- Beranda
- Stories from the Heart
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
...
TS
taucolama
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
Quote:
Quote:
Quote:
Spoiler for Prolog:
Quote:
Quote:
Yang suka mohon Rate,Komen, Share.Diubah oleh taucolama 28-02-2017 07:49
afrizal7209787 dan 47 lainnya memberi reputasi
42
1M
1.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
taucolama
#479
Jalan Berliku part 4
Dalam kesedihan mendalam aku tak mampu berfikir jernih untung Mas Indra dan teh Ida datang. Teh Ida menenangkan Viona dan mas Indra mengajakku mengurus administrasi dan mengeluarkan jenazah. Aku menyuruh pa Yayat membantu mempersiapkan rumah dan membantu untuk pemakaman. Aku menelpon Om Warman memberitahu meninggalnya om Hadi.
Singkat cerita setelah disemayamkan dirumah kamk semua sepakat hari itu juga jenazah dimakamkan. Diiringi rintik hujan pemakaman dilakukan di pemakaman keluarga. Ditengah prosesi pemakaman Viona dan tante Shinta pingsan hingga terpaksa dibawa kerumah. Aku berdiri di tanah merah makam om Hadi orang terbaik yang pernah mengisi hidupku. Pikiran ku melayang teringat ketika waktu dulu kehilangan kekasihku tersayang. Para pelayat sudah pulang hanya tinggal aku dan Om Warman yang menemaniku dan memberi semangat padaku. Dari jauh kulihat sosok sedang menangis disebuah makam anehnya dari jarak sejauh itu aku mendengar sosok itu menangis karena tak ada yg mendoakan dia. Aku pun mendoakan sosok itu. Tak lama sosok itu hilang bersama hembusan angin. Om Warman mengajakku pulang. Dan kamipun pulang.
Aku mengajak Ibu dan tante Shinta tinggal sementara bersama kami untuk menemani kami. Ibu menerima tapi tante Shinta menolak karena tak kuat selalu teringat kenangan bersama Om Hadi.
Hari hari yang kulalui masih diliputi kesedihan Viona masih sering menangis dan mengurung diri tak mau makan. Untung ibuku sabar membujuk dan menyemangati Viona. Kulihat ibu sangat menyayangi Viona seperti anak sendiri.
Bahkan ibu yang mengurus acara tahlil dan disetiap malam tahlil tante Shinta hadir. Di malam ketujuh aku berbicara dengan tante Shinta kubilang ku tetap menganggap tante Shinta sebagai ibuku juga dan menganggap Tania adikku juga. Aku minta tante Shinta menyayangi Viona seperti anaknya. Tante Shinta memeluk kami menangis dan bilang akan mengakui kami sebagai anaknya walau belum menikah dengan om Hadi.
Hari ini ibu meminta ijin untuk pulang kerumah mau mengurus pindahan barang rumah ke rumah baru diluar kota dan ibu menyuruhku menemani Viona karena kepindahan barang barang sudah diurus mas Indra. Dan aku mengiyakan.
Aku berencana pergi kelembaga yatim piatu menyumbangkan sedikit uangku semoga bisa jadi amalan yang mengalir bagi om Hadi. Aku ajak Viona. Viona mengiyakan.
Jam sepuluh pagi kami tiba di panti asuhan setelah memberikan uang aku minta ijin pengurus panti memberikan makanan dan pakaian yg kami bawa dan melihat lihat anak anak panti.
Pengurus panti mengijinkan. Aku dan Viona melihat anak anak yatim itu dan perhatian Viona tertuju pada satu balita yang lucu. Bahkan Viona meminta ijin memangku bayi itu. Pertama kali setelah meninggalnya om Hadi kulihat Viona tersenyum. Aku mengobrol ringan dengan pengurus panti dan Viona sepertinya asik dengan bayi itu. Tak lama kemudian kami pamit untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang Viona mendekap tanganku erat semoga ini awal Viona bisa move on.
Singkat cerita keesokan harinya aku terbangun dengan belaian lembut di pipiku. Viona membangunkanku untuk pertama kali Viona membangunkanku. Kali ini wajahnya berseri dia menyuruhku mandi dan menunggu di meja makan. Beres mandi aku makan bersama dengan Viona. Beres makan Viona mengajakku duduk di kursi taman. Dikursi taman itu Viona menyandarkan kepalanya dibahuku.
"Yang terimakasih telah mengajakku ke panti, aku jadi tersadar berapa beruntungnya aku walau ditinggal papah aku masih mendapat kasih sayang dari kamu, dari ibu dan dari mama shinta": kata Viona
"kamu jangan sedih terus jalan kita masih panjang didepan masih ada jalan berliku yg mesti kita tempuh": kataku.
"Iya waktu dipanti aku melihat bayi kasihan masih kecil tak punya orang tua tapi untungnya masih ada yang peduli": kata Viona.
"begitulah hidup tapi Allah adil memberi kasih sayang kepada bayi itu walau bukan dari orang tua tapi ada orang disekelilingnya": kataku.
Tampak seseorang memasuki halaman ternyata Tania datang sendirian.
"Tania ga sekolah": tanyaku.
"ih kaka kan hari ini hari Minggu": kata Tania lalu dudjk disebelah Viona.
"Mamah sehat?": tanyaku.
"sehat ka nitip salam buat kaka sama ka Viona, eh pada ngelamunin apa sih ikutan dong nih aku bawa cemilan ngelamunnya sambil ngemil biar seru": kata Tania dengan gaya tengilnya.
"Tumben bawa makanan biasanya juga minta jajan": kataku.
"kan nyogok dulu nanti baru minta Jajan": kata Tania.
