOGUE
Quote:
20rb 
Makasih yahhhhh.......moga2 bisa nyampe 100rb one day......

Makasih yahhhhh.......moga2 bisa nyampe 100rb one day......
Diubah oleh paycho.author 13-05-2017 07:23
junti27 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
104.9K
Kutip
683
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
paycho.author
#36
PART 4
Quote:
Besoknya, dengan mata yang menghitam, Nara menemui kedua orangtua korban untuk wawancara. Ada beberapa orang yang harus diwawancara sebenarnya, tapi Nara angkat tangan,ia hanya tertarik pada orangtuanya karena sering sekali nama kedua orangtuanya itu disebut. Kedua orangtua korban adalah orang besar, orang terkenal. Dandanan mereka tidak mencolok tapi jelas mahal, apa yang dipakai di tubuh mereka saat ini bisa mensejahterakan warga miskin di satu provinsi selama tiga bulan.
“Bapak Zakaria dan Ibu Satya Kartasurya?”
“Ya.” Mereka bersalaman dengan wajah gusar yang berusaha mereka sembunyikan. Aneh, mereka ingin kasus ini ditutup rapat dan dijalankan dengan sangat profesional, tapi mereka datang ke sini tanpa pengacara.
“Anda.....tidak didampingi pengacara?”
“Tidak usah. Biar cepat. Anak kami benar bunuh diri, kan?”
“Anak Anda berdua, Julia, memang kami temukan dalam keadaan tewas karena gantung diri. Tapi.....saya pribadi ragu kalau anak Anda bunuh diri.”
Aneh, keduanya terlihat tidak senang. Lebih karena urusan mereka dengan polisi akan semakin panjang kalau ternyata anak mereka dibunuh. Orangtua macam apa mereka ini? Berarti memang benar apa yang dikatakan oleh korban dalam buku hariannya.
“Anak Anda menderita penyakit mental?”
“Paranoid schizophrenia.”
“Karena itu Anda mengabaikan keluhannya lagi?”
“Ya, habis gimana? Omongannya mulai ngawur, tidak bisa dipercaya. Dia enggak bisa membedakan lagi kenyataan atau ilusi.”
“Jadi menurut Anda, kalau anak Anda ketakutan karena ada yang mengincarnya, itu hanya ilusi?”
“Siapa memangnya yang mau membunuh anak saya? Anda mengada-ada, yah? Mana mungkin ada orang membunuh begitu caranya, digantung.” Bapak Zakaria mulai emosi, kelihatan seperti orang fobia ketinggian yang dipaksa melihat ke bawah dari atas gedung.
“Pak, tolong jawab pertanyaan saya dulu, apa Julia pernah merasa jiwanya terancam?”
“Tidak. Tidak pernah.”
“Tidak pernah? Menurut buku hariannya ia selalu ketakutan dan Anda tidak mau mendengarkan apa yang ia keluhkan. Apa Anda yakin ia tidak bilang apa-apa, bukan Anda yang tidak mau mendengarkan?”
“Begini yah, Dik.” Si Bapak melirik ke bahu Nara, melihat tanda pangkatnya dan menganggap remeh karena ia masih ipda. “Saya tidak punya banyak waktu. Sampai ada bukti lebih lanjut mengenai apa yang terjadi pada anak saya, sebaiknya Anda jangan ganggu kami dulu. Kapan kami bisa menjemput anak kami?”
“Segera, Pak.....” hanya itu saja yang bisa dikatakan oleh Nara karena bapak dan ibu sudah tidak nafsu bicara. Pasti setelah ini Nara akan dipanggil oleh atasannya mengenai pernyataannya yang terlalu bersifat hipotesis dan tidak sesuai dengan yang ingin didengar oleh keluarga korban maupun keterangan yang siap dikeluarkan oleh polisi. Selain Nara, Okta sedang meyakinkan atasannya bahwa korban mungkin tidak bunuh diri melainkan dibunuh.
Nara sedang berada di kantornya dan bersiap untuk pulang ketika seseorang meminta untuk bertemu dengannya secara pribadi. Ibu Satya rupanya, yang sejak tadi diam, tidak mampu bicara banyak karena dihalang-halangi oleh suaminya yang ingin perkara ini cepat selesai.
