- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah, gue mati aja
...
TS
dasadharma10
Yaudah, gue mati aja
Cover By: kakeksegalatahu
Thank for your read, and 1000 shares. I hope my writing skill will never fade.
Gue enggak tau tulisan di atas bener apa enggak, yang penting kalian tau maksud gue


----------
----------
PERLU DIKETAHUI INI BUKAN KISAH DESPERATE, JUDULNYA EMANG ADA KATA MATI, TAPI BUKAN BERARTI DI AKHIR CERITA GUE BAKALAN MATI.
----------
Spoiler for QandA:
WARNING! SIDE STORY KHUSUS 17+
NOTE! SIDE STORY HANYA MEMPERJELAS DAN BUKAN BAGIAN DARI MAIN STORY
Spoiler for Ilustrasi:
Cerita gue ini sepenuhnya REAL bagi orang-orang yang mengalaminya. Maka, demi melindungi privasi, gue bakalan pake nama asli orang-orang itu. Nggak, gue bercanda, gue bakal mengganti nama mereka dengan yang lebih bagus. Dengan begitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kecuali mata kalian.
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh dasadharma10 06-01-2017 18:49
xue.shan dan 10 lainnya memberi reputasi
11
1.1M
3.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#3288
PART 105
Perasaan semalem gue enggak mimpi apa-apa. Seingat gue semuanya cuma gelap, bukan mimpi indah ataupun mimpi buruk. Tapi kenapa paginya bisa sampai kesiangan kayak gini? Apa gue salah minum? Padahal menurut gue hari ini adalah hari yang penting bagi gue, payah deh.
“Tasmu udah semua masuk semua? Enggak ada yang ketinggalan, kan?” tanya gue.
Emil menggeleng, “Enggak, semuanya udah masuk ke bagasi, kok.”
“Tiket gimana tiket? Dompet udah dipisahin dari dompet cadangan?”
Dia meletakan jari telunjuknya di bibir gue. Setelah yakin mulut gue terbungkam, dia menaruh tangannya di dada gue, “All is well Dawi, no need to worry.”
Gue menganggukkan kepala tanda setuju.
Hari Sabtu ini adalah hari yang penting bagi gue. Hari dimana akhirnya gue bisa menepati janji gue ke nyokap. Dari awal gue sangat berhati-hati dalam menjalani hari ini, Genggak mau kalo sampai hari yang spesial ini menjadi momen yang fail.
Di dalam taksi Emil terus-terusan memeluk tangan gue dan menyenderkan kepalanya di bahu gue. Biasanya sih dia emang kayak gini, tapi kali ini gue merasa ada yang berbeda. Mungkin dia juga seneng sama hari ini, tapi mungkin juga enggak.
Tunggu, itu kok ada air di pipi? Dia nangis? Jadi beneran dia enggak suka sama hari ini?!
Gue menyeka air mata di pipi Emil, “Mil, kamu kenapa? Kok nangis?”
Dia menepis tangan gue dan menyekanya sendiri, “Enggak kok.”
“Emillia Rosa, kamu kenapa nangis?” ucap gue dengan suara yang gue lembut-lembutin mirip drama Korea.
Oke, itu bukan lembut, rada ke arah cowok bengkok mungkin. Jujur, gue geli sendiri mendengarkan suara gue.
“Muhammad Danang Wijaya.” Emil menggeleng, “Aku enggak kenapa-napa.”
“Beneran?”
Dia mengangguk kemudian meraih tangan gue, “Sini tangannya, aku masih belum mau lepasin.”
Dia kembali memeluk tangan gue dan menyandarkan kepalanya di bahu gue lagi.
Terharu? Gue juga enggak tau. Tapi yang jelas, sebulan yang lalu sewaktu gue ajak dia main ke rumah, dia kelihatan tertarik banget. Malah dia sampai salto tiga kali dan salah satunya sambil muter-muter di udara. Enggak, yang itu gue bohong, Emil hanya seorang manusia berjenis kelamin perempuan, dia bukan lumba-lumba.
