- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil
...
TS
suwandilam
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil
INDEX
PART 1 - Perkenalan - Langsung ada di postingan ini
PART 2 - Keberangkatan
PART 3 - Tiba di Desa
PART 4 - Malam Pertama
PART 5 - Ibu Tua
PART 6 - Informasi Mengejutkan
PART 7 - Suara
PART 8 - Terkuncikah ?
PART 9 - Rumah Terang
PART 10 - Gadis Cantik Yang Kesepian
PART 11 - Tangisan
PART 12 - Pernyataan Kades
PART 13 - Terjebak
PART 14 - Pengungkapan
PART 15 - Silahturahmi Pertama
PART 16 - Tamu
PART 17 - Jalan Malam
PART 18 - Berteduh Lagi
PART 19 - Balik !!!
PART 20 - Maksud Terselubung
PART 21 - Perdebatan
PART 22 - Halusinasi ?
PART 23 - Halusinasi 2
PART 24 - Tangis dan Tawa
PART 25 - Pengejaran Amelia
PART 26 - Ngecek Lagi ?
PART 27 - Gak Hoki
PART 28 - Siapa Itu Ya ?
PART 29 - Hari Yang Tenang
PART 30 - Kebelet !
PART 31 - Bertemu Lagi !
PART 32 - Tertabrak !
PART 33 - Terror
PART 34 - Kejutan !!!
PART 35 - Terror 2
PART 36 - Terror 3
PART 37 - Lemari Cermin
PART 38 - Ngecek yuk
PART 39 - Tangisan
PART 40 - Ketukan
PART 41 - Mimpi atau Nyata
PART 42 - Penampakan
PART 43 - Haruskah Melapor ?
PART 44 - Mencari Solusi
PART 45 - Pengungkapan Misteri !
PART 46 - Pengungkapan Misteri 2
PART 47 - Pengungkapan Misteri 3
PART 48 - Pengungkapan Misteri 4
PART 49 - Sebenarnya ini apa ?!
PART 50 - Pengungkapan Lemari Cermin
PART 51 - Nenek oh Nenek
PART 52 - Konflik !
PART 53 - Kejutan
PART 54 - Bolehkah Gue Kabur ?
PART 55 - Hilang !
PART 56 - Duniaku
PART 57 - Gue Dimana?
PART 58 - SURAT
PART 59 - Suara dan Penglihatan ?
PART 60 - Masuk atau Kagak ?!
PART 61 - Aku Hilang !
PART 62 - Kembali
PART 63 - Penjelasan
PART 64 - Siksaan !
PART 65 - Ketenangan
PART 66 - Suara Aneh
PART 67 - Terjebak !
PART 68 - TOLONG GUE !
PART 69 - Kuburan (NEW UPDATE)
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil - Part 1
Cerita ini merupakan fiksi, namun isi dari cerita ini sebagian diambil dari serangkaian kisah pengalaman nyata yang dialami oleh penulis dan dicampur dengan cerita fiksi yang tidak benar-benar terjadi. Beberapa kejadian memang benar terjadi dan beberapa kejadian merupakan cerita rekayasa untuk penambahan agar cerita ini menjadi lebih menarik. Semua nama tokoh, nama tempat dan lain-lain telah disamarkan guna menjaga nama baik pemilik aslinya.
Nah mari kita mulai ceritanya.
1 Februari 2015, Yap tepat pada tanggal ini saya mahasiswa jurusan ekonomi yang bernama Dony mendapatkan tawaran menarik dari kampus saya. Saya berasal dari Jakarta, kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta dan sekarang tengah memasuki semester delapan. Menjelang memasuki semester 8 yang ku anggap bakal menjadi semester terakhir untuk perkuliahanku, Aku memiliki banyak waktu luang karena aku hanya tinggal menyelesaikan KKN dan menyusun skripsi (Itupun uda hampir kelar karena data2 skripsinya uda ada dan tinggal dimanipulasi, namun repotnya ya itu nanti minta persetujuan dosen dan revisi2 yang menjengkelkan pastinya dan bisa menghabiskan waktu cukup lama).