“Saya sebenarnya tidak ingin terburu-buru. Saya ingin semuanya selesai dengan baik dan rapi.” Ibu Satya membuka pembicaraan. “Anda mungkin berpikir saya dan suami adalah orangtua yang tidak mencintai putrinya. Padahal bukan begitu ceritanya. Suami saya adalah orang terkenal, apa yang terjadi pada Julia, putri yang kami harapkan dan persiapkan untuk menjadi penerus kami ternyata.....memiliki sesuatu yang.....spesial.”
Jujur, pemilihan kata ‘spesial’ cukup membuat Nara kaget, tapi ekspresinya harus tetap datar dan kembali mendengarkan dengan baik. Bahkan ketika berusaha untuk jujur pun wajah ibu ini tetap membatu, Nara jadi semakin ragu kalau ia sayang atau setidaknya peduli pada anaknya. Ah, tapi tahu apa ia soal cinta anak dan orangtua? Nara baru berkumpul lagi dengan ibunya ketika ia SMA, dan pada saat itu Nara tidak menaruh ketertarikan lagi untuk menelusuri asal-usul dan keluarganya.
“Memang benar, sewaktu masih di Eropa, Julia pernah menelepon saya. Dia bilang, rasa-rasanya ada yang membuntuti dia kemana-mana. Dan perasaan itu makin kuat ketika dia pulang, Julia tidak mau ditinggal sendirian, ia selalu ingin ditemani oleh seseorang dan selalu ada saja keluhannya. Kadang keluhannya keluar di saat yang tidak tepat.”
“Kapan tidak tepat itu?”
“Ya, misalnya ketika tamu-tamu suami saya berkunjung. Rasanya memang bikin malu mendengar Julia nyerocos tentang hal yang tidak ada. Pada akhirnya kami mengirim Julia ke rumah peristirahatan kami di kebun teh. Tidak banyak orang di sana tapi penjagaannya cukup ketat.”
“Maaf, Bu. Apa anak ibu itu.....cerdas?”
“Ohya, sangat.”
“Seberapa cerdas? Apa yang ia pelajari di Eropa?”
“Dia belajar sastra klasik dan Egyptology. Ayahnya meminta supaya dia belajar sesuatu yang lebih.....berguna.” Nara menggulung bibirnya dan mencoba untuk tidak tertawa karena seperti itu pulalah yang dikatakan orang ketika ia memutuskan jurusan apa yang akan ia ambil ketika kuliah.
“Bu.....saya membaca buku harian anak ibu. Silahkan ibu lihat sendiri.”
Dengan hati - hati Nara memberikan buku harian kepada Ibu Satya yang langsung bingung. Ia bertanya apakah Nara dapat membacanya dan dengan penuh percaya diri ia menjelaskan apa yang ditulis di dalamnya, termasuk mengenai ketakutan si pemilik.
Tidak dijelaskan apa yang ia takutkan, tapi ibunya bisa memperkirakan yang ditakutkan oleh anaknya adalah ia selalu merasa ada orang yang mengikutinya. Beberapa malam anaknya bercerita kalau ada seorang anak kecil bermata merah yang mengatakan ia harus mati untuk menebus dosa. Cerita yang sepertinya omong kosong, dan mungkin hanya sebuah mimpi, atau mungkin hanya halusinasi. Siapa yang bisa mempercayai kata-kata seperti itu? Mungkin anak kecil itu tuyul atau apapun macam setan cilik yang ada.
“Saya.....jujur saja tidak begitu mengenal putri saya. Mungkin kalau ini bisa sedikit membantu.”
Rupanya buku telepon. Di zaman ini masih ada juga orang yang menggunakan buku telepon. Tapi melihat Julia yang sepertinya seorang romantis, maka tidak aneh kalau ia menaruh nomor-nomor kerabat dan temannya di sebuah buku telepon yang memanjang terbuat dari kulit asli yang berwarna cokelat muda. Beberapa nama bisa dikenali oleh Nara karena tersebut di dalam buku harian Julia.
“Nara, bisa kemari sebentar?”
Ini dia, akhirnya ia dipanggil juga oleh atasannya dan pasti setelah ini ia akan diceramahi panjang lebar. Bukan sekali dua kali memang Nara berbicara lebih dari yang dibutuhkan, ia terlalu jujur memang.
“Ada apa, Pak?”
