TS
User telah dihapus
NULL
NULL
more than just none
Cerita ini lebih saya kategorikan ke Action-Mistery,yah apapun itu.
sudut pandang orang ketiga(serba tau) dan bahasa indonesia semi baku.
Sinopsis
Bagas,seorang pemuda biasa dipercaya dan diikutsertakan oleh kepolisian untuk membantu menangani kasus-kasus pembunuhan di Ibu Kota.
Keahliannya berhasil menuntun dirinya bergabung ke dalam 'Divisi 1', sebuah grup berisi sekumpulan veteran anak muda dengan keahliannya di masing-masing cabang ilmu forensik.
Rules
- nggak ada peraturan tambahan,bebas aja.
- batasan-batasannya mengacu penuh ke rules H2H & SFTH.
- komentar & teguran langsung saja dilayangkan via Post atau PM.
Warning!
- Cerita ini benang merahnya adalah tentang jagoan lawan penjahat jadi temanya nggak jauh-jauh dari kekerasan.( dengan kata lain kalau kalian sangat tabu dengan kata 'pembunuhan' dan sebagainya, sebaiknya pindah ke bacaan lain ).
- sebagian dari inti cerita ini bukan untuk ditiru atau diidolakan,begitu. ( Hal baik selalu menang jadi jangan tiru yang buruknya )
- Tokoh,Tempat,Kejadian semuanya Fiksi. (Extremely fiksi mungkin)
- Banyak hal terjadi di cerita ini;beberapa masuk akal,beberapa belum bisa dilakukan di jaman ini dan beberapa mungkin mustahil dilakukan di dunia ini.
- Berdasarkan temanya ane pribadi bilang konten cerita ini untuk umur 17 tahun ke atas atau mereka yang sudah mampu menalar cerita fiksi.
- Kentang, pasti! ( TSnya masih belum lancar menulis jadi jeda per part-nya bakalan cukup lama )
- N/A.
Isi Cerita
Spoiler for Ilustrasi karakter:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Spoiler for CHAPTER 3:
Spoiler for CHAPTER 4:
Pengumuman tutup lapak (closed permanently)
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Masukkan dan Update Cerita
Cerita GaJe, 1 hari = 10 chapter ( Random )
0%
Cerita biasa, 1 hari = 1 chapter ( 00:00 - 12:00 )
0%
Cerita lumayan, 1 hari = 1 chapter ( 12:00 - 00:00 )
0%
Cerita bagus, 2 hari = 1 chapter ( 17:00 - 20:00 )
0%
Cerita menarik, 3 hari = 2 chapter ( 12:00 & 17:00 )
0%
NULL, 7 hari = 1 chapter ( 15:00 )
0%
Diubah oleh User telah dihapus 11-04-2017 20:43
anasabila memberi reputasi
1
21.5K
98
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
User telah dihapus
#65
Chapter 2 - Side story
Karina I - Adorable cancer
"Mama? kau ingat kan ini hari apa?"
Ini hari sabtu,mataharinya bersinar dengan cerah,bunga-bunganya bermekaran di halaman,kupu-kupunya saling terbang di atas mereka..
dan.. tiba-tiba badai besar datang begitu saja..
"hmm? hari apa memangnya? mama lupa,na"
"masa mama lupa hari spesial ini sih? ini hari AIDS sedunia"
begitulah ungkapan kegembiraan putri kecilku pagi ini..
rasanya ini badai langganan kami..
ia selalu datang di hari ini.. tidak sebelumnya.. tidak setelahnya..
HIV AIDS,aku seorang ibu satu anak yang mungkin satu-satunya di negeri ini yang mengatakan kalau hal ini adalah anugerah..
hal ini.. maksudku,penyakit ini.. seperti badai besar bagiku..
tapi untuk Karina.. itu seperti suatu hal yang spesial.
*
*
*
*
Ia gadis kecil yang mulai menanyakan hal itu sejak tetangga lama kami mengusirku dulu.
apa itu HIV? AIDS? dia hanya anak kecil yang ingin tau arti kata itu.
ibu yang disayanginya ditendang keluar dan diusir.. dimaki dan dikutuk dengan kata-kata kasar..
tapi cuma kata-kata itu yang teringat olehnya.. HIV AIDS..
apa yang salah dengan itu? mungkin dia berfikir sampai situ pada saat itu.
kalau aku katakan yang sebenarnya mungkin dia akan bisa menerimanya.. tapi mungkin juga dia justru akan ikut terbebani oleh pemikiran-pemikiran yang negatif.
aku tak mungkin memberitahunya sekarang.. tidak di usianya yang masih sekecil ini..
karena itu aku memilih untuk menyembunyikannya darinya..
bukan,bukan menyembunyikannya.. tentu saja berbohong dan menyembunyikan kebenaran bisa bermaksud beda..
saat itu aku justru berbohong padanya.
