- Beranda
- Stories from the Heart
Serial Killer : Trio Legend
...
TS
schilfouts
Serial Killer : Trio Legend

Quote:
Spoiler for Serial Killer : Trio Legend:
Indeks
Spoiler for Indeks:

Diubah oleh schilfouts 17-04-2017 22:04
anasabila memberi reputasi
1
12.9K
160
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
schilfouts
#139
Part 5.1 ~ The M Flower (ARIF POV)
Hari rabu kedua ku berada di kota tanjung priok. Mendatangi tempat kejadian pembunuhan minggu lalu. Bercak darah korban masih mewarnai dinding rumah kosong ini.
"Kau kembali lagi ke sini rupanya , anak muda."
Aku membalikan tubuhku dan melihat siapa yang mengajakku berbicara. Ternyata pria tua yang kemaren berbincang - bincang denganku rabu lalu di warung kopi.
Pria tua itu tersenyum ramah padaku tapi aku tidak membalas senyumannya , karena kejadian itu membuatku malas tersenyum. Aku meninggalkan pria tua itu di rumah kosong.
"Kalau kamu mau mencari The M Flower , datang saja ke kuburan kereta di daerah warakas."
Pria tua itu pergi meninggalkan ku yang masih bingung dengan ucapannya. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku sedang mencari The M Flower?
Tanpa pikir panjang, aku mengendarai hypermotard milikku dan menuju daerah warakas tempat kuburan kereta berada.
***
Author POV
"Aku sudah menyelesaikan tugas ku, jadi bisakah aku menghapus make up ini?"
Wanita itu melihat pria tua yang ada di hadapannya.
"Jangan dulu, aku masih membutuhkanmu."
Wanita itu tersenyum sinis pada pria tua yang berada di hadapannya.
***
Back to Arif POV
Aku memasuki pelataran dari kuburan kereta ini. Sudah menjelang petang dan aku masih belum bertemu target ku.
Aku menyusuri tempat ini, "pemakaman yang sepi dan sangat cocok sebagai tempat pembunuhan." gumamku.
Mengeluarkan sebatang rokok dan korek api gas, aku duduk tepat di dalam gerbong kereta yang sudah tidak terpakai lagi. Aku mengebulkan asap ke udara, sambil mengingat masa lalu bersama kekasihku dulu.
Gadis itu, Ken Sheridan. Gadis yang menurutku penuh misteri tapi aku mulai tertarik padanya.
"Sayang, apa kamu yakin ini tempatnya aman buat melakukan seks? Aku takut ada yg mengintip."
Aku menoleh ke sumber suara dan melihat sepasang kekasih yang menurut pendengaranku akan melakukan hubungan seks.
"Aku yakin aman sayang." pria yang ku lihat itu langsung mencium wanitanya dengan penuh nafsu.
Ku tajamkan penglihatan ku dan tertegun melihat wajah dari sang pria. The M Flower , sedang menjalankan aksinya.
Aku berjalan perlahan dan bersembunyi di gerbong lain. Aku mengeluarkan Heckler and Koch USP dari balik kaosku. Diam-diam aku memperhatikan mereka yang sedang melakukan seks. Suara yang mereka hasilkan membuat libidoku naik. Aku tidak mungkin terangsang cuma karna desahan dari sang wanita.
Setelah menunggu beberapa jam, aku melihat sang pria sedang menusuk-nusuk perut dari wanita. Merobek badannya dari pinggang sampai leher dan mengeluarkan isi perut dari wanita itu.
"Wanita cantik murahan." gumam pria itu.
Aku masih melihat apa yang dia lakukan terhadap korban. Dia menginjak dada korban sampai tulang dada remuk. Memotong bibir cantik korban lalu membuangnya ke sembarang arah. Tak lupa , dia mencongkel mata korban lalu menggenggam erat matanya dan hancur seketika.
Aku belum ingin membunuh target ku , karna aku masih ingin melihat apa yang dia lakukan.
"Apa kau sudah puas dengan aksimu?" aku keluar dari tempat ku bersembunyi.
Aku mengarahkan heckler and koch usp ke bawah sambil menarik penutup gesernya kebelakang.
DZINGG!!!!