"bisa aja kamu": kata Viona sambil tertawa. Sungguh bahagia hatiku melihat Viona kembali tertawa
Dalam kesedihan mendalam aku tak mampu berfikir jernih untung Mas Indra dan teh Ida datang. Teh Ida menenangkan Viona dan mas Indra mengajakku mengurus administrasi dan mengeluarkan jenazah. Aku menyuruh pa Yayat membantu mempersiapkan rumah dan membantu untuk pemakaman. Aku menelpon Om Warman memberitahu meninggalnya om Hadi.
Singkat cerita setelah disemayamkan dirumah kamk semua sepakat hari itu juga jenazah dimakamkan. Diiringi rintik hujan pemakaman dilakukan di pemakaman keluarga. Ditengah prosesi pemakaman Viona dan tante Shinta pingsan hingga terpaksa dibawa kerumah. Aku berdiri di tanah merah makam om Hadi orang terbaik yang pernah mengisi hidupku. Pikiran ku melayang teringat ketika waktu dulu kehilangan kekasihku tersayang. Para pelayat sudah pulang hanya tinggal aku dan Om Warman yang menemaniku dan memberi semangat padaku. Dari jauh kulihat sosok sedang menangis disebuah makam anehnya dari jarak sejauh itu aku mendengar sosok itu menangis karena tak ada yg mendoakan dia. Aku pun mendoakan sosok itu. Tak lama sosok itu hilang bersama hembusan angin. Om Warman mengajakku pulang. Dan kamipun pulang.
Aku mengajak Ibu dan tante Shinta tinggal sementara bersama kami untuk menemani kami. Ibu menerima tapi tante Shinta menolak karena tak kuat selalu teringat kenangan bersama Om Hadi.
Hari hari yang kulalui masih diliputi kesedihan Viona masih sering menangis dan mengurung diri tak mau makan. Untung ibuku sabar membujuk dan menyemangati Viona. Kulihat ibu sangat menyayangi Viona seperti anak sendiri.
Bahkan ibu yang mengurus acara tahlil dan disetiap malam tahlil tante Shinta hadir. Di malam ketujuh aku berbicara dengan tante Shinta kubilang ku tetap menganggap tante Shinta sebagai ibuku juga dan menganggap Tania adikku juga. Aku minta tante Shinta menyayangi Viona seperti anaknya. Tante Shinta memeluk kami menangis dan bilang akan mengakui kami sebagai anaknya walau belum menikah dengan om Hadi.
Hari ini ibu meminta ijin untuk pulang kerumah mau mengurus pindahan barang rumah ke rumah baru diluar kota dan ibu menyuruhku menemani Viona karena kepindahan barang barang sudah diurus mas Indra. Dan aku mengiyakan.
Aku berencana pergi kelembaga yatim piatu menyumbangkan sedikit uangku semoga bisa jadi amalan yang mengalir bagi om Hadi. Aku ajak Viona. Viona mengiyakan.
Jam sepuluh pagi kami tiba di panti asuhan setelah memberikan uang aku minta ijin pengurus panti memberikan makanan dan pakaian yg kami bawa dan melihat lihat anak anak panti.
Pengurus panti mengijinkan. Aku dan Viona melihat anak anak yatim itu dan perhatian Viona tertuju pada satu balita yang lucu. Bahkan Viona meminta ijin memangku bayi itu. Pertama kali setelah meninggalnya om Hadi kulihat Viona tersenyum. Aku mengobrol ringan dengan pengurus panti dan Viona sepertinya asik dengan bayi itu. Tak lama kemudian kami pamit untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang Viona mendekap tanganku erat semoga ini awal Viona bisa move on.
Singkat cerita keesokan harinya aku terbangun dengan belaian lembut di pipiku. Viona membangunkanku untuk pertama kali Viona membangunkanku. Kali ini wajahnya berseri dia menyuruhku mandi dan menunggu di meja makan. Beres mandi aku makan bersama dengan Viona. Beres makan Viona mengajakku duduk di kursi taman. Dikursi taman itu Viona menyandarkan kepalanya dibahuku.
"Yang terimakasih telah mengajakku ke panti, aku jadi tersadar berapa beruntungnya aku walau ditinggal papah aku masih mendapat kasih sayang dari kamu, dari ibu dan dari mama shinta": kata Viona
"kamu jangan sedih terus jalan kita masih panjang didepan masih ada jalan berliku yg mesti kita tempuh": kataku.
"Iya waktu dipanti aku melihat bayi kasihan masih kecil tak punya orang tua tapi untungnya masih ada yang peduli": kata Viona.
"begitulah hidup tapi Allah adil memberi kasih sayang kepada bayi itu walau bukan dari orang tua tapi ada orang disekelilingnya": kataku.
Tampak seseorang memasuki halaman ternyata Tania datang sendirian.
"Tania ga sekolah": tanyaku.
"ih kaka kan hari ini hari Minggu": kata Tania lalu dudjk disebelah Viona.
"Mamah sehat?": tanyaku.
"sehat ka nitip salam buat kaka sama ka Viona, eh pada ngelamunin apa sih ikutan dong nih aku bawa cemilan ngelamunnya sambil ngemil biar seru": kata Tania dengan gaya tengilnya.
"Tumben bawa makanan biasanya juga minta jajan": kataku.
"kan nyogok dulu nanti baru minta Jajan": kata Tania.
"bisa aja kamu": kata Viona sambil tertawa. Sungguh bahagia hatiku melihat Viona kembali tertawa
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/12/02/9119792_201612020532230372.jpg)
![Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]](https://dl.kaskus.id/i1109.photobucket.com/albums/h440/awtian/ob9bzx9x-1.gif)
A :
INDEX