- Beranda
- Stories from the Heart
Gw butuh teman ! Broken Home Story.
...
TS
akaaoriginal
Gw butuh teman ! Broken Home Story.

Halo semua reader kaskus yang senang nangkring di forum 'story from the heart'.
Di thread ini gw akan membagikan kisah masa kecil gw hingga sekarang yang dipenuhi dengan lika-liku kehidupan.
Gw adalah seorang anak tunggal yang lahir dari keluarga sederhana, keluarga yang memutuskan untuk memilih jalannya masing-masing.
Senang, sedih, kesal, bahagia, pahit dan manis sudah gw rasakan sejak kecil. Tapi gw masih bersyukur, karena masih banyak orang diluar sana yang lebih kurang beruntung dibanding kehidupan yang gw jalani ini.
Teman, Sahabat, Cinta dan Kasih Sayang akan menjadi bumbu penyedap dari kisah yang gw alami ini.
Jika kalian bertanya ini kisah nyata atau bukan. Bacalah, dan nikmati.
Gw gak selalu mengingat kejadian yang sudah lalu, akan tetapi kenangan ini menjadi kenangan pahit yang selalu terukir di memori otak dan hati gw.
Dan untuk kalian yang sudah bersiap menjadi calon ayah dan ibu, belajarlah dari kisah seorang Raka di thread ini.
Main Story
Quote:
Cerita Selingan [Update disaat ingat kenangan lama]
Quote:
Spoiler for About this story:
Thanks buat yg udah subscribe, komeng, ngerate, nyendol, dll

Diubah oleh akaaoriginal 30-12-2016 09:37
0
22.8K
115
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akaaoriginal
#110
PART 3
PART 3 - SOLO TRAVELING
Gw kembali ke meja kerja gw dengan penuh tanda tanya dikepala, memang sih gw sudah bekerja disini selama 17 bulan, dan bulan depan adalah bulan dimana kontrak gw dengan perusahaan ini akan berakhir. Dan memang di tim gw ini yang sebelumnya terdiri dari 4 orang yaitu bos gw, rekan gw, dan arsitek gw sudah bertambah 1 orang yang berprofesi sama dengan gw. Tapi sebelumnya gw pernah bertanya tentang posisi gw dengan sekertaris bos gw, dan dia bilang 'aman'.
"Mbak, gw mau cerita" Ucap gw kepada mbak Amel, sekertaris bos gw. Gw emang sangat akrab dengan dia, biarpun dia orang terdekat dengan bos gw, tetapi dia punya perasaan yang sama dengan orang-orang disini, tidak menyukai sifat bos gw.
"Cerita aja.." Ucap mbak amel sambil menenggak minumnya
"Tadi gw ketemu sama Ruben di toilet, dia nanya ke gw apa bener mau resign?"
"Gw mulai curiga nih, kayaknya kontrak gw selesai bulan depan deh." Lanjut gw
Mbak amel melirik kiri kanan seperti memastikan kondisi aman, tidak ada yang mendengar pembicaraan kami.
"Gini cuk, gue kan dulu emang pernah tanya ke Pak Yono (bos kami) perihal anak baru itu apakah dia ditarik untuk menggantikan lo atau bukan"
"Tapi dia jawab agak ragu. Sampe gue bilang gini ke dia(bos). Pak, saya gamau ya kejadian kayak dulu ke ulang lagi !" Ucap mbak Amel
"Dan dia cuma jawab. Iyaaa iyaaa Meeel." Sambung mbak Amel sambil memperagakan ucapan pak Yono yang emang agak-agak lenjeh.
--
Dulu sebelum gw masuk kantor ini, ada orang yang posisinya sebagai arsitek, tapi belum habis masa kontraknya sudah dipecat, padahal kinerjanya bagus dan pandai mengoperasikan berbagai software, desainnya juga bagus. Hanya saja dia tipe orang yang kalau punya gagasan dan benar akan dikuatkan dan ditekankan oleh dia, dan bos gw gak suka orang bersifat seperti itu karena merasa ditekan dan merasa gengsi akan pengetahuannya yang jadi telihat lebih minim dibanding anak buahnya.