Sebelum tanggal 1 Feb, keseharianku cukup membosankan karena terlalu banyak waktu luang, mau memikirkan tentang KKN, tetapi aku masih galau mau KKN di mana, belum ada lokasi KKN yang asik menurutku sampai saat ini. Kebanyakan waktu luangku kuhabiskan untuk berkelana di kampus mencari info2 sputar KKN, hingga suatu waktu aku pergi ke ruangan dosen, bercerita2 dengan dosen dan terakhir sebelum pulang, aku membaca papan informasi yang ada di ruangan dosen, seketika mataku tertuju pada papan informasi yang terdapat selembaran brosur. Brosur tsb bertuliskan :
“Dicari 10 Mahasiswa/I yang berminat untuk ikut serta dalam kegiatan pembangunan desa terpencil selama 3 bulan, dana semua ditanggung oleh kampus. Diperuntukkan bagi mahasiswa/I yang berada di semester 7 ke atas.
Kriteria : Memiliki jiwa pemberani, bisa hidup mandiri, menyukai kehidupan alam desa dan ingin pengalaman seru.
Hadiah : Bagi anda yang belum menyelesaikan KKN, maka KKN dianggap selesai sehubungan dengan kegiatan ini dan mendapatkan nilai A
Bagi anda yang sedang menyelesaikan skripsi, maka nilai Skripsi anda akan langsung mendapatkan nilai A.
Silahkan isi formulir yang dapat diambil di bagian kemahasiswaan, serahkan formulir tersebut ke rektorat paling lambat tanggal 30 Januari 2015. Bagi mahasiswa/I yang kami anggap cocok untuk ikut serta dalam kegiatan pembangunan desa ini, akan kami informasikan pada tanggal 1 Februari 2015.
Mahasiwa/I akan kami pilih dari berbagai jurusan agar dapat saling melengkapi dan membuat serangkaian program untuk pembangunan desa tersebut.
Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung datang ke rektorat.”
Wahhhh !!! Setelah membaca brosur ini, akupun kaget dan cukup tertarik untuk mengikuti kegiatan ini. Langsung kutanyakan ke bagian kemahasiswaan di fakultasku tentang formulir ini dan apakah masih ada kuota kosong untuk kegiatan pembangunan desa ini atau tidak.
Saya : “Pak ! Itu brosur di papan informasi masih berlaku kan Pak? Kira2 masih ada slot kosong utk saya ikut serta gak ?”
Dosen Kemahasiswaan : “Oh brosur itu, setahu saya itu masih terbuka untuk semua mahasiswa di universitas ini. Penutupannya kan di akhir bulan Januari ini. Kenapa? Kamu minat utk ikut ?”
Saya : “Oh jelas minat lah Pak ! KKN dan Skripsi langsung kelar dan nilainya A loh !”
Dosen : “Hehehe iya nak, Bapak juga kaget baca brosur ini, kok bisa ya rektorat langsung izinkan KKN dan Skripsi langsung dapat nilai A.”
Saya : “Loh, memangnya kenapa Pak ? Tahun2 sebelumnya belum pernah ada informasi seperti ini?”
Dosen : “Belum pernah nak. Ini informasi terbaru dan perdana yang pernah Bapak dapatkan. Belum pernah ada kegiatan seperti ini selama bapak mengajar di sini. Ya uda kamu coba apply aja deh, siapa tau kamu bisa terpilih kan, itu untuk 10 orang kapasitasnya loh, coba aja kamu ajak temanmu biar gak bosan. Siapa tau bisa masuk kalian kan, tapi nanti kepastian siapa yang berhak ikut itu jg ditentuin dari rektorat dan kemungkinan kamu dan temanmu tidak bisa lolos barengan, tapi dicoba saja, paling enggak nanti kamu bakal dapat banyak teman baru loh. Nih formulirnya.”
Saya : “Makasih pak, paling enggak saya lolos dari KKN dan Skripsi yang menyusahkan ini Pak. Hehehehe.” (Ketawa cengengesan)
Setelah mendapatkan formulir dari dosen kemahasiswaan fakultasku, Aku langsung bikin group chat via BBM untuk beberapa teman2ku yang berjumlah 4 org termasuk aku yang tentunya masih belum KKN dan Skripsi.
Saya : “Woi, Bro ! Baca nech, Kalian ndak perlu KKN dan bikin skripsi oeeee ! Ikut program ini, seru cui ngabdi di desa, hidup di alam bebas, KKN dan skripsi lgsg kelar. Dana semua ditanggung kampus ! Ikut yok, untuk semua fakultas loh!”
Rudy : “Wew serius tuh? Keknya seru juga loh ! Lu ada formulirnya?”