Entahlah, gue sendiri juga kurang tau kenapa dia nangis. Yang jelas hari ini adalah hari yang bisa merubah hidup gue. Iya, ini hari yang menentukan hidup gue. Setelah ini gue bakalan diputus oleh nyokap buat menerima hukuman mati atau penjara seumur hidup. Enggak, nyokap enggak sejahat itu. Hari ini Emil bakalan ketemu sama nyokap, itulah yang membuat gue dan Emil excited.
Sesampainya di stasiun Lempuyangan Jogja, gue dan Emil turun dari taksi. Iyalah, kita enggak mungkin ke Bekasi naik taksi. Kalo dipikir-pikir kayaknya bisa juga sih ke Bekasi naik taksi, tapi gue yakin sembilan puluh persen kantong gue bakalan jebol buat bayar argonya.
Begitu turun dari taksi kita berdua segera mengikuti antrian buat masuk peron. Antriannya panjang banget, mengular sampai jalan Kaliurang. Enggak, enggak sepanjang itu. Tapi yang jelas panjang banget, sampai stasiun kerasa penuh sesak.
“Masih inget pertama kali kita ketemu?” tanya Emil.
Gue mengangguk, “Iya inget, waktu itu ada cewek ngeselin yang bikin aku sampe ditahan petugas.”
Emil senyum geli, “Dimaklumin ajalah, dia kan jarang ketemu cowok jelek, haha.”
Gue jitak pelan kepala Emil.
Dia mengusap kepalanya, “KDRT!”
“KDRT!” ucap gue menirukan Emil.
Setelah menunggu sedikit lama akhirnya kita bisa masuk ke dalam peron. Gue berinisiatif mengangkat tas punya Emil tapi ditahan.
Dia mengangkat tasnya, “Aku sendiri aja, kan mandiri.”
“Yaudah deh, tapi kamu di depan.” Gue pindah ke belakang Emil, “Biar aku bisa jagain.”
Dari awal turun taksi sampai di dalam kereta, Emil membawa tasnya sendiri. Mandiri, itu yang dia pake buat alasan biar gue membiarkan dia membawa tasnya sendiri. Emang sih udah seharusnya tas cewek di bawa sama cewek itu sendiri, tapi kalo dipikir-pikir kasihan juga. Tas koper yang isinya baju dan lain-lain kan lumayan berat, enggak dibawain cowok yang menganggap cewek itu spesial, segitu teganya? Kalo yang di tanya itu gue, jawabannya tega. Apalagi kalo cewek yang dimaksud spesial itu adek gue.
Kalo diinget-inget banyak yang berubah dalam hidup gue. Bukan, bukan cuma dalam hidup gue tapi juga sekeliling gue. Sekarang gue bisa ngomong tanpa gagu di depan cewek, berani menggandeng tangan cewek, dan terlebih lagi sekarang gue berani menatap mata seorang cewek. Kalo dilihat dari beberapa bulan yang lalu sih emang kayaknya enggak mungkin, tapi kenyataannya, sekarang gue disini, balik ke Bekasi, bareng sama seorang cewek.
Gue duduk di dekat jendela sementara Emil duduk di dekat jalan tengah, berbeda dari sebelumnya sewaktu kita pertama bertemu. Alasan dia simpel, enggak mau ganggu gue kalo lagi mau ke toilet.
“Aku mau ke toilet dulu, jagain tas koperku,” katanya sambil melepas bantal leher.
“Mau ngapain? Mengenang masa lalu?” canda gue.
Dia melempar bantal leher bertuliskan ‘1N4H’ ke muka gue.
“Hati-hati, keretanya udah mau jalan.”
Emil mencium kening gue, “Kamu yang harusnya hati-hati sama jaga diri.”
