Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.7K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#64
Wiwid, Mita, dan Yesi.


Siang itu, aku dan anak-anak sudah berada di foodcourt yang ada di sebuah mall. Karena kondisiku sudah jauh lebih baik, aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah besok. Jadi sebelum pulang, hari ini aku ingin saja menghabiskan waktu bersama mereka: Choki, Dani, Ikmal, Jhon, Yesi, Ulfa, dan Wiwid.

Entah berapa lama setelahnya, aku udah nggak ingat. Yang jelas, seseorang mendatangi meja kami dan membuat obrolan kami yang berlangsung seru itu langsung terhenti.

Iya, itu Mita yang datang ke sini.

Aku terperanjat. Senang, khawatir dan heran jadi satu saat itu. Senang karena merindukannya, khawatir karena keberadaan Wiwid di sini, juga heran karena melihat Mita penampilannya begitu lain. Maksudku, dia pakai baju safari kayak penjaga kebun binatang, dan rambutnya nggak kelihatan karena dimasukin ke dalam topi.

“Hey,” disapanya kami. Lagi-lagi, semuanya hanya diam lebih-lebih Yesi dengan tatapannya yang dingin.

Aku langsung bangkit dari kursiku. Mau ngomong buat minta izin tapi susah banget. Situasinya benar-benar di luar dugaan.

“Kamu tau dari mana aku di sini?” langsung kutanya dia begitu kami sudah agak menjauh dari anak-anak.

“Tau aja,” balasnya enteng. “Nggak apa-apa. Aman,” katanya lagi begitu melihatku mencari-cari seseorang yang bisa saja berada entah di mana.

“Trus kamu tau dari mana kalau aku di sini?”

“Tau aja,” balasnya enteng lagi, seperti ingin mengajak bercanda.

“Miit? Aku serius.”

“Aku nyuruh dia buat ngikutin kamu.”

“Ngikutin aku? Siapa?! Orang yang waktu itu?!”

“Oscar? Bukan. Beda.”

Ternyata orang itu namanya Oscar. “Siapa, Mit?!”

“Emang kalau aku bilang kamu bakal kenal?”

“Ya ampun, Mitaa. Bukan itu juga maksudnya. Kenapa sampai harus kayak gitu?!”

“Kayak gitu apanya, Yooo?”

“Kenapa kamu sampe nyuruh orang buat ngikutin aku?!”

“Dia beda sama Oscar. Nggak bakal ada yang tau. Ya nggak gratis juga, sih. Tapi aman, lah. Dia bisa kupercaya. Nih, lihat, nggak bakal ada yang curiga, kan?” Mita langsung memamerkan pakaiannya.

“Mitaaa, ini mall, Miit. Dan kamu itu udah kayak pawang ular. Yang ada kamu malah narik perhatian orang.”

“Yah, kamu. Ya udah, ayo temenin ke atas. Cari yang lain. Di dekat toko yang tadi aku lihat ada butik.”

“Toko yang tadi?”

“Hmpppp. Tempat aku beli pakaian ini.”

“Kamu beli pakaian ini di sini?!!”

“Hmpppp.”

Astagaaa.

“Ayo.”

“Trus? Orang itu mana?”

“Siapa?”

“Ya itu... orang yang kamu bilang tadi.”

“Udaaah. Jangan takut. Ayo.”

“Aku nggak bisa, Mit.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Kamu nggak lihat ada Wiwid di sana? Nggak mungkinlah aku tinggalin dia gitu aja,” jawabku lagi sambil menahan tarikan tangannya Mita. Aku di posisi menghadap ke arah anak-anak, dan aku pun bisa lihat kalau mereka dari tadi merhatiin ke sini terus.

“Ayolah, aku bela-belain ketemu sama kamu. Aku pingin ngobrol banyak. Minggu depan aku berangkat ke Singapur, Yo.”

“Kamu berangkat ke Singapur?”

“Makanya. Ayo.”

“Miit, aku ya pingin banget berduaan sama kamu. Tapi jangan sekarang.”

“Kapan lagi?”

“Nggak tau, Mit. Aku pun besok mau pulang.”

“Pulang? Pulang ke rumah?”

“Iya.”

“Ya udah, aku gabung sama kalian aja kalau gitu.”

“Gabung?”

“Iya. Win-win, kan? Kita bisa ngobrol, temen-temenmu juga nggak kamu tinggal.”

“Temen-temen? Kan aku udah bilang kalau ada Wiwid juga.”

“Udaaaah,” balasnya sebelum meninggalkanku. Anak-anak mau didatangi lagi sama dia.

“Tunggutunggu!! Mita!”