Victor : “Wakakaka, klo KKN dan skripsi lgsg A , gue masuk cui. Kapan kasi gue form nya ?”
Benny : “Gue ikut apply deh klo kalian semua apply ! Ya moga” aja kepilih semua kita berempat!”
Saya : “Okay, form nya kalian jemput aja ama gua di kampus ya!”
Setelah menghubungi semua teman2 gua, gua pun atur waktu ketemu mreka dan ngasihin formulir untuk mereka isi.
Tepat pada tanggal 1 Februari 2015 pagi hari, HP kami masing2 pun berdering.
Saya : “Woiii brooo ! Gue dapat sms dari rektorat nech ! Gw kepilih untuk ikut loh ! Wakakka, kalian cam mana? Lolos ?”
Rudy : “Gue kagak lolos brooooo… Suram !!!”
Victor : “Lu gak lolos Rud ? Gue lolos nech wkawkakwa, mantap Don ! Bareng2 nikmatin alam desa kita, skalian cuci mata liat cewek2 desa wakwkawka ! Benny gimana?”
Benny : “Gue gak lolos cukkk~ Kok bisa yeee… Padahal pengen banget gue nikmatin alam desa, intinya sih sebenarnya kkn dan skripsi kelar wakwakka.”
Saya : “Sabar yee yang gak lolos wkwkwk, kalian ambil masa langkau aja, barangkali tahun depan ada lagi kegiatan beginian hehehe.”
Rudy : “Taikk lu… Ya uda info2 n cerita2 ye pengalaman xan disana gimana !”
Victor : “Pasti bro ! Eh Don, nanti siang kita ke rektorat bareng deh ya !”
Saya : “Sip bro !”
Siang harinya sehabis makan siang, gue dan Victor langsung menuju ke rektorat dengan mengendarai motor kami masing2. Selama perjalanan kami saling bercerita.
Saya : “Eh bro, bosan gak ya nanti selama di desa, 3 bulan loh. Entah ada pulang or enggak ?”
Victor : “Ya kagak tau, enak sih hidup mandiri dan bebas, tapi klo 3 bulan ndak pulang ya bosan jg, kecuali di desa itu adem dan bnyk hiburan, tapi gue rasa mana bakal byk hiburan, tv, game, inet pasti ga ada or klo pun ada pasti jelek sekali.”
Saya : “Iya juga sich, tapi biarlah, lumayan kan KKN dan Skripsi bisa kelar dalam 3 bulan bersamaan. Bersabar2 aja dah, tujuan kita kan itu. Hehehe”
Victor : “Yoi Bro. Kira-kira 8 peserta lagi cowo apa cewe ya, klo cowo semua bosan juga nech. Btw entah ada yang tipe gue or gak ya, pengennya sih klo ada yg cewe yg tipe gue, bisa pdkt-an sekalian hahaha.”
Saya : “Hehehe.. Lu mah mata keranjang wakwkawka.”
Ehem, sampai lupa ngasih tau ke para pembaca, Gue dan Victor punya kriteria tipe cewe kami masing-masing. Ya moga-moga aja ada yg sesuai tipe, jadi bisa aktivitas bareng sambilan PDKT. hehehe
Polling
0 suara
Bagusnya Cerita ini memiliki Alur Panjang atau pendek ? Bagaimana isi ceritanya?
Diubah oleh suwandilam 18-09-2019 21:40
symoel08 dan 17 lainnya memberi reputasi
12
1.7M
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
suwandilam
#1860
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil – Part 65
Gue yang tersiksa karena kaga bisa napa-napain semenjak sosok wanita seram itu berada di depan mata gue hanya bisa pasrah…
Usaha utk berdoa juga selalu gagal…
Tatapan sosok hantu wanita dengan lubang matanya yang hitam gelap semakin mendekat, menempel tepat sejajar dengan mata gue, air liurnya dan belatungnya terus berjatuhan ke celana gue bahkan karena saking deketnya jarak hantu wanita ini, baju gue mulai kena lumuran ludah dan belatung.
Gue yang pasrah… diem… kagak bisa napa2in…
Akhirnya gue paksa pejamkan mata gue, gue paksa teriak sekuat2nya…
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!
Teriakan gue awal-awal seakan kagak ada suara sama sekali, gue terus paksain hingga mungkin ada 5 kali dan akhirnya badan gue tersentak sadar.
Gue bisa ngelihat temen-temen di sekeliling gue.