"ayo,ma.. kita masak yang enak yah hari ini" kata si kecil Karina padaku.
"kamu mau makan apa,na? mama ada uang lebih hari ini,kita bisa beli daging kalau kamu mau" tawarku padanya.
tangan mungilnya yang masih halus menggenggam tangan kasarku ini,kami berjalan lewat rute favorit kami.
Karina sangat benci bau tembakau jadi kami mencari rute lain untuk menuju kios langganan kami.
ya,banyak penjual tembakau di pasar umum seperti ini,kami harus berjalan ekstra jauh lagi demi menghindari toko-toko mereka.
pada awalnya dia masih tahan dengan menutup hidungnya selagi melewati kios penjual tembakau,tapi dia bilang kalau baunya masih sangat menyengat walau sudah tutup hidung sekalipun.
aku pikir daya ciumnya sedikit lebih baik dari orang pada umumnya,aku benar-benar mengakui hal itu sebenarnya.
....
Karina masih sangat kecil untuk ikut memikirkan kenyataan ini..
ditinggal pergi ayahnya sejak lahir.. dan terus hidup bersama ibunya yang hampir sekarat ini.
entah apa yang nanti dia rasakan kalau tau ibu yang sangat disayanginya berbohong soal penyakitnya.
....
mungkin aku saja yang terlalu mengkhawatirkannya..
aku tak seharusnya berbohong sejak awal..
maaf karna ibumu tak setegar batu karang,nak..
mama hanya nggak sanggup memberitahu kebenarannya..
*
*
*
*
"yeaay,dah siap.." kata Karina kecil yang riang sekali merayakan hari AIDS sedunia tahun ini.
tak ketinggalan pita merah yang selalu ia kalungkan ke leherku,sebagai tanda perayaan hari ini.
"tahun ini lebih meriah dari tahun kemarin yah? dari mana kamu dapat balon balon sebanyak itu,na?" tanyaku melirik belasan balon beraneka bentuk dengan warna warni cerah berserakan di lantai.
"dari temanku,dia mau kasih cuma-cuma kalau aku kerjakan tugas rumahnya selama seminggu" jawab Karina kecil masih sangat polosnya.
aku tahu siswa kelas 2 SD tidak akan terlalu memikirkan tugas rumahnya,yang mereka inginkan hanya bermain setiap saat,begitu juga Karina.
namun ini hari spesial baginya,hanya sekedar mengerjakan tugas sekolah satu temannya untuk satu minggu mungkin bukan masalah besar.
balon-balon itu mungkin hanya seharga uang sakunya selama 4 hari.. yah,uang sakunya memang tak terlalu banyak jika dibandingkan dengan temannya..
dia juga anak yang prihatin,tak jajan dan menyimpan uang sakunya terkadang juga ia lakukan kalau memang tak terdesak keadaan..
terkadang aku malu.. tapi di lain sisi juga merasa senang.. si kecil Karina yang ku sayangi,tumbuh sekuat ini.
entah kenapa aku juga hanya bisa tersenyum melihat anak sekecil dia sudah bisa berbuat sajauh itu.
....
"maa?"
"..."
"mamaa!?"
"....."
"mamaaa..!!?"
*
*
*
*
suamiku meninggalkan kami setelah tahu kenyataan ini..
aku tak bisa menyalahkan dia sepenuhnya,aku yang sudah menutup-nutupinya jauh sebelum kami menikah..
bahwa aku,ibu dari satu anak ini menderita HIV parah..
ini bukan kondisi yang tepat untuk buruh lepas berpenghasilan 40 ribu rupiah perhari..
sekalipun aku sudah berusaha menopang kondisi perekonomian kami,ini tetap menyetreskan pikiran..
dijauhi oleh keluarga dan lingkunganku pun sangat membebani kami..
....
maaf mama tak setegar batu karang,na..
tak ada yang bisa mama tinggalkan padamu setelah ini..
mama harap seseorang akan menjagamu nanti.. merawatmu..
"mama kenapa? kenapa mama nggak mau bangun?"