Sial, aku benar-benar nggak bisa apa-apa saat itu.

Begitu Mita sampai lagi ke meja, suasana langsung jadi tambah aneh karena dia dengan sangat percaya diri menyalami semua buat mengenalkan diri. Persis ketika di rumah sakit, Yesi kembali menunjukkan sikap yang tidak bersahabat. Dan malah si Wiwid yang tersenyum hangat ketika meladeni Mita bersalaman.

Daritadi aku duduk di ujung dengan Wiwid di sebelah kiriku. Mita yang datang kemudian meminta kursi tambahan dan duduk di sebelah kananku, mengisi celah antara aku dan Yesi. Aku benar-benar nggak tau harus gimana. Kalian pasti tahu, kan, seperti apa jadinya saat seseorang yang harusnya tidak berada di sana malah jadi yang paling aktif bicara? Begitulah, anak-anak hanya tersenyum sebisanya kala menanggapi Mita waktu membahas sesuatu yang terus terang aku bingung apa tujuannya. Dan sekarang ini, dia tengah menceritakan banyak hal soal rencananya untuk kuliah di Singapur.

“Eh, besok kalau aku balik lagi ke sini, kalian mau dibawain apa?” PD banget si Mita ini nanyanya, kayak yang udah kenal tiga tahun aja sama anak-anak.

“Choki? Choki kan tadi namanya? Mau dibawain apa, Chok?”

“Mmmm... apa aja deh.”

“Gampang. Nanti deh ya. Kamu, Yes?”

“Nggak perlu. Makasih.”

Mita nampaknya tidak terpengaruh sama sekali. Malahan, dia tahu-tahu langsung merangkul sebelah lenganku.

“Kamu sendiri gimana?”

Sial, aku jelas aja mencoba untuk melepas tangannya, tapi yang ada dia malah merangkulku lebih erat lagi. Anak-anak seolah tidak melihat apapun, sementara Yesi udah nggak ngenakin banget tatapannya.

Dan, Wiwid, ya ampun. Aku tau kalau dia pasti berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.

Sumpah, ngerasa jadi bajingan banget aku saat itu. emoticon-Nohope

“Apa?” Mita sambil menggoyangkan lenganku.

“Apanya?”

“Jam tangan? Mau?”

“Ngapain? Punyaku, kan, masih ada.”

“Kamu ini. Di sana itu bagus-bagus lagi barangnya. Nanti aku belikan, ya, buat kamu satu. Lagian, kan, hitung-hitung hadiah. Buat pacar.”

Whaaaaat????????!!!!!

Semuanya keheranan, sedangkan aku tersenyum........yang kecutnya itu mungkin ngalahin ketiak mandor.

“Kapan aku...ngomong....kayak gitu?” pelan suaraku.

“Di villa,” Mita ikut berbisik, tapi tetap sengaja agar suaranya di dengar sama anak-anak. “Kamu bilang kamu suka sama aku udah dari lama.

Terus kamu juga mau mutusin pacar kamu. Kamu nggak inget?”

JEGEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEERRRRRR!!!!

Aku bagus mati aja kayaknya. Mau ngebantah gimana aku? Itu kenyataan memang, tapi ya nggak gitu juga caranya!!! Aku nggak tau si Mita ini lagi kerasukan jin apa, atau memang sifat aslinya seperti itu.

“Wid?? Wid!!”

Anj#ng! Tuh, kan? Lihat sendiri jadinya kayak apa. Wiwid langsung keluar lewat salah satu pintu yang menghadap ke jalan. Aku pun langsung mengejarnya, terus kubujuk tapi dia tetap cuek. Dan ketika Wiwid akan menyeberang jalan, tangannya kutarik sampai dia benar-benar berhenti.

“Denger dulu.”

“Kakak mau ngomong apa lagi? Bukannya udah jelas?”

“Bohong itu. Jangan percaya.”

“Beneran?”

“Beneranlah.”

“Ya udah, ayo ngomong sama dia. Bilang kalau tadi itu bohong.”

“..................................”

“Nggak berani, kan?”

“Wid!”

“Kak, udah. Kakak kalau maunya gitu, Wiwid nggak apa-apa.”

“Wiid, dengar dulu!” Aku menangkap tangannya lagi tapi langsung dilepasin dia. Aku mau menyusulnya, tapi Choki tahu-tahu sudah menyusulku dari belakang.

“Ang!” panggilnya dan pundakku ditarik sama dia.

“Apa Chok?”

“Kamu lihat sendiri kan? Harusnya kamu lepasin dia dari dulu.”

“Chok, aku nggak tau Chok kenapa malah jadi kayak gini.”

“Denger dulu,” Choki menahanku lagi.