Lebih parahnya, penggantinya dipanggil kerja sebelum dia benar-benar menyelesaikan masa kerjanya. Seolah-olah bos ingin menunjukan kalau dia berkuasa dan jangan berani menentang.
--
"Sekarang gini deh, nanti aku coba cari tau lagi ya. Pokoknya buat jaga-jaga, kamu cari-cari lagi dulu pengganti untuk job kamu yang sekarang ini" Kata mbak Amel yang ucapannya berubah menjadi halus.
"Oh iya.. paham gw mbak. Yaudah thanks ya, gw balik dulu." Ucap gw sambil mengambil gelas yang sedari tadi gw bawa-bawa.
Gw kembali bekerja, sambil curi-curi waktu untuk mencari beberapa lowongan pekerjaan di beberapa website penyedia lowongan pekerjaan.
Sampai tibalah waktu 5 menit sebelum adzan Zuhur, seperti biasa teman gw selalu memanggil gw untuk mengajak berangkat ke masjid.
Diperjalanan ke masjid, gw menceritakan apa yang baru saja gw alami dan apa yang gw dan mbak Amel bicarakan. Teman gw mendengarkan dengan baik, dan memberikan beberapa saran biarpun awalnya dia juga kaget dengan keputusan yang diambil oleh bos gw.
"Terus gimana? lu udah cari-cari lagi, ka?" Tanya Mas Rahman.
"Tadi gw sempet searching, udah ada beberapa yang gw apply, tinggal nunggu panggilan interview." Ucap gw sambil masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka pintunya.
"Tapi gw mungkin ada rencana buat break dulu sebulan. Biar bisa trip dulu." Sambung gw
Setelah tau kalau bos gw akan memutuskan kontrak kerja gw, gw langsung membuat beberapa opsi, salah satunya adalah break sebulan sebelum pindah kerja ke tempat yang baru, dan memanfaatkan waktu itu untuk pergi ke Flores untuk melunasi janji gw kepada sahabat gw.
Sesampai di masjid sambil mengobrol, kami segera melaksanakan solat wajib kami, beristirahat sejenak kemudian pergi keluar untuk makan siang.
Gw biasa makan siang dengan beberapa teman gw, tapi hanya Mas Rahman saja yang gw ceritakan tentang masa kerja gw yang akan segera berakhir.
Gw sempat berfikir untuk resign segera bulan ini, agar bisa segera menyusul sahabat gw di Indonesia Tengah. Akan tetapi gw urungkan niat itu, untuk bisa menabung dulu sebelum keberangkatan.
Sebenarnya ada bagusnya juga dengan habisnya masa kontrak yang tidak diperpanjang ini. Gw bisa pergi ke flores via darat yang memakan biaya lebih murah dibanding naik pesawat. Dan gw juga bisa mencari pekerjaan baru yang lebih baik dari sekarang ini.
**
Selesai makan siang, teman gw misah untuk ke atm dulu, jadilah gw sendiri ke kantor.
Saat tiba di lobby dan menunggu lift, bertemu lah gw dengan seorang teman gw yang berprofesi sebagai it dikantor gw.
"Eh, ka. Sendiri?" Ucap Wili
"Iya, wil. Yang lain ada urusan dulu." Sahut gw sambil menyender di dinding marmer yang menjadi aksen penghias lift bangunan tempat gw bekerja.
"Ka, bener mau resign?" Ucap Wili dengan pelan, takut menyinggung gw mungkin.
"Oh enggak kok wil, isu itu hehe." Jawab gw mencoba berbohong, bukan berbohong juga sih karena kan gw gak resign, tapi kontrak gw tidak dilanjutkan.
"Ah yang bener? Pak Yono sendiri loh yang bilang ke gw, ka." Ucap Wili dengan tampang meyakinkan.
Ternyata benar, bos gw yang bilang seolah gw mau resign.
"Bilang apa dia Wil?" Tanya gw mulai tertarik dengan pembicaraan ini
"Kemarin, waktu gw diminta nyiapin pc buat anak baru, dia bilang kalau lu mau resign." Ucap Wili sambil mengingat-ingat kejadian yang dia alami beberapa hari lalu.