Bekerja di bawah Kompol Mahesa Yusuf mungkin adalah sebuah berkah bagi Nara, karena ia sama jujurnya dan tidak mudah tergoda dengan apapun yang ditawarkan di bawah hidungnya. Padahal Nara sudah berjanji, kalau atasannya bermain api, maka lebih baik ia benar-benar membakar atasannya itu. Ekstrem? Ia tidak peduli.
“Dibilang kenapa juga kamu pasti sudah tahu kenapa kamu di sini.”
“Pak, saya minta maaf kalau.....”
“Dari laboratorium forensik memang hasilnya bisa mendukung pernyataanmu. Tapi penyelidikan itu bukan hanya masalah menemukan sebab kematian, tapi juga pelakunya. Kamu paham?”
“Ya, Pak.”
“Jangan terlalu diumbar. Saya tidak mau lagi bapak itu datang ke depan meja saya dan membuat gaduh. Lebih baik, berfokuslah pada menemukan siapa pelakunya. Jenazah akan diambil besok dan langsung dimakamkan. Kembali ke pekerjaanmu.”
“Siap. Terimakasih, Pak.”
“Seolah korban tertidur dan tidak pernah bangun lagi.” Kata seorang rekannya. Memang seperti itu kenyataannya, korban tertidur ketika lehernya digantung dan ditaruh di atas kerangka langit-langit, mungkin ia bergerak ketika tidur dan akhirnya tubuhnya tergantung. Wawancara bahkan telepon ke luar negeri sudah dilakukan dengan harapan ada petunjuk lain. Tapi tidak banyak. Memang tidak ada bukti apapun yang mengarahkan pada siapa pelakunya. Sudah tiga hari berturut-turut Nara menghubungi teman-teman Julia di Eropa, ia satu-satunya yang bisa berbahasa Inggris dan Belanda dengan lancar, karena itu Nara dikorbankan oleh timnya sendiri untuk berhubungan dengan teman-teman Julia di luar negeri.
“Tidak ada teman Julia di luar negeri juga yang merasa aneh. Maksud saya, memang dia aneh karena.....ia spesial. Seperti orangtuanya, teman-teman Julia juga menganggap paranoianya adalah dikarenakan penyakitnya.”
“Lalu, apa ada orang yang dianggap membahayakan Julia?”
“Tidak menurut teman-temannya.”
Ternyata kasusnya lebih rumit dari yang dibayangkan, dan saat seperti ini terkadang Nara menyesali ketelitiannya. Kalau saja ia tidak teliti waktu itu, pasti ia akan dengan mudah mengeluarkan keterangan bahwa korban tewas karena bunuh diri. Itu saja. Selesai. Tidak akan ada yang mempedulikan debu di punggung dan rambutnya. Tidak akan ada yang bertanya mengapa talinya terlalu pendek atau mengapa tidak ada penyangga yang digunakan oleh korban selayaknya orang yang benar-benar bunuh diri dengan cara gantung diri. Tubuh korban begitu bersih, tidak ada bukti ia disentuh oleh siapapun sebelum meninggal yang dapat dijadikan bukti bahwa ia dibunuh. Apa alasan ia dibunuh? Temannya bilang ia jarang keluar rumah dan sesehari ia didampingi oleh beberapa orang teman yang melakukan reality check untuknya, ketika ia berhalusinasi atau mulai paranoid, teman-temannya inilah yang menenangkannya dan meyakinkan tidak ada apa-apa.
Meski begitu, akhirnya ada juga yang bisa dijelaskan oleh tim penyidik yang menangani kasus ini. Salah satu hasil pemeriksaan dari tim forensik adalah kenyataan bahwa Julia pernah melakukan aborsi. Aborsinya bersih, dilakukan dengan profesional sehingga tidak menimbulkan luka yang parah. Mungkin ia merasa bersalah sehingga ia bermimpi atau berhalusinasi, seperti melihat seorang anak kecil yang ingin agar ia membayar dosanya. Dan ketika Nara menemukan seorang teman Julia di Belanda yang menyarankan agar ia melakukan aborsi, ia menemukan fakta yang membuatnya tersenyum.
“Si Brengsek. Pantas saja ia memperlakukan putrinya seperti itu.”
“Bapak Zakaria dan Ibu Satya Kartasurya?”