Para cewe yang sedang ketakutan karena lampu mati dan suasana gelap hanya menggunakan lilin semakin merinding melihat gue yang tiba-tiba teriak.
Victor dan Aldi yang ada di deket gue juga sempet terkejut gue melihat badan gue kejang-kejang sekejap saat berteriak.
“Loe kenape Don? Kok badan lu geter-geter gitu sampai teriak segala ?! Loe bikin gue ama yang lain kaget. Dah tau suasana lagi gak enak gini !” ucap Victor
“Gak tau Vic ! Gak tau ! Tadi gue lihat penampakan sosok hantu wanita yang serem banget, bola matanya kagak ada, hanya lubang matanya yang begitu hitam pekat, air ludahnya terus nyucur ke celana gue dan ada belatungnya juga !” ucap gue dengan nafas terengah-engah.
Para cewe yang mendengar dan melihat ekspresi gue semakin ketakutan, mereka akhirnya saling berkumpul satu sama lain, sementara Victor dan Aldi berusaha nenangin gue.
Gue coba ambil nafas perlahan-lahan agak stabil. Gue tenangin diri gue.
“Udah udah… Gak usah cemas banget, gak kenapa-kenapa kok, mungkin hanya halusinasi sekejap aja kok.” Ucap gue nenangin hati para cewe lainnya yang tampak ketakutan
“Ko, kamu serius gak kenapa-kenapa ? Beberapa hari ini kamu terlihat agak aneh.” Tanya Monica dengan suara lembutnya, sementara cewe lainnya hanya diem dan melihat ke arah gue.
Suasana yang gelap dan ditemenin dengan 2 batang lilin yang menyala redup di ruang tamu, ditambah suasana yang menegangkan akibat pengungkapan gue dan Victor tadi beserta ekspresi gue barusan semakin memperkeruh keadaan.
Beberapa cewe yang hatinya lembut dan bisa dibilang sedikit manja, mulai meneteskan air mata, terutama Feby dan Angela.
Mereka berdua tampak ketakutan dan cemas.
Sosok Feby yang cantik dan rambut panjangnya yang lurus yang mungkin mengerti keadaan yang gue alamin, dia hanya bisa meneteskan air mata seakan-akan penuh dalam rasa ketakutan, ingin rasanya gue ngehampirin dia dan meluk dia.
Pengen gue katakan pada dia untuk tetap tenang…
Percayalah pada kami semua, kita akan baik-baik aja.
Sementara Angela yang juga cantik dan berkulit putih bersih juga tampak meneteskan air mata, hanya kedua cewe ini yang mungkin memiliki hati yang lebih lemah dibandingkan para cewe lainnya.
Mereka berdua tampak ketakutan dan kagak bisa menahan rasa takutnya..
Sebenarnya wajar saja bagi para cewe untuk merasakan ketakutan di kondisi begini, apalagi mereka pasti membutuhkan perlindungan dan perhatian dari orang lain.
Ahhh… Pengen gue tenangin mereka, sementara gue sadar hati dan detak jantung gue belum stabil mengingat kejadian yang gue alamin.
Victor yang sadar akan keadaan Feby dan Angela mulai menghampiri mereka.
Feby dan Angela yang sedang dihibur oleh para temen cewe lainnya tetep menangis ketakutan, rasa takutnya membuat badan mereka juga sampai bergetar sedikit.
Victor menghampiri Angela, memegang tangannya, mengesampingkan poni doranya yang manis imut yang menutup matanya karena ia sedang tertunduk menangis sedih dan takut.
“Tenang Angel… Kita semua pasti baik-baik saja kok. Waktu pengabdian kita sisa sebulan aja. Kagak mungkin terjadi apa-apa. Gue, Doni dan Aldi pasti berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi kita semua. Kalian semua jangan lupa perbanyak berdoa. Kita gak tau ke depannya apa yang akan terjadi, yang pasti kita berharap yang terbaik dan lancar.” Ucap Victor dengan suara pelan
Victor juga memberi kode kepada Aldi untuk membantu menghibur Feby yang juga dalam keadaan takut.
Gue hanya bisa diem, syukurlah Victor dan Aldi bisa nenangin kedua cewe itu.
Gue tau kedua cewe itu memang sosok yang lembut, hati mereka termasuk yang lemah dan mudah takut. Pengen rasanya ngelindungin dan meluk mereka, ya tujuannya untuk nenangin mereka, bukan macem-macem sih.