JLEBBB!!!
satu peluru keluar dari senjataku dan tepat mengenai dada target. Aku melihat dia menahan kesakitan dan segera mengambil pisau yang dia pakai untuk membunuh korbannya.
DZING!!!
Aku menembak dia dua kali dan tepat mengenai tangan dan kakinya.
Dia melemparkan pisau padaku dan untung saja aku masih bisa menghindar.
Aku mengarahkan senjataku padanya dan memuntahkan amunisi yg ada di dalam senjataku, kali ini tepat mengenai kemaluannya.
Aku melihat orang itu yang masih saja bertahan. Tanpa terduga dia menyerang ku , mendorong ku ke jendela kereta hingga kaca pun pecah. Kepalaku berada di luar gerbong kereta sedangkan tubuhku masih ada di dalam gerbong, posisi saat ini tidak menguntungkan diriku.
Dia berada di atas ku dan mencoba mematahkan kaca yang tersisa dari dinding gerbong.
"Sampai ketemu dineraka."
Dia memegang kaca dengan kedua tangannya dan hendak menusuk leherku.
Aku merasakan tusukan itu dileherku.
DORRR!!!!
****
Author POV
"Sepertinya kita terlambat Ken," Ibnu dan Ken memasuki pekarangan dari kuburan kereta ini. "Kamu dengar kan ada suara senjata api."
"Sepertinya terlambat," Ken berjalan ke arah sebuah gudang dan memasuki gudang tersebut. "Ibnu, lihatlah. Sepertinya next target kita ada disini. Tuh lihat ada siapa di dalam gudang."
Ibnu menghampiri Ken dan melihat seorang gadis yang terikat di tiang dengan mulut di ikat.
Ibnu dan Ken menghampiri gadis itu dan membebaskannya. Gadis yang mereka bebaskan tidak menunjukan pergerakan.
"Aku rasa gadis ini sudah dibius dengan obat tidur sebelumnya." Ibnu mengangkat gadis ini dan membawanya ke mobil.
Mereka berjalan keluar dari pekarangan kuburan ini. Langkah Ken terhenti dan dia melihat sebuah sepeda motor yang sangat dia kenali.
"Ibnu, sepertinya Arif ada disini."
Ibnu menoleh ke Ken dan menunjukan ekspresi bingung.
"Tuh lihat motor siapa?" Ken menunjuk ke sebuah sepeda motor.
Ibnu menghela nafas, "Arif."
***
"Kau kembali lagi ke sini rupanya , anak muda."
Aku membalikan tubuhku dan melihat siapa yang mengajakku berbicara. Ternyata pria tua yang kemaren berbincang - bincang denganku rabu lalu di warung kopi.
Pria tua itu tersenyum ramah padaku tapi aku tidak membalas senyumannya , karena kejadian itu membuatku malas tersenyum. Aku meninggalkan pria tua itu di rumah kosong.
"Kalau kamu mau mencari The M Flower , datang saja ke kuburan kereta di daerah warakas."
Pria tua itu pergi meninggalkan ku yang masih bingung dengan ucapannya. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku sedang mencari The M Flower?
Tanpa pikir panjang, aku mengendarai hypermotard milikku dan menuju daerah warakas tempat kuburan kereta berada.
***
Author POV
"Aku sudah menyelesaikan tugas ku, jadi bisakah aku menghapus make up ini?"
Wanita itu melihat pria tua yang ada di hadapannya.
"Jangan dulu, aku masih membutuhkanmu."
Wanita itu tersenyum sinis pada pria tua yang berada di hadapannya.
***
Back to Arif POV
Aku memasuki pelataran dari kuburan kereta ini. Sudah menjelang petang dan aku masih belum bertemu target ku.
Aku menyusuri tempat ini, "pemakaman yang sepi dan sangat cocok sebagai tempat pembunuhan." gumamku.
Mengeluarkan sebatang rokok dan korek api gas, aku duduk tepat di dalam gerbong kereta yang sudah tidak terpakai lagi. Aku mengebulkan asap ke udara, sambil mengingat masa lalu bersama kekasihku dulu.
Gadis itu, Ken Sheridan. Gadis yang menurutku penuh misteri tapi aku mulai tertarik padanya.
