Kaskus

Story

winiafirmansyahAvatar border
TS
winiafirmansyah
Ulat di Antara Hujan
Assalamualaikum....

Perkenalkan nama saya Firman Valliano. Biasa di panggil Ival atau Firman. Disini... Saya adalah Newbie se newbie-newbie nya. Jadi kalo ada yang salah, saya minta bimbingannya buat para agan dan sista yang jauh lebih senior disini.
Izinkan saya untuk berbagi sebuah cerita hidup.
Bukan Romance, tapi tentang"Ulat Diantara Hujan"

Untuk peluncuran perdana cerita ini, saya akan mengikutsertakan tiga part pertama besama prolog agar agan dan sista tak perlu lagi meminta ane buat cepet-cepet upload part. Tapi sebelumnya, saya punya beberapa peraturan di trit ini demi menjaga keamanan dan ketentraman trit nan sederhana ini.

Quote:


Jika agan dan sista sekalian males nyari uploadan partnya di bawah (kayak ane) ane udah siapin indeks buat agan dan sista sekalian supaya lebih gampang buat baca cerita ini.
Spoiler for Indeks alias Daftar Isi:


Quote:
Diubah oleh winiafirmansyah 09-01-2017 21:40
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
6.3K
67
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
winiafirmansyahAvatar border
TS
winiafirmansyah
#4
Part 2 (2/2)


"Ooohhh... Dah berani ngelawan lo yah? Oke! Gua emang nunggu daritadi buat ngasih lo pelajaran!" Ucap Bintang tersenyum sinis, dia puas akhirnya dia mendapat kesempatan untuk menyiksa Ari.
"Bi udah Bi! Kita lanjutin aja permainannya!" Tahan Bella.
"Bener Bi! Mumpung masih banyak waktu!" Ucap Kak April.
"Alah... Kalian berdua gak usah ikut campur deh!" Ucap Kak Bintang.
"Kalo kalian mau ngelanjutin permainan, silahkan aja. Tapi ni anak gua kasih pelajaran dulu." Ucap Bintang.
"Ayok!" Ucap Bintang menyuruh Ari keluar kelas.
Firman yang nafasnya masih memburu berfikir.
“Waduh! Gawat, nih! Kalo tu anak 'nyala' gimana neh?", pikir Firman dalam hati.
Sebelum Kak Bintang dan Ari keluar kelas, Firman berupaya menahan Ari.
"Tunggu Ri! Biar gua aja yang di hukum!" Ucap Firman sambil menarik Ari.
"Lo gak usah ikut campur deh!" Bentak Bintang sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Maaf Kak! Kalo temen saya ada salah!", ucap Firman pada Kak Bintang.
"Udah, Man... Gak apa-apa kok." Ucap Ari sambil tersenyum.
"Kan yang punya masalah itu gua.", lanjut Ari berbisik lalu pergi keluar kelas

Firman hanya berdiri di belakang pintu kelas. Menatap Ari yang mulai berlari di lapangan di depan kelas. Ia sangat khawatir pada Ari dan Bintang. Ia khawatir jika sewaktu-waktu penyakit Ari kambuh dan ia membuat kekacauan di sekolah.
"Firman? Dek?", Bella memanggil.
"Hah? Iya, ada apa, kak?" jawab Firman menoleh ke arah Bella.
"Kami boleh tau gak, Ari itu siapanya kamu?" tanya Bella.
"Ari itu sahabat saya, kak. Baru dua minggu, sih. Tapi kami sahabatan udah kayak tahunan dalam dua minggu itu." jawabnya.
"Terus, kenapa kamu kok keliatannya khawatir banget?", tanya April.
"Ng-nggak apa-apa. Saya cuman khawatir aja. Si Ari kasih tau saya kalo dianya belum sarapan tadi pagi. Jadi saya khawatir kalo-kalo dia pingsan di lapangan." jawab Firman, meski bukan itu sebenarnya yang ia khawatirkan.
"Yaudah. Kamu duduk aja dulu, kakak sama Bella bakal kesana buat ngomong sama kak Bintang, ya?" ucap April.
"Iya, kak. Makasih,ya, kak." jawab Firman tersenyum.

April dan Bella pun keluar dari kelas dan segera mendatangi Bintang untuk berunding dengannya.

"Sekarang gimana?" tanya salah satu murid di kelas.
"Kita lanjutin aja deh. Sambil nungguin kakak-kakaknya." usul Firman di depan kelas.

