- Beranda
- Stories from the Heart
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
...
TS
taucolama
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
Quote:
Quote:
Quote:
Spoiler for Prolog:
Quote:
Quote:
Yang suka mohon Rate,Komen, Share.Diubah oleh taucolama 28-02-2017 07:49
afrizal7209787 dan 47 lainnya memberi reputasi
42
1M
1.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
taucolama
#489
Dua Dunia
Hari itu Om Jaya pengacara Om Hadi memanggil aku dan Viona ke kantornya membaca surat wasiat Om Hadi. Aku dan Viona berangkat ke kantor Om Jaya lewat tengah hari. Singkat kata kami tiba dikantor Om Jaya dan dipersilahkan memasuki ruang kerja Om Jaya. Didalam ruang kerja Om Jaya membacakan surat wasiat yang isinya menjelaskan aset aset yang dimiliki dan besarnya hutang ke bank dan alangkah terkejutnya hutang om Hadi mencapai puluhan miliar. Aku sempat berpikir bagaimana cara melunasinya tapi penjelasan Om Jaya bahwa aset beberapa perusahaan Om Hadi sudah ada yang berminat dan jumlahnya hasil take over perusahaan perusahaan tersebut cukup menutupi hutang tersebut. Bila semua perusahaan tersebut di take over pihak lain tinggal usaha perkebunan saja yang tersisa yg dulu jadi cita cita om Hadi untuk diteruskan mengisi hari tuanya sebelum meninggal. Aset lainnya tinggal 3 rumah termasuk yang ditempati kami, beberapa mobil, dan tabungan dan 2 unit ruko. Dalam wasiat itu tabungan tersebut ada sebagian kecil untuk Tante Shinta, Ibuku, Om Warman sisanya buat aku dan Viona. Sungguh aku kagum sama Hadi yang sudah merencanakan masa depan bagi kami. Bahkan jasa pengacarapun sudah dibayar. Aku dan Viona setuju agar pengurusan segalanya dipercayakan pada om Jaya.
Pulang dari kantor om Jaya aku dan Viona membahas bagaimana rencana kedepan. Viona memutuskan tak akan melanjutkan kuliah ia ingin menjadi istri yg baik saja sambil ingin buka butik kecil kecilan, dan Viona memaksa aku tetap kuliah sampai beres. Viona juga bermaksud menjual mobil kecuali yang dia pakai dan mobil kesayangan om Hadi untukku. Viona juga ingin pindah rumah ke salah satu rumah warisan Om Hadi yang lebih kecil dan masih satu komplek perumahan dengan rumah Tante Shinta.
Singkat kata kami pindahan rumah. Rumah ini memang lebih kecil dari yang terdahulu tapi tampak asri. Mulai dari rumah ini akan dimulai perjalanan hidup bersama Viona.
Hidup memang penuh liku liku pasti ada saja rintangan dan hambatan.
Hari itu aku mulai masuk kuliah lagi. Teman temanku langsung memberi selamat atas pernikahanku dan sekaligus mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya om Hadi. Dan Joko minta ditraktir pulang kuliah sebagai perayaan atas pernikahan aku dan Viona. Pulang Kuliah aku mentraktir teman teman makan di cafe. Aku bbm Viona kalo temen temen lagi ngumpul dicafe. Viona membalas ingin dateng juga ke cafe tapi ga bisa karena sedang beres beres dirumah dan minta disampaikan salam pada mereka.
Sedang asik kami ngobrol dan bercanda, tiba tiba Irene yg ikut juga ke cafe dan mendekatiku.
"aka tadi aku lupa belum mengucapkan selamat atas pernikahan kamu": kata Irene dan tiba tiba mencium pipiku.
"irene tak seharusnya kamu seperti itu, aku sudah beristri": kataku.
"ah cuma cium pipi ini ga apa apa": kata Irene.
"iya Irene jangan seperti itu aka sudah punya orang lain": kata Intan.
Irene tak menjawab hanya tersenyum padaku.