Dia berlalu, meninggalkan gue duduk dekat jendela bersama tiket untuk dua orang yang bertuliskan nama ‘Muhammad Danang Wijaya’ dan ‘Emillia Rosa.’ Mungkin aja nama kedua orang ini bakalan tercantum dalam buku nikah gue besok, tapi, mungkin juga enggak.
Sewaktu gue iseng buka hape, ada dua BBM dan delapan belas panggilan tidak terjawab. Satu BBM dari Inah dan satu BBM dari Mas Roni.
‘Kakak bangun! Keretanya enggak bakalan nungguin!’
Pesan yang satu lagi dengan nada mengancam juga enggak gue bales.
‘Nek meh bali ki pamit, durhaka tenan kau anak muda. Balik Jogja tak bom kamarmu!’
Gue buka daftar panggilan yang enggak sempat gue angkat. Dari wajah yang dari kemarin malem senyum-senyum mendadak wajah gue berubah panik, layar hape gue bertuliskan ‘Satu panggilan tidak terjawab MAM – My Awesome Mother.’
Buru-buru gue telepon balik ke nomor nyokap.
‘Halo, Ma, assalamualaikum.’
‘Waalaikumsalam, bagus ya baru telepon balik.’
‘Anu, Ma … tadi taksinya macet… jadi Dawi kan anu—’
‘Kesiangan, buru-buru ke stasiun terus enggak sempat angkat telepon mama, bener, kan?’
‘Seratus buat Mama.’
‘Kebiasaaan banget kamu ini, Wi. Tapi bagus deh kalo sekarang udah mulai teliti. Itu temenmu yang mau diajak ke rumah enggak ketinggalan, kan?’
‘Enggaklah, Ma. Dawi enggak seteledor itu.’
‘Enggak seteledor itu gimana? Orang adekmu telepon daritadi juga enggak diangkat. Yaudah kalo gitu, mama cuma mau cek ketinggalan kereta kayak biasanya apa enggak, wassalamualaikum.’
‘Iya, Ma, walaikumsalam.’
Fiuuhh… untungnya nyokap enggak marah. Kata nyokap si Inah telepon? Bisa ditebak, satu telepon tak terjawab yang langsung gue telepon balik dari nyokap dan tujuh belas tak terjawab sisanya dari dia. Adek ngeselin yang terlahir ke dunia cuma buat mengganggu kehidupan gue yang damai. Tapi dipikir-pikir lagi, meski dia ngeselin sampai berpangkat-pangkat kalo enggak ada dia mungkin hidup gue enggak bakalan seru kayak gini.
Perasaan semalem gue enggak mimpi apa-apa. Seingat gue semuanya cuma gelap, bukan mimpi indah ataupun mimpi buruk. Tapi kenapa paginya bisa sampai kesiangan kayak gini? Apa gue salah minum? Padahal menurut gue hari ini adalah hari yang penting bagi gue, payah deh.
“Tasmu udah semua masuk semua? Enggak ada yang ketinggalan, kan?” tanya gue.
Emil menggeleng, “Enggak, semuanya udah masuk ke bagasi, kok.”
“Tiket gimana tiket? Dompet udah dipisahin dari dompet cadangan?”
Dia meletakan jari telunjuknya di bibir gue. Setelah yakin mulut gue terbungkam, dia menaruh tangannya di dada gue, “All is well Dawi, no need to worry.”
Gue menganggukkan kepala tanda setuju.
Hari Sabtu ini adalah hari yang penting bagi gue. Hari dimana akhirnya gue bisa menepati janji gue ke nyokap. Dari awal gue sangat berhati-hati dalam menjalani hari ini, Genggak mau kalo sampai hari yang spesial ini menjadi momen yang fail.
Di dalam taksi Emil terus-terusan memeluk tangan gue dan menyenderkan kepalanya di bahu gue. Biasanya sih dia emang kayak gini, tapi kali ini gue merasa ada yang berbeda. Mungkin dia juga seneng sama hari ini, tapi mungkin juga enggak.