"Oh gitu ya Wil, ya lihat nanti lah Wil." Ucap gw sambil turun dari lift dan menuju ke area tempat gw bekerja, memang sedari tadi kami sudah menaiki lift.
"Ok, ka" Ucap Wili sambil tersenyum.
Sesampai dikantor, gw langsung ke meja Mbak Amel. dan menceritakan semuanya, mbak Amel terlihat kesal dengan perlakuan bos kami yang seenaknya memasukkan dan mengeluarkan karyawan.
Akhirnya gw bilang ke Mbak Amel, kalau memang harus seperti itu ya tidak apa, jalani saja. Mungkin ada kantor lain yang lebih baik dari sini buat gw. Mbak Amel pun hanya bisa menyemangati gw dan mencoba menghubungi beberapa temannya siapa tau ada yang mempunyai lowongan yang pas untuk posisi gw sekarang, tapi nihil.. Tidak ada satupun lowongan untuk gw.
Gw mencoba menghubungi Inda, sahabat gw.
"Indaaa, gw kayaknya ke Flores bulan Oktober besok deh." Ucap gw lewat pesan singkat
"Haaa serius ka? Kok mendadak banget? Emang kenapa?" Balas Inda dengan segera
Gw menceritakan semuanya kepada sahabat gw, hingga akhirnya dia mengerti alasan gw.
"Kok gitu ya ka?" Ucap Inda dengan agak bingung
"Gatau, gak cocok kali." Balas gw
Disitu gw chat panjang lebar dengan sahabat gw, sampai akhirnya gw memutuskan untuk berangkat ke Flores via darat di awal bulan Oktober dan sebelumnya gw akan mampir ke Jogja dulu karena rindu dengan suasana kota Jogja.
"Mbak, ada waktu libur gak di awal Oktober? Aku mau ke Jogja, ikut?" Isi pesan teks gw yang gw tujukan kepada Mbak Hida. Sudah lama sejak terakhir gw bertemu dengan dia di Malang, gw pun juga jarang komunikasi dengan dia.
"Nanti ta liat jadwal dulu mas." Balas mbak Hida
--
Singkat cerita gw akhirnya janjian untuk ketemu di Jogja dengan mbak Hida. Gw berangkat tanggal 2 Oktober, memulai solo traveling gw untuk ketemu dengan sahabat gw di Flores.
Dimulai dari naik kereta dari st.ps Senen ke Lempuyangan, lanjut ke Banyuwangi-Bali-Lombok-NTB-NTT.
Tapi semua gak semulus yang gw bayangkan, bulan lalu gw baru saja mendapatkan musibah, gw kehilangan dompet serta tas gw saat melakukan traveling ke pantai sawarna. Yang berarti saat itu gw belum memiliki ktp dan identitas apapun.
Tapi semua sudah gw rencanakan dan ga mungkin gw reschedule karena waktu yang tidak memungkinkan.
Dengan modal nekat dan informasi dari google, gw memberanikan diri untuk solo traveling tanpa kartu identitas.
--
Next Part, Jogja... I'm Coming !
Gw kembali ke meja kerja gw dengan penuh tanda tanya dikepala, memang sih gw sudah bekerja disini selama 17 bulan, dan bulan depan adalah bulan dimana kontrak gw dengan perusahaan ini akan berakhir. Dan memang di tim gw ini yang sebelumnya terdiri dari 4 orang yaitu bos gw, rekan gw, dan arsitek gw sudah bertambah 1 orang yang berprofesi sama dengan gw. Tapi sebelumnya gw pernah bertanya tentang posisi gw dengan sekertaris bos gw, dan dia bilang 'aman'.
"Mbak, gw mau cerita" Ucap gw kepada mbak Amel, sekertaris bos gw. Gw emang sangat akrab dengan dia, biarpun dia orang terdekat dengan bos gw, tetapi dia punya perasaan yang sama dengan orang-orang disini, tidak menyukai sifat bos gw.
"Cerita aja.." Ucap mbak amel sambil menenggak minumnya
"Tadi gw ketemu sama Ruben di toilet, dia nanya ke gw apa bener mau resign?"
"Gw mulai curiga nih, kayaknya kontrak gw selesai bulan depan deh." Lanjut gw
Mbak amel melirik kiri kanan seperti memastikan kondisi aman, tidak ada yang mendengar pembicaraan kami.
