Kaskus

Story

natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.

Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.


I Am (NOT) Your Sister

Big thanks to quatzlcoatlfor cover emoticon-Smilie

Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
imamarbaiAvatar border
pulaukapokAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
#2289
A Part 73
Aku tidak percaya kalau kak Fe itu dulunya pas kecil cupu. Serius loh aku baru tau hal-hal lain tentang kak Fe dari mulut ka Fe sendiri pas aku sering tidur bareng dia. Kak Fe menceritakan tentang dirinya dahulu kala.
Aku ngak percaya loh seriusnya juga.. pokoknya gak percaya…
Aku ngak percaya kalau kak Fe yang galak ini dulunya pas masih anak-anak, orang yang penakut, manja, dan cengeng. Katanya dia dulu gampang nangis, ditinggal ibu pergi nangis, mau ke wc minta dianter, tidur pengen selalu bareng ibu. Aku ketawa pas diceritain dulu katanya kak Fe takut banget sama drakula, sampai-sampai ketika mau tidur, leher kak Fe sama leher ibu, kak Fe tutupin pakai selimut atau kain/selendang. Kalau masalah manja sih sampai sekarang juga keliatan, dia orangnya memang kek kanjeng ratu, apa-apa pengen dilayanin/diladenin, tapi yang parah itu katanya kalau dulu dia pengen sesuatu terus ngak dikabulin, dia bisa tiba-tiba mendadak sakit dan baru sembuh ketika keinginanya terkabul. Salut!!!
Tapi jujur saja, beranjak dewasa kak Fe seperti lebih mandiri menurutku, hal-hal childish yang ia ceritakan udah gak keliatan.

Kondisiku dulu berbanding terbalik dengan kak Fe. Aku hidup tanpa ibu kandung sejak kecil dan hanya ayah yang membesarkanku. Jadi, aku sejak kecil udah harus hidup mandiri, karena aku sejak dulu sadar, kami bukanlah keluarga berada. Ayah selalu menyisihkan pendapatanya untuk ditabung, katanya itu untuk masa depan aku. Makanya aku dulu jarang meminta apa-apa ke ayah, aku mah se-dikasihnya aja sama ayah. Aku juga kadang di rumahku yang dulu selalu sendiri, terkadang kalau ayah pulangnya larut, aku sudah tidur duluan. Ahh, kak Fe sempat memintaku untuk menceritakan masa kecilku, tapi aku menolak. Masa kecilku gak bisa dibandingkan dengan masa kecil dia yang penuh warna.

***

“Ni… “ Panggil kak Fe dekat pintu kamarku. Aku sedang tiduran sambil main hp.
“Apa kak?”
“Nonton yuk…”
“Kapan?”
“Ya sekarang..”
“Tapi sekarang kan udah malam.”
“Ah elah gpp kali, gue pengen nonton, penat nih belajar mulu.” Dia menghampiriku ke kasur.
“Ya kan kakak bentar lagi mau ujian nasional makanya mesti belajar.”
“Idih sok ngajarin.. mau ngak?”
“Hayuuu deh.. Hehehe..” Aku iyain aja soalnya sama aku juga lagi bosen dan masih jam setengah 8.
“Ih si dodol” Kak Fe melempar bantal ke arahku.



***

Setelah meminta ijin ke ibu akhirnya aku dan kak Fe diperbolehkan untuk pergi keluar. Seperti biasa dia menggunakan tipu muslihatnya agar diperbolehkan keluar. Kali ini dengan alasan mau belajar bareng di rumah teman dan minta ditemani aku karena takut pulangnya. Emangnya ya dia ini pandai berbohong.

