- Beranda
- Stories from the Heart
Semua tentang Kita
...
TS
bumburacik
Semua tentang Kita
Aku duduk di bangku teras rumah ibu kos sambil menunggu pesanan makan malam datang. Sengaja pesan makan dari aplikasi go*ek karena sangat malas untuk beranjak dari kosan.
Saat itu keadaan kos sedang sepi, entah penguninya berpencar kemana. Untungnya ada fasilitas hotspot gratis, jadi aku bisa sekalian numpang internet-an.
Earphone kulekatkan pada kedua telingaku dan memutar sebuah lagu.
Tak sengaja sebuah tembang yang dinyanyikan Monita menjejali telinga kanan dan kiri bak soundtrack malam itu. Lagu itu membuatku mengambang di antara pedih dan tegar. Lamunan akan membunuh waktu, hingga tak terasa pesanan makan malam pun datang.
Sebenarnya aku tak terbiasa makan 'manja' seperti ini, sumpah. Karena pada hari-hariku sebelumnya, kadang ada Kuku yang memasak dan menyiapkan lauk pauk, sedangkan aku membantunya dengan memasak nasi dan membereskan perkakas makan yang kotor. Namun beberapa hari terakhir ini hariku terasa berbeda, Kuku harus pergi untuk beberapa hari ke kota seberang yang jaraknya lumayan jauh dari sini.
Aku sendiri sekarang, ada perasaan damai dan juga kesepian yang aku rasakan dalam waktu bersamaan. It's complicated feeling.
Terang saja, karena saat kami bersama ada saja yang kami lakukan dan ada saja bahan untuk saling menggoda dan ujung-ujungnya ada salah satu yang badmood. Saling mengganggu satu sama lain sudah menjadi kebiasaan. Hari-hari kami tak hanya diisi dengan candaan tapi juga ada marahan, jengkel bahkan galau berdua. Saat salah satu dari kami pergi, seperti ada sesuatu yang tak utuh dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seperti perasaanku pagi ini, ketika aku sadar Kuku belum menampakkan batang hidungnya.
Ada prasangka yang terpendam di balik diam, pikiranku kembali melayang dan timbul pertanyaan seperti sedang apakah dia dan dengan siapa dia berbicara saat ini? Apakah dia baik-baik saja saat aku tak di sampingnya? Apakah dia merindukanku di saat seperti ini?
Sebelumnya aku tak 'insecure' separah ini, sekarang aku merasa begitu payah karena merasa rapuh dan sering meragu. Aku merasakan hubunganku dengannya baik-baik saja dan begitu bahagia, namun berubah seketika ketika negara api menyerang.
Ingatan tentang bagaimana kami bertemu masih melekat erat dan aku belum rela jika kisah yang kurajut dengannya teronggok di pojok ruang kenangan.
Eh, handphoneku bunyi.
Woh, ternyata pesanan makan malamku sudah datang. Aku bergegas berjalan keluar dan membuka pagar. [Bersambung...]
Saat itu keadaan kos sedang sepi, entah penguninya berpencar kemana. Untungnya ada fasilitas hotspot gratis, jadi aku bisa sekalian numpang internet-an.
Earphone kulekatkan pada kedua telingaku dan memutar sebuah lagu.
Quote:
Tak sengaja sebuah tembang yang dinyanyikan Monita menjejali telinga kanan dan kiri bak soundtrack malam itu. Lagu itu membuatku mengambang di antara pedih dan tegar. Lamunan akan membunuh waktu, hingga tak terasa pesanan makan malam pun datang.
Sebenarnya aku tak terbiasa makan 'manja' seperti ini, sumpah. Karena pada hari-hariku sebelumnya, kadang ada Kuku yang memasak dan menyiapkan lauk pauk, sedangkan aku membantunya dengan memasak nasi dan membereskan perkakas makan yang kotor. Namun beberapa hari terakhir ini hariku terasa berbeda, Kuku harus pergi untuk beberapa hari ke kota seberang yang jaraknya lumayan jauh dari sini.
Aku sendiri sekarang, ada perasaan damai dan juga kesepian yang aku rasakan dalam waktu bersamaan. It's complicated feeling.
Terang saja, karena saat kami bersama ada saja yang kami lakukan dan ada saja bahan untuk saling menggoda dan ujung-ujungnya ada salah satu yang badmood. Saling mengganggu satu sama lain sudah menjadi kebiasaan. Hari-hari kami tak hanya diisi dengan candaan tapi juga ada marahan, jengkel bahkan galau berdua. Saat salah satu dari kami pergi, seperti ada sesuatu yang tak utuh dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seperti perasaanku pagi ini, ketika aku sadar Kuku belum menampakkan batang hidungnya.
Ada prasangka yang terpendam di balik diam, pikiranku kembali melayang dan timbul pertanyaan seperti sedang apakah dia dan dengan siapa dia berbicara saat ini? Apakah dia baik-baik saja saat aku tak di sampingnya? Apakah dia merindukanku di saat seperti ini?
Sebelumnya aku tak 'insecure' separah ini, sekarang aku merasa begitu payah karena merasa rapuh dan sering meragu. Aku merasakan hubunganku dengannya baik-baik saja dan begitu bahagia, namun berubah seketika ketika negara api menyerang.
Ingatan tentang bagaimana kami bertemu masih melekat erat dan aku belum rela jika kisah yang kurajut dengannya teronggok di pojok ruang kenangan.