"mama kamu.. dia masih tidur,nak"
seorang doktor muda hampir-hampir menangis di sana..
memikirkan kata apa yang akan dia ucapkan,atau siapa yang mau ia mintai tolong untuk menyampaikan kenyataan ini pada gadis mungil di sana..
tapi aku lihat bibirnya hendak mengucapkan sesuatu..
dadaku berdebar kencang tak kuat melihat ekspresi putriku sendiri setelah mendengar kenyataan ini..
"mama ayo bangun.. kalau makanannya nggak dimakan nanti keburu ganti hari" kata putri mungilku sambil meraba pipiku.
"mama kamu.. sudah pergi,Karina" kata dokter di dekatnya berhasil melawan keraguannya.
"pergi?" tanya Karina kecil menolehkan kepalanya menghadap ke atas,tepat mengarah wajah sang dokter.
dia masih kecil,masih sangat kecil,belum banyak hal di dunia ini yang ia ketahui..
apa itu kepergian? apa itu kematian? aku pikir Karina masih sangat polos tentang itu..
yang dia ketahui hanya sebatas manusia yang tak makan dan minum terus menerus lah yang akan mati..
....
tapi saat itu air matanya mengalir tanpa alasan..
tubuhnya tak mengetahui apa yang telah terjadi tapi hati kecilnya masih sangat sensitif..
dia tersadar dan berhenti mengajakku berbicara..
hanya tatapan yang dibanjiri oleh air mata,tanpa perasaan paham tentang apa arti kepergian.
# Air mata kesedihan di hari perayaannya.
"Mama? kau ingat kan ini hari apa?"
Ini hari sabtu,mataharinya bersinar dengan cerah,bunga-bunganya bermekaran di halaman,kupu-kupunya saling terbang di atas mereka..
dan.. tiba-tiba badai besar datang begitu saja..
"hmm? hari apa memangnya? mama lupa,na"
"masa mama lupa hari spesial ini sih? ini hari AIDS sedunia"
begitulah ungkapan kegembiraan putri kecilku pagi ini..
rasanya ini badai langganan kami..
ia selalu datang di hari ini.. tidak sebelumnya.. tidak setelahnya..
HIV AIDS,aku seorang ibu satu anak yang mungkin satu-satunya di negeri ini yang mengatakan kalau hal ini adalah anugerah..
hal ini.. maksudku,penyakit ini.. seperti badai besar bagiku..
tapi untuk Karina.. itu seperti suatu hal yang spesial.
*
*
*
*
Ia gadis kecil yang mulai menanyakan hal itu sejak tetangga lama kami mengusirku dulu.
apa itu HIV? AIDS? dia hanya anak kecil yang ingin tau arti kata itu.
ibu yang disayanginya ditendang keluar dan diusir.. dimaki dan dikutuk dengan kata-kata kasar..
tapi cuma kata-kata itu yang teringat olehnya.. HIV AIDS..
apa yang salah dengan itu? mungkin dia berfikir sampai situ pada saat itu.
kalau aku katakan yang sebenarnya mungkin dia akan bisa menerimanya.. tapi mungkin juga dia justru akan ikut terbebani oleh pemikiran-pemikiran yang negatif.
aku tak mungkin memberitahunya sekarang.. tidak di usianya yang masih sekecil ini..
karena itu aku memilih untuk menyembunyikannya darinya..
bukan,bukan menyembunyikannya.. tentu saja berbohong dan menyembunyikan kebenaran bisa bermaksud beda..
saat itu aku justru berbohong padanya.
"ayo,ma.. kita masak yang enak yah hari ini" kata si kecil Karina padaku.
"kamu mau makan apa,na? mama ada uang lebih hari ini,kita bisa beli daging kalau kamu mau" tawarku padanya.
tangan mungilnya yang masih halus menggenggam tangan kasarku ini,kami berjalan lewat rute favorit kami.
Karina sangat benci bau tembakau jadi kami mencari rute lain untuk menuju kios langganan kami.
ya,banyak penjual tembakau di pasar umum seperti ini,kami harus berjalan ekstra jauh lagi demi menghindari toko-toko mereka.
pada awalnya dia masih tahan dengan menutup hidungnya selagi melewati kios penjual tembakau,tapi dia bilang kalau baunya masih sangat menyengat walau sudah tutup hidung sekalipun.
aku pikir daya ciumnya sedikit lebih baik dari orang pada umumnya,aku benar-benar mengakui hal itu sebenarnya.
....
Karina masih sangat kecil untuk ikut memikirkan kenyataan ini..
ditinggal pergi ayahnya sejak lahir.. dan terus hidup bersama ibunya yang hampir sekarat ini.
entah apa yang nanti dia rasakan kalau tau ibu yang sangat disayanginya berbohong soal penyakitnya.