Setelah ngobrol kesana kemari aku meminta bill pada pelayan dan membayar semuanya. Aku pamit pada teman teman dan pulang menuju rumah.
Sesampai rumah ternyata sepi. Pintu semua terkunci ku telpon Viona tak diangkat. Kemana Viona ,mobil ada berarti Viona ga pergi jauh. Kutelpon mama Shinta apakah Viona kesana. mama Shinta menjawab Viona ada tapi sedang menangis. Aku kaget kenapa dengan Viona. Aku segera menuju ke rumah mama Shinta.
Sesampainya dirumah mama Shinta, aku disambut mamacShinta dan Tania. mama Shinta bilang tadi tiba tiba Viona datang sambil menangis dan ditanya tak dijawab bahkan kinj menangis dikamar mama Shinta. Aku meminta ijin pada mama Shinta menemui Viona dikamar dan mama Shinta mengijinkan.
Aku menuju kamar kulihat Viona menangis sambil tiduran. Melihatku datang Viona membalikan badan dan memunggungiku. Kududuk tepi ranjang dan membelai rambut Viona.
"kenapa yang, koq nangis cerita ya": kataku lembut.
"aka jahat, aka penghianat": kata Viona sambil menangis.
"kalau aku salah aku mohon maaf tapi aku tak pernah menghianati kamu coba cerita ada apa sebenernya": kataku.
"ini buktinya kamu selingkuh": kata Viona sambil memberikan hpnya.
Kulihat hp Viona, astaga kenapa ada foto Irene sedang mencium pipiku pas tadi dicafe.
" sayang ini ga seperti kira aku bisa jelaskan": kataku.
"ga percaya kamu suka boong": kata Viona.
"gini aja kamu telpon intan kan tadi intan juga ada dicafe lagipula kamu temenan deket sama Intan": kataku
"iya aku mau telpon siniin hp aku": kata Viona.
Lalu Viona menelpon Intan lalu mereka berbicara aku hanya diam. Tak berapa lama pembicaraan mereka selesai.
"bagaimana udah jelas belum apa mesti telpon temen yg lain": kataku.
"ga usah udah cukup Intan bilang Irene aja yang langsung nyosor terus sama ayang ditegur, intan juga negur Irene": kata Viona
"udah jangan nangis lagi kalo kamu nangis aku juga jadi sedih": kataku.
"makanya jangan selingkuh": kata Viona.
"orang ngga juga": kataku
"iya maaf aku udah nuduh ayang yg ngga ngga": kata Viona memelukku
"cie cie yg udah baikan": kata Tania yg nongol di pintu kamar.
"ih dari tadi nguping ya": kata Viona
"iya dong tapi ga rame ah ga ada berantemnya masa langsung baikan ulang lagi ah ngambeknya": kata Tania.
"ih punya adek ngeselin sini biar dicubit pipinya": kata Viona sambil berdiri dan mendekati Tania.
Aku mengikuti mereka dari belakang. Kulihat Tania kabur kemudian bersembunyi dibalik tubuh mama shinta tapi sepertinya Viona masih penasaran mencubit.
"mama shinta aku minta ijin nyubit pipi Tania ya": kata Viona
"boleh sekali cubit goceng ya": kata mama shinta.
"siap ma, aku bayarin deh 3 juta biar pipinya jadi chubby ": kata Viona
"mamaaaaa, masa anaknya dibisnisin ": kata Tania.
"ma, aku ikutan nambah 3 juta asal boleh ngelitikin tania sampe pingsan": kataku.
"boleh boleh aduh belum apa apa udah dapet 6 juta": kata mama Shinta becanda.
Iiiiiiiih kalian semua nackal nackal deh": kata Tania.
"bodo amat, siapa suruh nguping": kata Viona
Selanjutnya adalah jeritan jeritan kecil Tania dicubit Viona dan digilitikin aku. Mama Shinta tertawa melihat kelakuan kami.
Hari ini aku bisa melewati krikil kecil yg menghalangi perjalanan hidupku dan Viona. Aku salah mengira hanya sebatas itu gangguan terhadap aku dan Viona. Padahal kedepan aku harus menghadapi gangguan dari dunia lain..