Quote:
Eh, handphoneku bunyi.
Woh, ternyata pesanan makan malamku sudah datang. Aku bergegas berjalan keluar dan membuka pagar. [Bersambung...]
Quote:
Diubah oleh bumburacik 04-01-2017 21:35
anasabila memberi reputasi
1
1.9K
20
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bumburacik
#8
1. Sapaan Teman Baru di Sebuah Sore
Makan malam kuselesaikan dengan tak bergairah namun kupaksa untuk menghabiskan. Setelah itu aku berkemas dan segera kembali ke kamar. Kubuka pintu ruangan yang luasnya sekitar 4x4m.
"Akhirnya, ketemu kasur juga." celotehku sambil membaringkan tubuh tambunku dan sesekali menghela nafas panjang.
Aku menengok ke layar smartphone berharap ada pesan singkat dari Kuku, namun hanya pesan singkat promo yang kudapat. Aku penat dengan perasaan seperti ini, kurang merasa nyaman untuk melakukan sesuatu. Aku mengakses surel dan memilah mana yang tak penting dan harus kuhapus, aku terus menyibukkan diri dan berharap rasa yang buatku tak nyaman itu lenyap. Setelah scrolling daftar surel sampai ke bagian paling bawah, aku menemukan surel riwayat percakapan dengan Kuku saat pertama kali berkenalan.
Lalu jariku reflek klik dan membaca ulang obrolan kami. Bagai mesin waktu, ingatan langsung menghantarku ke sebuah sore beberapa tahun lalu, di mana aku masih tinggal di kota halamanku.
Saat itu sedang memasuki pertengahan bulan puasa dan aku masih ingat betul ketika aku sedang santai di dapur tiba-tiba ada notifikasi surel dari aplikasi Couc*surfing.
"Tumben banget..." kataku dalam hati.
Aku sempat klik profile picture Kusuma, berulang kali zoom in zoom out untuk mendapatkan gambaran bagaimana sosok Kusuma yang sedang berkirim pesan denganku. Tak puas dengan itu, aku stalking social media miliknya. Tak perlu waktu lama untuk menemukan akun social media Kusuma.
Tidak ada maksud apa-apa saat itu, hanya sekedar ingin tahu apakah dia Kusuma, orang beneran atau hanya orang iseng. Ya, namanya juga dunia maya. Agak takut terjadi sesuatu yang nggak diinginkan. Hehe
Setelah yakin dengan sosok Kusuma, akhirnya aku memberi kontak Line dan WA padanya. Aku berharap bisa membantunya saat ia ingin berkunjung ke Blitar dan otomatis menambah teman.
Kami saling berbalas pesan meskipun jarak waktu antara menerima surel dan membalasnya tidak begitu dekat namun percakapan kami tidak putus begitu saja. Sampai akhirnya...
drrrt....drrrrttt... (smartphoneku kembali bergetar dan muncul notifikasi chat :
Bersambung...
"Akhirnya, ketemu kasur juga." celotehku sambil membaringkan tubuh tambunku dan sesekali menghela nafas panjang.
Aku menengok ke layar smartphone berharap ada pesan singkat dari Kuku, namun hanya pesan singkat promo yang kudapat. Aku penat dengan perasaan seperti ini, kurang merasa nyaman untuk melakukan sesuatu. Aku mengakses surel dan memilah mana yang tak penting dan harus kuhapus, aku terus menyibukkan diri dan berharap rasa yang buatku tak nyaman itu lenyap. Setelah scrolling daftar surel sampai ke bagian paling bawah, aku menemukan surel riwayat percakapan dengan Kuku saat pertama kali berkenalan.
Lalu jariku reflek klik dan membaca ulang obrolan kami. Bagai mesin waktu, ingatan langsung menghantarku ke sebuah sore beberapa tahun lalu, di mana aku masih tinggal di kota halamanku.
Saat itu sedang memasuki pertengahan bulan puasa dan aku masih ingat betul ketika aku sedang santai di dapur tiba-tiba ada notifikasi surel dari aplikasi Couc*surfing.
"Tumben banget..." kataku dalam hati.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Aku sempat klik profile picture Kusuma, berulang kali zoom in zoom out untuk mendapatkan gambaran bagaimana sosok Kusuma yang sedang berkirim pesan denganku. Tak puas dengan itu, aku stalking social media miliknya. Tak perlu waktu lama untuk menemukan akun social media Kusuma.
Tidak ada maksud apa-apa saat itu, hanya sekedar ingin tahu apakah dia Kusuma, orang beneran atau hanya orang iseng. Ya, namanya juga dunia maya. Agak takut terjadi sesuatu yang nggak diinginkan. Hehe
Setelah yakin dengan sosok Kusuma, akhirnya aku memberi kontak Line dan WA padanya. Aku berharap bisa membantunya saat ia ingin berkunjung ke Blitar dan otomatis menambah teman.
Quote:
Kami saling berbalas pesan meskipun jarak waktu antara menerima surel dan membalasnya tidak begitu dekat namun percakapan kami tidak putus begitu saja. Sampai akhirnya...
drrrt....drrrrttt... (smartphoneku kembali bergetar dan muncul notifikasi chat :
Quote:
Bersambung...
Diubah oleh bumburacik 30-12-2016 22:04
0