....
mungkin aku saja yang terlalu mengkhawatirkannya..
aku tak seharusnya berbohong sejak awal..
maaf karna ibumu tak setegar batu karang,nak..
mama hanya nggak sanggup memberitahu kebenarannya..
Spoiler for Picture:
*
*
*
*
"yeaay,dah siap.." kata Karina kecil yang riang sekali merayakan hari AIDS sedunia tahun ini.
tak ketinggalan pita merah yang selalu ia kalungkan ke leherku,sebagai tanda perayaan hari ini.
"tahun ini lebih meriah dari tahun kemarin yah? dari mana kamu dapat balon balon sebanyak itu,na?" tanyaku melirik belasan balon beraneka bentuk dengan warna warni cerah berserakan di lantai.
"dari temanku,dia mau kasih cuma-cuma kalau aku kerjakan tugas rumahnya selama seminggu" jawab Karina kecil masih sangat polosnya.
aku tahu siswa kelas 2 SD tidak akan terlalu memikirkan tugas rumahnya,yang mereka inginkan hanya bermain setiap saat,begitu juga Karina.
namun ini hari spesial baginya,hanya sekedar mengerjakan tugas sekolah satu temannya untuk satu minggu mungkin bukan masalah besar.
balon-balon itu mungkin hanya seharga uang sakunya selama 4 hari.. yah,uang sakunya memang tak terlalu banyak jika dibandingkan dengan temannya..
dia juga anak yang prihatin,tak jajan dan menyimpan uang sakunya terkadang juga ia lakukan kalau memang tak terdesak keadaan..
terkadang aku malu.. tapi di lain sisi juga merasa senang.. si kecil Karina yang ku sayangi,tumbuh sekuat ini.
entah kenapa aku juga hanya bisa tersenyum melihat anak sekecil dia sudah bisa berbuat sajauh itu.
....
"maa?"
"..."
"mamaa!?"
"....."
"mamaaa..!!?"
*
*
*
*
suamiku meninggalkan kami setelah tahu kenyataan ini..
aku tak bisa menyalahkan dia sepenuhnya,aku yang sudah menutup-nutupinya jauh sebelum kami menikah..
bahwa aku,ibu dari satu anak ini menderita HIV parah..
ini bukan kondisi yang tepat untuk buruh lepas berpenghasilan 40 ribu rupiah perhari..
sekalipun aku sudah berusaha menopang kondisi perekonomian kami,ini tetap menyetreskan pikiran..
dijauhi oleh keluarga dan lingkunganku pun sangat membebani kami..
....
maaf mama tak setegar batu karang,na..
tak ada yang bisa mama tinggalkan padamu setelah ini..
mama harap seseorang akan menjagamu nanti.. merawatmu..
"mama kenapa? kenapa mama nggak mau bangun?"
"mama kamu.. dia masih tidur,nak"
seorang doktor muda hampir-hampir menangis di sana..
memikirkan kata apa yang akan dia ucapkan,atau siapa yang mau ia mintai tolong untuk menyampaikan kenyataan ini pada gadis mungil di sana..
tapi aku lihat bibirnya hendak mengucapkan sesuatu..
dadaku berdebar kencang tak kuat melihat ekspresi putriku sendiri setelah mendengar kenyataan ini..
"mama ayo bangun.. kalau makanannya nggak dimakan nanti keburu ganti hari" kata putri mungilku sambil meraba pipiku.
"mama kamu.. sudah pergi,Karina" kata dokter di dekatnya berhasil melawan keraguannya.
"pergi?" tanya Karina kecil menolehkan kepalanya menghadap ke atas,tepat mengarah wajah sang dokter.
dia masih kecil,masih sangat kecil,belum banyak hal di dunia ini yang ia ketahui..
apa itu kepergian? apa itu kematian? aku pikir Karina masih sangat polos tentang itu..
yang dia ketahui hanya sebatas manusia yang tak makan dan minum terus menerus lah yang akan mati..
....
tapi saat itu air matanya mengalir tanpa alasan..
tubuhnya tak mengetahui apa yang telah terjadi tapi hati kecilnya masih sangat sensitif..
dia tersadar dan berhenti mengajakku berbicara..
hanya tatapan yang dibanjiri oleh air mata,tanpa perasaan paham tentang apa arti kepergian.
# Air mata kesedihan di hari perayaannya.
0





