“Kak mau nonton apa?” Tanyaku kepadanya pas di jalan.
“Apa aja sih bebas terserah”
“Yeee… apa dong.”
“Apa aja asal jangan film Indonesia.”
“Emang kenapa kak?”
“Gue gak suka nonton film indo.”
“Lah bukanya waktu itu kakak nonton 5cm?”
“Tau darimana?”
“Ya aku kan pernah liat tiketnya di meja belajar kakak.”
“Oh itu mah karena pengen lihat junot aja.”
“Wah kakak suka junot? Ganteng ya kak.”
“Iya baweeeel.”
“Aw” Kak Fe mencubit pipi aku. Sejak itu aku langsung diam gak banyak bicara lagi. T_T



Akhirnya setelah lumayan agak lama karena jalanan agak macet, aku dan kak Fe sampai.

“Ni…” Kata Kak Fe sebelum keluar dari mobil.
“Apa kak?”
“Gue sebenarnya udah janjian sama orang.”
“Maksudnya apa kak?”
“Gini Ni, pokoknya nanti kita nonton ditraktir sama orang.”
“Ama siapa kak?”
“Jangan banyak tanya. Pokoknya nonton, ya nonton aja.”
“Yaudah deh kak.” Kataku kecewa, kukira nonton berduaan bareng kak Fe tapi ternyata ada orang lain.

Pas lagi di jalan ke studio, kak Fe sibuk dengan Hpnya, ia ditelepon seseorang itu dan terus bilang ke orang yang menelponya kalau dia sedang di jalan kesana. Aku sih sambil jalan cuman bisa memperhatikanya. Setelah sampai di studio tiba-tiba seseorang menghampiri kami berdua, orang itu cowok dan aku gak tau itu siapa, yang jelas dia itu tinggi, putih, dan ganteng, tapi kelihatan lebih muda dari kak Fe, dia seperti seumuranku. OMG!.

“Halo kak Felisha.” Sapa cowok itu.
Benar tebakanku, dia manggil kak Fe dengan sebutan kak Felisha, berarti dia adik kelas kak Fe.
“Hai Dimas…” Kak Fe membalasnya.
“Eh ya Dim, ini kenalin temen gue, Ana.” Lanjut kak Fe.
“Halo kak Ana.”
..
Wait.. tunggu.

teman?

Ana


Sejak kapan namaku berubah jadi Ana, apa pula maksudnya aku dianggap temen ama kak Fe.
Aku kemudian memandangi bingung kak Fe. Tapi kak Fe tersenyum iblis kepadaku.
Sambil jalan memasuki studio aku masih kepikiran omongan kak Fe barusan. Aku mau tanya langsung tapi takut soalnya pasti diomelin, belum lagi anak yang bernama Dimas tersebut terus ngoceh gak jelas kepada kami sehingga tidak kesempatan untuk menyela dan bertanya kepada kak Fe. Kak Fe hanya ketawa “hahaha” “Hehehe” saja menanggapi omongan Dimas.

“Kak… maksudnya apa ini?” Bisiku kepada kak Fe mumpung Dimas sedang membeli tiket.
“Udah diem saja jangan banyak protes.” Balas kak Fe berbisik kepadaku.

Setelah membeli tiket, Dimas pun kembali menghampiri kami berdua.

“Yah, sayang sekali kak. Tempat duduknya yang sejajar tidak ada yang bertiga. Jadinya, satu lagi terpisah.” Kata Dimas.
“Heh.” Reaksi kak Fe terkejut.

“Yang terpisah buat kak Ana aja ya.” Lanjut Dimas sambil menyerahkan satu tiket kepadaku.

Setelah memegang tiket nonton pemberian Dimas, aku kembali melihat ke arah kak Fe. Kali ini entah kenapa muka kak Fe jadi bete. Entahlah apa maksudnya ini, yang jelas aku bisa lihat raut wajah kak Fe yang tidak senang.

Aku pun masih tidak mengerti, aku sempat berpikir apakah ini acara datingnya kak Fe, akan tetapi masa kak Fe mau kepada yang lebih muda darinya, itu sih bukan tipe kak Fe banget, tapi sekarang justru malah kak Fe sedang duduk berdua bersama cowok yang bernama Dimas itu. Di dalam ruang teater aku pun tidak fokus melihat film, aku justru malah penasaran dan menonton kak Fe dan Dimas yang duduknya agak jauh di depan aku.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.