“Apa lagi, Choook?”

“Ang, sorry. Tapi, udahlah, ‘Ang. Kamu jangan gangguin Wiwid lagi. Kasihan dia.”

“Chok?”

“’Ang, aku serius. Kamu nggak tau apa yang dia ceritain waktu aku nganterin dia dari rumah sakit.”

“Rumah sakit? Emang dia ngomong apa?”

Choki nggak ngejawab, yang dilakukannya cuma menepuk-nepuk dadaku sebelum pergi untuk menyusul si Wiwid.

Bangsaaaaat!!!

Aku pun memutuskan untuk kembali ke dalam. Dan belum lagi sampai ke tempat itu, giliran Mita yang bikin aku kaget. Keluar dari tempat itu, dia menangis sambil mengusap-usap pipinya.

Ta#k, kenapa lagi ini?!!!!

“Kamu kenapa, Mit?!”

Mita diam dan dia menatapku seperti ingin marah. Ketika kusingkirkan tangannya, aku bisa melihat kalau di pipinya ada bekas telapak tangan yang masih merah.

“Mita!”

Dia pergi dan tanganku pun ditepisnya. Aku mengejarnya lagi, tapi aku langsung berhenti begitu pundakku dipegang dari belakang. Aku yang menoleh kemudian mendapati seseorang berperawakan tinggi besar, yang kemudian langsung menyusul Mita dan membawanya ke sebuah mobil yang di seberang jalan.

BANGSAAAAAT!!!!

Anak-anak kemudian kulihat keluar dari tempat itu. Dan aku langsung menghadang satu-satunya orang yang kuyakini bertanggung jawab.

“Yes!”

“Awas kamu!”

“Tunggu!!!!”

“Apa-apaan kamu?!”

“Kamu yang apa-apaan?!” balasku lebih lantang lagi. “Kamu mukul Mita, kan?”

“Kalau iya, kenapa?”

“’Kenapa’ kamu bilang?!!!”

“Heh, ‘Ang! Kamu itu....”

“Fa!” Yesi langsung menyela si Ulfa. “Kamu diam. Udah, biarin aja.”

“Kamu itu kayak anak-anak tau nggak!!”

“Anak-anak?! Kamu ngajakin dia ke sini buat kamu pamerin sama Wiwid, siapa yang kayak anak-anak, hah?!!”

“Aku benar-benar nggak tau, Yes,” aku melunak. “Dia datang sendiri. Sumpah.”

“Halah!! Kalian berdua sama aja.”

“Yes, kamu boleh aja nggak suka sama dia, tapi kamu harusnya nggak main tangan kayak gitu.”

“Anak pramuria kamu.”

“YES!!! JAGA MULUT KAMU!!!” kutunjuk mukanya. Tanganku pasti sudah melayang kalau saja dia bukan laki-laki. “NGGAK PUNYA OTAK KAMU, YA??!!!”

“Nggak terima, kan? SAMA!!!! AKU PUN NGGAK TERIMA KALAU IBUKU DIKATAI pramuria!!!!”

“Apa?” aku langsung seperti orang bodoh. Dan saat itu, aku pun bisa melihat kalau anak-anak seperti ingin ikut marah. Aku bingung harus bagaimana sementara anak-anak sudah pada di parkiran depan mall.

Ulfa yang membonceng Yesi kemudian kuhadang.

“Tunggu.”

“Jalan aja, Fa!”

“Tunggu,” kali ini langsung kucabut kunci motornya. Tapi situasinya malah tambah runyam karena Yesi langsung turun dari motor dan meninggalkan kami.

“Yesi!”

“Fa, udah. Biar aku aja.” Kemudian aku langsung menyusul Yesi, sementara yang sudah pada naik motor langsung membuntuti dengan pelan-pelan.

“Yes,” kupanggil dia tapi dia nggak perduli.

“Yesi. Maaf.”

“Yes!!!” kutarik tangannya sampai kami berhadapan.

‘PLAK!!’

Aku terdiam. Dan aku makin merasa bodoh karena Yesi ternyata sudah menangis. Aku berhak mendapatkannya karena aku memang nggak tau apa-apa soal kejadian tadi.

Sebentar saja Yesi sudah memanggil sebuah metromini. Aku kemudian langsung merogoh saku celana dan mengeluarkan kunci motorku. Anak-anak saat itu berada tidak jauh dariku. Si Jhon yang paling dekat.

“Jhon! Tolong ya,” kulemparkan kunci motorku.

Dan aku pun ikut naik.

***
Diubah oleh kawmdwarfa 07-01-2017 16:25
ariefdias
pulaukapok
pulaukapok dan ariefdias memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.