Tunggu, itu kok ada air di pipi? Dia nangis? Jadi beneran dia enggak suka sama hari ini?!
Gue menyeka air mata di pipi Emil, “Mil, kamu kenapa? Kok nangis?”
Dia menepis tangan gue dan menyekanya sendiri, “Enggak kok.”
“Emillia Rosa, kamu kenapa nangis?” ucap gue dengan suara yang gue lembut-lembutin mirip drama Korea.
Oke, itu bukan lembut, rada ke arah cowok bengkok mungkin. Jujur, gue geli sendiri mendengarkan suara gue.
“Muhammad Danang Wijaya.” Emil menggeleng, “Aku enggak kenapa-napa.”
“Beneran?”
Dia mengangguk kemudian meraih tangan gue, “Sini tangannya, aku masih belum mau lepasin.”
Dia kembali memeluk tangan gue dan menyandarkan kepalanya di bahu gue lagi.
Terharu? Gue juga enggak tau. Tapi yang jelas, sebulan yang lalu sewaktu gue ajak dia main ke rumah, dia kelihatan tertarik banget. Malah dia sampai salto tiga kali dan salah satunya sambil muter-muter di udara. Enggak, yang itu gue bohong, Emil hanya seorang manusia berjenis kelamin perempuan, dia bukan lumba-lumba.
Entahlah, gue sendiri juga kurang tau kenapa dia nangis. Yang jelas hari ini adalah hari yang bisa merubah hidup gue. Iya, ini hari yang menentukan hidup gue. Setelah ini gue bakalan diputus oleh nyokap buat menerima hukuman mati atau penjara seumur hidup. Enggak, nyokap enggak sejahat itu. Hari ini Emil bakalan ketemu sama nyokap, itulah yang membuat gue dan Emil excited.
Sesampainya di stasiun Lempuyangan Jogja, gue dan Emil turun dari taksi. Iyalah, kita enggak mungkin ke Bekasi naik taksi. Kalo dipikir-pikir kayaknya bisa juga sih ke Bekasi naik taksi, tapi gue yakin sembilan puluh persen kantong gue bakalan jebol buat bayar argonya.
Begitu turun dari taksi kita berdua segera mengikuti antrian buat masuk peron. Antriannya panjang banget, mengular sampai jalan Kaliurang. Enggak, enggak sepanjang itu. Tapi yang jelas panjang banget, sampai stasiun kerasa penuh sesak.
“Masih inget pertama kali kita ketemu?” tanya Emil.
Gue mengangguk, “Iya inget, waktu itu ada cewek ngeselin yang bikin aku sampe ditahan petugas.”
Emil senyum geli, “Dimaklumin ajalah, dia kan jarang ketemu cowok jelek, haha.”
Gue jitak pelan kepala Emil.
Dia mengusap kepalanya, “KDRT!”
“KDRT!” ucap gue menirukan Emil.
Setelah menunggu sedikit lama akhirnya kita bisa masuk ke dalam peron. Gue berinisiatif mengangkat tas punya Emil tapi ditahan.
Dia mengangkat tasnya, “Aku sendiri aja, kan mandiri.”
“Yaudah deh, tapi kamu di depan.” Gue pindah ke belakang Emil, “Biar aku bisa jagain.”
Dari awal turun taksi sampai di dalam kereta, Emil membawa tasnya sendiri. Mandiri, itu yang dia pake buat alasan biar gue membiarkan dia membawa tasnya sendiri. Emang sih udah seharusnya tas cewek di bawa sama cewek itu sendiri, tapi kalo dipikir-pikir kasihan juga. Tas koper yang isinya baju dan lain-lain kan lumayan berat, enggak dibawain cowok yang menganggap cewek itu spesial, segitu teganya? Kalo yang di tanya itu gue, jawabannya tega. Apalagi kalo cewek yang dimaksud spesial itu adek gue.