"Sayang, apa kamu yakin ini tempatnya aman buat melakukan seks? Aku takut ada yg mengintip."
Aku menoleh ke sumber suara dan melihat sepasang kekasih yang menurut pendengaranku akan melakukan hubungan seks.
"Aku yakin aman sayang." pria yang ku lihat itu langsung mencium wanitanya dengan penuh nafsu.
Ku tajamkan penglihatan ku dan tertegun melihat wajah dari sang pria. The M Flower , sedang menjalankan aksinya.
Aku berjalan perlahan dan bersembunyi di gerbong lain. Aku mengeluarkan Heckler and Koch USP dari balik kaosku. Diam-diam aku memperhatikan mereka yang sedang melakukan seks. Suara yang mereka hasilkan membuat libidoku naik. Aku tidak mungkin terangsang cuma karna desahan dari sang wanita.
Setelah menunggu beberapa jam, aku melihat sang pria sedang menusuk-nusuk perut dari wanita. Merobek badannya dari pinggang sampai leher dan mengeluarkan isi perut dari wanita itu.
"Wanita cantik murahan." gumam pria itu.
Aku masih melihat apa yang dia lakukan terhadap korban. Dia menginjak dada korban sampai tulang dada remuk. Memotong bibir cantik korban lalu membuangnya ke sembarang arah. Tak lupa , dia mencongkel mata korban lalu menggenggam erat matanya dan hancur seketika.
Aku belum ingin membunuh target ku , karna aku masih ingin melihat apa yang dia lakukan.
"Apa kau sudah puas dengan aksimu?" aku keluar dari tempat ku bersembunyi.
Aku mengarahkan heckler and koch usp ke bawah sambil menarik penutup gesernya kebelakang.
DZINGG!!!!
JLEBBB!!!
satu peluru keluar dari senjataku dan tepat mengenai dada target. Aku melihat dia menahan kesakitan dan segera mengambil pisau yang dia pakai untuk membunuh korbannya.
DZING!!!
Aku menembak dia dua kali dan tepat mengenai tangan dan kakinya.
Dia melemparkan pisau padaku dan untung saja aku masih bisa menghindar.
Aku mengarahkan senjataku padanya dan memuntahkan amunisi yg ada di dalam senjataku, kali ini tepat mengenai kemaluannya.
Aku melihat orang itu yang masih saja bertahan. Tanpa terduga dia menyerang ku , mendorong ku ke jendela kereta hingga kaca pun pecah. Kepalaku berada di luar gerbong kereta sedangkan tubuhku masih ada di dalam gerbong, posisi saat ini tidak menguntungkan diriku.
Dia berada di atas ku dan mencoba mematahkan kaca yang tersisa dari dinding gerbong.
"Sampai ketemu dineraka."
Dia memegang kaca dengan kedua tangannya dan hendak menusuk leherku.
Aku merasakan tusukan itu dileherku.
DORRR!!!!
****
Author POV
"Sepertinya kita terlambat Ken," Ibnu dan Ken memasuki pekarangan dari kuburan kereta ini. "Kamu dengar kan ada suara senjata api."
"Sepertinya terlambat," Ken berjalan ke arah sebuah gudang dan memasuki gudang tersebut. "Ibnu, lihatlah. Sepertinya next target kita ada disini. Tuh lihat ada siapa di dalam gudang."
Ibnu menghampiri Ken dan melihat seorang gadis yang terikat di tiang dengan mulut di ikat.
Ibnu dan Ken menghampiri gadis itu dan membebaskannya. Gadis yang mereka bebaskan tidak menunjukan pergerakan.
"Aku rasa gadis ini sudah dibius dengan obat tidur sebelumnya." Ibnu mengangkat gadis ini dan membawanya ke mobil.
Mereka berjalan keluar dari pekarangan kuburan ini. Langkah Ken terhenti dan dia melihat sebuah sepeda motor yang sangat dia kenali.
"Ibnu, sepertinya Arif ada disini."
Ibnu menoleh ke Ken dan menunjukan ekspresi bingung.
"Tuh lihat motor siapa?" Ken menunjuk ke sebuah sepeda motor.
Ibnu menghela nafas, "Arif."
***
0