“Ya.” Mereka bersalaman dengan wajah gusar yang berusaha mereka sembunyikan. Aneh, mereka ingin kasus ini ditutup rapat dan dijalankan dengan sangat profesional, tapi mereka datang ke sini tanpa pengacara.
“Anda.....tidak didampingi pengacara?”
“Tidak usah. Biar cepat. Anak kami benar bunuh diri, kan?”
“Anak Anda berdua, Julia, memang kami temukan dalam keadaan tewas karena gantung diri. Tapi.....saya pribadi ragu kalau anak Anda bunuh diri.”
Aneh, keduanya terlihat tidak senang. Lebih karena urusan mereka dengan polisi akan semakin panjang kalau ternyata anak mereka dibunuh. Orangtua macam apa mereka ini? Berarti memang benar apa yang dikatakan oleh korban dalam buku hariannya.
“Anak Anda menderita penyakit mental?”
“Paranoid schizophrenia.”
“Karena itu Anda mengabaikan keluhannya lagi?”
“Ya, habis gimana? Omongannya mulai ngawur, tidak bisa dipercaya. Dia enggak bisa membedakan lagi kenyataan atau ilusi.”
“Jadi menurut Anda, kalau anak Anda ketakutan karena ada yang mengincarnya, itu hanya ilusi?”
“Siapa memangnya yang mau membunuh anak saya? Anda mengada-ada, yah? Mana mungkin ada orang membunuh begitu caranya, digantung.” Bapak Zakaria mulai emosi, kelihatan seperti orang fobia ketinggian yang dipaksa melihat ke bawah dari atas gedung.
Quote:
Keringat, suara yang meninggi, dan denial. Sepertinya datang ke kantor polisi itu sebuah ketakutan. Bukan karena menakutkan, tapi karena itu aib. Saking mereka menganggap itu aib, pengacara pun tidak mereka bawa.
“Pak, tolong jawab pertanyaan saya dulu, apa Julia pernah merasa jiwanya terancam?”
“Tidak. Tidak pernah.”
“Tidak pernah? Menurut buku hariannya ia selalu ketakutan dan Anda tidak mau mendengarkan apa yang ia keluhkan. Apa Anda yakin ia tidak bilang apa-apa, bukan Anda yang tidak mau mendengarkan?”
“Begini yah, Dik.” Si Bapak melirik ke bahu Nara, melihat tanda pangkatnya dan menganggap remeh karena ia masih ipda. “Saya tidak punya banyak waktu. Sampai ada bukti lebih lanjut mengenai apa yang terjadi pada anak saya, sebaiknya Anda jangan ganggu kami dulu. Kapan kami bisa menjemput anak kami?”
“Segera, Pak.....” hanya itu saja yang bisa dikatakan oleh Nara karena bapak dan ibu sudah tidak nafsu bicara. Pasti setelah ini Nara akan dipanggil oleh atasannya mengenai pernyataannya yang terlalu bersifat hipotesis dan tidak sesuai dengan yang ingin didengar oleh keluarga korban maupun keterangan yang siap dikeluarkan oleh polisi. Selain Nara, Okta sedang meyakinkan atasannya bahwa korban mungkin tidak bunuh diri melainkan dibunuh.
Nara sedang berada di kantornya dan bersiap untuk pulang ketika seseorang meminta untuk bertemu dengannya secara pribadi. Ibu Satya rupanya, yang sejak tadi diam, tidak mampu bicara banyak karena dihalang-halangi oleh suaminya yang ingin perkara ini cepat selesai.
“Saya sebenarnya tidak ingin terburu-buru. Saya ingin semuanya selesai dengan baik dan rapi.” Ibu Satya membuka pembicaraan. “Anda mungkin berpikir saya dan suami adalah orangtua yang tidak mencintai putrinya. Padahal bukan begitu ceritanya. Suami saya adalah orang terkenal, apa yang terjadi pada Julia, putri yang kami harapkan dan persiapkan untuk menjadi penerus kami ternyata.....memiliki sesuatu yang.....spesial.”
Jujur, pemilihan kata ‘spesial’ cukup membuat Nara kaget, tapi ekspresinya harus tetap datar dan kembali mendengarkan dengan baik. Bahkan ketika berusaha untuk jujur pun wajah ibu ini tetap membatu, Nara jadi semakin ragu kalau ia sayang atau setidaknya peduli pada anaknya. Ah, tapi tahu apa ia soal cinta anak dan orangtua? Nara baru berkumpul lagi dengan ibunya ketika ia SMA, dan pada saat itu Nara tidak menaruh ketertarikan lagi untuk menelusuri asal-usul dan keluarganya.