Hari itu Om Jaya pengacara Om Hadi memanggil aku dan Viona ke kantornya membaca surat wasiat Om Hadi. Aku dan Viona berangkat ke kantor Om Jaya lewat tengah hari. Singkat kata kami tiba dikantor Om Jaya dan dipersilahkan memasuki ruang kerja Om Jaya. Didalam ruang kerja Om Jaya membacakan surat wasiat yang isinya menjelaskan aset aset yang dimiliki dan besarnya hutang ke bank dan alangkah terkejutnya hutang om Hadi mencapai puluhan miliar. Aku sempat berpikir bagaimana cara melunasinya tapi penjelasan Om Jaya bahwa aset beberapa perusahaan Om Hadi sudah ada yang berminat dan jumlahnya hasil take over perusahaan perusahaan tersebut cukup menutupi hutang tersebut. Bila semua perusahaan tersebut di take over pihak lain tinggal usaha perkebunan saja yang tersisa yg dulu jadi cita cita om Hadi untuk diteruskan mengisi hari tuanya sebelum meninggal. Aset lainnya tinggal 3 rumah termasuk yang ditempati kami, beberapa mobil, dan tabungan dan 2 unit ruko. Dalam wasiat itu tabungan tersebut ada sebagian kecil untuk Tante Shinta, Ibuku, Om Warman sisanya buat aku dan Viona. Sungguh aku kagum sama Hadi yang sudah merencanakan masa depan bagi kami. Bahkan jasa pengacarapun sudah dibayar. Aku dan Viona setuju agar pengurusan segalanya dipercayakan pada om Jaya.
Pulang dari kantor om Jaya aku dan Viona membahas bagaimana rencana kedepan. Viona memutuskan tak akan melanjutkan kuliah ia ingin menjadi istri yg baik saja sambil ingin buka butik kecil kecilan, dan Viona memaksa aku tetap kuliah sampai beres. Viona juga bermaksud menjual mobil kecuali yang dia pakai dan mobil kesayangan om Hadi untukku. Viona juga ingin pindah rumah ke salah satu rumah warisan Om Hadi yang lebih kecil dan masih satu komplek perumahan dengan rumah Tante Shinta.
Singkat kata kami pindahan rumah. Rumah ini memang lebih kecil dari yang terdahulu tapi tampak asri. Mulai dari rumah ini akan dimulai perjalanan hidup bersama Viona.
Hidup memang penuh liku liku pasti ada saja rintangan dan hambatan.
Hari itu aku mulai masuk kuliah lagi. Teman temanku langsung memberi selamat atas pernikahanku dan sekaligus mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya om Hadi. Dan Joko minta ditraktir pulang kuliah sebagai perayaan atas pernikahan aku dan Viona. Pulang Kuliah aku mentraktir teman teman makan di cafe. Aku bbm Viona kalo temen temen lagi ngumpul dicafe. Viona membalas ingin dateng juga ke cafe tapi ga bisa karena sedang beres beres dirumah dan minta disampaikan salam pada mereka.
Sedang asik kami ngobrol dan bercanda, tiba tiba Irene yg ikut juga ke cafe dan mendekatiku.
"aka tadi aku lupa belum mengucapkan selamat atas pernikahan kamu": kata Irene dan tiba tiba mencium pipiku.
"irene tak seharusnya kamu seperti itu, aku sudah beristri": kataku.
"ah cuma cium pipi ini ga apa apa": kata Irene.
"iya Irene jangan seperti itu aka sudah punya orang lain": kata Intan.
Irene tak menjawab hanya tersenyum padaku.
Setelah ngobrol kesana kemari aku meminta bill pada pelayan dan membayar semuanya. Aku pamit pada teman teman dan pulang menuju rumah.
Sesampai rumah ternyata sepi. Pintu semua terkunci ku telpon Viona tak diangkat. Kemana Viona ,mobil ada berarti Viona ga pergi jauh. Kutelpon mama Shinta apakah Viona kesana. mama Shinta menjawab Viona ada tapi sedang menangis. Aku kaget kenapa dengan Viona. Aku segera menuju ke rumah mama Shinta.