Firman berusaha memimpin kelas untuk kembali memainkan permainan, walaupun dia masih mencemaskan sahabatnya itu.

"Assalamualaikum", ucap seorang anak dari depan pintu kelas saat seisi kelas tengah menjalankan permainan kecil mereka. Anak itu berperawakan kecil, namun suaranya terdengar berat. Sekilas anak itu terlihat seperti seorang anak SD, namun dia merupakan seorang senior.
"Boleh kakak masuk?" Ucap Senior kecil itu.
"Silakan, kak." jawab Firman. Ia sebenarnya agak bingung dengan anak yang masuk ke kelas itu. Perawakannya seperti seorang anak kelas 6 SD, namun di seragamnya ada emblem bertuliskan "IX" yang menjadi penanda bahwa ia adalah seorang anak kelas 9.
"Sementara Kakak dulu yah yang ngejaga Kelas ini yah?" Ucap Senior tersbut.
"Maaf sebelumnya adik-adik! Kak Bella, Kak April, dan Kak Bintang ada urusan bentar katanya. Jadi sementara saya yang jadi pengawas di kelas ini." Ucap senior tersebut yang sudah berdiri di depan kelas.
"Perkenalkan, Nama Kakak Abdullah Muzakir. Panggil aja Kak Abdul. Jangan adek yah! Haha. Sekarang kalian lagi ada kegiatan apa nih?", tanya Kak Abdul
"Ini kak. Kita lagi ada permainan, kak." ucap salah seorang anak di kelas.
"Kalo boleh tau, permainannya apa?" tanya Abdul.
"Gini, kak. Kita ngoper ini penghapus dari satu orang ke orang lain dari satu titik sambil nyanyi. Nah, pas lagunya stop, ngopernya juga di stop. Orang yang megang penghapusnya pas lagunya habis dapat hukuman, kak." jawab anak itu.
"Yaudah. Kalo gitu, kita ulang lagi aja, ya? Kita mulai dari ujung kanan depan." Abdul pun mengambil penghapus yang ada di meja Ari dan membawanya ke meja paling ujung kanan depan.
"1, 2, 3. Mulai!" Abdul memberi aba-aba dan anak-anak di dalam kelas pun memulai kembali permainan yang telah mereka mainkan sebelumnya. Mereka mengoper penghapus di tangan mereka ke orang di sebelah atau di belakangnya sembari mereka bernyanyi lagu anak-anak.

Beberapa lama kemudian...

Bel pertanda istirahat akhirnya berbunyi setelah sekian lama. Anak-anak yang bosan dan kelelahan segera berlarian keluar kelas saat mendengar bel tersebut. Begitu juga dengan Firman.

Firman bergegas menuju lapangan, tempat di mana Ari seharusnya berada. Namun, tak ada siapa-siapa di sana. Selain dedaunan yang beterbangan tertiup angin siang. "Kak. Kakak tadi liat anak yang lari di sini, gak?" tanya Firman pada seorang kakak kelas yang kebetulan lewat di dekatnya.
"Wah. Maaf ya, dek. Kakak tadi gak liat." jawabnya sebelum ia berjalan melewati Firman.
"Kemana lagi tuh anak?" tanya batin Firman.

Kini ia tertinggal sendirian di antara kelas-kelas yang kosong. Sementara murid-murid lain berada di kantin atau di taman sekolah, ia justru tengah sibuk mencari keberadaan Ari.

"Aduh..." terdengar rintihan seseorang yang tengah menahan sakit di telinga Firman, yang membuatnya langsung menengok ke arah suara tersebut.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang anak seusianya tengah menahan sakit di perutnya. Ia mendekatinya dan bertanya, "Eh, kamu kenapa?".
"Ng-nggak apa-apa. Aku jatoh tadi." jawab anak itu sembari membenarkan kacamata yang dikenakannya, yang ada didepan matanya yang nampak lebam.
"Ah. Jangan bohong kamu. Nggak mungkin kalau jatoh bisa lebam." jawab Firman tak percaya.
"Seriusan. Aku tadi..."
"Jangan bohong! Sekarang kasih tau. Kenapa mata kamu bisa lebam kayak gitu?", Firman kembali bertanya pada anak itu sembari menggertak.