"Gini cuk, gue kan dulu emang pernah tanya ke Pak Yono (bos kami) perihal anak baru itu apakah dia ditarik untuk menggantikan lo atau bukan"
"Tapi dia jawab agak ragu. Sampe gue bilang gini ke dia(bos). Pak, saya gamau ya kejadian kayak dulu ke ulang lagi !" Ucap mbak Amel
"Dan dia cuma jawab. Iyaaa iyaaa Meeel." Sambung mbak Amel sambil memperagakan ucapan pak Yono yang emang agak-agak lenjeh.
--
Dulu sebelum gw masuk kantor ini, ada orang yang posisinya sebagai arsitek, tapi belum habis masa kontraknya sudah dipecat, padahal kinerjanya bagus dan pandai mengoperasikan berbagai software, desainnya juga bagus. Hanya saja dia tipe orang yang kalau punya gagasan dan benar akan dikuatkan dan ditekankan oleh dia, dan bos gw gak suka orang bersifat seperti itu karena merasa ditekan dan merasa gengsi akan pengetahuannya yang jadi telihat lebih minim dibanding anak buahnya.
Lebih parahnya, penggantinya dipanggil kerja sebelum dia benar-benar menyelesaikan masa kerjanya. Seolah-olah bos ingin menunjukan kalau dia berkuasa dan jangan berani menentang.
--
"Sekarang gini deh, nanti aku coba cari tau lagi ya. Pokoknya buat jaga-jaga, kamu cari-cari lagi dulu pengganti untuk job kamu yang sekarang ini" Kata mbak Amel yang ucapannya berubah menjadi halus.
"Oh iya.. paham gw mbak. Yaudah thanks ya, gw balik dulu." Ucap gw sambil mengambil gelas yang sedari tadi gw bawa-bawa.
Gw kembali bekerja, sambil curi-curi waktu untuk mencari beberapa lowongan pekerjaan di beberapa website penyedia lowongan pekerjaan.
Sampai tibalah waktu 5 menit sebelum adzan Zuhur, seperti biasa teman gw selalu memanggil gw untuk mengajak berangkat ke masjid.
Diperjalanan ke masjid, gw menceritakan apa yang baru saja gw alami dan apa yang gw dan mbak Amel bicarakan. Teman gw mendengarkan dengan baik, dan memberikan beberapa saran biarpun awalnya dia juga kaget dengan keputusan yang diambil oleh bos gw.
"Terus gimana? lu udah cari-cari lagi, ka?" Tanya Mas Rahman.
"Tadi gw sempet searching, udah ada beberapa yang gw apply, tinggal nunggu panggilan interview." Ucap gw sambil masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka pintunya.
"Tapi gw mungkin ada rencana buat break dulu sebulan. Biar bisa trip dulu." Sambung gw
Setelah tau kalau bos gw akan memutuskan kontrak kerja gw, gw langsung membuat beberapa opsi, salah satunya adalah break sebulan sebelum pindah kerja ke tempat yang baru, dan memanfaatkan waktu itu untuk pergi ke Flores untuk melunasi janji gw kepada sahabat gw.
Sesampai di masjid sambil mengobrol, kami segera melaksanakan solat wajib kami, beristirahat sejenak kemudian pergi keluar untuk makan siang.
Gw biasa makan siang dengan beberapa teman gw, tapi hanya Mas Rahman saja yang gw ceritakan tentang masa kerja gw yang akan segera berakhir.
Gw sempat berfikir untuk resign segera bulan ini, agar bisa segera menyusul sahabat gw di Indonesia Tengah. Akan tetapi gw urungkan niat itu, untuk bisa menabung dulu sebelum keberangkatan.
Sebenarnya ada bagusnya juga dengan habisnya masa kontrak yang tidak diperpanjang ini. Gw bisa pergi ke flores via darat yang memakan biaya lebih murah dibanding naik pesawat. Dan gw juga bisa mencari pekerjaan baru yang lebih baik dari sekarang ini.
**
Selesai makan siang, teman gw misah untuk ke atm dulu, jadilah gw sendiri ke kantor.