Sesampainya dirumah mama Shinta, aku disambut mamacShinta dan Tania. mama Shinta bilang tadi tiba tiba Viona datang sambil menangis dan ditanya tak dijawab bahkan kinj menangis dikamar mama Shinta. Aku meminta ijin pada mama Shinta menemui Viona dikamar dan mama Shinta mengijinkan.
Aku menuju kamar kulihat Viona menangis sambil tiduran. Melihatku datang Viona membalikan badan dan memunggungiku. Kududuk tepi ranjang dan membelai rambut Viona.
"kenapa yang, koq nangis cerita ya": kataku lembut.
"aka jahat, aka penghianat": kata Viona sambil menangis.
"kalau aku salah aku mohon maaf tapi aku tak pernah menghianati kamu coba cerita ada apa sebenernya": kataku.
"ini buktinya kamu selingkuh": kata Viona sambil memberikan hpnya.
Kulihat hp Viona, astaga kenapa ada foto Irene sedang mencium pipiku pas tadi dicafe.
" sayang ini ga seperti kira aku bisa jelaskan": kataku.
"ga percaya kamu suka boong": kata Viona.
"gini aja kamu telpon intan kan tadi intan juga ada dicafe lagipula kamu temenan deket sama Intan": kataku
"iya aku mau telpon siniin hp aku": kata Viona.
Lalu Viona menelpon Intan lalu mereka berbicara aku hanya diam. Tak berapa lama pembicaraan mereka selesai.
"bagaimana udah jelas belum apa mesti telpon temen yg lain": kataku.
"ga usah udah cukup Intan bilang Irene aja yang langsung nyosor terus sama ayang ditegur, intan juga negur Irene": kata Viona
"udah jangan nangis lagi kalo kamu nangis aku juga jadi sedih": kataku.
"makanya jangan selingkuh": kata Viona.
"orang ngga juga": kataku
"iya maaf aku udah nuduh ayang yg ngga ngga": kata Viona memelukku
"cie cie yg udah baikan": kata Tania yg nongol di pintu kamar.
"ih dari tadi nguping ya": kata Viona
"iya dong tapi ga rame ah ga ada berantemnya masa langsung baikan ulang lagi ah ngambeknya": kata Tania.
"ih punya adek ngeselin sini biar dicubit pipinya": kata Viona sambil berdiri dan mendekati Tania.
Aku mengikuti mereka dari belakang. Kulihat Tania kabur kemudian bersembunyi dibalik tubuh mama shinta tapi sepertinya Viona masih penasaran mencubit.
"mama shinta aku minta ijin nyubit pipi Tania ya": kata Viona
"boleh sekali cubit goceng ya": kata mama shinta.
"siap ma, aku bayarin deh 3 juta biar pipinya jadi chubby ": kata Viona
"mamaaaaa, masa anaknya dibisnisin ": kata Tania.
"ma, aku ikutan nambah 3 juta asal boleh ngelitikin tania sampe pingsan": kataku.
"boleh boleh aduh belum apa apa udah dapet 6 juta": kata mama Shinta becanda.
Iiiiiiiih kalian semua nackal nackal deh": kata Tania.
"bodo amat, siapa suruh nguping": kata Viona
Selanjutnya adalah jeritan jeritan kecil Tania dicubit Viona dan digilitikin aku. Mama Shinta tertawa melihat kelakuan kami.
Hari ini aku bisa melewati krikil kecil yg menghalangi perjalanan hidupku dan Viona. Aku salah mengira hanya sebatas itu gangguan terhadap aku dan Viona. Padahal kedepan aku harus menghadapi gangguan dari dunia lain..
itkgid dan 10 lainnya memberi reputasi
11
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/12/02/9119792_201612020532230372.jpg)
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://dl.kaskus.id/i1109.photobucket.com/albums/h440/awtian/ob9bzx9x-1.gif)
A :
INDEX