Anak itu diam. Tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya meski kedua matanya menatap Firman seakan mengatakan bahwa ia tak berani. Firman masih menatap anak itu dengan tatapan mengerikan. Untuk yang kesekian kalinya Firman bertanya kembali.
"Oke... Sekali lagi aku nanya. Mata kamu kenapa?" Tanya Firman yang kesal.
"......" Anak itu hanya membisu sambil menunduk.
"Yaudah... Aku nanya yang lain aja deh kalo kamu gak mau jawab." Ucap Firman.
"Kamu liat gak, anak yang tadi lari-lari di lapangan ini? Ciri-cirinya itu mirip kamu, rambut rapih, pake kacamata, sama pake sweater tanpa lengan di balik rompi pelastik ini. Cuman katamatanya warna biru. Liat gak?" Tanya Firman hendak menanyakan Ari pada anak itu. Anak itu yang tadinya menunduk menjadi sedikit kaget dengan menatap Firman.
"Gimana? Jawab donk!" Ucap Firman.
Firman sudah mulai curiga, dia menatap mata anak itu dalam-dalam. Firman bisa dengan mudah melihat setitik kebohongan di mata anak itu.

Firman menggunakan taktik klasik yang ia dapat setelah menonton sebuah Film Aksi semalam. Firman mencengkram kerah anak itu, menariknya, lalu dia memelototi mata anak itu dalam-dalam. Kalau kepribadiannya lemah, di plototi saja pasti sudah ketakutan.
"Jawab gak? Aku tau kalo kamu tau!" Bentak Firman pada anak itu.
"Ampuuuunnn!!!!" Ucap anak itu meminta ampun pada Firman.
"Makanya jawab!" Bentak Firman dengan lebih keras.
"I... Iya deh... A-Aku... Bakal jawab." Ucap anak itu agak terbata-bata.
"Jelasin! Aku dengerin." Ucap Firman melepaskan cengkraman tangannya dari kerah anak itu lalu melipat kedua tangannya di depan tangan.

"Se-sebenernya... Tadi itu aku kebelet pipis, aku mau nanya toilet sama kakak senior. Tapi kakak seniornya pada gak ada..." Jelas anak itu, "Terus aku keliling sekolah ini. Aku muter-muter sampe nyasar kebelakang sekolah. Pas aku mau nyari lagi ketempat lain. Aku denger suara ribut-ribut di balik dinding pembatas sekolah..." lanjutnya.
Anak itu tidak langsung melanjutkan ceritanya. Dia mengambil nafas dalam-dalam.
"A-aku penasaran sama suara itu. Terus aku berusaha ngintip apa yang terjadi dibalik dinding pembatas itu. Aku berusaha numpuk-numpuk bata, terus aku taro kursi diatasnya. Aku berdiri... Aku ngelihat...."

Anak itu tak melanjutkan perkataannya, membuat Firman sangat penasaran.
"Kenapa berhenti? Lanjut donk!!!" Bentak Firman
"A-aku ngeliat... Yang kamu cariin tadi... Ciri-cirinya sama persis sama yang kamu bilang. Sweater gak berlengan. Kacamata. Sama persis..." akhirnya anak itu bicara. Dan ia menghela nafas lega setelah mengatakan hal itu.
"Oke. Makasih." Firman menepuk pelan pundak anak itu. "Toilet ada di sebelah kelas 8-F." lanjut Firman sebelum ia berlari meninggalkannya.
Firman terus saja berlari ke tempat yang di katakan oleh anak tadi. Ia tak mempedulikan murid-murid yang menatapnya aneh berlari ke belakang sekolah meski saat itu adalah waktu istirahat. Tak lama kemudian, ia akhirnya tiba di pagar belakang sekolah. Disana, setumpuk batu bata tersusun di dekat sebuah kursi yang tergeletak di tanah. Dapat ia dengar suara Ari yang merintih kesakitan dari balik pagar, dan hal itu membuatnya naik pitam.

Ia segera berlari menuju salah satu bagian pagar sekolah yang berlubang dan tertutupi semak. Ia langsung merayap melewati lubang tersebut dan berakhir di luar sekolah. Ia melihat seseorang berseragam putih abu-abu tengah menahan Ari ke pagar sekolah sembari menyiksanya.

Selain seorang yang tengah menyiksa Ari, Firman juga melihat tiga orang berseragam sama di belakangnya yang tengah menonton Ari di siksa. Dan senior yang membuat Ari mendapatkan masalah ini, Bintang. "Eh, banci taman kota!" teriak Firman pada mereka sesaat setelah ia mengambil sebatang pendek kayu bekas kaki kursi, "Jangan beraninya keroyokan!"
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.