Gue hanya merhatiin Victor dan Aldi nenangin kedua cewe, tanpa gue sadari Monica ada di samping gue.
“Ko, udah mendingan kah dirimu ? Udah tenang ?” tanya Monica lembut
Gue yang duduk bersandar di dinding rumah seorang diri, ternyata ada Monica di samping gue, hati gue tenang dan terasa lebih nyaman ada yang nemenin gue.
Yang lain berkumpul cukup jauh dari posisi gue, wajar aja, tadi kan para cewe jauhin gue karena melihat gue berteriak.
Monica menatap mata gue terus, meyakinkan diriku bahwa gue kagak kenapa-kenapa…
Gue hanya diem, tersipu sedikit malu karena gue tampak takut tadinya.
“Mon, sorry loh tadi gue teriak dan ketakutan. Gue hanya ga menyangka gue bisa halusinasi gitu.” Ucap gue lembut ke Monica
Monica hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan memberi isyarat bahwa semua baik-baik aja.
Waktu seakan berhenti ketika gue memandangin tatapan mata Monica dan wajahnya yang deket dengan diriku, suaranya yang lembut membuat gue semakin tenang dan yakin bahwa semua akan baik-baik aja.
Beberapa jam kemudian, setelah para cewe mulai tenang, barulah kami memutuskan untuk berdoa bersama dan akhirnya kembali tidur dan istirahat.
Beberapa hari berlalu dengan tenang tanpa ada masalah apapun, yah mungkin ada yang alamin, tapi gue kagak tanya karena kagak begitu mencolok.
Sampai kira-kira seminggu berlalu, barulah sesuatu yang kagak enak kembali berulah………….
Gue yang tersiksa karena kaga bisa napa-napain semenjak sosok wanita seram itu berada di depan mata gue hanya bisa pasrah…
Usaha utk berdoa juga selalu gagal…
Tatapan sosok hantu wanita dengan lubang matanya yang hitam gelap semakin mendekat, menempel tepat sejajar dengan mata gue, air liurnya dan belatungnya terus berjatuhan ke celana gue bahkan karena saking deketnya jarak hantu wanita ini, baju gue mulai kena lumuran ludah dan belatung.
Gue yang pasrah… diem… kagak bisa napa2in…
Akhirnya gue paksa pejamkan mata gue, gue paksa teriak sekuat2nya…
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!
Teriakan gue awal-awal seakan kagak ada suara sama sekali, gue terus paksain hingga mungkin ada 5 kali dan akhirnya badan gue tersentak sadar.
Gue bisa ngelihat temen-temen di sekeliling gue.
Para cewe yang sedang ketakutan karena lampu mati dan suasana gelap hanya menggunakan lilin semakin merinding melihat gue yang tiba-tiba teriak.
Victor dan Aldi yang ada di deket gue juga sempet terkejut gue melihat badan gue kejang-kejang sekejap saat berteriak.
“Loe kenape Don? Kok badan lu geter-geter gitu sampai teriak segala ?! Loe bikin gue ama yang lain kaget. Dah tau suasana lagi gak enak gini !” ucap Victor
“Gak tau Vic ! Gak tau ! Tadi gue lihat penampakan sosok hantu wanita yang serem banget, bola matanya kagak ada, hanya lubang matanya yang begitu hitam pekat, air ludahnya terus nyucur ke celana gue dan ada belatungnya juga !” ucap gue dengan nafas terengah-engah.
Para cewe yang mendengar dan melihat ekspresi gue semakin ketakutan, mereka akhirnya saling berkumpul satu sama lain, sementara Victor dan Aldi berusaha nenangin gue.
Gue coba ambil nafas perlahan-lahan agak stabil. Gue tenangin diri gue.
“Udah udah… Gak usah cemas banget, gak kenapa-kenapa kok, mungkin hanya halusinasi sekejap aja kok.” Ucap gue nenangin hati para cewe lainnya yang tampak ketakutan
“Ko, kamu serius gak kenapa-kenapa ? Beberapa hari ini kamu terlihat agak aneh.” Tanya Monica dengan suara lembutnya, sementara cewe lainnya hanya diem dan melihat ke arah gue.
Suasana yang gelap dan ditemenin dengan 2 batang lilin yang menyala redup di ruang tamu, ditambah suasana yang menegangkan akibat pengungkapan gue dan Victor tadi beserta ekspresi gue barusan semakin memperkeruh keadaan.