Saat tiba di lobby dan menunggu lift, bertemu lah gw dengan seorang teman gw yang berprofesi sebagai it dikantor gw.
"Eh, ka. Sendiri?" Ucap Wili
"Iya, wil. Yang lain ada urusan dulu." Sahut gw sambil menyender di dinding marmer yang menjadi aksen penghias lift bangunan tempat gw bekerja.
"Ka, bener mau resign?" Ucap Wili dengan pelan, takut menyinggung gw mungkin.
"Oh enggak kok wil, isu itu hehe." Jawab gw mencoba berbohong, bukan berbohong juga sih karena kan gw gak resign, tapi kontrak gw tidak dilanjutkan.
"Ah yang bener? Pak Yono sendiri loh yang bilang ke gw, ka." Ucap Wili dengan tampang meyakinkan.
Ternyata benar, bos gw yang bilang seolah gw mau resign.
"Bilang apa dia Wil?" Tanya gw mulai tertarik dengan pembicaraan ini
"Kemarin, waktu gw diminta nyiapin pc buat anak baru, dia bilang kalau lu mau resign." Ucap Wili sambil mengingat-ingat kejadian yang dia alami beberapa hari lalu.
"Oh gitu ya Wil, ya lihat nanti lah Wil." Ucap gw sambil turun dari lift dan menuju ke area tempat gw bekerja, memang sedari tadi kami sudah menaiki lift.
"Ok, ka" Ucap Wili sambil tersenyum.
Sesampai dikantor, gw langsung ke meja Mbak Amel. dan menceritakan semuanya, mbak Amel terlihat kesal dengan perlakuan bos kami yang seenaknya memasukkan dan mengeluarkan karyawan.
Akhirnya gw bilang ke Mbak Amel, kalau memang harus seperti itu ya tidak apa, jalani saja. Mungkin ada kantor lain yang lebih baik dari sini buat gw. Mbak Amel pun hanya bisa menyemangati gw dan mencoba menghubungi beberapa temannya siapa tau ada yang mempunyai lowongan yang pas untuk posisi gw sekarang, tapi nihil.. Tidak ada satupun lowongan untuk gw.
Gw mencoba menghubungi Inda, sahabat gw.
"Indaaa, gw kayaknya ke Flores bulan Oktober besok deh." Ucap gw lewat pesan singkat
"Haaa serius ka? Kok mendadak banget? Emang kenapa?" Balas Inda dengan segera
Gw menceritakan semuanya kepada sahabat gw, hingga akhirnya dia mengerti alasan gw.
"Kok gitu ya ka?" Ucap Inda dengan agak bingung
"Gatau, gak cocok kali." Balas gw
Disitu gw chat panjang lebar dengan sahabat gw, sampai akhirnya gw memutuskan untuk berangkat ke Flores via darat di awal bulan Oktober dan sebelumnya gw akan mampir ke Jogja dulu karena rindu dengan suasana kota Jogja.
"Mbak, ada waktu libur gak di awal Oktober? Aku mau ke Jogja, ikut?" Isi pesan teks gw yang gw tujukan kepada Mbak Hida. Sudah lama sejak terakhir gw bertemu dengan dia di Malang, gw pun juga jarang komunikasi dengan dia.
"Nanti ta liat jadwal dulu mas." Balas mbak Hida
--
Singkat cerita gw akhirnya janjian untuk ketemu di Jogja dengan mbak Hida. Gw berangkat tanggal 2 Oktober, memulai solo traveling gw untuk ketemu dengan sahabat gw di Flores.
Dimulai dari naik kereta dari st.ps Senen ke Lempuyangan, lanjut ke Banyuwangi-Bali-Lombok-NTB-NTT.
Tapi semua gak semulus yang gw bayangkan, bulan lalu gw baru saja mendapatkan musibah, gw kehilangan dompet serta tas gw saat melakukan traveling ke pantai sawarna. Yang berarti saat itu gw belum memiliki ktp dan identitas apapun.
Tapi semua sudah gw rencanakan dan ga mungkin gw reschedule karena waktu yang tidak memungkinkan.
Dengan modal nekat dan informasi dari google, gw memberanikan diri untuk solo traveling tanpa kartu identitas.
--
Next Part, Jogja... I'm Coming !
0