Kalo diinget-inget banyak yang berubah dalam hidup gue. Bukan, bukan cuma dalam hidup gue tapi juga sekeliling gue. Sekarang gue bisa ngomong tanpa gagu di depan cewek, berani menggandeng tangan cewek, dan terlebih lagi sekarang gue berani menatap mata seorang cewek. Kalo dilihat dari beberapa bulan yang lalu sih emang kayaknya enggak mungkin, tapi kenyataannya, sekarang gue disini, balik ke Bekasi, bareng sama seorang cewek.
Gue duduk di dekat jendela sementara Emil duduk di dekat jalan tengah, berbeda dari sebelumnya sewaktu kita pertama bertemu. Alasan dia simpel, enggak mau ganggu gue kalo lagi mau ke toilet.
“Aku mau ke toilet dulu, jagain tas koperku,” katanya sambil melepas bantal leher.
“Mau ngapain? Mengenang masa lalu?” canda gue.
Dia melempar bantal leher bertuliskan ‘1N4H’ ke muka gue.
“Hati-hati, keretanya udah mau jalan.”
Emil mencium kening gue, “Kamu yang harusnya hati-hati sama jaga diri.”
Dia berlalu, meninggalkan gue duduk dekat jendela bersama tiket untuk dua orang yang bertuliskan nama ‘Muhammad Danang Wijaya’ dan ‘Emillia Rosa.’ Mungkin aja nama kedua orang ini bakalan tercantum dalam buku nikah gue besok, tapi, mungkin juga enggak.
Sewaktu gue iseng buka hape, ada dua BBM dan delapan belas panggilan tidak terjawab. Satu BBM dari Inah dan satu BBM dari Mas Roni.
‘Kakak bangun! Keretanya enggak bakalan nungguin!’
Pesan yang satu lagi dengan nada mengancam juga enggak gue bales.
‘Nek meh bali ki pamit, durhaka tenan kau anak muda. Balik Jogja tak bom kamarmu!’
Gue buka daftar panggilan yang enggak sempat gue angkat. Dari wajah yang dari kemarin malem senyum-senyum mendadak wajah gue berubah panik, layar hape gue bertuliskan ‘Satu panggilan tidak terjawab MAM – My Awesome Mother.’
Buru-buru gue telepon balik ke nomor nyokap.
‘Halo, Ma, assalamualaikum.’
‘Waalaikumsalam, bagus ya baru telepon balik.’
‘Anu, Ma … tadi taksinya macet… jadi Dawi kan anu—’
‘Kesiangan, buru-buru ke stasiun terus enggak sempat angkat telepon mama, bener, kan?’
‘Seratus buat Mama.’
‘Kebiasaaan banget kamu ini, Wi. Tapi bagus deh kalo sekarang udah mulai teliti. Itu temenmu yang mau diajak ke rumah enggak ketinggalan, kan?’
‘Enggaklah, Ma. Dawi enggak seteledor itu.’
‘Enggak seteledor itu gimana? Orang adekmu telepon daritadi juga enggak diangkat. Yaudah kalo gitu, mama cuma mau cek ketinggalan kereta kayak biasanya apa enggak, wassalamualaikum.’
‘Iya, Ma, walaikumsalam.’
Fiuuhh… untungnya nyokap enggak marah. Kata nyokap si Inah telepon? Bisa ditebak, satu telepon tak terjawab yang langsung gue telepon balik dari nyokap dan tujuh belas tak terjawab sisanya dari dia. Adek ngeselin yang terlahir ke dunia cuma buat mengganggu kehidupan gue yang damai. Tapi dipikir-pikir lagi, meski dia ngeselin sampai berpangkat-pangkat kalo enggak ada dia mungkin hidup gue enggak bakalan seru kayak gini.
JabLai cOY memberi reputasi
1