Beberapa cewe yang hatinya lembut dan bisa dibilang sedikit manja, mulai meneteskan air mata, terutama Feby dan Angela.
Mereka berdua tampak ketakutan dan cemas.
Sosok Feby yang cantik dan rambut panjangnya yang lurus yang mungkin mengerti keadaan yang gue alamin, dia hanya bisa meneteskan air mata seakan-akan penuh dalam rasa ketakutan, ingin rasanya gue ngehampirin dia dan meluk dia.
Pengen gue katakan pada dia untuk tetap tenang…
Percayalah pada kami semua, kita akan baik-baik aja.
Sementara Angela yang juga cantik dan berkulit putih bersih juga tampak meneteskan air mata, hanya kedua cewe ini yang mungkin memiliki hati yang lebih lemah dibandingkan para cewe lainnya.
Mereka berdua tampak ketakutan dan kagak bisa menahan rasa takutnya..
Sebenarnya wajar saja bagi para cewe untuk merasakan ketakutan di kondisi begini, apalagi mereka pasti membutuhkan perlindungan dan perhatian dari orang lain.
Ahhh… Pengen gue tenangin mereka, sementara gue sadar hati dan detak jantung gue belum stabil mengingat kejadian yang gue alamin.
Victor yang sadar akan keadaan Feby dan Angela mulai menghampiri mereka.
Feby dan Angela yang sedang dihibur oleh para temen cewe lainnya tetep menangis ketakutan, rasa takutnya membuat badan mereka juga sampai bergetar sedikit.
Victor menghampiri Angela, memegang tangannya, mengesampingkan poni doranya yang manis imut yang menutup matanya karena ia sedang tertunduk menangis sedih dan takut.
“Tenang Angel… Kita semua pasti baik-baik saja kok. Waktu pengabdian kita sisa sebulan aja. Kagak mungkin terjadi apa-apa. Gue, Doni dan Aldi pasti berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi kita semua. Kalian semua jangan lupa perbanyak berdoa. Kita gak tau ke depannya apa yang akan terjadi, yang pasti kita berharap yang terbaik dan lancar.” Ucap Victor dengan suara pelan
Victor juga memberi kode kepada Aldi untuk membantu menghibur Feby yang juga dalam keadaan takut.
Gue hanya bisa diem, syukurlah Victor dan Aldi bisa nenangin kedua cewe itu.
Gue tau kedua cewe itu memang sosok yang lembut, hati mereka termasuk yang lemah dan mudah takut. Pengen rasanya ngelindungin dan meluk mereka, ya tujuannya untuk nenangin mereka, bukan macem-macem sih.
Gue hanya merhatiin Victor dan Aldi nenangin kedua cewe, tanpa gue sadari Monica ada di samping gue.
“Ko, udah mendingan kah dirimu ? Udah tenang ?” tanya Monica lembut
Gue yang duduk bersandar di dinding rumah seorang diri, ternyata ada Monica di samping gue, hati gue tenang dan terasa lebih nyaman ada yang nemenin gue.
Yang lain berkumpul cukup jauh dari posisi gue, wajar aja, tadi kan para cewe jauhin gue karena melihat gue berteriak.
Monica menatap mata gue terus, meyakinkan diriku bahwa gue kagak kenapa-kenapa…
Gue hanya diem, tersipu sedikit malu karena gue tampak takut tadinya.
“Mon, sorry loh tadi gue teriak dan ketakutan. Gue hanya ga menyangka gue bisa halusinasi gitu.” Ucap gue lembut ke Monica
Monica hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan memberi isyarat bahwa semua baik-baik aja.
Waktu seakan berhenti ketika gue memandangin tatapan mata Monica dan wajahnya yang deket dengan diriku, suaranya yang lembut membuat gue semakin tenang dan yakin bahwa semua akan baik-baik aja.
Beberapa jam kemudian, setelah para cewe mulai tenang, barulah kami memutuskan untuk berdoa bersama dan akhirnya kembali tidur dan istirahat.
Beberapa hari berlalu dengan tenang tanpa ada masalah apapun, yah mungkin ada yang alamin, tapi gue kagak tanya karena kagak begitu mencolok.
Sampai kira-kira seminggu berlalu, barulah sesuatu yang kagak enak kembali berulah………….
herry8900 dan christlova memberi reputasi
2