“Memang benar, sewaktu masih di Eropa, Julia pernah menelepon saya. Dia bilang, rasa-rasanya ada yang membuntuti dia kemana-mana. Dan perasaan itu makin kuat ketika dia pulang, Julia tidak mau ditinggal sendirian, ia selalu ingin ditemani oleh seseorang dan selalu ada saja keluhannya. Kadang keluhannya keluar di saat yang tidak tepat.”
“Kapan tidak tepat itu?”
“Ya, misalnya ketika tamu-tamu suami saya berkunjung. Rasanya memang bikin malu mendengar Julia nyerocos tentang hal yang tidak ada. Pada akhirnya kami mengirim Julia ke rumah peristirahatan kami di kebun teh. Tidak banyak orang di sana tapi penjagaannya cukup ketat.”
“Maaf, Bu. Apa anak ibu itu.....cerdas?”
“Ohya, sangat.”
“Seberapa cerdas? Apa yang ia pelajari di Eropa?”
“Dia belajar sastra klasik dan Egyptology. Ayahnya meminta supaya dia belajar sesuatu yang lebih.....berguna.” Nara menggulung bibirnya dan mencoba untuk tidak tertawa karena seperti itu pulalah yang dikatakan orang ketika ia memutuskan jurusan apa yang akan ia ambil ketika kuliah.
“Bu.....saya membaca buku harian anak ibu. Silahkan ibu lihat sendiri.”
Dengan hati - hati Nara memberikan buku harian kepada Ibu Satya yang langsung bingung. Ia bertanya apakah Nara dapat membacanya dan dengan penuh percaya diri ia menjelaskan apa yang ditulis di dalamnya, termasuk mengenai ketakutan si pemilik.
Quote:
Buku harian Julia ditulis dengan menggunakan hieroglyph, dan beberapa menggunakan kode gambar. Seperti untuk penanggalan misalnya, ia menggunakan gambar Dewa Janus untuk Bulan Januari karena Januari berasal dari nama Janus.
Tidak dijelaskan apa yang ia takutkan, tapi ibunya bisa memperkirakan yang ditakutkan oleh anaknya adalah ia selalu merasa ada orang yang mengikutinya. Beberapa malam anaknya bercerita kalau ada seorang anak kecil bermata merah yang mengatakan ia harus mati untuk menebus dosa. Cerita yang sepertinya omong kosong, dan mungkin hanya sebuah mimpi, atau mungkin hanya halusinasi. Siapa yang bisa mempercayai kata-kata seperti itu? Mungkin anak kecil itu tuyul atau apapun macam setan cilik yang ada.
“Saya.....jujur saja tidak begitu mengenal putri saya. Mungkin kalau ini bisa sedikit membantu.”
Rupanya buku telepon. Di zaman ini masih ada juga orang yang menggunakan buku telepon. Tapi melihat Julia yang sepertinya seorang romantis, maka tidak aneh kalau ia menaruh nomor-nomor kerabat dan temannya di sebuah buku telepon yang memanjang terbuat dari kulit asli yang berwarna cokelat muda. Beberapa nama bisa dikenali oleh Nara karena tersebut di dalam buku harian Julia.
“Nara, bisa kemari sebentar?”
Ini dia, akhirnya ia dipanggil juga oleh atasannya dan pasti setelah ini ia akan diceramahi panjang lebar. Bukan sekali dua kali memang Nara berbicara lebih dari yang dibutuhkan, ia terlalu jujur memang.
“Ada apa, Pak?”
Bekerja di bawah Kompol Mahesa Yusuf mungkin adalah sebuah berkah bagi Nara, karena ia sama jujurnya dan tidak mudah tergoda dengan apapun yang ditawarkan di bawah hidungnya. Padahal Nara sudah berjanji, kalau atasannya bermain api, maka lebih baik ia benar-benar membakar atasannya itu. Ekstrem? Ia tidak peduli.
“Dibilang kenapa juga kamu pasti sudah tahu kenapa kamu di sini.”
“Pak, saya minta maaf kalau.....”
“Dari laboratorium forensik memang hasilnya bisa mendukung pernyataanmu. Tapi penyelidikan itu bukan hanya masalah menemukan sebab kematian, tapi juga pelakunya. Kamu paham?”
“Ya, Pak.”
“Jangan terlalu diumbar. Saya tidak mau lagi bapak itu datang ke depan meja saya dan membuat gaduh. Lebih baik, berfokuslah pada menemukan siapa pelakunya. Jenazah akan diambil besok dan langsung dimakamkan. Kembali ke pekerjaanmu.”
“Siap. Terimakasih, Pak.”
Quote:
Ketika berkumpul dengan tim, semua anggota setuju kalau kasus ini bukan kasus bunuh diri melainkan pembunuhan. Laboratorium forensik mengeluarkan hasil pemeriksaan obat tidur yang ditemukan di dalam tubuh korban bukanlah obat tidur yang dimiliki korban, melainkan obat dari tanaman yang disebut sebagai akar valerian. Yang lebih menyusahkan lagi adalah pelaku sangat bersih dan rapi, tidak bukti apapun yang bisa mengaitkan korban dan pelaku, tidak ada luka pada tubuh korban, tidak ada memar, darah, atau jejak apapun.
“Seolah korban tertidur dan tidak pernah bangun lagi.” Kata seorang rekannya. Memang seperti itu kenyataannya, korban tertidur ketika lehernya digantung dan ditaruh di atas kerangka langit-langit, mungkin ia bergerak ketika tidur dan akhirnya tubuhnya tergantung. Wawancara bahkan telepon ke luar negeri sudah dilakukan dengan harapan ada petunjuk lain. Tapi tidak banyak. Memang tidak ada bukti apapun yang mengarahkan pada siapa pelakunya. Sudah tiga hari berturut-turut Nara menghubungi teman-teman Julia di Eropa, ia satu-satunya yang bisa berbahasa Inggris dan Belanda dengan lancar, karena itu Nara dikorbankan oleh timnya sendiri untuk berhubungan dengan teman-teman Julia di luar negeri.
“Tidak ada teman Julia di luar negeri juga yang merasa aneh. Maksud saya, memang dia aneh karena.....ia spesial. Seperti orangtuanya, teman-teman Julia juga menganggap paranoianya adalah dikarenakan penyakitnya.”
“Lalu, apa ada orang yang dianggap membahayakan Julia?”
“Tidak menurut teman-temannya.”
Ternyata kasusnya lebih rumit dari yang dibayangkan, dan saat seperti ini terkadang Nara menyesali ketelitiannya. Kalau saja ia tidak teliti waktu itu, pasti ia akan dengan mudah mengeluarkan keterangan bahwa korban tewas karena bunuh diri. Itu saja. Selesai. Tidak akan ada yang mempedulikan debu di punggung dan rambutnya. Tidak akan ada yang bertanya mengapa talinya terlalu pendek atau mengapa tidak ada penyangga yang digunakan oleh korban selayaknya orang yang benar-benar bunuh diri dengan cara gantung diri. Tubuh korban begitu bersih, tidak ada bukti ia disentuh oleh siapapun sebelum meninggal yang dapat dijadikan bukti bahwa ia dibunuh. Apa alasan ia dibunuh? Temannya bilang ia jarang keluar rumah dan sesehari ia didampingi oleh beberapa orang teman yang melakukan reality check untuknya, ketika ia berhalusinasi atau mulai paranoid, teman-temannya inilah yang menenangkannya dan meyakinkan tidak ada apa-apa.
Meski begitu, akhirnya ada juga yang bisa dijelaskan oleh tim penyidik yang menangani kasus ini. Salah satu hasil pemeriksaan dari tim forensik adalah kenyataan bahwa Julia pernah melakukan aborsi. Aborsinya bersih, dilakukan dengan profesional sehingga tidak menimbulkan luka yang parah. Mungkin ia merasa bersalah sehingga ia bermimpi atau berhalusinasi, seperti melihat seorang anak kecil yang ingin agar ia membayar dosanya. Dan ketika Nara menemukan seorang teman Julia di Belanda yang menyarankan agar ia melakukan aborsi, ia menemukan fakta yang membuatnya tersenyum.
“Si Brengsek. Pantas saja ia memperlakukan putrinya seperti itu.”
Diubah oleh paycho.author 01-02-2017 18:48
indrag057 memberi reputasi
1
Kutip
Balas